Ida Bagus Oka Winaya
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

STUDI HISTOPATOLOGI MUKOSA SALURAN EMPEDU SAPI BALI YANG TERINFEKSI CACING HATI (FASCIOLA GIGANTICA) Putu Adriyati, Gusti Agung Ayu; Winaya, Ida Bagus Oka; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (1) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasciolosis adalah infeksi parasit pada jaringan hati yang disebabkan oleh Fasciola hepatica dan F. gigantica. Perubahan patologi pada kejadian fasciolosis sapi terutama disebabkan oleh adanya aktivitas migrasi dan iritasi spini tegumen F. gigantica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya variasi lesi seperti nekrosis, peradangan, perdarahan, dan fibrosis pada mukosa saluran empedu sapi bali yang terinfeksi oleh cacing hati F. gigantica. Penelitian ini menggunakan 35 sampel saluran empedu sapi bali yang terinfeksi F. gigantica dan tujuh sampel yang tidak terinfeksi F. gigantica. Sampel saluran empedu kemudian diproses untuk dibuat preparat histopatologi dan diwarnai menggunakan metode Harris Haematoxylin Eosin. Hasil pemeriksaan mikroskopis pada mukosa saluran empedu sapi bali yang terinfeksi F. gigantica sesuai variasi lesi yang diperiksa,diperoleh lesi nekrosis pada 35 sampel saluran empedu (100%), perdarahan pada 18 sampel (51,4%), lesi peradangan pada 35 sampel (100%), dan fibrosis pada 35 sampel (100%). Dapat disimpulkan bahwa dari kasus fasciolosis sapi dari kasus lapangan terjadi variasi lesi akibat infeksi F. gigantica.
KARAKTERISTIK MOLEKULER VIRUS AVIAN ORTHOAVULAVIRUS 1 GENOTIPE VII YANG DIISOLASI DARI TABANAN BALI (MOLECULAR CHARACTERISTIC OF AVIAN ORTHOAVULAVIRUS 1 GENOTYPE VII ISOLATED FROM TABANAN BALI) Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Astawa, I Nyoman Mantik; Wandia, I Nengah; Putra, I Gusti Agung Arta; Winaya, Ida Bagus Oka; Krisnandika, Anak Agung Keswari; Wijaya, Anak Agung Oka
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.593

Abstract

Newcastle disease (ND) is a very harmful avian disease, endemic in Indonesia and various parts of the world. The causative agent is ND virus or Avian orthoavulavirus 1 (AOAV-1). This virus is an RNA virus with wide genetic variation. Based on the genome length, it can be classified into AOAV-1 Class I and II. Class I are generally avirulent whereas Class II are consist of both virulent and avirulent viruses, currently there are 18 genotypes of the class II. To find out the molecular characteristics of AOAV-1 currently circulating in the field, isolation and identification of viruses from laying hens that was suspected ND from Tabanan Bali in 2017, was performed. The isolated viruses hereafter named as Tabanan1/ARP / 2017. A one-step RT-PCR reaction was carried out to amplify NP, F and HN gene fragments from the virus using three specific pairs of AOAV-1 primers. The obtained nucleotide sequences are then used in phylogenetic analysis. For phylogenetic analysis several strains of AOAV-1 from class II representing genotype I-VII as well as one strain from Class I were accessed from GenBank. From the analysis of the F gene nucleotide sequences, it was found that Tabanan 1 / ARP / 2017 is a genotype VII virus with an amino acid sequence at the F protein cleavage site is 112 R-R-Q-K-R-F117, a typical virulent strain. Phylogenetic analysis using nucleotide sequences NP and HN genes also positioned this isolate in genotype VII. At the nucleotide level, genetic distance with virulent isolates that was isolated in 2007 and 2010 were 8.26% and 1.08% while at the amino acid level were 5.26% and 0.64%. There were found mutations in amino acids at positions 107 and 108 of  F protein. 
PELACAKAN EKSPRESI ANTIGEN TOXOPLASMA GONDII SECARA IMUNO(SITO)HISTOKIMIA (TRACKING EXPRESSION OF TOXOPLASMA GONDII ANTIGENS USING IMMUNO(CYTO)HISTOCHEMISTRY METHOD) Apsari, Ida Ayu Pasti; Winaya, Ida Bagus Oka; Nindhia, Tjokorda Sari; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Jurnal Veteriner Vol 18 No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.4.535

