Articles

Found 17 Documents
Search

RELASI APROKSIMASI ANTARA DIAMETER KAWAH TUMBUKAN DI BUMI DAN UKURAN OBJEK PENUMBUK DARI SIMULASI NUMERIK Utama, Judhistira Aria
Jurnal Sains Dirgantara Vol. 15 No. 2 Juni 2018
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.732 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v15.a2909

Abstract

Di permukaan Bulan dan planet-planet terestrial dapat dijumpai kawah-kawah hasil tumbukan benda-benda angkasa. Studi ini mencoba memperoleh relasi aproksimasi antara diameter kawah tumbukan di Bumi terhadap ukuran objek yang diperlukan untuk membentuk kawah tersebut. Studi dilakukan menggunakan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi  nyata dalam orbit yang telah dikenal dengan baik. Menggunakan asumsi bahwa jumlah kawah yang dibentuk di permukaan Bumi sama dengan banyaknya asteroid dekat-Bumi yang menumbuk dalam kurun waktu tertentu, diperoleh bahwa diperlukan asteroid dengan diameter yang lebih kecil untuk menghasilkan kawah-kawah besar yang dikenal dibandingkan prediksi yang ada sebelumnya. Pengetahuan tentang ukuran fisik asteroid penumbuk dapat digunakan dalam mengestimasi besarnya energi tumbukan yang dihasilkan, yang berhubungan pula dengan strategi metode mitigasi yang diperlukan.
Penerapan Metode Polarisasi Sinyal ULF dalam Pemisahan Pengaruh Aktivitas Matahari dari Anomali Geomagnet Terkait Gempa Bumi Purba, Suciaty Fitriani; Nuraeni, Fitri; Utama, Judhistira Aria
ISSN
Publisher : Jurusan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penerapan metode polarisasi sinyal ULF terhadap anomali geomagnet terkait gempa Bumi dari pengaruh eksternal seperti aktivitas Matahari berdasarkan data dari Stasiun Kototabang, Sumatera Barat. Berdasarkan dua kejadian gempa yang terjadi pada 6 Maret dan 7 April 2012 sebagai studi kasus, diperoleh bahwa dengan metode polarisasi sinyal ULF ini untuk kejadian gempa pertama, amplitudo anomali terbesar dari ketiga rentang periode pemfilteran yang digunakan dalam penelitian ini, terjadi pada 21 hari sebelum kejadian. Untuk kejadian gempa ke dua, anomali tersebut terjadi 17 hari sebelum kejadian gempa. Dengan metode ini diharapkan dapat diidentifikasi prekursor untuk gempa-gempa besar secara visual sehingga dapat digunakan sebagai informasi tambahan guna keperluan prediksi dan mitigasi bencana gempa Bumi.Kata kunci: Anomali Geomagnet, Gelombang ULF, Gempa Bumi. Application of ULF Signal Polarization Method in Solar Activity Influence Separation from Geomagnet Anomaly Related to EarthquakeWe have applied ULF signal polarization method to separate geomagnetic anomalies related to earthquakes from external influences such as solar activity, based on data from Kototabang Station, West Sumatera. Based on the two earthquakes that occurred on March 6 and April 7 2012 as a case study, we have found that the largest amplitude anomaly of the three period spans filtering used in this study, occurred 21 days prior to the event. For the second earthquake, the anomaly occurred 17 days before the earthquake. By using this method we can identify precursors to large earthquakes visually for prediction and mitigation purposes of earthquakes disaster.Keywords: Geomagnet Anomaly, ULF Wave, Earthquake
Liputan Awan Total di Kawasan Sekitar Khatulistiwa Selama Fase Aktif dan Tenang Matahari Siklus 21 & 22 dan Korelasinya dengan Intensitas Sinar Kosmik Utami, Sri Ulfah; Yatini, Clara Y.; Utama, Judhistira Aria
ISSN
