D. Wahjuningrum
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

PRODUCTION OF M-SIZE NEON TETRA FISH PARACHERIODON INNESI IN RECIRCULATION SYSTEM WITH DENSITY OF 25, 50, 75 AND 100 LITRE-1 Budiardi, T.; Solehudin, M.A.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.846 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.19-24

Abstract

Quality and quantity of freshwater were important factors in aquaculture. The farmers of neon tetra fish (Paracheriodon innesi) usually rear them in aquarium with simple methods, so that gave low productivity. Increasing density could be increased the production and its continuity and also more efficient in land and water. Rearing of neon tetra with density of 25, 50, 75 and 100 litre-1 in recirculation system were no influence for fish body length, growth of body length and coefficient of variants (p>0,05). But those densities of fish rearing affected survival rate, end density and profit (p0,05), namun berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, kepadatan akhir dan keuntungan (p
PRODUCTION OF PARACHEIRODON INNESI ON DIFFERENT DENSITIES IN RECIRCULATING SYSTEM Budiardi, T.; Gemawaty, N.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.985 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.211-215

Abstract

The objective of this research was to know production of neon tetra Paracheirodon innesi reared in recirculating system with density 20, 40 and 60 litre-1. Fish with 1.80 ± 0.04 cm lenghts were cultured in 30 x 20 x 20 cm aquarium in recirculating system, during 28 days. Result of this research showed that density of fish rearing affected  survival rate (p0.05) was observed on body lenght, growth of body lenght and coefficient of varians. Keywords: Density, production, growth, survival rate dan Paracheirodon innesi   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi ikan neon tetra Paracheirodon innesi ukuran L yang dipelihara pada sistem resirkulasi dengan kepadatan 20, 40 dan 60 ekor/L. Benih ikan neon tetra yang digunakan berukuran sedang (medium) dengan panjang awal 1,80 ± 0,04 cm. Ikan ini dipelihara pada akuarium dengan ukuran 30cm x 20cm x 20cm selama 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan pemeliharaan memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup (p0,05). Kata kunci : Padat penebaran, produksi, pertumbuhan, kelangsungan hidup, neon tetra dan Paracheirodon innesi
USE OF CHITOSAN TO CONTROL VIBRIO HARVEYI INFECTION ON WHITE SHRIMP LITOPENEAUS VANNAMEI Sukenda, .; Tri Anggoro, Y.; Wahjuningrum, D.; Rahman, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.411 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.205-209

Abstract

Immunostimulation and antibacterial effect of chitosan against vibriosis were examined in white shrimp (Litopenaeus vannamei).  Control shrimps were injected with 0.05 ?l of sterile sea water, while experimental shrimps were injected with 2, 4 and 6 ?g per g shrimp of chitosan.  All shrimps were subsequently challenged by 106 CFU/ml of live Vibrio harveyi by injection method.  Survival rate of shrimps injected with chitosan were found to slightly increase in accordance with dose of chitosan, even not statistically significant.  Total haemocyte count and phagocytic index at experimental shrimps were over than control shrimps up to three days post injection.  Number of V. harveyi in the intestine of experimental shrimps were lower than control shrimps indicates an antibacterial activity of chitosan to combat infection. Keywords: chitosan, Vibrio harveyi, haemocyte, phagocytic index, Litopenaeus vannamei   ABSTRAK Efek imunostimulasi dan antibakterial dari kitosan melawan vibriosis dilihat pada udang putih (Litopenaeus vannamei).   Udang control disuntik dengan 0,05 ?l air laut steril, sedangkan udang uji disuntik dengan kitosan 2, 4 dan 6 ?g per g udang.  Semua udang diuji tantang dengan 106 CFU/ml bakteri Vibrio harveyi hidup dengan metode penyuntikan.  Sintasan udang yang disuntik dengan kitosan meningkat berbarengan dengan peningkatan dosis kitosan, meskipun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.  Jumlah total hemosit dan indeks fagositosis pada udang lebih tinggi dibandingkan kontrol sampai tiga hari pasca penyuntikan.  Jumlah V. harveyi dalam saluran pencernaan dari udang uji lebih rendah dibandingkan udang kontrol, hal ini  menunjukkan aktifitas antibacterial dari kitosan dalam melawan infeksi. Kata kunci: kitosan, Vibrio harveyi, hemosit, indeks fagositosis, Litopenaeus vannamei
POTENCY OF GARLIC EXTRACT AGAINST KOI HERPESVIRUS (KHV) IN COMMON CARP Nuryati, Sri; Puspitaningtyas, D.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.178 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.147-154

