Nila Wahyuni
Program Studi Fisioterapi Universitas Udayana

Published : 35 Documents
Articles

Found 35 Documents
Search

INTERVENSI ULTRASOUND DAN CLOSED KINEMATIC CHAIN EXERCISE LEBIH EFEKTIF DARIPADA INTERVENSI ULTRASOUND DAN OPEN KINEMATIC CHAIN EXERCISE DALAM MENURUNKAN NYERI PADA PASIEN OSTEOARTHRITIS LUTUT DENGAN SKOR NYERI 8-20 DI DAERAH BADUNG Purnama, Ni Made Deni; Andayani, Nopi; Wahyuni, Nila; Sugiritama, I Wayan
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 5 No 1 (2017): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Untuk menurunkan nyeri pada pasien osteoarthritis lutut dapat diberikan intervensi ultrasound dan closed kinematic chain exercise serta intervensi ultrasound dan open kinematic chain exercise. Penelitian ini bersifat eksperimental two group pre and post test design dengan 20 orang  sampel yang dibagi ke 2 kelompok. Pengukuran penurunan nyeri lutut diukur dengan menggunakan skala Western Ontario McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC). Hasil uji paired t-test pada kelompok 1 didapatkan hasil uji  p=0,000, sedangkan pada Kelompok 2 didapatkan hasil p=0.000.  Pada uji beda selisih antara Kelompok 1 dengan Kelompok 2 yang menggunakan independent sample t-test didapatkan p=0,000 (p<0,05), dapat disimpulkan bahwa intervensi ultrasound dan closed kinematic chain exercise lebih efektif daripada intervensi ultrasound dan open kinematic chain exercise dalam menurunkan nyeri pada pasien osteoarthritis lutut dengan skor nyeri 8-20 di daerah Badung. Kata Kunci: Ultra Sound, Closed Kinematic Chain Exercise, Open Kinematic Chain Exercise,nyeri
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN INTERVENSI CONTRACT RELAX STRETCHING DIRECT DENGAN MUSCLE ENERGY TECHNIQUE TERHADAP PENINGKATAN FLEKSIBILITAS HAMSTRING PADA SISWA DAN SISWI DI SMA NEGERI 1 GIANYAR Herlangga, Putu Bayu; Andayani, Ni Luh Nopi; Wahyuni, Nila
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 5 No 2 (2017): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Otot Hamstring adalah group otot postural yang berperan penting dalam gerakan tubuh saat beraktivitas seperti berdiri, berjalan, berlari dan melompat. Otot Hamstring yang mengalami gangguan akan mengganggu keseimbangan kinerja otot lainnya, gangguan otot yang umum terjadi adalah pemendekan otot. Pemendekan otot ini menyebabkan seseorang lebih mudah terkena cedera. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian intervensi contract relax stretching direct dengan muscle energy technique dalam meningkatkan fleksibilitas Hamstring, Sit and Reach Test digunakan sebagai alat ukur. Penelitian ini menggunakan design eksperimental pretest-postest two group. Sampel berjumlah 22 orang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 mendapatkan contract relax stretching direct, kelompok 2 muscle energy technique. Uji normalitas dengan Shapiro wilk test. Paired sample t-test digunakan dalam uji hipotesis. Kelompok 1 p = 0,000 rerata 12,6±2,907 sedangkan kelompok 2 p = 0,000 rerata 11,2±3,452. Angka tersebut berarti ada peningkatan fleksibilitas Hamstring yang bermakna pada kedua kelompok. Uji beda kedua kelompok dengan independent sample t-test didapatkan hasil p = 0,313. Data tersebut berarti, tidak adanya perbedaan yang bermakna antara kedua intervensi pada peningkatan fleksibilitas hamstring. Kata Kunci : fleksibilitas otot Hamstring, contract relax stretching Direct, muscle energy technique, sit and reach test
