Hadi Sabari Yunus
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

INTERRELASI FAKTOR FISIK, NON FISIK DAN PERILAKU PETANI DALAM MANAJEMEN SUMBER DAYA PERTANIAN DI MUNA BARAT Widayati, Weka; Kasto, Kasto; Yunus, Hadi Sabari; Hardyastuti, Suhatmini
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interrelasi antara faktor fisik, non fisik dan perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian, dan menemukan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian di Muna Barat. Metoda penelitian menggunakan rancangan kausal-komparatif. Wilayah penelitian terbagi atas dua dimensi ekologikal, yaitu: wilayah antara rata-rata surut terendah-arbitrer garis pasang surut (wilayah I) dan wilayah antara arbitrer dari garis pasang surut-batas daratan (wilayah II). Populasi penelitian adalah petani yang berusahatani tanaman pangan dengan pengambilan sampel bertahap. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara terstruktur, dan wawancara mendalam. Kerangka pokok analisis menggunakan pendekatan ekologi. Data dianalisis dengan Environment theme of analysis & regresi berganda program SPSS window ver.17. Hasil penelitian adalah: (l) interrelasi antara faktor fisik dan non fisik di wilayah II lebih kuat daripada di wilayah I, (2) frekuensi akses informasi pertanian memiliki kontribusi terbesar dan positif (+) terhadap perilaku petani dalam manajemen sumber daya pertanian tanaman pangan di wilayah I dan II.
NILAI EKONOMI TOTAL KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SLEMAN Harini, Rika; Yunus, Hadi Sabari; Kasto, Kasto; Hartono, Slamet
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Konversi lahan pertanian untuk  penggunaan non pertanian  merupakan suatu  fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Penilaian secara ekonomi maupun lingkungan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan secara finansial maupun kelingkungan dari kegiatan  pertanian. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sleman  melalui metode survai dengan 90  responden  sebagai sampel penelitian. Wilayah kajian didasarkan pada tingkat konversi lahan pertanian selama  kurun waktu 17 tahun. Melalui Citra Landsat TM 1992, 2000 dan Citra Alos 2009  dapat diketahui luas konversi lahan pertanian  di semua wilayah di Kabupaten Sleman. Analisis data  dilakukan secara  deskriptif  kualitatif maupun kuantitatif dengan  uji statistik melalui model uji Seemingly Unrelated Regression (SUR) dan juga model Total Economic Value (TEV). Hasil kajian menunjukkan bahwa terjadi variasi tingkat konversi lahan pertanian  di wilayah Kabupaten Sleman. Hasil perhitungan  dengan metode TEV menunjukkan bahwa pada wilayah zone 1 nilai ekonomi usahatani lahan  sawah lebih rendah dibandingkan dengan wilayah zone 2, sedangkan pada zone 3 nilai ekonomi dari usahatani lahan sawah paling tinggi. Tingkat pencemaran akibat adanya konversi lahan pertanian berdampak pada hasil kegiatan usahatani lahan sawah. Pencemaran yang dianggap paling tinggi oleh petani untuk saat ini adalah pencemaran air, sedangkan untuk pencemaran tanah dan udara belum dirasakan. Konversi lahan juga berdampak terhadap  produksi hasil komoditi lahan sawah. Meskipun hasil produksi komoditas pertanian juga dipengaruhi oleh luas lahan sawah, konversi, teknologi dan produktivitas pada setiap zone wilayah kajian.
THE SPATIAL PATTERN OF URBANIZATION AND SMALL CITIES DEVELOPMENT IN CENTRAL JAVA: A CASE STUDY OF SEMARANG-YOGYAKARTA-SURAKARTA REGION Setyono, Jawoto Sih; Yunus, Hadi Sabari; Giyarsih, Sri Rum
Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 3, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/geoplanning.3.1.53-66