Publisher : Jurusan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan analisis korelasi antara liputan awan total di kawasan sekitar khatulistiwa (100 LU – 120 LS dan 900 BT – 1420 BT) dan intensitas sinar kosmik memanfaatkan data liputan awan total yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta data sinar kosmik bulanan dari stasiun Huancayo, Peru. Pengolahan data dilakukan dengan membagi lintang geografis yang dicakup ke dalam grid dengan interval dua derajat. Untuk memperoleh nilai koefisien korelasi terbaik telah dilakukan teknik pergeseran waktu kejadian liputan awan total terhadap sinar kosmik dalam rentang 2 – 7 bulan dan hanya meninjau puncak fase aktif dan tenang Matahari yang bersesuaian dengan siklus Matahari ke-21 dan 22. Melalui teknik di atas dapat diperoleh nilai koefisien korelasi dalam kisaran 0,04 – 0,63 (tidak ada korelasi hingga korelasi dalam tingkat sedang). Studi yang dilakukan ini hanya memperhitungkan kontribusi sinar kosmik tanpa menyertakan faktor letak geografis wilayah yang ditinjau, apakah kawasan benua ataukah maritim.Kata kunci: Aktivitas Matahari, Liputan Awan Total, Sinar Kosmik. Total Cloud Coverage on Equator Region in Solar Active and Quiet Phase of 21st & 22nd Cycle and Its Correlation with Cosmic Ray IntensityWe have analyzed the correlation between total cloud cover in the area around equator (100 N – 120 S and 900 E – 1420 E) with the intensity of cosmic rays by using data obtained from Indonesian Meteorological, Climatological and Geophysical Agency (BMKG) as well as monthly cosmic ray data from Huancayo station in Peru. Data processing has been done by dividing the covered geographical latitude into grids of two degrees intervals. To obtain the best value of the correlation coefficient we have employed time shift technique on the incident of total cloud cover to cosmic rays in the range of 2 – 7 months and only consider peak of active and quite phase of the Sun during 21th and 22nd solar cycle. By using this technique we can obtain correlation coefficient in the range of 0.04 to 0.63 (no correlation to moderate correlation). In the study we have conducted, we only take into account the contribution of cosmic ray without including geographic location factors such as, whether the region being investigated is at continental or maritime region.Keywords: Solar Activity, Total Cloud Coverage, Cosmic Ray
UJI IN-SITU KAMERA CCD ST-237 ADVANCE DAN KINERJA ASTRONOMI SISTEM FOTOMETRI BVR JOHNSON Aviyanti, Lina; Utama, Judhistira Aria
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v14i2.306

Abstract

Salah satu metode karakterisasi instrumen adalah uji in-situ, yang menempatkan instrumen dalam kondisi kerjanya untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kinerja kamera dan hasil pencitraannya. Uji in-situ kamera CCD ST-237A yang dilaksanakan pada tanggal 1, 2, dan 3 November 2004, berlokasi di Laboratorium Fisika Lanjut, UPI. Pada penelitian ini, kamera CCD ST-237A yang dilengkapi filter BVR Johnson terpasang pada Teleskop Celestron SC CGE-1100. Hasil analisa  uji in-situ terhadap kamera CCD ST-237A memberikan informasi kualitas kinerja yang sedikit berbeda dengan katalog. Hal ini dapat disebabkan karena chip kamera CCD bekerja pada lingkungan yang berbeda. Di samping itu, dibahas pula kinerja astronomi sistem fotometri CCD ST-237A untuk menentukan koefisien ekstingsi dan koefisien transformasi melalui regresi linier hasil reduksi fotometri, terhadap sepuluh bintang standar yang terang. Observasi ini dilakukan pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2005 di Observatorium Bosscha Lembang, yang  dilengkapi  dengan  Teleskop Celestron GAO-ITB RTS dan filter BVR Johnson. Hasil analisis data reduksi fotometri melalui metode regresi linear memberikan nilai koefisien ekstingsi (kV) sebesar 0,027 0,069, koefisien transformasi sebesar 0,027  0,069, dan titik nol  persamaan regresi sebesar -4,249  0,132.Kata Kunci:Fotometri CCD (Charge-Coupled Device), Fotometri Absolut, Instrumentasi Astronomi
