Articles

Found 18 Documents
Search

Artemisia annua Leaf Extract Increases GLUT-4 Expression in Type 2 Diabetes Mellitus Rat Kartikadewi, Arum; Prasetyo, Awal; Budipradigdo, Lisyani; Nugroho, Heri; Tjahjono, Kusmiyati; Lelono, Arthur
The Indonesian Biomedical Journal Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v11i1.531

Abstract

BACKGROUND: The depletion of glucose transporter 4 (GLUT-4) affects blood glucose level in the type 2 diabetes mellitus (T2DM) patient. Herbals supplementation such as Artemisia annua is known to posses an antidiabetic potency, but its effect on long term glucose control marker, glicated hemoglobin (HbA1C) and muscle GLUT-4 expression still has not been investigated.METHODS: Twenty Wistar rats were divided into four groups (five rats per group). The C1 group was consist of healthy control rats and C2 group was consist of diabetic control rats. Diabetic condition was induced by giving high lard fat diet for 28 days, followed with 30 mg/kgBW of Streptozotocin injection at the 29th day. Meanwhile, T1 and T2 group were consist of diabetic rats, which were supplemented with 50 mg/kgBW and 100 mg/kgBW of Artemisia annua leaf extract, respectively. GLUT-4 expression and HbA1C level were measured at the 14th day post-treatment.RESULTS: The GLUT-4 was expressed 1.8 and two times higher in T1 and T2 group, respectively, compared to C2 group. Meanwhile, HbA1C level in C2 group was two times higher than C1 group (11.95±2.52 compared to 5.61±2.69, p<0.01). Further, the administration of 100 mg/ kgBW Artemisia annua extract caused a slight reduction of HbA1C (11.95±2.52 compared to 8.18±3.53, p>0.05)CONCLUSION: Muscle cell’s GLUT-4 in T1 and T2 group was expressed increasingly and significantly different compared to the C2 group. HbA1C level in T2 was slightly reduced although no significant different compared to C2 group.KEYWORDS: Artemisia annua, GLUT-4, HbA1C, type 2 diabetes mellitus
SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS LINGKAR PERGELANGAN TANGAN SEBAGAI PREDIKTOR OBESITAS DAN RESISTENSI INSULIN PADA REMAJA AKHIR Fitriyanti, Addina Rizky; Tjahjono, Kusmiyati; Sulchan, Mohammad; Sunarto, Sunarto
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.753 KB) | DOI: 10.14710/jgi.7.2.121-126

Abstract

Background: Obesity is one of the risk factors for insulin resistance. Insulin resistance plays an important role in the pathogenesis of cardiovascular disease. Wrist circumference has the potential for predicting obesity and insulin resistance.Objectives:. To evaluate the sensitivity and specificity of wrist circumference against obesity and insulin resistance in late adolescents.Methods: The design of this study is a crossectional study with a sample of 85 students at Diponegoro University Semarang. Data collected consisted of anthropometric measurements (body weight, height, wrist circumference, neck circumference, waist circumference and pelvic girth) and blood vein sampling (fasting blood glucose and fasting insulin). Statistical analyses used in this study were Pearson or R Spearman correlation test.Results: Wrist circumference was positively correlated with all biochemical parameters and anthropometric measurements except the waist hip ratio. Wrist circumference correlates positively and significantly with fasting insulin and HOMA-IR in male adolescents. The results of the ROC curve analysis showed that the AUC value of wrist circumference in male adolescents had better performance in predicting obesity (88% (95% CI, 76% - 100%)) than insulin resistance (81% (95% CI, 51% -100%)).Conclusion: Wrist circumference is one of the anthropometric measurements that can be used for predicting obesity and insulin resistance in late adolescents.
PENGARUH PEMBERIAN JUS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA LINN.) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS SPRAGUE DAWLY DISLIPIDEMIA Meirindasari, Neny; Murwani R, Hesti; Tjahjono, Kusmiyati
Journal of Nutrition College Vol 2, No 3 (2013): Juli 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i3.3434