Abstract

The special form of urbanization in Indonesia has led to a variety of themes on the urban development studies in Indonesia. Since 1990s, there has been an emphasis on the development of mega-urban regions, particularly those surrounding Jakarta as the biggest and the prime city in Indonesia. This research is aimed at elaborating the previous knowledge on the urbanization pattern in Indonesia, and Java in particular. More specifically, this study examines urban development trend in Central Java. The analysis of urbanization in this study can be classified into two categories, i.e. analysis of the urbanization level and analysis of the urbanization growth. These two analyses are combined by applying some GIS methods in order to understand the pattern of urbanization in the region. It is found that the urbanization process in Central Java has transformed the predominantly rural regions in the 1980s into the urban ones. The rapid growth of urban population forms some observable pattern that may be different to the national pattern. There are common spatial patterns, such as the importance of the coastal region and the essential role of the larger urban centers in the urbanization. In this regards, the emergence of the smaller centers has also contributed to the process, especially in bridging a more balanced development between major urban centers and their respective rural hinterland.
Analisis Komparatif Kondisi Sosial Ekonomi Transmigran Jati Bali dengan Transmigran Abenggi di Kabupaten Konawe Selatan Ariono, Ariono; Yunus, Hadi Sabari; Ritohardoyo, Su
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): September 2009
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.495 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13331

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara. Pengambilan sampel lokasi penelitian terdiri dari lokasi transmigrasi Jati Bali Kecamatan Ranometo dan lokasi transmigrasi Abenggi Kecamatan Landuno. Desa Jati Bali ditempati warga transmigran yang berasal dari Bali, sedangkan Desa Ahenggi berasal dari Jawa Barat. Penelitian mi bertujuan untuk (1) mengkaji kondisi sosial ekonomi transmigran Jati Bali dan Abenggi (2) mengkaji faktor-faktor yang berperan terhadap perbedaan kondisi sosial ekonomi transmigran Jati Bali dan Abenggi.Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan dengan pengambilan data secara sampling serta analisis data sekunder. Penentuan sampel dilakukan secara simple random sampling. Jumlah sampel keseluruhan sebanyak 200 sampel, pada setiap desa diwakili 100 rumah tangga transmigran. Analisa dilakukan secara kualitatif dengan tabel frekuensi dan label silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi di lokasi penelitian berbeda. Organisasi kemasyarakatan, integrasi dan kontak sosial berjalan sesuai dengan kondisi budaya masing-masing. Kecenderungan tingkat pendidikan kepala keluarga transmigran Jati Bali dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi (88 persen) lebih haik daripada transmigran Ahenggi (26 persen). Pendapatan rumah tangga transmigran Jati Bali berada kisaran satu sampai dua juta rupiah perbulan 47 persen, transmigran Abenggi (53 persen) hanya berpendapatan dibawah satu juta. Kualitas rumah transmigran Jati Bali 53 persen dalam kategori baik, transmigran Abenggi hanya 13 persennya. Transmigran Jati Bali 70 persen memiliki harta lebih dari empat juta rupiah, transmigran Ahenggi 52 persen hanya memiliki harta kurang dari dua juta rupiah. Transmigran Jati Bali 38 persen mengalami perluasan lahan, Abenggi mengalami pengurangan lahan menjadi kurang dari satu hektar (31 persen). Transmigran Jati Bali (81 persen) bermata pencaharian di sektor perdagangan dan jasa, transmigran Abenggi 59 persen bermata pencaharian di sektor pertanian. ABSTRACT This study took place within the WakatobiRegency Southeast Sulawesi Province. Sampling locations consisted of transmigration sites in Bali Jati Subdistrict Ranometo and transmigration sites Abenggi Landuno District. Bali Jati village occupied by citizens of transmigrants from Bali, while the Village Ahenggi come from West Java. This research aims to (1) examine the socio-economic conditions and Abenggi Balinese transmigrants Teak (2) examine the factors that contribute to differences in socio-economic conditions and Abenggi Bali Teak transmigrants. The research method used was a field survey with a sampling of data retrieval and analysis of secondary data. Determination of the samples was done by simple random sampling. The number of total samples of 200 samples, at each village represented 100 households. Conducted a qualitative analysis with cross-frequency table and labels. Results showed that socio-economic conditions in different research sites. Social organization, integration and social contacts run in accordance with their respective culture conditions. The tendency of the education level of household heads Teak Balinese transmigrants with middle and high education level (88 percent) more than transmigrants Ahenggi Haik (26 percent). Revenue from Jati Bali households in the range of one to two million rupiah per month 47 per cent, transmigrants Abenggi (53 percent) income just under one million. Quality Teak Balinese transmigrants house 53 per cent in either category, only 13 percent of transmigrants Abenggi. Teak Balinese transmigrants 70 percent have more wealth than four million, 52 percent of transmigrants Ahenggi only own property less than two million dollars. Teak Balinese transmigrants 38 percent major land expansion, land Abenggi decrease to less than one hectare (31 percent). Transmigrants Jati Bali (81 percent) livelihood in trade and services sector, 59 percent of transmigrants Abenggi livelihood in the agricultural sector. 
Kajian Kualitas Lingkungan Permukiman di Daerah Pinggiran Kota Kasus di Desa Ngestiharjo, Yogyakarta Ekartaji, Prittaningtyas; Yunus, Hadi Sabari; Rahardjo, Noorhadi
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2346.073 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13069

