Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH TAKARAN PUPUK “BUZOLFOS” TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA KULTIVAR CABAI MERAH (CAPSICUM DP.) DI LAHAN PASIR PANTAI Rachmadina, Annisa Mega; Ambarwati, Erlina; Tohari, Tohari
Vegetalika Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.995 KB) | DOI: 10.22146/veg.45889

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan cabai, serta mendapatkan takaran pupuk yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil cabai merah (Capsicum sp.) kultivar hibrida dan lokal. Pupuk buzolfos merupakan campuran pupuk yang berasal dari bahan abu sekam, Azolla sp. Segar dan batuan fosfat alam. Pupuk buzolfos dengan berbagai takaran berperan sebagai pupuk NPK (nitrogen, fosfor dan kalium). Azolla menyuplai unsur nitrogen, batuan fosfat alam sebagai fosfor, serta abu sekam sebagai kalium. Penelitian dilakukan di lahan pasir Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada bulan Juni hingga Desember tahun 2017. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah takaran pupuk buzolfos yang terdiri dari 0 ton/ha (dengan pupuk NPK anorganik), 5 ton/ha (125 gram/tanaman), 10 ton/ha (250 gram/tanaman), 15 ton/ha (375 gram/tanaman) dan 20 ton/ha (gram/tanaman). Faktor kedua adalah jenis cabai, yaitu kultivar hibrida dan kultivar lokal. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakananalisis varian, jika terdapat beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji HSD tukey dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antar kultivar dan takaran pupuk terhadap parameter bobot segar tajuk umur 20 minggu setelah tanam, bobot kering tajuk umur 20 minggu setelah tanam, volume akar umur 20 minggu setelah tanam, bobot segar cabai per buah, laju asimilasi bersih 10 minggu setelah tanam. Takaran pupuk 20 ton/ha me nunjukkan pertumbuhan dan hasil cabai yang optimal.
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL DAN KANDUNGAN STEVIOL GLIKOSIDA PADA TANAMAN STEVIA (STEVIA REBAUDIANA) Azkiyah, Daniar Rafiatul; Tohari, Tohari
Vegetalika Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.225 KB) | DOI: 10.22146/veg.37165

Abstract

Ketinggian tempat merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia. Percobaan ini dilakukan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada bulan Juli hingga November 2017 untuk mempelajari pengaruh ketinggian tempat terhadap pertumbuhan, hasil dan kandungan steviol glikosida tanaman stevia. Tanaman stevia ditanam di tiga ketinggian tempat yang berbeda yaitu 167 meter di atas permukaan laut (mdpl), 582 mdpl dan 897 mdpl. Pengamatan dilakukan terhadap variabel lingkungan, variabel pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, biomasa tanaman), rasio tajuk/akar, variabel hasil, dan kandungan steviol glikosida (kandungan total steviosida dan rasio rebaudiosida A/steviosida). Berdasarkan data tersebut, digunakan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap variabel yang diamati. Hasil percobaan menunjukkan ketinggian tempat berkorelasi secara signifikan terhadap suhu udara yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan (bobot segar akar dan bobot kering akar), hasil  (bobot kering daun dan tajuk) dan kandungan steviol glikosida (kandungan total steviosida dan rasio rebaudiosida A/steviosida). Pertumbuhan dan perkembangan tanaman stevia dipengaruhi oleh ketinggian tempat sehingga umur panen di dataran rendah lebih pendek dibandingkan dataran tinggi. Di ketinggian 167 mdpl, kandungan rebaudiosida A lebih tinggi dibandingkan kandugan steviosida.
PENGARUH JARAK TANAM BIBIT ASAL MATA TUNAS TUNGGAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL LIMA KLON TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) PADA VERTISOL LAHAN KERING Huda, Imam Nur; Tohari, Tohari; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.08 KB) | DOI: 10.22146/veg.28013

