Noor Wijayahadi
Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK KLOROFIL DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA, LINN.) TERHADAP KADAR AST DAN ALT SERUM Damayanti, Kusmadewi Eka; Wijayahadi, Noor; Puruhita, Niken
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.446 KB) | DOI: 10.14710/jgi.4.1.63-66

Abstract

Background: Pharmacological therapy is one of the therapy modalities which carries the hepatic injury as one of its side effects. Nowadays, curcuma tablets has become choice of hepatoprotector. Other substance which has the possibilities of hepatoprotection activities is chlorophyll. The study is aimed to investigate the effect of papaya leaves chlorophyll extracts towards the serum AST and serum ALT levels on high-dose-paracetamol-induced Wistar rats. Materials and methods: This was an experimental study applying pretest-posttest controlled group design. Twenty eight Wistar rats 8-12 weeks age and weighted 185-220 grams assigned into four groups, namely group I (control), group II (paracetamol 750 mg/kg bw + no hepatoprotector agent), group III (paracetamol 750 mg/kg bw + curcuma 100 mg/kg bw), and group IV (paracetamol 750 mg/kg bw + papaya leaves chlorophyll extracts 300 mg/kg bw). The hepatoprotector agents were administered for a week, while the high dose paracetamol was administered for three consecutive days (day 5, 6, and 7). The pretest samples were drawn on the fifth day before the administration of high dose paracetamol, and the posttest samples were drawn on eightth day. Results: There were no difference among four groups on serum AST and serum ALT levels before the administration of high dose paracetamol, p=0.522 dan p=0.682, respectively. After the administration of high dose paracetamol, there were differences among four groups on both variables, both p=0.000. The post-hoc test showed that differences happened on all four groups (p<0.05).Conclusion: Chlorophyll extract of papaya leaves can inhibit liver injury on high-dose-paracetamol-induced-Wistar rats. 
PENGARUH EKSTRAK BUAH NAGA DAGING MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP BERAT BADAN, INDEKS FAGOSITOSIS MAKROFAG DAN PRODUKSI NITRIT OKSIDA MAKROFAG (STUDI PADA MENCIT BALB/C YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM) Kusdalinah, Kusdalinah; Johan, Andrew; Wijayahadi, Noor
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.684 KB) | DOI: 10.14710/jgi.2.2.73-77