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji kualitas lingkungan permukiman di daerah pinggiran kota khususnya di Desa Nges-tiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji sebaran kualitas lingkungan permukiman di Desa Ngestiharjo, (2) mengkaji kondisi sosial ekonomi penduduk di Desa Ngestiharjo, (3) mengkaji hubungan partisipasi penduduk dengan kualitas lingkungan permukiman, dan (4) mengkaji faktor sosial ekonomi, biotik dan abiotik yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan permukiman di Desa Ngestiharjo.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini metode penelitian terkait dengan eksistensi populasi adalah metode penelitian sampling, terkait dengan karakteristik obyek penelitian adalah metode survei deskriptif kualitatif, dan terkait dengan cara analisis adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik proporsional random sampling. Responden penelitian ini adalah kepala keluarga yang dipilih acak berdasarkan strata dan propor-sional. Teknik analisis data dengan menggunakan skoring dan pembobotan, uji korelasi Spearman, uji regresi ganda dan analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan tabel silang.Hasil penelitian ini adalah (1) pola sebaran kualitas lingkungan permukiman di Desa Ngestiharjo disebabkan karena adanya perbedaan keteraturan bangunan dan per-bedaan kualitas lingkungan rumah; (2) tingkat pendapatan kepala keluarga mempunyai hubungan yang lemah terha-dap kualitas lingkungan permukiman dengan nilai koefisien korelasi 0,270. Hubungan yang lemah tersebut disebabkan kondisi lingkungan permukiman dan kondisi rumah yang baik tidak seluruhnya merupakan hasil investasi pendapatan si kepala keluarga tetapi merupakan hasil warisan dari orang tua si kepala keluarga; (3) tingkat partisipasi kepala kel-uarga mempunyai hubungan negatif dan lemah terhadap kualitas lingkungan permukiman. Nilai koefisien korelasin-ya adalah sebesar -0,207. Kegiatan pengelolaan lingkungan permukiman di Desa Ngestiharjo tidak memperbaiki fak-tor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan permukiman; (4) faktor sosial-ekonomi, biotik, dan abiotik yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan permukiman di Desa Ngestiharjo adalah keteraturan bangunan (t = 3,637), tahun sukses pendidikan kepala keluarga (t=3,155), tingkat pendapatan ( t = 2,598), dan persentase vegetasi (t = 1,760). ABSTRACT This research was conducted to study the quality of settlement environment in urban periphery with Desa Ngesti-harjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul as locus of study. The objectives of this research were (1) to analyze the dis-tribution of environmental quality of the settlements in Desa Ngestiharjo; (2) to analyze the socioeconomic condition of the residents of Desa Ngestiharjo; (3) to analyze the relation between the community participation and environmental quality of the settlements and (4) to analyze the socioeconomic, abiotic, and biotic factors contributing to the enviromental quality of the settlements in Desa Ngestiharjo.The method used in this research that : (1) associates with population is sampling method; (2) associates with objects characteristic is qualitative descriptive survei, and (3) associates with data analysis is the quantitative and qualitative method. Proporsional random sampling employed in this research. The respondents were heads of the household which were stratified and proportionally selected. The data were then analyzed using scoring and weighting, Spearman correlation, multiple liniear regression,and qualitative decriptive analysis using crosstab methods.The results of this research were (1) The distribution of the environmental quality of the settlements was found as result of the differences in building regularity and housing environmental quality; (2) The heads of household had a weak correlation with the quality of settlements, as indicated by the correlation coefficient of 0,270. The weak correlation stemmed from the fact that the good environmental quality of the settlement and the housing were not complete results of the income of the head of households, but was inherited from the predecessors; (3) The heads of household particiption was found to be negatively affected the enviromental quality of the settlements, indicated by the coefficient correlation of -0,207. The management of settlements environment did not improve the factors contributing to the environment quality of settlements; (4) Socioeconomic, abiotic, and biotic factors contributing to environment quality were housing regularity (t = 3,637, educational level of the heads of the households indicated by the years spent in educational institutions (t=3,155), level of income (t = 2,598), and percenta-tion of vegetation coverage (t=1,760).
Perubahan Daya Dukung Lingkungan di Wilayah Pinggiran Kota (Kasus : Kecamatan Kecamatan yang Berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Tahun 1990–2008) Handoyo, Joni Purwo; Yunus, Hadi Sabari; Sujali, Sujali
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6724.597 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13065

