Mokhamad Fakhrul Ulum
Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

SONOGRAM ORGAN MATA KUCING LIAR INDONESIA Ulum, Mokhamad Fakhrul; Noviana, Deni
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 2 Agustus 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.801 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat struktur organ mata pada kucing liar Indonesia (KLI) melalui pencitraan B-mode ultrasonografi transpalpebrae. Organ mata dari delapan ekor kucing liar sehat dewasa dengan berat badan 3,0-4,0 kg dicitrakan menggunakan alat ultrasonografi tanpa sedasi ataupun anestesi. Transduser linier dengan frekuensi 7,5-15 MHz menggunakan gel ultrason ditempelkan pada kelopak mata yang tertutup. Hasil pencitraan menunjukkan struktur internal organ mata terlihat dengan tingkat ekogenisitas yang bervariasi sesuai dengan bagian yang dicitrakan. Bagian organ mata dengan sonogram hipoekoik sampai dengan hiperekoik adalah kornea, iris, badan siliari, ligamen suspensor, sclera, dan kapsul lensa mata. Bagian sonogram yang tercitrakan anekoik adalah bagian yang tersusun atas cairan yaitu kamar depan, kamar belakang, dan vitrus humor. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa B-mode ultrasonografi secara transpalpebrae dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan mata.
EKOKARDIOGRAFI MODE-BRIGHTNESS PADA ULAR SANCA Ulum, Mokhamad Fakhrul; Lestari, Nurul Aeni Ayu; Pertiwi, Amira Putri; Kombo, Muhammad Piter; Tumbelaka, Ligaya Ita
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.608 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p01

Abstract

Ekokardiografi merupakan salah satu teknik diagnosis kesehatan organ jantung dengan memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang bersifat non-invasif, aman, cepat, dan mudah dilakukan. Penelitian ekokardiografi ini bertujuan untuk mengamati struktur, ukuran, dan posisi organ jantung pada tiga spesies sanca, yaitu Sanca batik, Sanca bodo, dan Sanca bola. Organ jantung dicitrakan menggunakan ultrasonografi mode-brightness dengan transduser jenis linear berfrekuensi 10 MHz dan menggunakan media air sebagai penggati gel ultrasound. Ular dikekang dan ditangani secara fisik, tanpa menggunakan sedasi ataupun obat bius selama pencitraan berlangsung. Posisi organ jantung diukur berdasarkan nomor sisik ventral, sedangkan ukuran organ jantung diukur berdasarkan jumlah sisik ventral. Hasil pencitraan menunjukkan bahwa posisi organ jantung berada pada nomor sisik ventral ke-55?77, sedangkan ukuran organ jantung berkisar 12?13 sisik ventral. Posisi jantung Sanca batik cenderung lebih anterior dibandingkan Sanca bodo dan Sanca bola. Citra ultrasonografi pada standar pandang longitudinal memperlihatkan bagian jantung berupa sinus venosus, atrium kanan, atrium kiri, cavum arteriosum, cavum venosum, cavum pulmonale, arteri pulmonum, dan aorta. Sedangkan pada standar pandang transversal memperlihatkan bagian dari cavum venosum, cavum pulmonale, cavum arteriosum, dan aorta. Otot organ jantung memiliki ekogenisitas yang berwarna abu-abu (hipoekoik) dengan ruang jantung berisi darah yang tampak berwarna hitam (anekoik). Sedangkan jaringan jantung yang lebih liat tampak berwarna putih (hiperekoik).
AMPUTASI PROLAPSUS KANTUNG PIPI PADA HAMSTER MINI CAMPBELL (PHODOPUS CAMPBELLI) Ulum, Mokhamad Fakhrul
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 2 No. 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.39 KB) | DOI: 10.29244/avi.2.2.49-53

Abstract

Pada studi kasus ini kami mendokumentasikan sebuah kasus prolapsus kantung pipi pada seekor hamster mini Campbell (Phodopus campbelli). Hamster mini Campbell datang dengan anamneses adanya sebuah massa di kiri mulut bagian dalam yang tampak menyembul keluar. Berdasarkan pemeriksaan klinis, hamster mengalami prolapsus kantung pipi dengan prognosa yang buruk. Terapi awal yang dilakukan berupa reposisi, akan tetapi terjadi prolaps kembali sehingga dilakukan amputasi pada kantung pipi yang mengalami prolap.
PROFIL TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN SATURASI OKSIGEN DOMBA GARUT BETINA PADA SUHU LINGKUNGAN TROPIS Vidiastuti, Dian; Soehartono, Harry; Ulum, Mokhamad Fakhrul; Noviana, Deni
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 2 No. 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.032 KB) | DOI: 10.29244/avi.2.2.70-73

