Articles

PENERAPAN MEDIA POP-UP BOOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK USIA DINI KELOMPOK B 1 PAUD KASIH BUNDA PONTIANAK SELATAN Alsari, Desi; Sutrisno, Sutrisno; Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Edukasi Pendidikan Anak Usia Dini Vol 7, No 2 (2019): Edukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.246 KB) | DOI: 10.29406/jepaud.v7i2.2005

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan anak dalam menyampaikan informasi secara lisan kepada orang lain. Hal ini ditunjukkan  ketika anak diminta untuk menyebutkan kembali apa saja yang sudah dijelaskan guru pada saat proses pembelajaran, mereka belum dapat menyampaikan dengan baik secara lisan maupun tulisan.  Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa pada anak usia dini melalui penggunaan media Pop-Up Bookdi kelompok B1 PAUD Kasih Bunda Pontianak Selatan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitiannya adalah anak kelompok B1 PAUD Kasih Bunda sebanyak 20 anak, dengan 13 anak laki dan 7 anak perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan peningkatan secara bertahap pada kemampuan bahasa anak usia dini melalui media Pop-Up Book di PAUD Kasih Bunda.Hasil penelitian diperoleh pada siklus II, kegiatan mengungkapkan bahasa kategori berkembang sangat baik sebanyak 88.25% atau 15 anak dari 17 anak,keaksaraan dikategorikan berkembang sangat baik sebanyak 82.35% atau 14 anak dari 17 anak, memahami bahasadikategorikan berkembang sangat baik sebanyak 82.35% atau 14 anak dari 17 anak, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh dalam  penelitian membuktikan dengan melalui Pop-Up book dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B1 PAUD Kasih Bunda Pontianak Selatan.
KAJIAN PEMANFAATAN EKSTRAK KULIT Acacia mangium Willd. SEBAGAI ANTIFUNGI DAN PENGUJIANNYA TERHADAP Fusarium sp. Dan Ganoderma sp. Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antifungi dari ekstrak kulit mangiumterhadap Fusarium sp. dan Ganoderma sp. secara in vitro. Kulit mangium dimaserasiberturut-turut dengan n-heksana dan metanol. Pada tahap awal, aktivitas antifungidiindikasikan melalui penghambatan perkecambahan dan panjang buluh kecambah sporaFusarium sp. pada konsentrasi 500 μg/ml sebanyak 50 μl. Uji aktivitas antifungi terhadapGanoderma sp. dilakukan menggunakan metode cylinder plate yang telah dimodifikasi.Ekstrak metanol dari kulit mangium menunjukkan aktivitas antifungi tertinggi, yangdiindikasikan oleh penghambatan perkecambahan (60,3%) dan panjang buluh kecambah(8.8 μm) spora Fusarium sp dibandingkan dengan kontrol (air steril (0; 17,5 μm), DMSO5% (23,7%, 15,3 μm)) dan ekstrak n-heksana kulit mangium (40,3%; 11,8 μm). Zonapenghambatan teramati secara makroskopis pada bagian terluar koloni Ganoderma sp.terhadap ekstrak antifungi pada konsentrasi 15 mg mL -1. Secara mikroskopis, padadaerah kontak dengan ekstrak antifungi, hifa berbentuk keriting, tumbuh melingkar danmengalami percabangan dini pada konsentrasi 10 mg mL -1. Pada konsentrasi ekstrakantifungi 15 mg mL-1, hifa mengalami lisis.Kata kunci: antifungi, Acacia mangium Willd, Fusarium sp., Ganoderma sp.
URGENSITAS KOMPETENSI TENAGA PENDIDIK BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS PERSAINGAN GLOBAL Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Seperti kita ketahui, pendidikan adalah proses membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik.  Suatu negara yang tidak melihat pendidikan akan mengalami ketertinggalan dari negara lain dan masyarakatnya sendiri tidak mampu bersaing dengan dunia luar.  Menilik dari pengalaman Negara lain, Jepang dan Korea menjadi negara maju dan mereka dihargai di dunia karena kekreatifitasan, keinofatifan dan kemajuan di bidang pengetahuan.  Kedua negara tersebut ternyata berkomitmen terhadap penguasaan ilmu dan bahasa Inggris sebagai suatu keharusan. Hingga saat ini, kedua negara tersebut dapat bersaing di berbagai sektor. Penguasaan ilmu dan bahasa Inggris adalah kunci utama.   Mengapa bahasa Inggris? Berbicara tentang bahasa Inggris, sejarah telah membuktikan bahasa Inggris lebih dominan sebagai bahasa yang didalamnya terdapat banyak ilmu dan peradaban.  Dominasi bahasa Inggris terjadi ketika kolonialisme barat berhasil melakukan perluasaan politik, ekonomi, ilmu & teknologi, dan budaya. Itulah sebabnya mengapa bahasa Inggris diakui dan digunakan sebagai alat dalam mengembangkan pengetahuan, bernegosiasi bisnis, dan berkomunikasi dengan dunia luar.  Seperti yang diungkapkan oleh Naisbitt berikut ini: “There are, in the world today, more than one billion English speakers-people who speak English as a mother tongue, as a second language, or as a foreign language.  60 per cent of the radio broadcasts are in English. 70 per cent of the world’s mail is addressed in English.  80 per cent of all international telephone conversations are in English. 80 per cent of all data in the several 100 million computers in the world is in English”.[1] Saat ini, di dunia ada lebih dari satu milyar orang yang berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa kedua atau sebagai bahasa asing.  60% penyiaran radio menggunakan Bahasa Inggris. 70% surat-menyurat di dunia menggunakan Bahasa Inggris.  80% percakapan telepon internasional menggunakan Bahasa Inggris.  80% semua data dalam 100 juta computer di dunia menggunakan Bahasa Inggris. Hal serupa diungkapkan Ferguson berdasarkan penelitian ilmiah bahwa sumber ilmu pengetahuan dan korporasi multinasional, terkenal dan ikonik menggunakan bahasa Inggris[2]. Singkatnya, tingkat penguasaan bahasa Inggris begitu penting karena era globalisasi tidak dapat dihindari dan dunia mengalami perubahan cepat dalam dimensi hubungan internasional tanpa sekat melalui web, internet, perjanjian, transaksi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kesempatan. Menurut Indrawati, sebuah penelitian indeks pengembangan  sumber daya manusia (HDI) yang dilakukan UNDP telah mengeluarkan hasil bahwa dari 174 negara yang disurvei, sumberdaya manusia Indonesia berada di level 102.  