Articles

Found 10 Documents
Search

Spontaneous Intestinal Perforation in Neonate Nofendra, Ade; Yantri, Eny; Harmen, Anggia Perdana
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spontaneous Intestinal Perforation (SIP) terjadi pada 8,4 persen bayi dengan berat badan lahir sangat rendah. SIP ditandai dengan onset mendadak dan tidak ditemukannya tanda infeksi. Presentasi klinis SIP pada bayi bervariasi, dan etiologinya belum diketahui secara pasti. Konsekuensi klinis SIP dapat menimbulkan komplikasi yang cukup parah sehingga dokter harus menyadari kemungkinan penyebab dan gejala. Terapi utama SIP yaitu: drainase peritoneum dan laparotomi dengan reseksi. Dilaporkan kasus SIP pada by perempuan usia 2 hari, yang didiagnosis berdasarkan gejala klinis dan rontgen abdomen. Pasien dilakukan pemasangan drainase di abdomen dan mengamai perbaikan klinis.
Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap Suhu dan Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir Hutagaol, Hotma Sauhur; Darwin, Eryati; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipotermia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi baru lahir di negara berkembang. Salah satu asuhan untuk mencegah hipotermi adalah dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap suhu aksila dan kehilangan panas kering pada bayi baru lahir. Ini merupakan studi cross-sectional comparative yang melakukan observasi bayi yang lahir dengan persalinan normal yang dilaksanakan IMD atau tidak, kemudian dilakukan pengukuran suhu aksila dan kehilangan panas kering pada kedua kelompok. Data dianalisa menggunakan uji t-test, dan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata suhu aksila kelompok IMD sebesar 37,1 ± 0,20C dan rerata suhu aksila pada kelompok non IMD sebesar 36,8 ± 0,40C. Rerata total kehilangan panas kering pada kelompok IMD sebesar 30,1 ± 3,4 J dan pada kelompok non IMD sebesar 31,2 ± 3,9 J. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa IMD berpengaruh terhadap peningkatan suhu aksila. Kehilangan panas kering lebih rendah pada kelompok IMD walau tidak bermakna secara statistikKata kunci: IMD, suhu aksila, kehilangan panas keringAbstractHypothermia is a major cause of morbidity and mortality in neonatal period. One of essential care for newborn to prevent hypothermia is early initiation of breastfeeding. The objective of this study was to see the effects of early initiation of breastfeeding to increase axillary temperature and decrease dry heat loss in newborn. The design of this study is observational study with cross-sectional comparative design. The subjects were normal newborn with early initiation of breastfeeding and without early initiation of breastfeeding. Axillary mean temperature after early initiation of breastfeeding is 37,1 ± 0,20C and axillary mean temperature on non early initiation of breastfeeding group is 36,8 ± 0,40C. Total dry heat loss mean on early initiation of breastfeeding group is 30,1 ± 3,4 J and on non early initiation of breastfeeding group is 31,2 ± 3,9 J. This study concluded that there is the effect of early initiation of breastfeeding to axillary temperature. Total dry heat loss is lower on early initiation of breastfeeding group but not significant statistically.Keywords: early initiation of breastfeeding, axillary temperature, dry heat loss
EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PENCEGAHAN STUNTING DITINJAU DARI INTERVENSI GIZI SPESIFIK GERAKAN 1000 HPK DI PUSKESMAS PEGANG BARU KABUPATEN PASAMAN Muthia, Gina; Edison, Edison; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 4 (2019): Dipublikasi Desember 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i4.1125

Abstract

AbstrakPeriode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebut dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan dipengaruhi oleh status gizi ibu pada saat pra-hamil, kehamilan dan saat menyusui. Masalah gizi yang dapat terjadi pada masa ini adalah stunting (pendek). Salah satu program yang terdapat dalam Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam upaya mencegah stunting adalah intervensi gizi spesifik. Tujuan: Menganalisis evaluasi pelaksanaan program pencegahan stunting ditinjau dari intervensi gizi spesifik Gerakan 1000 HPK. Metode: Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Pegang Baru menggunakan rancangan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam (Indepth Interview), observasi dan Focus Group Discussion (FGD). Komponen yang diteliti adalah input (pembiayaan, SDM, obat-obatan, pedoman dan SPO), process (perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pengawasan, pencatatan dan pelaporan) dan output (pencapaian indikator gizi spesifik). Hasil: Komponen input; tidak ada dana khusus untuk intervensi gizi spesifik, masih kurangnya tenaga gizi dan belum ada pedoman dan SPO tentang penanganan growth faltering. Komponen proses; perencanaan belum dilakukan secara buttom up dan belum semua intervensi gizi spesifik mempunyai pencatatan pelaporan. Komponen output; balita yang mendapat kapsul vitamin A dan bumil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat PMT sudah memenuhi target capaian dan masih ada program intervensi gizi spesifik yang dillaksanakan tidak bisa dievaluasi. Simpulan: Pencegahan stunting melalui program intervensi gizi spesifik belum menurunkan stunting dibawah 20%. 
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) BALITA DI PUSKESMAS KOTA PADANG TAHUN 2018 Syofiah, Putri Nelly; Machmud, Rizanda; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 4 (2019): Dipublikasi Desember 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i4.1133

