Articles

Found 27 Documents
Search

PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA MONYET EKOR PANJANG OBES DENGAN PEMBERIAN NIKOTIN DOSIS RENDAH (DECRESE IN BLOOD SUGAR LEVEL IN LONG TAILED OBESE MACAQUES GIVING WITH LOW DOSE NICOTINE) Choliq, Chusnul; Sajuthi, Dondin; Suparto, Irma Herawati; Astuti, Dewi Apri; Wulansari, Retno
Jurnal Veteriner Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.242 KB)

Abstract

The aim of the study was to evaluate the role of low dose nicotine on the profile of blood glucose and  â-cell of pancreatic islets.  Fourteen adult (aged 6 ? 8 years) male cynomolgus monkeys grouped based ontheir Body Mass Index (BMI) into preobese (BMI=23.65 ? 25.00) and obese (BMI e? 26.00) were used inthis study. Subsequently animals were grouped into four:  (i) preobese monkeys with nicotine (pOb+), (ii)obese monkeys with nicotine (Ob+), (iii) preobese monkeys without nicotine (pOb-), and (iv) obese monkeyswithout nicotine (Ob-). Animals in the nicotine groups were fed with high fat diet mixed with nicotine dose0.5?0.75mg/kg body weight/day for three months and the others were fed Monkey Chow® only as thecontrol group. Blood samples were collected every month for glucose analysis and necropsy was performedat the end of study. Pancreas tissues were processed histologically and stained using  immunohistochemicalmethod. The results showed that the blood glucose either preobese (28.37%) or  obese (33.72%) animals inthe nicotine groups significantly decrease (p<0.05) during the study period in comparison to the controlgroup.  Based on brown color intensity of granules cytoplasm of insulin producing cells or immunoreactiveâ-cells, it is shown that the cells of animals in the non nicotine group were more reactive than those in thenicotine groups. In conclusion, there was positive effect of low dose nicotine in maintaining the bloodglucose level in normal range by stimulation of islet cells proliferation to maintain the production ofinsulin in the pancreatic islet.
KIVFA-8 STUDI KASUS: PROFIL MINERAL MAKRO PADA SAPI PERAH YANG MENGALAMI RETENSI PLASENTA DI KUNAK KABUPATEN BOGOR Wulansari, Retno; Esfandiari, Anita; Widhyarti, Sus Derthi; Choliq, Chusnul; Mihardi, Arief Purwo; Maylina, Leni; Suryono, .
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.494 KB)

Abstract

Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya susu sebagai salah satu sumber gizi yang penting berefek terhadap kebutuhan susu nasional terus meningkat pula. Namun kebutuhan yang tinggi ini belum diimbangi dengan produksi susu nasional yang baru mencapai 3.29% per tahun, sehingga kekurangan akan kebutuhan susu ini masih harus diimport dari negara lain. Rata-rata produksi susu di Indonesia dari setiap sapi masih relatif rendah, sekitar 10-12 liter/ekor/hari (Deny 2014). Keterbatasan produksi susu dari dalam negeri ini disebabkan oleh masih belum maksimalnya produksi susu dari setiap sapi perah yang dimiliki oleh peternak di Indonesia.Manajemen pemeliharaan yang baik dalam usaha peternakan sapi perah sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan produksi susu, salah satunya antara lain manajemen pakan. Pakan harus memenuhi unsur-unsur penting diantaranya mineral makro dan mikro dalam jumlah yang secukupnya.Masalah kesehatan yang sering ditemui pada sapi perah awal laktasi umumnya berupa gangguan metabolik, seperti milk fever dan ketosis (Divers & Peek 2008). Hipokalsemia adalah kelainan metabolik dimana mekanisme homeostasis gagal untuk mempertahankan konsentrasi Ca darah normal saat awal laktasi (Chamberlain et al. 2013). Kejadian ini sering didahului dengan kondisi hipokalsemia subklinis pada saat bunting dan kering kandang, tetapi tidak teramati oleh peternak (Goff 2008). Retensi Plasenta merupakan salah satu manifestasi dari gangguan metabolik akibat tidak cukupnya konsentrasi mineral pada hewan post partus. Sapi secara normal akan melepaskan plasenta dalam waktu 3 -6 jam post partus. Retensi atau tertahannya plasenta lebih dari 8 ? 12 jam pada induk post partus dapat dipertimbangkan sebagai suatu kondisi yang abnormal (Diver & Peek 2008. Salah satu predisposisi adalah tidak adanya program manajemen pakan atau pemberian suplemen mineral yang tidak tepat, sebagaimana disajikan pada studi kasus berikut.
KIVFA-2 EFEK IMUNOMODULATOR TERHADAP PROFIL LEUKOSIT INDUK SAPI FRIESIAN HOLSTEIN YANG DIBERI ANTIGEN AI H5N1 INAKTIF Murtini, Sri; Esfandiari, Anita; Widhyarti, Sus Derthi; Wulansari, Retno; Maylina, Leni; Mihardi, Arif Purwo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.156 KB)

