Retno Wahyuningrum
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Puwokerto, Jl. Raya Dukuhwaluh, PO BOX 202, Purwokerto 53182

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Wawancara Motivasi Apoteker Untuk Kepatuhan Terhadap Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 Wahyuningrum, Retno
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12189

Abstract

Wawancara Motivasi Apoteker Untuk Kepatuhan Terhadap Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 Retno Wahyuningrum1), Djoko Wahyono2), Mustofa3), Yayi Suryo Prabandari4)1)Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta2)Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta3)Bagian Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta4)Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakartae-mail : retno2408@yahoo.co.id ABSTRACT The review’s objective is to initiate pharmacists with motivational interviewing as an approach to involve patients in discussions about medication adherence. Motivational interviewing has established as an intervention strategy for addiction management, change in lifestyle behaviors, and adherence to prescribed medications and other treatments. Pharmacist-led motivational interviewing can investigate factors associated with poor adherence to treatment, assess patient ambivalence and/or resistance, and educate patients to encourage treatment-adherent behaviors.Pharmacists can held motivational interviewing to improve patient’s problem solving skill in type 2 diabetes management, mostly self-management of patients with poor long-term glycemic control. Keywords : Type 2 diabetes, Adherence, Pharmacist, Motivational interviewing        ABSTRAK Ulasan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada para apoteker mengenai wawancara motivasi, yang merupakan salah satu cara untuk melibatkan pasien dalam diskusi tentang kepatuhan terhadap pengobatan. Wawancara motivasi merupakan salah satu strategi intervensi untuk penatalaksanaan kecanduan, perubahan perilaku gaya hidup, dan kepatuhan terhadap obat yang diresepkan dan perawatan lainnya. Wawancara motivasi dapat digunakan apoteker untuk menyelidiki faktor yang terkait dengan ketidakpatuhan terhadap pengobatan, menilai ambivalensi (keraguan) pasien dan/atau resistensi, dan mendidik pasien untuk mempromosikan perilaku patuh terhadap pengobatan.Apoteker dapat menggunakan wawancara motivasi untuk membantu pasien mengatasi masalah terkait pengelolaan diabetes melitus (DM) tipe 2, terutama pasien dengan kontrol glikemik jangka panjang yang buruk. Kata kunci : Diabetes melitus tipe 2, Kepatuhan, Apoteker, Wawancara motivasi  
EFEK MUTAGENIK EKSTRAK METANOL AMPAS BIJI JARAK (Jatropha curcas L.) SISA PENGOLAHAN BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) Wahyuningrum, Retno; Wirasutisna, Komar Ruslan; Elfahmi, Elfahmi; Wibowo, Marlia Singgih
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.094 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss3pp89 – 93

Abstract

Biji jarak (Jatropha curcas L) mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan pada pembuatan sabun, kosmetik dan juga sebagai bahan bakar nabati (biofuel). Biji jarak mengandung senyawa ester phorbol yang bersifat toksik. Pengolahan minyak biji jarak menjadi bahan bakar nabati menyisakan hasil samping berupa ampas biji yang jumlahnya cukup melimpah. Untuk meyakinkan keamanan penggunaan ampas biji jarak, dilakukan uji mutagenik. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut metanol, uji mutagenik ekstrak dilakukan dengan metode Ames Test menggunakan bakteri Salmonella typhimurium TA 1535, baik dengan penambahan maupun tanpa penambahan homogenat hati (S9). Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol ampas biji jarak tidak bersifat mutagenik terhadap bakteri S. typhimurium TA 1535. 
Antituberculosis Activity of Brotowali (Tinospora crispa) Extract and Fractions against Mycobacterium tuberculosis using Microplate Alamar Blue Assay Method Wahyuningrum, Retno; Ritmaleni, Ritmaleni; Irianti, Tatang; Wahyuono, Subagus; Kaneko, Takushi; Nuryastuti, Titik
Majalah Obat Tradisional Vol 22, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.582 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.27925

