Ligaya Ita Tumbelaka
Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Bogor

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

EKOKARDIOGRAFI MODE-BRIGHTNESS PADA ULAR SANCA Ulum, Mokhamad Fakhrul; Lestari, Nurul Aeni Ayu; Pertiwi, Amira Putri; Kombo, Muhammad Piter; Tumbelaka, Ligaya Ita
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p01

Abstract

Ekokardiografi merupakan salah satu teknik diagnosis kesehatan organ jantung dengan memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang bersifat non-invasif, aman, cepat, dan mudah dilakukan. Penelitian ekokardiografi ini bertujuan untuk mengamati struktur, ukuran, dan posisi organ jantung pada tiga spesies sanca, yaitu Sanca batik, Sanca bodo, dan Sanca bola. Organ jantung dicitrakan menggunakan ultrasonografi mode-brightness dengan transduser jenis linear berfrekuensi 10 MHz dan menggunakan media air sebagai penggati gel ultrasound. Ular dikekang dan ditangani secara fisik, tanpa menggunakan sedasi ataupun obat bius selama pencitraan berlangsung. Posisi organ jantung diukur berdasarkan nomor sisik ventral, sedangkan ukuran organ jantung diukur berdasarkan jumlah sisik ventral. Hasil pencitraan menunjukkan bahwa posisi organ jantung berada pada nomor sisik ventral ke-55?77, sedangkan ukuran organ jantung berkisar 12?13 sisik ventral. Posisi jantung Sanca batik cenderung lebih anterior dibandingkan Sanca bodo dan Sanca bola. Citra ultrasonografi pada standar pandang longitudinal memperlihatkan bagian jantung berupa sinus venosus, atrium kanan, atrium kiri, cavum arteriosum, cavum venosum, cavum pulmonale, arteri pulmonum, dan aorta. Sedangkan pada standar pandang transversal memperlihatkan bagian dari cavum venosum, cavum pulmonale, cavum arteriosum, dan aorta. Otot organ jantung memiliki ekogenisitas yang berwarna abu-abu (hipoekoik) dengan ruang jantung berisi darah yang tampak berwarna hitam (anekoik). Sedangkan jaringan jantung yang lebih liat tampak berwarna putih (hiperekoik).
48 PERSENTASE KEBUNTINGAN KEMBAR DAN ENUKLEASI VESIKEL EMBRIO DENGAN PANDUAN ULTRASOUND PADA KUDA A, Amrozi; Tumbelaka, Ligaya ITA
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1257