Abstract

Latar Belakang : Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di dunia. Salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular adalah dislipidemia yaitu abnormalitas profil lipid dalam darah. Pengendalian kadar kolesterol yang tepat dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Pengendalian kadar kolesterol dapat dilakukan dengan mengonsumsi pangan fungsional yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol salah satunya adalah biji pepaya. Biji pepaya mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berpotensi dalam menurunkan kadar kolesterol darah. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh jus biji pepaya terhadap kadar kolesterol total pada tikus dislipidemia.Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test randomized control group design terhadap 28 ekor tikus Sprague Dawly dislipidemia yang kemudian dibagi secara acak dalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan pakan standar, kontrol positif yang diberikan pakan standar dan tinggi kolesterol, serta dua kelompok perlakuan yang diberikan pakan standar, tinggi kolesterol dan jus biji pepaya dengan dosis 400 mg dan 800 mg selama 30 hari. Kadar kolesterol total diperiksa dengan metode spektrofotometri. Data dianalisis dengan uji Paired t-test dan Anova serta uji Post-Hoc dengan LSD pada tingkat kepercayaan 95%.Hasil: Perubahan kadar kolesterol total kelompok kontrol negatif, kontrol positif dan perlakuan 400 mg dan 800 mg secara berturut-turut adalah 12,15% (p=0,178), 16,33% (p=0,192), -10,64% (p=0,221), and -6,53% (p=0,536). Perbedaan perubahan kadar kolesterol total antar kelompok dengan uji Anova menunjukkan signifikansi sebesar 0,241.Simpulan: Pemberian jus biji pepaya selama 30 hari pada dosis 400 mg/ekor/hari paling efektif menurunkan kadar kolesterol total pada tikus dislipidemia.
PENGARUH PEMBERIAN JUS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA LINN.) TERHADAP KADAR ASAM URAT TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Arsyiyanti, Cut; Syauqy, Ahmad; Tjahjono, Kusmiyati
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2116

Abstract

Latar Belakang : Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin yang jika jumlahnya berlebih dapat memicu berbagai macam penyakit diantaranya gout. Biji pepaya mengandung zat fitokimia seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang dapat menormalkan kadar profil lipid dan menurunkan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jus biji pepaya terhadap kadar asam urat pada tikus dislipidemia. Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test randomized control group design terhadap 24 ekor tikus Sprague Dawley dislipidemia yang kemudian dibagi secara acak dalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan pakan standar, kontrol positif yang diberikan pakan standar dan tinggi lemak, serta dua kelompok perlakuan yang diberikan pakan standar, tinggi lemak dan jus biji pepaya dengan dosis 400 mg dan 800 mg selama 30 hari. Kadar Asam urat diperiksa dengan metode Spektrofotometri. Data di analisis dengan uji Paired t-test dan Anova serta uji LSD pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Perubahan kadar asam urat kelompok kontrol negatif, k ontrol positif dan perlakuan 400 mg dan 800 mg secara berturut-turut adalah -11,21 (p=0,352), 18,91 (p=0,360), -30,43 (p=0,024), dan -16,67(p=0,127). Perubahan kadar asam urat antar kelompok dengan uji Anova menunjukkan signifikansi sebesar 0,017. dilanjutkan uji Post-Hoc antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan dosis 400 mg dan 800 mg menunjukkan signifikansi berturut-turut 0,003 dan 0,019. Simpulan: Pemberian jus biji pepaya selama 30 hari pada dosis 400 mg/ekor/hari efektif menurunkan kadar asam urat pada tikus dislipidemia.
HUBUNGAN OBESITAS TERHADAP PENINGKATAN INDEKS RASIO KARDIOTORAKS Heryanti, Annisa Rizki; Purna, Lydia; Tjahjono, Kusmiyati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Indeks rasio kardiotoraks merupakan suatu indeks pembesaran jantung yang didapat dari perbandingan diameter jantung dan lebar dada yang didapat dari pemeriksan foto toraks. Peningkatan indeks rasio kardiotoraks disebabkan karena adanya pembesaran jantung. Salah satu penyebab pembesaran jantung adalah obesitas. Peningkatan berat badan pada penderita obesitas dapat memacu kerja jantung karena terjadi peningkatan kebutuhan metabolisme tubuh. Peningkatan kerja jantung ini dapat menyebabkan pembesaran jantung.Tujuan : Membuktikan adanya hubungan obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.Metode : Data rekam medis yang dipilih berdasar kriteria inklusi yaitu pasien obesitas usia dewasa yang melakukan pemeriksaan foto toraks. Data disajikan deskriptif kemudian dianalisia dengan metode uji Fisher exact untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.Hasil : Dari data yang didapatkan pada 33 sampel pasien obesitas yang melakukan pemeriksaan foto toraks di RSUP Dr Kariadi Semarang tercatat 29 (87,9%) pasien mengalami peningkatan indeks rasio kardiotoraks dan 4  (12,1%) pasien tidak mengalami peningkatan indeks rasio kardiotoraks. Selanjutnya tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks (p=1,000)Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan bermakna antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.
PREDICTION OF INSULIN RESISTANCE IN LATE ADOLESCENT BASED ON ANTHROPOMETRIC INDEX Fitriyanti, Addina Rizky; Sulchan, Muhammad; Tjahjono, Kusmiyati; Sunarto, Sunarto
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 14 No. 2 (2019)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.728 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2019.14.2.53-60

