Articles

Found 37 Documents
Search

Analisis Biaya Terapi pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Rawat Inap di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Tahun 2016 Astuti, Windi; Widodo, Gunawan Pamudji; Herowati, Rina
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 15 No 1 (2018): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.364 KB)

Abstract

Infeksi saluran kemih adalah salah satu penyakit infeksi yang terjadi akibat adanyamikroorganisme dalam urin. Infeksi saluran kemih pembiayaannya diatur dalam tarif INA-CBG’s.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian biaya riil dengan tarif INA-CBG’s padapasien JKN rawat inap penyakit infeksi saluran kemih di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun2016.Penelitian ini merupakan observasional dengan menggunakan rancangan penelitiancross sectional. Metode pengambilan data secara retrospektif. Data dianalisis untuk melihatpola pengobatan pasien selama menjalani rawat inap, untuk mencari selisih biaya riil dengantarif INA-CBG’s menggunakan uji one sample t-test, dan untuk melihat faktor yang berhubungandengan biaya riil menggunakan uji korelasi bivariat.Hasil penelitian menunjukkan pola pengobatan pasien infeksi saluran kemihmenggunakan antibiotik Ceftriaxone (40,8%), Cefixime (7,1%), Ceftazidime (10,2%),Ciprofloxacin (26,5%), Levofloxacin (9,2%), Amoxicillin (3,1%), Ampicillin (1,0%), danGentamicin (2,0%). Analisis biaya rill dengan tarif INA-CBG’s terdapat perbedaan antara biayariil dengan tarif INA-CBG’s pada pasien JKN rawat inap penyakit infeksi saluran kemih.Perbedaan ini menunjukkan selisih yang positif, dimana total biaya riil lebih rendahdibandingkan tarif INA-CBG’s. Faktor yang behubungan dengan biaya riil pengobatan infeksisaluran kemih adalah LOS (Length of Stay), diagnosa sekunder, dan tingkat keparahan.
EVALUASI TINGKAT KESESUAIAN STANDAR AKREDITASI TERHADAP PELAYANAN FARMASI DAN STRATEGI PERBAIKAN DENGAN METODE HANLON DI RSUD KABUPATEN BIMA Bimmaharyanto.s, Dedent Eka; Fudholi, Achmad; Widodo, Gunawan Pamudji
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.19 KB)

Abstract

Getting maximal service represent dream all society especially receiver of service of  the hospital  including in pharmacy installation. Patient got many problems because service not yet fulfilled standard. To fulfill requirement of patient, pharmacy installation have to this research accredit  to know storey level according to seven accreditation standard to service of pharmacy in RSUD Sub Province Bima and repair strategy with Hanlon method.  This Research use instrument of quizioner  Depkes and special informan interview counted 15 informan and people lock counted 3 people. Subject at this research is all officer in concerned and have important role in pharmacy Installation RSUD Sub Province Bima. Conducted by assessment seven standard  later then compared to between informan with result of observation,  afterwards analyzed by strategy development by using Hanlon method. Result of Research of show there are difference of result assessment of standard accredit between officer of pharmacy Installation that is ( 58,75%) with research that is  ( 55%). From seventh of accreditation standard, nothing that fulfill accreditation standard (< 60%), result  strategy development with Hanlon method is Facility and equipments, repair of facilities and basic facilities of Pharmacy administration  management and, immediately do function KFT . Evaluation and quality control, require to make pharmacy program written  and also SK about meeting schedule .Philosophy   and  target, SK about policy of pharmacy service  from  Hospital head. Policy and procedure, making SOP and policy written  about management of provisions of pharmacy . Development of education program and staff,  done by education program and periodical training in IFRS. STAF and head, existence of staff pharmacy performance evaluation and orientation to officer of Installation Pharmacy
Antimalarial activity of ethyl acetate extract of Garcinia dulcis kurz stem bark Widodo, Gunawan Pamudji; Rahayu, Mamik Ponco
INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 21 No 4, 2010
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.562 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp225-229

Abstract

In-vivo antimalarial activity of ethyl acetate extract of Garcinia dulcis Kurz stem  bark  have  been  evaluated  against  Plasmodium  berghei  induced  mice. Antimalarial  test  was  conducted  by  paracitemia  investigation  and  leucocyte counting  of  paracite  induced  mice  blood,  after  oral  administration  of  Garcinia dulcis  stem  bark  extract  dose  of  25  mg,  50  mg,  as  well  as  75  mg/kg  bw.  The highest  antiplasmodial  activity  and  decresing  of  leucocyte  amount  was  showedby  extract  of  dose  of  50  mg/kg  bw.  The  compounds  identified  in  ethyl  acetate extract  of  Garcinia  dulcis  stem  bark  were  flavonoid,  saponin  and  tannin.  The compounds that have antimalarial activity weren’t yet known.Keywords: antimalarial, Garcinia dulcis Kurz, stem bark, paracitemia
EVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN STRATEGI PERBAIKAN DENGAN METODE HANLON DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT TAHUN 2012 R., Wirdah Wati; Fudholi, Achmad; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.223

