I Wayan Weta
Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Komunitas Dan Ilmu Kedokteran Pencegahan (IKK-IKP)Fak. Kedokteran Universitas Udayana

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

PENAMBAHAN INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE LEBIH MENURUNKAN DISABILITAS LEHER DARIPADA CONTRACT RELAX STRETCHING PADA INTERVENSI ULTRASOUND DALAM KASUS SINDROM MYOFASCIAL OTOT UPPER TRAPEZIUS Saraswati, Putu Ayu Sita; Adiatmika, I Putu Gede; Lesmana, Syahmirza Indra; Weta, I Wayan; Jawi, I Made; -, Wahyuddin
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p09

Abstract

Sindrom myofascial pada otot upper trapezius merupakan nyeri otot yang ditandai oleh satu atau beberapa myofascial trigger point pada otot upper trapezius. Posisi kerja statis dalam jangka waktu lama memicu timbulnya masalah tersebutdan mengakibatkan nyeri dan keterbatasan gerak pada leher sehingga akan menimbulkan disabilitas leher. Penanganan fisioterapi berupa integrated neuromuscular inhibition technique (INIT) dan contract relax stretching yang dikombinasikan dengan modalitas ultrasound berdampak pada penurunan disabilitas leher. Tujuan: mengetahui metode yang lebih efektif dalam menurunkan disabilitas leher pada sindrom myofascial otot upper trapezius.Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan rancangan randomizedpre test and post test group design. Sampel sebanyak 24 orang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 12 orang secara random. Kelompok perlakuan 1 dengan kombinasi INIT dengan ultrasound, sedangkan perlakuan 2 dengan contract relax stretching dengan ultrasound. Data diperoleh dengan mengukur disabilitas leher menggunakan Neck Disability Index(NDI), lingkup gerak sendi leher (LGS) dengan goniometerpada saat sebelum dan setelah perlakuan. Hasil:Diperoleh penurunan NDI22,50±2,43%(p<0,001) dan peningkatan LGS 5,083±1,0840 (p<0,001) pada Kelompok 1.Kelompok 2 juga terdapat penurunan NDI 17,33±3,05%(p<0,001) dan peningkatan LGS3,333±0,7780 (p<0,001). Hal ini berarti bahwa dalam setiap kelompok terjadi penurunan disabilitas leher secara bermakna. Hasil uji antar kelompok menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada penurunan NDI (p<0,001) dan peningkatan LGS (p<0,001). Simpulan: penambahan INIT lebih menurunkan disabilitas leher daripada contract relax stretching pada intervensi ultrasound dalam kasus sindrom myofascial otot upper trapeziusKata kunci : myofascial, trapezius, INIT, ultrasound, stretching, disabilitas leher
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA KELOMPOK LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS PETANG I KABUPATEN BADUNG TAHUN 2016 Bin Mohd Arifin, Muhammad Hafiz; Weta, I Wayan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan manifestasi gangguan keseimbangan hemodinamik sistem kardiovaskular yang mana patofisiologinya tidak bisa diterangkan dengan hanya satu mekanisme tunggal. Semua definisi hipertensi adalah angka kesepakatan berdasarkan bukti klinis (evidence based) atau berdasarkan konsensus atau berdasar epidemiologi studi meta analisis. Bila tekanan darah diatas batas normal, maka dikatakan sebagai hipertensi. Hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, yakni hipertensi primer/essensial dan hipertensi sekunder, dan berdasarkan derajat penyakitnya. Angka insiden hipertensi sangat tinggi terutama pada populasi lanjut usia, usia di atas 60 tahun, dengan prevalensi mencapai 60% sampai 80% dari populasi lansia. Di Indonesia, pada usia 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada usia 45-64 tahun sebesar 51% dan pada usia >65 tahun sebesar 65%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia di wilayah kerja UPT Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung tahun 2016. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional study dan menggunakan pendekatan retrospektif. Sampel yang digunakan berjumlah 112 orang yang diambil secara konsekutif pada posyandu lansia yang di tujuh banjar di desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung Hasil Penelitian dengan uji chi-square dan Fisher Exact Test menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara genetik (p = 0,019; RP = 1,417; IK 95% 1,069 sampai 1,877), olah raga (p = 0,017; RP = 1,424; IK 95% 1,069 sampai 1,895), dan tingkat stress (p < 0,0001; RP = 2,043; IK 95% 1,184 sampai 2,141) dengan kejadian hipertensi. Sedangkan jenis kelamin, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi.Prevalensi hipertensi pada kelompok lansia cukup tinggi yakni 69% dan terdapat hubungan yang bermakna antara genetik, olah raga, dan tingkat stress dengan kejadian ISPA pada lansia. Rekomendasi dalam upaya penurunan angka kejadian hipertensi berupa peningkatan sikap dan pengetahuan masyarakat tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya suatu penyakit khususnya hipertensi dengan cara penyuluhan kesehatan.
ASUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI ANAK VEGETARIAN DAN NON VEGETARIAN KELAS 3-6 SEKOLAH DASAR DI BHAKTIVEDANTA DHARMA SCHOOL Purwaningsih, Kadek Ayu; Weta, I Wayan; Aryani, Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak merupakan kelompok usia yang sedang mengalami proses tumbuh dan kembang yang sangat ditentukan oleh asupan zat gizi. Tidak sesuainya asupan zat gizi dengan kebutuhan akan menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang anak. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan hal ini adalah rendahnya variasi sumber bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan zat gizi dan status gizi antara anak vegetarian dengan non vegetarian. Jenis penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 30 anak vegetarian dan 41 non vegetarian di Bhaktivedanta Dharma School. Data asupan zat gizi dikumpulkan dengan menggunakan semikuantitatif food frequency questionnaire, data status gizi dikumpulkan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan. Hasil penelitian menunjukan rerata asupan energi, protein, lemak dan serat pada anak vegetarian dan non vegetarian berbeda bermakna dengan nilai P berturut-turut (0,021; <0,001; 0,009; <0,001). Data status gizi menunjukan tidak terdapat perbedaan status gizi antara anak vegetarian dengan non vegetarian. Kata Kunci: Anak, vegetarian, asupan zat gizi, status gizi, gizi seimbang
PILATES EXERCISE LEBIH EFEKTIF MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS LUMBAL DIBANDINGKAN SENAM YOGA PADA WANITA DEWASA Ayu Vitalistyawati, Luh Putu; Weta, I Wayan; Munawaroh, Muthiah; Ngurah, Ida Bagus; Griadhi, I Putu Adiartha; Imron, Muh. Ali
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.2, Mei 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i02.p03