Sumber daya manusia Indonesia tertinggal 50 tahun dari Singapore dan Malaysia. Kita masih tertinggal jauh khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.[3] Hasballah mengungkapkan hanya beberapa orang Aceh yang memiliki posisi strategis dalam pekerjaan pada saat sesudah tsunami di Rehabilitasi-Rekonsialiasi Aceh-BRR dan internationals organizations (NGOs).  Itupun lebih dikarenakan faktor politik dan sosial-ekonomi bukan karena keahliannya atau kompeten dalam bekerja.  Posisi yang strategis tersebut banyak diduduki orang luar yang lebih kompeten dalam pengetahuan dan penguasaan bahasa Inggris.[4] Berdasarkan fakta tersebut yang diungkap Hasballah, maka perlu kiranya para lulusan pada masa mendatang dipersiapkan untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang ‘oriented-overseas job’ seperti di Timur Tengah, di negara-negara asia yang maju seperti Malaysia, Singapore, Japan, Korea atau Australia. Kesempatan kerja harus lebih mengarah pada pekerjaan yang bersifat keahlian atau ‘expert’ seperti ahli telekomunikasi, pedagang berbasis teknologi, dan di badan-badan internasional.[5] Lemahnya sumber daya Indonesia sangat bergantung dari para pendidik yang berkompeten dalam menghasilkan lulusan yang unggul. Yang ingin penulis diskusikan di sini adalah sejauh mana kompetensi pendidik bahasa Inggris secara profesi dan akademik? Tujuan artikel ini adalah untuk mengupas indikator ketidakunggulan kompetensi pendidik Bahasa Inggris dan mencari solusi meningkatkan kompetensi para pendidik Bahasa Inggris. Dalam kamus Webster New Collegiate (1981), profesi (profession) adalah panggilan dalam memperoleh spesialisasi pengetahuan melalui persiapan panjang dan intensif pada institusi.  Ketika seseorang sudah memiliki spesialisasi pengetahuan dan bekerja dengan ilmu tersebut maka seseorang tersebut di sebut ‘profesional’.[6]   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Profesi Dalam dunia pendidikan, profesi pendidik yaitu memiliki spesialisasi berbagai macam pengetahuan metode pembelajaran, memiliki kompetensi literasi jurnal, makalah, buku, linguistik terapan dan sebagainya. Untuk mengukur kompetensi para pendidik, pemerintah menetapkan kebijakan melalui sertifikasi sehingga para pendidik yang sudah mendapatkan sertifikasi secara formal mendapatkan ‘izin mengajar’ dan sudah dapat dikatakan ‘profesional’. Namun, kenyataannya, masih banyak kendala yang terjadi pada saat sertifikasi.  Sertifikasi para pendidik didasarkan asesmen portofolio yang dibuktikan dengan dokumen atas reprensentasi pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Seorang pendidik yang sudah bersertifikat pendidik profesional berhak memperoleh tunjangan profesi. Namun,  permasalahan yang kerap muncul adalah pada saat proses melengkapi portofolio itu sendiri. Selain motivasi utama para pendidik untuk mendapatkan tunjangan profesi tetapi keterbatasan kemampuan atau ‘skill’ dan waktu yang singkat dalam menyelesaikan portofolio menjadi kecemasan tersendiri bagi mereka sehingga faktor kejujuran dan objektifitas patut dipertanyakan! Penjelasan tersebut didukung oleh Kartadinata bahwa sulit untuk menilai apakah ada korelasi antara portofolio dengan tingkat penguasaan pengetahuan (metode mengajar dan aplikasi mengajar) atau tidak karena asesmen portofolio tidak disertai pengamatan lapangan sehingga objektifitasdan kejujuran dari para pendidik dalam menyiapkan portofolio merupakan kunci validasi asesmen. Jika terjadi ketidakjujuran dalam menyajikan portofolio, portofolio tidak akan merepresentasikan kompetensi dan kinerja para pendidik dan keputusan yang diambil menjadi tidak valid. Perlu kecermatan tinggi dalam asesmen portofolio dan (mungkin) perlu dilakukan review menyeluruh atas sistem portofolio.[7] Tidak mengherankan sebanyak 1.082 pendidik menggunakan dokumen palsu di Riau dan seorang profesor dari perguruan tinggi ternama di Bandung mempertaruhkan martabatnya dengan memanipulasi jurnal Carl Ungerer[8].  Oleh karena itu, profesional tidak dapat diukur dengan proses yang instan, maka bagi pendidik yang tidak terbiasa menulis akan mengalami hambatan dan kekhawatiran sehingga melakukan plagiat atau mengkopi hasil karya tulisan orang lain.  Jika demikian adanya, secara profesi para pendidik kita tidak profesional. Dampaknya akan mempengaruhi pada terdidik yang menuntut ilmu ketika lulus menjadi tidak terampil ‘unskilled’ untuk bersaing di dunia kerja karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai.   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Saad menekankan bahwa paradigma pengajaran seharusnya diubah atau diganti agar menghasilkan lulusan unggul, bukan lulusan yang ‘penghafal teori’ atau ‘Rote Learner’. [9] Siswa harus bertanggung jawab untuk dapat mengembangkan diri mereka melalui interaksi sosial menjadi ‘Independent Thinker’ sebagai constructivist learning. Alwasilah, dalam buku ‘Bahasa Inggris dalam Konteks Persaingan Global’, ada beberapa indikator atas ketidakunggulan penguasaan pengetahuan bahasa Inggris secara akademik di perguruan tinggi.[10] Pertama, banyak pengajar mengajar bahasa Inggris hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan menganalisa kalimat.  Detailnya, pernyataan ini; “…menguasai bahasa Inggris seyogyanya menyajikan kesempatan dan pajanan (exposure) bagi pembelajar dalam isu-isu nyata sehingga menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi, berdialog dan berfikir kritis. Berkontribusi terhadap perkembangan daya nalar dan pembaruan kebudayaan (cultural renewal)“. Kewajiban para dosen EFL tidak hanya mengajar bahasa sekedar pada penggunaan ‘tobe’ (am, is, are) dan ‘to have’ atau memperbaiki bahasa secara gramatikal tetapi juga harus mengajarkan fungsi bahasa itu sendiri dalam konteks komunikasi sosial, interaksi, budaya dan berfikir kritis dalam kehidupan nyata. Kedua, para pengajar masih kurang mereproduksi literasi dan pengetahuan.  