Abstract

ABSTRAK Salah satu dampak perkembangan wilayah pinggiran kota adalah terjadinya perubahan daya dukung lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran, persebaran dan pola sebaran perubahan daya dukung lingkungan serta mengkaji keterkaitannya dengan perubahan tipology wilayah pinggiran kota. Penelitian ini dilakukan di 29 desa yang berada di 6 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dengan unit analisis desa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kasus dengan karakteristik obyek penelitian yang bersifat survey analisis dan historis dengan penekanan pada pendekatan kronologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun paling pesat terjadi di Desa Tirtonirmolo dan Desa Ngestiharjo (>20%). Status daya dukung lingkungan di wilayah penelitian sebagian besar masih termasuk dalam katagori sustain. Laju penurunan paling cepat terjadi di Desa Maguwoharjo dan Desa Singosaren. Fenomena ini dipengaruhi oleh faktor peningkatan lahan terbangun yang sekaligus juga menjadi faktor pengaruh paling penting terhadap perubahan tipologi desa-desa pinggiran Kota Yogyakarta. ABSTRACT  The one of regional development impact in urban fringe area is the change of environmental carrying capacity. This research aims to know about magnitude value, desperation and distribution patternsof the change ofenvironmental carrying capacity and also to examining that relation with the change of urban fringe regional topology. This research is conducted in 29 villages in 6 sub-districts that are directly adjacent to Yogyakarta city with the unit of analysis is village . This research categorized the case research with the characteristic of research object is analytical survey and historical method with the intens is chronological approach. The research shows that the most rapid built up land use development is in Tirtonirmolo and Ngestiharjo village (>20%). This research discovers that the status of most of environmental carrying capacity in this research area are in sustain category. The fastest deceasing magnitude rate of the environmental carrying capacity value occurs in Maguwoharjo and Singosaren village. This phenomena are influent by increasing of built up land use and also the most important factor towards change of rural.fringe typology of Yogyakarta City.
Evaluasi Penataan Kawasan Permukiman Kumuh (Studi Kasus: Program Peremajaan Kawasan Tegalpanggung di Kota Yogyakarta) Yulianti, Bani Putri; Baiquni, M.; Ritohardoyo, Su; Yunus, Hadi Sabari; Setiawan, Bakti
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4287.437 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13088