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase kebuntingan kembar pada kuda di Pulau Jawa dan Madura dan menguji tingkat keberhasilan enukleasi vesikel embrio dengan panduan ultrasound. Sebanyak 354 induk kuda dikawinkan secara alami dengan kebuntingan mencapai 57,6% (204 ekor) dan ditemukan 11 kebuntingan kembar (5,4%). Kebuntingan kembar dengan 2 vesikel embrio pada 10 induk dan 3 vesikel embrio pada satu induk. Pengurangan embrio dengan memberikan tekanan probe terhadap vesikel embrio berpanduan gambaran ultrasound terhadap 6 ekor kuda bunting kembar berhasil pada satu ekor induk kuda (16,6%) dan melahirkan satu anak. Semua kontrol kebuntingan kembar pada 5 induk kuda mengalami abortus pada usia kebuntingan 7-9 bulan. _____________________________________________________________________________________________________________________
PROFIL PROGESTERON AIR SUSU DAN TINGKAT KEBUNTINGAN SAPI PERAH PASCASINKRONISASI ESTRUS MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2ALFA ATAU PROGESTERON-CIDR (MILK PROGESTERONE PROFILE AND PREGNANCY RATE ON DAIRY CATTLE AFTER ESTROUS SYNCHRONIZATION WITH PROSTAGLANDIN F Suprihatin, Novi; Tumbelaka, Ligaya ITA; Setiadi, Mohamad Agus
Jurnal Veteriner Vol 17 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on estrus synchronization, progesterone profiles of post-synchronization and early pregnancyhas been conducted using 16 Holstein Frisian dairy cows. Treated cows were divided into 2 groups. Cowsin group I were synchronized with double injection of prostaglandin F2á (PGF2á, Lutalyse®) 25 mg / head at11 days apart, then were inseminated twice at 72 hours and 96 hours after the second injection of PGF2á(FTAI = fixed timed insemination). Group II were synchronized with progesterone implant-CIDR® for 11days. At the time of progesterone implant withdrawal the animals were injected with PGF2á at 25 mg /head then inseminated twice at 48 hours and 72 hours. Milk samples were collected on the day before, atthe treatment day and at day 1st, 3rd, 5th, 7th following the first insemination in order to determine theprofile of progesterone after synchronization, while for early pregnancy examinations, sampling of milkwere collected at day 21th, 24th and 27th after the first insemination. The milk samples were analyzed byRadioimmunoassay (RIA) method. Rectal palpation to confirm pregnancy was undertaken at day 60thafter the first insemination. The results showed a marked decrease in milk progesterone (nmol / l) at thefirst insemination (H0) in both group PGF2á and CIDR® (0.84; 0.49 vs. 0.92; 0.32), which indicated theoccurrence of estrus. Gradually increased of milk progesterone level (0.52; 0.68; 1.17; 1.69, respectively)started from day 1st, 3rd, 5th, 7th was seen in animals PGF2á group, whereas in the CIDR® group the milkprogesterone level was found fluctuate (0.21; 0.39; 0.33; 1.61). However, at day 7th the concentration ofprogesterone in both groups was significantly increased which indicated functional activity of the corpusluteum. Meanwhile the progesterone concentrations (nmol/l) of pregnant cows at day 21st, 24th and 27th ingroup PGF2á were 3.63; 3.51; 1.58 and in CIDR® group were 2.50; 2,79; 4.35, respectively. In non-pregnantcows, the progesterone concentrations (nmol/l) were lower (0.63; 0.42; 1.41 vs. 0.20; 0.27; 1.33), than thoseof pregnant cows. The results of rectal palpation after 60 days of the first Artificial Insemination (AI)confirmed that 5 cows with higher milk progesterone concentrations at day H21, H24, H27 from the firstinsemination were pregnant, with the possibilities at 62.5% in each group. It is concluded that estroussynchronization using either PGF2á or CIDR® in lactating dairy cows will give the same response and thiscould be detected using the milk progesterone profiles. Measurement of milk progesterone concentrationsby RIA began at day 21 of the first AI was effective for early pregnancy diagnosis.
ULTRASONOGRAPHY OF THE EXTERNAL REPRODUCTIVE ORGANS IN TOM Ulum, Mokhamad Fakhrul; Maharani, Anizza Dyah Kartika; Kurniawan, Rizal Eko; Sariningrum, Arlita; Frastantie, Dilla; Erwin, Erwin; Tumbelaka, Ligaya ITA; Noviana, Deni
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 3 (2017): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i3.5700

Abstract

This study aims to delineate the tissue structure of male cat external reproductive organs using ultrasound with different types of consoles and transducers frequencies through indirect method. External organ of 5 tom weighing 2-3 kg was evaluated using ultrasound with stationary console (linear transducer, 10 MHz) and portable console (linear transducer, 6.5 MHz), transcutaneously. The results showed that both console and transducer could not visualize the structure of organs sized less than 10 mm through direct method. However, the indirect method using stationary console with a 10 MHz transducer enable to visualize the organ and depicts clearly the internal organ structure such as penis and its parts, scrotum and its constituent layers, caput and cauda of epididymis, and testicles. Furthermore, portable console with 6.5 MHz transducer was still able to provide an adequate image of those organs. In general, fibrous tissues such as tunica vaginalis, tunica Dartos, funiculusspermaticus, and urethra were visible in ultrasonogram as hyperechoic structures, while soft tissues such as the parts of testicles and penis were visible as hypoechoic structures. Tissue containing fluid such as urethral lumen was visible as anechoic structure. In conclusion, indirect ultrasound imaging method was sufficient to visualize the organs sized less than 10 mm using 3-15 MHz transducer in which was currently widely used in animal health care clinics.
PERSENTASE KEBUNTINGAN KEMBAR DAN ENUKLEASI VESIKEL EMBRIO DENGAN PANDUAN ULTRASOUND PADA KUDA A, Amrozi; Tumbelaka, Ligaya ITA
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1258