Abstract

The research objective want to track the expression of Toxoplasma gondii antigenes in the heart of the free-range chicken with immuno(cyto)histochemistry technique. In the present study were examined three methods to track antigen T.gondii, first method direct microscopic examination of the heart digests, the second method to detect antigen of T.gondii with immunocytochemistry technique of the chicken heart digests and the third immunohistochemistry examination of the heart free-range chicken. The number of material samples examined were 100 heart free-range chicken. Direct microscopic examination of the heart digests free-range chicken to track the bradyzoite form (inside cyst). Examination by immuno(cyto)histochemistry technique keep track T.gondii an antigen expression on cells and heart muscle tissue. The results showed that the direct microscopic examination on the heart tissue unable to detect cyst and antigen T.gondii. Immunohistochemical examination successfully detected the expression of antigenes T.gondii and was found 2% (2/100) positive. It can be concluded that T.gondii antigen expression in the heart of range chicken could be detected by immunohistochemistry.
DAUN KELOR MEMPERBAIKI HISTOPATOLOGI HATI TIKUS PUTIH YANG MENGALAMI DIABETES MELITUS Pidada, Ida Ayu Adhistania; Setiasih, Ni Luh Eka; Winaya, Ida Bagus Oka
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 1 Pebruari 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i01.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbaikan histopatologi hati pada tikus putih diabetes melitus eksperimental setelah pemberian ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera). Sebanyak 24 ekor tikus putih jantan diinduksi STZ dosis tunggal sebesar 45mg/KgBB secara intraperitoneal untuk menyebabkan diabetes melitus. Setelah dinyatakan diabetes, tikus dibagi menjadi 6 kelompok terdiri 1 kelompok kontrol dan 5 kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol daun kelor, dengan dosis 100mg/KgBB, 200mg/KgBB, 300mg/KgBB, 400mg/KgBB, 500mg/KgBB, selama 5 minggu. Tikus lalu dikorbankan dan diambil organ hatinya untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Masing-masing preparat histopatologi diperiksa dibawah mikroskop pada lima lapang pandang dengan pembesaran 400x. Data diproses kemudian dianalisis secara statistik dengan uji Non Parametrik Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney bila terdapat perbedaan yang bermakna (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa organ hati mengalami perbaikan akibat dari kerusakan diabetes melitus setelah pemberian ekstrak etanol daun kelor dengan dosis 400 mg/KgBB.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL TIKUS WISTAR DIABETES MELITUS EKSPERIMENTAL YANG DIBERIKAN EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR Kamaliani, Baiq Renny; Setiasih, Ni Luh Eka; Winaya, Ida Bagus Oka
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p12

