Articles

Found 9 Documents
Search

ANESTESI PADA MEDIASTINOSKOPI Wicaksono, Satrio Adi; Hendriarto, Hari; Jatmiko, Heru Dwi
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i1.6472

Abstract

Mediastinoskopi semakin banyak digunakan di pusat-pusat kesehatan. Mediastinoskopi merupakan tehnik minimal invasif untuk eksisi biopsi pada kanker paru-paru. Mediastinoskopi menyediakan akses ke limfonodi mediastinal dan digunakan untuk diagnosis atau resektabilitas keganasan intrathorakal. CT preoperatif penting untuk mengevaluasi dan bila terdapat kompresi trakhea. Mediastinoskopi menggunakan anestesi umum. Akses vena dengan kateter intravena diameter besar (14 hingga 16 gauge) diharuskan karena resiko perdarahan berlebihan dan kesulitan pengendalian perdarahan. Dan diharapkan dengan tinjauan diatas maka dapat dipahami bagaimana pengelolaan anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi mediastinoskopi
PERBANDINGAN KADAR SUBSTANSI P SERUM PADA PASIEN PRE DAN POST OPERASI TIROID YANG DIBERI ANALGETIK BUPIVAKAIN 0,25% DENGAN TEKNIK BILATERAL SUPERFICIAL CERVICAL PLEXUS BLOCK (BSCPB) Wicaksono, Satrio Adi; Harahap, C O; Sutiyono, Doso; Sasongko, Himawan; Limijadi, Edward Kurnia Setiawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.78 KB) | DOI: 10.14710/jai.v9i1.19822

