Articles

Found 12 Documents
Search

KEBIASAAN MAKAN PAGI, LAMA TIDUR DAN KELELAHAN KERJA (FATIGUE) PADA DOSEN Yogisutanti, Gurdani; Kusnanto, Hari; Setyawati, Lientje; Otsuka, Yasumasa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangidengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isukesehatan kerja. Namun, penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belummenjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan pagi, lamawaktu tidur dengan kelelahan kerja. Metode. Desain cross sectional digunakan dalam penelitian dansebanyak 77 partisipan berasal dari 2 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Makanpagi dan lama waktu tidur per hari (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner. Kelelahankerja (variabel terikat) diukur menggunakan reaction timer yang dilakukan selama 3 hari dalam 1minggu. Kelelahan kerja merupakan rerata waktu reaksi dari hasil pengukuran. Hasil. Rerata waktutidur 6,12±0,670 jam, sebanyak 52(67,5%) dosen mempunyai kebiasaan makan pagi. Rerata waktureaksi 233,83±46,64 milidetik. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi didapatkan tingkatkelelahan berkorelasi negatif dengan kebiasaan makan pagi (p=0,000; r=-0,472) dan waktu tidur(p=0.000; r=-0,459). Kesimpulan. Kelelahan kerja dosen disebabkan kurang tidur dan intake kaloriyang dibutuhkan untuk beraktivitas. Untuk mengatasi kelelahan kerja perlu peningkatan kesadarandan pengetahuan dosen tentang keselamatan dan kesehatan kerja terutama kebiasaan makan danwaktu istirahat yang baik dan sehat agar menjadi budaya kerja. Background. In a healthy person fatigue is a normal phenomenon, experienced by everyone andusually easily relieved by rest or sleep. Increased sleepiness at work is now increasingly being focusedon a safety health issue. However, research on university teacher’s fatigue is very limited and has notbeen fully addressed. Objective. Th e Objective of this study was to clarify the relationship betweensleeping duration, breakfast habits and fatigue in university teacher. Method. Cross-sectional surveywas used and 77 participants were given a questionnaire about sleeping duration, breakfast habits andfatigue symptoms. Fatigue level was measured with reaction timer in the morning when they arrivedat the workplace and before they left the workplace. Correlation analyses were used to identify therelationship between independents and dependent variables. Result. Average hour of sleep was 6.12hours per night (SD=0.67) and 67.5% participants were not having breakfast. Level of fatigue in themorning was mostly in light fatigue level (259.68±49.16 mms), which was signifi cantly correlated withsleep duration (r=0.459; p=0.000), which was signifi cantly correlated with breakfast habits (r=-0.472;p=0.000). Conclusion. Fatigue level was associated with sleep deprivation and low intake calories frombreakfast. University teachers may suff er from fatigue at their beginning of work because of the lack ofsleep duration, while in the evening, fatigue became higher because of the lack energy from breakfast.To manage the fatigue level for university teachers should be considered to improve university teacher’sknowledge about sleep and breakfast and have enough time to sleep and breakfast before working.
FACTORS RELATED TO NUTRITIONAL STATUS IN AGES 12-23 MONTHS IN WORK AREA PUSKESMAS CITEUREUP Permatasari, Resvy Hanida; Yogisutanti, Gurdani; Sobariah, Enok
Kesmas Indonesia: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ki.2020.12.1.1705

Abstract

Status gizi dapat dipengaruhi oleh dua yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung terdiri dari asupan makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak dan penyebab tidak langsung terdiri dari pengetahuan ibu dan pelayanan kesehatan (kunjungan posyandu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan energi, protein, pengetahuan gizi ibu, dan frekuensi kunjungan posyandu dengan status gizi. Jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan sampel purposive sampling beserta ibunya. Instrumen data diperoleh menggunakan kuesioner untuk pengetahuan gizi ibu, asupan energi dan protein dari recall 3x24 jam, frekuensi kunjungan posyandu diperoleh dari data register dan buku KIA/KMS dan status gizi diperoleh melalui penimbangan kemudian dibandingkan dengan skor Z-score BB/U WHO 2005. Hasil penelitian berdasarkan uji chi square antara asupan energi deengan status gizi (p=0.018), asupan protein dengan status gizi (p=0.091), pengetahuan gizi ibu dengan status gizi (p=0.109), dan frekuensi kunjungan posyandu dengan status gizi (p=0.469). Kesimpulan penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan status gizi, serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein, pengetahuan gizi ibu dan frekuensi kunjungan posyandu dengan status gizi. Saran peneliti untuk peneliti selanjutnya adalah meneliti faktor ? faktor yang memepengaruhi status gizi balita seperti penyakit infeksi, pola asuh dan keadaan ekonomi keluarga.  
LAMA TIDUR DAN AKUMULASI KELELAHAN KERJA (ACCUMULATED FATIGUE) PADA DOSEN Yogisutanti, Gurdani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JULI 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3467