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun kelor dapat memperbaiki struktur histologis ginjal tikus Wistar penderita diabetes melitus. Tikus Wistar dibagi ke dalam enam kelompok dengan masing-masing empat kali ulangan. Kelompok K1 sebagai kontrol positif tidak diberikan ekstrak, kelompok K2 diberikan ekstrak dosis 100 mg/kgBB, kelompok K3 diberikan ekstrak dosis 200 mg/kgBB, kelompok K4 diberikan ekstrak dosis 300 mg/kgBB, kelompok K5 diberikan ekstrak dosis 400 mg/kgBB, dan kelompok K6 diberikan ekstrak dosis 500 mg/kgBB yang dilaksanakan selama lima minggu. Tikus kemudian dikorbankan dan organ ginjal diambil untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Hasil pengamatan menunjukkan adanya degenerasi melemak dan nekrosis pada ginjal. Hasil uji Kruskal Wallis dari seluruh perlakuan menunjukkan p= 0,001 baik pada degenerasi melemak dan nekrosis (p<0,05).
HISTOPATOLOGI GINJAL TIKUS PUTIH AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) PERORAL Suhita, Luh Putu Ratna; Sudira, I Wayan; Winaya, Ida Bagus Oka
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pegagan merupakan tanaman herbal  yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian tentang toksisitas (studi histopatologi) tanaman pegagan pada ginjal belum pernah dilakukan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perubahan histopaotogi pada ginjal tikus putih setelah pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) peroral. Tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 6 ekor. Kelompok A sebagai control (placebo) yang diberi aquades peroral; kelompok B yang diberikan ekstrak pegagan 100 mg/kg bb (0,2 ml/ekor); kelompok C yang diberikan ekstrak pegagan dosis 200 mg/kg bb (0,4 ml/ekor); kelompok D yang diberikan 300 mg/kg bb (0,6 ml/ekor); dan kelompok E yang diberikan ekstrak pegagan dosis 400 mg/kg bb (0,8 ml/ekor). Nekropsi untuk pengambilan organ ginjal dilakukan pada hari ke-9. Jaringan ginjal selanjutnya diproses untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hemaktosilin Eosin (HE). Hasil pemeriksaan histopatologi pada ginjal tikus putih yang diberikan ekstrak pegagan, tidak ditemukan adanya degenerasi melemak, degenerasi hidrofik, dan nekrosis baik pada control (placebo) maupun pemberian dosis 0,2  ml; 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml. Hasil ini menunjukkan pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) dengan rentang dosis 100 mg/kg bb sampai dengan dosis 400 mg/kg bb selama 9 hari, tidak menyebabkan gangguan histopatologi pada organ ginjal tikus putih (Rattus novegicus).
GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN GINJAL BABI LANDRACE YANG DIBERI PAKAN ECENG GONDOK DARI PERAIRAN TERCEMAR TIMBAL Dewi, Ni Kadek Nining Laksmi; Winaya, Ida Bagus Oka; Dharmawan, Nyoman Sadra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2017.v09.i01.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian eceng gondok (Eichornia crassipes) dari perairan tercemar timbal (Pb) dalam ransum terhadap perubahan histopatologi hati dan ginjal babi. Sampel yang digunakan adalah organ hati dan ginjal dari 8 ekor babi Landrace yang diberi perlakuan berbeda. Perlakuan yang diberikan adalah A = babi yang  mendapat ransum tanpa eceng gondok, B = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 2,5 % eceng gondok, C = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 5%  eceng gondok dan D = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 7,5% eceng gondok. Pengambilan sampel organ hati dan ginjal babi dilakukan dengan cara nekropsi pada semua babi di akhir penelitian, kemudian organ dimasukkan ke dalam tabung yang berisi neutral buffer formalin10%. Pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (HE). Pemeriksaan preparat dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100x, 200x dan 400x. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan melihat perubahan yang terjadi pada organ hati dan ginjal babi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian eceng gondok (Eichornia crassipes) yang berasal dari perairan tercemar Pb pada pakan menyebabkan perubahan histopatologi hati dan ginjal babi Landrace. Perubahan tersebut yaitu degenerasi, nekrosis dan peradangan.
HISTOPATOLOGYCAL BRONKIOLUS AND BLOOD VESSEL OF MICE LUNG POST EXPOSURE OF ELECTRIC CIGARETTE SMOKE Monica, Mia; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 2 Agustus 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i02.p08