Abstract

Latar belakang: Operasi tiroid dapat menyebabkan rasa sakit sehingga untuk mencegah masalah ini dengan berbagai modalitas, seperti anestesi regional bilateral superficial cervical plexus block (BSCPB) dengan menggunakan bupivakain 0,25% yang dikombinasikan dengan anestesi umum.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian klinis acak tersamar ganda dengan jumlah sampel 36 pasien. Sampel dibagi kedalam 2 kelompok yang diberikan anestesi regional melalui teknik BSCPB dengan kelompok perlakuan diberikan bupivakain 0,25% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberikan NaCl 0,9% terhadap kadar substansi P serum pre dan post operasi pada pasien yang menjalani operasi tiroid.Hasil: Data penelitian diperoleh subjek laki-laki sebanyak 7 (19,4%) orang dan subjek  perempuan  sebanyak  29  (80,6%)  orang. Data substansi P post operasi kelompok  control dibandingkan kelompok perlakuan  didapatkan perbedaan bermakna  (p = 0,001). Substansi P pre operasi dibandingkan substansi P post operasi kelompok perlakuan didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,004). Simpulan: Pemberian bupivakain konsentrasi 0,25% melalui teknik BSCPB terbukti menurunkan kadar substansi P serum post operasi.  
THE EFFECT OF PARACETAMOL AND CODEINE ANALGESIC COMBINATION ON SERUM GLUTAMIC OXALOACETATE TRANSAMINASE LEVELS IN MALE WISTAR RATS Hanifah, Rona Ayu; Ningrum, Farah Hendara; Kresnoadi, Erwin; Wicaksono, Satrio Adi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction : Paracetamol is an effective analgesic to relieve mild to moderate pain when it is used in therapeutic doses. Codeine is an opioid analgesic to relieve moderate to severe pain. Both are metabolized in the liver and have different mechanisms in the treatment of pain. The use of paracetamol and codeine as monotherapy has been extensive, but research on the effectiveness of these drugs in combination is still limited, especially about its effect in liver damage. This study was to investigate the effect of paracetamol and codeine analgesic combination Serum Glutamic Oxaloacetate Transaminase levels in male Wistar rats. Method : This was an experimental study using Post-Test Only Control Group Design. The samples were 24 male wistar rats randomized into 4 groups; group I (control group, without treatment), group II receiving paracetamol 32 mg/kgBB, group III receiving codeine 1,9 mg/kgBB, and group IV receiving combination of paracetamol 32 mg/kgBB and codeine 1,9 mg/kgBB. Drugs were administered through oral gastric instillation 4 times a day for 28 days. Blood samples were collected at the 29th day through retroorbital vessel to measure the SGOT levels. The data was analysed using One-Way ANOVA test and Post-Hoc test. Results : The results of this research were obtained from statistical tests where there was no significant increase of the levels of Serum Glutamic Oxaloacetate Transaminase of Wistar rats which received a combination of paracetamol and codeine in the control group (p = 0.005). While in the other group there was not significant differences of the levels of Serum Glutamic Oxaloacetate Transaminase. Conclusion : There is no significant difference of Serum Glutamic Oxaloacetate Transaminase levels between the administration of paracetamol and codeine combination compared to the control group.Keywords : Paracetamol, codeine, paracetamol and codeine combination, SGOT levels, pain
PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN DAN HEPARIN INTRAVENA SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP NILAI D-DIMER PADA PASIEN CRITICALL ILL DI ICU RSUP DR. KARIADI SEMARANG Wicaksono, Satrio Adi
Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien critical ill yang memiliki risiko tinggi perdarahan  masih  merupakan subyek perdebatan. Untuk itu kami ingin mengetahui efektifitas heparin sebagai profilaksis TVD dan pengaruh pemberiannya terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Tujuan : Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan heparin intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Metode : Dilakukan Uji klinik  pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU bid sebagai kelompok I (n=15) dan  heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok II (n=15) dengan membandingkan D-dimer pada pasien critical ill  di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Hasil : Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna pada kedua kelompok terhadap penurunan kadar D-dimer (p=0.05 dan p=0.00). Sedangkan pada perbandingan antara heparin SK dan heparin IV didapatkan hasil yang tidak bermakna pada pemeriksaan D-dimer (p=0.10)Simpulan : Pemberian heparin subkutan 5000 IU bid dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna  dapat menurunkan kadar D-dimer. Sedangkan pada perbandingan  heparin SK dan heparin IV pada nilai D-dimer didapatkan hasil yang tidak bermakna. Kata kunci : heparin, TVD, D-dimer
PENGARUH MELATONIN TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS Kumalasari, Diana; Wicaksono, Satrio Adi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Melatonin merupakan radikal bebas yang sering digunakan sebagai antioksidan. Melatonin merupakan salah satu obat yang sedang dikembangkan sebagai terapi sepsis. Toksisitas serius akibat pemberian melatonin tidak muncul pada pemakaian dosis tinggi. Sepsis menyebabkan peningkatan kadar asam laktat melalui glikolisis anaerob yang terjadi akibat hipoksia jaringan. Melatonin sangat efektif digunakan pada keadaan tersebut, dimana melatonin dapat menurunkan kadar asam laktat sehingga mencegah terjadinya kematian.Tujuan : Mengetahui pengaruh melatonin terhadap kadar asam laktat pada tikus wistar model sepsis dan memperoleh informasi tentang melatonin dalam menurunkan kadar asam laktat.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Control Group Pre-Post Test. Sampel adalah 12 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I sebagai kelompok kontrol diberi injeksi Lipopolisakarida (LPS) intraperitoneal dan tidak diberi melatonin. Kelompok II sebagai kelompok perlakuan diberi injeksi LPS intraperitoneal dan melatonin via sonde oral. Setelah tikus diadaptasi selama 7 hari, pada hari ke-8 tikus diinjeksi LPS pada kedua kelompok dan melatonin via sonde oral hanya pada kelompok perlakuan. Kemudian tiap tikus diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita dan diukur kadar asam laktatnya. Uji statistik menggunakan uji Paired t-Test, Independent t-Test dan Mann-Whitney Rank Test.Hasil : Pada uji Independent t-Test didapatkan nilai rerata kadar asam laktat pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding dengan kelompok perlakuan. Pada uji Paired t-Test tidak didapatkan perbedaan yang signifikan p > 0,05 pada kelompok kontrol maupun perlakuan kecuali pada post1-post 2 dan pre-post 2 yang memiliki perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol. Pada uji Mann-Whitney Rank Test juga tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada selisih pre ? post 1 dan selisih pre ? post 2.Kesimpulan : Pemberian melatonin tidak menyebabkan penurunan kadar asam laktat yang signifikan.
PENGARUH PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM DENGAN HEPARIN SUBKUTAN DAN INTRAVENA TERHADAP APTT DAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN KRITIS DI ICU RSUP DR. KARIADI SEMARANG Wicaksono, Satrio Adi; Pujo, Jati Listiyanto; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.169 KB) | DOI: 10.14710/jai.v4i3.6423