Abstract

Background: Salmonella typhimurium has ability to avoid the phagosome and escape from the trap-free in cytoplasm.Macrophage was activated to phagocyte microbe and produced microbicidal agent nitric oxide (NO).Polyphenolic compounds are proved as an immunomodulatory agent.Hylocereus polyrhizus contains high level of polyphenols and thus increases appetite.Objective: Proving the effects various doses (6 mg, 12 mg, and 24 mg/20 g mice?s weight) of Hylocereus polyrhizus extract to increase weight, increase macrophage phagocytosis and NO production of macrophage.Methods:True experiment research for fourteen day on males BALB/c mice, post-test only controlled group design.The treatment groups were  a dose of 6 mg/day (X1), 12 mg/day (X2), and 24 mg/day (X3), whereas the control group (K) was not given the extract of Hylocereus polyrhizus.All treatment and control groups were infected by Salmonella typhimurium intraperitoneally 105 CFU in tenth day.Results: Weight in the treatment group was higher than the control group (p=0.037). Index of macrophage phagocytosis was higher in the treatment group compared to the control group but it was not significant (p=0.154). Macrophage NO production was higher in the treatment group compared to the control group but was not significant (p=0.332).Conclusion: Weight increased significantly.Increasing of macrophage phagocytosis index and macrophage NO production were not significant.
PENGARUH PEMBERIAN RAMUAN EKSTRAK PRODUK X SEBAGAI ANALGESIK PADA MENCIT Willianto, Hizkia Christian; Wijayahadi, Noor
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Produk X merupakan produk kesehatan terbuat dari bahan-bahan herbal alami. Produk X diformulasikan dari: Languatis rhizoma (Laos), Zingiberis aromaticae (Jahe), Retrofracti fructus (Cabe Jawa), Curcuma rhizoma (Temulawak). Bahan-bahan yang terkandung dalam Produk X dipercaya memiliki efek sebagai pereda nyeri.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian ramuan ekstrak Produk X sebagai analgesik pada mencit.Metode : Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post-test only control group design. 24 mencit Balb/c dewasa jantan dibagi 6 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol negatif (K1) diberi aquades, kelompok kontrol positif (K2) diberi 1,3 mg/20 gram BB Aspirin peroral, kelompok perlakuan 1 (P1) diberi 0,1 mL ekstrak produk X peroral, kelompok perlakuan 2 (P2) diberi 0,35 mL ekstrak produk X peroral. Setelah 30 menit, semua mencit diinjeksi dengan 0,1 mL larutan asam asetat 1 % intraperitoneal kemudian diletakkan pada tempat uji hewan. Masing-masing mencit pada tiap kelompok dihitung jumlah geliatnya setiap 15 menit selama 30 menit.Hasil : Rerata jumlah geliat yang didapatkan pada 15 menit I adalah 6,33 ± 2,73(K1), 3 ± 2,61(K2), 4,17 ± 1,6(P1), 0,17 ± 0,41(P2); pada 15 menit II adalah 5,5 ± 4,43(K1), 1,67 ±2,25(K2), 2,5 ± 3,39(P1), 0(P2). Dengan uji Mann Whitney pada jumlah geliat pada 15 menit I didapatkan perbedaan bermakna antara P2 dengan K1 (p=0,003), P2 dengan K2 (p=0,004), P2 dengan P1 (p=0,003); pada 15 menit II didapatkan perbedaan bermakna antara P2 dengan K1 (p=0,002), P2 dengan K2 (p=0,022), P2 dengan P1 (p=0,022).Kesimpulan : Terdapat pengaruh pemberian ramuan ekstrak Produk X sebagai analgesik pada mencit.
UJI TOKSISITAS AKUT RAMUAN EKSTRAK PRODUK X TERHADAP PERUBAHAN MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS HEPAR TIKUS SPRAGUE DAWLEY Nofrian, Rifki Adhi; Wijayahadi, Noor
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: : Ramuan ekstrak produk X merupakan obat tradisional yang dipercaya memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang telah lama digunakan masyarakat untuk menanggulangi masalah nyeri rematik, menyegarkan tubuh dan sebagainya. Ramuan ekstrak produk X dimetabolisme oleh hepar.Tujuan: Untuk mengetahui ada atau tidaknya efek pemberian ramuan ekstrak produk X pada tikus Sprague Dawley yang diberikan secara akut terhadap makroskopis dan mikroskopis hepar.Metode: Penelitian true eksperimental dengan rancangan post-test only group design. Sampel berupa 30 tikus Sprague Dawley betina yang dibagi secara acak menjadi enam kelompok. K merupakan kelompok kontrol yang hanya diberi akuades. P1, P2, P3, P4, P5 adalah kelompok perlakuan yang diberi ekstrak produk X 5 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB, 5000 mg/kgBB. Pemberian ekstrak dilakukan per oral melalui sonde pada hari ke 1. Pada hari ke-8 dilakukan terminasi, hepar diambil dan diamati gambaran morfologi dan mikroskopisnya. Data makroskopis dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis sedangkan data mikroskopis dianalisis dengan uji One Way Annova.Hasil:. Uji Kruskall Wallis terhadap gambaran morfologi markoskopis hepar dan berat hepar tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dengan nilai p=1,00 dan  (p=0,051). Rerata skor perubahan histopatologi tertinggi pada kelompok P3. Skor yang dinilai meliputi perubahan berupa degenerasi albumin, degenerasi hidropik dan nekrosis. Dengan uji Anova tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,122).Kesimpulan: Pemberian ramuan ekstrak produk X secara akut menunjukkan gambaran makroskopis hepar normal dari tikus Sprague Dawley. Pada pemberian dengan dosis 5 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB, 5000 mg/kgBB tidak menunjukkan perubahan jumlah kerusakan sel hepar tikus Sprague Dawley.
STFR SEBAGAI FAKTOR RISIKO BANGKITAN KEJANG DEMAM Khanis, Abdul; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 3 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.316 KB)