PENENTUAN PARAMETER FISIS HILAL SEBAGAI USULAN KRITERIA VISIBILITAS DI WILAYAH TROPIS Utama, Judhistira Aria; Hilmansyah, -
Jurnal Fisika Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini umat Islam Indonesia belum menyepakati suatu kriteria tunggal bagi visibilitas hilal yang memiliki landasan ilmiah kokoh. Dalam naskah ini dibahas tentang penentuan ketinggian optimal hilal yang dapat diamati dengan mata telanjang maupun bantuan alat optik semisal binokuler ataupun teleskop untuk memberikan landasan teori bagi salah satu kriteria yang dianut Kementerian Agama RI selama ini. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan data kesaksian mengamati hilal yang telah dihimpun oleh Kementerian Agama RI (1962 – 2011), lembaga Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) selama kurun waktu 2007 – 2009, dan data global yang dibatasi untuk wilayah tropis (lintang geografis ± 23,50). Pembahasan tidak semata berdasarkan konfigurasi geometri ketiga benda langit terkait (Matahari–Bumi–Bulan), namun turut mempertimbangkan faktor kecerahan langit senja mengikuti model Kastner. Selain ketinggian optimal, juga berhasil diturunkan parameter fisis lainnya meliputi beda tinggi, jarak sudut/elongasi, umur Bulan pascakonjungsi, beda azimut, lag time, dan tebal–tengah sabit Bulan. Hasil yang diperoleh dapat menjadi pijakan awal bagi sebuah kriteria visibilitas hilal di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Parameter fisis hilal yang diturunkan di atas bersifat dinamis, artinya masih dapat berubah disesuaikan dengan jumlah data pengamatan yang tersedia dan valid secara keilmuan.
DINAMIKA ORBIT ASTEROID 2012 DA14 PASCAPAPASAN DEKAT DENGAN BUMI Utama, Judhistira Aria; Dermawan, Budi
Jurnal Spektra Vol 16, No 1 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTidak berselang lama pascapenemuannya (23 Februari 2012) oleh Observatorio Astronómico de La Sagra, Spanyol, asteroid 2012 DA14 (367943 Duende) mengalami papasan dekat dengan Bumi pada 16 Februari 2013 silam di jarak kurang dari jarak satelit geostasioner. Pascapapasan dekatnya tersebut asteroid ini dikelompokkan ke dalam kelas Aten, yaitu kelompok asteroid dekat-Bumi (ADB) yang memiliki orbit memotong orbit planet Bumi dengan setengah sumbu panjang orbit kurang dari 1 satuan astronomi. Menggunakan paket integrator Mercury, dalam pekerjaan ini dihitung evolusi orbital asteroid pascapapasan dekatnya hingga 1000 tahun ke depan. Selama selang waktu integrasi yang dilakukan, didapati bahwa asteriod ini beberapa kali mengalami papasan dekat dengan planet Bumi, Venus, dan Bulan. Dalam kurun waktu tersebut, asteroid dan keenampuluh asteroid virtualnya tidak ada yang menjadi benda penumbuk untuk planet Bumi dan Venus maupun Bulan.AbstractLess than one year after its discovery on February 23, 2012 by the Observatorio Astronómico de La Sagra, Spain, asteroid 2012 DA14 (also known as 367943 Duende) passed above Earth’s surface closer than geosynchronous satellites on February 16, 2013. According to Minor Planet Center (MPC) the asteroid is catagorized as Aten class for now, group of Earth-crossing asteroids with semimajor axis smaller than 1 astronomical unit. We employ Mercury package, a software for doing N-body integrations, to calculate the orbital evolution of 2012 DA14 for 1,000 years of orbital integrations after its last close approach with Earth. According to variation of nominal and virtual asteroids’s orbital elements during the integration time, the objects will experience several times of close approach with Earth, Venus and Moon but will not to be an impactor for these Terrestrial planets and natural satellite.Keywords: near-Earth asteroids, orbital evolution, Mercury integrator.
