p-Index From 2015 - 2020
0.961
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Much Yulianto
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Terpaan Berita Negatif Joko Widodo di Media Massa dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan) terhadap Citra Joko Widodo sebagai Presiden RI Setiandini, Asty; Gono, Joyo NS; Yulianto, Much; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.365 KB)

Abstract

Since Joko Widodo was officially elected as Indonesia’s President on November 2014, the news about Joko Widodo often became headlines in various mass media such as prints, online, or television. However, some survey results showed that the news about Joko Widodo tend to be negative. This negative news could affect the image of Joko Widodo as a President in the eyes of the public. Although the mass media have the power to influence the image, the response given by public for every information they got from mass media was different. It is influenced by their demographical factors like age, gender, and educational level because those factors could determine how people accepting and processing the messages given by mass media. This is a quantitative research with explanative type, which aims to determine the effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media and demographical factors (age, gender, and educational level) toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President. The theories used in this research are The Theory of Dependency Mass Communication Effect and Social Category Theory. This research used a purposive non random sampling technique and taken a sample of 100 people in Semarang. The primary data was analyzed using hierarchical multiple regression with the help of SPSS program. The statistical calculations showed that there is a direct effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President with significance score 0.000 (<0.05). Meanwhile, negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through age and gender showed significance score 0.426 and 0.337 but through the educational level obtained significance score 0.049 (<0.05). The result showed that there is an effect of negative news exposure of Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through educational level but there is no effect through age and gender.
CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL Zakiyyah, Kuni; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.169 KB)

Abstract

Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut, aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku (clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri, seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959). Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep analisis mitos dalam studi semiotika Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan, atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KASUS DUGAAN KORUPSI DAN GAYA HIDUP MEWAH GUBERNUR RATU ATUT CHOSIYAH PADA “KORAN TEMPO” Faiz, Fauzan; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Much; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.163 KB)

Abstract

Modus korupsi sesungguhnya merupakan suatu manipulasi jabatan publik untuk keuntungan pribadi. Mereka menggunakan kewenangan menentukan kebijakan publik semata demi kepentingan sendiri. Peran KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan BPK ( Badan Pemeriksa Keuangan) dalam hal ini sangat berpengaruh untuk menghentikan laju pertumbuhan korupsi.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pembingkaian (framing) berita koran Tempo terhadap kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat wanita terkait kasus dugaan korupsi dan gaya hidup mewah Ratu Atut Chosiyah. Dugaan kasus korupsi Ratu Atut banyak dimuat dalam media cetak maupun media televisi. Tempo terkenal keras pada kasus yang mengindikasi adanya praktik korupsi dan melibatkan kepentingan publik yang besar termasuk pejabat dan aparatur Negara. Tempo hingga kini mampu meliput beberapa kasus Atut baik dalam kasus korupsi maupun gaya hidup mewah Atut. Salah satu metode penelitian yang mampu menganalisis bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media adalah analisis framing. Peneliti menggunakan analisa Framing yang diperkenalkan oleh Pan dan Kosicki. Obyek penelitian adalah pemberitaan kasus dugaan korupsi dan gaya hidup mewah Gubernur Ratu Atut Chosiyah yang muncul pada koran Tempodari tanggal 5 Okober 2013 sampai 13 November 2013.Hasil penelitian menunjukkan bahwa koran Tempo memberikan gambaran pemberitaan dengan menunjukan struktur Sintaksis, Skrip, Tematik, Dan Retoris. Struktr retoris dalam koran Tempo tampak menonjol karena wartawan koran Tempo banyak menggunakan istilah, leksikon, idiom, bahkan gambar karikatur yang dapat menarik perhatian khalayak. Koran Tempo terkenal dengan gaya pemberitaan yang kritis dan tajam serta memiliki volume dan frekuensi berita yang lengkap karena mampu memuat lebih dari satu pemberitaan dengan kasus yang sama dalam satu edisi. Koran Tempo dalam menuliskan pemberitaan tetap mengedepankan objektivitas dan netralitas, karena wartawan Tempo selalu menjaga agar sebuah karya tetap bermutu tinggi dan berpegang teguh pada kode etik. Nilai etika dan pilihan moral pada Tempo sesuai dengan visi Koran Tempo.Redaksi koran Tempo sebagai perusahaan yang produknya informasi , diharapkan selalu menjaga obyektivitas dalam menyampaikan pemberitaan dengan memperbanyak sumber berita dan terus menerus meningkatkan apresiasi terhadap ide-ide baru, bahasa, dan tampilan visual yang baik sehinggs dapat menampilkan sebuah informasi yang bermutu tinggi dan layak dikonsumsi masyarakat.Kata Kunci : Dugaan Korupsi, Gaya Hidup Mewah
Public Speaking Ability Analysis of Traffic Police Officer In Socialization Traffic Rule in resort Ungaran , Kabupaten Semarang Bulandari, Phopy Harjanti; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.341 KB)

