Articles

KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DI SELAT BALI Fauzi, Syafril; Iskandar, Budhi Hascaryo; Murdiyanto, Bambang; Wiyono, Eko Sri
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 2 No 1 (2011): MEI 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.409 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.2.37-46

Abstract

Fishing effort become the dominant (about 80%) of the fishing economy and society in the Bali Strait. This situation quiet long when fishing effort is not well managed and there is no balance in financial terms. This study will assess the condition of investment, operational, and financial feasibility of the fishing effort. The method used consisted of investment analysis, NPV, IRR, ROI and BCR. The analysis showed that investment needs purse seine OBS, purse seine TBS, gill nets and payang is $ 287,750.000, Rp 476.25 million, Rp 313,250,000 and Rp 261,150,000. The annual operational needs OBS purse seine, purse seine TBS, gill nets and successive payang is $ 261,965,000, USD 408.87 million, Rp 234,550,000 and Rp 188,717,500. While the annual revenue purse seine OBS, purse seine TBS, gill nets and payang is Rp 992,928,000, Rp 1,998,132,000, Rp 673,292,000 and Rp 636,290,000. These four fishing gear are 'very feasible' developed in Bali strait, because it has the value of NPV, IRR, ROI, and B/C ratio is better than required. Purse seine OBS have Rp 1,755,080,046.41 NPV, IRR of approximately 102.55%, ROI around 21.22, and R/C ratio of about 1.40. Purse seine TBS has NPV around Rp 4,070,067,018.54, IRR around 140.15%, ROI around 25.80, and R/C ratio about 1.50. Gill net has a NPV about Rp 918,548,267.25, IRR about 53.08%, ROI around 13.66, and R/C ratio about 1.27, and payang have NPV around Rp 982,670,737.88, IRR of approximately 66,25%, ROI around 14.98, and R/C ratio about 1.34.
TINGKAT KETERGANTUNGAN NELAYAN GILLNET DI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU TERHADAP SUMBERDAYA IKAN Solikhin, Iin; Wiyono, Eko Sri; Solihin, Akhmad
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 4 No 1 (2013): MEI 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.167 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.4.63-71

Abstract

Ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya ikan pada umumnya memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan adanya diversifikasi pekerjaan sebagai sumber pendapatan alternatif saat ikan susah didapatkan. Namun untuk melakukan diversifikasi pekerjaan tersebut, maka perlu dilihat terlebih dahulu tingkat ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan perikanan gillnet di PPI Karangsong, (2) menganalisis tingkat ketergantungan nelayan gillnet di PPI Karangsong terhadap sumberdaya ikan. Perhitungan tingkat ketergantungan menggunakan Multi Cryteria Analysis dengan kriteria yang digunakan yaitu jumlah keluarga, alokasi waktu, pendapatan, dan pengeluaran. Perikanan gillnet di PPI Karangsong didominasi oleh kelompok gillnet 0-10 GT. Kapal gillnet < 25 GT masih menggunakan es, sedangkan kapal ? 25 GT menggunakan freezer. Tingkat ketergantungan nelayan gillnet 0-20 GT terhadap sumberdaya ikan lebih tinggi dibandingkan dengan nelayan gillnet > 20 GT.
PERUBAHAN STRATEGI OPERASI PENANGKAPAN IKAN NELAYAN KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Wiyono, Eko Sri; Kartawijaya, Tasrif
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 3 No 2 (2012): NOVEMBER 2012
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.622 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.3.65-73

Abstract

Reef fishery is one of the main activities of fishermen in the tropic area. Changing of economy and ecology has resulted in changes in revenue and operating strategies of fishing. Fishermen have used a variety of strategies to maintain their activity. To examine this problem, we conducted the reseach in Karimunjawa, Central Java. The results of this study suggest that fish composition, fishing gear productivity and fishing gear which used by fishermen have changed over the period 2003 - 2005 and from 2009 to 2011. When during period of 2003 - 2005 fising trip of gear was dominated by muroami, then in the period 2009 - 2011 fishing trip dominated by speargun (arrows). These changes, thought to be caused by changes in market demand especially yellow tail (Caesio sp), the fishing operations cost and catches both in number and composition of fish.
PENGARUH LAMA MELAUT DAN JUMLAH HAULING TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN GILLNET SKALA KECIL DI PEKALONGAN JAWA TENGAH Wiyono, Eko Sri
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 3 No 2 (2012): NOVEMBER 2012
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.836 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.3.57-64