Rudy  menjelaskan bahwa tahun 2004 The times Higher Education Supplement memilih 200 universitas terbaik di dunia.  10 universitas terbaik adalah Harvard University, University of Barkeley, Masschusetts Institute of Technology, California Institute of Technology, Oxford University, Cambridge University, Stanford University, Yale University, Princeton University dan ETH Zurich Swiss. National University of Singapore (ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya University (ke-89) dan Sains Malaya Univeristy (ke-111).[11] Ironisnya, tidak satu pun universitas dari Indonesia termasuk didalamnya.  Mengapa? Para pengajar tidak dapat menghasilkan produk tertulis yang dipublikasikan di forum dunia. Satu dari lima kriteria untuk menilai untuk menilai 200 universitas terbaik adalah melalui karya tulis dosen yang aktif. Dalam hal ini, universitas berkualitas bukan berdasarkan dari fasilitas yang baik, tetapi produk tertulis yang sering dikutip di forum internasional. Bagaimana pengajar kita bisa berpatisipasi secara internasional berdasarkan sumber Replubika bahwa  tingkat terendah penyerahan proposal penelitian ke Ditjen Dikti Diknas berasal dari universitas? [12]. Kebiasaan literasi kita belum optimal dalam atmosfir akademik. Kurangnya kebiasaan literasi disebabkan karena masih banyak manajemen universitas yang mengabaikan dan kurang memberi apresiasi karya tulis pengajar dan kurang memfasilitasi dalam ‘writing workshop.’  Universitas memerlukan perencanaan terstruktur dan baik untuk membangkitkan dan mendorong pengajar menghasilkan pengetahuan melalui jurnal, buku, atau makalah. Kurangnya kompetensi pengajar dalam literasi akan berdampak besar dalam mengembangkan kemampuan mahasiswa menulis khususnya membuat skripsi seperti dalam menuangkan ide, grammar, ejaan kata bahasa Inggris, penguasaan kosa kata sehingga mahasiswa hanya meng-copy paste karya skripsi orang lain. Makna yang tersirat dari uraian tersebut mengindikasikan tumpulnya kreativitas literasi kalangan intelektual menjadi tantangan terbesar yang dihadapi kita saat ini. Apa daya negara tetangga seperti Malaysia, Nigeria dan Thailand sudah lebih dahulu Go International?  Sekedar mengingat kembali sejarah kejayaan beberapa dekade yang lalu, kita pernah mengirimkan para pendidik yang kompeten ke negeri jiran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga, tidak hanya lemah dalam karya tulis, kualifikasi pengajar dalam berkomunikasi secara lisan juga kurang. Apalagi persyaratan umum minimal penguasaan TOEFL 500 belum tercapai sehingga banyak kesempatan untuk beasiswa tidak termanfaatkan secara maksimal.[13].  Status Bahasa Inggris kita sebagai bahasa asing (English Foreign Language) terbatas digunakan hanya dalam pembelajaran dikelas dan tidak berkembang sebagai alat komunikasi pergaulan menjadi hambatan tersendiri. Keempat, Sakri menjelaskan bahwa penyerapan ilmu pengetahuan melalui produk terjemahan buku teks, jurnal dari bahasa sumber ke bahasa sasaran masih kurang maksimal.  Fakta membuktikan Indonesia memiliki judul lebih dari 100.000 dalam bahasa Inggris tetapi hanya 20-25% saja yang produktif menterjemahkan.[14]. Berbagai alasan terungkap dalam penelitian bahwa motivasi pengajar untuk menterjemahkan buku kurang seiring dengan kurangnya pembayaran honor menterjemahkan. Alasan lain adalah kegiatan menterjemahkan memerlukan waktu dan pemikiran lebih bukan sebagai pekerjaan sampingan sementara, pengajar memiliki tugas utama yaitu mengajar.  Selain itu, yang memiliki keterampilan dalam menterjemahkan secara resmi masih sangat sedikit karena kewenangan untuk mendapatkan ‘sworn translator’ atau ‘certified translator’ hanya satu dari Universitas Indonesia. Tentu saja hal ini akan menjadi hambatan bagi mereka yang berada diluar jangkauan dan ingin mengambil kesempatan menjadi penterjemah resmi karena hambatan biaya dan waktu. Aceh adalah miniatur dari kondisi nyata pendidikan saat ini yang mewakili ketidakunggulan penguasaan bahasa Inggris baik para pengajar. Pengalaman penulis melihat masih banyak pengajar yang belum menguasai  Bahasa Inggris nyatanya mereka adalah sarjana S-2.  Sementara untuk melanjutkan program S-2 dan S-3 di dalam negeri saja memerlukan persyaratan minimal TOEFL 450 untuk memudahkan pengajar memahami dan  menterjemahkan buku teks bahasa Inggris sebagai buku wajib. Dalam Interaksi dikelas, pengajar tidak membiasakan merangsang interaksi yang komunikatif dalam bahasa Inggris karena masih adanya stigma apabila berbicara bahasa Inggris merasa malu disebut ‘gaya-gaya’an saja. Metode mengajar yang tidak berfokus pada komunikasi di tambah kurangnya mahasiswa membaca referensi pengetahuan.  Mereka hanya duduk, diam, dengar dan menerima yang pengajar ajarkan tanpa mempertajam kemampuan berfikir kritis.  Efek domino yang lebih besar adalah lulusan tidak unggul yang menjadi guru dan menyebar keseluruh daerah untuk mengajar sehingga menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas program belajar bahasa Inggris tidak berjalan lancar di sekolah-sekolah karena kemampuan guru dalam penguasaan materi rendah. Apakah masih ada solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut? Apakah sudah terlambat? Usaha pemerintah Aceh untuk memberdayakan para dosen melaui program beasiswa layak mendapat apresiasi tetapi usaha tersebut patut memerlukan follow-up! Tujuan penulisan ini, penulis memberikan sajian solusi alternatif untuk meningkatkan kompetensi pendidik Bahasa Inggris yang memerlukan perencanaan dan pengembangan strategi di masing-masing kampus sehingga menghasilkan para pengajar yang betul-betul profesional dan menghasilkan produk akhir para lulusan yang unggul. PEMBAHASAN   Pengajar sebagai ujung tombak meningkatkan daya saing yang mengglobal, perlu melakukan pengembangan dengan strategi yang baik.   