Abstract

AbstrakProgram SDIDTK merupakan program pembinaaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada masa balita. Program SDIDTK balita di Kota Padang masih dihadapkan pada pengelolaan yang kurang profesional diberbagai tahapan. Tujuan: Menganalisis sistem pelaksanaan program SDIDTK balita di Puskesmas Kota Padang tahun 2018. Metode: Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara triangulasi sumber dan teknik. Hasil: Pengolahan dan analisis data pada komponen input kebijakan sudah ada. Standar Operasional Pelayanan dan Pedoman sudah ada, tetapi jumlahnya belum mencukupi. Tenaga kesehatan masih belum memenuhi standar. Dana telah dianggarakan. Ketersediaaan sarana dan prasarana belum cukup memadai. Komponen proces perencanaan dan pengorganisasian sudah ada. Lokakarya mini sudah dilaksanakan secara berkala. Pelaksanaan pelayanan masih ada yang melaksanakan tidak sesuai dengan buku pedoman yang ada. Supervisi dan evaluasi masih kurang maksimal. Pencatatan dan pelaporan belum  berjalan dengan baik. Simpulan: Kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) belum dilaksanakan secara maksimal. 
Hubungan Kadar LDL dan HDL Serum Ibu Hamil Aterm dengan Berat Lahir Bayi Sabrida, Oktalia; Hariadi, Hariadi; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAda anyak penelitian yang membuktikan transfer kolesterol dari ibu ke janin melalui lapisan trofoblas yang membawa partikel LDL (Low Density Lipoprotein) dan HDL (High Density Lipoprotein). Pengambilan dan pemanfaatan LDL oleh plasenta merupakan mekanisme alternatif oleh janin untuk memperoleh asam lemak dan asam amino esensial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar LDL dan HDL serum ibu hamil aterm dengan berat lahir bayi. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan cross sectional. Dilakukan pemeriksaan kadar LDL dan HDL serum terhadap 31 sampel ibu hamil aterm yang dipilih secara consecutive sampling, kemudiaan saat bayi dari sampel lahir dilakukan penimbangan berat lahir bayi dalam 1 jam setelah lahir dengan keadaan tanpa pakaian. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dilanjutkan dengan uji regresi linier sederhana, nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata kadar LDL serum ibu hamil aterm 138,52±37,86 mg/dl dengan 7 sampel (22,60%) kadar LDL <101 mg/dl. Rerata kadar HDL serum ibu hamil aterm 53,32±17,39 mg/dl dengan 13 sampel (41,90%) kadar HDL <48 mg/dl. Rerata berat lahir bayi 3150,00±489,89 gram dengan 2 sampel (6,50%) memiliki bayi dengan berat<2500 gram. Terdapat hubungan positif antara kadar LDL serum ibu hamil aterm dengan berat lahir bayi, kekuatan hubungan lemah (r=0,258), secara statistik tidak bermakna (p=0,161). Terdapat hubungan positif antara kadar HDL serum ibu hamil aterm, kekuatan hubungan sangat lemah (r=0,035), secara statistik tidak bermakna (p=0,850). Kesimpulan penelitian tidak terdapat hubungan kadar LDL dan HDL serum ibu hamil dengan berat lahir bayi.Kata kunci: kadar LDL serum, kadar HDL serum, ibu hamil aterm, berat lahir bayiAbstractMany studies proved that the transferring of cholesterol from mother to fetus through the trophoblastic layer carried LDL (Low Density Lipoprotein) and HDL (High Density Lipoprotein) particles. Uptake and usage of LDL by placenta to the fetus is an alternative mechanism to obtain fatty acids and essential amino acids. The objective of this study was to determine whether there is a relationship between LDL and HDL serum level of pregnant women at term with infant birth weight. This study was an observational study with cross sectional design. Examination of LDL and HDL serum level to 31 term pregnancy sample choose by consecutive sampling, and then infant’s birth weight was counted within 1 hour after birth without clothes. The data analyzed with Pearson correlation statistical test followed by simple linier regression statistical test. The mean of LDL serum level term pregnancy was 138,52±37,86mg/dlwith7 samples(22.60%) in LDL levels<101 mg/dl. The mean of HDL serum level at term pregnancy was 53,32±17,39 mg/dlwith 13 samples (41,90%) in HDL levels<48 mg/dl. The mean of infant birth weight was 3150,00±489,89 grams with 2 samples (6,50%) had infants weighing < 2500 grams. There is a positive relationship between LDL serum levels term pregnancy with birth weight infants, the strength of the relationship is weak (r =0,258), were not significant statistically (p=0,161). There is a positive relationship between HDL serum levels at term pregnancy with birth weight infants, the strength ofthe relationshipis veryweak(r =0,035), were not significant statistically (p=0,850). In conclusion there was no correlation of serum levels of LDL and HDL at term pregnant with birth weight.
Peran Sistem Skoring Hematologi dalam Diagnosis Awal Sepsis Neonatorum Awitan Dini Adriani, Ranti; Yantri, Eny; Mariko, Rinang
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.876 KB) | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.17-23