Abstract

Tuberculosis (TB), in which caused by pathogenic bacteria, Mycobacterium tuberculosis, has become the major causes of death among all of infectious diseases. The increasing incidence of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) and extensively drug-resistant tuberculosis (XDR-TB) has created a need to discover a new antituberculosis drug candidate. The aim of this study was to screen extract and fractions of Tinospora crispa for activity against Mycobacterium tuberculosis H37Rv using the Microplate Alamar Blue Assay (MABA) method. T. crispa extract was prepared by maceration in ethanol (96%) and antituberculosis activity was carried out using MABA method. The result of this study showed that ethanolic extract of T. crispa exhibit antituberculosis activity with minimum inhibition concentration of 12.5 mg/ml.
EFEK MUTAGENIK EKSTRAK METANOL AMPAS BIJI JARAK (Jatropha curcas L.) SISA PENGOLAHAN BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) Wahyuningrum, Retno; Wirasutisna, Komar Ruslan; Elfahmi, Elfahmi; Wibowo, Marlia Singgih
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.094 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8131

Abstract

Biji jarak (Jatropha curcas L) mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan pada pembuatan sabun, kosmetik dan juga sebagai bahan bakar nabati (biofuel). Biji jarak mengandung senyawa ester phorbol yang bersifat toksik. Pengolahan minyak biji jarak menjadi bahan bakar nabati menyisakan hasil samping berupa ampas biji yang jumlahnya cukup melimpah. Untuk meyakinkan keamanan penggunaan ampas biji jarak, dilakukan uji mutagenik. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut metanol, uji mutagenik ekstrak dilakukan dengan metode Ames Test menggunakan bakteri Salmonella typhimurium TA 1535, baik dengan penambahan maupun tanpa penambahan homogenat hati (S9). Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol ampas biji jarak tidak bersifat mutagenik terhadap bakteri S. typhimurium TA 1535. 
PENETAPAN KADAR TANIN DALAM INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp)) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK Kharismawati, Mufti; Utami, Pri Iswati; Wahyuningrum, Retno
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v6i01.398

Abstract

ABSTRAK Salah satu tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional adalah salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp). Tanin diketahui sebagai salah satu bahan aktif yang terkandung dalam daun salam dan sering digunakan untuk mengatasi masalah diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar tanin pada daun salam dengan umur daun yang berbeda. Daun salam muda dan daun salam tua diambil sebagai sampel. Penyarian tanin dari sampel daun dilakukan secara infundasi. Kadar tanin dalam infusa yang diproleh ditetapkan dengan metode spektrofotometri ultraviolet-visibel dengan menggunakan pereaksi Folin Denis dan natrium karbonat jenuh yang akan menghasilkan warna biru. Panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 745,0 nm. Kadar tanin yang diperoleh pada daun salam muda dan daun salam tua berturut-turut sebesar 0,036±1,513% dan 7,07.10-3±0,288%. Dari uji t dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan kadar tanin yang signifikan antara daun salam tua dan muda. Kata Kunci : tanin, daun salam, infusa, spektrofotometri ultra violet-visibel. Abstract People used many traditional medicinal plants. One of them is leaf of salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp). One of its active compound is tannin that used to treat diarrhoae. The aim of this research was to determine tannin content of salam leaves from different age. Sample that used in this research were young and old salam leaves. Infundation method was used to extract tannin from salam leaves. Tannin content of the infusion was determined by ultraviole-visible spectrophotometry with addition of Folin Denis reagent. Maximum wavelength was 745.0 nm. The result of tannin content in young and old salam leaves were 0.036±1.513% and 7.07x10-3±0.288% respectively. t test showed that there were differences of tannin content in young and old salam leaves. Keywords: tannin, salam leaf, infusion, ultraviolet-visible spectrophotometry
ANALISIS RESIDU PESTISIDA ORGANOKLORIN PADA RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SECARA METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL Rahayu, Wiranti sri; Wahyuningrum, Retno; Sukri, Muslim
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.646 KB) | DOI: 10.30595/pji.v6i3.432