Abstract

Prevention of koi herpesvirus (KHV) infection using chemicals or medicines was ineffective way.  In this study garlic extract was used to prevent KHV infection.  Virus suspension of 0.1 ml and garlic extract of 0.1 ml in different dosage, i.e., 100, 200 and 300 ppt, was injected into common carp body.  Hemoglobin concentration, red and white blood cell numbers, and leukocyte number were counted.  The results of study showed that administration of 300 ppt of garlic extract could produce higher survival rate (67.5%), good blood parameters and clinical symptoms compared to other treatments. Keywords: garlic, KHV, common carp   ABSTRAK Upaya penanggulangan wabah Koi Herpesvirus (KHV) menggunakan bahan-bahan kimia atau obat-obatan adalah tidak efektif. Pada penelitian ini dilakukan pemberian ekstrak bawang putih untuk menanggulangi infeksi KHV.  Suspensi virus sebanyak 0,1 ml ditambahkan dengan 0,1 ml ekstrak bawang putih dengan berbagai konsentrasi, yaitu 100, 200 dan 300 ppt, disuntikkan ke dalam tubuh ikan mas.  Kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan sel darah putih jenis dan jumlah leukosit diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bawang putih sebanyak 300 ppt menghasilkan kelangsungan hidup (67,5%) yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan begitu pula dengan gambaran darah serta gejala klinisnya.   Kata kunci: bawang putih, KHV, ikan mas
ISOLATION AND IDENTIFICATION OF PATHOGENIC PROTEOLYTIC BACTERIA FROM EXTERNAL BODY PART OF GIFT TILAPIA OREOCHROMIS NILOTICUS Wahjuningrum, D.; Mayasari, L.; Mubarik, N.R.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.372 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.169-174

Abstract

The aims of this research were to isolate and identify pathogenic proteolytic bacteria from external body part of GIFT tilapia and to study the role of the selected bacteria. Twenty bacterial isolates that were incubated at room temperature (25-27ºC) revealed proteolytic activity in nutrient agar containing 0.5% skimmed milk. Staphylococcus sp strain T.c2 and Necromonas sp.strain T.s2 isolates from infected tilapia  were selected based on the proteolytic index.  Postulat Koch test showed that Necromonas sp. strain T.s2. was pathogenic bacteria for tilapia and has a high value of proteolytic index. Keywords : Tilapia, Oreochromis niloticus, proteolytic bacteria, pathogen.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri  proteolitik patogen dari bagian eksternal ikan nila strain GIFT serta untuk mempelajari peranan dari bakteri proteolitik terpilih.  Duapuluh isolat bakteri yang diinkubasi pada suhu ruang (25-27ºC) menunjukkan aktivitas proteolitik dalam media agar yang mengandung 0,5% susu skim. Berdasarkan indeks proteolitik tertinggi, diidentifikasi dua isolat yaitu Staphylococcus sp. strain T.c2 dan Necromonas sp. .strain T.s2 dari ikan nila yang terinfeksi.  Uji Postulat Koch menunjukkan bahwa isolat Necromonas sp.strain T.s2  bersifat patogen bagi ikan nila dan memiliki indeks proteolitik yang tinggi. Kata kunci : Ikan nila, Oreochromis niloticus, bakteri proteolitik, patogen.
EFFICACY OF ANDROGRAPHIS PANICULATA, PSIDIUM GUAJAVA AND PIPER BETLE AS PREVENTION ON MOTILE AEROMONAD SEPTICAEMIA INFECTION IN AFRICAN CATFISH (CLARIAS SP.) Wahjuningrum, D.; Tarono, .; Angka, S.L.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.563 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.127-133

