Articles

Found 11 Documents
Search

ANTIPROLIFERATIVE ACTIVITY OF OCTADECA-8,10,12-TRIYNOIC ACID AGAINST HUMAN CANCER CELL LINES [Antiproliferasi Asam Oktadeka-8,10,12-triunoat Terhadap Galur Sel Kanker Manusia] Winarno, Hendig
BERITA BIOLOGI Vol 9, No 4 (2009)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.129 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v9i4.2003

Abstract

Antiproliferative activity test of octadeca-8,10,12-triynoic acid isolated from parasitic plant Scurrula airopurpurea (Bl.) Dans,against four kinds of human cancer cell lines, i.e: HeLa (human cervix epitheloid carcinoma),leukemia THP1,(human peripheral blood acute monocyte).carcinoma A549 (human lung carcinoma) and lymphoma HUT78 (human cutaneous T-cell lymphoma)was carried out.The results showed that octadeca-8.10,12-triynoic acid exhibits the antiproliterative activity against four kinds of human cancer cell lines with the 1C5I, value of 0.66. 0.86, 0.99 and 2.36 mg/nil for HeLa.leukemia THP1, lung carcinoma A549,and lymphoma HUT78,respectively, lower than 4 mg/ml. which is the antiproliferative activity threshold for pure isolate or compound.
RAPID ISOMERIZATION OF ALKYNOL BY POTASSIUM AMINOPROPYLAMIDE REAGENT Winarno, Hendig
Indonesian Journal of Chemistry Vol 7, No 3 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.419 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21676

Abstract

Terminal alkynol (w-alkynol) is an intermediate compound in synthesis of a potent anticancer agent, namely C-16 alkynic fatty acid. For synthesis of this intermediate compound, it is needed to synthesize the appropriate internal alkynol, namely 2-nonyn-1-ol (10), 2-undecyn-1-ol (11), and 2-heptyn-1-ol (12), subsequently to convert these internal alkynol into terminal alkynol, namely 8-nonyn-1-ol (7), 10-undecyn-1-ol (8), and 6-heptyn-1-ol (9), an isomerization reaction was needed. Based on the method which developed by ABRAMS by using potassium 3-aminopropylamide (KAPA) reagent, the isomerization reaction could be done within 5 minutes in 93-94% yield.   Keywords : Isomerization, KAPA reagent, alkynol.
BENZOPHENONE GLUCOSIDE ISOLATED FROM THE ETHYL ACETATE EXTRACT OF THE BARK OF MAHKOTA DEWA [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] AND ITS INHIBITORY ACTIVITY ON LEUKEMIA L1210 CELL LINE Winarno, Hendig; Katrin W, Ermin
Indonesian Journal of Chemistry Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.193 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21576

Abstract

Isolation and elucidation of benzophenone glucoside from ethyl acetate extract of Phaleria macrocarpa bark and its inhibitory activity test against leukemia L1210 cell line have been done. The Phaleria macrocarpa bark were macerated using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol, respectively. The ethyl acetate extract was then chromatographed on silica gel column and gradiently eluted by n-hexane - ethyl acetate - ethanol with the composition from 20:1:0 until 0:0:1, gave eight fractions. Separation of fraction 6 using semipreparative HPLC on reverse phase column (Capcell Pak C-18 SG120, 15 mm I.D. x 250 mm) using methanol - water (40:60, 5 mL/min) gave a brown powder, with the melting point of 182.3 ºC. Spectroscopic analysis and comparison of its physico-chemical data, this compound was clarified as 2,4-dihydroxy-4-methoxy-benzophenone-6-O-b-D-glucopyranoside (3). Inhibitory activity of its compound against leukemia L1210 cell line showed that this compound exhibited inhibitory activity with IC50 was 5.1mg/mL.     Keywords: Phaleria macrocarpa, 2,4-dihydroxy-4-methoxybenzophenone-6-O-b-D-glucopyranoside, cytotoxic activity, leukemia L1210
Khasiat dan Profil Kromatogram Fraksi Aktif dari Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) yang Diiradiasi Katrin, Ermin; Jacobs, Setiananda; Winarno, Hendig
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 15 No 2 (2017): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.144 KB)