Abstract

Budidaya tebu pada vertisol lahan kering merupakan upaya untuk meningkatkanproduksi tebu sebagai bahan baku gula pasir. Budidaya tebu lahan kering memerlukancara khusus dengan sistem pindah tanam menggunakan bibit asal mata tunas tunggalserta pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mempengaruhi persaingan antar tanamanpada penggunaan unsur hara, air, penyerapan cahaya matahari, dan ruang tumbuh.Faktor lain yang perlu diperhatikan pada budidaya tebu lahan kering yaitu pemilihanklon yang ditanam. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui jarak tanam terbaiksuatu klon pada sistem pindah tanam bibit tebu asalmata tunas tunggal pada vertisollahan kering. Percobaan dilakukan di Desa Dengok Kecamatan Playen KabupatenGunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan November 2014 sampaiSeptember 2015.Perlakuan tersusun oleh 2 faktor yaitu jarak tanam dan klon. Faktorjarak tanam terdiri dari empat aras: (1) 30 cm x 100 cm; (2) 45 cm x 100 cm; (3) 60 cmx 100 cm; dan (4) 75 cm x 100 cm . Faktor klon tebu terdiri dari lima aras: (1)Bululawang, (2)Kidang Kencana, (3) PS 864, (4)PS 881, dan (5)VMC. Perlakuandisusun dengan rancangan acak kelompok lengkap. Data pengamatan dianalisismenggunakan sidik ragam, apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut Scott-Knottdengan ? 5%.Tidak terjadi interaksi antara klon dengan jarak tanam yang digunakanpada budidaya tebu dengan bibit asal mata tunas tunggal pada vertisol lahan kering.Budidaya tebu pada vertisol lahan kering dengan bibit asal mata tunas tunggal palingbaik menggunakan klon PS 881 dan jarak tanam 30 cm x 100 cm.
PENGARUH INTENSITAS NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA KULTIVAR KEDELAI (GLYCINE MAX (L.) MERRILL) DI LAHAN PASIR PANTAI BUGEL, KULON PROGO Handriawan, Adwitya; Respatie, Dyah Weny; Tohari, Tohari
Vegetalika Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.753 KB) | DOI: 10.22146/veg.25346

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan terhadap pertumbuhan dan hasil tiga kultivar kedelai, menentukan kultivar kedelai paling toleran terhadap naungan diantara tiga kultivar yang diuji, dan menentukan waktu naungan kritis terbaik dalam pemilihan kultivar kedelai toleran naungan. Penelitian lapangan dilaksanakan pada 12 Juli ? 9 Oktober 2015 di lahan pasir pantai, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian terdiri atas dua faktor yaitu naungan dan kultivar dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan tiga ulangan. Faktor utama sebagai petak utama adalah naungan yang terdiri dari tiga taraf, yaitu 0%, 25%, dan 50% sedangkan anak petak adalah kultivar kedelai Dena 1, Anjasmoro, dan Grobogan. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada taraf signifikansi (?) 5% dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan apabila terdapat beda nyata antar perlakuan. Naungan kritis ditentukan menggunakan persamaan regresi antara intensitas naungan dengan berat kering biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman tiga kultivar kedelai tidak berbeda secara signifikan. Naungan 25% (53.700 lux) tidak menurunkan pertumbuhan tanaman kedelai namun naungan 50% (26.663 lux) menurunkan pertumbuhan tanaman kedelai secara signifikan. Naungan 25% dan 50% mengakibatkan penurunan hasil biji taksiran kedelai Dena 1 sebesar 17,41% dan 34,38%, Anjasmoro 22,87% dan 45,74%, serta Grobogan 12,33% dan 23,79%. Berdasarkan tingkat naungan kritisnya maka kultivar Grobogan merupakan kultivar paling toleran terhadap naungan daripada kultivar Dena 1 dan Anjasmoro serta berat kering biologis pada umur 4 mst dapat digunakan untuk menentukan kultivar kedelai toleran naungan.
Tanggap Fisiologi dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) terhadap Lengas Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda Anshar, Muhammad; Tohari, Tohari; Sunarminto, Bambang Hendro; Sulistyaningsih, Endang
Biota Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan di rumah kaca telah dilaksanakan di provinsi DIY pada bulan Maret-Juni 2009. Percobaan bertujuan mengkaji tanggap fisiologis dan hasil bawang merah terhadap kondisi lengas tanah berbeda pada ketinggian tempat berbeda. Penelitian disusun berdasarkan percobaan lokasi dalam Rancangan Petak Petak Terbagi (Split Split Plot Design) diulang tiga kali. Petak utama adalah lokasi dengan ketinggian tempat berbeda di atas permukaan laut (dpl.) terdiri atas: (1) 100 m dpl., (2) 400 m dpl., dan (3) 800 m dpl.; Sub-plot adalah varietas bawang merah terdiri atas: (1) ‘Palu’, (2) ‘Palasa’, dan (3) ‘Sumenep’. Sub-sub-plot adalah lengas tanah dalam persentase kapasitas lapangan (% KL) terdiri atas: (1) 50% KL, (2) 100% KL, dan (3) 150% KL (kondisi jenuh). Lokasi dengan ketinggian tempat berbeda memberikan tanggap fisiologi dan hasil bawang merah yang berbeda. Varietas Palu memiliki aktivitas fotosintesis lebih besar pada semua kondisi lingkungan berbeda dan lebih tahan terhadap cekaman kekurangan dan kelebihan lengas tanah terutama di dataran rendah. Lengas tanah 100% KL menghasilkan aktivitas fisiologi dan hasil umbi kering panen lebih tinggi, sebaliknya lengas tanah 50% KL dan 150% KL menurunkan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Palasa, Palu dan Sumenep pada semua ketinggian tempat.Kata kunci: bawang merah, ketinggian tempat, lengas tanah, fisiologi
PENGARUH LENGAS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS LOKAL BAWANG MERAH PADA KETINGGIAN TEMPAT BERBEDA Anshar, Muhammad; Tohari, Tohari; Sunaminto, Bambang Hendro; Sulistyaningsih, Endang
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.188 KB)