Abstract

An effort to prevent Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disease in African catfish (Clarias sp.) performed using antibiotic was less safety and expensive ways.  An herbal medicine may be able to be a safety and cheap way to prevent of the MAS disease.  This study was conducted to determine efficacy of herbal medicine combination of sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu (Psidium guajava) and daun sirih (Piper betle). Herbal medicines were mixed to diet and fish were fed on the diet containing the herbal medicine for 7 days of rearing.  The dosage of herbal medicine per 100 gram of diet was PI (1.0 g sambiloto, 0.75 g daun jambu and 0.25 g daun sirih), PII (1.0 g sambiloto,  0.50 g daun jambu,  0.50 g daun sirih), and PIII (1.0 g sambiloto, 0.25 g daun jambu, and 0.75 g daun sirih).  On 8th day, fish were injected intramuscularly with 1 ml of Aeromonas hydrophila (105 cfu/ml) every 1 kg of fish.  Clinical symptom, feed response, fish weight, number of fish survive and visually changing of internal organs.  The results of study indicated that administration of herbal medicine A. paniculata, P. guajava and P. betle mixed into the diet effectively prevented A. hydrophila infection.  Combination of 1.0 gram A. paniculata, 0.75 gram P. guajava and 0.25 gram P. betle gave higher efficacy against A. hydrophila infection. Keywords: Andrographis paniculata, Psidium guajava, Piper betle, Motile Aeromonad septicaemia, African catfish   ABSTRAK Upaya penanggulangan penyakit MAS (Motil Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.) yang dilakukan menggunakan antibiotik cenderung kurang aman dan mahal. Pencegahan menggunakan obat herbal diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut secara aman dan murah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas obat herbal kombinasi sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) dengan dosis berbeda yang diberikan melalui pakan selama 7 hari.  Perlakuan dosis obat herbal per 100 gram pakan adalah PI (1,0 g sambiloto, 0,75 g daun jambu dan 0,25 g daun sirih), PII (1,0 g sambiloto,  0,50 g daun jambu,  0,50 g daun sirih), dan PIII (1,0 g sambiloto, 0,25 g daun jambu, 0,75 g dan daun sirih.  Pada hari ke-8 pemeliharaan ikan dilakukan penyuntikan secara intramuskular dengan Aeromonas hydrophila dengan konsentrasi 105 cfu/ml sebanyak 1 ml/kg bobot ikan.  Ikan uji diamati selama 7 hari yang meliputi gejala klinis, respon pakan, bobot ikan uji, jumlah ikan hidup dan perubahan visual organ dalam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian obat herbal sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) melalui pakan terbukti efektif untuk mencegah serangan A. hydrophila.  Kombinasi 1,0 gram sambiloto, 0,75 gram daun jambu biji dan 0,25 gram daun sirih dalam setiap 100 gram pakan menghasilkan efek pencegahan yang paling efektif. Kata kunci: Ikan lele, sambiloto, jambu biji, sirih, Motil Aeromonad Septicaemia dan lele dumbo
PROSPECT USE OF PHALERIA MACROCARPA TO PREVENT MOTILE AEROMONAD SEPTICAEMIA DISEASE IN PATIN CATFISH PANGASIANODON HYPOPHTHALMUS Wahjuningrum, D.; Angka, S.L.; Lesmanawati, W.; Sa?diyah, .; Yuhana, M.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.545 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.109-117