Abstract

Introduction: Productive women who?s working in static potition can cause stiffness back muscle. The stiffness of back muscle can decrease lumbal flexibility. When lumbal flexibility was decreased, it can cause low back pain during activities. Yoga and pilates exercise are recommended program for increase lumbal flexibility.. Purpose: This study aims to prove the pilates exercise is more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman. Method: Design of this study uses research methods experimental study pre and post test design. Total sampel of this research study are 30 adult women at Banjar Kelod Ungasan, whose age are 30-45 years old and have 0-20 cm flexibility score. The sampel devided into two groups which the group I (n=15) was given pilates exercise ,while group II (n=15) was given yoga twice a week in 6weeks. This research was using sit and reach test as measured flexibility. Result: Based on Paired Sample t-Test statistical analysis the results of this study research shown that the difference in the mean of lumbal flexibility in group I was obtained 21.34±3.13cm with p<0.001 , while the mean of lumbal flexibility in group II was obtained 19.11±2.39cm with p<0.001. The difference lumbal flexibility in group I and group II was obtained 5.36±1.48cm with p<0.001. Conclusion: The conclusion that the pilates exercise was more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman.
KOMBINASI INTERVENSI INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE (INIT) DAN ULTRASOUND LEBIH BAIK DARIPADA STRETCHING METODE JANDA DAN ULTRASOUND DALAM MENINGKATKAN ROM SERVIKAL PADA SINDROMA MIOFASIAL OTOT UPPER TRAPEZIUS Kevin Gautama, Dwi Halim; Purnawati, Susy; -, Sugijanto; Adiputra, Nyoman; Weta, I Wayan; Imron, Moh. Ali
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p08