Abstract

Pengukuran tekanan darah sistolik (TDS) dan saturasi oksigen (SpO2) merupakan salah satu cara pemantauan fungsi kardiovaskular untuk mengetahui resiko gangguan jantung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati dinamika TDS dan SpO2 domba garut pada pagi dan siang hari dengan variasi suhu kandang. Penelitian ini menggunakan 4 ekor domba garut betina sehat, umur produktif dan tidak bunting. Suhu kandang dicatat sebelum memulai pengukuran TDS dan SpO2. Pengukuran TDS dan SpO2 menggunakan metode non-invasif ultrasonic Doppler flow detector dengan meletakkan flat probe pada medial distal carpus dan pediatric fingertip pulse oximetry yang dijepitkan ke telinga domba. Pengambilan data dilakukan pagi dan siang hari dengan 5 kali ulangan selama 20 menit pada menit ke 0, 5, 10, 15 dan 20. Hasil penelitian ini menunjukkan pengamatan suhu kandang pagi berkisar 28-29 oC dengan rataan nilai TDS 111,20 ± 3,95 mmHg dan SpO2 sebesar 96,5 ± 0,18%. Pada siang hari suhu kandang berkisar 32-35 oC dengan rataan nilai TDS 105,25 ± 2,24 mmHg dan SpO2 96,9 ± 0,22%. Rataan nilai TDS dan SpO2 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antar waktu pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, variasi suhu kandang tidak mempengaruhi TDS dan SpO2 domba garut tetapi secara umum domba ini memiliki tingkat adaptasi kardiovaskular yang baik terhadap kondisi suhu lingkungan tropis.Kata kunci: tekanan darah sistolik, saturasi oksigen, domba garut, suhu kandang
ULTRASONOGRAPHY OF THE EXTERNAL REPRODUCTIVE ORGANS IN TOM Ulum, Mokhamad Fakhrul; Maharani, Anizza Dyah Kartika; Kurniawan, Rizal Eko; Sariningrum, Arlita; Frastantie, Dilla; Erwin, Erwin; Tumbelaka, Ligaya ITA; Noviana, Deni
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 3 (2017): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.338 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i3.5700

Abstract

This study aims to delineate the tissue structure of male cat external reproductive organs using ultrasound with different types of consoles and transducers frequencies through indirect method. External organ of 5 tom weighing 2-3 kg was evaluated using ultrasound with stationary console (linear transducer, 10 MHz) and portable console (linear transducer, 6.5 MHz), transcutaneously. The results showed that both console and transducer could not visualize the structure of organs sized less than 10 mm through direct method. However, the indirect method using stationary console with a 10 MHz transducer enable to visualize the organ and depicts clearly the internal organ structure such as penis and its parts, scrotum and its constituent layers, caput and cauda of epididymis, and testicles. Furthermore, portable console with 6.5 MHz transducer was still able to provide an adequate image of those organs. In general, fibrous tissues such as tunica vaginalis, tunica Dartos, funiculusspermaticus, and urethra were visible in ultrasonogram as hyperechoic structures, while soft tissues such as the parts of testicles and penis were visible as hypoechoic structures. Tissue containing fluid such as urethral lumen was visible as anechoic structure. In conclusion, indirect ultrasound imaging method was sufficient to visualize the organs sized less than 10 mm using 3-15 MHz transducer in which was currently widely used in animal health care clinics.
KERAGAMAN SIFAT KUALITATIF PADA SAPI SILANGAN PO DAN BELGIAN BLUE MENGGUNAKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA Jakaria, Jakaria; Zulkipli, Fuadi; Edwar, Edwar; Ulum, Mokhamad Fakhrul; Priyanto, Rudy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 7, No 1 (2020): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jitro.v7i1.8675