Abstract

Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang yang dapat dikurangi dengan istirahat maupun tidur. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lama waktu tidur dengan akumulasi kelelahan kerja pada dosen. Penelitian dilakukan pada tahun 2013 dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian terhadap 236 partisipan berasal dari 8 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Lama waktu tidur per hari diukur menggunakan kuesioner dan akumulasi kelelahan kerja diukur menggunakan instrumen self-diagnosis Check List for Assessment of Worker’s accumulated fatigue. Rerata waktu tidur adalah 6,23±1,1 jam per hari). Hasil uji statistik menggunakan Product Moment didapatkan lama waktu tidur berkorelasi negatif dengan gejala kelelahan subjektif (r=-0,132; p<0,05), kondisi kerja(r= -0,169; p<0,05) dan akumulasi kerja (r=-0,173; p<0,05). Semakin tinggi lama tidur, maka semakin rendah kelelahan kerja yang terjadi. Kurangnya waktu tidur dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat pada kualitas hidup dosen dan dapat menyebabkan sakit. Untuk mengurangi akumulasi kelelahan kerja harus cukup waktu tidur dan beristirahat.Fatigue is a normal phenomenon that can be reduced by rest and sleep. The aims of this study was to uncover the relationship between lecturers’ sleep duration and their job burnout. This research was conducted at 2013. The cross sectional design was applied to 236 participants from eight private Health Sciences School in West Java. Sleep durations were measured by a questionnaire and Self-diagnosis Check List for Assessment of Worker’s accumulated fatigue was used to measure lecturers’ job burnout. Results have shown that rates of the sleep duration in a day were around 6,23±1,1 hours. Product moment test has shown that the sleep duration had negative correlation with subjective fatigue (r=-0.132; p<0.05), working conditions (r=-0.169; p<0.05), and working accumulation (r=-0.173; p<0.05). The more sleep duration the lower job burnout. Long term sleepiness can be affected to  quality of live. Adequat sleep one of best way to deal with job burnout problems.
Hubungan antara Lama Tidur dengan Akumulasi Kelelahan Kerja pada Dosen Yogisutanti, Gurdani; Kusnanto, Hari; Maurits, Lientje Setyawati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.928 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i1.78

Abstract

Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangi dengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isu kesehatan kerja. Penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belum menjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lama waktu tidur dengan akumulasi kelelahan kerja pada dosen. Desain potong lintang digunakan dalam penelitian terhadap 236 partisipan berasal dari delapan sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Lama waktu tidur per hari diukur menggunakan kuesioner dan akumulasi kelelahan kerja diukur menggunakan instrumen self-diagnosis check list for assessment of worker’s accumulated fatigue. Rerata waktu tidur adalah 6,23±1,1 jam per hari. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi product moment didapatkan lama waktu tidur berkorelasi negatif dengan gejala kelelahan subjektif (r=-0.132; p<0.05), kondisi kerja (r=-0.169; p<0.05), dan akumulasi kerja (r=-0.173; p<0.05). Semakin tinggi lama tidur, maka semakin rendah kelelahan kerja yang terjadi. Kurangnya waktu tidur dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat pada kualitas hidup dosen dan dapat menyebabkan sakit. Perlunya mengurangi akumulasi kelelahan kerja agar cukup waktu tidur dan beristirahat bagi dosen. Kata kunci:Dosen, fatigue, kelelahan kerja, makan pagi, waktu tidur AbstractFatigue is a normal phenomenon for everybody, it can be reduced by rest and sleep. Sleepiness is a health issue in the occupational health and safety. However, a study related to job burnout in the lecturer community is limited. The aims of this study was to uncover the relationship between lecturers’ sleep duration and their job burnout. The cross sectional design was applied to 236 participants who came from eight different private Health Sciences School in West Java. Sleep durations were measured by a questionnaire and Self-diagnosis Check List for Assessment of Worker’s accumulated fatigue was used to measure lecturers’ job burnout. Results have shown that rates of the sleep duration in a day were around 6,23±1,1 hours. Product moment test has shown that the sleep duration had negative correlation with subjective fatigue (r=-0.132; p<0.05), working conditions (r=-0.169; p<0.05), and working accumulation (r=-0.173; p<0.05). The more sleep duration the lower job burnout. Long term sleepiness can be affected to lecturers’ quality of live. Enough rest and sleep are the best way to deal with job burnout problems.Key words:Breakfast, fatigue, job burnout, lecturer, sleep duration
RELATIONSHIP BETWEEN JOB STRESS AND FRAUD RISK ON EMPLOYEES AT THE NATIONAL EYE CENTER HOSPITAL X Suhat, Suhat; Umami, Furi Destiana; Yogisutanti, Gurdani
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No 1 (2017)
Publisher : Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.143 KB)