Abstract

The study aimed to evaluate the role of neck circumference for predicting insulin resistance in adolescent compared with waist circumference and waist hip ratio. A cross sectional study was conducted by measuring anthropometric parameters (neck circumference, waist circumference, hip circumference) and biochemical parameter (fasting plasma glucose, fasting insulin, and HOMA-IR) involving 80 late adolescents. Statistical analysis used in this study were Pearson and Spearman correlation, multivariate linear regression. Neck circumference positively correlated with fasting insulin and HOMA-IR in both gender, while neck circumference only positively correlated with fasting plasma glucose in men. In addition, multivariate linier regression showed that a higher regression coefficient of waist circumference associated with a higher risk of insulin resistance (fasting insulin (?=0.11; p&lt;0.05), HOMA-IR (?=0.05; p&lt;0.05)) compared to neck circumference and waist hip ratio. Neck circumference, waist circumference, and waist hip ratio is an anthropometry indicators that could be used to predict insulin resistance.  However, waist circumference is better than neck circumference and waist hip ratio for predicting insulin resistance in adolescent.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI FORMALIN Puspitaningrum, Lilyn Setyorini; Tjahjono, Kusmiyati; Candra, Aryu
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyalahgunaan formalin sebagai pengawet makanan dapat menyebabkkan kerusakan ginjal karena stres oksidatif. Kerusakan sel akibat stres oksidatif dapat dihambat oleh antioksidan. Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang kaya akan antioksidan yang berpotensi melindungi ginjal. Kadar ureum dan kreatinin dapat digunakan sebagai salah satu parameter gangguan fungsi ginjal.Tujuan: Menganalisa pengaruh pemberian ekstrak daun kelor terhadap kadar ureum dan kreatinin serum tikus wistar yang diinduksi formalin.Metode penelitian: Eksperimental Post Test Only Control Group Design. Sampel 25 tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok, Kelompok K(-) merupakan kontrol negatif. Kelompok K(+) diinduksi formalin peroral 100 mg/kgBB/hari selama 21 hari. Kelompok perlakuan P1, P2, dan P3 diinduksi formalin peroral dan diberi ekstrak daun kelor dosis 200 mg/kgBB/hari, 400 mg/kgBB/hari, dan 800 mg/kgBB/hari. Setelah 26 hari darah diambil untuk pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin serum.Hasil: Rerata kadar ureum K(-) 43,18 ± 11,67 mg/dl, K(+) 50,17 ± 21,87 mg/dl, P1 27,21 ± 11,46 mg/dl, P2 42,35 ± 9,82 mg/dl, dan P3 40,88 ± 12,79 mg/dl. Hasil uji Kruskal-Wallis tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,193). Rerata kadar kreatinin K(-)1,27 ± 0,34 mg/dl, K(+) 1,07 ± 0,24 mg/dl, P1 1,00 ± 0,20 mg/dl, P2 0,76 ± 0,43 mg/dl, dan P3 0,81 ± 0,22 mg/dl. Hasil uji One Way ANOVA tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,085).Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun kelor menurunkan kadar ureum dan kreatinin serum tikus wistar yang diinduksi formalin secara tidak signifikan.
PENGARUH EKSTRAK DAUN DEWA (GYNURA DIVARICATA) TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT (STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY BETINA MODEL KANKER PAYUDARA) Christina, Imantika; Setyawati, Amallia N.; Tjahjono, Kusmiyati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Hepar memiliki peran penting dalam proses metabolisme dan detoksifikasi setiap obat dan bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga rawan untuk mengalami kerusakan. Kerusakan jaringan hepar dapat dideteksi dengan pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT. Salah satu penyebab kerusakan jaringan hepar adalah obat-obatan herbal, seperti daun dewa (Gynura divaricata), yang sering digunakan sebagai terapi kanker payudara, namun daun dewa mengandung senyawa hepatotoksik dan karsinogenik yaitu pyrrolizidne alkaloid.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun dewa (Gynura divaricata) terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus Sprague Dawley betina model kanker payudara.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan desain post test only control group design pada tikus. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok, yaitu satu kelompok kontrol negatif (K1) yang tidak diberikan induksi kanker payudara maupun ekstrak daun dewa, satu kelompok kontrol positif (K2) yang merupakan tikus model kanker payudara, dan satu kelompok perlakuan (KP) yang merupakan tikus model kanker payudara yang diberikan ekstrak daun dewa sebesar 750mg/kgBB/hari.Hasil : Terdapat pengaruh yang signifikan dari kanker payudara terhadap kadar SGOT dan pengaruh yang tidak signifikan terhadap kadar SGPT, dibuktikan dengan kelompok kontrol positif yang didapatkan peningkatan kadar SGOT sebesar 39,19% & kadar SGPT sebesar 11,80% apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Pada kelompok perlakuan, terjadi peningkatan kadar SGOT yang signifikan sebesar 25,35% dan peningkatan tidak signifikan terhadap kadar SGPT sebesar 8,13% dibandingkan dengan kelompok kontrol positif.Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun dewa dengan dosis 750mg/kgBB/hari selama 14 hari meningkatkan kadar SGOT dan SGPT pada kelompok perlakuan.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB.) DAN JINTAN HITAM (NIGELLA SATIVA) TERHADAP PROFIL LIPID TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Budiarto, Andika Agus; Wibowo, Alem Pramudita; Putri, Stella Andriana; Shabrina, Nadine Nurani; Ngestiningsih, Dwi; Tjahjono, Kusmiyati
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n1.982

