Sitti Rahmah Umniyati
Department of Parasitology, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

Gambaran Leukosit dan Histologi Hepar, Ren, dan Lien Mencit BALB/c (Mus musculus) yang Terinfeksi Virus Dengue 3 (DEN-3) dengan Imunohistokimia Sulistyawati, Dewi; Umniyati, Sitti Rahmah
Jurnal Biomedika Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1521.962 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v9i1.258

Abstract

Pengamatan efek infeksi virus dengue 3 (DEN-3) terhadap leukosit dan histologi dari organ dalam (hepar, ren dan lien) dilakukan untuk mendukung pengembangan vaksin dan antiviral virus DEN 3. Penelitian dilakukan pada mencit BALB/c dengan pertimbangan mencit merupakan hewan coba yang secara anatomi dan fisiologi mirip dengan manusia dan hewan ini relatif mudah ditangani dan mudah berkembang biak. Untuk serotipe virusnya dipakai serotipe DEN-3, karena serotipe ini merupakan serotipe yang dominan (50 % kasus DBD di Indonesia disebabkan oleh serotipe ini) dan banyak berhubungan dengan kasus berat. Design penelitian ini adalah eksperimental. Pengamatan yang dilakukan antara lain : keberadaan antigen dengue pada darah (leukosit) dan organ (hepar, ren dan lien) beserta perhitungan infection rate-nya, dan histopatologi organ (hepar, ren dan lien). Infeksi dilakukan secara intra vena. Keberadaan antigen dengue diamati dengan metode Imunohistokimia (IHC). Pengamatan histopatologi dilakukan dengan pewarnaan Hemotoxylin Eosin. Penelitian untuk keberadaan antigen dengue, membuktikan bahwa virus DEN-3 dapat ditemukan pada darah (leukosit) dan organ-organ mencit (hepar, ren dan lien). One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test digunakan untuk melihat data terdistribusi normal atau tidak. Hasilnya menunjukkan nilai p=0,289, ini menunjukkan data rerata infection rate terdistribusi normal (p>0,05), sehingga analisis dilanjutkan dengan uji Oneway anova untuk melihat ada tidaknya perbedaan yang signifikan diantara data. Hasil Anova menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada rerata infection rate leukosit (p=0,045; p<0,05). Perhitungan infection rate pada darah mencit yang dianalisa menggunakan Multiple Comparisons Post Hoc, diperoleh hasil perbedaan paling signifikan terlihat pada rerata infection rate hari ke 10 p.i. (pasca infeksi) dengan rerata infection rate hari ke 13 p.i. (p=0,007), ini menunjukkan rerata infection ratepaling tinggi terlihat pada hari ke 10 p.i. dan paling rendah pada hari ke 13 p.i. Pada pengamatan histopatologi hepar mencit perlakuan menunjukkan adanya keadaan patologis berupa nekrosis, degenerasi melemak pada hepatosit, infiltrasi limfosit disertai perdarahan dan banyak sel binukleat. Pada ren mencit perlakuan terdapat infiltrasi limfosit, degenerasi melemak dan perdarahan. Pada lien mencit perlakuan menunjukkan pulpa merah yang lebih luas dan eritrosit dengan jumlah lebih banyak dibanding lien mencit kontrol. Pada organ-organ mencit kontrol tidak ditemukan keadaan patologis seperti mencit perlakuan. Virus dengue 3 (DEN-3) dapat ditemukan pada darah (leukosit) dan organ-organ mencit (hepar, ren dan lien). Pada pengamatan histopatologi hepar, ren dan lien mencit perlakuan menunjukkan adanya keadaan patologis diantaranya berupa nekrosis, degenerasi melemak, infiltrasi limfosit dan perdarahan.
UJI AKTIVITAS REPELAN MINYAK ATSIRI JAHE EMPRIT (Zingiber officinale Roxb. “Cochin Ginger”) DAN JAHE MERAH (Zingiber officinale Roxb. var rubrum) DENGAN BASIS MINYAK WIJEN DAN MINYAK KELAPA TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Mulyani, Sri; Sari, Reidinda Ratna Puspita; Umniyati, Sitti Rahmah
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.668 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8145