Abstract

Immunomodulator adalah zat yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan  atau menekan respon imun. Cox (1988) melaporkan bahwa pengaruhnya  selain terhadap  respon imun, imunomodulator juga dapat memodulasi haematopoiesis, termasuk peningkatan jumlah RBC dan WBC (leukosit), peningkatan PCV dan aktivasi makrofag.  Sapi friesian holstein (FH) merupakan sapi perah yang dapat digunakan sebagai hewan donor penghasil immunoglobulin G anti AI H5N1 melalui produk kolostrumnya (Esfandiari et al, 2007).  Guna meningkatkan titer immunoglobulin pada hewan donor hiperimun sera umumnya hewan diberi imunomdulator.  Berbagai jenis bahan seperti glucan, lectin, dan berbagai jenis polisakarida dari tanaman maupun hewan (Alamgir dan Uddin 2010) serta polipeptide ribonukleotida dapat digunakan sebagai imunomodulator.(Hess dan Greenberg 2012)  Penggunaan  polipeptida ribonukleotida sebagai imunomodulator ada sapi saat ini belum banyak diteliti.  Pemberian imunomodulator memberikan dampak perubahan gambaran leukosit secara langsung maupun tidak langsung.  Dampak pemberian imunomodulator jenis polipeptide ribonukleotida pada sapi FH bunting trimester terakhir untuk tujuan produksi hiperimunsera melalui produksi kolostrum belum pernah dilaporkan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian imunomodulator peptide ribonukleotida pada sapi FH yang disuntik antigen AI H5N1 inaktif.
DATA DASAR PERANCANGAN ALAT CELUP PUTING SESUAI DENGAN BENTUK PUTING SAPI PERAH DI JAWA BARAT Pisestyani, Herwin; Sudarwanto, Mirnawati; Wulansari, Retno; Atabany, Afton
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 5 No. 2 (2017): Juli 2017
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.853 KB) | DOI: 10.29244/avi.5.2.89-97