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase kebuntingan kembar pada kuda di Pulau Jawa dan Madura dan menguji tingkat keberhasilan enukleasi vesikel embrio dengan panduan ultrasound. Sebanyak 354 induk kuda dikawinkan secara alami dengan kebuntingan mencapai 57,6% (204 ekor) dan ditemukan 11 kebuntingan kembar (5,4%). Kebuntingan kembar dengan 2 vesikel embrio pada 10 induk dan 3 vesikel embrio pada satu induk. Pengurangan embrio dengan memberikan tekanan probe terhadap vesikel embrio berpanduan gambaran ultrasound terhadap 6 ekor kuda bunting kembar berhasil pada satu ekor induk kuda (16,6%) dan melahirkan satu anak. Semua kontrol kebuntingan kembar pada 5 induk kuda mengalami abortus pada usia kebuntingan 7-9 bulan. _____________________________________________________________________________________________________________________
IDENTIFIKASI LEUKOSIT POLYMORPHONUCLEAR (PMN) DALAM DARAH SAPI ENDOMETRITIS YANG DITERAPI DENGAN GENTAMISIN, FLUMEQUIN, DAN ANALOG PGF2α Melia, Juli; a, Amrozi; Tumbelaka, Ligaya Ita; Fahrimal, Yudha
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.342

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase leukosit polymorphonuclear (PMN) dalam preparat ulas darah sapi endometritis. Enam ekor sapi endometritis dibagi dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok I (n=3) diterapi dengan 250 mg gentamisin/ekor, 250 mg flumequin/ekor, dan PGF2? sebanyak 12,5 mg/ekor secara intra uteri. Kelompok II (n=3) diterapi dengan menggunakan antibiotik dengan dosis dan cara pemberian yang sama seperti pada Kelompok I. Hasil penghitungan leukosit diferensial sebelum terapi menunjukkan persentase jumlah limfosit yang lebih tinggi dibandingkan bentuk leukosit lainnya pada Kelompok I dan II masing-masing adalah 62,50±1,17 dan 63,66±2,35, sedangkan persentase jumlah neutrofil pada Kelompok I dan II masing-masing adalah 29,33±0,94 dan 27,33±0,94. Setelah terapi, tidak ada perbedaan persentase (P 0,05) bentuk leukosit antara kedua kelompok perlakuan. Terapi kombinasi antibiotik dan PGF2? pada sapi penderita endometritis tidak menghasilkan perubahan diferensial leukosit termasuk PMN.
OVSYNCH DAN INSEMINASI BUATAN PADA INDUK KUDA WARMBLOODYANG DIINDUKSI OVULASI DENGAN HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN DOSIS JAMAK A, Amrozi; Tumbelaka, Ligaya ITA; Ocktaviani, Ade; Achmadi, Bondan; Melia, Juli
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2836

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengamati pola pertumbuhan folikel dan keberhasilan inseminasi buatan dengan semen cair pada induk kuda warmblood yang disinkronisasi estrus dan ovulasi (ovsynch). Induk kuda berjumlah lima ekor berumur 6-18 tahun digunakan dalam penelitian ini. Sinkronisasi estrus dilakukan pada induk kuda yang memiliki korpus luteum berdiameter minimal 3,0 cm dengan injeksi prostaglandin 7,5 mg secara intramuskular. Induksi ovulasi dilakukan dengan memberikan hCG 1500 IU secara intravena 48 jam setelah sinkronisasi estrus dan diulang setiap 24 jam sampai terjadinya ovulasi folikel (dosis jamak) yang diamati dengan ultrasound. Inseminasi buatan dilakukan berulang mengikuti setiap pemberian hCG sampai terjadinya ovulasi dengan dosis inseminasi 1,5x109 spermatozoa. Sinkronisasi estrus dan ovulasi dengan menggunakan hCG dosis jamak menghasilkan ovulatori dominan folikel berdiameter 4,81±0,92 cm dan korpus rubrum berdiameter 3,82±0,45 cm serta menghasilkan 60% kebuntingan. Kesimpulan sinkronisasi ovulasi dengan pemberian hCG dosis jamak pada kuda warmblood yang diinseminasi buatan dengan semen cair efektif menghasilkan kebuntingan yang tinggi.
EVALUASI STATUS REPRODUKSI DOMBA GARUT JANTAN TIPE TANGKAS Wijaya, Surya Kusuma; Tumbelaka, Ligaya ITA; Supriatna, Iman; Tambajong, Daisy
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 7 No. 1 (2019): Januari 2019
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.527 KB) | DOI: 10.29244/avi.7.1.55-63