Abstract

Background: Fraud is any unlawful acts committed by individuals within an organization or institution to gain an illegal advantage of others through manipulation, falsifying truth and good behavior. On employees, pressure may cause fraud in part by problems stemming job stress from the work environment. The purpose of this study was to determine the relationship of job stress with the risk of fraud on employees. Methods: The study design used cross sectional. Samples were employees in the Administration, Finance, Purchasing, Human Resources, Information and Technology, and Procurement at the National Eye Center Hospital X as many as 37 people. The sampling technique used in this study was proportional random sampling. Data was collected by questionnaire. Analysis of data was done through two stages, namely univariate to see the frequency distribution and bivariate to see the relationship (chi square). Results: The result showed that Ho was rejected (p-value = 0.0001) meant that there was a relationship between job stress with the risk of fraud. Conclusion: The relationship between job stress with the risk of fraud suggests the hospital to do the job stress measurement and risk of fraud continuous and reduce employees stress levels through strategies such as redisigning organizational approaches and participatory decision-making. 
KEBIASAAN MAKAN PAGI, LAMA TIDUR DAN KELELAHAN KERJA (FATIGUE) PADA DOSEN Yogisutanti, Gurdani; Kusnanto, Hari; Setyawati, Lientje; Otsuka, Yasumasa
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2830

Abstract

Latar belakang. Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangidengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isukesehatan kerja. Namun, penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belummenjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan pagi, lamawaktu tidur dengan kelelahan kerja. Metode. Desain cross sectional digunakan dalam penelitian dansebanyak 77 partisipan berasal dari 2 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Makanpagi dan lama waktu tidur per hari (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner. Kelelahankerja (variabel terikat) diukur menggunakan reaction timer yang dilakukan selama 3 hari dalam 1minggu. Kelelahan kerja merupakan rerata waktu reaksi dari hasil pengukuran. Hasil. Rerata waktutidur 6,120,670 jam, sebanyak 52(67,5%) dosen mempunyai kebiasaan makan pagi. Rerata waktureaksi 233,8346,64 milidetik. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi didapatkan tingkatkelelahan berkorelasi negatif dengan kebiasaan makan pagi (p=0,000; r=-0,472) dan waktu tidur(p=0.000; r=-0,459). Kesimpulan. Kelelahan kerja dosen disebabkan kurang tidur dan intake kaloriyang dibutuhkan untuk beraktivitas. Untuk mengatasi kelelahan kerja perlu peningkatan kesadarandan pengetahuan dosen tentang keselamatan dan kesehatan kerja terutama kebiasaan makan danwaktu istirahat yang baik dan sehat agar menjadi budaya kerja.Background. In a healthy person fatigue is a normal phenomenon, experienced by everyone andusually easily relieved by rest or sleep. Increased sleepiness at work is now increasingly being focusedon a safety health issue. However, research on university teachers fatigue is very limited and has notbeen fully addressed. Objective. Th e Objective of this study was to clarify the relationship betweensleeping duration, breakfast habits and fatigue in university teacher. Method. Cross-sectional surveywas used and 77 participants were given a questionnaire about sleeping duration, breakfast habits andfatigue symptoms. Fatigue level was measured with reaction timer in the morning when they arrivedat the workplace and before they left the workplace. Correlation analyses were used to identify therelationship between independents and dependent variables. Result. Average hour of sleep was 6.12hours per night (SD=0.67) and 67.5% participants were not having breakfast. Level of fatigue in themorning was mostly in light fatigue level (259.6849.16 mms), which was signifi cantly correlated withsleep duration (r=0.459; p=0.000), which was signifi cantly correlated with breakfast habits (r=-0.472;p=0.000). Conclusion. Fatigue level was associated with sleep deprivation and low intake calories frombreakfast. University teachers may suff er from fatigue at their beginning of work because of the lack ofsleep duration, while in the evening, fatigue became higher because of the lack energy from breakfast.To manage the fatigue level for university teachers should be considered to improve university teachersknowledge about sleep and breakfast and have enough time to sleep and breakfast before working.
LAMA TIDUR DAN AKUMULASI KELELAHAN KERJA (ACCUMULATED FATIGUE) PADA DOSEN Yogisutanti, Gurdani
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i1.3467