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada neonatus. Adanya gejala klinis yang tidak spesifik dan keterbatasan sarana pemeriksaan penunjang masih merupakan masalah dalam diagnosis sepsis. Sistem skoring hematologi (SSH) dapat digunakan sebagai metode deteksi awal SNAD. Tujuan. Mengetahui apakah sistem skoring hematologi (SSH) dapat digunakan dalam diagnosis awal SNAD.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dan uji diagnostik pada bayi dengan risiko dan diduga sepsis neonatorum awitan dini yang dirawat di NICU/Perinatologi RSUP Dr. M Djamil Padang dari bulan Oktober 2016 hingga Juni 2017. Diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan biakan darah. Sistem skoring hematologi terdiri delapan parameter hematologis.Hasil. Subjek penelitian 78 pasien, terdiri dari tidak sepsis 30 orang (38%) sepsis klinis 28 orang (36%) dan terbukti sepsis 20 orang (26%). Nilai SSH tidak sepsis lebih rendah dari kelompok sepsis klinis dan terbukti sepsis. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna nilai SSH kelompok terbukti sepsis dan sepsis klinis. Nilai SSH ≥2 memiliki nilai sensitifitas 100%, spesifitas 25,8 % dalam mendiagnosis sepsis (bakteremia ) pada bayi dengan dugaan SNAD. Kesimpulan. Sistem skoring hematologi ini dapat digunakan sebagai metode deteksi awal sepsis neonatorum awitan dini, terutama di rumah sakit dengan sarana pemeriksaan penunjang terbatas.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan ASI terhadap Kadar Laktoferin dan Lisozim yang Terkandung di dalam ASI Wahyudi, Nanda; Amir, Arni; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nutrisi ASI penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kesibukan pekerjaan menyebabkan ibu harus memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi saat ibu jauh dari bayinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan ASI terhadap kadar laktoferin dan lisozim yang terkandung di dalam ASI. Penelitian ini eksperimental murni dengan one group pretest-posttest design. Dilakukan di Puskesmas Seberang Padang, BPM Nurhaida, Klinik Meri Medika, BPM Rika Hardi dan laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada bulan Juni 2017 - Juli 2018. Sampel berjumlah 20 ASI ibu menyusui 4-10 hari postpartum. Kadar laktoferin dan lisozim diperiksa dengan ELISA. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-smirnov. Uji bivariat menggunakan One-way Anova dan Kruskal-wallis. Uji multivariat menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kadar laktoferin yang bermakna antara ASI segar, suhu 4⁰C dan -20⁰C (p=0,000), serta antara ASI Segar, penyimpanan 5 hari dan 28 hari (p=0,000). Terdapat perbedaan lisozim yang bermakna antara ASI segar, suhu 4⁰C dengan -20⁰C (p=0,000), serta antara ASI segar, penyimpanan 5 hari dan 28 hari (p=0,000). Uji multivariat menunjukkan lama penyimpanan berpengaruh lebih besar terhadap kadar laktoferin. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar laktoferin ASI stabil dengan penyimpanan pada suhu 20°C selama 5 hari. Kadar lisozim ASI meningkat dengan penyimpanan pada suhu 20°C selama 5 hari.
Pengaruh Pemberian Air Rendaman Rumput Fatimah (Anastatica Hierochuntica) Terhadap Kadar Hormon Oksitosin dan Hormon Prolaktin Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Menyusui Perbandingan Safitri, Yunni; Afriwardi, Afriwardi; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, dan flavonoid yang merupakan bagian fitoestrogen. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain Post-Tes Only Control Group. Jumlah sampel 32 tikus menyusui yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakukan P1, P2 dan P3 yang masing–masing diberi 10gr, 20gr dan 40gr rendaman Anastatica Hierochuntica. Penelitian dilakukan di Labor Farmasi dan Biomedik Universitas Andalas. Hormon oksitosin dan hormon prolaktin diukur dengan mengunakan metode ELISA. Uji statistik menggunakan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui normalitas data, dilanjutkan One Way ANOVA dan untuk mengetahui perbedaan pada kelompok digunakan uji Multiple Comparisons (post hoc test) jenis Bonferroni. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) kadar hormon oksitosin antara kelompok kontrol (56,604±10,907) dengan kelompok P2 (44,095±6,117). Pada hormon prolaktin juga berbeda secara bermakna (p<0,05) antara kelompok kontrol (11,794±1,633) dengan kelompok P3 (16,991±3,735). Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui.
KADAR INSULIN-LIKE GROWTH FACTOR-1, GHRELIN ASI, DAN PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI PADA IBU MENYUSUI OBESITAS DAN NORMAL Sinaga, Desriati; Yantri, Eny; Yusrawati, Yusrawati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 15, No 1 (2018): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.34939

