Articles

Pemanfaatan Evaporative Cooling untuk Meningkatkan Kenyamanan Ruang Yunianto, Bambang
ROTASI Vol 20, No 1 (2018): VOLUME 20, NOMOR 1, JANUARI 2018
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.827 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.20.1.29-32

Abstract

Sistem pendingin Air Cooler atau evaporative cooling (EC) mempunyai keunggulan hemat energy  dan kontruksi sederhana. Namun kelemahannya adalah terjadi peningkatan kelembaban udara, sehingga hanya cocok digunakan pada daerah yang kelembaban rendah dan temperatur tinggi. Untuk wilayah Indonesia yang terdiri dua musin , hujan dan kemarau,  penggunaan unit pendingin  ini hanya cocok pada bulan kemarau, karena temperatur tinggi (hingga 34 C) dan kelembaban cukup rendah (RH 50 %). Mengingat kelemahan Air Cooler yaitu menghasilkan kelembaban tinggi, maka dalam pengoperasiannya tidak dianjurkan dalam ruang tertutup , karena berangsur-angsur akan meningkatkan kelembaban,  sehinga perlu diberikan sirkulasi udara baru. Pada pengujian ini digunakan Air Cooler jenis semburan langsung yang dipasang pada ruang ukuran 3 x 3 x 3 m , sedang sirkulasi udara baru diberikan dengan melakukan bukaan jendela ruang,  yaitu dengan membuka jendela setinggi 0 cm, 5 cm,  dan 15 cm. Masing-masing data  selama pengujian, yaitu temperatur dan kelembaban udara ruang, diambil selama 2 jam. Dari hasil pengujian diperoleh pada bukaan terkecil (jendela tertutup) terjadi penurunan temperature hingga 5 C  (dari 31 C hingga 26 C) namun terjadi peningkatan kelembaban yang tinggi hingga RH 89 %. Sedang pada bukaan jendela 5 cm terjadi penurunan 4 C (dari 32 C hingga 28 C) dengan RH 75 % dan bukaan 15 cm  terjadi sedikit penurunan temperatur 3,7 C (dari 32 hingga28,3 C) dengan RH 72 %.
PENGARUH PERUBAHAN SAAT PENYALAAN (IGNITION TIMING) TERHADAP PRESTASI MESIN PADA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH DENGAN BAHAN BAKAR LPG Yunianto, Bambang
ROTASI Volume 11, Nomor 3, Juli 2009
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.514 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.11.3.1-4

Abstract

Bahan bakar LPG merupakan bahan bakar gas yang ramah lingkungan, sehingga dapat dijadikanbahan bakar alternatif selain bahan bakar bensin Performa Mesin bensin yang dioperasikandengan menggunakan bahan bakar gas LPG mengalami penurunan. Penurunan ini terjadidikarenakan karakteristik sifat bahan bakar bensin berbeda dengan LPG. Hal ini dapat diatasidengan mengatur saat penyalaan sehingga lebih sesuai dengan karakteristik gas LPG. Dari hasilpengujian diperoleh bahwa dengan pengaturan saat penyalaan 11° sebelum TMA, menghasilkanprestasi (Torsi dan Daya) yang dekat dengan prestasi motor bensin yaitu hanya selisih 3 %.Prestasi terbaik pada mesin bahan bakar bensin ataupun LPG berkisar pada putaran 4000 s.d 5000rpm
Uji Prestasi Air Heater pada Pelat Bergelombang Melintang dengan Variasi Kecepatan Udara Masuk Yunianto, Bambang; Surya, Sumar Hadi; Oktavian, Dicky
ROTASI Vol 21, No 4 (2019): VOLUME 21, NOMOR 4, OKTOBER 2019
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.809 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.21.4.258-263