Abstract

Tingginya kompetisi antar nelayan mengakibatkan hasil tangkapan nelayan semakin menurun.  Untuk menjamin kelangsungan kegiatan penangkapannya, nelayan melakukan berbagai macam strategi diantaranya adalah menambah lama trip penangkapan ikan di laut dan menambah jumlah hauling.  Untuk mengkaji dampak kedua faktor tersebut telah dilakukan penelitian perikanan gillnet skala kecil (<10GT) di PPN Pekalongan.  Hasil kajian ini menunjukkan bahwa lama trip penangkapan ikan sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan baik secara total maupun per species.  Meskipun berlayar menangkap ikan lebih lama, ternyata berdasarkan penelitian ini tidak mempengaruhi harga ikan.  Disisi yang lain hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah atau frekuensi hauling ternyata tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan baik secara total atau per species.
KOMODITI UNGGULAN PERIKANAN TANGKAP DI TELUK BANTEN (LEADING COMMODITY OF CAPTURE FISHERIES IN BANTEN BAY) Ernaningsih, Dwi; Simbolon, Domu; Wiyono, Eko Sri; Purbayanto, Ari
Buletin PSP Vol. 20 No. 2 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.596 KB)

Abstract

Tekanan yang cukup besar di daerah pesisir Teluk Banten mengakibatkan kerusakan lingkungan, di antaranya adalah pencemaran perairan. Hal ini berakibat kepada penurunanhasil tangkapan nelayan. Pengembangan wilayah penangkapan sangat dibutuhkan untuk mengurangi tekanan penangkapan di wilayah pesisir. Pengembangan kawasan (wilayah) berbasis komoditas unggulan merupakan salah satu konsep pengembangan wilayah yang ada. Kawasan Teluk Banten dapat dikatakan kawasan yang memiliki daya saing. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menghitung bionomi sumber daya ikan; (2) menentukan komoditas unggulan perikanan tangkap di Teluk Banten. Model bionomi Gordon-Schaefer digunakan untuk menganalisis bionomi sumber daya ikan, dan komoditi unggulan dianalisis dengan metode skoring, nilai Location Quotient (LQ) dan indeks spesialisasi (IS) untuk menentukan keunggulan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak seluruh jenis ikan menguntungkan secara ekonomi. Kembung, cumi-cumi, teri, tongkol, dan lemuru, merupakan jenis ikan pelagis yang layak dikembangkan. Adapun dari kelompok ikan demersal adalahrajungan, kakap merah, udang, kuwe, bawal hitam, ekor kuning, dan beloso. Berdasarkan metode skoring diperoleh bahwa rajungan, teri, dan cumi-cumi merupakan ikan yang dapat diunggulkan, hal ini juga sesuai dengan hasil perhitungan nilai LQ yang ketiganya bernilai lebih dari satu. Nilai IS sebesar 0,42 menunjukkan tingkat spesialisasi komoditi unggulan rendah di kawasan Teluk Banten, berarti konsentrasi komoditi unggulan cukup merata di kawasan Teluk Banten.Kata kunci: bionomi, komoditi unggulan, perikanan tangkap
SENSITIVITAS USAHA PERIKANAN GILLNET DI KOTA TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH (SENSITIVITY OF GILLNET FISHERIES IN TEGAL CITY, CENTRAL JAVA PROVINCE) Prabowo, Prabowo; Wiyono, Eko Sri; Haluan, John; Iskandar, Budhi Hascaryo
Buletin PSP Vol. 20 No. 2 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.04 KB)