Abstract

Pendahuluan: Sindroma miofasial merupakan sekumpulan kelainan yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan pada jaringan lunak termasuk otot, struktur fascia dan tendon. Otot yang sering mengalami sindroma miofasial adalah upper trapezius. Tujuan: Penelitian ini untuk membuktikan kombinasi INIT dan ultrasound lebih baik daripada stretching metode Janda dan ultrasound dalam meningkatkan ROM servikal pada sindroma miofasial otot upper trapezius. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental dengan Pre dan Post Test Control Group Design. Populasi merupakan pasien Poliklinik Fisioterapi RSUD Wangaya, Denpasar yang mengalami sindroma miofasial otot upper trapezius berdasarkan hasil assessment fisioterapi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 28 orang yang mengalami penurunan ROM akibat sindroma miofasial otot upper trapezius. Sampel didapat berdasarkan hasil pengukuran ROM menggunakan goniometer serta kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pada Kelompok 1 diberikan kombinasi intervensi INIT dan ultrasound, dan pada Kelompok 2 diberikan kombinasi stretching metode Janda dan ultrasound. Hasil: Uji paired sample t-test ROM fleksi servikal Kelompok 1 rerata 5,64±1,49 dan Kelompok 2 rerata 3,36±0,74 selisih antara sebelum dan sesudah intevensi dengan nilai p = 0,001. ROM lateral fleksi servikal Kelompok 1 rerata 6,43±1,28 dan Kelompok 2 3,43±0,75 selisih antara sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p = 0,001 yang menunjukkan pada kedua kelompok terdapat perbedaan yang bermakna dari selisih peningkatan ROM servikal sebelum dan sesudah intervensi. Uji independent t- test diperoleh nilai p = 0,001 yang artinya terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil Kelompok 1 dibandingkan dengan Kelompok 2 dalam meningkatkan ROM servikal sindroma miofasial otot upper trapezius. Simpulan: Kombinasi Intervensi Integrated Neuromuscular Inhibition Technique dan ultrasound lebih baik daripada stretching metode Janda dan ultrasound dalam meningkatkan ROM servikal pada sindroma miofasial otot upper trapeziusKata Kunci: Sindroma miofasial, ROM servikal, integrated neuromuscular inhibition technique, stretching metode Janda, ultrasound
PELATIHAN SHOULDER GIRDLE DYNAMIC STABILIZATION LEBIH BAIK DARIPADA PELATIHAN PRONE SCAPULAR STABILIZATION DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL BAHU PASCA CEDERA SWIMMER SHOULDER PADA ATLET RENANG GAYA BEBAS DI KALIMANTAN BARAT Junaedi, Myranti Puspitaningtsya; Adiatmika, I Putu Gede; Lesmana, S. Indra; Tirtayasa, Ketut; Weta, I Wayan; -, Wahyuddin
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.1, Januari 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i01.p07

Abstract

ABSTRACTBackground: High duration of training performed by swimmers with dominant freestyle stroke, resulted in significant number of shoulder rotation movement. The presence of continous movement that occurs in the shoulder of swimmers can cause the risk of shoulder injury, known as swimmer?s shoulder. The presence of shoulder injuries among swimmers resulting a decrease in functional ability on the shoulder of swimmers. The training of shoulder girdle dynamic stabilization and prone scapular stabilization is a training that can be used to improve the functional ability among swimmers shoulders. Method: This study used randomized pre test and post test control group design. This study performed on 20 swimmers that diagnosed of swimmer shoulder injury which divided into 2 groups. Treatment Group was given shoulder girdle dynamic stabilization and Control Group was given prone scapular stabilization training. Shoulder functional ability was measured using SPADI and analized on each group. Result: This research showed that every functional training that was given to each sample groups giving an effect to improving shoulder functional ability post swimmer?s shoulder injury among swimmers. There are significant alteration in Treatment Group and Control Group from pre to post test, both was obtained (p< 0.001). There is significant difference from post test between Treatment Group and Control Group, came with (p=0.001). Conclusion: Shoulder girdle dynamic stabilization better than prone scapular stabilization training in improving the functional ability of the shoulder post swimmer shoulder injury among freestyle stroke swimmer athlete in West Kalimantan. Keywords: swimmer?s shoulder injury, shoulder girdle dynamic stabilization, prone scapular stabilization, SPADI
FARTLEK TRAINING LEBIH MENINGKATKAN DAYA TAHAN KARDIOVASKULER DARI PADA INTERVAL TRAINING PADA SISWA PUTRA PESERTA EKSTRAKURIKULER BOLA BASKET SMA NEGERI 1 SUKAWATI Mega Utama, Gusti Made Agung; Jawi, I Made; Ayu Dewi, Ni Nyoman; Weta, I Wayan; Muliarta, Made; Dwi Primayanti, I D A Inten
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.3, September 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i03.p03