Abstract

The purpose of this study was to determine the diversity of qualitative traits in PO, Belgian Blue and PO-Belgian Blue crosses using principal component analysis. The total samples of cattle used were 36 consisting of 8 heads Belgian Blue (4 males and 4 females), 17 heads Belgian PO-Belgian cross-breed (11 males and 6 females) and 11 PO heads (all females)). The diversity of qualitative traits observed were 17 characteristics namely plain body-color (WTP), combination body-color (WTK), horned (MT), humped (MP), sagging (MG), black tail tip color (WUEH), white tail tip color (WUEH), black eyelash color (WBMH), white eyelash color (WBMP), circle hair head (PRK), circle hair back (PRP), circle hair bracket (PRB), black nail color (WKH), nail color white (WKP), double muscle (PG), black muzzle (WMH) and white muzzle (WMP). Qualitative data were analyzed descriptively by calculating the proportion value, while the determinant variables of each breed were analyzed using the principal component analysis method (AKU) with the Minitab version 7 program. The results showed that the characteristics of qualitative traits in PO, Belgian Blue, and PO-Belgian Blue cross-breed cattle have a high diversity. PO and Belgian Blue cattle breeds can be clearly distinguished based on the characteristics of qualitative traits, whereas PO-Belgian Blue crossbred cattle have clusters that are close to PO cattle clusters. Found character traits for each cattle breed in both PO, Belgian Blue, and PO-Belgian Blue cross-breed. There are three characteristics of qualitative traits possessed in each cow nation, namely the variable circle hair head (PRK), circle hair back (PRP) and horned characters (MT). Based on the results obtained that the qualitative traits in cattle can be used as a distinguishing character between PO, Belgian Blue, and PO-Blue Belgian cross cattle breeds.
EVALUASI KINERJA PERTUMBUHAN SAPI SILANGAN BELGIAN BLUE DAN PERANAKAN ONGOLE Jakaria, Jakaria; Edwar, Edwar; Ulum, Mokhamad Fakhrul; Priyanto, Rudy
Jurnal Agripet Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v19i2.15022

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja pertumbuhan sapi persilangan Belgian Blue (BB) dan sapi Peranakan Ongole (PO) pada turunan pertama (F1). Sapi persilangan (BB dan PO) yang digunakan sebanyak 15 ekor terdiri atas jantan 6 ekor dan betina 9 ekor, selain itu digunakan 8 ekor sapi PO betina yang dipelihara di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Bogor. Peubah yang diamati adalah bobot lahir (BW), bobot sapih (WW) 205 hari, bobot 1 tahun (YW), pertambahan bobot badan harian dari lahir (GBW) sampai sapih (GWW) dan pertambahan bobot badan harian dari sapih (GWW) sampai umur 1 tahun (GYW). Data dianalisis secara deskriptif dan perbedaan antar sapi silangan (BB-PO) dengan sapi PO dilakukan uji t. Hasil analisis bobot badan dan pertumbuhan menunjukkan bahwa, bobot badan sapi silangan BB dan PO lebih tinggi dibandingkan dengan sapi PO pada WW 205 hari (165,2±21,3 kg dan 115±15,2 kg), YW (365 hari) (240,7±28,1 kg dan 194,9±26,1 kg) dan GBW sampai GWW (0,675±0,097 kg dan 0,441±0,059 kg). BW dan GWW sampai GYW tidak berbeda antara sapi silangan BB-PO dengan PO. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program cross-breeding sapi BB dengan PO dapat meningkatkan kinerja bobot badan dan pertumbuhan.  (Growth performance evaluation of belgian blue and ongole crossbreed) ABSTRACT. The purpose of this study was to evaluate the growth performance of cross-breeding of Belgian Blue (BB) and Ongole Grade (PO) cattle in the first generation (F1). Crossbred of BB and PO cattle used as many as 15 individuals consisting of 6 males and 9 females, also, 8 individual PO females are used which are kept in the Livestock Embryo Center (BET) Cipelang, Bogor. The observed variables were birth weight (BW), weaning weight (WW) 205 days, 1-year weight (YW) 365 days, daily body weight gain from birth (GBW) to weaning (GWW) and daily body weight gain from weaning (GWW) until the age of 1 year (GYW). Data were analyzed descriptively and the difference between cross-breeding (BB-PO) cattle and PO cattle was analyzed by t-test. The results of body weight and growth analysis showed that crossbred BB and PO cattle were higher than PO cattle at WW 205 days (165.2 ± 21.3 kg and 115 ± 15.2 kg), YW (365 days) (240.7 ± 28.1 kg and 194.9 ± 26.1 kg ) and GBW to GWW (0.675 ± 0.097 kg and 0.441 ± 0.059 kg). BW and GWW to GYW do not differ between crossbred BB-PO and PO cattle. The results of this study indicate that the cross-breeding program for BB cattle with PO cattle breeds can improve the performance of body weight and growth.
SONOGRAPHIC APPEARANCE OF ABDOMINAL WALL AT THE LEFT FLANK OF LAPAROTOMY INCISION SITE IN ETTAWAH GRADE DOES Ulum, Mokhamad Fakhrul; Setiadi, Dedi R.; Panjaitan, Budianto; Noordin, Muchidin; Amrozi, .
Media Peternakan Vol. 37 No. 3 (2014): Media Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.862 KB) | DOI: 10.5398/medpet.2014.37.3.151