Abstract

Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disease is one of bacterial disease frequently infecting freshwater fishes including patin catfish Pangasianodon hypophthalmus.  This study was performed to determine antimicrobial of Phaleria macrocarpa (PM) and its potency against MAS disease caused by Aeromonas hydrophila.  The in vitro susceptibility test was performed by pour plate methods at the dosages of 2, 4, 6, 8, and 10 g/l PM. At the in vivo test, fish were fed with the addition of PM into the diet at a dosage of 6, 12, and 18 g/l and 0 g/l as a control for 8 days. At ninth day, fish were infected with A.hydrophila. For seven days after infection the clinical signs and blood pictures were observed. The in vitro test indicated that PM had an antibacterial effect to A.hydrophila at the dosage of 6 g/l. Addition of PM in the diet for 8 days increased haemoglobine. The results showed that lowest clinical sign and smallest number of in fected fish was found at dosage of 12 g/l PM. PM can be used as a preventive method for MAS. Keywords:  Phaleria macrocarpa, antibacterial, "patin", MAS disease, Aeromonas hydrophila   Abstrak Penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) merupakan penyakit bakterial yang banyak menyerang ikan-ikan air tawar termasuk patin Pangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan antibakteri dari mahkota dewa (MD) Phaleria macrocarpa terhadap Aeromonas hydrophila penyebab penyakit MAS dan potensinya dalam pencegahan penyakit ini.  Pada uji in vitro dilakukan pengujian aktivitas antibakteri MD terhadap A. hydrophila dengan metode hitungan cawan pada dosis MD 2, 4, 6, 8, dan 10 g/l. Pada uji in vivo, ikan uji diberi pakan yang dicampur MD dengan dosis berbeda yaitu 0 g/l (kontrol +), 6, 12, dan 18 g/l, selama 8 hari. Pada hari kesembilan ikan disuntik dengan A. hydrophila dan pengamatan dilanjutkan selama 7 hari, meliputi pengamatan gejala klinis dan gambaran darah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa MD bersifat antibakteri terhadap A. hydrophila dengan dosis efektif 6 g/l. Pemberian MD selama 8 hari dapat meningkatkan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah lekosit, serta meningkatkan kemampuan fagositik darah. Dosis MD sebesar 12 g/l menunjukkan hasil paling baik yang ditunjang oleh gejala klinis paling ringan (sampai tahap nekrosis), dengan jumlah ikan yang terinfeksi paling sedikit (45%) dan waktu penyembuhan paling cepat (hari ke 6). Dengan demikian, MD dapat digunakan untuk mencegah penyakit MAS. Kata kunci:  mahkota dewa, antibakterial, ikan patin, penyakit MAS, Aeromonas hydrophila
DENSITY OF BACTERIA IN LIMNODRILUS SP. CULTURE FERTILIZED BY FERMENTED CHICKEN MANURE Hadiroseyani, Y.; Nurjariah, .; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.79-87

Abstract

Culture of Limnodrilus sp. is now developed to control continuously supply.  Culture medium of Limnodrilus sp. consists of mud and organic waste.  Routinely fertilization is needed to keep enough nutrition.  One of organic fertilizer used in Limnodrilus sp. culture is chicken manure.  This fertilizer contains high levels of N, low-priced and easy to obtain.  This study was conducted to determine Limnodrilus sp. density in the substrate fertilizer by fermented chicken manure and Limnodrilus sp. growth. Mud and chicken manure in ratio of 1:1 was applied to container of 100×20×15 cm3.  Fertilization was carried out 2 times daily at the dose of chicken manure 130, 160 and 190 g/container.  The result of study showed that density of bacteria tends to decrease during experiment.  Highest density (11,948 individuals/m2) and biomass (14.65 g/ m2) of bacteria was obtained by 190 g of chicken manure fertilization. Keywords: blood worm, Limnodrilus sp., bacteria, chicken manure, fermentation   ABSTRAK Budidaya cacing Limnodrilus sp., kini sedang dikembangkan untuk menyediakan cacing secara terkontrol dan kontinyu. Media hidup cacing terdiri dari lumpur dan limbah organik. Untuk menjaga persediaan makanan dalam media pemeliharaan, dilakukan pemupukan secara berkala. Salah satu pupuk organik yang digunakan dalam budidaya cacing adalah kotoran ayam karena mengandung unsur N yang lebih tinggi, mudah didapat dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri pada substrat media budidaya cacing yang dipupuk dengan kotoran ayam hasil fermentasi serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan cacing. Substrat yang digunakan berupa lumpur dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 dan ditempatkan dalam wadah berukuran dimensi 100×20×15 cm3. Pemupukan setiap dua hari menggunakan kotoran ayam hasil fermentasi dengan dosis 130, 160 dan 190 g/wadah menghasilkan perkembangan kelimpahan bakteri yang cenderung menurun selama masa pemeliharaan. Peningkatan kelimpahan bakteri diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan cacing sehingga tercapai populasi dan biomassa tertinggi pada hari ke-20 yang masing-masing mencapai 11.948 ind/m2 dan 14,65 g/m2.   Kata kunci: Cacing, Limnodrilus sp., bakteri, kotoran ayam dan fermentasi
OXYGEN CONSUMPTION OF WHITE SHRIMP (LITOPENAEUS VANNAMEI) AND MODEL OF OXYGEN MANAGEMENT IN INTENSIVE CULTURE POND Budiardi, T.; Batara, T.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.66 KB) | DOI: 10.19027/jai.4.86-96