Abstract

This study was conducted to see how the ability Police Officer in Public Speaking for socialization orderly traffic in Kab.Semarang districtThe purpose of this study was to determine the forms of public speaking activities undertaken within the framework of the Indonesian National Police Traffic orderly dissemination and to evaluate the ability of the Public Speaking Police Officer in the socialization of traffic rules in Police in Ungaran. Kab. Semarang 2014 .The results showed that the police officers while providing socialization begins with wearing uniform look neat and fresh and fresh face. Mastery of traffic police officers in socialization orderly traffic in the jurisdiction of police station Ungaran . The use of verbal language using words that are easily understood , a series of sentences neatly arranged, delivery of messages using long sentences and material power point of interest . Confidence traffic police officer noticed aspect of " pause " and this is a good effort made by the traffic police officer in the socialization orderly traffic in the jurisdiction of police station Ungaran . Interaction and communication officers are able to blend , capable of interacting , able to provide feedback and conduct a question and answer with the audience .
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI REALITAS DALAM ACARA PARODI POLITIK SENTILAN SENTILUN Puspadiati, Karina; Rahardjo, Turnomo; Yulianto, Much; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.199 KB)

Abstract

Seiring dengan adanya kebebasan pers khususnya penyiaran di Indonesia, semakin banyak media yang memproduksi tayangan di televisi dengan berbagai konsep yang menarik. Talk show bertemakan parodi politik salah satunya yang kini menghiasi program di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Masyarakat yang kini sudah mulai jenuh dengan kegiatan politik praktis, menjadikan acara parodi politik sebagai salah satu pilihan acara hiburan yang sekaligus memberikan pendidikan politik. Acara Sentilan Sentilun merupakan salah satu acara parodi politik yang dikemas dengan konsep teater yang membahas mengenai isu sosial politik di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pemaknaan khalayak terhadap konstruksi realitas dalam acara parodi politik Sentilan Sentilun. Berangkat dari persoalan tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Dalam pelaksanaannya, proses penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam secara tatap muka dengan empat informan. Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang pernah menonton acara Sentilan Sentilun. Keempat informan tersebut memiliki tingkat pendidikan dan lingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara tersebut informan sebagai penghasil makna menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Sentilan Sentilunsecara beragam.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa para informan memiliki kemampuan untuk memfilter diri dari apa yang disajikan oleh media massa. Para informan memiliki dasar sebagai khalayak aktif, mereka dapat memilih dan mengambil keputusan sesuai kehendaknya masing-masing dalam penggunaan media apa dan media mana yang diinginkannya. Dalam mengkonsumsi media didasari dengan alasan dan tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai isu sosial politik yang ada di Indonesia. Terdapat kesamaan pendapat dari para informan bahwa acara Sentilan Sentilun mampu menyampaikan informasi mengenai isu sosial politik yang selama ini terkesan kaku dan berat dengan penyampaian pesan yang lebih santai dan mudah dimengerti oleh khalayak.Kata kunci: parodi politik, Sentilan Sentilun dan konstruksi realitas.
Bingkai Suara Merdeka Tentang Kasus Dugaan Korupsi Perumahan Griya Lawu Asri Oleh Rina Iriani Mantan Bupati Karanganyar (Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Surat Kabar Suara Merdeka) Rahmasari, Sarah Tri; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Much; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.52 KB)