Abstract

The aim of this study was to describe the sonographic appearance of abdominal wall at the left flank of laparotomy incision site in 11 mated Ettawah grade does. Brightness-mode ultrasound examination by using transducer with frequency of 5.0-6.0 MHz was conducted to grouping the does based on their pregnancy statuses. The incision site of the abdominal wall at left flank laparotomy was transcutaneous-scanned as long as 8 cm vertically. The sonographic appearance of the laparotomy wall thickness showed that in all groups of does were similar and not different statistically. The thickness of oblique external and oblique internal abdominal muscles increased in the pregnant does as compared to non-pregnant does (P<0.05).Key words: laparotomy, left flank, ultrasonography, incision site, Ettawah grade does
KIVP-7 PERANGKAT MIKROFLUIDIK DARI KATUN UNTUK ANALISA SEMI-KUANTITATIF DALAM MENUNJANG DIAGNOSA CEPAT DI DUNIA KEDOKTERAN HEWAN Ulum, Mokhamad Fakhrul
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.828 KB)

Abstract

Diagnosa cepat merupakan hal yang menjadi tuntutan dalam dunia medis saat ini. Perangkat diagnostik cepat dikembangkan guna membantu proses diagnosa segera diperoleh agar tindakan yang cepat dan tepat pada pasien dapat segera dilakukan (Castellote et al. 2003). Perangkat diagnostik cepat juga dikembangkan untuk tujuan penapisan dalam suatu populasi hewan untuk memantau kejadian suatu penyakit (Yetisen et al. 2013). Perangkat diagnosa cepat umumnya sangat sederhana, mudah digunakan tidak memerlukan peralatan khusus, harga relatif terjangkau, proses perolehan hasil langsung terbaca dalam hitungan menit (Bissonnette & Bergeron 2010). Teknologi diagnostik cepat sangat membantu tenaga medis untuk mendapatkan hasil sebelum uji lanjut melalui uji laboratorium. Uji laboratorium standar umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif lama sehingga proses penyakit tidak dapat segera terdiagnosa dengan cepat. Proses penegakan diagnosa dalam dunia kedokteran hewan dengan jumlah spesies yang lebih banyak dari dunia medis kedokteran manusia memiliki tantangan yang lebih besar dengan keunikan tersendiri (Lewis & Klausner 2003). Tren perkembangan saat ini, perangkat diagnostik dikembangkan dengan tujuan pemantauan mandiri bagi klien dari rumah sebelum pasien dibawa ke klinik atau rumah sakit untuk ditangani oleh dokter hewan (Yager et al. 2008). Tulisan ini membahas sekilas tentang perangkat diagnostika cepat berbasis mikrofluida (mikrofluidik) yang dapat dimanfaatkan dalam dunia kedokteran hewan guna menunjang percepatan proses penegakan diagnosa.
PEMBIUSAN BABI MODEL LAPAROSKOPI UNTUK MANUSIA DENGAN ZOLETYL, KETAMIN DAN XYLAZIN -, Gunanti; Siswandi, Riki; Soehartono, Raden Harry; Ulum, Mokhamad Fakhrul; Sudisma, I Gusti Ngurah
Jurnal Veteriner Vol 12 No 4 (2011)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.394 KB)

Abstract

In the last decade the use of pig as animal model for trining in laparoscopic surgery showed onincreased in Indonesia. The training for laparoscopy surgery involved cholecystectomy, ovariohysterctomy,hysterectomy, nefrectomy, spleenectomy, and cardiosurgery. The success of such training depends on themethod and the process as such as the proper used to handle the animal. The study was a retrospectivestudy over 2009-2010 laparoscopic training on 62 pigs. The objective of this study was to elucidate theprocedure of pig laparoscopic surgery, anesthesia methods, obstacle, and the solutions. Method ofanesthesia induction was performed by using combination of tiletamine-zolazepam (8 mg/kg bw), ketamineHCl (6 mg/kg bw), and xylazine HCl (2 mg/kg bw) /ZKX without premedication. Anesthetized pigs weremaintained with combination of ketamine HCl (5 mg/kg bw)-xylazine HCl (2 mg/kg bw) without anyanalgesic agent. Onset of ZKX induction induction was 3-5 minutes. Time of surgery varied from 40 to 120minutes, depend on surgery procedures. Heart beat and respiration rate per minute were remain stableduring surgery procedure, with observed at 68.4±12.1 and 41.3±14.1 respectively. The anesthetic methodused for Indonesian local pigs appeared to be suitable for laparoscopic surgery model for human.