Abstract

ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk pada wilayah Kota Yogyakarta menimbulkan semakin banyak permasalahan permukiman yang ditimbulkan. Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan permukiman yang ada di Kelurahan Tegalpanggung Kota Yogyakarta. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut maka pemerintah Kota Yogyakarta menata dan meremajakan kembali prasarana lingkungan kawasan yang berada di bantaran sungai Code termasuk di permukiman kumuh Tegalpanggung yang sudah terbentuk secara organis dalam waktu yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa kondisi lingkungan sebelum dan pasca penataan kawasan di daerah Tegalpanggung dan menganalisa keberhasilan terhadap program penataan kawasan Tegalpanggung menurut persepsi masyarakat setempat. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survey dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) kepada 40 responden. Penentuan sampel digunakan metode penelitian sampling (sampling method), dengan jenis teknik sampling yang digunakan adalah pengambilan sampel secara acak (random sampling). Dalam melakukan analisis terhadap dampak relokasi digunakan metode before after comparation, untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Hasil data selanjutnya dilakukan pengolahan secara metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dengan analisis tersebut maka dapat diketahui tingkat signifikasi perubahan yang terjadi setelah program peremajaan yang dilakukan di Kelurahan Tegalpanggung. Hasil penelitian menunjukkan Kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan program Penataan dan Peremajaan Prasarana Lingkungan Permukiman Tegalpanggung adalah sebesar 56% yang berarti masyarakat menyatakan cukup puas terhadap program ini berarti menunjukkan bahwa program penataan dan peremajaan prasarana lingkungan cukup berhasil dalam memberikan nilai kepuasan terhadap masyarakat. Dari aspek sarana dan prasarana (menurut kriteria kawasan kumuh oleh Departemen PU, 2007) dapat disimpulkan sebagian besar kondisi prasarana lingkungan yang ada termasuk dalam kategori kumuh sedang. ABSTRACT Increasing the number of residents in the city of Yogyakarta, causing more and more problems posed settlements. Slum is one of the problems in existing settlements in the Village Tegalpanggung Yogyakarta. In an effort to overcome these problems, the government of Yogyakarta organize and rejuvenate the environmental infrastructure are areas along the river Code including in slums Tegalpanggung already formed organically in a long time. The aim of this study was to analyze the environmental conditions before and after the arrangement of the region in the area Tegalpanggung and analyze the success of the restructuring program Tegalpanggung region as perceived by local people. Data collection research using survey method using a questionnaire (questionnaire) to 40 respondents. The samples used research methods of sampling (sampling method), the type of sampling technique used is random sampling (random sampling). In an analysis of the impact of the relocation of the method used before after comparation, to determine the changes that occur. Results of further data processing is done by the method of qualitative and quantitative descriptive analysis. With this analysis it can be seen the level of significance of the changes that occur after rejuvenation program conducted in the Village Tegalpanggung. The results showed public satisfaction towards the implementation of the program Structuring and Environmental Infrastructure Upgrades Tegalpanggung Settlement is 56%, which means people stated quite satisfied with this program means indicates that the Setup program and renewal of environmental infrastructure is quite successful in delivering value to the community satisfaction. From the aspect of infrastructure (according to the criteria of slum areas by the Department of Public Works, 2007) can be summed up most of the environmental conditions existing infrastructure included in the category of medium slum. 
Produksi Ruang Kekuasaan di Pulau Jawa Abad ke-16-17 dan Dampaknya pada Pertumbuhan Kota Setiadi, Hafid; Yunus, Hadi Sabari; Purwanto, Bambang
Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2448.922 KB) | DOI: 10.22146/mgi.26103