Abstract

Media cetak merupakan suatu media yang bersifat statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media ini terdiri dari lembaran kertas dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dengan tata warna dan halaman putih. Media cetak merupakan dokumen atas segala peristiwa yang ditangkap oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya. Media cetak khususnya surat kabar memiliki keuntungan yaitu, dapat didokumentasikan, dan mempunyai kemampuan untuk menyajikan informasi secara lebih mendetail dan lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Suara Merdeka memberitakan kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan bupati Karanganyar Rina Iriani. Sumber data penelitian skripsi ini, adalah 18 berita dari surat kabar Suara Merdeka: tanggal 14 November 2013 sampai dengan 17 Januari 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis framing. Dalam Penelitian ini yang diteliti adalah, berita tentang kasus dugaan korupsi perumahan Griya Lawu Asri oleh mantan bupati Karanganyar Rina Iriani, dengan menggunakan konsep framing menurut Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Konsep framing ini memiliki empat struktur besar yaitu sintaksis, skrip, tematik dan retoris.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan tentang kasus dugaan korupsi Rina Iriani lebih menonjolkan sisi sintaksisnya, dimana hampir 90% pada pemberitaannya Suara Merdeka menggunakan headline dan lead yang menarik pembaca. Pada analisis skrip, Suara Merdeka hanya menonjolkan sisi what, when, dan who, dimana unsur how dan why terabaikan. Pada analisis tematik, Suara Merdeka menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan menggunakan kata penghubung yang sering digunakan oleh khalayak. Analisis retorisnya adalah Suara Merdeka menggunakan foto pada setiap pemberitaannya untuk menguatkan isi berita. Suara Merdeka bersikap netral pada setiap pemberitaannya sesuai dengan mottonya yaitu Independen – Obyektiv – Tanpa Prasangka.Kata kunci: media cetak, framing, Suara Merdeka, korupsi Rina Iriani
Proses Gatekeeping Pemberitaan RUU Pilkada pada Koran Tempo Kurniati, Dian; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.201 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap proses gatekeepingyang berlangsung di redaksi media massa dalam menyeleksi berita. Mekanisme kerja mediayang memiliki fungsi sebagai alat kontrol kebijakan pemerintah akan menarik ditelititerutama saat memuat berita tentang isu yang berkaitan dengan hak-hak publik, sepertiRencana Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah di Koran Tempo.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan menggunakan teori di antaranya teori gatekeeping (Shoemaker: 1996) dan teoripolitik media massa (McNair: 2011). Untuk mengetahui proses gatekeeping pemberitaanRUU Pilkada di Koran Tempo, peneliti mewawancarai pihak yang terlibat secara langsungdalam proses penerbitan berita RUU Pilkada di Koran Tempo meliputi reporter, redaktur,redaktur pelaksana, dan pemimpin redaksi.Hasil penelitian ini menunjukkan Koran Tempo mendorong demokrasi deliberatifberjalan di Indonesia sehingga menolak RUU Pilkada. RUU Pilkada yang mewacanakanpengembalian wewenang memilih kepala daerah kepada DPRD dinilai akan mencederaisemangat demokrasi di Indonesia. Publik memiliki hak untuk berpartisipasi dalammemberikan suara politiknya melalui pemilu, sehingga pemilihan kepala daerah harusberjalan secara langsung. Koran Tempo sebagai media massa yang bertugas untukmengontrol kebijakan pemerintah merasa wajib untuk mengawal, mengkritik, danmenggagalkan pengesahan RUU Pilkada.Iklim demokrasi juga didorong di redaksi Koran Tempo dengan mempersilakan setiaporang untuk berpartisipasi dalam rapat perencanaan pemberitaan. Rapat adalah aktivitas rutindi redaksi untuk menentukan materi pemberitaan yang akan disampaikan kepada khalayak.Rapat inilah yang menjadi penentu berita mana yang layak dimuat dan ditonjolkan, termasuksudut pandang yang akan diambil saat menuliskannya. Dengan demikian, proses gatekeepingyang paling dominan di Koran Tempo adalah level rutinitas media.
Meme Comic dengan Isu Pemilihan Presiden 2014 Zulfan, Nailah Fitri; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.597 KB)

Abstract

Foto/gambar apa pun bisa dibuat meme comic dan juga bisa disesuaikan dengan situasi tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Seperti pemberitaan di media konvensional yang selalu terkini, meme comic pun menampilkan isu-isu terkini yang sedang hangat di masyarakat. Tahun 2014 merupakan tahun politik, karena pada tahun ini terdapat pemilihan presiden dan wakil presiden. Isu politik menjadi ramai dibicarakan, termasuk dibicarakan lewat meme comic. Meme comic menjadi wadah pembicaraan masyarakat mengenai pemilihan presiden 2014. Perbincangan politik terkait pemilihan presiden 2014 yang berat ditampilkan lewat meme comic yang menghibur.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika mitos yang dikembangkan Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang ditampilkan lewat meme comic dengan isu pilpres 2014. Peneliti menggunakan paradigma kritis untuk mengkaji dan mendeskripsikan meme comic bertema isu Pilpres 2014. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Pop Culture, Teori Postmodern, Teori Media Baru.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meme comic dengan isu pilpres 2014 menampilkan makna-makna tersembunyi, yaitu humor yang sudah dikawinkan dengan isu politik. Fungsinya adalah untuk membungkus isu politik yang sensitif dan kaku agar menjadi lebih ringan dan diterima semua kalangan tanpa harus membuat tersinggung. Isu politik lewat meme comic pilpres 2014, menjadikan kritik, saran dan ledekan yang diarahkan kepada capres-cawapres menjadi sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius dan kaku. Makna lain yang ditampilkan adalah meme comic dengan isu pilpres 2014 ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari ide yang benar-benar baru. Meme comic merupakan bentuk intertektualitas, dimana ide yang terbentuk dari ide yang sudah ada sebelumnya.Keyword: Meme Comic, Politik, Humor, Intertekstual
ANALISIS FRAMING BERITA KASUS SUAP KETUA MAHKAMAH KONSTITUSI PADA KORAN TEMPO Andini, Lintang; Nugroho, Adi; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Much
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.206 KB)

