p-Index From 2015 - 2020
0.751
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Geofisika
Warsa Warsa
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Identifikasi Reservoir Menggunakan Metode Short Offset Transient Electromagnetic Prasetyo, Donny; Assiddiqy, Muhammad Hasbi; Warsa, Warsa
Jurnal Geofisika Vol 15 No 1 (2017): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v15i1.400

Abstract

Metode Short O?set Transient Electromagnetic (SHOTEM) merupakan metode geo?sika elektromagnetik domain waktu yang digunakan untuk mendapatkan variasi nilai resistivitas di bawah permukaan tanah sebagai informasi acuan untuk melakukan identi?kasi tubuh anomali khususnya reservoir. Selain sinyal hasil pengukuran yang didapatkan sudah bebas dari pengaruh sinyal sumber, metode SHOTEM unggul dari segi jangkauan kedalaman investigasi dan resolusi dibanding menggunakan kon?gurasi transient electromagnetic (TEM) lainnya. Pada penelitian ini, digunakan data lapangan di 18 titik sounding yang didapat dari penggunaan metode SHOTEM. Beberapa tahapan pemrosesan data yang memanfaatkan sifat gelombang, prinsip statistika, dan pendekatan numerik dilakukan untuk membersihkan data dari noise, lalu dilakukan pemodelan ke depan dan pemodelan inversi satu dimensi menggunakan software IX1D untuk menghasilkan model resistivitas satu dimensi bawah permukaan. Model resistivitas satu dimensi tersebut di interpolasi agar menghasilkan citra variasi resistivitas dua dimensi untuk mengidenti?kasi tubuh anomali di bawah permukaan daerah pengukuran data lapangan tersebut. Dari model yang dihasilkan, terdapat anomali resistivitas tinggi yang berasosiasi dengan keberadaan reservoir hidrokarbon di rentang kedalaman 800 ? 1000m pada daerah penelitian. Error RMS fungsi objektif pemodelan yang tidak stabil dan sebaran nilai resistivitas yang ekstrem pada 18 model satu dimensi menimbulkan kecenderungan model yang dihasilkan tidak representatif. Hasil tersebut dapat disebabkan data yang masih mengandung noise akibat sistem pengukuran dan noise akibat pengaruh ?tur geologi lokal yang belum dikompensasi.
PEMODELAN METODE DEEP SOUNDING TEM UNTUK MONITORING INJEKSI KARBON DIOKSIDA (CO2) PADA RESERVOIR Nugroho, Gatot; Warsa, Warsa
Jurnal Geofisika Vol 15 No 2 (2017): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v15i2.406

Abstract

Pemantauan distribusi CO2 merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam keberlanjutan CCS. Sampai saat ini pemantauan geofisika yang sering digunakan adalah metode seismik. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan metode deep TEM untuk melakukan pemantauan pada CCSmelalui pemodelan metode deep TEM untuk simulasi pemantauan injeksi CO2. Data TEM sebelum dan sesudah dilakukan injeksi CO2 dibandingkan untuk  mengetahui pengaruh keberadaan CO2. Data TEM sebelum injeksi diperoleh dari pengukuran di lapangan pada tahun 2013. Data TEM setelah injeksi diperoleh dari hasil pemodelan ke depan dengan parameter model yang diperoleh dari hasil inversi data TEM lapangan. Pemodelan inversi dilakukan dengan menggunakan metode inversi SVD damped least square. Proses inversi SVD digunakan untuk mengidentifikasi reservoir dan memetakan distribusi CO2pada reservoir. Hasil pemodelan inversi satu dimensi diolah menjadi model dua dimensi dengan menggunakan perangkat lunak Rockworks16. Hasil pemodelan inversi data TEM lapangan menunjukkan bahwa reservoir mempunyai resistivitas rendah yaitu 2 ?m sampai 4 ?m. Reservoir ini berada pada kedalaman 900 m sampai 1200 m di bawah permukaan. Perbandingan data TEM sebelum injeksi CO2 dan setelah injeksi CO2 menunjukkan adanya pengaruh CO2 terhadap kurva data TEM sebelum dan setelah injeksi CO2 secara jelas. Pola kurva data TEM setelah injeksi menenjadi lebih curam pada bagian tengah dari pada kondisi sebelum ada injeksi CO2. Perubahan kurva TEM yang menjadi lebih curam tersebut disebabkan oleh keberadaan CO2 pada reservoir meningkatkan resistivitas reservoir. Lapisan reservoir setelah injeksi mempunyai resistivitas yang lebih tinggi membuat waktu peluruhan medan elektromagnetik pada lapisan tersebut menjadi lebih cepat, sehingga kurvanya menjadi lebih curam. Hasil pemodelan inversi setelah dilakukan injeksi CO2 mempunyai kesalahan perhitungan yang cukup kecil yaitu kurang dari 5%. Meskipun mempunyai kesalahan yang kecil hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Hasil yang tidak sesuai tersebut dikarenakan solusi metode SVD damped least square bukan merupakan solusi yang unik. Selain itu, pendekatan lokal yang digunakanpada metode inversi tersebut membuat nilai minimum yang diperoleh saat proses inversi merupakan nilai minimum lokal. Sehingga hasil yang diperoleh tidak bisa menunjukkan pengaruh data secara keseluruhan meskipun dengan nilai kesalahan perhitungan yang kecil. Secara umum hasil yang diperoleh dari prosesinversi tidak bisa diterima, akan tetapi dari masing-masing titik data dapat teramati adanya peningkatan resistitas reservoir dari 1 ?m sampai 3 ?m.
Studi Pemodelan Metode Time Domain Electromagnetic 3D untuk Model Homogen dan Berlapis Yogi, Ida Bagus Suananda; Warsa, Warsa
Jurnal Geofisika Vol 15 No 3 (2017): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2203.542 KB) | DOI: 10.36435/jgf.v15i1.16