Abstract

Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang yang dapat dikurangi dengan istirahat maupun tidur. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lama waktu tidur dengan akumulasi kelelahan kerja pada dosen. Penelitian dilakukan pada tahun 2013 dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian terhadap 236 partisipan berasal dari 8 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Lama waktu tidur per hari diukur menggunakan kuesioner dan akumulasi kelelahan kerja diukur menggunakan instrumen self-diagnosis Check List for Assessment of Workers accumulated fatigue. Rerata waktu tidur adalah 6,231,1 jam per hari). Hasil uji statistik menggunakan Product Moment didapatkan lama waktu tidur berkorelasi negatif dengan gejala kelelahan subjektif (r=-0,132; p<0,05), kondisi kerja(r= -0,169; p<0,05) dan akumulasi kerja (r=-0,173; p<0,05). Semakin tinggi lama tidur, maka semakin rendah kelelahan kerja yang terjadi. Kurangnya waktu tidur dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat pada kualitas hidup dosen dan dapat menyebabkan sakit. Untuk mengurangi akumulasi kelelahan kerja harus cukup waktu tidur dan beristirahat.Fatigue is a normal phenomenon that can be reduced by rest and sleep. The aims of this study was to uncover the relationship between lecturers sleep duration and their job burnout. This research was conducted at 2013. The cross sectional design was applied to 236 participants from eight private Health Sciences School in West Java. Sleep durations were measured by a questionnaire and Self-diagnosis Check List for Assessment of Workers accumulated fatigue was used to measure lecturers job burnout. Results have shown that rates of the sleep duration in a day were around 6,231,1 hours. Product moment test has shown that the sleep duration had negative correlation with subjective fatigue (r=-0.132; p<0.05), working conditions (r=-0.169; p<0.05), and working accumulation (r=-0.173; p<0.05). The more sleep duration the lower job burnout. Long term sleepiness can be affected to quality of live. Adequat sleep one of best way to deal with job burnout problems.
Pencegahan Kelelahan Kerja dan Stres Kerja pada Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung Yogisutanti, Gurdani
Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.745 KB) | DOI: 10.31294/jabdimas.v2i1.5027

Abstract

AbstrakKelelahan kerja masih menjadi salah satu permasalahan di dunia kerja yang harus menjadi perhatian bagi para pekerja itu sendiri. Kelelehan yang  terus-menerus dapat menyebabkan seseorang mengalami stres kerja, sehingga menjadi tidak produktif. Kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Immanuel Bandung dilaksanakan di wilayah desa binaan, yaitu Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan penyuluhan dan pengukuran kelelahan kerja dan stres kerja pada guru-guru PAUD yang ada di desa tersebut. Sasaran pengabdian masyarakat adalah peningkatan pengetahuan dan kesadaran guru-guru PAUD tentang kelelahan kerja dan stres kerja. Sebanyak 8 orang guru yang berasal dari 3 PAUD, yaitu PAUD Tadzkiroh, Balqis dan Assyifa. Rerata tiap PAUD terdiri dari 2-3 orang guru dan semuanya adalah perempuan dengan usia antara 29-48 tahun dengan tingkat pendidikan sebagian besar Tamat SMA dan ada yang Sarjana. Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 27 November 2018 tempat dilaksanakan di PAUD Tadzkiroh Desa Babakan.  Kegiatan dimulai dengan pengisian kuesioner stres kerja dan data diri responden serta pengukuran kelelahan kerja menggunakan reaction timer Lakassidaya L77. Penyampaian materi kelelahan kerja dan stres kerja secara santai menggunakan power point dan disampaikan dengan tanya jawab dua arah. Hasil pengukuran kelelahan kerja didapatkan sebanyak 75% guru PAUD mengalami lelah ringan, dan 25% dalam kondisi normal. Stres kerja diukur menggunakan instrumen untuk diagnosis stres kerja dengan beberapa kriteria sebagai berikut penyebab stres kerja. Sebagian besar aspek berdasarkan sumber stres, guru-guru PAUD Desa Babakan termasuk dalam kategori derajat stres sedang. Berdasarkan hasil diskusi diketahui bahwa pengetahuan dan kesadaran guru tersebut tentang kelelahan dan stres kerja masih rendah, sehingga dengan penyampaian materi tentang pencegahan kelelahan kerja dan stres kerja pada guru dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadarannya. Upaya  pengukuran kelelahan kerja dan stres kerja pada guru PAUD belum pernah dilaksanakan, sehingga masyarakat mendapatkan manfaat mengetahui kondisi kesehatannya. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang kelelahan kerja dan stres kerja memberikan manfaat bagi guru PAUD untuk melaksankaan upaya pencegahannya.Kata Kunci: guru; PAUD; kelelahan; kerja; stres; reaction timer
PENGARUH SENAM TAI CHI TERHADAP FLEKSIBILITAS DAN KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS PADA LANSIA DI GEREJA BANDUNG BARAT Yogisutanti, Gurdani; Ardayani, Tri; Simangunsong, Desi Sari Ulima
Journal of Public Health Research and Community Health Development Vol 2, No 1 (2018): Oktober
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat, PSDKU Banyuwangi, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.219 KB) | DOI: 10.20473/jphrecode.v2i1.16253