PERBEDAAN METODE INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE DENGAN DEEP TISSUE MASSAGE DAN CONTRACT-RELAX STRETCHING DALAM MENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI SERVIKAL PADA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS DI SMA NEGERI 1 SEMARAPURA Hendrawan, I Gede Donny; Wahyuni, Nila; Muliarta, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 5 No 2 (2017): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Sindrom nyeri myofascial merupakan kumpulan gejala sensorik, motor, dan otonom yang menyebabkan nyeri lokal dan menjalar, keterbatasan  lingkup gerak sendi dan kelemahan pada otot-otot yang terkena. Keterbatasan lingkup gerak sendi akan mengganggu daripada aktifitas sehari-hari. Intervensi yang dapat diberikan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi servikal yakni Integrated Neuromuscular Inhibition Technique, Deep Tissue Massage dan  Contract-Relax Stretching. Hasil Uji Hipotesis pada kelompok Integrated Neuromuscular Inhibition Technique dengan Wilcoxan Sign Rank Test didapatkan beda rerata 13,7 dengan nilai p=0,000, sedangkan hasil uji Hipotesis Kelompok Deep Tissue Massage dan  Contract-Relax Stretching dengan Paired Sample T-test diperoleh hasil beda rata-rata 12,1 dengan nilai p=0,000. Uji selisih menggunakan Mann Whitney U-test memperlihatkan hasil tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok yaitu dengan menghasilkan p=0,420. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam peningkatan lingkup gerak sendi servikal pada kedua kelompok.   Kata Kunci: Lingkup gerak sendi servikal, Otot Upper Trapezius, Myofascial Pain Syndrome, Integrated Neuromuscular Inhibition Technique, Deep Tissue Massage, Contract-Relax Stretching, Goniometer
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) PADA REMAJA USIA 16-18 TAHUN DI SMA NEGERI 2 DENPASAR Krismawati, Luh Dwi Erma; Andayani, Ni Luh Nopi; Wahyuni, Nila
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 7 No 1 (2019): Majalah Imiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi, dan kerja ototdisebut dengan aktivitas fisik. Peningkatan IMT terjadi oleh karena ketidakseimbangan energi antara asupan makanandengan energi yang dikeluarkan hingga menyebabkan penumpukan energi dalam bentuk lemak yang dapatmengakibatkan obesitas atau peningkatan IMT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitasfisik dengan indeks massa tubuh (IMT) pada remaja usia 16-18 tahun di SMA Negeri 2 Denpasar. Penelitian analitikdengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Februari-Maret tahun 2018. Pengambilan sampeldilakukan secara Simple Random Sampling. Sampel berjumlah 70 orang. Hasil penelitian menunjukkan adanyahubungan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh. Pada perhitungan analisis data chi square dapat diketahuinilai signifikan (2-tailed) adalah 0,000 dimana berarti nilai signifikan p < 0,05. Disimpukan terdapat hubungan yang kuatantara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh (IMT) pada remaja usia 16-18 tahun di SMA Negeri 2 Denpasar. Kata kunci : Aktivitas Fisik, Indeks Massa Tubuh (IMT)
PELATIHAN HATHA YOGA MODIFIKASI DAPAT MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA DI DENPASAR TIMUR Da Costa, Pricela; Wahyuni, Nila; Purnawati, Susy; Dinata, I Made Krisna
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 4 No 1 (2016): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan keseimbangan dinamis pada lansia merupakan gangguan yang terjadi akibat perubahan-perubahan fisiologis yang disebabkan oleh penuaan terkait proses degenerasi. Gangguan keseimbangan juga dipengaruhi oleh faktor usia, seiring dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan dari fungsi komponen-komponen pengontrol keseimbangan. Hal ini merupakan faktor resiko untuk instabilisasi dan jatuh pada lanjut usia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan akan diberikan intervensi berupa pelatihan hatha yoga modifikasi dan pada kelompok kontrol tidak diberi intervensi selama penelitian. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan pre dan post test control group design. Sampel penelitian berjumlah 30 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, setelah itu sampel dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, dengan menggunakan teknik random sampling, pada kelompok kontrol tidak diberikan intervensi selama penelitian sedangkan Kelompok perlakuan diberikan intervensi pelatihan hatha yoga modifikasi selama 60 menit, 3 kali seminggu, selama 8 minggu. Pengukuran nilai keseimbangan dinamis diukur dengan menggunakan Time Up and Go Test (TUGT) untuk kedua kelompok pada awal dan akhir penelitian.Setelah mendapatkan data hasil penelitian, dilakukan uji normalitas dengan Shapiro wilk test dan uji homogenitas dengan Levene?s test. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan paired sample t-test, untuk mengetahu perbedaan rerata sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok. Pada Kelompok kontrol didapatkan hasil p=0,213 dengan beda rerata (-0,124±0,368) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya penurunan keseimbangan dinamis pada kelompok kontrol sedangkan pada Kelompok perlakuan didapatkan hasil p=0.000 dengan beda rerata (1,413±0.503). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang bermakna pada kelompok perlakuan. Pada uji beda selisih antara Kelompok kontrol dengan Kelompok perlakuan yang menggunakan independent sample t-test didapatkan p=0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa intervensi pelatihan hatha yoga modifikasi dapat meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia.
EFEKTIVITAS MULLIGAN MOBILIZATION DAN INFRARED DENGAN MYOFASCIAL RELEASE TECHNIQUE DAN INFRARED TERHADAP PENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI NYERI LEHER NON SPESIFIK PADA PENJAHIT DI KECAMATAN KUTA Wahyuningsih, Ni Wayan; Wahyuni, Nila; Adiputra, Luh Made Indah Sri Handari
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 6 No 3 (2018): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Nyeri leher non spesifik menjadi salah satu keluhan yang sering dirasakan oleh populasi umum, salah satunya penjahit di Kecamatan Kuta, oleh karena itu perlu adanya suatu penanganan yang dapat diberikan seperti myofascial release technique, mulligan mobilization, dan infrared. Penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan pre-test dan post-test group design. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok dengan 15 orang tiap kelompok, yaitu kelompok 1 diberikan myofascial release technique dan infrared, sedangkan kelompok 2 diberikan mulligan mobilization dan infrared. Pengukuran lingkup gerak sendi diukur dengan goniometer . Hasil penelitian menunjukkan persentase beda selisih sebesar 56,8% pada kelompok 1 dan 60,8% pada kelompok 2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara myofascial release technique dan infrared dengan mulligan mobilization dan infrared dalam meningkatkan lingkup gerak sendi pada nyeri leher non spesifik. Kata kunci: nyeri leher non spesifik, myofascial release technique, mulligan mobilization, infrared.
HUBUNGAN ANTARA POSTUR KERJA DAN MASA KERJA DENGAN TERJADINYA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS PADA PENJAHIT GARMEN DI BATUBULAN GIANYAR Wirayani, Ni Kadek Mira; Widnyana, M; Wahyuni, Nila; Sugiritama, I Wayan
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 1 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerjaan menjahit berisiko menimbulkan masalah ergonomik. Risiko tersebut timbul karena perilaku saat bekerja seperti posisi duduk yang lama dan melakukan gerakan berulang sehingga berisiko mengalami penyakit salah satunya musculoskeletal disorder. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan postur kerja dan masa kerja pada penjahit dengan terjadinya myofascial pain syndrome. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 91 orang. Pengumpulan data menggunakan metode observasi. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik analisa data menggunakan Spearman?s Rho test. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan masa kerja dengan MPS dengan korelasi sebesar 0,417 dan nilai p sebesar 0,000 (p<0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan postur kerja dengan MPS dengan korelasi sebesar 0,481 dan nilai p sebesar 0,000 (p<0,05).
POLIMORFISME GEN ALPHA ACTININ-3 (ACTN 3) BERHUBUNGAN DENGAN MUSCLE PERFOMANCE ATLET Wahyuni, Nila
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.3, September 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i03.p03

