Articles

Found 4 Documents
Search

Fast decomposition of food waste to produce mature and stable compost Priyambada, Ika Bagus; Wardana, Irawan Wisnu
Sustinere: Journal of Environment and Sustainability Vol 2 No 3 (2018): pp 108 - 167 (December 2018)
Publisher : Centre for Science and Technology, IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.245 KB) | DOI: 10.22515/sustinere.jes.v2i3.47

Abstract

Food waste can be meat, fish, cooked food scraps, moldy bread, bone scraps, cakes, expired foods, dairy products, fruits and vegetables. Food waste which is put into the trash will decay and produce a foul odor which in turn will invite flies and cause potentially diseases. Most of the food waste that is processed using the composting process needs to spend a relatively long time, which is about 1-3 months or even 6-12 months. This study aims to accelerate composting time through the addition of additive microorganisms in various quantities. Four aerobic composter reactors were utilized in this study. Variations of additive microorganisms added to the research object were 0 in reactor (control), 8 g in B2 reactor, 16 g in B3 reactor, and 32 g in B4 reactor. All reactors were added with dolomite lime. During the composting process temperature, pH, water content and macroelement were tested. The results showed that the mature and stable compost was reached on the seventh day and produced from B2 reactor. In That reactor treated food waste and additive microorganisms with a ratio of 7:3, and 1 g dolomite lime. The level of C/N ratio produced from B2 reactor was 16.71. The value of C/N ratio was better than B3 reactor which produced C/N of 18.37. The control reactor produced a C/N ratio of 21.84 and mature and stable compost was reached on the 14th day. All in all, this study was regarded to be successful in accelerating the degradation of food waste into mature and stable compost in just seven days.
STUDI EFISIENSI PENYISIHAN COD DALAM LINDI DENGAN SISTEM EVAPOTRANSPIRASI MENGGUNAKAN TUMBUHAN SENTE (ALOCASIA MACRORRHIZA) DAN RUMPUT BELULANG (ELEUSINE INDICA) Zaman, Badrus; Wardana, Irawan Wisnu; Sutrisno, Endro; Kurniawati, Adistia Dian; Amalia, Amalia
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 14, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Departemen Teknik Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.05 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v14i2.81-87

Abstract

COD dalam lindi merupakan salah satu parameter yang secara umum berada pada konsentrasi yang tiggi sebagai salah satu hasil biodegradasi material organik dan anorganik dalam sampah di TPA. Sistem evapotranspirasi yang menggunakan tumbuhan lokal merupakan salah satu sistem yang menjanjikan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efisiensi penyisihan COD dalam lindi dengan reaktor evapotranspirasi secara kontinyu yang menggunakan tumbuhan Tumbuhan Sente (Alocasia macrorrhiza) dan Rumput Belulang (Eleusine indica). Hasil uji menunjukkan efisiensi pada semua reaktor mulai sekitar hari ke 3 hingga hari ke 25 mengalami fluktuasi yang cenderung menurun (dari ± 75% menjadi ± 50%), tetapi hari selanjutnya cenderung meningkat. Pola tersebut dipengaruhi oleh peran media tanam, bakteri dalam media tanam, bakteri pada akar tumbuhan dan aktivitas metabolisme tumbuhan uji. Secara keseluruhan reaktor yang menggunakan Tumbuhan Sente (Alocasia macrorrhiza) lebih fluktuatif dibandingkan denga menggunakan Rumput Belulang (Eleusine indica) yang dipengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangannya.
SAMPAH UNTUK ENERGI: KELAYAKAN PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK DARI KANTIN DI LINGKUNGAN UNDIP BAGI PRODUKSI ENERGI DENGAN MENGGUNAKAN REAKTOR BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA Wardana, Irawan Wisnu; Junaidi, Junaidi
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 9, No 2 (2012): Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.301 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v9i2.79-83

Abstract

Harga minyak yang melonjak mempengaruhi aktifitas perekonomian dunia termasuk Indonesia, hal tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan termasuk diantaranya biogas. Limbah-limbah kantin memiliki potensi untuk menjadi sumber energi terbarukan, yaitu biogas. Limbah sisa makanan dan aktifitas dapur dalam jumlah yang cukup dari kantin di lingkungan fakultas teknik dikumpulkan, dilakukan perlakuan seperti penghalusan dan homogenisasi, lalu tahap memasukkan substrat beserta ekstrak rumen sapi sebagai sumber bakteri anaerob kedalam batch reactor dengan penambahan air sebagai variasi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan, bahwa penambahan air mempengaruhi jumlah gas yang dihasilkan. Diketahui bahwa limbah yang ditambahkan air sebanyak 64 ml, mampu menghasilkan  volume gas lebih banyak dibanding yang lainnya. Umur produksi gas mampu menghasilkan gas hingga hari ke 19. Dalam penelitian didapatkan adanya penurunan dan peningkatan produksi gas. Hal ini disebabkan adanya tahap pembentukan gas yang terjadi, mulai dari tahap hidrolisis, acidogenesis, asetogenesis, dan metanogenesis.
PENGARUH FERMENTASI KOTORAN KAMBING PADA EMISI GAS (CO2, CH4, N2O) VERMICOMPOSTING SAMPAH ORGANIK Sutrisno, Endro; Wardana, Irawan Wisnu; Priyambada, Ika Bagus
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 14, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Departemen Teknik Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.795 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v14i1.1-4

Abstract

Kegiatan pengelolaan sampah dapat melepaskan gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer dan mengintensifkan iklim global. Pengomposan adalah proses komponen aerobik karbon degradable organik dalam limbah diubah menjadi karbon dioksida. Menggabungkan prakompos dan vermicomposting berpotensi menimbulkan emisi amonia dan gas rumah kaca. Desain percobaan dilakukan dengan memberikan fermentasi kotoran kambing dalam vermicomposting sampah organik dengan jumlah yang berbeda untuk mengetahui pengaruh fermentasi kotoran kambing terhadap emisi gas CO2, CH4, N2O saat kematangan kompos. Desain penelitian ini menggunakan 4 kombinasi yaitu kombinasi pertama 80% sampah organik, 20% kotoran kambing; kombinasi kedua yaitu 80% sampah organik, 20% kotoran kambing, 100 mL Aspergilus niger; kombinasi ketiga yaitu 60% sampah organik, 40% kotoran kambing; dan kombinasi keempat yaitu 60% sampah organik, 40% kotoran kambing, 100 mL Aspergilus niger. Kriteria pengujian yang digunakan adalah pengujian emisi gas CO2, CH4, N2O di akhir kematangan kompos. Dengan adanya penambahan kotoran kambing, semakin banyak kotoran kambing ditambahkan emisi gas CO2, CH4dan NO semakin banyak. Sedangkan dengan ditambahkan Aspergillus niger, proses fermentasi semakin cepat dalam menghasilkan emisi gas CO2, CH4 dan N2O.