Abstract

Temulawak merupakan salah satu jenis tanaman obat yang mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya residu pestisida organoklorin pada rimpang temulawak. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode destruksi basah. Sampel yang diambil adalah rimpang temulawak yang diambil dari pasar Ajibarang. Sampel kemudian ditambah asam nitrat pekat. Pengujian kadar organoklorin pada rimpang temulawak dilakukan dengan alat Spektofotometer UV-Vis Merk Shimadzu pada panjang gelombang 455,5 nm. Berdasarkan hasil penelitian pada rimpang temulawak terdeteksi adanya pencemaran organoklorin dengan kadar (550 ppm) dan hasil validasi analisis yang dilakukan didapat harga standard deviation (SD), relative standard deviation (RSD), dan ketelitian alat pada uji presisi alat pada sampel sebesar 2,48 x 10-6; 0,2440% dan 99,99%. Nilai persen perolehan kembali (Recovery) rata-rata dan kesalahan sistematik pada uji akurasi sampel sebesar 107,43 % dan 7,43 %. Uji linieritas didapatkan harga koefisien korelasi (r) sebesar 0,9907 dan persamaan regresi linier kurva baku y = 0,0429x + 0,0105 dengan limit deteksi dan limit kuantitasi 21,56 ppm dan 71,88 ppm. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada metode analisis identifikasi residu organoklorin pada simplisia temulawak menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis adalah valid. Kata kunci: Organoklorin, Spektrofotometri, Rimpang Temulawak
AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK ETANOL HERBA PEGAGAN PADA MENCIT JANTAN DENGAN INDUKSI KAFEIN Kusuma, Anjar Mahardian; Wahyuningrum, Retno; Widyati, Try
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i1.852

Abstract

ABSTRAK Hiperurisemia dapat didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh penumpukan kristal monosodium urat monohidrat di persendian meningkat. Di Indonesia, penyakit reumatik, gout atau hiperurisemia menduduki peringkat kedua terbanyak setelah osteoarthritis. Obat yang standar untuk hiperurisemia adalah allopurinol, tetapi penggunaan allopurinol dapat menimbulkan efek samping mual, muntah, dan diare dapat juga terjadi neuritis perifer, depresi unsur sumsum tulang belakang dan kadang-kadang anemia aplastika. Oleh karena itu agar terhindar dari efek samping dari allopurinol, maka peneliti mencari alternatif pengobatan yang lebih aman dengan menggunakan obat tradisional seperti herba pegagan. Dengan adanya flavonoid dalam pegagan yaitu kaemferol dan kuersetin yang terbukti dapat menghambat xanthine oxidase, maka dilakukan penelitian untuk membuktikan adanya efek penurunan kadar asam urat dalam darah dengan menggunakan ekstrak pegagan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efek ekstrak etanol pegagan pada mencit jantan hiperurisemia dan menentukan dosis dari ekstrak etanol pegagan yang paling efektif mempengaruhi kadar asam urat dalam darah pada mencit jantan hiperurisemia. Penelitian ini berjenis eksperimental dengan rancangan Post Test Only Controlled Group Design yaitu jenis penelitian yang hanya melakukan pengamatan terhadap kelompok kontrol dan perlakuan setelah diberi suatu tindakan. Hasil yang diperoleh disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol herba pegagan dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB mempunyai kemampuan menurunkan asam urat dalam darah mencit sebanding dengan allopurinol yang berperan sebagai obat hiperurisemia. Hal ini terjadi karena pegagan mengandung senyawa flavonoid, kaemferol dan kuersetin yang dapat menghambat xanthine oxidase sehingga kadar asam urat dalam darah berkurang. Kata kunci: hiperurisemia, pegagan, xanthine oxidase, kafein. ABSTRACT Hyperuricemia can be defined as a disease caused by a buildup of monosodium urate monohydrate crystals in the joints increases. In Indonesia, rheumatic disease, gout or hyperuricemia was ranked second only to osteoarthritis. Standard drug for hyperuricemia is allopurinol, but the use of allopurinol can cause side effects of nausea, vomiting and diarrhea may also occur peripheral neuritis, depression elements of the spinal cord and sometimes aplastic anemia. Therefore, in order to avoid the side effects of allopurinol treatment, the researchers seek safer alternatives to the use of traditional medicines such as herbs gotu kola. With the presence of flavonoids in Centella asiatica, namely kaempferol and quercetin were shown to inhibit xanthine oxidase, the research done to prove the effect of a decrease in uric acid levels in the blood by using extracts of Centella asiatica. This study was conducted to analyze the effect of ethanol extract of Centella asiatica in male mice hyperuricemia. Determine the dose of ethanol extract of Centella asiatica most effectively influence the levels of uric acid in the blood of male mice hyperuricemia. This research was the design of Post Experimental Test Only Controlled Group Design is the type of research that only observations of the control and treatment groups after being given an action. The results concluded that the ethanol extract of the herb gotu kola dosage of 50 mg/kg, 100 mg/kg, and 200 mg/kg have the ability to lower uric acid in the blood of mice is comparable with that role as a drug allopurinol hyperuricemia. This occurs because gotu kola contains flavonoids kaempferol and quercetin can inhibit xanthine oxidase so that the levels of uric acid in the blood was reduced. Key words: hyperuricemia, centella asiatica, xanthine oxidase, caffeine.
EKSTRAK DAUN COCOR BEBEK (Bryophyllum pinnatum) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA SEDIAAN SIRUP HERBAL TOMAT (Solanum lycopersicum) Sandi, Elis Yuliya; Wahyuningrum, Retno; Dhiani, Binar Asrining
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v10i2.799