Abstract

Pengelolaan obat merupakan suatu siklus manajemen obat yang meliputi empat tahap yaitu seleksi, perencanaan dan pengadaan, distribusi dan penggunaan, Pengelolaan obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSUD Karel Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara dengan menggunakan indikator efisiensi dan dilakukan strategi perbaikan dengan metode Hanlon. Penelitian menggunakan rancangan diskriptif untuk data tahun 2012 yang bersifat retrospektif dan concurent.  Data dikumpulkan berupa data kuantitatif dan kualitatif dari pengamatan dokumen serta wawancara dengan petugas IFRS terkait. Seluruh tahap pengelolaan obat di IFRSUD Karel  Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara diukur tingkat efisiensi mengunakan indikator DepKes dan WHO, kemudian dibandingkan dengan standar atau hasil penelitian lainnya dan selanjutnya diolah serta deskripsikan berdasarkan analisis prioritas rencana tindakan dengan Metode Hanlon. Hasil penelitian didapatkan sistem pengelolaan obat yang sesuai standar sebagai berikut: kesesuaian DOEN (77,56%), persentase modal/dana (100%), kecocokan kartu stock obat (100%), rata-rata waktu melayani resep, resep obat generik (96,52%), persentase label obat (100%).Tahapan yang belum sesuai standar yaitu: kesesuaian perencanaan obat dengan kenyataan (72,73%), persentase alokasi dana (6,51%), frekuensi pengadaan tiap item  obat 1 kali sedangkan menurut EOQ 2 kali, nilai ITOR (5,77 kali), tingkat ketersediaan obat (7,28 hari), persentase nilai obat kadaluwarsa/rusak (2,21%), persentase stock mati (5%), jumlah item obat tiap lembar resep (3,23), persentase resep yang tidak terlayani (13,84%).Prioritas penanganan masalah sebagai berikut: 1) membentuk Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dan menyusun formularium, serta melakukan monitoring dan evaluasi  pengelolaan obat 2) mengusulkan kenaikan anggaran, 3) melakukan analisis ABC-VEN, 4) mengintegrasikan SOP tentang perbekalan farmasi, 5) menerapkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) pengelolaan obat. Kata kunci: pengelolaan obat, indikator efisiensi, Instalasi Farmasi RSUD Karel Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara, metodeHanlon
Aktivitas Antidiabetika Kombinasi Fraksi Etil Asetat Buah Pare (Momordica charantia L.) dan Rimpang Zamzani, Irfan; Nugroho, Agung Endro; Widodo, Gunawan Pamudji
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v9i2.575