Abstract

Background: The performance of professional athletes is very important for the achievement of athletes. The athlete's performance is influenced by various factors, namely environmental factors such as training, diet and sociocultural. One important factor that also affects the performance of athletes is genetic factor that are currently being studied. One of the genetic factors believed to play a role in athlete's performance is the Alpha Actinin-3 gene (ACTN 3). Purpose : to examine how the Alpha Actinin-3 (ACTN 3) gene polymorphism causes variation among individuals in athletic muscle performance. Method : study literature. Result : The ACTN 3 gene codes for the ?-actinin-3 protein which plays a role in producing a large force of contraction (rapid forceful contraction). The genetic variation of the ACTN 3 gene causes several variants of the ACTN 3 gene that play a role in the athlete's muscle performance.Keywords: Polymorphism, ACTN Gen 3, Muscle performance.
EFEKTIVITAS LOW POWER LASER TERAPI DAN PROPRIOCEPTIF NEUROMUSCULAR FACILITATION PADA ULKUS DIABETIKUM DERAJAT 2 Satria Nugraha, Made Hendra; Wahyuni, Nila; Sita Saraswati, Putu Ayu
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.2, Mei 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i02.p06

Abstract

Diabetic ulcers are one of the most severe complications of diabetes in people with diabetes mellitus. When examined through the International Classification of Function (ICF) approach, there are several problems associated with diabetic ulcers, including: the presence of pain, limited movement, open wounds, loss of sensory sensation or motor ability. There are some modalities can be used to help these problems, namely by using laser and therapeutic approaches such as the application of proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF). The method of this paper is an article review by using secondary data taken from research journals which are related to the effectiveness of the use of low power laser therapy and proprioceptive neuromuscular facilitation in diabetic ulcer patients. The primary effect of laser usage on cell is increasing oxidative metabolism to produce more ATP, which ultimately leads to the normalization of cell function, pain relief, and wound healing. PNF is a method of enhancing neuromuscular movement and facilitation to facilitate muscle contraction. This method has the primary goal of achieving individual needs, and thus can perform functional movements, through facilitation, inhibition, strengthening and relaxation of muscle groups. Based on the literature review, it can be concluded that: (1) Low power laser therapy is effective in repairing wounds in patients with grade 2 diabetic ulcers, (2) Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) is effective in improving sensory and motor neuronal conduction associated with ankle movement in grade 2 diabetic ulcers, and (3) The combination of low power laser therapy and Proprioceptive Neuromuscular Facilitation is effective in improving the limitations of motion and function of grade 2 diabetic ulcers.
PEMULIHAN BERENANG LAMBAT GAYA BEBAS LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN DENGAN PEMULIHAN BERENANG LAMBAT GAYA DADA DALAM MEMPERCEPAT PEMULIHAN DENYUT NADI SETELAH LATIHAN MAKSIMAL PADA ATLET RENANG PRIA GRUP RENANG BAYUSUTA DI DENPASAR Wahyuni, Nila; Tirtayasa, Ketut; Purnawati, Susy
Sport and Fitness Journal Volume 2, No.2, 2014
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The swimmer in Indonesia is still very difficult to compete with world athletes who constantly surge achievement. One reason is the lack of understanding of proper recovery methods or effective in supporting achievement that is slow swimming active recovery method. This study aims to prove the differences of effectiveness of slow frontcrawl swimming recovery with a slow breaststroke swimming recovery to accelerate pulse rate recovery of male Bayusuta swimmer group in Denpasar. Experimental research was done with the method of randomized pre and post test control group design, conducted on February 2014. Samples were selected by simple random sampling . The two intervention groups with each group of 17 samples that randomized selected. The first group was given intervention as slow frontcrawl swimming and the second groups given intervention as slow breaststroke swimming after maximal exercise 50 meter sprint swimming . Pulse rate recovery was measured using Brouha method that is  pulse rate in the first minute until the fifth minute. Statistical analysis with the Wilcoxon test showed a decrease in pulse rate in both groups from the first minute until the fifth minute showed a significant decrease (p < 0,05). Based on the Mann Whitney test pulse rate recovery in the first minute and the second showed no significant difference ( p > 0,05 ), while the third to fifth minute pulse recovery in both groups showed significant differences ( p < 0,05 ) . The decrease of pulse rate in both groups in the first minute until the fifth minute showed significant results ( p < 0,05 ). In conclusion is slow freestyle swimming recovery methods is more effective than  slow breaststroke swimming recovery method in accelerate swimmer pulse rate recovery. The results of this study are expected to increase the knowledge of coaches and swimmer to be able to do a proper recovery methods.