Abstract

Energi surya merupakan salah satu energi terbarukan non-konvensional yang tersedia secara bebas sebagai sumber energi yang  bebas polusi. Cara yang paling sederhana dan paling efisien untuk memanfaatkan energi surya adalah mengubahnya menjadi energi termal untuk aplikasi pemanasan dengan menggunakan kolektor surya. Penelitian ini membahas tentang perbedaan efisiensi antara kolektor pelat  datar dan pelat dengan plat gelombang melintang. Dari penelitian ini didapatkan  panas yang berguna, panas yang masuk, panas yang hilang, dan efisiensi kolektor. Energi input pada kolektor adalah panas yang berasal dari lampu halogen (sebagai simulator matahari) yang diarahkan ke kolektor. Pengujian dari penelitian  ini bertujuan untuk mendapatkan data-data temperatur dari 3 buah sensor yang berada pada ruangan, pelat penyerap panas dan tempat keluar kolektor. Kemudian mengetahui efisiensi kolektor pemanas udara dari 7 variasi kecepatan udara yaitu 2,1 m/s, 2,3 m/s, 2,4 m/s, 3 m/s, 3,5 m/s, 4 m/s, 4,5 m/s. Dan yang terakhir adalah membandingkan nilai efisiensi kolektor pelat datar dan pelat gelombang melintang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa efisiensi kolektor pelat gelombang melintang lebih tinggi dibanding pelat datar dan semakin meningkat laju  kecepatan udara maka efisiensi juga akan meningkat.
PRESTASI BENSIN BIRU PADA MOTOR BENSIN EMPAT LANGKAH Yunianto, Bambang
ROTASI Volume 3, Nomor 2, April 2001
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.928 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.3.2.28-31

Abstract

Bensin biru atau bensin tanpa timbal dengan angka oktan rendah ( 80) direkomendasikan digunakan padamesin bensin dua langkah. Bila digunakan pada mesin bensin empat langkah tanpa merubah penyetelan apapun darimesin, dan dibandingkan dengan pemakaian bensin premium, akan menghasilkan penurunan prestasi mesin yangrelatif kecil ( < 6 % ). Namun emisi gas buang ( CO, Nox dan HC) yang dihasilkan lebih rendah ( 60 %) dari padabensin premium
ANALISIS CFD DISTRIBUSI TEMPERATUR DAN KELEMBABAN RELATIF PADA PROSES DEHUMIDIFIKASI SAMPLE HOUSE DENGAN KONSENTRASI LIQUID DESSICANT 30% Putro, Bondantio; Yohana, Eflita; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 2 (2015): VOLUME 3, NOMOR 2, APRIL 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.427 KB)

Abstract

There are various methods used to control the humidity in the room, one of them with a dehumidification system. By utilizing a liquid desiccant such as CaCl 2, relative humidity values can be suppressed in accordance with the specified variable. To determine the distribution of temperature and relative humidity in the room needed numerical simulations using Computational Fluid Dynamics (CFD). The model used in the experiment room (L = 1500 mm, W = 1000 mm, H = 1500 mm) is used to determine the ability of liquid desiccant in reducing humidity. Tests carried out in the morning at 08.00 with liquid desiccant concentration of 30%, as well as the dimensions of 0.2 mm nozzel, and discharge air to enter the room guarded by 2.35 m3 / min. At the inlet and outlet sides of the room fitted DHT sensor 11, which serves to record the changes in humidity and temperature during the test. In normal conditions without turning tool dehumidifier, sensors record the average temperature in the room at 28°C and 68% RH. The simulation was performed using CFD software Solidworks Flow Simulation 2014. Simulation results show that the distribution of temperature and relative humidity in the room with liquid desiccant concentration 30% runs into a  poor relative humidity, the RH average of 67.5% followed by the increase in air temperature 28.5 ° C and it  also contains not maximum temperature distribution and RH.
PENGUJIAN PENGGUNAAN GENERATOR HHO JENIS DRYCELL TERHADAP PERFORMA MESIN SEPEDA MOTOR Nugroho, Heru Fitria; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4, No 2 (2016): VOLUME 4, NOMOR 2, APRIL 2016
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.948 KB)