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penggunaan repelan sintetik menimbulkan masalah bagi kesehatan. Penelitian ini menggunakan minyak atsiri jahe emprit (A) dan minyak atsiri jahe merah (B), sebagai repelan nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan aktivitas repelan diupayakan dengan memformulasikan (A) dan (B) dengan basis minyak wijen dan minyak kelapa. Tujuan penelitian adalah membandingkan aktivitas repelan antara (A) dengan (B), mengetahui pengaruh minyak basis terhadap aktivitas repelan (A) dan (B), mengetahui konsentrasi efektif minyak atsiri dalam minyak basis sebagai repelan. Isolasi minyak atsiri menggunakan destilasi air dan uap air. Pemeriksaan komponen minyak atsiri secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan GC-MS. Aktivitas repelan diuji melalui 3 tahap yaitu : inisiasi, penentuan konsentrasi efektif, dan aktivitas repelan konsentrasi efektif. Dilakukan pengolesan minyak atsiri konsentrasi tertentu (100%, 50% dalam basis, konsentrasi efektif hasil Simplex Lattice Design) dan minyak sereh Caplang® (kontrol positif) pada punggung tangan. Tangan dimasukkan ke dalam sangkar berukuran (20x20x20) cm3 berisi 25 ekor nyamuk Aedes aegypti betina. Jumlah nyamuk hinggap dicatat untuk menghitung daya proteksi. Waktu pertama kali nyamuk menggigit dicatat sebagai lama proteksi. Analisis data menggunakan One-way ANOVA dilanjutkan Post Hoc Test Tukey HSD (Homogeneous subsets) atau Kruskal-Wallis dilanjutkan Mann-Whitney Test. Hasil penelitian (A) dan (B) mengandung kamfen, mirsen, 1,8-sineol, l-linalool, l-borneol, neral, geraniol, sitral, dan α-kurkumen (hanya pada A), yang secara kuantitatif berbeda. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa (B) memiliki aktivitas repelan yang lebih tinggi dibandingkan dengan (A). Basis minyak wijen memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap aktivitas repelan minyak atsiri jahe dibandingkan dengan basis minyak kelapa. Konsentrasi efektif minyak jahe merah dan jahe emprit dalam basis minyak wijen, minyak kelapa, berturut-turut adalah 75, 85, 85 dan 90%.
Standardization of Immunocytochemical method for the diagnosis of Dengue Viral Infection in Aedes aegypti Linn Mosquitoes (Diptera Culicidane) Umniyati, Sitti Rahmah
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 41, No 01 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

methods for virus detection in the mosquito, such as the direct fluorescent-antibody test on head squashes. However, it has the disadvantages of being labor-intensive and requiring fluorescent microscope as well as cryofreezer. Newer methods involving enzyme conjugates such as peroxidase in conjunction with either polyclonal or monoclonal antibodies are greatly improved. With new methods of immunocytochemistry, it is now possible to detect dengue viral antigen in a variety of tissues. Objective: This study was aimed to standardize an immunocytochemical streptavidin-biotin-peroxidasecomplex assay for diagnosis of dengue infection in Aedes aegypti using monoclonal antibody DSSC7. Methods: The infected mosquitoes were held in small cylindrical cages covered with mosquito netting, and incubated at 27:t 1°C ami at relative humidity of 88:t 6 %. The specificity of the immunocytochemical procedure was validated by negative and positive controls showing that the antibody was bound to an appropriate structure. The sensitivity and specificity were also evaluated based on Herrmanns Formula. The presence of dengue antigen on head squash preparation was detected based on ISBPC assay using monoclonal antibody against dengue. The validity and reliability of the measurement were evaluated based on kappa values, according to Landis and Koch. Result: Positive result was detected as discrete brownish granular deposits throughout most visual fields of brain tissue. Dengue viral antigen was immunolocalized to the cytoplasm of brain cells. The immunocytochemical test under light microscope at magnification of 400x was 86.67% sensitive, 96.00% specific, and the kappa value is 0.64. Meanwhile the kappa value between two observers was 0.92, with sensitivity and specificity of 96% and 97% respectively at magnification of 1000x. Conclusion: The monoclonal antibody DSSC7 was sensitive, specific, valid, and reliable as primary antibody to detect dengue viral infection in Ae. aegypti head squash preparation based on immunocytochemical streptavidin-biotin-peroxidase-complex assay under light microscope. Key words: antigen - denguevirus - Aedes aegypti - immunocytochemistry - monoclonal antibody DSSC7
Hubungan kualitas sumber air, perilaku dan lingkungan terhadap infeksi parasit usus anak sekolah dasar di tepi sungai Batang Hari Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi Hardiyanti, Lia Tri; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.579 KB) | DOI: 10.22146/bkm.25873