Abstract

Diabetes Mellitus type 2 can be caused by the resistance of tissue towards insulin accompanied by relative deficiency in insulin secretion. Insulin resistance factor can result from obesity. This research aims to investigate anti- diabetic activity of the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and bitter melon (Momordica charantia L.). Subjects of this research were 40 albino Wistar rats (Rattus norvegicus) aged 5-8 weeks. The rats were randomly grouped into 8 experimental groups in which each group consisted of'5 rats. The tested animals were divided into 6 groups, KG) metformin 45 mg/Kg BB, P1: FEA curcuma 10 mg/ 200g BB, P2: FEA bitter melon 04 mg/ 200g BB, P3: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 5 : 0,8 mg/200g BB, P4: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 10 : 04 mg/200g BB, and P5: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon (20 : 02mg9/200g BB). The animals were inducted with insulin resistance with the giving of HFD-fructose. Result showed that the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and FEA of bitter melon (Momordica charantia L.) had the activity of lowering blood glucose level: the best anti-diabetic activity was identified in the compound of FEA of curcuma and FEA of bitter melon at the dose of 20: 0,2m9g/200g BB in the rats with HFD- fructose.Diabetes Mellitus type 2 can be caused by the resistance of tissue towards insulin accompanied by relative deficiency in insulin secretion. Insulin resistance factor can result from obesity. This research aims to investigate anti- diabetic activity of the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and bitter melon (Momordica charantia L.). Subjects of this research were 40 albino Wistar rats (Rattus norvegicus) aged 5-8 weeks. The rats were randomly grouped into 8 experimental groups in which each group consisted of'5 rats. The tested animals were divided into 6 groups, KG) metformin 45 mg/Kg BB, P1: FEA curcuma 10 mg/ 200g BB, P2: FEA bitter melon 04 mg/ 200g BB, P3: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 5 : 0,8 mg/200g BB, P4: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 10 : 04 mg/200g BB, and P5: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon (20 : 02mg9/200g BB). The animals were inducted with insulin resistance with the giving of HFD-fructose. Result showed that the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and FEA of bitter melon (Momordica charantia L.) had the activity of lowering blood glucose level: the best anti-diabetic activity was identified in the compound of FEA of curcuma and FEA of bitter melon at the dose of 20: 0,2m9g/200g BB in the rats with HFD- fructose.Diabetes Mellitus type 2 can be caused by the resistance of tissue towards insulin accompanied by relative deficiency in insulin secretion. Insulin resistance factor can result from obesity. This research aims to investigate anti- diabetic activity of the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and bitter melon (Momordica charantia L.). Subjects of this research were 40 albino Wistar rats (Rattus norvegicus) aged 5-8 weeks. The rats were randomly grouped into 8 experimental groups in which each group consisted of'5 rats. The tested animals were divided into 6 groups, KG) metformin 45 mg/Kg BB, P1: FEA curcuma 10 mg/ 200g BB, P2: FEA bitter melon 04 mg/ 200g BB, P3: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 5 : 0,8 mg/200g BB, P4: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon 10 : 04 mg/200g BB, and P5: Compound of FEA curcuma : FEA bitter melon (20 : 02mg9/200g BB). The animals were inducted with insulin resistance with the giving of HFD-fructose. Result showed that the compound of FEA of curcuma (Curcuma domestica Val) and FEA of bitter melon (Momordica charantia L.) had the activity of lowering blood glucose level: the best anti-diabetic activity was identified in the compound of FEA of curcuma and FEA of bitter melon at the dose of 20: 0,2m9g/200g BB in the rats with HFD- fructose.
COST OF ILLNESS PASIEN KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF DR R.D KANDOU MANADO Manawan, Fridly; Widodo, Gunawan Pamudji; Andayani, Tri Murti
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.2.2.2019.26532

Abstract

ABSTRACTBreast cancer still became priority concern in developed country, but 69% the dead incident came from developing country. Many of them been diagnose at advance stage, that make treatment and cost more higly. The objectives of this study were to know the burden cost of breast cancer patient in Prof Dr Kandou Medical Center Manado based on hospital perspective, the difference between the real cost and the INA-CBG?s cost, and the key factors that might drive the burden of the real cost of breast cancer. The study was a pharmacoeconomics analys based on hospital perspective to direct medical cost, using non-experimental analysis with cross-sectional design. Data restropectively collect from breast cancer inpatient registered as member of National Health Insurance (JKN) during September 2017-August 2018 period and from financial department of Prof Dr Kandou Medical Center Manado. The sample was used 329 episode of treatment. the data being analyzed using one sample t-test to compare the congruence between the real cost and INA-CBG?s cost. Multivariat linear regression Analysis to find the various predictor factors that might affect on the real cost. The result of the study showed that the average of the real cost per episode of treatment in chemotherapy patient with C-14-3 code was Rp. 13.806.325, treatment in breast procedure with L-1-50 code was Rp. 24.306.626, and treatment for breast tumor with L-4-11 code was Rp. 11.989.772. The difference value between INA-CBG?s and the real cost was Rp. -668.973.281 for 183 breast cancer patient. The congruence value between the real cost and the INA-CBG?s cost generally significantly different except for C-4-13-II, L-1-50-III and L-4-11-I. Based on multivariat linier regression analysis, severity level, :LOS, and treatment care was the factors that affect the real cost. Keywords : Cost of illness, INA-CBG?s, Breast Cancer, Prof. Dr. R.D Kandou Medical Center Hospital Manado ABSTRAKKasus kanker payudara memang menjadi permasalahan penting di negara maju, namun 69% angka kematian terjadi di negara berkembang. Kebanyakan kasus kanker payudara ditemukan berada pada stadium lanjut, dimana menyebabkan upaya dan nilai biaya pengobatan semakin besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya terapi penyakit kanker payudara di RSUP Prof Dr Kandou Manado berdasarkan perspektif rumah sakit, mengetahui perbedaan antara tarif rumah sakit dengan tarif paket INA-CBGs pada perawatan pasien kanker payudara, dan mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap besarnya biaya terapi penyakit kanker payudara. Penelitian ini merupakan analisis farmakoekonomi berdasarkan perspektif rumah sakit terhadap biaya medis langsung, berupa penelitian analitik noneksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional. Data diambil secara retrospektif dari pasien rawat inap kanker payudara peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) selama periode September 2017-Agustus 2018 dan dari bagian keuangan di RSUP Prof Kandou Manado. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 329 episode perawatan. Analisis data dilakukan dengan one sample t-test untuk membandingkan total biaya riil dengan tarif INA-CBGs. Analisis korelasi multivariat regresi linier untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi total biaya riil. Hasil penelitian pasien rawat inap peserta JKN di RSUP Prof Dr Kandou Manado periode September 2017 ? Agustus 2018 menunjukkan rata-rata biaya riil pasien kemoterapi per episode perawatan dengan kode C-4-13 sebesar Rp. 13.806.325, tindakan pada payudara dengan kode L-1-50 sebesar Rp. 24.306.626 dan tumor payudara dengan kode L-4-11 sebesar Rp. 11.989.772. Selisih tarif INA-CBG?s dengan total biaya riil adalah sebesar Rp.-668.973.281 untuk total 183 pasien. Kesesuaian total biaya riil dengan tarif INA-CBG?s menggunakan one sample t-test secara umum berbeda bermakna, kecuali pada kode C-4-13-II, L-1-50-III dan L-4-11-I. Berdasarkan analisis korelasi multivariat regresi linier, Faktor tingkat keparahan, LOS dan kelas perawatan mempengaruhi total biaya riil. Kata kunci: Cost of illness, INA-CBG?s, Kanker payudara, Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R.D. Kandou Manado
STRATEGI PENGEMBANGAN INSTALASI FARMASI BERBASIS EVALUASI AKREDITASI MANAJEMEN PENGGUNAAN OBAT (MPO) RUMAH SAKIT Noval, Noval; Oetari, R.A.; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.344

