Fahrini Yulidasari
Bagian KIA dan Kespro Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, UNLAM

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TENTANG UPAYA PENCEGAHAN TUBERKULOSIS Rahman, Fauzie; Adenan, Adenan; Yulidasari, Fahrini; Laily, Nur; Rosadi, Dian; Azmi, Aulia Noor
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 13, No 2: JUNI 2017
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.669 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v13i2.1993

Abstract

Penyakit tuberkulosis paru adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 1/3 penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Pada tahun 2012 kasus penderita tuberkulosis baru di Kalimantan Selatan dilaporkan 96 per 100.000penduduk. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Bawahan Selan tahun 2015. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian sebanyak 24.410 orang, teknikpengambilan sampel menggunakan metode cluster random sampling, kemudian jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus slovin dan didapat sampel sebanyak 100 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menggunakan uji chi square menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000), dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan upaya pencegahan tuberkulosis.
Riwayat Berat Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia Bawah Dua Tahun Rahayu, Atikah; Yulidasari, Fahrini; Putri, Andini Octaviana; Rahman, Fauzie
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 2 November 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (992.523 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v10i2.882

Abstract

AbstrakKabupaten Hulu Sungai Utara masih dihadapkan dengan permasalahan gizi pada anak bawah dua tahun (baduta). Salah satu masalah gizi hingga saat ini adalah stunting. Anak dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang potensial memengaruhi pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji risiko riwayat berat badan lahir dengan kejadian stunting pada anak baduta. Desain penelitian adalah potong lintang. Populasi penelitian ini merupakan ibu-ibu yang memiliki anak baduta dan besar sampel sejumlah 117 terdiri dari anak baduta. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama tiga bulan pada bulan September – November 2014. Kategori BBLR jika riwayat berat badan lahir < 2.500 gram. Analisis data bivariat menggunakan uji kai kuadrat dan data multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat status BBLR (nilai p = 0,015) dengan stunting pada anak baduta. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diperoleh bahwa BBLR merupakan faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian stunting. Anak dengan BBLR memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami stunting. Riwayat BBLR memiliki peranan penting dalam kejadian stunting anak baduta di wilayah Puskesmas Sungai Karias, Hulu Sungai Utara.AbstractNorth Hulu Sungai District is still facing nutrition problems among children under two years old. One of nutrition problems up to now is stunting. Child with low birthweight (LBW) record is one of potential factors influencing the growth of a child. This study aimed to assess any risk of LBW records with stunting incidence among children under two years old. This study used cross-sectional design. The population was mothers having children under two years old and samples amounted to 117 consisted of children under two years old. This study was conducted within three months on September – November 2014. Category of LBW was if birth weight records < 2,500 gram. Bivariate data analysis used chi-square test and multivariate data analysis used logistic regression test. The result of bivariate analysis showed a significant relation between LBW status records (p value = 0.015) with stunting incidence among children under two years old. Based on the result of multivariate analysis, LBW was the most dominating risk factor related to stunting incidence. Children with LBW had 5.87 times risk of suffering from stunting. LBW records take an important role in stunting incidence among children under two years old around Sungai Karias Primary Health Care area in North Hulu Sungai.