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas sumber air, perilaku tentang kebersihan dan faktor lingkungan terhadap kejadian infeksi parasit usus yang menginfeksi anak sekolah dasar di Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.Metode: Penelitian menggunakan rancangan cross sectional, populasi pada penelitian ini adalah anak SDN 209 Pantai Aur Duri dan SDN 143 Pulau Pandan sebanyak 100 responden.Hasil: Prevalensi infeksi parasit usus pada anak sekolah dasar di Kecamatan Telanaipura Kota Jambi tergolong cukup rendah. Ada hubungan antara faktor risiko berupa tindakan anak tentang kebersihan yang kurang dengan kejadian infeksi parasit usus. Variabel pengetahuan, sikap dan faktor lingkungan seperti sumber air bersih, sumber air minum, dan ketersediaan jamban bukan faktor risiko kejadian infeksi parasit usus.Implikasi Praktis: Petugas kesehatan perlu melakukan pemeriksaan infeksi parasit rutin pada anak-anak sekolah.Keaslian: Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman kita bahwa menjaga gaya hidup bersih dan sehat diperlukan untuk menghindari penyakit menular.
Analisis Spasial Kejadian Malaria Dan Habitat Larva Nyamuk Anopheles spp di Wilayah Kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo Nababan, Resiany; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.253 KB) | DOI: 10.22146/bkm.26941

Abstract

Latar Belakang : Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium spp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp betina. Di Purworejo malaria masih menjadi masalah penyakit menular yang utama, pada tahun 2013-2015 kasus malaria mengalami peningkatan dari 728 kasus (API 0,98‰) pada tahun 2013 menjadi 1.411 kasus (API 1,98‰) tahun 2015.Tahun 2016 jumlah kasus sebanyak 423 kasus.Tujuan :  Menganalisis faktor-faktor risiko dengan kasus malaria, memetakan distribusi  spasial kasus malaria kaitannya dengan jarak habitat perkembangbiakan terhadap kasus dan  mengetahui habitat larva nyamuk Anopheles spp di wilayah kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan rancangan penelitian case control atau retrospektive study.Variabel bebas adalah faktor cuaca, faktor lingkungan rumah dan faktor sosial budaya, sedangkan variabel terikat adalah kejadian (kasus) malaria. Distribusi kasus malaria disajikan dalam buffer zone dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hubungan variabel bebas dan terikat dianalisis dengan pendekatan analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan Chi square, analisis multivariat dengan uji  regresi logistik dan analisis spasial.Hasil : Analisis bivariat dengan uji korelasi Pearson menunjukan variabel suhu, kelembaban dan curah hujan tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Uji Chi square menunjukan ada hubungan kejadian malaria dengan keberadaan breeding site (p=0,02;OR 2,5 ), kondisi dinding rumah (p=0,004; OR 0,29) dan kebiasaan keluar malam hari (p=0,01;OR 3,6 ),sedangkan keberadaan hewan ternak, jarak breeding site, kebiasaan memakai kelambu, penggunaan kawat kasa, pemakaian anti nyamuk dan kebiasaan mengunjungi daerah endemis tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Berdasarkan uji regresi logistik kebiasaan keluar malam hari merupakan faktor risiko yang paling tinggi berhubungan dengan kejadian malaria. Pada analisis spasial terbentuk 3 cluster kejadian malaria dan hasil buffering menunjukan bahwa kebanyakan kasus berada di dalam area buffer zone pada radius 1000 m dari habitat larva nyamuk  Anopheles spp berupa kolam, selokan, genangan air, sawah dan sungai.Kesimpulan : Tidak ada hubungan faktor cuaca dengan kejadian malaria. Ada hubungan antara keberadaan habitat perkembangbiakan larva, kondisi dinding rumah dan kebiasaan keluar malam hari dengan kejadian malaria. Terdapat 3 cluster di wilayah kerja Puskesmas Winong dan kebanyakan kasus berada di area buffer zone pada radius 1000 meter.
UJI AKTIVITAS REPELAN MINYAK ATSIRI JAHE EMPRIT (Zingiber officinale Roxb. “Cochin Ginger”) DAN JAHE MERAH (Zingiber officinale Roxb. var rubrum) DENGAN BASIS MINYAK WIJEN DAN MINYAK KELAPA TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Mulyani, Sri; Sari, Reidinda Ratna Puspita; Umniyati, Sitti Rahmah
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.668 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss2pp80-88