Abstract

Domba garut merupakan salah satu aset plasma nutfah Jawa Barat yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber daging. Domba garut memiliki keunikan tersendiri, terutama untuk jenis garut jantan tipe tangkas, sebagai daya tarik wisata daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara ukuran fisik domba garut jantan tipe tangkas, yaitu bobot badan, lingkar skrotum, dan produksi semen dengan status reproduksi domba jantan. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur hewan coba secara fisik pada kelompok umur 3 bulan, 6-12 bulan, 13-18 bulan, 19-24 bulan, dan 36-48 bulan. Evaluasi semen dilakukan pada semua kelompok umur. Pemilihan domba jantan garut tipe tangkas didasarkan pada sifat kualitatif dan kuantitatif. Sifat kualitatif (bentuk tanduk) yang dipilih oleh petani ialah gayor (44,44%), ngabendo (33,33%), leang (16,67%), dan ngagolong tali (5,56%). Sifat kuantitatif meliputi bobot badan, lingkar skrotum, dan panjang skrotum pada domba jantan, yang meningkat sampai kelompok usia 18-24 bulan. Evaluasi semen menunjukkan nilai tertinggi ditemukan pada kelompok usia 18-24 bulan. Bentuk tanduk tipe tangkas tidak memiliki korelasi dengan bobot badan, lingkar skrotum, dan panjang skrotum garut jantan secara statistik.
CHEMICAL CASTRATION USING IRON (III) CHLORIDE HEXAHYDRATE (KEBIRI KIMIAWI MENGGUNAKAN FERIKLORIDA HEKSAHIDRAT) Ulum, Mokhamad Fakhrul; Paramitha, Devi; Sariningrum, Arlita; Maharani, Anizza Dyah Kartika; Tumbelaka, Ligaya ITA; Noviana, Deni
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.360

Abstract

Chemical castration is a method that can be applied easily without any surgical intervention in animals. This study utilized iron (III) chloride hexahydrate (FeCl3.6H2O) as a new material for chemical castration in mice. Twenty seven adult male mice were divided into five groups: FeCl3 20% (n = 6), FeCl3 10% (n = 6), FeCl3 5.0% (n = 6), FeCl3 2.5% (n = 6), and control NaCl 0.9% (n = 3). A 0.2 mL of NaCl 0.9% or FeCl3 in various concentrations was injected intra-testicularly on each testis of the mice. Post-castration survival rate with LD50 values was obtained at the concentrations between 2.5-5.0% of FeCl3 groups, and 100% mice survived in the control group. The size of testis and concentration of spermatozoa decreased, in contrast with the increased concentration of FeCl3 solution used seven days post-injection compared to the control group. ABSTRAK Kebiri/kastrasi kimiawi secara injeksi intra-testis merupakan metode pengebiriam yang dapat dilakukan dengan mudah tanpa prosedur bedah pada hewan. Penelitian ini memanfaatkan larutan besi (ferri/III) klorida (FeCl3) sebagai bahan baru untuk tindakan kebiri kimiawi pada mencit. Mencit jantan dewasa umur lima bulan sebanyak 27 ekor dibagi dalam lima kelompok yaitu FeCl3 20% (n=6), FeCl3 10% (n=6), FeCl3 5,0% (n=6), FeCl3 2,5% (n=6) dan kontrol NaCl 0,9% (n=3). Larutan FeCl3 sebanyak 0,2 mL diinjeksikan secara intra-testikel pada setiap organ testis. Daya hidup pascakebiri injeksi nilai LD 50 diperoleh pada kelompok FeCl3 konsentrasi di antara 2,5-5,0 % dan kelompok kontrol 100 % hidup. Organ testis dalam skrotum mengalami pengecilan ukuran dan konsentrasi spermatozoa mengalami penurunan seiring dengan peningkatan konsentrasi larutan FeCl3 yang digunakan setelah tujuh hari pasca injeksi dibandingkan dengan kontrol.
Perubahan plasma darah dan kematangan gonad pada ikan betina Tor soro di kolam pemeliharaan [Changes of blood plasma and gonadal maturity on female Tor soro in pond] Wahyuningsih, Hesti; Jr, Muhammad Zairin; Sudrajat, Agus Oman; Tumbelaka, Ligaya ITA; Manalu, Wasmen
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.418 KB) | DOI: 10.32491/jii.v12i1.127