Abstract

ABSTRAK Penggunaan antimikroba sintetik atau pengawet sintetik secara terus menerus pada makanan, seperti formalin jika dikonsumsi dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Berdasarkan kejadian tersebut masyarakat mulai mencari alternatif lain dalam penggunaan antimikroba dan pengawet yang lebih sedikit memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satunya dapat diperoleh dari daun cocor bebek yang diketahui memiliki aktifitas antimikroba yang bisa digunakan sebagai pengawet alami. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan efektifitas ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai pengawet pada sediaan sirup herbal tomat, serta menentukan tingkat cemaran mikroba yang timbul pada sirup herbal tomat yang telah ditambahkan ekstrak cocor bebek terhadap variasi suhu penyimpanan. Penelitian dilakukan dengan cara menguji cemaran mikroba pada sirup herbal tomat yang dinyatakan dengan Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang/Khamir Total (AKT) dan uji identifikasi Staphylococcus aureus. Pada penggunaan variasi konsentrasi ekstrak daun cocor bebek, dengan konsentrasi 3,2 % mampu mengawetkan sirup herbal tomat selama 1 minggu. Dilihat dari nilai AKT, ALT dan identifikasi Staphylococcus aureus menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu kulkas memiliki tingkat cemaran mikroba yang lebih rendah dibanding penyimpanan pada suhu kamar. Ekstrak daun cocor bebek dengan konsentrasi 3,2 % mampu mengawetkan sirup herbal tomat selama 1 minggu, dan suhu penyimpanan sirup yang baik yaitu pada suhu kulkas. Kata Kunci: Bryophyllum pinnatum, cocor bebek, pengawet alami, sirup herbal tomat, Solanum lycopersicum, Staphylococcus aureus. ABSTRACT Synthetic preservatives application in foods continuously, such as formalin can cause a variety of diseases. Alternatives of antimicrobials and preservatives which have less negative impact on health becomes necessary. It can be obtained from the cocor bebek leaves which is possess antimicrobial activity. Thus can be developed as a natural preservative. This research was aimed to determine the effectiveness of the ethanol extract of cocor bebek leaves as a preservative in Tomato Syrup, and also to determine microbial contamination in tomato syrup that has added leaf extract of cocor bebek against storage temperature variations. This research method was an experimental by testing microbial contamination in tomatoes syrup by observing Total Plate Count and Fungus / Yeast Total, and Staphylococcus aureus test. The result show that extract cocor bebek with the concentration 3.2 % was able to preserve tomatoes syrup for 1 week. It could be observed from the value of total plate count, yeast total and Identification of Staphylococcus aureus. Storage at refrigerator temperature indicates a smaller value than at room temperature. Cocor bebek leaf extract with the concentration 3.2% was able to preserve syrup tomatoes herbal for 1 week. Key words: Bryophyllum pinnatum, cocor bebek, natural preservatives, tomato syrup, Solanum lycopersicum, Staphylococcus aureus.
PERBANDINGAN KADAR EUGENOL MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) YANG TUMBUH DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH Kurniawan, Ari; Rahayu, Wiranti Sri; Wahyuningrum, Retno
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i3.879