Abstract

Terapi jangka panjang dislipidemia dengan simvastatin dapat menimbulkan berbagai efek samping sehingga perlu alternatif terapi, salah satunya dengan temulawak dan jintan hitam. Kandungan curcumin pada temulawak dan thymoquinon pada jintan hitam diperkirakan dapat memperbaiki profil lipid pasien dislipidemia. Tujuan dari penelitain adalah membuktikan efek pemberian ekstrak temulawak dan ekstrak jintan hitam terhadap profil lipid tikus Sprague dawley dislipidemia. Penelitian menggunakan true experimental design dengan post test randomized controlled group design. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT)?Layanan Pra Klinik Pengembangan Hewan Percobaan (LP3HP) Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Negeri Semarang periode 18 Februari?8 Maret 2016. Sebanyak 42 ekor tikus Sprague dawley dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok K1 (kontrol normal), kelompok K2 (kontrol dislipidemia), kelompok P1 (200 mg/kgBB ekstrak temulawak), kelompok P2 (400 mg/kgBB ekstrak jintan hitam), kelompok P3 (0,18 mg/200 gramBB simvastatin), dan kelompok P4 (200 mg/kgBB ekstrak temulawak dan 400 mg/kgBB ekstrak jintan hitam). Kadar kolesterol LDL, HDL dan kolesterol total diukur dengan CHOD-PAP. Hasil penelitian menunjukkan kelompok K2 memiliki kadar tertinggi kolesterol total (69,1 ± 2,41) dan LDL (25,9 ± 2,16), serta memiliki kadar terendah HDL (30,68 ± 5,25). Uji ANOVA pada kolesterol total dan LDL menunjukan perbedaan bermakna (p<0,05), sedangkan pada HDL tidak bermakna (p>0,05). Disimpulkan, ekstrak temulawak dan ekstrak jintan hitam berpotensi menurunkan kadar LDL dan kolesterol total, serta menaikkan kadar HDL pada tikus Sprague Dawley dislipidemia. [MKB. 2016;49(1):8?14]Kata kunci: Jintan hitam, profil lipid, temulawak Effects of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) and Black Cumin (Nigella sativa) Extracts on Lipid Profile: A Study on Dyslipidemic Sprague Dawley Rats The use of Simvastatin for a long term therapy of dyslipidemia can cause unwanted side effects; therefore, alternative therapies are needed, including therapy using temulawak and black cumin extracts. Curcumin in temulawak and thymoquinon in black cumin could modify the lipid profile of patients with dyslipidemia. The aim of study was to determine the effect of temulawak and black cumin extracts on serum lipid profile of dyslipidemic Sprague dawley rats. This research was conducted at Integrated Research and Testing Laboratory (PPT) -Profit Clinical Trials (LP3HP) Gadjah Mada University Yogyakarta and in Biology Laboratory Faculty of Science and Mathematics State University of Semarang period 18 February-8 March 2016. This study used true experimental design with post-test randomized controlled group design. Forty two Sprague dawley rats were divided into 6 groups: K1 for normal control, K2 for dyslipidemic control, P1 received 200mg/kgBW Temulawak extract, P2 received 400mg/kgBW black cumin extract, P3 received 0.18mg/200grBW