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membuat data dasar mengenai ukuran puting sapi perah peranakan Frisien Holstein di Jawa Barat. Data digunakan sebagai acuan untuk merancang bangun prototipe alat celup puting sesuai dengan bentuk puting dan kondisi peternakan sapi perah di Indonesia. Penelitian dirancang menggunakan kajian lapang lintas seksional. Data diperoleh dengan cara pengukuran bentuk eksterior puting pada 324 ekor sapi perah dalam masa laktasi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puting bagian depan memiliki rerata lebih panjang dibandingkan dengan puting bagian belakang, berturut turut panjang puting Kanan depan/KaD (6,11 ± 1,42 cm), Kiri depan/KiD (6,11 ± 1,48 cm), Kanan belakang/KaB (4,94 ± 1,37 cm), dan Kiri belakang/KiB (4,88 ± 1,41 cm). Setiap peningkatan umur laktasi menyebabkan panjang puting dari semua kuartir mengalami pertambahan ukuran, dan peningkatan yang signifikan terjadi pada laktasi ke-6 (P<0,05), kecuali pada puting KaB tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (P>0,05). Rerata lingkar puting hampir sama pada seluruh kuartir, yaitu 7,66 ± 1,45 cm (KaD), 7,70 ± 1,49 cm (KiD), 7,13 ± 1,38 (KaB), dan 7,07 ± 1,46 (KiB). Rerata lingkar puting juga mengalami pertambahan ukuran seiring dengan bertambahnya umur laktasi. Peningkatan rata-rata lingkar puting secara signifikan terjadi pada umur laktasi ke-5 (P<0,05). Jarak antara puting kanan dan kiri bagian depan lebih lebar (8,08 ± 2,97 cm) dibandingkan dengan jarak antara puting kanan dan kiri bagian belakang (3,02 ± 2,54 cm). Jarak antara puting depan belakang bagian kanan (7,38 ± 2,56 cm) memiliki rerata yang hampir sama dengan jarak antar puting depan belakang bagian kiri (7,27 ± 2,54 cm). Puting depan memiliki jarak yang lebih dekat dengan lantai dibandingkan dengan puting belakang, dengan perbedaan jarak sebesar 0,97 cm.
KADAR KALSIUM PADA SAPI PERAH PENDERITA MASTITIS SUBKLINIS DI PASIR JAMBU, CIWIDEY Wulansari, Retno; Palanisamy, Sugunavathy; Pisestyani, Herwin; Sudarwanto, Mirnawati B; Atabany, Afton
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 5 No. 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.995 KB) | DOI: 10.29244/avi.5.1.16-21

Abstract

Kalsium merupakan makro mineral yang berperan sangat penting dalam metabolisme ternak sapi perah dan kekurangan kalsium dapat menjadi salah satu penyebab penyakit radang ambing. Penelitian bertujuan mengukur kadar kalsium darah sapi perah penderita mastitis subklinis. Sampel susu dan darah diambil dari 20 ekor sapi perah yang berasal dari peternakan rakyat Pasir Jambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung Barat. Kadar kalsium darah diperiksa menggunakan metode Atomic Absorption Spectrofotometer (AAS), sedangkan sampel susu diperiksa untuk menentukan status mastitis subklinis berdasarkan jumlah sel somatik (JSS) dan uji mastitis IPB-1. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 11 dari 20 ekor sapi (55%) menderita mastitis subklinis dan 6 dari 11 ekor tersebut (54,5%) disertai hipokalsemia subklinis. Sapi penderita mastitis subklinis secara nyata memiliki jumlah sel somatik yang tinggi dan kadar kalsium cenderung rendah. Kadar kalsium dan jumlah sel somatik memengaruhi produksi susu sebesar 99% (R2= 0,99). Simpulan penelitian ini adalah sebagian besar sapi perah penderita mastitis subklinis disebabkan kondisi hipokalsemia subklinis serta mengalami penurunan produksi susu.
KINERJA KESEHATAN SAPI NEONATUS YANG DIBERI KOLOSTRUM DARI INDUK SAPI YANG DIVAKSIN ESCHERICHIA COLI Wulansari, Retno; Esfandiari, Anita; Wibawan, I Wayan Teguh; Murtini, Sri
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 4 No. 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.496 KB) | DOI: 10.29244/avi.4.1.19-26