Abstract

Pot experimental research under green house condition was carried out in Yogyakarta during March-Mei 2009. The aim of the experiment was to determine the influence of soil moisture on growth and yield of local-varieties shallots (Palasa, Palu and Sumenep) at different elevations. The experiment was arranged in a Split Split Plot Design with three replications. The main plot was local varieties of shallot: (1) Palasa; (2) Palu; and (3) Sumenep. The sub-plot were soil moisture (field capacity percentage - % FC), included: (1) 50% FC; (2) 100% FC; and (3) 150% FC. Each variety has a different response to different soil moisture and altitude places.  Sumenep variety had the lowest net assimilation rate (NAR) and Palasa variety produced smallest fresh-bulb at all soil moisture and elevation. Soil moisture at 100% FC increased crop growth rate (CGR) and bulb?s fresh-weight per crop bunch of Palu variety particularly on elevation 100 m above sea level, whereas 50% FC reduced shallot growth and yield on all elevation.
PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF UPLAND RICE VARIETIES TO FURROW WITH ORGANIC MATTER ON AGROFORESTRY SYSTEM WITH KAYU PUTIH (MELALEUCA LEUCADENDRA L.) Tarigan, Puji Lestari; Tohari, Tohari; Suryanto, Priyono
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 34, No 2 (2019): October
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/carakatani.v34i2.29786