FOTOMETRI PLEIADES MENGGUNAKAN KAMERA DSLR Firmansyah, Iman; Priyatikanto, Rhorom; Utama, Judhistira Aria
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSalah satu cabang penelitian dalam bidang astronomi adalah pekerjaan fotometri, yakni pengukuran secara akurat kecerahan dari suatu objek langit pada panjang gelombang tertentu. Dengan semakin populernya kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) sebagai alat perekam citra, maka sangat memungkinkan melakukan pekerjaan fotometri berbasis kamera DSLR dengan sensor CMOS sebagai instrumen alternatif selain kamera Charge Coupled Device (CCD). Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah gugus terbuka M45 (Pleiades Cluster), salah satu gugus terbuka yang paling populer yang ada di rasi Taurus. Citra DSLR medan luas diolah menggunakan perangkat lunak IRIS guna mendapatkan citra pita B, G dan R. Fitur fotometri bukaan IRIS juga digunakan untuk memperoleh nilai magnitudo instrumen bintang-bintang yang ada dalam citra. Transformasi dari sistem Bayer BGR menjadi sistem Johnson-Cousins BVR dilakukan menggunakan persamaan polinom dengan koefisien yang ditentukan melalui regresi linear multivariat. Diagram warna magnitudo yang dikonstruksi dari magnitudo hasil transformasi menunjukkan profil deret utama yang jelas. Dari hasil ini, dapat dideduksi bahwa fotometri DSLR dapat digunakan untuk keperluan ilmiah setelah melalui transformasi yang tepat. Kata-kata kunci: kamera DSLR, gugus terbuka M45, fotometri bukaan, transformasi magnitudo  Abstract One branch of research in the field of astronomy is photometry, that is the measurements of the brightness of astronomical object in specific wavelength. With the growing popularity of Digital Single Lens Reflex (DSLR) cameras as instrument for image recording, it’s possible to do photometrical works using DSLR cameras with CMOS sensors as the alternative instruments to Charge Coupled Device (CCD) cameras. The object of this research is open cluster M45 (Pleiades Cluster), one of the most popular open cluster in Taurus constelation. Wide field image taken using DSLR camera was processed using IRIS software in order to get B, G and R frames. IRIS aperture photometry tool was also used to obtain instrumental magnitude of stars in the image. Transformation from Bayer BGR to standard Johnson-Cousins BVR system has been done using polinomial equation with coefficients determined through multivariate linear regression. Color magnitude diagram constructed using the transformed magnitudes shows a clear main sequence profile. From this result, it can be deduced that DSLR photometry can be used for scientific purpose after going through proper transformation. Keywords: DSLR camera, M45 open cluster, aperture photometry, magnitude transformation  AbstrakSalah satu cabang penelitian dalam bidang astronomi adalah pekerjaan fotometri, yakni pengukuran secara akurat kecerahan dari suatu objek langit pada panjang gelombang tertentu. Dengan semakin populernya kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) sebagai alat perekam citra, maka sangat memungkinkan melakukan pekerjaan fotometri berbasis kamera DSLR dengan sensor CMOS sebagai instrumen alternatif selain kamera Charge Coupled Device (CCD). Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah gugus terbuka M45 (Pleiades Cluster), salah satu gugus terbuka yang paling populer yang ada di rasi Taurus. Citra DSLR medan luas diolah menggunakan perangkat lunak IRIS guna mendapatkan citra pita B, G dan R. Fitur fotometri bukaan IRIS juga digunakan untuk memperoleh nilai magnitudo instrumen bintang-bintang yang ada dalam citra. Transformasi dari sistem Bayer BGR menjadi sistem Johnson-CousinsBVR dilakukan menggunakan persamaan polinom dengan koefisien yang ditentukan melalui regresi linear multivariat. Diagram warna magnitudo yang dikonstruksi dari magnitudo hasil transformasi menunjukkan profil deret utama yang jelas. Dari hasil ini, dapat dideduksi bahwa fotometri DSLR dapat digunakan untuk keperluan ilmiah setelah melalui transformasi yang tepat.  