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENDEK PADA ANAK USIA 6-24 BULAN Rosadi, Dian; Rahayuh, Atikah; Yulidasari, Fahrini; Putri, Andini Octaviana; Rahman, Fauzie
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2016): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JANUARY 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v11i2.4512

Abstract

Berdasarkan data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi kejadian pendek di Indonesia mencapai 36,8%, Kalimantan Selatan 45%, dan Kabupaten Amuntai Tengah 51% dimana ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (≥ 20%). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor risiko kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan yang dilakukan pada tahun 2014. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan besar sampel sejumlah 117, populasinya merupakan ibu-ibu yang memiliki anak berusia 6-24 bulan dan sampel terdiri dari anak yang berusia 6-24 bulan. Analisis data bivariat menggunakan uji chi square dengan Confidance Interval (CI) 95%. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu (p=0,873), tinggi badan ayah (p=0,880), dan tinggi badan ibu (p=0,123), serta terdapat hubungan antara riwayat status BBLR (p=0,015) dengan kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan. Anak dengan berat badan lahir yang rendah memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami kejadian pendek.Berdasarkan data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi kejadian pendek di Indonesia mencapai 36,8%, Kalimantan Selatan 45%, dan Kabupaten Amuntai Tengah 51% dimana ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (≥ 20%). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor risiko kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan yang dilakukan pada tahun 2014. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan besar sampel sejumlah 117, populasinya merupakan ibu-ibu yang memiliki anak berusia 6-24 bulan dan sampel terdiri dari anak yang berusia 6-24 bulan. Analisis data bivariat menggunakan uji chi square dengan Confidance Interval (CI) 95%. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu (p=0,873), tinggi badan ayah (p=0,880), dan tinggi badan ibu (p=0,123), serta terdapat hubungan antara riwayat status BBLR (p=0,015) dengan kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan. Anak dengan berat badan lahir yang rendah memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami kejadian pendek.
FAKTOR RISIKO PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNTUNG PAYUNG KOTA BANJARBARU (TINJAUAN TERHADAP FAKTOR MANUSIA, LINGKUNGAN, DAN KEBERADAAN JENTIK) Fakhriadi, Rudi; Yulidasari, Fahrini; Setyaningrum, Ratna
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia. Tahun 2009 di kota Banjarbaru terdapat 130 kasus Penderita Demam Berdarah dengan penderita meninggal dunia terbanyak di Kecamatan Guntung Payung sebanyak 7 orang. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit DBD antara lain host, lingkungan, dan keberadaan jentik. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko DBD berdasarkan perilaku keluarga yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN), faktor lingkungan (dinding rumah, keberadaan sumur gali dan kepadatan hunian) serta keberadaan larva Aedes aegypti (Container Index) di wilayah Puskesmas Guntung Payung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian case control yang. Sampel penelitian dengan teknik purposive sampling adalah 50 orang dengan 25 orang kontrol dan 25 orang kasus.Berdasarkan uji odd ratio dengan derajat kepercayaan 95% pengetahuan (OR=7,944), sikap (OR=7,875), dan tindakan (OR=14,636) tentang PSN merupakan faktor risiko kejadian DBD. dinding rumah yang rapat (OR = 11,296), ketersediaan sumur gali (OR = 1,263), dan kepadatan hunian (OR = 6,682) merupakan faktor risiko kejadian DBD. Container Index merupakan faktor risiko kejadian DBD (OR = 8,143). Disimpulkan bahwa faktor manusia, lingkungan, dan keberadaan jentik merupakan faktor risiko terjadinya penyakit DBD di wilayah Kerja Puskesmas Guntung Payung kota Banjarbaru. Kata-katakunci:DBD, PSN, container index Abstract Dengue fever is one of the world health problem for communicablediseases. Banjarbaru City has recorded 130 cases with 7 death casualties in GuntungPayungsubdistrict at year 2009. Dengue Fever was affected by several causes including host, environment and wiggler existence. The Main Purpose for this research is to discover risk factor based on family behavior like basic knowledge, attitude and action to exterminate mosquito breed place (PSN), surrounding environment (tight house wall, conventional well and housing density) and existence of larva AedesAegypti (Container Index) around GuntungPayung Community Health Center. This