Abstract

Jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat dari waktu ke waktu mengakibatkan penurunan stok jumlah bahan bakar minyak yang ada didunia. Sehingga diperkirakan cadangan minyak dunia akan segera habis, maka diperlukan bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar minyak tersebut. Gas hidrogen adalah salah satu bahan bakar alternatif yang saat ini sedang banyak diteliti.Generator HHO adalah alat dengan prinsip kerja elektrolisis air dan digunakan untuk memproduksi gas hidrogen. Alat ini mengubah air (H2O) yang dicampur katalis menjadi gas HHO/Gas Brown. Gas HHO ini adalah gas yang ditambahkan pada pembakaran didalam mesin untuk memaksimalkan pembakaran sehingga menghemat bahan bakar minyak yang dikonsumsi. Pada penelitian ini digunakan generator dengan jenis drycell. Pada larutannya digunakan katalis NaOH dengan 4 variasi konsentrasinya yaitu, 25%, 30%, 35%, dan40%. Dengan variasi konsentrasi akan didapat konsentrasi terbaik, baik dalam penghematan bensin yang dikonsumsi ataupun performa pada mesin tersebut.Dari hasil penelitian didapatkan larutan konsentrasi 25% NaOH penghematan bahan bakar terbesar yaitu dengan prosentase sebesar 21,05%  pada rpm 6000. Kemudian dengan larutan konsentrasi 30% NaOH didapatkan peningkatan torsi sebesar 5,3% pada rpm 3000 dan torsi mesin terendah -6,44% pada RPM 8000 dengan konsentrasi 40%. Peningkatan daya mesin sebesar 5,2% pada RPM 3000 pada Konsentrasi 30% NaOH dan mengalami penurunan mesin sebesar -6,49% pada RPM 8000 pada Konsentrasi 40% NaOH.
KAJIAN EKSPERIMENTAL DAN SIMULASI NUMERIK DISTRIBUSI TEKANAN STATIS PADA SUDDEN EXPANSION CHANNEL Prabowo, Sigit; Rozi, Khoiri; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2014): VOLUME 2, NOMOR 1, JANUARI 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.581 KB)

Abstract

Dalam sudden expansion channel banyak fenomena yang terjadi seperti resirkulasi, separasi atau vortex yang muncul dalam aliran. Pada penelitian ini menggunakan sudden expansion dengan ER 4:7. Aliran fluida adalah turbulen steadi dengan variasi Re 80000 sampai 120000. Metode eksperimen untuk mengukur distribusi tekanan statis pada expansion surface. Metode numerik dilakukan dengan memggunakan software Ansys 14 dengan input yang sama parameter eksperimen.  Semakin tinggi Re, maka coefficient pressure (Cp) akan semakin besar. Pada daerah upstream ditunjukkan bahwa momentum aliran cukup kuat untuk mengatasi gaya viskos, sehingga energi kinetis aliran meningkat cukup signifikan untuk membawa aliran dalam kondisi favorable. Pada daerah upstream, semakin menuju area ekspansi maka kecepatan meningkat, sebaliknya pada downstream semakin menuju exit saluran maka kecepatan semakin menurun, ini dikarenakan kuatnya adverse pressure gradient (APG) pada ujung akhir saluran.Hasil Visualisasi barisan skin friction line pada expansion surface menunjukan adanya penundaan separasi seiring peningkatan Re. Aliran tidak simetris tapi berbelok. Pada hasil simulasi menunjukkan kesamaan dengan hasil eksperimen.
KAJIAN EKSPERIMEN DAN SIMULASI NUMERIK KARAKTERISTIK PEMULIHAN TEKANAN PADA SUDDEN EXPANSION CHANNEL Ilmi, A. Fikry Nur; Rozi, Khoiri; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2014): VOLUME 2, NOMOR 1, JANUARI 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.57 KB)