Kata kunci : kamera DSLR, gugus terbuka M45, fotometri bukaan, transformasi magnitudo Abstract One branch of research in the field of astronomy is photometry, that is the measurements of the brightness of astronomical object in specific wavelength. With the growing popularity of Digital Single Lens Reflex (DSLR) cameras as instrument for image recording, it’s possible to do photometrical works using DSLR cameras with CMOS sensors as the alternative instruments to Charge Coupled Device (CCD) cameras. The object of this research is open cluster M45 (Pleiades Cluster), one of the most popular open cluster in Taurus constelation. Wide field image taken using DSLR camera was processed using IRIS software in order to get B, G and R frames. IRIS aperture photometry tool was also used to obtain instrumental magnitude of stars in the image. Transformation from Bayer BGR to standard Johnson-Cousins BVR system has been done using polinomial equation with coefficients determined through multivariate linear regression. Color magnitude diagram constructed using the transformed magnitudes shows a clear main sequence profile. From this result, it can be deduced that DSLR photometry can be used for scientific purpose after going through proper transformation. Keywords: DSLR camera, M45 open cluster, aperture photometry, magnitude transformation
FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682) Ramadhan, Fajar; Priyatikanto, Rhorom; Utama, Judhistira Aria
Jurnal Spektra Vol 16, No 2 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakGugus bintang terbuka M67 merupakan salah satu gugus bintang paling tua di Galaksi Bima Sakti. Studi tentang gugus bintang terutama gugus bintang tua bertujuan untuk memahami hal-hal seperti struktur galaksi, komposisi kimia, populasi bintang, evolusi dinamis dan proses pembentukan bintang-bintang baru di galaksi. Dengan melakukan pengolahan citra gugus bintang terbuka M67 menggunakan metode fotometri bukaan (aperture photometry), tujuan penelitian ini adalah menentukan besar nilai usia, pemerahan dan jarak gugus bintang terbuka M67. Pengolahan citra gugus bintang terbuka M67 memanfaatkan citra yang diambil dengan menggunakan dua pita yakni pita B dan V. Nilai magnitudo instrumen dalam dua pita diperoleh dengan memanfaatkan perangkat lunak ImageJ. Transformasi ke sistem standar dilakukan dengan bantuan bintang standar untuk membangun diagram H-R. Dengan mencocokkan hasil berdasarkan model Isochrone padova, diperoleh usia gugus bintang terbuka M67 sebesar 3,2 milyar tahun, nilai pemerahan sebesar 0,06 dan jarak sebesar 909 parsek.AbstractM67 is one of the oldest open cluster within Milky Way galaxy and known as the richest star cluster. Star cluster studies especially old cluster help us to understand galaxy structure, chemical composition, star population, dynamical evolution and star formation within galaxy. By employing photometric method, the objective of this research is to determine the age, reddening and distance of M67. The instrumental magnitude in B and V filter is obtained by using ImageJ software. Transformation to standard system has been done based on the standard stars within the cluster to construct cluster’s H-R diagram. By employing model of Padova isochrone for the curve fitting to H-R diagram, the age of M67 is found to be 3.2 billion years, reddening is 0.06 and its distance 909 parsec.Keywords: H-R diagram, Isochrone, M67 open cluster, photometric method