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari status kesehatan anak sapi baru lahir yang diberi kolostrum berasal dari induk yang telah divaksinasi dangan vaksin E. coli in-aktif. Sebelas ekor anak sapi baru lahir digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kolostrum (diberi kolostrum sapi) dan non-kolostrum (diberi susu sapi). Kolostrum atau susu sapi diberikan sebanyak 10% berat badan secara langsung setelah dilahirkan dan selanjutnya tiap 12 jam selama 3 hari. Uji tantang dilakukan dengan pemberian E. Coli K99 hidup peroral saat anak sapi berumur 14 jam. Pemeriksaan status kesehatan termasuk suhu tubuh, frekuensi pulsus dan napas serta kualitas defikasi pada 0,12, 24, 48, 72 dan 168 jam setelah uji tantang. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa diarrhea timbul pada 12 sampai 26 jam setelah uji tantang pada semua anak sapi kelompok non-kolostrun dan beberapa anak sapi kelompok kolostrum. Kelompok non-kolostrum memperlihatkan tanda klinis dengan diarrhe parah sebagai diarrhe profus yang berwarna pucat kekuningan. Bahkan 1 ekor mati pada 3 hari setelah uji tantang. Sebaliknya pada kelompok kolostrum hanya memperlihatkan diarrhe sedang pada 5 dari 8 ekor. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah konsumsi kolostrum yang berasal dari induk yang telah divaksinasi dengan E. Coli memperlihatkan sifat protektif terhadap infeksi E. coli K99.Kata kunci: Escherichia coli, kolostrum, anak sapi baru lahir. (The Health Performance of Neonatal Calves Received Colostrum from Cows Vaccinated by Escherichia coli)This experiment was conducted to study the health status of neonatal calves received colostrum from cows vaccinated by in-active E. coli. Eleven healthy newborn calves were used in this experiment and divided into two groups, i.e colostrum (received bovine colostrum) and non-colostrum group (received bovine milk). Colostrum or milk were given to the calves at 10% of body weight directly after birth and followed every 12 h, for three days. Challenges were done orally to all newborn calves when they were 14 hours of ages, used live E. coli K-99. Examination of health status included body temperature, pulses and respiration rates, and defecations quality at 0, 12, 24, 48, 72 and 168 hours after challenges. Results of the experiment showed that diarrhea appeared at 12-26 hours after challenges in all calves of non-colostrum group and part of calves in colostrum group. The non-colostrum group showed a severe clinical signs of diarrhea as watery profuse diarrhea with pale yellowish color. One calf even death at three days after challenges. In contrast, the colostrum group showed only a mild diarrhea in 5 out of 8 calves. In conclusion, the consumption of colostrum originated from cows vaccinated by E. coli showed protective properties against E. coli K-99 infection.Keywords: Escherichia coli, colostrum, neonatal calves
KEJADIAN DAN TERAPI BABESIOSIS DENGAN CLINDAMYCIN PADA KUCING (THE INCIDENCE AND TREATMENT OF BABESIOSIS WITH CLINDAMYCIN IN CAT) Wulansari, Retno; Soesatyoratih, Raden Roro; ., Suryono
Jurnal Veteriner Vol 15 No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.245 KB)

Abstract

The patients : 5 cats, came to ?Klinik Hewan Cimanggu?, complains from the clients were includinglistlessness, anorexia, diarrhea, and constipation. From the Physical examination they showed a palemucous membrane, hyperaemic on sclera, larger of cranial abdominal . Laboratory finding on bloodssmear showed blood parasites in red cells that suspected as Babesia sp. One of them concurrently withhaemobartonella sp infections. The general result of blood laboratory test showed anemia andthrombocytopenia. Its treated by clindamycin (10 mg/Kg BW) and multivitamin twice a day for 3 weeksand parasitemia level in 1000 red cell was count before treated. Reexamination of smear red cell wasdone during and after treatment. In general they had demonstrated the decrease of parasitemia level.Some of them didn?t showed any changes of parasitemia level, however they showed morphological changesthat indicate inactive condition of parasites. The decrease of parasitemia level or the morphologicalchanges of parasites indicates that the development of parasitemia level has been depressed, so theclinical signs decreased and the animal?s condition improved. It believed that clindamycin inhibits proteinsynthesization in ribosome causing the damage to the parasite, but it will not eliminate the parasitesrapidly from peripheral blood. The Clindamycin treatment on cats with babesiosis will not induct the sideeffects .
KONSENTRASI SERUM ANJING YANG OPTIMUM UNTUK MENUMBUHKAN DAN MEMELIHARA BABESIA CANIS DALAM BIAKAN Astyawati, Tutuk; Wulansari, Retno; -, Cahyono; Ardhiansyah, Ferry; Rumekso, Ari; -, Dhetty
Jurnal Veteriner Vol 11 No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.485 KB)