Meningkatkan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris Secara Profesi Seperti yang diungkapkan Stigler; “Professionals have longer and more specialized training, greater freedom, to organize their time, greater personal responsibility for directing their own work, and the respect that comes from the uniqueness and quality of their contribution”.[15]   Profesional tidak sekedar mendapatkan sertifikasi dan pengetahuan serta melakukan pelatihan khusus dalam waktu lama tetapi memerlukan kebebasan lebih luas, mengorganisir waktu, memiliki tanggung jawab pribadi yang besar yang mengarah kepada pekerjaan mereka sendiri dan menghargai sesuatu yang berasal dari keunikan dan kualitas atas kontribusi pengajar sendiri! Memberikan pemahaman bahwa sertifikasi adalah langkah baik sebagai bagian upaya pemerintah memberikan tunjangan terhadap profesi pengajar namun akan lebih baik apabila profesi yang mereka sandang dilengkapi dengan membangun tanggung jawab profesionalitas mengajar yang terkait dengan wilayah profesinya, Bahasa Inggris seperti yang diungkapkan Richards, (1) dengan memperbanyak metode pengajaran seperti human interaksi model, active learning model, competence based teaching models, Diharapkan pula, agar para dosen ketika mengajar dalam kelas siap menghadapi masalah yang muncul, (2) teaching skill berarti keterampilan ‘mengajar’ itu sendiri melibatkan kegiatan pembelajaran yang kesemuanya mengarahkan pada kemampuan mahasiswa untuk bereksplorasi dan berkomunikasi, menyiapkan siswa untuk mempelajari hal-hal baru, memberikan kesempatan mempelajari materi baru, mempersiapkan kegiatan interaktif dan komunikatif melalui group work, games, simulasi, presentasi, role play, (3) keterampilan berkomunikasi atau ‘communicative skill’ mengarah pada kelancaran berbahasa Inggris dan kemampuan membangun psikologi kedekatan dengan mahasiswa.  Melalui pendekatan keterampilan ini, mahasiswa dapat berujar bagaimana cara meminta, bagaimana cara berjanji, bagaimana memberi salam, berterima kasih, mengucapkan belasungkawa dalam bahasa Inggris, (4) mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan membuat keputusan, dimana materi dikembangkan dan ditransformasi kedalam bentuk pengajaran yang adaptif sesuai dengan latar belakang, budaya, sosial, (5) dalam kontekstual pengetahun dan (6) pengetahuan di bidang sosiolinguistik yang erat kaitannya dalam fenomena variasi berbahasa dalam atmosfir sosial atau performansi.[16] Meningkatan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Pertama, pihak kampus dapat mempertimbangkan cara ‘Pembinaan Dosen Muda’ Alwasilah (2004) mengkategorisasikan ke dalam:  (1) Dosen Terbina yaitu dosen yang belum memiliki persyaratan minimal,  (2) Dosen Pembina yaitu yang memiliki gelar dan dapat mengarahkan ‘Dosen Terbina’, (3) ‘Jalur Pembinaan’ yaitu dosen yang memiliki gelar S2 dan S3 untuk mengikuti studi, (4) ‘Materi Pembinaan’ tentang pengetahuan teoritis (Perceived Knowledge), pengetahuan lapangan (Learning Experience) seperti simulasi, micro teaching, studi  kasus, observasi, seminar, diskusi, dan karya tulis. Proses pembinaan memerlukan persyaratan, (1) dari ‘Umum ke Khusus’, dosen terbina dapat menjadi asisten terlebih dahulu dan dapat memilah subjek yang sesuai dari dosen Pembina, (2) dari ‘Terbina ke Mandiri’, dosen yang sudah S2 memiliki kewenangan mengajar program S-1 yang sesuai dengan bidang studi dan dapat menjadi ‘teaching team’. Dengan memenuhi persyaratan diatas melalui program pembinaan maka profesionalitas pengajar diharapkan berkembang dalam supervisi mengajar, mengajar ‘across curriculum’, mengajar subjek favorit, dan mengembangkan materi.  Untuk dua persyaratan mengembangkan kompetensi pengajar dari ‘Sistematik ke Koordinatif’ berkaitan erat dengan penunjukan ‘Dosen Pembina’, penentuan ‘Materi Pembinaan’ dan (2) ‘Dinamis’ dimana kompetensi professional mengarah pada ketepatan (adequacy), kelancaran (proficiency), sampai ahli (expertise). [17] Kedua, kampus hendaknya memiliki ‘Wadah Profesi’ jangka pendek secara rutin untuk kegiatan akademik selain pelatihan peer-writing. Untuk jangka panjang, pihak kampus dapat menjadi keanggotaan organisasi TESOL untuk membangun jaringan. “The association exists to provide opportunities for networking not only among the members of TESOL but also among the members of the several affiliates and with the membership of other local, national, and international professional association with which TESOL shares a common interest” (Asworth 1993:11).   Asosiasi ada untuk menyediakan atau memberikan kesempatan jaringan tidak hanya diantara anggota TESOL tetapi juga diantara beberapa anggota afiliasi dan anggota lokal, nasional dan internasional untuk saling berbagi minat yang sama. Kampus juga dapat membangun minat baca-tulis dosen dengan cara: (1) setiap pengajar bertukar informasi referensi satu sama lain.  Kurangnya referensi menyebabkan kurangnya minat menulis.  Di sini, pengajar satu sama lainnya bisa menjadi fasilitator dalam memfasilitasi referensi, (2) menyediakan ‘writing workshop’ yang berorientasi pada proses mencari ide, menulis draft, merevisi sampai pada menerbitkan tulisan.  Proses merevisi berarti meng-kolaborasikan tulisan untuk saling mengoreksi tatabahasa (grammar), tulisan, ide dengan rekan.  Dengan melakukan ini, diharapakan akan terbiasa menulis dan plagiarisme dapat dihindari.  Proses menulis lebih berharga dan bermakna daripada sekedar hasil tulisan.  Tahapan ini dapat juga diterapkan untuk mahasiswa dan dosen dapat memotivasi mahasiswa itu sendiri untuk menulis, (3) Tulisan pengajar dapat direspon sendiri oleh mahasiswa sebagai pembaca untuk menajamkan dan mengeksplorasi pendapat sebagai bagian dari menumbuhkan keberanian berdialog, berinteraksi, berfikir kritis dalam akademik, Menurut Rudy, respon mahasiswa yang terus-menerus melalui karya tulis dapat pula meningkatkan tulisan mereka sendiri, (4) komitmen dari pihak universitas untuk selalu memajukan dan memfasilitasi dosen mengaktualisasikan diri di lingkungan kampus terlebih dahulu, (5) memberikan apresiasi akan memotivasi pelaku akademik untuk tetap menulis dana akan dapat menghasilkan atau ‘reproduce’ ilmu pengetahuan kedalam jurnal, buku.