Abstract

sTfR parameter as a risk factor of febrile seizuresBackground: Febrile seizures is the most often neurologic disorder in children and 2%-5% children under 5 years old have experienced febrile seizures. Prognosis of febrile seizures is good, however the seizure brings serious worries to the parents. Iron deficiency as a risk factor of febrile seizures is still controversial.Objective: To analyze iron deficiency with serum transferrin receptor (sTfR) parameter as a risk factor of febrile seizures in children.Method: Study design was case control with subjects 72 children aged 3 months ? 5 years in Dr. Kariadi hospital on August 2009 ? January 2010, 36 children with febrile seizures as case group and 36 children with febrile with no seizure as control group. Clinical data and blood sampling were recorded from study subjects for sTfR level measurement. Risk factors were analyzed with odds ratio (95% confidence interval) and multivariate logistic regression.Results: Mean sTfR level was 6.2 ?g/mL (2.6-6.8) in case group and 2.0 ?g/mL (1.8-2.3) in control group. Multivariate analysis showed iron deficiency with sTfR parameter was significantly as a risk factor for febrile seizures (p<0.001; OR=25.1; 95%CI 5.1-122.6). sTfR level could be used as febrile seizures indicator with sTfR level cut-off point was 2.55 ?g/ml. Conclusion: sTfR parameter can be used is a risk factor for febrile seizures. ABSTRAKLatar belakang: Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak dan 2%-5% anak di bawah umur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun cukup mengkhawatirkan bagi orang tuanya. Defisiensi besi sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam masih kontroversial. Tujuan penelitian ini menganalisis defisiensi besi dengan parameter serum transferrin receptor (sTfR) sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak.Metode: Penelitian kasus kontrol ini dengan subyek penelitian 72 anak berumur 3 bulan sampai 5 tahun di RSUP Dr. Kariadi pada Agustus 2009 ? Januari 2010, 36 anak kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan 36 anak kelompok kontrol dengan demam tanpa kejang. Subyek penelitian dicatat data klinis dan pengambilan darah untuk diperiksa kadar sTfR. Faktor risiko dianalisis dengan rasio odds (95% interval kepercayaan) dan multivariat regresi logistik.Hasil: Rerata kadar sTfR pada kelompok kasus 6,2 ?g/mL (2,6-6,8) dan kelompok kontrol 2,0 ?g/mL (1,8-2,3). Analisis multivariat menunjukkan defisiensi besi dengan parameter sTfR secara bermakna merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam (p<0,001; OR=25,1; 95%CI 5,1-122,6). Kadar sTfR dapat dipergunakan sebagai indikator bangkitan kejang demam dengan cut-off point kadar sTfR adalah 2,55 ?g/mL.Simpulan: Parameter sTfR merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam.
PENGARUH EKSTRAK LENGKUAS MERAH (ALPINIA GALANGA) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP EKSPRESI CASPASE 3 DAN GRADING KANKER PAYUDARA MENCIT C3H Karlowee, Vega; Tjahjono, Tjahjono; Wijayahadi, Noor
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 2 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.075 KB)