Abstract

Drought is one of the major limitations in dry land cultivation. Drought affects plant physiology processes such as photosynthesis, respiration, mineral and water transportation, and transpiraton, briefly called drought stress. Drought stress can be avoided by managing environment. Furrow containing organic matter for rain fed rice has been the subject of many studies, with special emphasis on soil moisture. This research is aimed to know the effects of the furrow containing organic matter on physiological responses of several upland rice varieties on agroforestry system based on kayu putih (cajuput). The experimental design applied the strip plot design. The vertical factor is the furrow system of treatment consisting of 2 levels i.e. without furrow + without organic matter and furrow + organic matters. The horizontal factors are the upland rice varieties consisting of 3 varieties i.e. Situ Patenggang, Situ Bagendit and Ciherang. The collected data were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) applying a level of significance ? = 5%. Whenever significant differences among treatments were found, further analysis was carried out by applying the Tukey's HSD (Honestly Significant Difference) test ? = 5% levels. The result shows that drought affects plant physiology and can be avoided by using furrow containing organic matters. Situ Patenggang with furrow containing organic matters has the higher physiology capability, it had photosynthesis 387.18 µmol CO2 per clump s-1, transpiration 3038.50 mg per clump per secondand CO2 721.11 mol CO2 clump per mol. There different plant requirements for Cu between varieties.
PENGARUH CEKAMAN KURANG AIR TERHADAP BEBERAPA KARAKTER FISIOLOGIS TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) SETIAWAN, SETIAWAN; TOHARI, TOHARI; SHIDDIEQ, DJA’FAR
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKNilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanamanpenghasil minyak atsiri yang dikenal dengan minyak nilam (patchouli oil).Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman nilam adalah pekaterhadap kekurangan air. Perubahan iklim cenderung menyebabkan lebihsering terjadi kekeringan di sejumlah wilayah termasuk Indonesia sehinggadalam pengembangan tanaman nilam diperlukan varietas toleran terhadapcekaman kurang air. Terdapat tiga varietas unggul nilam (Tapaktuan,Sidikalang, dan Lhokseumawe) dengan produksi minyak (290-375 kg/ha)dengan kadar patchouli alkohol 32–33%. Penelitian bertujuan untukmengevaluasi respon fisiologis 4 varietas/aksesi tanaman nilam terhadapcekaman kurang air. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca di Bogor padatahun 2012. Penelitian menggunakan RAK faktorial dengan tiga ulangan.Faktor  pertama  4  varietas/aksesi  nilam  (V)  yaitu  Sidikalang,Lhokseumawe, Tapaktuan, dan Bio-4. Faktor kedua empat intervalpenyiraman (W) yaitu 1, 3, 6, dan 9 hari sekali. Evaluasi pengaruhcekaman kurang air dilakukan terhadap beberapa karakter fisiologitanaman nilam. Pengamatan dilakukan antara lain terhadap peubah kadarlengas tanah, konduktivitas stomata (Gs), laju transpirasi (Tr), kandunganair nisbi (KAN), potensial air daun (PAD) dan kandungan prolin daun.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lengas tanah,konduktivitas stomata, laju transpirasi, dan KAN pada semua varietas,sedangkan PAD dan kadar prolin meningkat seiring dengan semakinlamanya interval penyiraman. Kadar prolin tertinggi pada interval 9 harisekali pada varietas Sidikalang. Tidak terdapat perbedaan responvarietas/aksesi nilam yang diuji.Kata kunci: Pogostemon cablin Benth, cekaman kurang air, karakterfisiologis.ABSTRACTPatchouli (Pogostemon cablin Benth) is one of plant that producespatchouli oil call patchouli oil. However, patchouli is susceptible todrought. The effect of global warming which changes rainfall patterncaused droughts in several regions including Indonesia. Therefore, it isimportant to find patchouli variety which is relatively tolerant to drought.Tapaktuan, Sidikalang, dan Lhokseumawe are three varieties of patchouliwhich produce high essential oil (290-375 kg/ha) with high patchoulialcohol content (32–33%). The objective of this research was to evaluatethe physiological responses of four varieties/clone of patchouli to drought.The experiment was conducted at greenhouse at Cimanggu, Bogor fromFebruary to July 2012. The research was designed in randomized factorialblock design (RBD) with three replications. The first factor was fourvarieties/clone of patchouli (V) Sidikalang, Lhokseumawe, Tapaktuan, andBio-4. The second factor was four watering intervals (W) every 1, 3, 6and 9 days of watering. Parameters evaluated were physiologicalcharacteristics, soil moisture content, stomatal conductance, transpirationrate (Tr), leaf water potential, relative water content, and proline content ofleaf. The results showed that soil moisture content, stomatal conductivity,transpiration rate and relative water content decreased, while leaf waterpotential and proline levels increased along with the increase of wateringintervals. The highest proline level was at interval of nine days wateringtreatment on Sidikalang varieties. However, all varieties/clone have notdifferent responses to water deficit.Key words: Pogostemon  cablin  Benth,water  deficit,  physiologicalcharacteristics
NISBAH HARA MIKRO TERHADAP KALIUM DAUN BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA DUA JENIS TANAH Yustisia, Yustisia; Tohari, Tohari; Shiddieq, Dja’far; G., Subowo
Widyariset Vol 17, No 2 (2014): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.969 KB)