Abstract

Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang dan merupakan pendapatan utama rumah sakit, dengan kontribusi 90% pelayanan kesehatan merupakan perbekalan farmasi. Banyaknya kesalahan dalam pemberian obat menyebabkan kejadian tidak diharapkan, rumah sakit perlu memperhatikan akreditasi instalasi farmasi dari segi manajemen penggunaan obat (MPO). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesesuaian pelayanan farmasi terhadap tujuh standar akreditasi MPO dan strategi pengembangannya dengan metode hanlon berdasarkan standar akreditasi rumah sakit tentang MPO di Instalasi Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian non eksperimental, data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan februari sampai bulan maret tahun 2016. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner penilaian diri sendiri dan wawancara kepada staf instalasi farmasi rumah sakit yang terlibat berdasarkan tujuh standar MPO. Strategi pengembangan untuk penyelesaian masalah elemen penilaian menggunakan analisis prioritas masalah dengan metode Hanlon. Hasil penelitian tingkat kesesuaian pelayanan farmasi terhadap standar akreditasi MPO adalah MPO1 organisasi dan manajemen sebesar 98,71%, MPO2 seleksi dan pengadaan 98,26%, MPO3 penyimpanan 98,37%, MPO4 pemesanan dan pencatatan 97,83%, MPO5 persiapan dan penyaluran 96,37%, MPO6 pemberian 98,82%, dan MPO7 pemantauan 94,10%. Dari 24 elemen penilaian standar MPO yang dilakukan ada 7 yang belum memenuhi standar maksimal dan memiliki kekurangan. Analisis prioritas masalah elemen penilaian menggunakan metode Hanlon, prioritas secara berturut-turut pertama elemen penilaian MPO6.P3 identifikasi petugas untuk memberikan obat, MPO7.P2 monitoring efek obat, MPO4.P2 identifikasi petugas kompeten, MPO1.P4 pelayanan penggunaan informasi obat, MPO3.P1 penyimpanan produk nutrisi, MPO5.P3 penyiapan produk steril, dan terakhir MPO7.P3 pencatatan atau pelaporan obat yang tidak diharapkan dalam status pasien.
PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP KUALITAS HIDUP DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT SEBAGAI VARIABEL ANTARA PADA PASIEN DM Yuwindry, Iwan; Wiedyaningsih, Chairun; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.353