Abstract

Effect of oral administered graded doses of alpinia galanga on the caspase 3 expression and histopathological grading of breast cancer in C3H miceBackground: 1?-Acetoxychavicol Acetate (ACA), in Alpinia galanga, known to have pro apoptotic and anticancer effects. The pro apoptotic effect is by elevating caspase 8 and 9 activity. ACA causes the cycle cell stops at G0/G1 phase. The aim of this study is to prove the effect on caspase 3 and histopathological grading of breast cancer.Method: It was an laboratory experimental with post test only control group design. Four groups of C3H mice, aged 2-3 months, had breast cancer inoculation. After the tumor mass were palpabled, K received no extract, P1, P2, P3 received Alpinia galanga extract at dose levels of 225, 450, 750 mg/kgBW/day, for 2 weeks. Immunohistochemistry examination of caspase 3 expression was scored with Allred criteria and cancer grading was scored with modified Scarff-Bloom-Richardson (MSBR) criteria. All data were analyzed by Kruskal-Wallis test, with level of significant ? <0.05.Result: At P1, P2, P3 there were 1, 5, 7 mice dead in each group before termination, while in K all were survived. Pro protocol analysis showed no significance difference on caspase 3 expression (p=0.137) and grading score (p=0.399) between groups. Intention to treat analysis showed significance differences on caspase 3 expression between P1 with K (p=0.033) and P3 (p=0.005), and significance difference on grading score between P3 with K (p=0.002) and P1 (p=0.004). Histopathology examination showed damages on liver and kidney, especially in P3, which might be the mice?s cause of death.Conclusion: Caspase 3 expression is the highest at dose level of 225 mg/kgBW/day. Grading score is the lowest at dose level of 750 mg/kgBW/day.ABSTRAKLatar belakang: Senyawa 1?-Acetoxychavicol Acetate (ACA) dalam Alpinia galanga memiliki efek proapoptosis dan antikanker. Efek proapoptosis melalui aktivasi caspase 8 dan 9. ACA menyebabkan terhentinya siklus sel fase G0/G1. Tujuan penelititan ini adalah membuktikan adanya efek terhadap caspase 3 dan grading kanker payudara.Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan desain post test only control group. Mencit C3H usia 2?3 bulan dibagi 4 kelompok, diinokulasi kanker payudara. Setelah tumbuh massa tumor, kontrol (K) tidak diberi perlakuan dan P1, P2, P3 diberi ekstrak Alpinia galanga dosis 225, 450, 750 mg/kgBB/hari selama 2 minggu. Penilaian ekspresi caspase 3 berdasarkan kriteria Allred dan grading kanker berdasarkan kriteria modified Scarff-Bloom-Richardson (MSBR). Dilakukan uji beda Kruskal-Wallis dengan tingkat kemaknaan ? <0,05. Hasil: Pada P1, P2, P3, didapatkan kematian mencit sebanyak 1, 5, dan 7 ekor, sedangkan K tidak ada. Dalam pro protocol analysis, tidak ada perbedaan bermakna ekspresi caspase 3 (p=0,137) maupun grading kanker (p=0,399) antar kelompok. Pada intention to treat analysis ekspresi caspase 3, ada perbedaan bermakna antara P1 dengan K (p=0,033) dan P3 (p=0,005). Pada grading kanker payudara, ada perbedaan bermakna antara P3 dengan K (p=0,002) dan P1 (p=0,004). Pada histopatologis organ, ditemukan kerusakan hati dan ginjal, terutama pada P3, yang kemungkinan mengakibatkan kematian mencit.Kesimpulan: Skor ekspresi caspase 3 kanker payudara tertinggi didapatkan pada dosis 225 mg/kgBB/hari. Skor grading kanker payudara terendah didapatkan pada dosis 750 mg/kgBB/hari.
PENGARUH EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA) TERHADAP GAMBARAN MIKROSKOPIS GINJAL TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ETANOL DAN SOFT DRINK Ninditya K., Devi; Miranti, Ika Pawitra; Wijayahadi, Noor
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Etanol dan soft drink telah dikonsumsi secara luas di dunia. Etanol dapat mengubah struktur dan fungsi ginjal dengan perubahan struktur glomerulus, pembesaran ginjal dan meningkatnya jumlah sel-sel lemak, protein dan air. Begitu juga dengan soft drink yang dapat mengakibatkan perdarahan intertubuler dan kongesti glomeruler. Daun kersen memiliki potensi dalam menangkal radikal bebas sebagai antioksidan eksogen. Daun kersen diharapkan memiliki efek protektif pada ginjal.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) terhadap gambaran mikroskopis ginjal tikus Wistar jantan yang diinduksi etanol dan soft drink.Metode : Penelitian eksperimental dengan Post Test-Only Control Group Design. Sampel terdiri dari 30 tikus Wistar jantan yang terbagi menjadi 5 kelompok. Kelompok K diberi pakan standar. Kelompok P1 diberi etanol 40% sebesar 1,8 ml/200g/hari. Kelompok P2 diberi soft drink 50 ml/tikus/hari. Kelompok P3 diberi ekstrak daun kersen 500 mg/kgBB 60 menit sebelum pemberian etanol. Kelompok P4 diberi ekstrak daun kersen 500 mg/kgBB 60 menit sebelum pemberian soft drink. Setelah intervensi selama 30 hari, dilakukan pembuatan preparat ginjal dan pemeriksaan gambaran mikroskopis. Uji analisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil : Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan bermakna pada seluruh kelompok dengan nilai p=0,002. Hasil uji Mann-Whitney memberikan perbedaan yang bermakna pada K-P1 (p=0,006), K-P2 (p=0,032), P1-P3 (p=0,006), P2-P4 (p=0,019), P1-P4 (p=0,004) tetapi perbedaan tidak bermakna pada K-P3 (p=0,229), K-P4 (p=1,000), P1-P2 (p=0,312), P2-P3(p=0,075), P3-P4 (p=0,171).Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) 500 mg/kgBB menurunkan jumlah kerusakan tubulus tikus Wistar jantan yang diinduksi etanol dan soft drink.
Pengaruh Probiotik pada Diare Akut: Penelitian dengan 3 Preparat Probiotik Shinta, Ken; Hartantyo, Hartantyo; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.89-95

