Tjhin Wiguna
Faculty of Medicine Universitas of Indonesia Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

RISK FACTORS FOR DELAYED SPEECH IN CHILDREN AGED 1-2 YEARS Tan, Sabrina; Mangunatmadja, Irawan; Wiguna, Tjhin
Paediatrica Indonesiana Vol 59 No 2 (2019): March 2019
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.063 KB) | DOI: 10.14238/pi59.2.2019.55-62

Abstract

Background Speech delay is one of the most common developmental delays in children. To minimize the negative outcomes of speech delay, risk factors should be explored to help in early patient diagnosis. Objectives To assess for associations between delayed speech in children aged 1 to 2 years and possible risk factors including gender, gestational age, birth weight, asphyxia during birth, head circumference, anterior fontanelle closure, gross motor development, duration of breastfeeding, caregiver identity, number of siblings, exposure to gadgets and television, and social interaction. Methods Parents of children aged 1 to 2 years who were treated at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, and Klinik Anakku, Pondok Pinang in Jakarta from January 2018 to March 2018 were interviewed. Data were processed with SPSS Statistics for Mac and analyzed by Chi-square test and logistic regression method. Results Of 126 subjects, 63 children had speech delay and 63 children had normal speech development. Multivariate analysis revealed that the significant risk factors for delayed speech were delayed gross motor development (OR 9.607; 95%CI 3.403 to 27.122; P<0.001), exclusive breastfeeding for less than 6 months (OR 3.278; 95%CI 1.244 to 8.637; P=0.016), and exposure to gadgets and television for more than 2 hours daily (OR 8.286; 95%CI 2.555 to 26.871; P<0.001). Conclusion Delayed gross motor development, exclusive breastfeeding for less than 6 months, media exposure for more than 2 hours daily, and poor social interaction are risk factors for delayed speech development in children.
Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta Wiguna, Tjhin; Manengkei, Paul Samuel Kris; Pamela, Christa; Rheza, Agung Muhammad; Hapsari, Windy Atika
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.992 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.270-7

Abstract

Latar belakang. Anak dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk mengalamihendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar dan sosialisasi. Masalah tersebutseringkali sulit dikenali oleh orangtua sehingga anak dengan masalah ini datang berobat dalam kondisiyang cukup berat.Tujuan. Untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak merekapada saat berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM Jakarta selama periode November2009–Mei 2010.Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari catatan medik anak dan remaja diPoliklinik Anak dan Remaja RSCM, selama periode November 2009 – Mei 2010. Kriteria inklusi adalah,catatan medik lengkap mengenai data anak beserta orangtuanya, dan kuesioner Strength and DifficultiesQuestionaire (SDQ) diisi dengan lengkap.Hasil. Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang sudahditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh persen dari seluruh subjek penelitian berada pada usiakurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi terbesaradalah masalah hubungan dengan teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%.Kesimpulan. Masalah teman sebaya dan emosi merupakan masalah yang terbesar yang dijumpai pada pasienanak dan remaja yang datang berobat ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM. Perlu dipertimbangkanuntuk menerapkan suatu program keterampilan sosial di masyarakat atau sekolah sehingga diharapkandapat menurunkan masalah ini di kemudian hari.
Uji Diagnostik Working Memory Rating Scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia dan Proporsi Anak Sekolah Dasar dengan Kesulitan Belajar GDQHÀVLWWorking Memorydi Jakarta Wiguna, Tjhin; WR, Noorhana Setyawati; Kaligis, Fransiska
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.191-7