[18] Ketiga, kampus memfasilitasi para pengajar untuk selalu meng-upgrade atau memperbaharui nilai TOEFL atau IELST  sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Keempat, prospektifitas bidang terjemahan masih luas untuk dilakoni.  Agar tepat sasaran untuk meningkatkan keterampilan menterjemahkan ada beberapa saran yang diajukan berdasarkan penelitian Harto bahwa (1) pengajar yang memegang mata kuliah ‘translation’ harus mengetahui tujuan akhir apa yang akan dipersiapkan bagi para lulusan dan menganalisa kebutuhan mahasiswa sebelum memutuskan materi apa yang akan dipelajari.  Koherensi kurikulum dengan kebutuhan pasar menjadi perhatian utama, sehingga produk akhir dari lulusan siap pakai, (2) pengajar harus mempersiapkan proses menterjemahkan dari memahami materi secara utuh sesuai konteksnya, menterjemahkan teks, membaca hasil teks, dan mengedit hasil teks, jika perlu membuat ‘footnote’, (3) pemerintah hendaknya mempertimbangkan institusi lain di Aceh untuk memiliki kewenangan mencetak lulusan menjadi ‘sworn translator’.[19] PENUTUP Pada sesi penutup ini, para dosen perlu meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat menghasilkan lulusan unggul yang mampu dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh agar bisa bersaing di era globalisasi.  Menumbuhkan atmosfir akademik dengan membangun ‘Wadah Profesi’ di kampus untuk melakukan pembinaan dosen muda, membangun ‘peer-teaching’ atau kolaborasi mengajar dan ‘writing workshop’ atau peer-writing yaitu metode kolaborasi menulis untuk saling mengkoreksi ide, grammar, spelling dan bertukar informasi referensi satu dengan yang lain untuk menambah informasi referensi pengetahuan dan sumber untuk menulis. Membangun dan memelihara profesionalisme melalui peningkatan dedikasi, komitmen, kerja keras, efisien, jujur dan selalu mengaktualisasikan diri secara akademik dalam kehidupan nyata dengan membangkitkan minat melakukan penelitian, memperkaya variasi metode mengajar dalam pembelajaran, sehingga profesionalisme tumbuh  seiring dengan kepiawaian mengajar, kepiawaian menulis, serta kepiawaian dalam ranah pendidikan bahasa Inggris lainnya.   DAFTAR PUSTAKA     Alwasilah, Chaedar. 1995.  Profesionalism in Language.  Jakarta: Jakarta Post. Alwadilah, Chaedar. 1997.  Lemahnya Diplomat Indonesia. Jakarta: Republika. Alwasilah, Chaedar. 2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif. Bandung: CV.  Andira. Alwasilah, Chaedar. 2004. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV. Andira. Adam, Anas. M. 2010. Banyak Guru Belum Tersentuh Pelatihan. Serambi: Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas. Banda Aceh: Serambi. Buchori, Mochtar. 2010.  Guru Profesional dan Plagiarisme. Jakarta: Kompas. Harto, Sri. 2003. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan: Studi Kasus Tujuh Penerjemah Profesional. Bandung: CV.  Andira. Indrawati. 2003. Meningkatkan Daya Saing SDM Indonesia di Era Pasar Bebas. Bandung: CV. Andira. Informasi Pendidikan.  1995.  Kualifikasi Dosen.  Jakarta: Republika. Kartadinata, Sunaryo. 2009.  Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan. Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Naisbitt, John.  1995.  Global Paradox. New York: Avon Books. Rudy,    Inderawati. 2011. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam Mereproduksi Ilmu. JPBS FKIP. Malang : Universitas Sriwijaya. Richards, Jack C. 1998.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education. New York: Cambridge University Press. Stevenson, Harold W. dan James W Stigler. 1992. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education. New York: Touchstone. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Sakri, Adjat.  1985.  Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2.  Bandung: Penerbit ITB. Webster’s New Collegiate Dictionary. 1981. Professional Definition. At http://webster.com           [1] Naisbitt, John.  Global Paradox (NY: Avon Books, 1995). [2]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [3]. Indrawati, Meningkatkan daya saing SDM Indonesia di era Pasar bebas (Bandung:           Andira, 2003). [4]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.5   [5]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.8.   [6]. Websters’ New Collegiate, Dictionary.  Definition of Profession at Http://www.webstercollegiate.org (1981).   [7]. Kartadinata, Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009). [8]. Buchori, Mochtar. Guru profesional dan Plagiarisme (Jakarta: Kompas, 2010). [9]. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan, 2009).   [10]. Alwasilah, Chaedar. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif (Bandung: Andira, 2003). [11]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam mereproduksi ilmu (JPBS IKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [12]. Alwasilah, Chaedar.  Artikel Lemahnya Diplomat Indonesia (Jakarta: Republika, 1997). [13]. Alwasilah, Chaedar. Artikel tentang Profesionalism in English Language (Jakarta: Jakarta Post, 1995).. [14]. Sakri, Adjat. Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2 (Bandung: ITB, 1985). [15]. Stevenson, Harold W dan James W Stigler. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education (NY: Touchstone, 1992). [16].  Richards, Jack C.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education (NY: Cambridge University Press, 1998). [17]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [18]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Inteletual dalam Mereproduksi Ilmu (JPBS FKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [19]. Harto, Sri. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan (Bandung: Andira, 2003).