Abstract

Tor soro is an endemic species of freshwater fish in North Sumatera. Year by year the population of Tor soro tend to decrease. Currently,Torsorohashadtechnologyofdomestication. In order to support the success of breeding of Tor soro, information on the gonad development is urgently needed. Oocyte diameter and biochemistry of blood plasma of eight young females was carried out every month during a year (April 2009-March 2010). The estradiol-17p concentration was high received in July (0.9±0.8 ng ml'1), then decreased drastically in August (0.20±0.16 ng ml'1) and again increased until achieving the highest concentration in March.The highest of the estradiol-17p concentration correspond the peak of vitellogenesis towards the maturation. Biochemistry of blood plasma low in June as follow protein total 3.9±0.359 g dl-1; cholesterol 0.13±0.014 g dl-1; triglyceride 0.1±0.021 g dl-1 occurred at the time of the maximum size oocyte development. Concentration of low glucose existed in September (0.04±0.019 g dl-1) when the fish ovulated, this condition increased gradually up to optimal in February (0.12±0.003 g dl-1).Meanwhile optimal ovarian maturity occurred in June and September. AbstrakTor soro merupakan ikan endemik di Sumatera Utara dengan populasinya yang kian menurun. Saat ini, Tor soro telah mengalami teknologi domestikasi dan mampu dilakukan perbanyakan ikan pada kolam budidaya sejak tahun 2000. Informasi tentang reproduksi ikan ini masih sangat sedikit sehingga perlu adanya kajian tentang perkembangan gonad sebagai data awal pengembangan budi daya. Dalam studi ini digunakan delapan ekor betina muda. Pengukuran diameter oosit dan parameter biokimia plasma darah dilakukan sebulan sekali selama setahun (April 2009-Maret 2010). Konsen-trasi estradiol-17p yang tinggi diperoleh pada bulan Juli 2009 (0,9±0,8 ng ml-1), kemudian menurun drastis pada bulan Agustus 2009 (0,20±0,16 ng ml-1) dan kembali meningkat hingga mencapai konsentrasi tertinggi pada bulan Maret 2010. Tingginya konsentrasi estradiol-17p ini menunjukkan puncak vitelogenesis menuju maturasi. Hasil pengukuran biokimia plasma (total protein, kolesterol dan trigliserida, kecuali glukosa) yang rendah diperoleh pada bulan Juni 2009 (total protein 3,9±0,359 g dl-1; kolesterol 0,13±0,014 g dl-1; trigliserida 0,1±0,021 g dl-1) yang terjadi pada saat ukuran oosit mencapai maksimum. Konsentrasi glukosa terendah pada bulan September 2009 (0,04±0,019 g dl-1) saat ikan mengalami ovulasi, dan selanjutnya meningkat secara bertahap hingga mencapai optimal pada bulan Februari 2010 (0,12±0,003 g dl-1). Perkembangan kematangan gonad mencapai optimum pada bulan Juni dan September 2009.