Abstract

Pot experiment was conducted at the experimental farm of Agriculture Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta and aimed to investigate the effect of soil types, varieties and  and their interaction on Fe/K, Mn/K, Cu/K and Zn/K leaf, growth, leaf protein and grain yield of rice. The experiment was set up in a 2 x 6 factorial pat- tern randomized completely block design with three replications. First factor was two soil types viz. Vertisols and Inceptisols, second factor was rice varieties viz. Cimelati, Pandan Wangi, Ciherang, Cisokan, Widas and IR 64. The result revealed that the Fe/K, Cu/K and Zn/K ratios in rice leaf was significantly affected by soil types and rice varieties. The interaction of soil and rice varieties significantly affected the leaf ratios of Fe/K, Cu/K and Zn/K, crop growth rate (CGR) and grain yield, but it was not significantly affect the Mn/K ratio and leaf protein. The leaf ratios of Fe/K, Cu/K and Zn/K, CGR and grain yield in Vertisols were significantly higher than those in Inceptisols, while Mn/K ratio and leaf protein was significantly higher in Inceptisols. The highest of grain yield was achieved by Pandan Wangi whereas the lowest of grain yield was achieved by IR 64. The lowest of grain yield was achieved by IR 64 in Inceptisols. It was affected by an imbalance of Mn/K ratio and highest of leaf protein. It could be due to the effect of Inceptisols native soil properties (lower pH, higher Mn and K) and specific characteristics of IR 64 (more responsive to low pH, higher NH +  uptake). It was also may be caused by indirect effect of urea excess and KCl fertilizers on reducing of rhizosphere pH. The Mn/K ratio was important nutrient imbalance in Inceptisols soil and rice plant. The finding of this study suggests that the research in depth which is focused on Mn/K ratio balance in Inceptisols is needed, i.e using urea and KCl application in proper rate, using another source of nitrogen and potassium fertilizers, and using specific of varieties (less responsive to NH + and more responsive to NO -).
Nisbah N/K jerami dan hasil tiga varietas padi (oryza sativa L.) pada pemberian hara N, P dan K alternatif berbasis teknologi eksisting petani Yustisia, Yustisia; Tohari, Tohari; Shiddieq, Dja’far; Subowo, Subowo
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The most farmers in the lowland use N, P and K nutrients from urea, SP 36 and KCl fertilizer severally. The combined rates of NPK, NK, PK and NP was given varies by farmers. Its expected that N/K ratio of straw and grain yield varies with varieties and varies with NPK, NK, PK and NP combined rates. Pot experiment aimed to identify N/K ratio of straw and grain yield and test the several combined rates of N, P and K nutrients and its effectiveness based on the farmers’s technology. The experiment was conducted in Glasshouse of Agriculture Faculty, Gadjah Mada University during dry season 2009. The experiment applied Randomized Split Plot Design and each treatment was repeated 3 times. The Main Plot treatment consisted of 3 rice varieties: IR 64, Ciherang and Cimelati. The Sub Plot treatment consisted of 5 combined doses of N, P and K based on the farmers’s technology as a reference (+NPK): 222.26 kg ha-1 N, 56.80 kg ha-1 P2O5 and 47.67 kg ha-1 K2O; (0 NPK); (0 N + PK); (0 P + NK); and (0 K + NP). The result showed that the highest straw N/K ratio was achieved by IR 64. It was significantly different with Ciherang and Cimelati. The grain yield of IR 64, Ciherang and Cimelati was not significantly different. Considering its grain yield, Ciherang and Cimelati can be used as alternative of variety for farmers. The highest grain yield (77,089 g.pot-1) and highest RAE value (107,68%) was achieved by (0 P + NK) treatment. The RAE value in (0 P + NK) treatment was achieved by Ciherang (121.74%) and IR 64 (117.07%). The lowest of grain yield was achieved by (0 NPK) and (0 N + PK) treatments. It was affected by an imbalance of straw N/K ratio due to the effect of Inceptisol’s native soil properties (low N, high P and K). Based on the grain yield and RAE value, combined rate of 0 P + NK (0 kg P2O5/ha, 222.26 kg N/ha and 47.67 kg K2O/ha) can be used as alternative of N, P, K fertilization.