Pengaturan Waktu dan Teknik Pemanenan Buah Mangga Arumanis Yuniarti, Yuniarti; Suhardjo, Suhardjo
Agritech Vol 17, No 3 (1997)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.724 KB) | DOI: 10.22146/agritech.19332

Abstract

A study was conducted to determine the most suitable time and technique of harvesting to give sap free mango. The experiment was designed in a factorial randomized block with the first factor was time of harvesting (at 6.00, 8.00, 10.00, 12.00, 14.00 and 16.00 o clock), while the second factor was technique of harvesting (cutting fruit stalk at the stalk-end, cutting fruit stalk using bamboo basket, cutting fruit stalk at abscission zone, at 1 cm above abscission zone, at 5 cm above abscission zone). Result showed that there was no interaction between time and technique of harvesting and the amount of sap coming out at the first five minutes after fruit stalk cutting. But separately, time or technique of harvesting influenced the amount of sap coming out. Harvesting at 6.00 and 8.00 oclock gave the largest amount of sap which was significantly different compared to the other treatments. The most suitable time for harvesting was at 10.00 or here after. Technique of harvesting by cutting fruit stalk at abscission zone or at the above resulted the smallest sap amount which was significantly different compared to the others.
PENGARUH WAKTU KALSINASI ABU CANGKANG KELOMANG (PAGUROIDEA) PADA SUHU TINGGI DALAM PEMBENTUKAN KATALIS PADAT CAO Mukminin, Amirul; Firdaus, Muhammad; Yuniarti, Yuniarti; Syabani, Muh Wahyu
INDONESIAN JOURNAL OF CHEMICAL RESEARCH VOLUME 4, ISSUE 1, 2019
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ijcr.vol4.iss1.art1

Abstract

Katalis CaO dari abu cangkang kelomang (Paguroidea) telah berhasil dibuat melalui proses kalsinasi pada suhu 900°C selama 4 jam. Variasi waktu kalsinasi 2, 3, dan 4 jam dilakukan untuk mempelajari tentang perubahan fasa sampel. Hasil difraksi sinar-X dari abu cangkang kelomang untuk 2 dan 3 jam menunjukkan bahwa puncak-puncak karakteristik CaCO3 kalsit sedangkan untuk 4 jam berupa kalsium oksida (CaO) dengan puncak karaktersitik pada 2 theta = 32,16°; 37,15°; 53,54°; 64,16° dan 67,5° yang dikonfirmasi sesuai dengan standard CaO (JCPDS N. 82-1690). Hasil SEM menunjukkan informasi topografi dari morfologi partikel katalis untuk waktu 2 dan 3 jam berbentuk agregat yang kurang homogen, jika dibandingkan dengan hasil kalsinasi pada waktu yang lebih lama yaitu 4 jam. Sebaran ukuran parikel untuk 2, 3 dan 4 jam masing-masing memberikan ukuran 0,3 mm-1,5 µm, 34,7 µm ? 1,25 µm, dan 11,4 µm ? 1 µm. Hasil TGA/DSC menunjukan 43,92 % cangkang kelomang mampu terkonversi menjadi CaO dan CaCO3 pada 900°C. Kata kunci: Katalis CaO, katalis heterogen, biodisel
Penggunaan Pemutih Gigi Mengandung Hidrogen Peroksida 40% Dibanding dengan Strawberry (Fragaria X ananassa) terhadap Ketebalan Email, Kadar Kalsium, dan Kekuatan Tekan Gigi Yuniarti, Yuniarti; Achadiyani, Achadiyani; Murniati, Nani
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1855

Abstract

Estetik gigi adalah hal yang penting bagi seseorang. Salah satu hal yang memengaruhi estetik gigi adalah warna gigi. Perubahan warna gigi dapat diperbaiki dengan pemutihan gigi hidrogen peroksida 40% dan strawberry (Fragaria x ananassa). Penelitian eksperimental laboratoris membandingkan gigi kelompok kontrol dengan dua kelompok perlakuan gigi yang diolesi bahan pemutih gigi hidrogen peroksida 40% atau direndam dalam strawberry. Penelitian dilakukan di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran dan Laboratorium Kimia Universitas Padjadjaran, serta Laboratorium ITMKG Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran periode Agustus 2012–Mei 2013. Kelompok masing-masing memakai sembilan buah gigi premolar permanen yang diukur ketebalan email secara mikroskopis, kadar kalsium memakai spektrofotometer, dan kekuatan tekan memakai universal testing machine. Uji statistik pengukuran ketebalan email adalah uji-t, pengukuran kadar kalsium memakai Wilcoxon dan Mann Whitney, sedangkan hasil pengukuran kekuatan gigi diuji dengan Kruskal Wallis dan Post Hoc Mann Whitney. Hasil uji penurunan ketebalan email kedua kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol (uji dependent t, p=0,002 dan p=0,0001) dan perbedaan penurunan ketebalan email antara kedua kelompok (uji independent p=0,0375) adalah signifikan. Penurunan kadar kalsium kedua kelompok dibandingkan dengan kontrol (uji Wilcoxon p=0,173 dan p=0,441) dan perbedaan kadar kalsium antara kedua kelompok tersebut (uji Mann Whitney p=0,480) tidak signifikan. Uji kekuatan tekan gigi signifikan antara kontrol dan dua kelompok perlakuan (uji Kruskall Wallis p=0,014), namun bila memakai uji Post Hoc Mann Whitney hanya penurunan kekuatan tekan gigi antara kontrol dan hidrogen peroksida yang berbeda signifikan (p=0,02). Simpulan, hidrogen peroksida 40% menurunkan ketebalan email dan kekuatan tekan gigi lebih besar dibanding dengan strawberry, tetapi tidak menurunkan kadar kalsium lebih besar dibanding dengan strawberry. TEETH BLEACHING HYDROGEN PEROXIDE 40% COMPARED WITH STRAWBERRY (FRAGARIA X ANANASSA) TO ENAMEL THICKNESS, CALCIUM LEVEL AND COMPRESSIVE STRENGTH OF TEETHTeeth esthetics is important for someone. One thing influence teeth estheticsis is colour. Dental bleaching using hydrogen peroxide 40% and strawberry (Fragaria x ananassa) is conservative alternative to restore