Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

PREPARASI RADIOFARMAKA 99mTc-DTPA-INH UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS Astuti, Laksmi Andri; Setyowati, Sri; Triningsih, Triningsih; Maskur, Maskur; Widjaksana, Widyastuti
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 14, No 1 (2011): Jurnal PRR 2011
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3360.578 KB)

Abstract

ABSTRAKPREPARASI RADIOFARMAKA 99mTc__DTPA_INH UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS.Radiofarmaka telah menunjukkan manfaat yang nyata dan spesifik dalam pelayanan kesehatan terutama untuk diagnosis dan terapi antara lain untuk penyakit kanker dan infeksi. Salah satu cara. menangani banyaknya kasus tuberkulosis yang banyak terdapat di Indonesia, teknik kedokteran nuklir menggunakan radiofarmaka diethylenefriaminepenfaacetic acid-isonicotinic acid hydrazide (DTP A-INH) yang yang ditandai dengan teknesium-99m dapat dipakai salah satu metoda altematif untuk diagnosis tuberkulosis. Saat ini telah dilakukan preparasi 99mTc_DTP A-INH, 991~C_DTPA-INH dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: konyugasi DTPA-INH dan analisis hasil konyugasi dengan HPLC kolom C-18. Penandaan DTP A-INH dengan Tc-99m dilakukan dengan menambahkan SnClz sebagai reduktor dan larutan 99mTcperteknetat dan generator 99Mo;99mTc.Hasil penandaan dianalisis dengan menggunakan kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis, sedangkan stabilitas DTP A-INH dilakukan untuk menentukan waktu kadaluwarsanya. Hasil analisi dengan HPLC menggunakan kolom C-18 menunjukkan telah terjadi konyugasi antara DTPA dengan INH, sedangkan analisis dengan kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis menunjukkan kemurnian radiokimia lebih besar dari 90 % dan hasil pelabelan terbaik didapatkan pada penambahan SnClz sebanyak 200 ).lg. Hasil uji stabilitas untuk sediaan yang belum dilabel, menunjukkan sediaan masih stabil pada minggu ke 13. Pengujian kestabilan 99mTc_DTPA-INH pada suhu kamar menunjukkan kemurnian radiokimia masih stabil sampai 3 jam setelah penandaan. Kata kunci : radiofarmaka, Tc-99m, DTP A, INH, diagnosis, tuberkulosis. ABSTRACT PREPARATION OF 99mTc-DTPA-INH RADIO PHARMACEUTICALS FOR TUBERCULOSIS DIAGNOSIS. Radiopharmaceuticals have shown a real and spesifik usefulness in medical services, especially for diagnosis and therapy of several deadly diseases such as cancer and infection. To handle Tubeculosis which is common in Indonesia, nuclear medicine teclmiques which uses DTPA-INH radiophannaceutical labeled with technetium-99m offer an alternative method for tuberculosis 99m diagnosis. Preparation of Tc-DTP A-INH and its analysis have been carried out. The preparation consisted 99111 of several steps, conjugation of DTPA with INH and the conjugated DTPA-INH was labeled with Tc, 99m followed by C-18 HPLC analysis. Radiochemical purity of Tc-DTP A-INH was ana lysed using TLC/paper chromatography. Stability test of DTP A-INH to know the expiry date was carried out. The HPLC result showed that the conjugated DTP A-INH has been formed. The radiochemical purity of 99mTc_TPA-INH analysed with TLC/paper chromatography was obtained at higher than 90 %. Best result was obtained by addition of 200 ).lgram of SnClz. The stability test showed that DTP A-INH was stable until 13 weeks and thestability of labeled DTP A-INH at room temperature was stable after 3 hours incubation post labeling. Key words: radiophannaceutical, Tc-99m, DTP A, INH, diagnosis, tuberculosis    
VALIDASI KIT RADIOIMMUNOASSAY AFLATOKSIN 81 Widayati, Puji; Ariyanto, Agus; Triningsih, Triningsih; Susilo, Veronika Yulianti; Lestari, Wening
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2239.377 KB)