Abstract

ABSTRACTBasketball is a big ball game that requires well cardiovascular endurance. Cardiovasculer endurance can be improved using interval training and fartlek training. This study aimed to determine the effect of interval training and fartlek training on cardiovascular endurance improvement. The study was a experimental that use randomized pretest posttest design group control that does in SMA Negeri 1 Sukawati. The sample of study was students of extracurricular basketball SMA Negeri 1 Sukawati, which were 22 students that divided into 2 groups. Both groups were given different training during 6 weeks with training frequency three times a week for one and a half months. The first group was given interval training and the second group was given fartlek training. Cardiovascular endurance was measured with a multistage fitness test (MFT). The result showed the mean of cardiovascular endurance between the groups after training was 41.66 ± 2.733 ml / kg / minute in the interval training group and was 48.92 ± 2.385 ml / kg / minute in the fartlek group. The cardiovascular endurance between both groups was significantly different (p<0.05), meaningful and have improvement. The conclusion is the interval training and fartlek training are able to improve cardiovascular endurance, however fartlek training is better than interval training in improving cardiovascular endurance. Therefore, it is advisable to use fartlek training to improve cardiovascular endurance for basketball players.Keywords: cardiovascular endurance, fartlek training, interval training
PENAMBAHAN NERVE STRETCHING LEBIH BAIK DIBANDINGKAN NERVE GLIDING SETELAH MC KENZIE EXERCISE DALAM MENURUNKAN GANGGUAN SENSORIK DAN MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS NERVUS ISCHIADICUS PADA HERNIA NUCLEUS PULPOSUS LUMBAL Nugroho, Fendy; Weta, I Wayan; -, Sugijanto; Griadhi, I Putu Adiartha; Satriyasa, Bagus Komang; Irfan, Muh.
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p12