Abstract

Latar belakang.Kesulitan belajar merupakan masalah tersering ditemukan pada anak dan remaja. Penelitian terakhir menunjukkan hubungan antara kesulitan belajar dan defisit working memory, namun sampai saat ini penentuan defisit working memorymasih sulit dilakukan. Tujuan.Mendapatkan alat ukur working memoryyang sahih dan andal bagi guru di sekolah dasar dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu, penelitian kami juga bermaksud mengidentifikasi besar proporsi anak dengan kesulitan belajar dan defisit working memorydi Jakarta. Metode.Penelitian uji diagnostik dan potong lintang; (1) uji diagnostik working memory rating scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia. Sembilanpuluh sembilan anak dari 5 sekolah dasar yang dipilih secara acak proporsional; (2) Studi potong lintang untuk mendapatkan proporsi anak dengan kesulitan belajar yang disertai dan tanpa disertai defisit working memorydi wilayah Jakarta. Empatratus duapuluh tiga anak dari 27 sekolah dasar di Jakarta yang dipilih secara acak proporsional. Hasil.Titik potong WMRS versi Bahasa Indonesia pada kelompok usia 6–9 tahun, T score> 60 adalah 20 danT score>70 adalah 30 (sensitivitas 0,161 dan spesifisitas 0,674). Pada kelompok usia 10–12 tahun, T score>60 adalah 29 dan T score>70 adalah 42 (sensitivitas 0,186 dan spesifisitas 0,929). Dari 423 anak usia sekolah dasar dengan usia rerata 9,34 (1,78) yang diikutsertakan, didapat 104 (24,6%) anak yang mengalami kesulitan belajar. Usia rerata anak dengan kesulitan belajar 9,58 (1,76). Proporsi anak sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar murni dengan defisit workingmemory 8,04% dengan usia rerata 9,82 (1,79). Kesimpulan.Working memory rating scale(WMRS) versi Bahasa Indonesia spesifik dalam menilai defisit working memorypada anak sekolah dasar dengan kesulitan belajar. Proporsi kesulitan belajar pada anak sekolah dasar dan defisit working memorycukup besar dan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar kualitas anak dapat ditingkatkan
Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar Soedjatmiko, Soedjatmiko; Nurhamzah, Waldi; Maureen, Anastasia; Wiguna, Tjhin
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.174-80

Abstract

Latar belakang. Prevalensi bullying pada anak SD di Indonesia belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran dan prevalensi bullying, pemahaman pelajar mengenai istilah bullying, hubungan antara status bullying dengan masalah emosi, dan perilaku serta prestasi akademis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pelajar SD kelas V usia 9-11 tahun di SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa pada bulan Oktober 2011. Bullying dinilai menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dimodifikasi, sedangkan masalah emosi dan perilaku dideteksi menggunakan self-report Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Prestasi akademis dinilai berdasarkan nilai rapor tengah semester.Hasil. Penelitian dilakukan pada 76 subyek dan didapatkan prevalensi bullying 89,5%. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pada subyek yang terlibat dalam bullying. Sebagian besar subyek yang terlibat bullying berusia >9 tahun. Subyek dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung menjadi korban, sedangkan subyek dengan status sosio-ekonomi menengah dan tinggi cenderung menjadi korban sekaligus pelaku. Tipe bullying tersering adalah fisik. Pelaku bullying terbanyak adalah teman sebaya. Bullying paling sering terjadi di ruang kelas pada waktu istirahat sekolah. Dampak bullying jangka pendek tersering yang dialami korban adalah perasaan sedih. Sebagian besar korban melaporkan bullying yang dialaminya kepada orang lain. Hanya 22% subyek yang mengetahui istilah bullying dengan tepat. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.Kesimpulan. Prevalensi bullying pada murid kelas V SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa 89,5%. Pemahaman tentang istilah bullying pada anak SD di Jakarta Pusat rendah. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.
Hubungan antara Kadar Seng dalam Serum dengan Fungsi Eksekutif pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Lintuuran, Rivo Mario Warouw; Wiguna, Tjhin; Amir, Nurmiati; Kusumawardhani, Agung
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.58 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.285-91

Abstract

Latar belakang. Belum ada hubungan yang jelas antara kadar seng serum dengan gangguan fungsi eksekutif pada anak dengan GPPH.Tujuan. Mengidentifikasi perbedaan rerata kadar seng dalam serum anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, anak non-GPPH, serta mendapatkan korelasi antara kadar seng dalam serum dengan fungsi eksekutif.Metode. Penelitian potong-lintang yang disertai dengan kelompok kontrol. Dari dua sekolah dasar di Jakarta, secara acak diambil 90 anak sebagai subjek penelitian yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu anak GPPH dengan gangguan (n=30) dan tanpa gangguan (n=30) fungsi eksekutif, serta non-GPPH (n=30). Kadar seng serum diperiksa dengan metode ICP-MS di Laboratorium Prodia Jakarta. Fungsi eksekutif didapatkan melalui kuesioner BRIEF versi Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan SPPS for Windows versi 20.Hasil. Dari seluruh subjek penelitian, 75% mengalami defisiensi seng. Kadar seng tidak normal terdapat pada 60% anak GPPH dengan gangguan fungsi eksekutif. Rerata serum seng pada kelompok anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, serta non-GPPH berturut-turut 59,40, 55,36, dan 52,93 μg/dL. Tidak dijumpai perbedaan rerata seng di antara tiga kelompok tersebut (p=0,119). Koefisien korelasi antara kadar seng serum dengan fungsi eksekutif adalah r=0,128.Kesimpulan. Kadar seng serum diduga tidak berhubungan secara langsung dengan gangguan fungsi eksekutif, tetapi lebih berhubungan dengan gejala klinis GPPH yang menyerupai beberapa gejala gangguan fungsi eksekutif
Hubungan Rerata Kadar Feritin dalam Serum dengan Gejala Klinik Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas Berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI) Agustina, Citra Fitri; Nasrun, Martina Wiwie Setiawan; Wiguna, Tjhin; Widyawati, Ika
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.173-7