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penggunaan repelan sintetik menimbulkan masalah bagi kesehatan. Penelitian ini menggunakan minyak atsiri jahe emprit (A) dan minyak atsiri jahe merah (B), sebagai repelan nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan aktivitas repelan diupayakan dengan memformulasikan (A) dan (B) dengan basis minyak wijen dan minyak kelapa. Tujuan penelitian adalah membandingkan aktivitas repelan antara (A) dengan (B), mengetahui pengaruh minyak basis terhadap aktivitas repelan (A) dan (B), mengetahui konsentrasi efektif minyak atsiri dalam minyak basis sebagai repelan. Isolasi minyak atsiri menggunakan destilasi air dan uap air. Pemeriksaan komponen minyak atsiri secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan GC-MS. Aktivitas repelan diuji melalui 3 tahap yaitu : inisiasi, penentuan konsentrasi efektif, dan aktivitas repelan konsentrasi efektif. Dilakukan pengolesan minyak atsiri konsentrasi tertentu (100%, 50% dalam basis, konsentrasi efektif hasil Simplex Lattice Design) dan minyak sereh Caplang® (kontrol positif) pada punggung tangan. Tangan dimasukkan ke dalam sangkar berukuran (20x20x20) cm3 berisi 25 ekor nyamuk Aedes aegypti betina. Jumlah nyamuk hinggap dicatat untuk menghitung daya proteksi. Waktu pertama kali nyamuk menggigit dicatat sebagai lama proteksi. Analisis data menggunakan One-way ANOVA dilanjutkan Post Hoc Test Tukey HSD (Homogeneous subsets) atau Kruskal-Wallis dilanjutkan Mann-Whitney Test. Hasil penelitian (A) dan (B) mengandung kamfen, mirsen, 1,8-sineol, l-linalool, l-borneol, neral, geraniol, sitral, dan α-kurkumen (hanya pada A), yang secara kuantitatif berbeda. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa (B) memiliki aktivitas repelan yang lebih tinggi dibandingkan dengan (A). Basis minyak wijen memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap aktivitas repelan minyak atsiri jahe dibandingkan dengan basis minyak kelapa. Konsentrasi efektif minyak jahe merah dan jahe emprit dalam basis minyak wijen, minyak kelapa, berturut-turut adalah 75, 85, 85 dan 90%.
TRANSOVARIAL TRANSMISSION INDEX OF DENGUE VIRUS ON AEDES AEGYPTI AND AEDES ALBOPICTUS MOSQUITOES IN MALALAYANG DISTRICT IN MANADO, NORTH SULAWESI, INDONESIA Sorisi, Angle Maria Hesti; Umniyati, Sitti Rahmah; Satoto, Tri Baskoro Tunggul
Tropical Medicine Journal Vol 1, No 2 (2011): Tropical Medicine Journal
Publisher : Pusat Kedokteran Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1415.333 KB) | DOI: 10.22146/tmj.4571