Abstract

Sekitar 65%-80% manusia akan mengalami NPB pada suatu waktu selama hidupnya (lifetime prevalence), bahkan sebagai penyebab yang serius dan persistem untuk timbulnya nyeri dan disabilitas. Frekuensi paling sering terjadi pada usia pertengahan antara 45-65 tahun. Sekitar 95% HNP terjadi pada region lumbal segmen L4-L5 atau L5-S1, area lumbal ini adalah COG tubuh manusia. Proses degeneratif dan traumatik adalah penyebab utama HNP. Tujuan penelitian untuk membuktikan penambahan nerve stretching lebih baik dibandingkan nerve gliding setelah Mc Kenzie exercise dalam menurunkan gangguan sensorik dan meningkatkan fleksibilitas nervus ischiadicus pada kasus HNP lumbal. Penelitian ini dilakukan di RSU Aisyiyah Ponorogo selama 4 Minggu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan penelitian Randomized Pre and Post Test Group Design, subjek berjumlah 26 orang yang didapat dari populasi dan dibagi menjadi 2 Kelompok, masing-masing Kelompok 13 orang, Kelompok 1 diberikan perlakuan Nerve Stretching setelah Mc. Kenzie exercise sedangkan Kelompok 2 diberikan perlakuan nerve gliding setelah Mc. Kenzie exercise. Ke dua Kelompok diukur nilai gangguan sensorik berupa skor itensitas nyeri menggunakan NPRS-11 point dan nilai fleksibilitas berupa derajad lingkup SLR menggunakan universal goniometer. Hasil penelitan pada rerata selisih nilai intensitas nyeri Kelompok 1=5,85±0,555 dan Kelompok 2=4,92±0,760 dengan nilai p=0,002 (p=<0,05). Pada rerata selisih nilai lingkup SLR Kelompok 1=45,54±2,106 dan Kelompok 2=39,77±4,045 dengan nilai p=<0,001 (p=<0,05). Dapat disimpulkan bahwa penambahan nerve stretching lebih baik dibandingkan nerve gliding setelah Mc Kenzie exercise dalam menurunkan gangguan sensorik dan meningkatkan fleksibilitas nervus ischiadicus pada HNP lumbal.Kata Kunci : nerve stretching, nerve gliding, Mc kenzie, gangguan sensorik dan fleksibilitas HNP lumbal.
PENAMBAHAN GLUTE EXERCISE PADA TERAPI LATIHAN DASAR LEBIH MENINGKATKAN STABILITAS ANKLE PADA PENDERITA SPRAIN ANKLE KRONIS Syafrianto, Donal; Mangku Karmaya, Nyoman; Lesmana, S. Indra; Ngurah, Ida Bagus; Weta, I Wayan; Imron, Muh. Ali
Sport and Fitness Journal Volume 5, No.2, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic ankle sprain is an over stretch to the lateral ankle ligament complex on the motion inversion and plantar flexion. The weakness of the ligaments as a result of passive stability complaints of pain, chronic inflammation, impaired proprioceptive, until disorders of muscle activity ankle, knee and hip thus causing ankle instability. Chronic ankle sprain make ankle instability, which is accompanied by the reaction of the gluteus muscle strength decrease due to changes in muscle activation. Purpose: The purpose of this study was to prove whether the addition of glute exercise on the basis of exercise therapy further increase the stability of the ankle in case of chronic ankle sprain. Methods: The research method in this study is experimental design with pretest and posttest control group design. In this study, nine respondents were given basic training exercise therapy for 8 weeks with a frequency of exercise two times a week, and 9 respondents were given additional glute exercise therapy for 8 weeks of basic training exercise frequency 2 times a week. Measuring instrument used is the balance error scoring system (BESS). Results: Results of parametric statistical analysis with Paired sample t-test. Hypothesis test results show both treatment groups can significantly improve the stability of the ankle, before treatment in Group I with a mean of 23.67±5.408 and after treatment with a mean of 13.11 ± 3.887, and Prior Treatment in Group II 24.22 ± 4.024 and after treatment with a value of 8.89 ± 2.147 with p = 0.000 (p < 0.05). Different test by Independent sample t-test between the two groups was significant difference to the value of 10.56 ± 1.944 difference in Group I and Group II 15.22 ± 2.635 with p = 0.001 (p < 0.005). Conclusion: The conclusions of this research is the addition of glute exercise on the basis of exercise therapy further increase the stability of the ankle in patients with chronic ankle sprain.
PENAMBAHAN LATIHAN HIDROTERAPI PADA TERAPI BOBATH LEBIH MENINGKATKAN KECEPATAN BERJALAN PADA CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGI Wulandari, Rizky; Weta, I Wayan; Ali Imron, Moh.
Sport and Fitness Journal Volume 4, No. 1, 2016
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus Cerebral Palsy Spastik Diplegi secara statistik mengalamipeningkatan. Permasalahan yang muncul yaitu adanya abnormalitas tonus posturalyang berpengaruh pada kecepatan berjalan. Metode latihan yang sering digunakansampai saat ini adalah terapi Bobath. Akan tetapi beberapa penelitian dan studikasus membuktikan penambahan latihan Hidroterapi lebih meningkatkankecepatan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penambahan latihanhidroterapi pada terapi bobath lebih meningkatkan kecepatan berjalan padaCerebral Palsy Spastik Diplegi.Penelitian ini menggunakan metode eksperimentaldengan pre-test dan post-test control group design. Eksperimen ini dilaksanakandi Klinik Fisioterapi YPAC Surakarta. Sampel penelitian berjumlah 16 orangyang dibagi ke dalam 2 kelompok sampel yaitu 8 orang pada kelompok perlakuandan 8 orang pada kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberi penambahanlatihan Hidroterapi dan kelompok kontrol diberi terapi Bobath. Pelatihandilakukan 3 x per minggu selama 1 bulan. Alat ukur yang digunakan untukpengumpulan data yaitu dengan 10 metre walk test. 10 metre walk test digunakanuntuk mengukur kecepatan berjalan sejauh 10 meter baik sebelum intervensimaupun sesudah intervensi. Hasil penelitian hipotesis ini menggunakan uji pairedt test menunjukan kecepatan berjalan sebelum kelompok I sebelum perlakuan(20,01±2,23) dan setelah perlakuan (14,16±2,41) dengan p=0,000 (p<0,05) dankelompok II sebelum perlakuan (20,17±1,53) dan setelah perlakuan (18,08±2,00)dengan p=0,001 (p<0,05). Uji t test independent untuk menunjukan kecepatanberjalan antara sesudah perlakuan kelompok I dengan kelompok II. Padapengujian tersebut diperoleh hasil adanya peningkatan kecepatan berjalan sesudahintervensi pada kelompok I (14,16±2,41) yang dibandingkan dengan kelompok II(18,08±2,00) nilai p=0,003. Disimpulkan Terapi Bobath dan Latihan Hidroterapidapat meningkatkan kecepatan berjalan pada cerebral palsy spastic diplegi namunpenambahan latihan Hidroterapi pada terapi bobath secara signifikan lebihmeningkatkan kecepatan berjalan pada Cerebral Palsy Spastik Diplegi.