Abstract

Pengetahuan tentang DM sangat penting untuk pasien DM. Pengetahuan akan mempengaruhi kepatuhan penggunaan obat dalam penerapan manajemen DM untuk mengontrol kadar gula darah mereka dan mencegah komplikasi kronik sehingga meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan carasurvey selama 3 bulan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner Diabetes Knowlegde Questionnaire(DKQ 24), New  8 item  Self   Report  Morinsky  Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan Quality of Life (WHOQOL) –BREF.Sampel ditetapkan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 34.Pemberian kuesioner kepada responden dilakukan pendampingan dalam pengisiannya.Data jawaban responden direkapitulasi dan dihitung skor masing-masing kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis jalur (Path Analisis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 31,6%. Tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan penggunaan obat sebesar 25,1%. Kepatuhan penggunaan obat pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 75,2%. Kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara meningkatkan pengaruh tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 terhadap kualitas hidup dari 24% menjadi 29%. 
ANALISIS PENGENDALIAN OBAT SITOSTATIKA DENGAN METODE EOQ DAN ROP Ercis, Ercis; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.194

Abstract

Tingginya jumlah pasien dan mahalnya harga obat sitostatika menjadikan obat sitostatika membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaanya di di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Efisiensi biaya untuk meningkatkan ketersediaan obat sitostatika dapat dilakukan melalui pengendalian dengan metode EOQ dan  ROP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan  menganalisis pengendalian obat sitostatika dengan metode EOQ dan ROP di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini  menggunakan metode komparatif non eksperimental dengan pengambilan data obat sitostatika secara retrospektif tahun 2012. Data diperoleh melalui pengamatan langsung dan dari  dokumentasi Instalasi Farmasi, bagian keuangan, dan bagian logistik. Data dianalisis untuk mengetahui efisiensi biaya obat sitostatika dengan menggunakan metode EOQ dan ROP. Hasil penelitian selanjutnya diuji dengan menggunakan Paired-Sampel t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2012 pengendalian obat  sitostatika menggunakan metode analisis EOQ diketahui dapat meningkatkan efisiensi biaya hingga sebesar Rp.224.845.245 atau 73% dari total cost kenyataan sebesar Rp.306.956.410 dalam  pengendalian persediaan obat. Analisis ROP menunjukkan bahwa obat sitostatika dapat dilakukan pemesanan kembali dan diketahui pada setiap item obat sitostatika memiliki ROP bervariasi.Kata Kunci: pengendalian, sitostatika, metode EOQ, metode ROP
STRATEGI PENGEMBANGAN INSTALASI FARMASI BERBASIS EVALUASI AKREDITASI MANAJEMEN PENGGUNAAN OBAT (MPO) RUMAH SAKIT Noval, Noval; Oetari, R.A.; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.162 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.344

Abstract

Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang dan merupakan pendapatan utama rumah sakit, dengan kontribusi 90% pelayanan kesehatan merupakan perbekalan farmasi. Banyaknya kesalahan dalam pemberian obat menyebabkan kejadian tidak diharapkan, rumah sakit perlu memperhatikan akreditasi instalasi farmasi dari segi manajemen penggunaan obat (MPO). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesesuaian pelayanan farmasi terhadap tujuh standar akreditasi MPO dan strategi pengembangannya dengan metode hanlon berdasarkan standar akreditasi rumah sakit tentang MPO di Instalasi Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian non eksperimental, data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan februari sampai bulan maret tahun 2016. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner penilaian diri sendiri dan wawancara kepada staf instalasi farmasi rumah sakit yang terlibat berdasarkan tujuh standar MPO. Strategi pengembangan untuk penyelesaian masalah elemen penilaian menggunakan analisis prioritas masalah dengan metode Hanlon. Hasil penelitian tingkat kesesuaian pelayanan farmasi terhadap standar akreditasi MPO adalah MPO1 organisasi dan manajemen sebesar 98,71%, MPO2 seleksi dan pengadaan 98,26%, MPO3 penyimpanan 98,37%, MPO4 pemesanan dan pencatatan 97,83%, MPO5 persiapan dan penyaluran 96,37%, MPO6 pemberian 98,82%, dan MPO7 pemantauan 94,10%. Dari 24 elemen penilaian standar MPO yang dilakukan ada 7 yang belum memenuhi standar maksimal dan memiliki kekurangan. Analisis prioritas masalah elemen penilaian menggunakan metode Hanlon, prioritas secara berturut-turut pertama elemen penilaian MPO6.P3 identifikasi petugas untuk memberikan obat, MPO7.P2 monitoring efek obat, MPO4.P2 identifikasi petugas kompeten, MPO1.P4 pelayanan penggunaan informasi obat, MPO3.P1 penyimpanan produk nutrisi, MPO5.P3 penyiapan produk steril, dan terakhir MPO7.P3 pencatatan atau pelaporan obat yang tidak diharapkan dalam status pasien.