simvastatin, and P4 received a combination of 200mg/kgBW Temulawak extract and 400mg/kgBW black cumin extract. LDL, HDL, and total cholesterol levels were determined by CHOD-PAP. The results of this study showed that K2 group had the highest level of total cholesterol (69.1 ± 2.41) and LDL (25.9 ± 2.16) but the lowest level of HDL(30.68 ± 5.25) when compared to the other groups. ANOVA analysis of total cholesterol and LDL showed a significant difference (p<0.05), while the sama analysis on HDL showed a non-significant difference (p>0.05). From the results, it is concluded that temulawak extract and black cumin extract can potentially decrease the level of LDL and total cholesterol as well as increasing the level of HDL in dyslipidemic Sprague Dawley rats. [MKB. 2016;49(1):8?14]Key words: Black cumin, lipid profile, temulawak
Pengaruh pemberian ekstrak daun Alfalfa (Medicago sativa) terhadap profil lipid dan kadar malondialdehida tikus hiperkolesterolemia Darni, Joyeti; Tjahjono, Kusmiyati; Sofro, Muchlis Achsan Udji
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 13, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.712 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.22750

Abstract

Background: Hypercholesterolemic as an indicator of cardiovascular disease is a major cause of morbidity and mortality in the world. Increased oxidative stress in hypercholesterolemic triggers lipid peroxidation effect directly on the cell membrane damage and initiate various diseases. The use of natural materials with relatively few side effects is an hypercholesterolemic management alternative. Experimental studies showed that Alfalfa leaf extract had an effective antioxidant activity.Objective: To determine the effect of Alfalfa leaf extract on serum lipids and malondialdehyde (MDA) level of hypercholesterolemic rats.Method: Pre-posttest randomized control group used twenty-eight male Sprague-Dawley rats were randomly divided into four groups, hypercholesterolemic without treatment (control), hypercholesterolemic with extract at dose 20 mg/200 g/d (X1), dose 40 mg/200 g/d (X2), dose 60 mg/200 g/d (X3) for 21 days after the rats got hypercholesterolemic. Serum lipid was measured by CHOD-PAP method and level of MDA plasma was measured by TBARS method. A hypothesis test was analyzed by One Way ANOVA continued by Post hoc LSD test.Results: Alfalfa extract significant decrease in serum total cholesterol (114.18±3.0 mg/dl; p<0.001). LDL cholesterol level was the lowest in group X3 (45.26±6.03 mg/dL; p<0.001), and triglycerides level was the lowest in group X3 (77.33±2.69 mg/dL; p<0.001). There were no differences in MDA plasma level was the lowest in the group X3 (2.07±0.09 nmol/ml; p<0.001) and a significant increase in serum HDL cholesterol (43.21±7.80 mg/dL; p<0.001).Conclusion: The treatment of Alfalfa (Medicago sativa) leaf extract gives an effect of lower total cholesterol, LDL cholesterol, triglycerides, MDA and gives an effect higher HDL cholesterol.