Abstract

Sudden expansion adalah bentuk saluran terekspansi  secara tiba-tiba dari daerah upstream menuju downstream. Banyak sekali fenomena yang terjadi dalam sudden expansion channel meliputi resirkulasi,separasi maupun vortex yang timbul pada aliran. Pada penelitian sekarang  menggunakan pipa sudden expansion dengan ER 1:2 . Aliran pada sudden expansion merupakan turbulen dengan bilangan reynold 80000 s/d 120000. Kajian sudden expansion channel menggunakan metode eksperimental dan numerik. Penelitian secara eksperimental mengunakan  wind tunnel open circuit AIRFLOW BENCH AF10 untuk mengukur distribusi tekanan statis pada sudden expansion channel.Metode numeric dengan menggunakan paket software ANSYS 14 dengan parameter input sesuai dengan eksperimen. Didapatkan hasil semakin tinggi bilangan reynold maka kecepatan yang dihasilkan akan semakin tinggi, sehingga coefficient pressure akan semakin besar.Pada daerah ditunjukan momentum aliran cukup kuat untuk mengatasi gaya viskos, sehingga energy kinetis aliran mampu membawa aliran dalam kondisi favorable. Ketika memasuki downstream aliran tersparasi sehingga membentuk zona resirkulasi pada daerah dinding expansion. Nilai coefficient pressure meningkat seiring dengan adanya kenaikan bilangan reynold.
PENGARUH JENIS SPRAYER TERHADAP EFEKTIVITAS DIRECT EVAPORATIVE COOLING DENGAN COOLING PAD SERABUT KELAPA Rachman, Rizky Pratama; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.915 KB)

Abstract

Teknologi evaporative cooler berawal dari konsep pendinginan udara dengan media air. Prinsipnya adalah mengontakkan udara dengan butiran air, sehingga terjadi perpindahan panas dari udara ke air yang mengakibatkan temperatur udara turun dan kelembapan naik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis sprayer terhadap efektivitas pada direct evaporative cooler. Pada evaporative cooling dilengkapi dengan cooling pad yang berbahan fiber coconut yang ekonomis, cooling pad berfungsi sebagai wetted media bagi udara yang berfungsi sebagai pendinginan awal. Variabel penelitian adalah jenis water sprayer dengan variasi 1, 5 dan 7 lubang. Penurunan temperatur bola kering (Dry Bulb Temperature) dan kenaikan kelembapan relatif (Relative Humidity) merupakan hal yang dibahas dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis water sprayer berpengaruh terhadap penurunan temperatur dan kenaikan kelembaban udara keluaran direct evaporative cooler yang mana berpengaruh terhadap efektivitasnya. Pada direct evaporative cooler pemasangan sprayer 1 lubang mempunyai  efektivitas 0,79 yaitu yang paling tinggi diantara 5 lubang sebesar 0,78 dan 7 lubang sebesar 0,74.
PENGARUH JENIS WATER SPRAYER TERHADAP EFEKTIVITAS DIRECT EVAPORATIVE COOLING TANPA MENGGUNAKAN COOLING PAD Isnandi, Nugroho Epri; Yunianto, Bambang
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 3, No 2 (2015): VOLUME 3, NOMOR 2, APRIL 2015
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.191 KB)

Abstract

Evaporative cooler technology originated from the concept of cooling the air with water media. Where the air is cooled by means of direct contacting between water and air , resulting in heat transfer from the air to the water which resulted in the evaporation process , so that the air temperature down  and the humidity was rising value . This study aimed to determine effect of water sprayer on the direct evaporative cooler . The study was conducted with the experiment . Research variable is the type of water sprayer with a variation of 1, 5 and 7 holes. The data captured includes data input temperature , RH input , output temperature and RH output . These data are used to determine the decrease in DBT  ( Dry Bulb Temperature) , and WBT ( Wet Bulb Temperature) . The result of the calculation is shown in tables and graphs and analyzed based on existing theory. The results showed that the type of water sprayer  affect the temperature decrease and increase air humidity output direct evaporative cooler which affect the effectiveness. In direct evaporative cooler mounting holes have a water sprayer 1 effectiveness by 90% which is highest among the water sprayer which only has 5 holes effectiveness of 78% and a water sprayer 7 holes with a 74% effectiveness.