the esthetics of either stained teeth. This study was an experimental laboratory by comparing control group with  two treatment groups were teeth smeared hydrogen peroxide 40% or soaked in strawberry. This study was done in Histology Laboratory Faculty of Medicine and Chemical Laboratory Universitas Padjadjaran, and ITMKG Laboratory Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran period August 2012–May 2013. Each group used nine permanent premolars, which will be measured email thickness microscopically, calcium levels using spectrophotometer, and compressive stregth using universal testing machine. The statistical test used for thickness measurement results email was the t-test, for measurement of calcium levels using Wilcoxon test and Mann Whitney while for tooth strength measurements were tested using Kruskal Wallis and Post Hoc Mann Whitney. The results obtained for the test email thickness reduction of both treatment groups compared with the control (test dependent t, p=0.002 and p=0.0001) and a decrease in the thickness difference between the two treatment groups email (independent test, p=0.0375) were significant. The results of the impairment test calcium levels both treatment groups compared with controls (Wilcoxon p=0.173 and p=0.441), and the difference in calcium levels between the two groups (Mann Whitney test, p=0480) was not significant. The results of compressive strength test teeth showed significant gains between the control group and two treatment groups (Kruskall Wallis test, p=0.014), However when using Post Hoc Mann Whitney test only decrease the compressive strength of the teeth between the control group and the treatment group were significant hydrogen peroxide (p=0.02). In conclusions, 40% hydrogen peroxide causes a decrease in the thickness of the email and the compressive strength is greater than strawberry but do not cause a decrease in blood calcium level greater than strawberry.
HUBUNGAN PERILAKU KERJA PRESTATIF DAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN PEMBENTUKAN JIWA KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS XII SMK SE KABUPATEN BANJAR Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Socius Vol 1, No 1 (2012): Jurnal SOCIUS
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.126 KB) | DOI: 10.20527/jurnalsocius.v1i1.2180

Abstract

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan  yang bertujuan penyiapkan peserta didiknya menjadi tenaga kerja yang terampil melalui kegiatan belajar mengajar maupun praktek atau magang. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku kerja prestatif (selalu ingin maju) dan adversitas quotient (kecerdasan merubah hambatan menjadi sebuah peluang) dengan pembentukan jiwa kewirausahaan siswa kelas XII SMK se Kabupaten Banjar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Siswa kelas XII SMK se-Kabupaten Banjar yang memiliki Perilaku kerja prestatif pada kategori sedang, sebanyak 59 siswa dari 87 siswa.  2) Siswa yang memiliki Adversty Quotient yang tergolong tipe quitters berjumlah 25 siswa, tipe campers berjumlah 39 siswa dan tipe climbers berjumlah 23 siswa. 3) Pembentukan jiwa kewirausahaan siswa dapat dikategorikan pada golongan sedang yang berjumlah 56 siswa dari 87 siswa 4) Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara perilaku kerja prestatif dengan pembentukan jiwa kewirausahaan siswa sebesar r = 0,631, kekuatan hubungannya dapat dikategorikan adalah kuat 5) Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara adversity quotient pada tipe climbers sebesar r = 0,950, tipe campers sebesar r =0,954 dan tipe quitters sebesar r = 0,963  dengan pembentukan jiwa kewirausahaan siswa, kekuatan hubungannya dapat dikategorikan sangat kuat 6) Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kerja prestatif dengan adversity quotient pada tipe climbers sebesar r = 0,959 , tipe campers sebesar r = 0,913 dan tipe quitters sebesar r =  0,879, kekuatan hubungannya dapat dikategorikan sangat kuat 7) Terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara perilaku kerja prestatif dan adversity quotient dengan pembentukan jiwa kewirausahaan siswa sebesar r = 0,661, kekuatan hubungannya dapat  dikategorikan kuat 8) Terdapat hubungan yang sangat kuat antara pembentukan jiwa kewirausahaan siswa dengan tipe climbers sebesar r = 0,994, tipe campers sebesar r = 0.996 dan tipe quitters sebesar r = 0,993, setelah dikendalikan oleh perilaku kerja prestatif.Kata Kunci: Perilaku kerja prestatif, adversity quotient, pembentukan jiwa kewirausahaan
INTERNATIONALLY LEGAL MEASURES TO COMBAT TERRORIST FINANCING Yuniarti, Yuniarti
Brawijaya Law Journal Vol 1, No 1 (2014): Legal and Development
Publisher : Faculty of Law, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.blj.2014.001.01.04

Abstract

Following the terrorist attacks in the USA on September 11th, 2001, it was discovered that money laundering was a significant source of finance for terrorists. Although, the amount of money that involve is not as involve as in drug and gun trafficking, terrorist financing had been the most important substance to be monitor. Further, various legal measures have been taken internationally in order to combat terrorist financing. This research analyses the legal measures that have been taken internationally and at EU level to combat terrorist financing.Key words: Money Laundering, Terrorist Financing, International Legal measures, EU.