Abstract

Badan Pusat Statistik (2008) menyatakan hanya sekitar 13% usaha skala kecil yang mampu mengakses pembiayaan dari perbankan, dan usaha perikanan skala kecil termasuk gillnet merupakan yang paling rendah. Hal ini karena pengelolaan usaha yang belum baik terutama dari aspek kelayakan finansial dan pengalokasian faktor produksi yang dibutuhkandalam operasi penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas kelayakan usaha dan faktor produksi signifikan dalam operasi perikanan gillnet. Hasil analisis menunjukkan usaha perikanan gillnet di Kota Tegal mempunyai Nilai NPV, Net B/C, IRR, dan ROI berturut-turut Rp 1.993.457.657, 72, 1,09, 75,64%, dan 51,74, sehingga layakdikembangkan dan mendapatkan dukungan pembiayaan. Usaha perikanan gillnet sensitif terhadap penurunan penerimaan (Rp 3.845.549.000 per tahun) hingga 6,9%, peningkatan semua kebutuhan operasional (Rp 2.991.750.000 per tahun) hingga 21,7%, dan peningkatan kebutuhan solar (Rp 1.323.000.000 per tahun) hingga 49,1%. Ukuran jaring, lama trip, stock BBM, stock es, anak buah kapal (ABK), stock air tawar, dan perbekalan signifikan (sig < 0,05) mempengaruhi produksi ikan pada perikanan gillnet di Kota Tegal. Ada kecenderungan produksi ikan meningkat dengan bertambahnya panjang gillnet, stock BBM, stock es, danjumlah ABK yang ikut serta, sedangkan penambahan trip operasi, stock air tawar dan perbekalan tidak menyebabkan peningkatan.Kata kunci: faktor produksi, kelayakan, sensitivitas, dan signifikan
ANALISIS PEMETAAN JARINGAN PERDAGANGAN IKAN KERAPU HIDUP DI TAMAN NASIONAL WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA, (MAPPING ANALYSIS OF LIFE GROUPERS TRADE IN WAKATOBI MARINE NATIONAL PARK SOUTHEAST SULAWESI PROVINCE, INDONESIA) Tadjuddah, Muslim; Wiryawan, Budy; Purbayanto, Ari; Wiyono, Eko Sri
Buletin PSP Vol. 20 No. 2 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.889 KB)

Abstract

Perdagangan ikan kerapu telah menjadi suatu kegiatan ekonomi yang penting di Asia-Pasifik, yang melibatkan lebih dari 20 negara, dengan nilai komersial diperkirakan US$ 350juta per tahun. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan ikan kerapu telah dimanfaatkan secara berlebihan di banyak negara terutama di Asia Tenggara seperti di Filipina dan Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis jaringan perdagangan serta memetakan aktoraktor yang memperoleh keuntungan terbesar dari perdagangan ikan kerapu. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi pemerintah daerah Wakatobi dalam menentukan kebijakan pengelolaan ikan kerapu agar dapat berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif field research dengan strategi penelitian studi kasus. Untuk memperoleh data, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi di lapangan. Berdasarkan analisis jaringan perdagangan ikan kerapu dapat dipetakan bahwa keuntungan terbesar dinikmati oleh eksportir, kemudianoleh pedagang besar (ponggawa darat) selanjutnya oleh koordinator (ponggawa laut), Berdasarkan analisis keuntungan setiap aktor yang terlibat dalam jaringan perdagangan ikankerapu di lokasi penelitian semestinya nelayan kerapu masih memungkinkan untuk mendapatkan upah yang lebih besar dari jumlah yang diterimanya, dengan sistem perdaganganseperti inilah, diduga sebagai penyebab tetap miskinnya nelayan kerapu di lokasi penelitian sedangkan pedagang besar dan eksportir menikmati surplus yang jauh lebih besar dariperdagangan ikan ini.Kata kunci: ikan kerapu, pemetaan sosial, pangan ikan karang hidup, Taman NasionalWakatobi
SELEKSI JENIS ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU DI SELAT BALI Himelda, Himelda; Wiyono, Eko Sri; Purbayanto, Ari; Mustaruddin, Mustaruddin
Buletin PSP Vol. 20 No. 1 (2012): Buletin PSP (Edisi Khusus)
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.601 KB)