Abstract

Makalah ini membahas pemodelan sintetik data time-domain electromagnetic (TDEM) 3D untuk model bumi berlapis homogen dan bersifat isotropis. Beberapa model 3D dan bumi berlapis sederhana digunakan dalam pemodelan untuk mengetahui respon model. Pemodelan dilakukan menggunakan metode beda hingga domin-waktu (nite dierence time-domain) secara 3D. Metode beda hingga domin-waktu merupakan metode yang cukup intuitif untuk dipahami karena mengikuti proses induksi medan elektromagnetik di alam. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa semakin besar jarak transmitter-recevier, nilai arus yang diinjeksikan dan panjang transmitter, maka struktur dalam akan semakin mudah terdeteksi atau menghasilkan respon sinyal yang masih kuat. Fakta lain adalah bahwa nilai arus sangat berperan sebagai pengali nilai respon, termasuk panjang transmitter jika panjang transmitter tidak lebih besar dari jarak transmitter-receiver. Hasil lainnya adalah bahwa respon sinyal model bumi berlapis hasil pemodelan 1D serupa dengan hasil pemodelan 3D. Dari hasil pemodelan anomali balok secara 3D didapati bahwa dimensi lateral dari anomali balok mempengaruhi respon secara signikan. Namun, pemodelan 1D menghasilkan respon sinyal yang sama untuk model balok yang berbeda. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemodelan 3D model homogen isotropis menggunakan parameter akuisisi yang berbeda dapat mempengaruhi intesitas dari respon sinyal yang berujung pada sensitivitas pengukuran untuk mendeteksi anomali tertentu. Hal lain yang perlu dicermati adalah anomali 3D dapat menghasilkan model yang berbeda pada pemodelan 1D dan 3D, sehingga dimensi struktur perlu diperkirakan dalam mengolah data TDEM.
DETERMINATION OF GROUNDWATER SURFACE USING DAMPED LEAST-SQUARES INVERSION IN THE BEKASAP FIELD, RIAU Pinehas, D; Warsa, Warsa
Jurnal Geofisika Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v17i2.414

Abstract

Groundwater is a primary water source for the sustainability of human life. Groundwater is located in the subsurface area in the saturated zone called aquifer. The presence of an aquifer can be identified through a geophysical survey by determining the upper boundary of the aquifer called the groundwater table. DC Resistivity geoelectrical method is one of the geophysical measurements which is effective to be used to determine the depth of the water table. Measurements were performed using the Wenner electrode configuration in Bekasap to attain preferable depth resolution. The process of measurement data modelling yields rms error. In order to reduce the rms error, damped least-squares is applied into the inversion solution. This process will improve the model parameter iteratively until the minimum rms error is obtained. The damped least-squares modeling was tested on three synthetic models which have Resistivity variation. Furthermore, the damped least-squares was applied on the observed data at Bekasap. From the processing and modeling using damped least-squares, the depth of the groundwater table and aquifer can be obtained.