Abstract

AbstrakStudi ini membahas keterkaitan antara tradisi kekuasaan, produksi ruang, dan pertumbuhan kota. Tujuan utamanya adalah untuk memahami secara mendalam pola dan proses spasial produksi ruang kekuasaan dan implikasinya pada pertumbuhan kota. Lingkup penelitian mencakup situasi geopolitik di Pulau Jawa selama abad ke-16 hingga ke-17 ketika Kesultanan Mataram memegang dominasi kekuasaan berlandaskan tradisi sawah. Metode analisis yang diterapkan mengacu pada pemikiran hermeneutika yang mengedepankan metode pembacaan teks. Data penelitian berasal dari sumber-sumber sekunder terutama berupa hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam bentuk artikel, buku, peta maupun makalah seminar.  Hasil analisis memperlihatkan bahwa selama rentang waktu tersebut pola dan proses spasial produksi ruang kekuasaan didominasi oleh netralisasi dan pembentukan wilayah pinggiran sebagai konsekuensi dari absolutisme kekuasaan raja.  Modus produksi ini menyebabkan terjadinya likuidasi politik terhadap kota-kota tertentu yang ditandai oleh perubahan identitas kota, terutama di wilayah pesisir. Abstract This study discusses the relations between the tradition of power, the production of space, and city growth. This study primarily aimed to comprehend the spatial pattern and process of the production of authority space and its implications for city growth. It covers the geopolitical situation in Java during the 16th and 17th centuries when the Mataram Sultanate ran a dominant power based on ricefield tradition. The analysis method applied in this study referred to hermeneutical thinking, which foregrounds a text reading method. The research data was obtained from secondary resources, especially published research in the forms of articles, books, maps, and seminar papers. The analysis results showed that the spatial pattern and process of authority space production within these centuries were dominated by neutralization and the formation of peripheries, i.e., the consequence of the king’s absolute power. This production mode resulted in the political liquidation of certain cities and, thereby, changed the identity of the said cities, especially those located in coastal areas.   
Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Anorganik di Kecamatan Abepura Kota Jayapura Abrauw, Albert; Yunus, Hadi Sabari; Giyarsih, Sri Rum
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.836 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13356

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Abepura Kota Jayapura Provinsi Papua. Pengelolaan sampah anorganik yang dilakukan di wilayah ini digali melalui kajian perilaku masyarakat. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk 1) mengkaji karakteristik sosial-ekonomi masyarakat di daerah penelitian; 2) mengakaji perilaku masyarakat Kecamatan Abepura dalam pengelolaan sampah anorganik; 3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat guna mewujudkan Kota Jayapura yang BERIMAN.  Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat yang meliputi pendidikan formal  responden 90% sangat tinggi (SLTA-Sarjana), 62,7% profesi responden (PNS/wiraswata), jumlah anggota keluarga (4-5 orang) cukup besar. Pendapatan responden (3.000.000-4.000.000) cukup besar, jumlah penduduk non Papua cukup tinggi 60%. Perilaku dominan masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukan dominan sedang (95%). Perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah anorganik menunjukkan gejala apatisme terhadap lingkungan dan ikut menunjang program pemerintah menjadikan Kota Jayapura yang BERIMAN. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sedang dalam pengelolaan sampah anorganik secara signifikan terpengaruh kuat adalah pengetahuan terhadap perilaku masyarakat karena kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat terkait UU No 18 Tahun 2008 dan PERDA Jayapura Kota BERIMAN dan pengelolaan sampah, serta faktor lingkungan budaya (suku bangsa/adat istiadat) masyarakat yang meliputi adanya kurang kepedulian terhadap kondisi lingkungan Kota Jayapura baik dari suku asli Papua dan non Papua dalam perilaku pengelolaan sampah anorganik. Sedangkan jumlah anggota keluarga, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan menunjukkan arah hubungan negatif dengan sifat korelasi lemah terhadap perilaku pengelolaan sampah anorganik.     ABSTRACT This research was conducted in AbepuraSubdistrict, Jayapura City, Papua Province. The inorganic waste management in this area is explored through studying people’s behavior. The research objectives are to: 1) study the social-economic characteristics of the community in the research area; 2) study the public behavior of AbepuraSubdistrict in the inorganic waste management; 3) find out the factors that affect public behavior to actualize the BERIMANprogram in Jayapura City. Research result shows that the social-economic characteristics of people in the area, including the education level, 90% of the respondents have education level of High School and Undergraduate study, 62,7% of respondent are Civil worker or entrepreneur, large number of family member (4-5 person).Respondent’s income of 3.000.000-4.000.000 is high enough, value 60% of non-Papua residents in the area. The dominant behavior of public in an inorganic waste management shows a medium dominant level of 95%. Public behavior in an inorganic waste management shows a phenomenon of apathy towards environment and also supports the Jayapuragovernment program to actualize a BERIMAN city. Significant factors affecting the medium level behavior in an inorganic waste management are the knowledge of public behavior because the lack of government socialization to the public concerning the UU No 18 Tahun 2008and PERDA Jayapura Kota BERIMANand waste management, there is also socio-cultural environment factor (ethnic/customs) which involves the lack of concern towards Jayapura City environmental condition, either from the Native Papua and non-Papua ethnic in the behavior of inorganic waste management.While the amount of family members, type of work, education level, and income shows a negative relation with a weak correlation towards the behavior of inorganic waste management. 
Strategi Penghidupan Rumah Tangga di Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman Pasca Gempa Bumi Tahun 2009 Rukayah, Siti; Yunus, Hadi Sabari; Listyaningsih, Umi
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3006.299 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13078