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan gangguan psikiatrik paling banyak pada anak, dengan prevalensi 26,2% di Jakarta. Serum feritin, diduga, memengaruhi patofisiologi GPPH terkait dengan aktivitas dopaminergik.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH serta mengetahui adakah perbedaan kadar feritin pada anak GPPH dan bukan GPPH.Metode. Desain penelitian potong lintang, membandingkan 47 anak GPPH dan 47 anak sehat sebagai kontrol yang berusia 7-12 tahun (usia rerata 9,09± 1,29). Uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH. Pemeriksaan serum feritin menggunakan metode Electrochemiluminescent Immuno Assay (ECLIA). Diagnosis GPPH ditegakkan dengan MINI KID, sedangkan gejala klinis GPPH dinilai berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI).Hasil. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar feritin dengan gejala klinis GPPH, koefisien korelasi 0,108 (p>0,05). Rerata kadar feritin anak GPPH adalah 38,7 ng/mL (median), yang tidak berbeda bermakna dengan kontrol (median 28 ng/mL).Kesimpulan. Tidak terbukti adanya hubungan antara feritin dengan gejala klinis GPPH. Masih diperlukan studi lebih lanjut untuk melihat peran feritin melalui dopamin pada GPPH.
The Importance of Parent – Infant Bonding towards Infant Mood Regulation Wiguna, Tjhin
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.478-84

Abstract

Bonding atau ikatan emosi antara orangtua dan anak usia di bawah tiga tahun ( anak usia batita) merupakan suatu ikatan timbalbalik yang sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Teori yang berkaitan dengan bonding ini sudah dijelaskan sejakbeberapa dekade yang lalu namun peran dalam praktik klinik masih dirasakan terbatas. Bonding sudah mulai terbentuk sejak bayidalam kandungan dan berlangsung terus sampai beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu setiap gangguan yang terjadi sejak masakandungan sampai dengan lahirnya anak dapat mengganggu proses keseimbangan ikatan orangtua – anak usia batita ini, sehinggaberdampak dalam proses perkembangan dan regulasi emosi anak. Klaus dan Kennell menyatakan bahwa ikatan antara ibu – anak usiabatita ini dapat berlangsung optimal jika bayi dan ibu dipersatukan sedini mungkin segera setelah lahir. Disregulasi mood pada anakusia batita merupakan salah satu contoh adanya gangguan keseimbangan ikatan ibu – anak usia batita; kondisi tersebut membuatanak usia batita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dirinya terhadap berbagai jenis perasaan dan rangsangan yang berkaitandengan pengalaman emosionalnya, terutama dalam kaitan dengan pengalaman emosional yang bersifat negatif. Disregulasi mood yangtidak tertangani cenderung membuat pertumbuhan bayi terganggu dan dapat berdampak terhadap terjadi nya ganggal tumbuh darianak tersebut, dan tentunya juga mengakibatkan terganggunya perkembangan anak. Oleh karena itu, deteksi dini dari permasalahanikatan ibu – anak usia batita ini sangat penting dikenali sehingga intervensi dini dapat diberikan dalam usaha untuk mencapaipertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal serta perbaikan derajat kesehatan ibu pada umumnya terutama dalam kaitandengan kesehatan jiwa ibu.
Does 20 mg long-acting methylphenidate alter blood pressure and heart rate in children with ADHD? Wiguna, Tjhin; Wibisono, Sasanto; Sastroasmoro, Sudigdo; Suyatna, Fransiscus D.
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 5 (2011): September 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.677 KB) | DOI: 10.14238/pi51.5.2011.282-7