Abstract

Latar belakang: Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien kritis yang memiliki risiko tinggi perdarahan masih merupakan subyek perdebatan. Belum ada studi prospektif komparatif yang tegas menunjukkan efektivitas dan keamanan pemberian heparin subkutan sebagai profilaksis TVD pada pasien kritis di ICU.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai aPTT dan jumlah trombosit pada pasien kritis di ICU.Metode: Uji klinik dilakukan pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d sebagai kelompok SK (n=15) dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok IV (n=15) kemudian dibandingkan beberapa parameter koagulasi (D- dimer, aPTT dan trombosit) pada pasien kritis di ICU.Hasil: Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna penurunan kadar D-dimer pada kedua kelompok, kelompok SK 959.73(1127.539) (p=0.05) dan kelompok IV 1621.33(1041.654) (p=0.00). Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT, kelompok SK 0.032(0.5284) (p=0.815) dan kelompok IV 0.068(0.5718) (p=0.652). Perubahan jumlah trombosit didapatkan hasil tidak bermakna pada kelompok SK 413.3(51489.76) (p=0.815) sedangkan pada kelompok IV didapatkan perubahan yang bermakna dalam penurunan jumlah trombosit 30186.6(53488.86) (p=0.046).Simpulan: Pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna dapat menurunkan kadar D-dimer. Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT dan perubahan yang bermakna pada kelompok heparin IV dalam penurunan jumlah trombosit
KEJADIAN DROP FOOT SETELAH ANESTESI SPINAL Wicaksono, Satrio Adi; Priambodo, Bhimo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.627 KB) | DOI: 10.14710/jai.v11i1.23859

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi neurologi setelah prosedur anestesi spinal dapat disebabkan oleh cedera saraf secara langsung, hipotensi yang berat, henti jantung, masalah terkait peralatan, efek yang tidak diinginkan dari obat, pemberian obat yang tidak benar, dan kesalahan lokasi penyuntikan. Namun komplikasi neurologi serius yang disebabkan oleh anestesi regional jarang terjadi. Drop Foot merupakan salah satu komplikasi langsung dari cedera saraf.Kasus: Seorang wanita berusia 44 tahun telah dijadwalkan untuk operasi histerektomi. Pasien mengalami penurunan daya lihat, visus mata kanan 1/300 sedangkan mata kiri adalah 1/~. Melalui teknik aseptik, 25 G jarum spinal disuntikan di interspatium L3-L4. Ruang subarachnoid dicapai setelah beberapa kali suntikan. Setelah itu, bupivakain spinal 0,5% 20 mg diinjeksikan.Satu hari setelah operasi, pasien menyadari bahwa ia tidak mampu menggerakkan kaki kirinya dan kaki kanan normal. Kasus ini dikonsulkan ke bagian neurologi dan rehabilitasi medik dan akupuntur. Tiga minggu pascaoperasi kekuatan motorik skala 1, sensorik hampir kembali normal, sensasi panas di kulit hampir hilang. Setelah 4 minggu, sebagian kekuatan motorik telah pulih, 8 minggu kemudian pulih total.Pembahasan: Jenis dan luasnya cedera saraf dapat bervariasi sesuai dengan orientasi jarum. Ketika bevel sejajar dengan sumbu panjang saraf, jarum lebih mudah untuk melewati serabut saraf. Saat jarum menyilang ke serabut saraf, lukanya lebih besar. Beberapa gangguan sensorik dan kelemahan anggota gerak dapat berlangsung lebih dari satu tahun. Pemeriksaan konduksi saraf berguna untuk melokalisasi dan menilai cedera saraf. Tanda-tanda denervasi pada elektromiogram (EMG) setelah cedera saraf akut membutuhkan 18-21 hari untuk berkembang.Kesimpulan: Dalam kasus ini, komplikasi muncul segera setelah pemulihan dari anestesi spinal dan pasien mengalami pemulihan total setelah 2 bulan. Komplikasi neurologi ini muncul dan diterapi dengan kortikosteroid, obat anti inflamasi, dan akupunktur tanpa adanya efek samping.
REVITALISASI MATA PENCAHARIAN DI LAHAN GAMBUT: KERAJINAN ANYAMAN DARI PURUN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK USAHA BERKELANJUTAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (OKI), SUMATERA SELATAN Goib, Bunga Karnisa; Fitriani, Nadia; Wicaksono, Satrio Adi; Yazid, Muhammad; Adriani, Dessy
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2019.16.1.67-87