Abstract

Mahkamah Konstitusi adalah salah satu lembaga tinggi negara yang harus menjaga konstitusi dan menegakkan hukum di Indonesia. Namun, yang terjadi justru Ketua Mahkamah Konstitusi ditangkap KPK karena terlibat suap dalam sengketa Pilkada Gunung Mas dan Pilkada Lebak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Koran Tempo membingkai kasus suap yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Penelitian dilakukan terhadap Koran Tempo, karena koran ini dianggap layak dan memiliki keunggulan dibanding koran lain.Teori yang digunakan adalah teori konstruksi realitas sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Penelitian menggunakan pendekatan analisis framing yang dikembangkan Robert N. Entman, yang terdiri dari empat perangkat, yaitu Define Problems(pendefinisian masalah), Diagnose Cause (memperkirakan sumber masalah), Make Moral Judgement (membuat keputusan moral) dan Treatment Recommendation(menekankan penyelesaian). Hasil penelitian menunjukkan, define problem adalah Koran Tempo memahami kasus ini sebagai skandal besar di Indonesia. Kasus suap ini melibatkan ketua Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menegakkan hukum dan memberantas korupsi. Diagnose Cause adalah Akil dianggap sebagai pihak yang bersalah dalam kasus ini. Make Moral Judgementyang diberikan Koran Tempo adalah penilaian negatif terhadap Akil, misalnya Akil dianggap hakim yang tidak netral dan diduga melakukan pencucian uang. Penilaian negatif juga ditujukan pada Mahkamah Konstitusi dengan memberitakan bahwa praktek pemerasan pihak berperkara sudah biasa terjadi disana. Treatment Recommendationdari Koran Tempo adalah KPK harus mengusut tuntas kasus ini. Koran Tempo memiliki ciri khas yang memberi perhatian khusus dan berani mengungkap kasus-kasus khusunya kasus korupsi dan suap. Bahasa yang digunakan Koran Tempo cenderung lebih berani. Pemberitaan Koran Tempo juga didukung dengan hasil investigasi yang mengungkap fakta bahwa banyak kejanggalan yang dilakukan Akil. Dapat disimpulkan, Koran Tempo membentuk konstruksi bahwa Akil Mochtar adalah pihak yang bersalah dalam kasus ini. Mahkamah Konstitusi juga dikonstruksikan sebagai lembaga yang tidak bersih dari tindak korupsi. Koran Tempo bersikap tidak netral dengan cenderung memihak pada KPK. Key Words: Mahkamah Konstitusi, Praktik Suap, Koran Tempo
Pembingkaian Berita Media Online : Kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Akbarian, Imanda Aulia; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Much; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.042 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana suatu realitas kejadian dikonstruksi oleh media online khususnya pemberitaan tentang kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing untuk melihat bagaimana media online seperti Tempo.co dan Republika online dalam membingkai pemberitaan kasus kekerasan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan teori yang diberikan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang dilakukan Republika online cenderung bersikap netral dalam menyikapi kasus kekerasan TKW yang menimpa Erwiana Sulistyaningsih, sedangkan media Tempo.co memiliki kecenderungan kontra terhadap pemerintah. Media Tempo.co mengkonstruksikan dan mengarahkan pembaca untuk menilai Pemerintah sebagai pihak yang bersalah. Ketika pembaca melihat isi pemberitaan Tempo.co, yang terlintas dan diingat pembaca adalah pihak pemerintah seperti BNP2TKI merupakan pihak yang tidak bertanggung jawab atas penyebab berulangnya kasus penyiksaan TKI, baik dalam hal pengawasan TKW maupun membantu penyelesaian administrasi rumah sakit dimana Erwiana di rawat. Media Tempo.co menunjukkan kecenderungannya untuk mendukung Erwiana sebagai korban. Selain itu layaknya media online umumnya, headline menjadi salah satu senjata utama dalam menarik perhatian masyarakat untuk membacanya begitu juga dengan Tempo maupun Republika. Ini berarti, media online seperti Tempo dan Republika lebih menjual headline dalam tiap pemberitaan disajikan dan kadang mengesampingkan konten berita itu sendiriKata Kunci : Kekerasan, Perempuan dan TKW, Media