Abstract

Objective To identify the cardiovascular effects of long-acting methylphenidate administered for twelve weeks in Indonesian children with ADHD.Methods This was an 18-week, time series study on children with ADHD who were given 20 mg of long-acting methylphenidate for twelve weeks. During the study period we made ten serial observations of the subjects, including before, during and 6 weeks following drug administration. We included drug naive children with ADHD between the ages of 7 – 10 years. Children with mental retardation and chronic physical or mental disorders were excluded. Blood pressure was measured by sphygmomanometer with a child’s cuff at the brachial artery. We also collected data on heart rate, side effects, complaints and other medications used during the study. Repeated analysis was performed on the data with a P level of 0.05.Results Twenty-one subjects were recruited for this study. Mean blood pressure fluctuated insignificantly during the research period, for both mean systolic and mean diastolic blood pressures (P=0.115 and P=0.059). Mean heart rate also fluctuated insignificantly (P=0.091). All fluctuations were within the normal ranges. During the study, there were complaints of dizziness, nausea, and gastrointestinal upset, but they were reportedly mild and disappeared before the second week of observation.Conclusion Administration of 20 mg long-acting methylphenidate for twelve weeks in children with ADHD altered mean blood pressures and heart rates, but within the normal range for children of their age. However, cardiovascular risk observation is still needed when administering methylphenidate to children with ADHD, especially for those using the medication long-term.[Paediatr Indones. 2011;51:282-7].
Evidence based case report: Pyridoxine supplementation in children with pervasive developmental disorders Darmaputri, Sekarpramita; Wiguna, Tjhin
Paediatrica Indonesiana Vol 54 No 3 (2014): May 2014
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.524 KB) | DOI: 10.14238/pi54.3.2014.186-92

Abstract

Pervasive developmental disorders (PDD)is defined as a neurodevelopmental disorder,c haract erized by social withdrawal,communication deficits, and repetitivebehaviors. PDD include autistic disorder, Rett'ssyndrome, childhood disintegrative disorder, Asperger' ssyndrome, and pervasive developmental disorder nototherwise specified or atypical autism.1 Update ofepidemiological studies published between 1966 and2006 show reports of estimated prevalence for autismhas varied between 3 .31 and 86 children per 10,000, 2and predominantly occurs in males than females(male:female ratio = 4: 1) .3There is a hypothesis that behavioral problemsin children with pervasive developmental disorderare highly associated with the neurotransmitterimbalances. Therefore, psychotropic medications (eg.atypical antipsychotics, selective serotonin reuptakeinhibitors, and psychostimulants), which work ondopamine and serotonin receptors, are the FDAapprovedmedications for PDD.4 On the other hands,the use of novel, unconventional, and/or off- labeltreatments associated with the n eurotransmitterspathway for children with POD is increasing andmore common.
The Association Between Psychopathology Ans Quality Of Life In Burn Patients At Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta Winanda, Rizki Aniza; Kusumadewi, Irmia; Wardhana, Aditya; Wiguna, Tjhin; Raharjanti, Natalia Widiasih
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 4 No 2 (2017): July - December Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.638 KB) | DOI: 10.14228/jpr.v4i2.235

Abstract

Background : Burns result in severe injuries that cause damage or loss of tissue due to contact with sources of heat resulting in injuries to all body systems. Injuries of the skin, which functions as a barrier to protect internal organs, may cause patients to experience damage to one's physical appearance and body image causing negative feelings that may lead to other problems such as psychopathology and symptoms of mental illness. Method : A cross sectional study with consecutive sampling method of burn patients who were treated at the Plastic Surgery Outpatient Clinic and Burn Unit of RSCM was conducted between April-May 2017. Subjects were asked to fill in self-report questionnaires including patient identity form, SRQ-20 (cutoff point ≥6) for presence of psychopathology, and WHOQoL-BREF to obtain mean scores of quality of life that include four domains of physical, psychological, social, and environment assessment. Data collected was analyzed using correlation analysis. Result : 56 burn patients were included in the study. 30.4% did not work and 48.2% had very low income per month. 67.9% patients experienced burns due to fire and 44.6% had burns 10-30% of the TBSA with a majority of patients (80.4%) experiencing a combination of second & third degree burns. Based on the analysis, 57.1% of patients had a form of psychopathology and low mean scores of quality life (physical domain 48.1, psychological domain 51.5). Significant negative correlations (p ≤ 0.05) were obtained between the psychological domain and symptoms of depression, anxiety, low energy; physical domain and low energy; and social domain with anxiety. Conclusion: This study obtained significant results to identify the correlation between psychopathology and various domains of quality of life affected.