Abstract

ABSTRAK Minyak cengkeh diproduksi oleh para pengrajin penyuling daun cengkeh dan tangkai cengkeh di daerah-daerah yang banyak tanaman cengkehnya. Sama halnya dengan bunga cengkeh, daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry ) memiliki komponen utama yang sama yaitu Eugenol. Kadar eugenol dapat mencapai 70-90% dari minyak cengkeh, sehingga mendominasi sifat-sifat minyak cengkeh. Daun cengkeh yang disuling dapat diperoleh dari daun yang sudah gugur yang diambil pada dataran tinggi Desa Banjarsari wetan (800-900 mdpl) dan dataran rendah Desa Pringtali Kebarongan (200-300 mdpl). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar eugenol minyak daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah. Dalam penelitian ini digunakan penyulingan dengan destilasi uap dan air. Hasil destilat yang didapat dianalisis menggunakan Kromatografi Gas Spektroskopi Massa (KGSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar eugenol minyak atsiri daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi yaitu 0,76% dan 0,69% pada dataran rendah yang terlihat pada satu puncak yang dominan pada kromatogram. Berdasarkan uji T dapat disimpulkan bahwa kadar eugenol minyak atsiri daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah tidak berbeda bermakna. Kata kunci : Daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry), Kromatografi Gas Spektroskopi Massa (KGSM) ABSTRACT Clove oil is produced by instrument to refine clove leaf and clove stem in the areas that many clove’s trees. Same with clove leaf, the clove leaf (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) has main component is eugenol. Eugenol degree can attain 70 – 90 % from clove oil until dominate the characteristic of oil clove. Clove leaf which is distilled can got from the leaf fall that take in up land Desa Banjarsari wetan (800-900 mdpl) and low land Desa Pringtali Kebarongan (200-300 mdpl) . The aim of this research to know the compare eugenol degree in the clove leaf in the up land trees and low land. In this research used instrument to refine distillation vapor and water. The result of distillated which is got analyzed in using Chromatography Gas Spectroscopy Mass (GCMS). The result show that eugenol degree in the clove leaf that grown place in the up land 0,76% and 0,69% low land which is seen in one top dominant at chromatogram. Based on t test can concluded that eugenol degree in the clove leaf that grown place in the up land and low land are not significant deference. Keyword : The clove leaf (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry), Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GCMS).
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KAYU NANGKA (Artocarpus heterophylla Lmk.) TERHADAP Bacillus subtilis DAN Escherichia coli Pratiwi, Refriana Setya; Tjiptasurasa, Tjiptasurasa; Wahyuningrum, Retno
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 03 Desember 2011
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v8i03.1125

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol kayu nangka (A. heterophylla Lmk.) terhadap pertumbuhan bakteri B. subtilis dan E. coli secara in vitro. Ekstraksi kayu nangka dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Ada 5 kelompok yang diujikan, yaitu konsentrasi 1%, konsentrasi 10%, konsentrasi 100%, kontrol positif (tetrasiklin HCl) dan kontrol pelarut/ kontrol negatif Dimetilsulfoksida (DMSO 10%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu nangka tidak memiliki aktivitas terhadap pertumbuhan bakteri uji sampai dengan kadar tertinggi. Hasil uji KLT menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu nangka mengandung flavonoid dan alkaloid. Kata kunci: antibakteri, ekstrak etanol kayu nangka (A. heterophylla Lmk.), Bacillus subtilis, Escherichia coli. ABSTRACT Research on antibacterial activity of jackfruit wood (A. heterophylla Lmk.) ethanolic extract to B. subtilis and E. coli in vitro have been done. Jackfruit wood extraction was done with maceration method using ethanolic solvent 70%. Antibacterial activity test used agar diffution method. There were tested 5 groups of serial extract concentration 1%, 10% and 100%; positive control (tetracycline HCl) and solvent control/ negative control Dimethylsulfoxide (DMSO 10%). The result showed that ethanolic extract of jackfruit wood didn’t have antibacterial activity until the highest concentration. Thin Layer Chromatography (TLC) test showed that ethanolic extract of jackfruit wood contain flavonoid and alkaloid. Keywords: antibacterial, ethanolic extract of jackfruit wood (A. heterophylla Lmk.), Bacillus subtilis, Escherichia coli.