EFEK IRIGASI TUNGGAL LARUTAN TETRASIKLIN HCl 10% SETELAH SKELING DAN PENGHALUSAN AKAR TERHADAP PERUBAHAN KLINIS PERIODONTITIS KRONIS POKET 4-6 MM Natalina, Natalina; Sukardi, Irene; Yuniarti, Yuniarti
Journal of Dentistry Indonesia Vol 10, No 2 (2003): AUGUST
Publisher : Faculty of Dentistry, University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.022 KB) | DOI: 10.14693/jdi.v10i2.487

Abstract

Chronic adult periodontitis (CAP) is the most common type of periodontal disease. Treatment of moderate CAP has primarily been directed at the physical removal of bacterial plaque, calculus and contaminated cementum by scaling and root planing (SRP) with or without surgical access. Irrigation solutions reach the apical portion of the pocket has flushing action properties and easy to apply. Tetracycline HCl (TTC HCl) solutions demonstrated its antimicrobial activity against subgingival microflora, shown to be substantive to dentin surface and subsequently released in active form, also has anti-collagenase properties. This study evaluates the clinical outcomes of treatment with locally TTC HCl 10% irrigation as an adjunct to SRP in subset of moderate CAP patients. The data examined were obtained from 24 patients. All patient were scaled and root planed prior to baseline measurement. The patients were monitored by parameters ; bleeding on probing (BOP), probing pocket depth (PPD), and attachment loss (LA). 56 contralateral surface exhibiting residual pocket depths 4-6mm were randomly assigned as test or control sites. After baseline measurement, each subgingival root surface was irrigated with approximately 10ml for 1 minute either with TTC HCl 10% solution (test), or Aquabides solution (control). The clinical parameters were assessed at baseline and weeks 3. The two sites resulted in significant statistical and clinical improvement in all parameters. BOP was not significantly reduced in test site compared to control site. PPD and LA was significantly reduced at test site compared to control site. The result indicate that subgingival irrigation with TTC HCl 10% solution 10ml for 1 minute may have a role in the management of moderate CAP. This treatment reduces surgical needs.
DINAMIKA KEBERADAAN SAWAH di KECAMATAN TEMBALANG SEMARANG TAHUN 1972 – 2014 Yuniarti, Yuniarti; Suprobowati, Tri Retnaningsih; Jumari, Jumari
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sawah adalah ekosistem lahan basah yang mempunyai fungsi penyedia pangan,  menampung dan mendistribusikan air aliran permukaan, mengurangi laju aliran permukaan dan erosi. Luas lahan pertanian di kota Semarang akhir – akhir ini telah mengalami perubahan seperti keberadaan sawah di kecamatan Tembalang. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan suatu kota di Jawa Tengah khususnya di kota Semarang sebagai penyebabnya . Pembangunan fisik di berbagai bidang semakin dibutuhkan. Akibatnya permintaan lahan menjadi cukup besar yang menyebabkan penurunan luas keberadaan sawah khususnya di daerah Tembalang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika keberadaan sawah di Kecamatan Tembalang dari tahun 1972 – 2014. Penelitian ini menggunakan metode pembacaan interpretasi Citra Landsat per-10 th dimulai dari tahun 1972 – 2014 dan grafik. Hasil dari interpretasi Citra Landsat adalah telah terjadi kenaikan luas sawah di 30 tahun pertama dan mengalami penurunan luas keberadaan sawah di 10tahun terakhir secara drastis di kecamatan Tembalang.. Perubahan sangat nyata dimulai pada tahun 1972-1984 terjadi kenaikan sebesar 18,33% seluas 22ha. Sepuluh tahun kedua antara tahun 1984-1994 terjadi kenaikan luas sawah terbesar yaitu 87,32 % seluas 124 ha. Rentang 10 tahun berikutnya 1994-2004 terjadi kenaikan luas lahan sawah seluas 122 ha sebesar 45,86 %. Baru pada 10 tahun terakhir terjadi penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar 30,80 % seluas 119 ha. Kata kunci: Dinamika, sawah, Tembalang.
Co-Authors A. Suryadi Achadiyani Achadiyani, Achadiyani Adi Pasah Kahar Afrianti, Esy Agus Prastowo Alsari, Desi Amirul Mukminin Apriyani, Siska Indriajaya Arhamsyah Arhamsyah, Arhamsyah Bagoes Widjanarko Bahri, Nelwati Bonimin, Bonimin Caecielia Wagiono, Caecielia Danang Biyatmoko, Danang Darwin Darwin Dian Purnama Anugerah, Dian Purnama Eka Nurhayati Elmatris Sy Enik Sulistyowati Faisal, Yogi Faridza, Muhammad Febiyanti, Ahda Febri Mulyanto, Dominico Surya Fifi Junita, Fifi Gunawan, Lidya Natalia HAJRIAL ASWIDINNOOR Hapsari, Bela Amalia Hapsari, Bella Amalia Indriana, Indita Indriyani, Yulis Irene Sukardi Irma Irma Irmawati, Betty Jaeng, Maxinus Jumari Jumari, Jumari Kartini, Harlen Katu, Umar Kun Aristiati Susiloretni, Kun Aristiati Larasati, Meirina Dwi Lisa Adhia Garina, Lisa Adhia Martalena Br Purba, Martalena Br Maulina, Iin Megawati, Eka Muhammad Firdaus Mukhtar Mukhtar Nadiyah, Laila Dinda Nani Murniati, Nani Natalina Natalina Nissa, Putri Adinie Esca Nugraha, Febby Fajar Nurul Huda Partriani, Desi Prasetio, Pajar Anugrah Putri, Sherly Fajariani Rahayuni, Arinthina Rahmawati, Vera Asti Randika Rachman, Randika Redyastuti, Enggar Retno Pangastuti Ria Ambarwati Rifandi, Achmad Rosyida, Rufaida Rozanah, Fatharani Rr Vita Nur Latif Rusmilawaty Rusmilawaty, Rusmilawaty Ryani Yulian Santoso, Shenny Dianathasari Santoso, Shenny Dianathasari Santun Bhekti Rahimah Setyo Prihatin, Setyo Simamora, Y Sogar Sobir Sobir Somantri, Elin B Sri Noor Mintarsih, Sri Noor Sri Nugroho Jati, Sri Nugroho Sri Sulistyowati Sudarman Sudarman Suhardjo Suhardjo Sujayadi, Sujayadi Sukarno Sukarno Sularmi Sularmi Supadi, J Sutrisno sutrisno Syabani, Muh Wahyu Tri Retnaningsih Suprobowati Tri Tunggal, Tri Tursina, Alya Wahyunindyawati, Wahyunindyawati Wijadi, R.D. Wiwik Wijaningsih, Wiwik Yan Pieter Theo Yuktiana Kharisma Zahroh Shaluhiyah Zaidun, Muchammad Zakiah Zakiah Zulfannisa, Nurul Hasna