Abstract

Aflatoksin merupakan senyawa mikotoksin yang bersifat sangat toksik sehingga dapat menjadi penyebab terjadinya kanker pada manusia. Aflatoksin berpotensi karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bersifat imunosupresif oleh karena itu kandungan aflatoksin B1 dalam bahan dan prod uk pangan harus dibatasi. Salah satu teknik penentuan kadar aflatoksin B1 adalah radioimmunoassay (RIA) yang didasarkan pada reaksi immunologi antara antigen dan antibodi yang spesifik hanya untuk antigen tertentu saja, serta menggunakan antigen yang ditandai zat radioaktif sebagai peru nut. Pusat Teknologi Radioisotop danRadiofarmaka BATAN telah berhasil mengembangkan kit RIA Aflatoksin B1 yang dapat digunakan untuk penentuan kandungan Aflatoksin B1dalam bahan dan produk pangan. Sebelum digunakan di lapangan kit aflatoksin B1 harus divalidasi meliputi penentuan batas deteksi, kepekaan (sensitivitas), ketelitian (presisi) dan parameter assay (Non Spesific Binding, NSB dan Maximum Binding, MB) sehingga dapat digunakan untuk menentukan kadar aflatoksin B1• Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas deteksi, ketelitian intra assay dan inter assay serta parameter assay. Telah dilakukan validasi kit RIA aflatoksin yang menghasilkan batas deteksi 0,35 ng/mL dengan ketelitian intra assay memberikan koefisien variasi (%CV) QC 9,80% sedangkan ketelitian inter assay untuk QC 12,39%. Kit RIA aflatoksin B1 ini disimpulkan memberikan unjuk kerja yang baik karena menghasilkan %NSB sebesar 6,6 dan B/T sebesar 47,18. Aflatoxins are mycotoxins compounds that are highly toxic and carcinogenic. Aflatoxins are potentially carcinogenic, mutagenic, teratogenic, and immunosuppressive so that the content of aflatoxin B1 in food products should be limited. One technique of determining the level of aflatoxin B1 is a radioimmunoassay (RIA) which is based on immunological reactions between antigens and antibodies, and using radioactive substances as a tracer. Center for Radioisotopes and Radiopharmaceuticals Technology (PTRR) has successfully developed Aflatoxin B1 RIA kit that can be used to determine the aflatoxin B1 in food products. Aflatoxin B1 RIA kit must be validated, which includes determining the limits of detection, sensitivity, accuracy (precision) and assay parameters (Non Specific Binding, NSB and Maximum Binding, MB) that can be used to determine the level of aflatoxin B1. This study aims to determine the limit of detection, accuracy intra-assay and inter-assay and assay parameters. The Aflatoxin B1 RIA kit validation results in the detection limit of 0.35 ng / mL with coefficient of variation (% CV) QC 9.80%, while the inter-assay precision for QC 12.39%. RIA Kit Aflatoxin B1 is inferred provide good performance because it produces 6.6% for NSBand 47.18 for B/T.  
OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125 Ariyanto, Agus; Darwati, Siti; Mondrida, Gina; Yunita, Fitri; Widayati, Puji; Setiyowati, Sri; Sulaiman, Sulaiman; Yulianti, Veronika; Triningsih, Triningsih
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 6, No 2 (2003): Jurnal PRR 2003
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.023 KB)

Abstract

ABSTRAK OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125. Telah dilakukan penelitian optimalisasi pembuatan kit  IRMA  CA-125 yang meliputi pembuatan perunut monoklonal anti CA-125 bertanda 125I dan  pembuatan  "coated tube". Pada pembuatan perunut digunakan 2 macam oksidator yang divariasikan jumlahnya, yaitu kloramin-T dan N- bromosuksinimid.  Optimalisasi pembuatan "coated tube" dilakukan dengan memvariasikan volume larutan "coating", pengaruh pencucian, pengaruh penambahan BSA, pengaruh   bufer  pelarut dan uji pemasangan monoklo-nal anti CA-l25. Hasil percobaan menunjukkan bahwa oksidator  kloramin-T dapat digunakan untuk pembuatan perunut mononoklonl  anti CA-l25 dengan rendemen cukup tinggi yaitu 96.5% dan kemumian radiokimia 93,2%. Jumlah oksidator yang optimal adalah 10 µg. Pembuatan "coated tube  untuk  monoklonal anti CA-l25 dengan menggunakan volume larutan "coating" yang bervariasi antara 300 µI sampai dengan 600 uL tidak menunjukkan perbedaan nyata pada nilai %NSB dan %BT. Proses pencuci "coated tube" menggunakan BSA 0, I % memberikan pengaruh nyata pada %BT. walaupun tidak berpengaruh terhadap nilai %NSB. Penggunaan bufer bikarbonat untuk pembuatan "coated tube" memberikan hasil yang lebih baik dari pada bufer fosfat. Untuk pemasangan monoklonal anti CA-125 diketahui bahwa pasangan monoklonal anti CA-125. monoklonal anti CA-125  M37203M sebagai  perunut dan monoklonal anti CA-125  M86924M sebagai "coating solution" memberikan hasil yang optimal. Kata kunci : Kit IRMA, Monoklonal anti CAll25, Pemnut ABSTRACTOTIMALIZATION FOR PREPf\RATION OF CA-125 IRMA-KIT. Optimalization on thepreparation of CA-125 IRMA-kit has been studied involving preparation of 125I  labeled monoclonalanti CA-125 as a tracer and preparation of coated tubes. Chloramine-T and N-bromosuccinimide were used as oxidators by varying them in their quantity. Optimalization on preparation of coated tube was carried out by variation in volume of  coating solution, effect of washing, addition of BSA 0.1%, buffer and pairing test for the monoclonal anti CA-125. The use of chloramine-T as oxidator for 125I labeling of monoclonal anti CA-15 was found to giv labeling-yield of about 96.5% and radiochemical purity of 93.2%. Optiimum amount of the oxidizing agent was found to be 10µg. There were not any significant difference in utilization of coating solution volume ranging at 300 to 600µL. for preparing monoclonal anti CA-125 coated tube. The non specific binding (NSB) and the %B/T values were found to be unaffected  by washing step, while a blocking of coated tube using of BSA 0.1% decreased the %B/T value. Utilization of bicarbonate buffer for the preparation  of coated tube was found to be more satisfactory than that of phosphate buffer. It was shown that the monoclonal anti CA-125 M37203 used for tracer being paired with monoclonal anti CA-125 M866924M used for coating solution gave an optimal result based on the values of %NSB  and %B/T. Key word : IRMA-Kit, Monoclonal anti CA-125, Tracer.