Abstract

Senam Tai Chi merupakan salah satu aktivitas fisik yang dapat digunakan untuk menangani gangguan muskuloskeletal.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam Tai chi terhadap fleksibilitas dan kekuatan otot ekstremitas pada lansia. Metode penelitian yang digunakanquasi experimentdengan rancangan pretest-posttest non equivalent control group design, menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden kelompok intervensi dan kontrol sebanyak 34 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, dan instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar Manual Muscle Testing dan Goniometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum senam, sebagian besar dari responden (58,8%) memiliki fleksibilitas tidak baik, sesudah senam Tai Chi hampir seluruh responden (91,2%) memiliki fleksibilitas baik. Kemudian untuk kekuatan otot ekstremitas sebelum senam, sebagian besar (73,5%) memiliki kekuatan otot rendah dan sesudah senam Tai Chi sebagian besar responden (55,9%) memiliki kekuatan otot tinggi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value sebesar 0,000 ? ? (0,05) berarti bahwa terdapat pengaruh senam Tai Chiterhadap fleksibilitas dan kekuatan otot ekstremitas pada lansia di Gereja HKBP Bandung Barat. Fleksibilitas dan kekuatan otot antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol berbeda dengan nilai p value sebesar 0,000 ? ? (0,05). Semakin rutin dilakukan senam Tai Chi, maka fleksibilitas dan kekuatan otot pada lansia akan semakin membaik.
HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN FISIK DENGAN KELELAHAN KERJA PEGAWAI PRODUKSI DI PABRIK TAHU SUTERA GALIH DABEDA Yogisutanti, Gurdani; Firmansyah, Dhony; Suyono, Suyono
Disease Prevention and Public Health Journal Vol 14, No 1 (2020): Disease Prevention and Public Health Journal
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/dpphj.v14i1.1805

Abstract

Background: Fatigue is a workplace accident that decreased efficiency and endurance at work. This study aims to determine the factors that influence work fatigue in tofu production workers at the Galih Dabeda Silk Tofu Factory Kampung Cibuntu Bandung. Method: The research was cross sectional design and sample in the form of total sampling with a total of 80 employees. Data collection is done through interviews and direct measurements. Data analysis was performed univariately and bivariately with chi square test and the magnitude of the relationship (OR). Results: Factors related to work fatigue are noise (p-value 0,0001) and lighting (p-value 0,0001), but heat stress (p-value 0.532; OR 1.045 95%; 0.987- 1,112) did not correlate with fatigue. Conclusion: The conclusion that can be drawn from this study is the noise and lighting associated with the occurrence of work fatigue in employees in the factory know, while the heat pressure is not proven to be associated with work fatigue. Suggestions that can be recommended are to provide alternating hours of rest for 30-60 minutes to employees, use personal protective equipment as needed and drink water at least 8-10 glasses a day or 160 - 200 ml of water in one day according to their respective needs the worker.