Abstract

Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan untuk penangkapan ikan lemuru di Selat Bali, baik oleh nelayan di Kabupaten Banyuwangi maupun di Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis.  Jenis alat tangkap tersebut adalah purse seine (sleret), gillnet, payang, bagan, dan pukat pantai.  Untuk memperoleh pedoman pengembangan alat tangkap, diperlukan suatu kajian dan seleksi terhadap alat yang digunakan.  Kajian ini dapat dijadikan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis alat tangkap yang baik untuk penangkapan lemuru di Selat Bali, dilihat dari aspek biologi, teknis, sosial, ekonomi, dan aspek ekosistem. Analisis yang digunakan adalah analisis skoring.  Hasil penelitian ini membuktikan bahwa unit alat tangkap yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman untuk dikembangkan dalam rangka upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan lemuru di Selat Bali yang dilakukan oleh nelayan di Kabupaten Banyuwangi secara berurutan adalah purse seine, gillnet, payang, dan bagan.  Untuk Kabupaten Jembrana secara berurutan alat tangkap yang dapat dikembangkan adalah purse seine, gillnet, dan pukat pantai.  Jika dilihat secara keseluruhan, maka alat tangkap utama yang potensial untuk menangkap lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) adalah purse seine. Namun demikian, hal yang perlu dipertimbangkan bahwa alat tangkap selain purse seine yangdimiliki oleh nelayan kecil tetap dapat diupayakan karena menyangkut kelangsungan hidup nelayan yang menggunakan alat tangkap selain purse seine di Selat Bali. Pembaharuan terhadap  kuota alat tangkap purse seine di masing-masing wilayah melalui keputusan bersamadua Provinsi.  Berdasarkan keputusan bersama tersebut, dapat terwujud pengelolaan sumberdaya perikanan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) di Selat Bali secara berkelanjutan, ramah lingkungan dan lestari.Kata kunci:  Selat Bali, seleksi alat tangkap, skoring, sumberdaya lemuru, teknologi
ANALISIS KEBERLANJUTAN RAPFISH DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA, IKAN KAKAP MERAH ASEP SURYANA (LUTJANUS SP.) DI PERAIRAN TANJUNG PANDAN Suryana, Asep; Wiryawan, Budy; Monintja, Daniel R.; Wiyono, Eko Sri
Buletin PSP Vol. 20 No. 1 (2012): Buletin PSP (Edisi Khusus)
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.548 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan pada dasarnya  adalah tujuan dari pengelolaan yang menjamin tingkat pemanfaatan sumber daya yang tidak merusak atau melampaui daya pulihnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi masa kinimaupun generasi yang akan datang.  Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya pemanfaatan sumber daya ikan kakap merah (Lutjanus sp.) di Perairan Tanjungpandan dan sekitarnya, dari dimensi ekologi, sosial dan etik sudah berada pada kondisi kurang berkelanjutan, sementaradari segi ekonomi dan teknologi berada pada kondisi cukup berkelanjutan.  Dalam rangka untuk meningkatkan status keberlanjutan, pengambil kebijakan sebaiknya mempertimbangkan atribut-atribut utama yang memiliki daya ungkit tinggi, yang  meliputi hasil samping, daerahkonservasi,  tingkat konflik, partisipasi masyarakat, ukuran kapal,  keamanan,  limbah buangan dan mitigasi habitat. Kata kunci: kakap merah, perairan Tanjungpandan, rapfish
OINAMIKA HARLAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (PORTUNNUS PELAGICUS) KAITANNYA OENGAN FASE BULAN OI PERAIRAN BONDET,OREBON (THE DAILY CATCH DINAMIC OFBLUE FLYING CRAB (PORTUNNUS PEWGICUS) WITH ITS IN REWTIONSHIP TO THE MOON'S CYCLE IN BONDET WATERS, CIREBON) Wiyono, Eko Sri
Buletin PSP Vol. 16 No. 1 (2007): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.621 KB)

Abstract

In arder to have better understanding about small scale fisheries characteristic, the study about reliltionship between moon's cycle and daily dynamic ofblue swimming crab (Portunnus pelilgicus) has conducted in Bandet, Cirebon. The study has carried out by following fishermen fishing activity during 28 days moon's cycle. The result shows that the catch of blue swimming crab (in number) is highest during full moon's cycles than others. However, individual weight of blue swimming crab is highest during new moon's cycles than others. The other result also sJwws that sex-ratio of blue swimming crab is lowest during dark moon's cycles than others.Keywords: blue flying crab, daily catch dynamic, moon's cycle.