Abstract

Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) selain sebagai antiinflamasi, antihistamin,pengobatan penyakit jantung, antibakteri, antijamur, juga digunakan untuk pengobatan atau terapi kanker karena memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker. Sebagian masyarakat Indonesia telah menggunakan kulit buah manggis dan membuat bubuk kulit manggis atau industri obat herbal telah memproduksinya sebagai ekstrak dalam kapsul. Usaha untuk mengawetkan kulit buah manggis kering dilakukan dengan pemanasan maupun dengan teknik iradiasi gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma pada aktivitas sitotoksisitas ekstrak dan fraksi aktif kulit buah manggis terhadap sel leukemia L1210 dan profi l kromatogram ekstrak dan fraksi aktif dari kulit buah manggis. Serbuk kering kulit buah manggis diiradiasi gamma dengan dosis iradiasi 5; 7,5; 10; dan 15 kGy. Kemudian masing-masing sampel dimaserasi secara bertingkat dengan n-heksan, etil asetat, dan etanol. Setiap ekstrak diuji sitotoksisitasnya terhadap sel leukemia L1210. Ekstrak etil asetat merupakan ekstrak paling aktif (IC50 = 4,17 μg/mL) dibandingkan dengan ekstrak n-heksan (IC50 = 8,29 μg/mL) dan ekstrak etanol (IC50 = 7,52 μg/mL). Fraksinasi ekstrak etil asetat melalui kromatografi kolom diperoleh 6 fraksi. Hasil uji sitotoksisitas ke-6 fraksi tersebut menunjukkan bahwa fraksi 1 paling aktif (IC50 = 3,66 μg/mL), masih dalam batas aktif berpotensi antikanker (IC50 ≤ 20 μg/mL). Profil kromatogram fraksi 1 dengan KLT-densitometri menunjukkan pemudaran bercak pada dosis iradiasi 10 dan 15 kGy. Hasil analisis fraksi 1 dengan KCKT menunjukkan penurunan luar area puncak pada dosis 10 kGy yang berbeda nyata dengan kontrol. Berdasarkan profi l kromatogram dan hasil pengujiansitotoksisitas terhadap sel leukemia L1210, maka dosis maksimum  iradiasi gamma 7,5 kGy dapatditerapkan pada iradiasi kulit buah manggis tanpa mengubah khasiatnya.
Analisis Urea-Kreatinin Tikus Putih pasca Pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa dan Herba Pegagan SUMARYONO, WAHONO; WIBOWO, AGUNG ERU; NINGSIH, SRI; AGUSTINI, KURNIA; SUMARNY, ROS; AMRI, FITRIANIAR; WINARNO, HENDIG
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 6 No 1 (2008): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1432.686 KB)

Abstract

The evaluation of toxicity of a mixed herbal extract containing mahkota dewa fruits (Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl) and pegagan leaves (Centella asiatica L. Urban) on Wistar-strain rats had been carried out by the determination of the urea and creatinine content in urine and plasma after feeding. Oral doses of 100 mg, 500 mg, and 2500 mg of the mixed extract/kg body Weight were administered for 16 consecutive weeks to three groups of rats. Each treated group consisted of 15 males and 15 females, and the control group was represented by 10 males and 10 females. Samples of urine and plasma of the treated groups were taken at the time right before treatment (Week zero) and at Sm, 16th, 18th Week, while those of the control were taken at zero Week, 8th, and 16th Week, respectively. The result showed that theurea and creatinine contents among the treated and control groups were not signihcantly different. It could be concluded that oral administration ofthe mixed extract by a dose up to 2500 mg/kg body weight for 16 Weeks did not influence the urea and creatinine contents both in urine and plasma of the treated animals. Based on this result, it could be assumed that the use of the mixed extract is safe.
Iradiasi Sediaan Obat Herbal Temu Putih Curcuma zedoaria (Berg) Rosc.: Cemaran Mikroba, Sitotoksisitas dan Profil Kromatogram W., ERMIN KATRIN; NARULITA, EPSI; AZIZ, ZUHELMI; WINARNO, HENDIG
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 11 No 1 (2013): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.715 KB)