Abstract

Introduction: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious vector-borne disease caused by Aedes sp mosquitoes still cause serious health problem in Indonesia. Based on Manado Health Office Report, Malalayang was identified as dengue-endemic areas. In 2010, number of DHF cases in Malalayang is 211 cases with Incidence Rate (IR) 328 per 100,000 populations. Dengue viruses (DENV) survive in nature by two mechanisms; by horizontal transmission through infected vertebrates and mosquitoes, and by vertical (transovarial) transmission in the mosquitoes. Transovarial transmission is assumed as an important aspect in the maintanance of DENV during inter epidemic, but this problem has not been studied in Malalayang District, Manado. An effort to prevent and control DHF requires knowledge of an Aedes sp Dengue virus transovarial infection.Objectives: To prove the existence of Dengue virus transmission in Ae. aegypti and Ae. albopictus mosquitoes and its relationship with the incidence of DHF in Malalayang District in Manado, North Sulawesi, Indonesia.Methods: The method of this research was an observational analytic study with cross-sectional design. Study samples were unbloodfed Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes on the F1 generation from ovitrap placed in five selected villages based on the number of cases in the District Malalayang. The secondary data of DHF patients from Malalayang district was obtained from Health Office Manado and the Community Health Center in 2010. The presence of dengue antigen in head squashes preparation were detected using monoclonal antibody against dengue (DSSE10) based on immunohistochemical streptavidin biotin peroxidase complex (ISBPC) technique to confirm the presence of transovarial transmission of dengue virus both in Ae. Aegypti and Ae. Albopictus, and to obtain the data of transovarial transmission index. Fisher?s Exact test and Pearson correlation are used to analyze those data.Results: Transovarial transmission of Dengue virus in Aedes sp was found from 5 villages in Malalayang district with Transovarial Transmission Index (TTI) ranges 6.1%-17.1%. Statistic test showed significant differences in positive rate (p-value=0.00<0.05) on Ae. aegypti higher than Ae. albopictus. It is also known that there is no statistically significant correlation (p-value=0.528>0.05) between the Aedes sp. Dengue virus TTI and DHF IR in Malalayang district.Conclusion: This study demonstrates the existence of Dengue virus transovarial transmission in Aedes sp in Malalayang district. Ae. aegypti?s TTI is higher than that of Ae. Albopictus, and no significant correlation between TTI and DHF IR in Malalayang district.Keywords: DHF, transovarial transmission, Ae. aegypti, Ae. albopictus
ANALISIS PENGGUNAAN INSEKTISIDA MALATION DAN TEMEFOS TERHADAP VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE AEDES AEGYPTI DI KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA Mubarak, Mubarak; Tunggul Satoto, Tri Baskoro; Umniyati, Sitti Rahmah
MEDULA Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.447 KB) | DOI: 10.33772/medula.v2i2.2542