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk memahami potensi dari kegiatan menganyam purun sebagai usaha berkelanjutan yang dapat mendukung restorasi gambut di Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan usaha anyaman purun dan potensi pasar anyaman sebagai produk hijau. Penelitian dilaksanakan dengan metode kualitatif dan kuantitatif melalui wawancara mendalam dan survei. Wawancara mendalam dilakukan dengan para tokoh yang berperan dalam industri usaha anyaman purun (pengambil tanaman purun, penganyam, dan pedagang) di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan beserta para pengambil kebijakan. Survei daring dan intercept digunakan untuk uji kondisi dan peluang pasar terhadap produk anyaman purun, terutama jika diproyeksikan sebagai produk hijau. Permasalahan yang teridentifikasi terkait dengan usaha anyaman purun adalah terbatasnya akses dan pengetahuan pasar pengrajin, ketidakstabilan persediaan bahan baku tanaman purun, keterbatasan akses pendanaan pengrajin, serta kualitas produk yang masih rendah. Hasil uji potensi pasar menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden bersedia untuk membayar anyaman berlabel hijau lebih tinggi dibandingkan dengan anyaman biasa. Kesenjangan antara kondisi di lapangan dan uji pasar dapat diperkecil dengan mengembangkan penyesuaian kebijakan terhadap rawa gambut yang ada, meningkatkan akses pembiayaan mikro, serta melakukan pengembangan kapasitas spesifik terhadap para pengrajin. Sebagai tambahan, diperlukan strategi pemasaran yang sesuai untuk mendukung keberlanjutan usaha anyaman purun.
PENGARUH MELATONIN TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS Riani, Rizqi Indah; Wicaksono, Satrio Adi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Melatonin merupakan radikal bebas yang sering digunakan sebagai antioksidan. Melatonin berperan dalam meningkatkan respon imun, dan membantu proses sitoprotektif. Dalam beberapa model hewan, melatonin telah diidentifikasi untuk membantu melawan infeksi yang disebabkan bakteri, virus, dan parasit dengan melalui berbagai mekanisme, seperti immunomodulasi atau aktivitas antioksidan. Melatonin dapat mengurangi kadar sitokin inflamasi, stress oksidatif dan disfungsi mitokondria. Melatonin merupakan salah satu obat yang dikembangkan sebagai terapi sepsis.Tujuan Mengetahui pengaruh melatonin terhadap jumlah leukosit pada tikus wistar model sepsis dan memperoleh informasi melatonin dapat menurunkan jumlah leukosit.Metode Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan randomized control grup pre post test . Sampel adalah 12 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberi injeksi intraperitoneal lipopolisakarida (LPS) dan tidak diberi melatonin sebagai kelompok kontrol, sedangkan kelompok II diberi injeksi intraperitoneal lipopolisakarida (LPS) sebagai kelompok perlakuan dan diberi melatonin via sonde oral sebagai kelompok perlakuan. Setelah adaptasi tikus selama seminggu, pada hari ke 8 tikus diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita. Uji statistik menggunakan uji paired t-test, independent t-test dan Mann Whitney Test.Hasil Pada uji independent test didapatkan nilai rerata jumlah leukosit pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok perlakuan. Pada uji paired t-test kelompok kontrol mengalami perubahan yang signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang menunjukkan hasil yang tidak bermakna. Pada uji Mann Whitney Test didapatkan hasil kelompok kontrol selisih pre? post1 dan post 2 mengalami peningkatan yang signifikan. Sedangkan pada kelompok perlakuan selisih pre LPS ? post1 dan post2 (p<0,05) mengalami penurunan yang signifikan.Kesimpulan Pemberian melatonin tidak menyebabkan penurunan jumlah leukosit yang signifikan.