Abstract

This study was conducted to determine oxygen consumption level of white shrimp (Litopenaeus vannamei) and the model of oxygen management in intensive culture pond.   Shrimp in weight of 5 gram were maintained in 20 liter of water in density 6 tails/container.  Water quality was measured every 2 hours for 6 hours.  Other experiments were done using shrimp in weight of 8, 10, 12 and 15 gram per tail, in density 4 tails/container.  The results of study showed that oxygen consumption levels of white shrimp was higher after feeding than before feeding.  Oxygen consumption levels of smaller shrimp were higher than that of bigger shrimp.  Regression model of oxygen consumption levels before and after feeding were linear. Correlation between oxygen consumption and shrimp weight reached 92.5%.  Keywords: white shrimp, Litopenaeus vannamei, oxygen, respiration, intensive pond   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat konsumsi oksigen udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan model pengelolaan oksigen pada tambak intensif.  Udang dengan bobot sekitar 5 gram dimasukkan ke dalam wadah tertutup berukuran 20 liter dengan kepadatan 6 ekor/wadah.  Kualitas air diukur setiap 2 jam selama 6 jam. Perlakuan tersebut juga dilakukan pada udang dengan kelompok berat 8, 10, 12 dan 15 gram, dengan kepadatan 4 ekor/wadah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi oksigen udang vaname sesudah makan relatif lebih tinggi daripada sebelumnya.  Tingkat konsumsi oksigen udang ukuran kecil relatif lebih tinggi daripada yang berukuran lebih besar. Model persamaan regresi tingkat konsumsi oksigen pada udang yang tepat sebelum dan sesudah makan adalah linear. Korelasi antara konsumsi oksigen dengan bobot udang mencapai 92,5%.   Kata kunci: vaname, Litopenaeus vannamei, oksigen, respirasi, tambak intensif
PREVENTION OF WHITE SPOT SYNDROME VIRUS INFECTION ON PENAEUS MONODON BY IMMERSION IN CEPM EXTRACT OF AVICENNIA SP. AND SONNERATIA SP. Wahjuningrum, D.; Sholeh, S.H.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.2 KB) | DOI: 10.19027/jai.5.65-75

Abstract

The quality and survival rate are still being the problem that hampers the productivity of black tiger shrimp, Penaeus monodon culture.  Impaired quality of larval shrimp and environmental conditions can confer shrimp be infected by diseases, including viruses such as white spot syndrome virus (WSSV).  Prevention of disease infection using chemicals can offer negative impacts on water, pathogen resistance and consumers.  This study was conducted to examine the efficacy of an alternative prevention compound as liquid mangrove extract (CEPM) from Avicennia sp. and Sonneratia sp. By immersion in different dose of CEPM, i.e. 250, 500, 750 and 1000 ppm, the patogenicity of WSSV was found to be different.  Patogenicity of WSSV decreased after treatment by CEPM, hence this could be used to induce shrimp immunity.  Optimum dose of CEPM was 250 ppm, which could increased survival rate of shrimp after challenging by WSSV, up to 98.4% shrimp survived. Keywrods: WSSV, black tiger shrimp, extract, Avicennia sp., Sonneratia sp.   ABSTRAK Kualitas dan kelangsungan hidup merupakan masalah yang masih membatasi produktivitas budidaya udang windu Penaeus monodon. Kondisi udang dan kualitas lingkungan yang kurang baik dapat menyebabkan udang terserang penyakit, termasuk yang disebabkan oleh virus termasuk white spot syndrome virus (WSSV). Upaya pengendaliannya menggunakan bahan kimia secara berlebih dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan perairan, kesehatan konsumen dan menimbulkan resistensi patogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas bahan alternatif berupa cairan ekstrak pohon mangrove (CEPM) dari jenis Avicennia sp. dan Sonneratia sp. sebagai upaya pencegahan. Dengan perendaman beberapa konsentrasi yang berbeda (250, 500, 750 dan 1000 ppm) penggunaan cairan ekstrak pohon mangrove (CEPM) Avicennia sp. dan Sonneratia sp., memberikan pengaruh yang berbeda terhadap patogenitas WSSV dan udang uji pada setiap perlakuan. Tingkat patogenitas WSSV relatif menurun setelah perlakuan tersebut sehingga dapat digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh udang.  Perlakuan yang optimal yaitu pada dosis 250 ppm, dimana pada perlakuan ini dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang uji yang diuji tantang dengan white spot syndrome virus (WSSV) dengan tingkat kelangsungan hidup 98,4 %. Kata kunci: WSSV, udang windu, ekstrak, Avicennia sp., Sonneratia sp.