Abstract

ABSTRAK Penelitian strategi penghidupan rumah tangga Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat ini dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Patamuan pasca terjadinya gempa bumi. Gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa serta kehancuran lingkungan fisik, termasuk rumah dan fasilitas umum yang berdampak pada kerugian sosial dan ekonomi yang menyebabkan masyarakat perlu mengatur strategi penghidupan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kerentanan rumah tangga pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 serta menganalisis strategi penghidupan rumah tangga di Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009. Metode penelitian yang digunakan untuk sampling adalah survey dan untuk analisisnya menggunakan metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan rumah tangga terbesar disebabkan oleh pendapatan rendah sebanyak 61 rumah tangga (40,67%), kerusakan rumah sebanyak 32 rumah tangga (21,33%), pendapatan berkurang sebanyak 17 rumah tangga (11,33%), anggota rumah tangga meninggal sebanyak 4 rumah tangga (2,67%), kehilangan pekerjaan sebanyak 3 rumah tangga (2,00%), kegagalan panen dan kegagalan usaha masing-masing sebanyak 25 orang (16,67%) dan 8 orang (5,33%). Strategi bertahan hidup yang umumnya dilakukan rumah tangga di antaranya strategi survival dengan cara membeli beras berkualitas rendah sebanyak 50 rumah tangga (33,33%), membeli padi yang belum ditumbuk menjadi beras sebanyak 14 rumah tangga (9,33%), dan 25 rumah tangga (16,67%) berhutang. Selanjutnya strategi konsolidasi dengan cara menanam sendiri ketela dan sayur-sayuran untuk dikonsumsi sehari-hari sebanyak 29 rumah tangga (19,34%), menanam padi ladang sebanyak 18 rumah tangga (12%), berjualan kecil-kecilan sebanyak 6 rumah tangga (4%), serta strategi akumulasi dengan cara beternak ayam sebanyak 8 rumah tangga (5,33%). ABSTRACT The Research of household livelihood strategies of Patamuan District after West Sumatra earthquake is motivated by changes in socio-economic conditions of the District Patamuan due to the earthquake. West Sumatra earthquake in 2009 caused the loss of life and destruction of the physical environment including homes and public facilities that have an impact on social and economic losses caused people need to adjust livelihood strategies to maintain their live survival. This research aims to get an overview of the vulnerability of the household after the West Sumatra earthquake in 2009 and analyzing household livelihood strategies in Patamuan District of West Sumatra post earthquake in 2009. The research method used in this is to survey sampling using quantitative for analysis. The results of this study indicate that the largest household vulnerability caused by as many as 61 low-income households (40.67%), damage to house a total of 32 households (21.33%), revenues decreased by 17 households (11.33%), household member dies by 4 households (2.67%), loss of employment as much as 3 households (2.00%), crop failure and the failure of their respective businesses as many as 25 people (16.67%) and 8 (5.33%). Livelihood strategy is generally made them household is survival strategy by buying low-quality rice by 50 households (33.33%), buy paddy that has not been ground into rice a total of 14 households (9.33%), and 25 households (16.67 %) in debt. Further consolidation strategy alone by planting cassava and vegetables consumed daily for a total of 29 households (19.34%), plant rice fields a total of 18 households (12%), selling small as 6 households (4%), and accumulation strategies in how to raise chickens as much as 8 households (5.33%).