Abstract

Teknik iradiasi gamma dimanfaatkan untuk pengawetan bahan obat herbal, salah satunya rimpang temu putih Curcuma zedoaria (Berg) Rosc. sebagai obat kanker rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma terhadap cemaran mikroba, aktivitas sitotoksik terhadap sel leukemia L1210 dan profil kromatogram dari fraksi aktif sediaan obat herbal temu putih. Iradiasi gamma dilakukan dengan sumber 60Co pada dosis 5; 7,5; 10 dan 15 kGy. Setelah iradiasi > 7,5 kGy tidak ditemukan bakteri dan kapang kamir pada sediaan tersebut. Sediaan kontrol dan yang telah diiradiasi dimaserasi berurutan dengan n-heksan, etil asetat dan etanol. Ekstrak etil asetat paling sitotoksik terhadap sel leukemia L1210 dengan nilai IC50 10,60 μg/mL dibandingkan dengan ekstrak n-heksan dan etil asetat. Ekstrak etil asetat difraksinasi dengan kromatogafi kolom, diperoleh 6 fraksi. Fraksi 2 merupakan fraksi paling sitotoksik dengan nilai IC50 2,44 μg/mL. Hasil analisis kromatogafi lapis tipis ekstrak etil asetat dan fraksi 2 dari ekstrak etil asetat menunjukkan adanya kurkumin. Profil kromatogram baik sediaan kontrol dan yang diiradiasi sampai dosis 15 kGy menunjukkan adanya kurkumin dan pola yang sama. Persentase kurkumin dalam fraksi 2 antara 35 sampai 51%, kadar kurkumin dalam sampel yang diiradiasi sampai dengan dosis 15 kGy tidak mengalami perubahan yang bermakna. Dosis maksimum untuk iradiasi sediaan obat herbal temu putih adalah 15 kGy.
Isolasi dan Identifi kasi Senyawa Kimia Zat Anti Kanker dari Daun Kopasanda (Chromolaena odorata (L.)) FITRAH, MUHAMMAD; WINARNO, HENDIG; SIMANJUNTAK, PARTOMUAN
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 15 No 1 (2017): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1911.218 KB)

Abstract

Isolasi dan identifi kasi senyawa kimia sebagai antikanker dari daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) telah dilakukan. Ekstraksi dilakukan secara berturut-turut dengan n-heksan, etilasetat, dan etanol secara maserasi kecuali dengan air dilakukan secara refl uks. Fraksinasi ekstrak etilasetat dengan kromatografi kolom (SiO2,: i). n-heksan-etilasetat = 10:1 ~ 1:1; etilasetat, ii). n-heksan-etilasetat = 5:1) memberikan satu isolat murni fr. 5-3 yang mempunyai aktivitas daya hambat terhadap sel leukemia L1210 sebesar 1,515 bpj. Penentuan struktur kimia dilakukan berdasarkan interpretasi data spektra infra merah, RMI 1D (1H, 13C) dan RMI 2D (H-H COSY, HMQC dan HMBC) dan spektra masa (LC-MS). Isolat fr. 5-3 diduga adalah metil eter naragenin.
Uji Aktivitas Inhibisi Isolat Kuersitrin dari Benalu Masisin Dendrophthoe pentandra (L.) Miq. terhadap Sel Leukemia L1210 W., ERMIN KATRIN; TAMBUNAN, RISMA MARISI; WINARNO, HENDIG
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 9 No 1 (2011): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1651.114 KB)

Abstract

Benalu masisin [Dendrophthoe pentandra (L) Miq.] merupakan parasit tanaman masisin [Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.] yang secara tradisional digunakan untuk pengobatan kanker di Kalimantan Tengah. Benalu kering dimaserasi menggunakan etanol diikuti dengan etil asetat memberikan ekstrak etanol dan ekstrak etil asetat yang menunjukkan aktivitas inhibisi terhadap sel leukemia L1210 dengan IC50 berturut-turut 17.3 dan 20.9 µg/mL. Fraksinasi ekstrak etil asetat dengan kolom kromatograli diperoleh 7 fraksi (F1~F7). Uji aktivitas inhibisi fraksi tersebut terhadap sel leukemia L1210 menunjukkan aktivitas inhibisi dengan leo berturut-turut 19.9, 19.0, 20.7, 16.0, 13.7, 12.5, dan 17.4 µg/mL. Pemekatan F5 menggunakan penguap putar, diperoleh endapan kekuningan yang diidentiiikasi sebagai kuersitrin (kuersetin 3-O-ramnosida). Uji aktivitas inhibisi kuersitrin terhadap sel leukemia L1210 memberikan IC50 14.7 µg/mL. Pemisahan F7 dengan KCKT semipreparatif menggunakan kolom fase balik diperoleh isolat A dan B yang menunjukkan aktivitas inhibisi terhadap sel leukemia L1210 dengan nilai IC50 masingmasing 15.0 dan 14.4 µg/mL. Selanjutnya, partisi ekstrak etanol ke dalam etil asetat-air dan pemisahan lebih lanjut fase etil asetat menggunakan kromatograii kolom memberikan 7 fraksi (F8~F 14). Pemisahan lanjut F 14 menggunakan kromatograli kolom diperoleh kuersitrin dan isolat C yang belum diidentiiikasi.
Sitotoksisitas terhadap Sel Leukemia L1210 dan Profil Kromatogram dari Serbuk Temu Putih Curcuma zedoaria (Berg) Rosc. yang Diradiasi W., ERMIN KATRIN; ALBERT, JOHANS RICHARD; TAMAT, SWASONO R.; SUSANTO, SUSANTO; WINARNO, HENDIG
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 10 No 1 (2012): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2086.865 KB)