Abstract

Background: Obesity is one of the factors that trigger the incidence of non-communicable diseases and increase morbidity rates in mothers and infants. Ghrelin hormone in breast milk serves to stimulate appetite in infants as well as release factors for growth hormone (GH). Insulin-like growth factor 1 (IGF-1) hormone in breast milk plays a role in increasing the length of bone and muscle mass of infants and mediators of GH work. Obesity can affect baby's weight gain, ghrelin and IGF-1 hormone levels in breast milk.Objective: Analyzes the association of IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with baby's weight gain between obese and normal mothers.Method: Observational study with cross sectional design on 40 breastfeeding mothers and their infants in the work area of Andalas Health Center, Ikur Koto Health Center and Puskesmas Lubuk Buaya Padang City with consecutive sampling technique from August to November 2017. The examination of IGF-1 and ghrelin levels was conducted at the University's Biomedical Laboratory Andalas with ELISA method. Weight gain is obtained from first month infant weight loss with infant birth weight. Data analysis used independent t-test and Pearson test.Results: There was a difference in IGF-1 levels in breast milk (p=0.00) between obese and normal mothers. There was no difference in ghrelin levels of breast milk (p=0.90) between obese and normal mothers. There was a difference in weight gain between obese and normal mothers (p=0.02). There was no significant association between IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with an increase baby weight gain between obese and normal mothers.Conclusion: There was no significant association between IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with an increase baby weight gain between obese and normal mothers.
Kadar insulin-like growth factor-1, ghrelin ASI, dan peningkatan berat badan bayi pada ibu menyusui obesitas dan normal Sinaga, Desriati; Yantri, Eny; Yusrawati, Yusrawati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 15, No 1 (2018): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.34939

Abstract

Background: Obesity is one of the factors that trigger the incidence of non-communicable diseases and increase morbidity rates in mothers and infants. Ghrelin hormone in breast milk serves to stimulate appetite in infants as well as release factors for growth hormone (GH). Insulin-like growth factor 1 (IGF-1) hormone in breast milk plays a role in increasing the length of bone and muscle mass of infants and mediators of GH work. Obesity can affect baby's weight gain, ghrelin and IGF-1 hormone levels in breast milk.Objective: Analyzes the association of IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with baby's weight gain between obese and normal mothers.Method: Observational study with cross sectional design on 40 breastfeeding mothers and their infants in the work area of Andalas Health Center, Ikur Koto Health Center and Puskesmas Lubuk Buaya Padang City with consecutive sampling technique from August to November 2017. The examination of IGF-1 and ghrelin levels was conducted at the University's Biomedical Laboratory Andalas with ELISA method. Weight gain is obtained from first month infant weight loss with infant birth weight. Data analysis used independent t-test and Pearson test.Results: There was a difference in IGF-1 levels in breast milk (p=0.00) between obese and normal mothers. There was no difference in ghrelin levels of breast milk (p=0.90) between obese and normal mothers. There was a difference in weight gain between obese and normal mothers (p=0.02). There was no significant association between IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with an increase baby weight gain between obese and normal mothers.Conclusion: There was no significant association between IGF-1 and ghrelin levels of breast milk with an increase baby weight gain between obese and normal mothers.