research used Obsevational Analytic method with Case Control for Research Design. Purposive Sampling technique from 50 people including 25 people for Control and 25 people for Case in Research Sampling. According to Odd Ratio test using trust-degree for 95% knowledge (OR=7,944), attitude (R=7,875) and action (OR=14,636) about PSN were accumulated to Dengue Fever risk factors. Tight house wall (OR = 8,143), availability of conventional well (OR = 1,263) and housing density (OR = 6,682) were accumulated to Dengue Fever risk factors. Container Index (OR = 8,143) were accumulated to Dengue Fever risk factor. Being said that Human, Environtment and Wigler existence were considered the risk factors for Dengue Fever at GuntungPayung Community Center in Banjarbaru City.Keywords:DBD, PSN, container index 
PERBEDAAN POLA MAKAN REMAJA PUTERI SLTP/SEDERAJAT YANG MENDERITA ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI KABUPATEN BANJAR Adenan, Adenan; Rahayu, Atikah; Yulidasari, Fahrini; Rosida, Azma; Noor, Meitria Syahadatina; Ismaya, Renny
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAngka anemia di Indonesia sebanyak 72,3%. Prevalensi anemia pada remaja puteri di Indonesia adalah 26,5%. Berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kejadian anemia sebesar ≥ 65,21% pada remaja putri SMP/Mts di Kabupaten Banjar. Penyebabnya antara lainfaktor orangtua dan remaja.  Karena remaja sangat tergantung dengan orangtuanya, maka faktor orangtua sangat berperan terutama pola makan yang disediakan oleh orangtua.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pola makan remaja puteri SLTP/sederajat yang menderita anemia dan tidak anemia di Kabupaten Banjar Tahun 2014.Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitikmelalui pendekatancross-sectional.Populasipenelitianiniadalahorang tua remaja putri SMP wilayah Kabupaten Banjar.Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.Besar sampel yang didapatkan adalah 92 orang.Hasilpenelitianmenunjukkanremaja yang mengalami anemia sebanyak 19 responden (20,7%) dan yang tidak anemia sebanyak 73 responden (79,3%), dengan pola makan pada siswi SMP di Kabupaten Banjar tergolong baik sebanyak 37 responden (40,2%) dan tidak baik sebanyak 55 responden (59,8%).Hasil chi square menunjukkan p value 0,000, berarti dapat disimpulkan terdapat perbedaan pola makan remaja puteri SLTP/sederajat yang menderita anemia dan tidak di Kabupaten Banjar tahun 2014. Kata-kata kunci: pola makan, remaja putri, anemia AbstractAnaemia in Indonesia is about 72,3%. Prevalence of anaemia in teenagers especially girls is about 26,5%. The survey of Health Department of South Kalimantan in 2012 showed that anaemia in SMP/Mts was about ≥ 65,21%.  The causes were parent factor and teen factor.  Because of teenagers still depent to their parents, so parents factors influence more, especially eating pattern by their parents.  The goal of this research was analyzing the difference of eating pattern in girls with and without anaemia in Banjar District 2014.  This research used observational analytic with cross-sectional.  The population was all of the the girls’ parents in Banjar District 2014.  Sampling was using purposive sampling. Tha sample size that was gotten were 92 people. The result was the girls who got anaemia were 19 (20,7%) and normal were 73 (79,3%), eating pattern of girls in Banjar District was good for 37 people (40,2%) and not good for 55 people (59,8%).  Chi square test showed that p value was 0,000, so we could conclude that there was difference of eating pattern in girls with and without anaemia in Banjar Distric 2014.   Key words: eating pattern, girls, anaemia
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU PADA SAAT HAMIL DAN STATUS ANEMIA DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) Studi Observasional di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Yana, Yana; Musafaah, Musafaah; Yulidasari, Fahrini
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerhatian terhadap janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Masalah BBLR (<2500 gr) sampai saat ini merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal yaitu sebanyak 43%. Penelitian ini merupakan penelitian observastional analytic dengan rancangan penelitian kasus kontrol (case control), tujuan peneliti untuk melihat hubungan usia ibu pada saat hamil dan status anemia dengan kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Martapura. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus uji hipotesis 2 proporsi dengan jumlah 22 kasus (BBLR) dan 22 kontrol (tidak BBLR) atau dengan rasio 1:1. Sedangkan untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu pada saat hamil dengan kejadian BBLR (pvalue = 0,719). Sedangkan status anemia pada saat hamil menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR (p-value = 0,006, OR = 7,286). Faktor yang berhubungan dengan BBLR adalah status anemia dengan p-value sebesar 0,006 dan OR = 7,286. Bagi Ibu hamil diharapkan dapat mengkonsumsi suplemen zat besi minimal 90 tablet secara teratur selama masa kehamilan.Kata-kata kunci : BBLR, usia ibu pada saat hamil, status anemia. AbstractAttention to the fetus with the growth disorder in the womb greatly increased. This is due to the high rate of neonatal perinatal mortality because there are many babies born with low birth weight (LBW). Problem LBW (<2500 g) until now is the main cause of perinatal morbidity and mortality as much as 43%. This research is observational analytic study with case-control study design, the purpose of this research is to find the correlation between the age of the mother during pregnancy and anemia status with low birth weight (LBW). The total of sample in this research was determined by using the formula of hypothesis test 2 proportion with 22 cases (LBW) and 22 controls (not LBW) or the ratio of 1: 1. Where as for the sample in this study, research used purposive sampling technique. The analysis is the analysis of univariate and bivariate with Chi Square test 95%. The results showed that there was no correlation between the age of the mother during pregnancy with LBW (p-value = 0,719). While the status of anemia during pregnancy showed a significant correlation with LBW (p-value = 0,006, OR = 7,286). Factors correlated with LBW is anemia status. For pregnant women are expected to take iron supplements at least 90 tablets regularly during pregnancy.Keywords: low birth weight, mothers age during pregnancy, anemia status.
HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN, ASUPAN ENERGI, AKTIVITAS FISIK, DAN DURASI TIDUR DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA POLISI Kurniawati, Yulia; Fakhriadi, Rudi; Yulidasari, Fahrini
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakObesitas dapat terjadi pada polisi dan disebabkan multifaktor. Berdasarkan studi pendahuluan di Polres Kota Banjarmasin, sebanyak 10,32% polisi mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara pola makan, asupan energi, aktivitas fisik, dan durasi tidur dengan kejadian obesitas pada polisi di Kepolisian Resort Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan case control dengan sampel 84 responden. Hasil penelitian menunjukkan 23 responden pola makan sering, 61 responden pola makan tidak sering, 1 responden asupan energi lebih, 83 responden asupan energi cukup, 43 responden aktivitas fisik sedang, 41 responden aktivitas fisik tinggi, 33 responden durasi tidur kurang, dan 51 responden durasi tidur cukup. Analisis chi square pada tingkat kemaknaan 95% menunjukkan bahwa ada hubungan antara pola makan, aktivitas fisik, dan durasi tidur dengan kejadian obesitas (p-value=0,047; p-value=0,0001; p-value=0,009) dan tidak ada hubungan antara asupan energi dengan kejadian obesitas (p-value=0,333). Pola makan, aktivitas fisik, dan durasi tidur berhubungan dengan kejadian obesitas pada polisi.Kata-kata kunci : obesitas, pola makan, aktivitas fisik, durasi tidur, polisi AbstractObesity can occur in police and caused multifactorial. Based on preliminary studies in the Banjarmasin Police Resort, the police as much as 10.32% are obese. This research aims to explain correlation between dietary habit, energy intake, physic activity, and sleep duration with obesity of police in the Banjarmasin Police Resort. This study uses a case control approach with a sample of 84 respondents. The results showed 23 respondents diet often, 61 respondents diet is not often, one respondent energy intake more, 83 respondents energy intake enough, 43 respondents moderate physical activity, 41 respondents physical activity high, 33 respondents sleep duration less, and 51 respondents duration sleep enough. Chi square analysis at the significant level of 95% indicates that there is a correlation between dietary habit, physical activity, and sleep duration with obesity (pvalue= 0.047; p-value=0.0001; p-value=0.009) and there is no correlation between energy intake with obesity (p-value=0.333). Dietary habit, physical activity and sleep duration are correlate with obesity of police.Keywords: obesity, dietary habit, physical activity, sleep duration, police
HUBUNGAN TEMPAT PERSALINAN DAN JENIS PENOLONG PERSALINAN DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DI PUSKESMAS MARTAPURA Norhana, Asyifa; Arifin, Syamsul; Yulidasari, Fahrini