Abstract

This study aims to determine the histopathological changes of bronchioles and blood vessel of mice (Mus musculus) lung post exposed of electric cigarette smoke (vaping). This study was used 24 mice that were divided into two treatment groups. Group I (P0) as a control without electronic cigarette smoke exposured and group II (P1) consistied of 12 mice as a treatment group, were exprosure with electric cigarette smoke. This study used a complete randomized design (RAL) split in time pattern with three 1st, 2nd and 3rd post-treatment sampling times. Four mice of each group were taken at each observation time. Lung tissue was taken to make preparations and stained with Hematoxylin-eosin (HE) staining. The results showed that there were significant differences (P <0.05) between the treatment group and the control group, but the duration of exposure did not have an effect. Mucosal thickness in the treatment group was higher than in the control group (P <0.05). Vessel lung endothelins and thrombosis. It can be concluded, exposure to electric cigarette smoke can cause degeneration, cell necrosis and increase the mucosal thickness of the bronchioles. The vascular system experiences endotheliosis, endothelial cell necrosis and thrombosis
STUDI HISTOPATOLOGI HATI TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) YANG DIBERI EKSTRAK ETANOL DAUN KEDONDONG (SPONDIAS DULCIS G.FORST) SECARA ORAL Adikara, I Putu Arya; Winaya, Ida Bagus Oka; Sudira, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kedondong sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat alternatif  untuk mengobati berbagai macam penyakit. Sedangkan penelitian tentang toksisitas daun kedondong pada hati belum pernah dilakukan. Dalam penelitian ini tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor. Kelompok A sebagai kontrol (placebo) yang diberi aquades peroral; kelompok B diberikan ekstrak daun kedondong 100 mg/kg bb (0,2 ml/ekor); kelompok C diberikan ekstrak daun kedondong 200 mg/kg bb (0,4 ml/ekor); kelompok D diberikan ekstrak daun kedondong 300 mg/kg bb (0,6 ml/ekor); kelompok E diberikan ekstrak daun kedondong 400 mg/kg bb (0,8 ml/ekor). Pemberian ekstrak daun kedondong dilakukan secara oral. Dilanjutkan dengan nekropsi pada hari ke-15 untuk pengambilan organ hati yang nantinya akan dibuat preparat hitopatologi.Hasil pemeriksaan histopatologi pada hati  tikus putih(Rattus norvegicus) yang diberikan ekstrak etanol daun kedondong, tidak ditemukan adanya perubahan seperti adanya infiltrasi sel radang, degenerasi melemak, degenerasi hidrofik dan nekrosis pada kelompok perlakuan K1, K2, K3, tetapididapatkan hasil peradangan ringan pada kelompok perlakuan K4 dan K5 pada 1 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) dari 5 ekor yang diberi perlakuan pada tikus putih (Rattus norvegicus).
KESEMBUHAN FRAKTUR TULANG FEMUR KELINCI PASCA IMPLANTASI BAHAN CANGKOK DEMINERALISASI SERBUK TULANG SAPI BALI Asih, Ni Putu Trisna; Wirata, I Wayan; Sudimartini, Luh Made; Winaya, Ida Bagus Oka; Kardena, I Made; Gorda, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 2 Agustus 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i02.p13

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran mikroskopis kesembuhan fraktur tulang femur kelinci pascaimplantasi dengan bahan cangkok demineralisasi serbuk tulang sapi bali. Kelinci lokal jantan  sebanyak 12 ekor digunakan dalam penelitian ini yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok A adalah tiga ekor kelinci yang digunakan sebagai kontrol, yaitu kelinci pada diaphysis tulang femurnya dibor dengan diameter 5 mm dan kedalaman bor hingga mencapai medula, tanpa pemberian bahan cangkok. Kelompok B adalah 9 ekor kelinci yang dibor seperti kelompok A dan diberikan serbuk cangkok tulang pada bagian tulang yang dibor. Pada minggu ke-2, ke-4, dan ke-6 pascaoperasi dilakukan biopsi tulang masing-masing satu ekor kelinci pada kelompok A dan tiga ekor kelinci pada kelompok B.  Pengamatan mikroskopis dilakukan dengan membuat sediaan tulang  diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kesembuhan tulang lebih cepat terjadi pada kelompok B yang diamati dari minggu ke-2 sampai minggu ke-6 dengan sel radang terlihat sedikit dan jumlahnya berkurang setiap pengamatan, adanya pertumbuhan osteoblas, osteoklas, osteosit, kartilago, tulang trabekula, neovaskularisasi dan proliferasi fibrolas lebih cepat dibandingkan kelompok A. Dapat disimpulkan, bahan cangkok asal tulang sapi bali mampu menginduksi proses kesembuhan tulang fraktur pada kelinci.