Abstract

Rimpang temu putih Curcuma zedoaria (Berg) Rosc. bermanfaat untuk mengobati penyakit kanker. Temu putih sangat rentan terhadap kontaminasi mikroba oleh karena itu diperlukan teknik iradiasi gamma untuk menurunkan kontaminasi mikroba agar masa simpannya menjadi lebih lama. lradiasi gamma dilakukan terhadap serbuk rimpang temu putih diiradiasi dengan sumber kobalt-60 pada dosis 5; 7,5; 10; dan 15 kGy. Kemudian sampel dimaserasi seeara bertahap dengan n-heksan, etil asetat, dan etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh radiasi gamma melalui pemeriksaan beberapa parameter, yaitu sitotoksisitas ekstrak etil asetat dan fraksi aktif rimpang temu putih terhadap sel leukemia L1210, serta profil KLT, dan KCKT dari fraksi aktif yang berpotensi sebagai antikanker. Ekstrak etil asetat paling aktif dalam menghambat pertumbuhan sel leukemia L1210 dengan nilai IC50 4,71 µg/mL. Ekstrak etil asetat sampel yang diiradiasi dan kontrol difraksinasi menggunakan kolom kromat'ografi dan masing masing diperoleh 7 fraksi (Fr). Fraksi 3 dari sampel kontrol merupakan fraksi paling aktif dengan nilai IC50 sebesar 1,43 µg/mL. Nilai IC50 Fr 3 menurun seiring meningkatnya dosis iradiasi dan profil kromatogram Fr 3 sampel yang diradiasi dengan dosis > 5 kGy mengalami perubahan. Dosis radiasi maksimum untuk pengawetan temu putih adalah 7,5 kGy, pada dosis tersebut khasiat antikankernya tetap dipertahankan.
Aktivitas Sitotoksik dan Profil Kromatogram Daun Sirsak (Annona muricata L.) yang Diiradiasi KATRIN, ERMIN; AMALIAH, RHILA; AZIZ, ZUHELMI; WINARNO, HENDIG
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 12 No 2 (2014): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.595 KB)

Abstract

Tanaman sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman yang termasuk dalam suku Annonaceae, daunnya memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker. Usaha untuk mengawetkan daun sirsak kering dilakukan dengan teknik iradiasi gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma pada bioaktivitas dan profil kromatogram fraksi aktif dari daun sirsak. Serbuk kering daun sirsak diiradiasi gamma dengan dosis 0 (kontrol); 5; 7,5; 10 dan 15 kGy dan diulang sebanyak dua kali untuk setiap dosis iradiasi. Kemudian masing-masing sampel dimaserasi secara bertahap dengan n-heksan, etil asetat dan etanol. Setiap ekstrak diuji aktivitas sitotoksisitasnya terhadap sel leukemia L1210. Ekstrak etil asetat paling aktif (IC50= 7,36 µg/mL) dibandingkan dengan ekstrak n-heksan (20,18 µg/mL) dan etanol (13,89 µg/mL). Ekstrak etil asetat difraksinasi menggunakan kolom kromatografi diperoleh 10 fraksi. Hasil uji aktivitas sitotoksik 10 fraksi diperoleh bahwa fraksi 8 paling aktif (IC50 0,45 µg/mL). Aktivitas sitotoksik fraksi 8 dari sampel yang diiradiasi menunjukkan bahwa iradiasi gamma menurun aktivitas sitotoksik, namun masih dalam batas aktif (IC50 < 20 µg/mL). Analisis dan identifikasi fraksi 8 dengan KCKTdan KLT-densitometri terlihat puncak yang mengalami penurunan luas pada sampel yang diiradiasi. Dosis maksimum untuk iradiasi daun sirsak dengan tidak merusak bioaktivitas dan tidak mengubah profil kromatogramnya adalah 7,5 kGy.