Ifar Irianto Yudhowibowo
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH ANESTESI EPIDURAL TERHADAP SUPRESI IMUN YANG DIINDUKSI STRES OPERASI SELAMA PEMBEDAHAN Yudhowibowo, Ifar Irianto; Sutiyono, Doso; Villyastuti, Yulia Wahyu
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v3i1.6453

Abstract

Operasi besar berhubungan dengan disfungsi sistem kekebalan tubuh bawaan. Baru-baru ini, dibuktikan bahwa stres akibat pembedahan dapat dengan cepat menginduksi penurunan respon sementara dari darah terhadap endotoksin sejak 2 jam setelah insisi dan bahwa IL-10 plasmayang meningkat selama pembedahan, berperan dalam penurunan respon ini. Telah dilaporkan bahwa anestesi epidural memiliki efek menguntungkan pada reaksi imunitas dan respon terhadap stres akibat pembedahan. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa anestesi epidural mempertahankan aktivitas sel NK dan mengurangi respon stres pada pasien yang menjalani histerektomi. Blok epidural dari segmen dermatom T4 sampai S5, dimulai sebelum pembedahan, mencegah peningkatan konsentrasi kortisol dan glukosa pada histerektomi. Teknik anestesi regional untuk operasi besar dapat mengurangi pelepasan kortisol, adrenalin (epinefrin) dan hormon lain, namun memiliki pengaruh kecil pada respon sitokin. Penelitian terbaru (kawasaki et al.,2007) menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bawaan, misalnya fagositosis, ditekan oleh stres akibat pembedahan dan bahwa anestesi epidural tidak mampu mencegah penurunan respon kekebalan tubuh ini selama operasi perut bagian atas.
OBAT–OBAT ANTI NYERI Yudhowibowo, Ifar Irianto; Satoto, Hari Hendriarto; Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v3i3.6442

Abstract

Rasa nyeri (nosisepsi) merupakan masalah unik, disatu pihak bersifat melindungi badan kita dan dilain pihak merupakan suatu siksaan. Nyeri juga mempunyai makna praktis yang jelas. Nyeri memperingatkan kita akan bahaya; nyeri dapat membantu diagnosis; kadang-kadang dapat menunjang penyembuhan dengan pembatasan gerakan dan menunjang imobilisasi bagian yang cedera. Terdapat sejumlah substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai ?analgesik? untuk meredakan nyeri pada penderita yang sadar tanpa menimbulkan penurunan daya ingat total seperti pada anestesi umum. Substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai analgesik tersebut tetap merujuk pada konsep analgesia multi modal. Konsep analgesia multi modal ini merujuk pada perjalanan nyeri nosisepsi dimana digunakan NSAID pada proses transduksi, anestetik lokal pada proses transmisi dan opioid pada proses modulasi dan persepsi. Dimana keuntungan dari pada analgesia multimodal ini adalah didapatkan efek analgesi yang lebih tinggi tanpa meningkatkan efek samping dibandingkan peningkatan dosis pada pemberian analgesia tunggal.
PERBEDAAN ELEKTROLIT PLASMA DAN TEKANAN DARAH ANTARA PRELOAD RINGER ASETAT MALAT DIBANDINGKAN DENGAN RINGER LAKTAT Yudhowibowo, Ifar Irianto; Sutiyono, Doso; Nurcahyo, Widya Istanto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.338 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6570

Abstract

Latar belakang : Pemberian preload untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal dapat mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh.Tujuan : Untuk melihat perbedaan elektrolit plasma dan tekanan darah antara preload RAM dibandingkan dengan RL.Metode : Penelitian eksperimental uji klinis tahap II secara acak tersamar ganda. Pemilihan sampel secara Consecutive Random Sampling didapat jumlah sampel 38 orang. Kelompok I (n=19) mendapat preload 20 cc/kgBB RAM dan kelompok II (n=19) mendapat preload 20 cc/kgbb RL. Sebelum  preload, diambil sampel darah untuk pemeriksaan konsentrasi elektrolit plasma. Setelah  preload dan 30 menit setelah itu dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan konsentrasi elektrolit plasma. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum anestesi spinal dan segera setelah anestesi spinal tiap 5 menit sampai 30 menit. Uji statistik dengan uji paired t-test.Hasil : Selisih Na sebelum preload dan Na setelah preload dengan Na 30 menit setelah preload antara kelompok yang mendapat preload RAM dan RL berbeda bermakna. Sedangkan selisih Na setelah preload  dengan Na 30 menit setelah preload berbeda tidak bermakna. Selisih K sebelum  preload, K setelah preload dan 30 menit setelah preload dan K 30 menit setelah preload berbeda tidak bermakna. Selisih Cl sebelum dan Cl 30 menit setelah preload berbeda bermakna. Selisih Cl sebelum dan Cl setelah preload dan konsentrasi Cl setelah 30 menit preload berbeda tidak bermakna. Terdapat perbedaan tekanan sistolik yang bermakna antara kelompok preload  RAM dan RL  terjadi antara menit ke-25 sampai menit ke-30 setelah spinal. Sedangkan untuk variabel tekanan darah diastolik terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok preload  RAM dan RL  terjadi antara menit ke-15 sampai menit ke-20 setelah spinal.Simpulan : RAM meningkatkan konsentrasi Na dan Cl lebih tinggi dibanding RL pada pasien dengan spinal anestesi segera setelah dilakukan loading, tetapi perbedaan konsentrasi elektrolit lebih jauh tidak ditemukan. Tidak ada perubahan tekanan darah yang bermakna diantara kedua kelompok.