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakInisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (2013) persentase IMD Kabupaten Banjar sebesar 63,8%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tempat persalinan dan jenis penolong persalinan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini di Puskesmas Martapura. Metode penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional melalui pendekatan case control. Populasi penelitian adalah 1661 ibu yang melahirkan di wilayah kerja Puskesmas Martapura tahun 2014, perhitungan sampel menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi dengan jumlah sampel minimal sebesar 17 orang ibu yang melaksanakan IMD dan 17 orang ibu yang tidak melaksanakan IMD dan pengambilan sampel menggunakan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu melakukan persalinan di non fasilitas kesehatan berjumlah 18 orang responden (52,9%) dan melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan berjumlah 25 orang responden (73,5). Hasil uji statistik menggunakan uji chi square dengan derajat kemaknaan 5% didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara tempat persalinan dengan pelaksanaan IMD (p = 0,002 ; OR = 15,671). Hasil uji statistik menggunakan uji fisher exact didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara jenis penolong persalinan dengan pelaksanaan IMD (p = 0,001). Kesimpulannya ada hubungan antara tempat persalinan dan jenis penolong persalinan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini di Puskesmas Martapura.Kata-kata kunci : tempat persalinan, jenis penolong persalinan, inisiasi menyusu dini AbstractEarly breastfeeding initiation (IMD) is a process of allowing the baby to suckle by their own instinct immediately within the first hour after birth, along with the baby skin contact with the mothers skin. According to data of Basic Health Research (2013) the percentage of IMD in Banjar regency is 63.8%. The aim of this study is determine the correlation between childbirth place and types of childbirth helper to the implementation of the early breastfeeding initiation in the primary health care Martapura. This study use quantitative methods with design through case-control approach. Population in this study is 1661 mothers who gave birth in primary health care Martapura in 2014, sample of this study use the formula hypothesis test two proportions with a sample of a minimum of 17 mothers who carry IMD and 17 women do not carry out the IMD and sampling use systematic random sampling. Results of this study show most parents giving birth in non-health facilities 18 respondents (52.9%) and do giving birth to help by health workers 25 respondents (73.5%). The result use chi square test with 5% significance level show that there is a significant correlation between childbirth place with implementation of the IMD (p = 0.002 ; OR = 15.671). The result of statistical test using fisher exact show that there is a significant correlation between the types of childbirth helper with implementation of the IMD (p = 0.001). In conclusion there is a correlation between the childbirth place and the types of childbirth helper to the implementation early breastfeeding initiation in the the primary health care Martapura.Key words: place childbirth, types of childbirth helper, early breastfeeding initiation
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KELENGKAPAN PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BADUTA Hermayanti, Hermayanti; Yulidasari, Fahrini; Pujianti, Nita
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakImunisasi merupakan salah satu strategi yang efektif dan efisien dalam kesehatan nasional untuk mencegah enam penyakit mematikan yaitu tuberkulosis, dipteri, pertusis campak, tetanus dan polio. Cakupan imunisasi dasar lengkap dievaluasi menggunakan indikator pencapaian desa UCI (Universal Child Immunization) yaitu 100% untuk setiap kabupaten/kota. Kabupaten Hulu Sungai Selatan merupakan daerah dengan pencapaian UCI dibawah standar yaitu 82 %. Kelengkapan imunisasi dasar pada anak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan kelengkapan pemberian imunisasi dasar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan observasional analitik melalui pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 306 orang. Perhitungan sampel menggunakan rumus Slovin dengan jumlah sampel 76 orang yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dengan menggunakan uji Chi Square menunjukan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kelengkapan pemberian imunisasi dasar dengan p-value= 0,001, serta tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan pemberian imunisasi dasar dengan pvalue= 0,238. Kesimpulannya ada hubungan antara tngkat pengetahuan ibu dengan kelengkapan pemberan munisasi dasar dan tdak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan imunsas dasar. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak puskesmas agar meningkatkan upaya promosi kesehatan serta kegiatan swipping imunisasi untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar pada anak.Kata-kata Kunci: tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, kelengkapan imunisasi AbstractImmunizationis one strategy that is effective and efficientin thenational health to prevent six deadly diseases, namely tuberculosis, diphtheria, pertussis, measles, tetanus and polio. Complete basic immunization coverage is evaluated using indicators of achievement villages UCI (Universal Child Immunization) is 100% for each district/city. Hulu Sungai Selatanis an area with UCI substandard achievementis 82%. Complete basic immunization in children is influenced by many factors such as the level of knowledge and support of families. This study aimsto determine the relationship between th emothers level of knowledge and support for families with complete basic immunization. This study uses aquantitative method with observational analytic design with cross-sectional approach. Population of the present study numbered 306 peoples. Slovin sample calculation using the formula with a sample of 76 people who were taken using purposive sampling technique. The research instrument used questionnaire. The results using Chi Square test showed that here is a correlation between the level of knowledge witht he completeness of basic immunization with ap-value = 0.001, and there is no relationship between family support with the completeness of basic immunization with ap-value = 0.238. In conclusion there is a correlation between the level of knowledge of the mother with the completeness of basic immunization and there is no relationship between family support with the complete basic immunization Therefore, it issuggested tothe clinicin order to improve health promotion effortsand activities to improve immunizations wipping basic immunization coveragein children.Keywords: level of knowledge, family support, complete immunization
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, KEBIASAAN MENGONSUMSI KETUPAT, KEBIASAANMEROKOK,DANLAMAMEROKOKDENGANKEJADIAN HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DI WILAYAH PUSKESMAS KANDANGAN, KECAMATAN KANDANGAN Fitriani, Sherly Nidya; Yulidasari, Fahrini; Fakhriadi, Rudi
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Berdasarkan data Puskesmas Kandangan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa hipertensi berjumlah 802 orang dan meningkat pada tahun 2014 dengan jumlah kasus 1168. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi, kebiasaan mengonsumsi ketupat, kebiasaan merokok, dan lama merokok dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di Wilayah Puskesmas Kandangan, Kecamatan Kandangan tahun 2015. Penelitian dilakukan pada lakilaki yang berusia 25-45 tahun. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasial analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat di Wilayah Puskesmas Kandangan berjumlah 21.700 jiwa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proporsi random sampling dengan besar sampel 100 orang yang terbagi atas 5 desa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi –Square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi (p=0,0001), kebiasaan mengonsumsi ketupat (p=0,0001), kebiasaan merokok (p=0,007) dengan kejadian hipertensi, sedang lama merokok (p=0,300) menunjukkan tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi.Kata-kata kunci: Hipertensi, status gizi, kebiasaan mengonsumsi ketupat, kebiasaan merokok, dan lama merokok AbstractHypertension is a condition increasing systolic blood pressure ≥ 140 mmHg and a diastolic ≥ 90 mmHg. Based on data from Puskesmas Kandangan in 2013 showed that hypertension cases amounted of 802 people and increase in 2014 with cases amounted of 1168 people. This study was aimed to investigate the correlation between nutritional status, ketupat consumption habits, smoking habits and smoking duration with hypertension in Puskesmas Kandangan, Kandangan districts, 2015. The respondents of this study is 25-54 years old men. The study using observational analytic design thought cross-sectional approach. The study population is the entire community in the Puskesmas Kandangan area amounted of 21.700 people. Sample calculation using the proportional random sampling formula with a sample of 100 people of five different villages. Data analyzed by using Chi- Square test and Fisher Exact. The results showed that there is a significant correlation between nutritional status (p=0,0001), ketupat consumption habits (p=0,0001), smoking habits (p= 0,007) with hypertension, and smoking duration (p=0,003) not correlation between with hypertension.Keywords: Hypertension, nutritional status, ketupat consumption habits, smoking habits, and smoking duration