PERAN REVERSAL WIND DALAM MENENTUKAN PERILAKU CURAH HUJAN DI KAWASAN BARAT INDONESIA Karmilawati, Lilis; Hermawan, Eddy; Utama, Judhistira Aria
ISSN
Publisher : Program Studi Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena Monsun (Monsoon) akhir-akhir ini telah menjadi pusat perhatian peneliti atmosfer Indonesia, sebagaimana direkomendasikan oleh IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) AR-4 (Assessment Report 2007) terkait kompleksitas dinamika atmosfer Indonesia. Monsun dicirikan oleh perbedaan yang tegas antara musim penghujan dan musim kemarau, dimana pembalikan arah dan kecepatan angin sebagai salah satu parameter utamanya (dikenal dengan istilah reversal wind). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa kuat pengaruh reversal wind terhadap curah hujan di kawasan barat Indonesia, dengan mengambil sample data curah hujan observasi dari tiga daerah kajian yakni stasiun Sicincin, Teluk Bayur dan Tabing dengan cara menganalisis kontur angin menggunakan Time Height Section, serta menganalisis secara temporal dengan menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dan Transformasi Wavelet. Hasil analisis data kecepatan angin dari Equatorial Atmosphere Radar (EAR) yakni angin zonal dan meridional bulanan periode 2002-2007, menunjukan reversal wind terjadi pada lapisan 4.85 km dpl untuk angin zonal dan 9,581 km dpl untuk angin meridional. Sementara dari data curah hujan observasi ketiga kawasan tersebut ditunjukan adanya pola monsunal yang tegas yakni 12 bulanan yang dikenal dengan Annual Oscillation (AO). Didapatkan nilai korelasi yang tinggi antara reversal wind angin meridional dengan anomali curah hujan di tiga kawasan kajian yaitu  0,611 untuk daerah Sicincin, 0,916 untuk daerah Teluk Bayur dan 0,824 untuk daerah Tabing. Ditunjukan nilai determinasi yang paling besar untuk Teluk Bayur yaitu 83,9 % dengan persamaan regresi linier sederhana  ΔCH = - 0,189 + 0,773[reversal wind meridional di 9,581 km dpl]. Analisis spasial digunakan untuk menganalisa pola curah hujan di Sumatera Barat yang dapat mewakili pola curah hujan regional. Pola curah hujan di kawasan barat Indonesia berpola monsunal dengan osilasi dominan 12 bulanan atau AO.
FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682) Ramadhan, Fajar; Priyatikanto, Rhorom; Utama, Judhistira Aria
ISSN
Publisher : Program Studi Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gugus bintang terbuka M67 merupakan salah satu gugus bintang paling tua di Galaksi Bima Sakti dan merupakan warisan masa lampau yang masih ada hingga kini. Gugus bintang terbuka M67 juga merupakan gugus bintang dengan anggota terbanyak dengan observed member sekitar 649 bintang (Sanders, 1989). Studi tentang gugus bintang terutama gugus bintang tua bertujuan untuk memahami hal-hal seperti struktur galaksi, komposisi kimia, populasi bintang, evolusi dinamis dan proses pembentukan bintang-bintang baru pada galaksi. Pekerjaan dilakukan dengan mengolah citra gugus bintang terbuka M67 dalam pita B dan V dengan menggunakan metode aperture photometry. Pengolahancitra gugus bintang menghasilkan magnitudo instrumen dalam kedua pita tersebut. Setelah kedua nilai magnitudo instrumen tersebut didapatkan, maka dapat dilakukan transformasi magnitudo dan dapat dibangun suatu colour magnitude diagram (CMD) atau yang lebih dikenal dengan diagram Hertzsprung-Russel (Diagram HR). Dengan memanfaatkan diagram HR gugus bintang, dapat ditentukan parameter-parameter fundamental gugus seperti usia, jarak dan kemerahan (reddening).