Abstract

Malathion and temephos insecticides have long been used at Kendari Municipality in the program of Ae.aegypti mosquito as vector of DHF; however, DHF cases are still relatively high. At Kendari Municipality there is  no  report on  susceptibility status of  Ae.  aegypti larva and  mosquito against malathion and  temephos insecticides. This study aimed to identify association between frequency and duration of malation and temephos usage with the susceptibility status of Ae. aegypti larva and mosquito at Kendari Municipality and to identify resistance mechanism of Ae. aegypti larva and mosquito.  This study was an observational analytic and subjects of the study were Ae. aegypti larva and mosquito collected from five county in Kendari. Susceptibility status of Ae. aegypti larva and mosquito against malathion and temephos was qualitatively assessed through biochemical test and quantitatively assessed through bioassay test. The statistical analysis perform by using Pearson and One Way Anova. as result, biochemical test of Ae. aegypti larva at counties of Kadia, Rahandouna, Kasilampe and Labibia had tolerant status with average score 2.49; 2.15; 2.05; 2.50 and at Abeli had  susceptible status with average score 1.77. Biochemical test of test larva from  Kadia, Rahandouna, Kasilampe, Labibia and Abeli showed susceptibility status  0%, 3.33%, 23.33%, 0% and 16.67% subsequently. The result of bioassay test of Ae. aegypti larva against temephos at Kasilampe was resistant (73.3%), at Rahandouna was tolerant (89.3%) and Kadia, Labibia and Abeli were susceptible (100%). The result of bioassay test of susceptibility status of Ae. aegypti mosquito against malathion was 100% for all counties. In conclusion, frequency and duration of use of malathion and temephos through biochemical test not affected significantly against downgrading susceptibility status of Ae. aegypti larva; whereas through bioassay test there was significant effect. Increase of non specific esterase enzyme in Ae. aegypti larva using biochemical test was not because temephos and malathion usage but because there were other unknown factors.Keywords: Aedes aegypti, temephos, malathion, bioassay test, biochemical test, insecticides.
Serotipe Virus Dengue dan Populasi Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Diptera: Culicidae) Di Kota Bengkulu Triana, Dessy; Umniyati, Sitti Rahmah; Mulyaningsih, Budi; Sarirah, Munauwarus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.966 KB) | DOI: 10.22146/bkm.34730

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi serotipe virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus dan menentukan rasio populasi nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus di daerah endemis dan sporadis DBD di Kota Bengkulu. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional-analitik. Telur nyamuk Aedes sp dikumpulkan menggunakan ovitrap dari daerah endemis DBD (Kelurahan Sidomulyo) dan daerah sporadis DBD (Kelurahan Tanjung Jaya). Identifikasi spesies Ae. aegypti dan Ae. albopictus menggunakan pictorial key for the identification of mosquitoes Rueda.  Deteksi serotipe virus dengue dilakukan dengan metodi RT-PCR dan Nested PCR menggunakan primer spesifik Lanciotti. Hasil: Serotipe virus dengue yang ditemukan pada Ae. aegypti adalah DENV-3 (daerah endemis dan sporadis DBD) dan DENV-3 pada Ae. albopictus (daerah sporadis DBD). Perbandingan populasi Ae. aegypti dan Ae. albopictus pada daerah endemis dan sporadis DBD berturut-turut adalah (60.51%:39.49%) dan (27.08%:72.92%). Simpulan: Aedes aegypti di daerah endemis dan sporadis DBD serta Ae. albopictus di daerah sporadis DBD berpotensi sebagai vektor dengue-3.
Efek minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) sebagai repelen terhadap nyamuk Aedes aegypti Mardiansyah, Ery Agus; Umniyati, Sitti Rahmah; Iravati, Susi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 10 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.26 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12234

Abstract

The effect of ginger essential oil (Zingiber officinale) as an effective repellent  against the Aedes aegypti mosquitoPurposeThe purpose of this paper was to determine the ability of ginger essential oil (Zingiber officinale) as a repellent towards Aedes aegypti. MethodsThis research was a true experimental study. The tests performed in this study were negative control tests, with protective ability test of telon plus oil and ginger essential oil 4% in telon oil involving 25 Aedes aegypti adult female mosquitoes. ResultsThe study found that the average protective ability of ginger essential oil 4 % in telon oil was 100% at minute 5, 10, and 15, while telon oil plus (positive control) was 5%, 36%, and 33%. In the protective ability test of ginger essential oil 4% in telon oil has the better repellent ability or protective ability compared to telon plus, which can provide protective ability up to 60 minutes at 91.95% while telon plus oil provides protective ability around 59.51%. In the length of protection test ginger essential oil 4% in telon oil gave an average of protection from biting until 61.67 minutes, while telon oil gives 8.33 minutes and 11.67 minutes of telon plus oil. Based on Probit analysis ginger essential oil 4% in telon oil can repel 90% of experimental mosquitoes up to 89.87 minutes. ConclusionGinger essential oil 4% in telon oil has the better repellent ability and length of protection compared to telon plus oil. Ginger essential oil 4% in telon can be used as a repellent active ingredient.