Abstract

Latar belakang.Probiotik diketahui memiliki dampak yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik mengurangi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun, produksi substansi antimikroba dan menghambat pertumbuhan kuman patogen penyebab diare. Probiotik dengan galur spesifik efektif menurunkan frekuensi dan durasi diare.Tujuan.Membuktikan efektifitas suplementasi probiotik tunggal maupun kombinasi pada anak dengan diare akut. Metode. Uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap pasien diare akut usia 6-24 bulan dengan diare akut di RS Dr. Kariadi Semarang periode Juli 2010 - Februari 2011. Subyek dibagi dalam 3 kelompok perlakuan(kelompok 1 perlakuan L.reuteri, kelompok 2 perlakuan L.acidophilus-LGG, kelompok 3 perlakuan L.acidophilus-Blongum-S.faecium) dan kelompok 4 dengan plasebo. Probiotik diberikan selama 5 hari dalam bentuk bubuk. Setiap kelompok mendapat terapi standar berupa rehidrasi dan dietetik. Diamati rekuensi dan durasi diare perhari. Uji statistik dengan menggunakan One Way Anova.Hasil. Dari 84 anak yang ikut dalam penelitian, rerata durasi diare lebih pendek pada kelompok L.reuteri (37,4±14,4) jam danL.acidophilus-LGG (38,6±19,6) jam dibanding kelompok 3 galur probiotik dan kontrol (p=0,002).Rerata frekuensi diare menurun pada kelompok L.reuteri(5,6±2,9 kali danL.acidophilus-LGG(6,9±8,4) kali dibanding dengan kelompok 3 galur probiotik dan kontrol (p=0,02).Kesimpulan.Probiotik L. reuteridanL.acidophilus-LGGefektif menurunkan durasi dan frekuensi diare. Probiotik dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada anak dengan diare akut.
Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak Fuadi, Fuadi; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.142-9

Abstract

Latar belakang. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dansangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahansedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibusaat hamil), dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitankejang demam pada anak.Metode. Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari pasien yang berobat diRS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Pasien kejang demam sebagai kelompokkasus 82 anak dan demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol 82 anak. Pengambilan data dari catatanmedik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah. Analisis data dengantes chi square dan uji multivariat regresi logistik.Hasil. Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demamyaitu faktor demam lebih dari 39oC dan faktor usia kurang 2 tahun.Kesimpulan. Demam lebih dari 39oC dan usia kurang dari 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitankejang demam.
Korelasi Kadar Seng Serum dan Bangkitan Kejang Demam Iva-Yuana, Iva-Yuana; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.150-6

Abstract

Latar belakang. Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak. Sekitar 2%-5% anak di bawahumur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun mengkhawatirkanorang tua. Penelitian tentang hubungan kadar seng serum dengan bangkitan kejang demam belum banyakdilakukan.Tujuan. Membuktikan korelasi kadar seng serum dan bangkitan kejang demam.Metode. Penelitian kasus kontrol dengan subyek penelitian anak berumur 3 bulan-5 tahun di RS Dr.Kariadipada April 2009–Maret 2010, kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan kelompok kontroldengan demam tanpa kejang. Kadar seng serum diperiksa di laboratorium GAKI FK UNDIP denganmetode atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan uji Chi-square, korelasi Spearman,dan analisis determinan.Hasil. Subyek penelitian 72 pasien, 36 kelompok kasus dan 36 kelompok kontrol. Rerata kadar seng kelompokkasus 111,73 􀁍g/mL dan kelompok kontrol 114,56 􀁍g/mL (p=0,33). Tidak terdapat korelasi antara kadarseng serum dengan bangkitan kejang demam (r=0.114;p>0,05). Analisis determinan menunjukkan urutanbesarnya kontribusi faktor genetik (0,548), infeksi berulang (0,493), riwayat penyulit kehamilan-persalinan(0,364), suhu (0,309), gangguan perkembangan otak (0.141), kadar seng serum (-0,102), umur (-0,041)dengan confusion matrix 81,9% untuk prediksi.Kesimpulan. Rerata kadar seng serum pada bangkitan kejang demam lebih rendah dibanding tanpa kejangdemam, namun tidak bermakna. Tidak terdapat korelasi antara kadar seng serum dengan bangkitan kejangdemam. Kadar seng serum bersama faktor genetik, infeksi berulang, penyulit dalam kehamilan maupunpersalinan, suhu badan, gangguan perkembangan otak, dan umur dapat digunakan sebagai prediktorbangkitan kejang demam meskipun memiliki peranan kecil.