Abstract

The use of cultivation system in vitro is very important in the future study of Babesia canis. Theaim of this study was to cultivate B. canis in vitro using RPMI media with different concentration of dogsera. B. canis infected erythrocytes were collected from splenectomized infected dog. Parasites werecultivated with RPMI 1640 medium supplemented with normal dog sera at the concentration of 10%, 20%and 40%, the culture were then incubated in 5% CO2 , 37oC temperature for 17 days and subcultured every48 hours. The Percentage of Parasitized Erythrocytes (PPE) in culture with 10% dog serum was significantlylower than those 20%, and 40% The used of 20% and 40 % sera were better than 10%. It is recommendedthat 40 % serum can be used for initiation phase of cultivation, whereas 20% concentration were used formaintenance of the culture.
EFEK PENAMBAHAN MINERAL ZN TERHADAP GAMBARAN HEMATOLOGI PADA ANAK SAPI FRISIAN HOLSTEIN Widhyari, Sus Derthi; Esfandiari, Anita; Wijaya, Agus; Wulansari, Retno; Widodo, Setyo; Maylina, Leni
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 19 No. 3 (2014): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.703 KB)

Abstract

The objective of this experiment was to determine the effects of zinc supplementation on health status in dairy calves. Nine Frisian Holstein (FH) at 6-10 months of age were used in this experiment and divided into three groups. First group (no added Zn) for control, the second group was added 60 ppm Zn, and the third group was added 120 ppm Zn. Zn was administered daily for three months. Blood samples were collected from the jugular vein and anticoagulated with EDTA. Whole blood were used for measuring erythrocytes, hemoglobin concentration, hematocrit value, total leukocyte count, and leukocyte cell types. The results showed that no difference among groups for hematological parameters and the value of hematology were in the range values references. In conclusion, 60 and 120 ppm Zn supplementation in the feed is relatively safe for health.
PENENGGULANGAN CAPLAK RHIPICEPHALUS SANGUINEUS DENGAN VAKSINASI Astyawati, Tutuk; Wulansari, Retno
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 13 No. 1 (2008): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.39 KB)

Abstract

The tiltle of this study is Rltipiceplta/us sanguineus controls by vaccination. The vaccine used from crude adulttick extracts to vaccinated dogs, shccps and rabits. The experimental animals were inoculated subkutaneously, threetimes every two weeks with crude adult tick extracts and adjuvant. Fifteen days after the last inoculation all animalswere submitted to challenge infestation with unfed adult ticks. The dogs were placed in the severe contaminatedenvironment. The ticl.:s were placed inside a feeding chamber consisting of a plastic tube to the saved back of shccps.Ticks were placed for save behind the ear of rabbits. Observation was done 3 days after infestation. The results ofthis investigation were observed that most of ticks were recovered in dogs either vaccinated or non vaccinatedgroups, however on the control groups without vaccinated ticks the infestation were higher than vaccinated groupsas well as in the sheeps and rabbits. In the rabbits although ERCE value between vaccinated and non vaccinatedgroups not significants statistically, there were demonstrated that ERCE value in the vaccinated groups lower thancontrol groups without vaccinated. According to our investigation we can concluded the usc of tick antigen couldinduced resistance by direct immunisation. Adult ticks of Rltipicepltalus sanguineus crude extract tends to induceresistance in rabbits, sheeps and dogs with different level of resistance. The immunity seems not to be acquiredduring a natural exposure tends to evolved with crude adult tick extracts vaccinations.Keywords: resistance, rhipicephalus, sanguincus, vaccination