Articles

ASPEK BIOTEKNIK DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA RAJUNGAN DI PERAIRAN TELUK BANTEN Yusfiandayani, Roza; Sobari, M.P.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 2 No 1 (2011): MEI 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.465 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.2.71-80

Abstract

Indonesia has the potential fishery resources of large marine fish. One of the potential of marine fisheries is small crab (Portunus pelagicus). Small crab is one Crustracea and its existence almost spread all over the waters of Indonesia. This study aimed to: 1) Describe the swimming crab net consists of construction of fishing gear, methods of operation, and productivity of swimming crab net, 2) Determining the influence of resource utilization activities of small crab on the level of biomass, production and sustainable levels in Banten Bay waters. Data collected in this study consisted of primary data and secondary data. Primary data was obtained directly by researchers with direct interviews using a questionnaire to fishermen in Banten Bay. Secondary data obtained from Fishery Port Beach (PPP) and the Marine Fisheries Department in Karangantu. Research using time series data of 2000-2008 are processed using Microsoft Office Excel. Swimming crab net construction consists of corporate nets, rope line, float, float line, lead sinker, sinker line, float marking, float marking line, stone sinker, and stone sinker line. Productivity of swimming crab net in 2008 was 209.37 kg per unit, while in 2010 was 320 kg per unit. Productivity of swimming crab net in 2008 of 10.72 kg per trip and in 2010 of 5.33 kg per trip. Productivity swimming crab net operating costs in 2010 with 0.0000676 kg/rupiah. The number of optimum swimming crab net to operate in Banten Bay waters is 178 units.
PENANGKAPAN IKAN KAKAP (LUTJANUS SP.) DI SEKITAR PULAU TIMOR Sondita, M. Fedi A.; Yusfiandayani, Roza; Ataupah, Esther Afania
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 2 No 2 (2011): NOVEMBER 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.382 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.2.51-60

Abstract

Informasi tentang perikanan tangkap secara menyeluruh masih sangat minim karena terbatas pada statistik perikanan yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah seperti di pulau Timor. Kegiatan penangkapan ikan di Pulau Timor masih menerapkan sistem yang sederhana, terutama jika dilihat dari spesifikasi unit penangkapan ikan yang belum menggunakan peralatan yang rumit dalam pengoperasiannya dan kemampuan nelayan. Secara umum, kegiatan penangkapan ikan tidak hanya ditentukan oleh unit penangkapan ikan saja, akan tetapi sangat dipengaruhi juga oleh faktor alam yang bersifat musiman. Perubahan pada kondisi oseanografi menyebabkan perubahan terhadap kelimpahan ikan di suatu tempat akibat migrasi ikan, tingkah laku ikan dan sebagainya. Hal ini selanjutnya menyebabkan terjadinya perubahan daerah penangkapan ikan karena aktivitas nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi laut dan angin sehingga daerah penangkapan ikan tidak selalu tetap sepanjang tahun. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah: 1). Mengetahui spesifikasi unit penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan kakap di Kabupaten Kupang, 2). Mengetahui daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) di Kabupaten Kupang, dan 3) Menganalisis hasil tangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) dari jenis alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kakap di Kabupaten. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2010. Pengumpulan data lapangan dilakukan selama bulan Februari 2010 dengan mengambil lokasi di Pelabuhan Perikanan Pantai Tenau-Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Data mengenai daerah penangkapan ikan dan unit penangkapan yang diperoleh, diklasifikasi dan dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan tabulasi dan gambar peta, sedangkan uji analisis ragam (ANOVA) klasifikasi satu arah digunakan untuk mengetahui produktivitas bulanan ikan kakap dari alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kakap. Jenis alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan kakap (Lutjanus sp.) di perairan Kabupaten Kupang adalah rawai dasar, pancing ulur, dan bubu. Nelayan penangkap ikan kakap (Lutjanus sp.) yang berpangkalan di PPP Tenau, Kabupaten Kupang umumnya beroperasi di perairan yang berterumbu-karang. Lokasi tersebut adalah kawasan yang tidak jauh dari pangkalan, yaitu kota Kupang (1 mil) dan sekitar Pulau Kera (4 mil), serta kawasan yang cukup dari 52 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 2. No. 1. November 2011: 51-59 pangkalan, yaitu di sekitar Pulau Semau (12 mil), Kecamatan Papela (25 mil), Kecamatan Landu (40 mil) dan Kecamatan Lole (60 mil).Ukuran ikan kakap yang ditangkap oleh rawai dasar lebih besar dari ikan kakap yang tertangkap dengan pancing ulur dan bubu. Hasil tangkapan bulanan ikan kakap terbanyak diperoleh dari operasi rawai dasar, yaitu 57% dari seluruh ikan kakap yang diperoleh selama 14 bulan; pancing ulur dan bubu masing-masing memproduksi ikan kakap sebanyak 37% dan 6%
PRODUKTIVITAS UMPAN TIRUAN DARI KAYU BERLAPIS ALUMUNIUM FOIL PADA PANCING ULUR Caesario, Rachmad; Yusfiandayani, Roza; Diniah, Diniah
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.51 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.125-136

Abstract

Salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesuksesan operasi penangkapan pancing ulur adalah umpan. Nelayan biasanya menggunakan umpan alami, tembang dan kembung, untuk menangkap layur. Namun, ikan tersebut memiliki harga yang cukup tinggi dan ketersediaannya tidak kontinyu. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis komposisi hasil tangkapan pancing ulur, 2) menganalisis sebaran panjang-berat, 3) mengukur produktivitas hasil tangkapan pancing ulur berdasarkan jenis umpan yang digunakan. Penelitian dilakukan dengan metode experimental fishing di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan Desember 2015 ? Januari 2016. Hasil tangkapan yang diperoleh adalah layur sirip kuning (Lepturacanthus savala) sebanyak 1.148 ekor, dengan berat 235,58 kg. Persamaan hubungan panjang ? berat layur (Lepturacanthus savala) adalah y=0.0008x3.0113 yang berarti allometrik positif. Produktivitas pancing ulur menggunakan umpan alami sebesar 5,95 kg/trip, lebih besar dibandingkan produktivitas umpan tiruan sebesar 5.26 kg/trip, namun umpan tiruan dapat digunakan sebagai alternatif substitusi umpan alami untuk menangkap layur ketika umpan alami sedang tidak tersedia atau saat musim paceklik.
RESPONSIBLE FISHERIES MANAGEMENT OF MINI PURSE SEINE IN THE LAMPUNG BAY AREA Tanjov, Yulia Estmirar; Yusfiandayani, Roza; Mustaruddin, .
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 2 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.101 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v8i2.15837

Abstract

Lempasing is a Coastal Fishing Port (CFP) which located in Bandar Lampung. It is one of the centers of fisheries activities in the city. One of the fishing gear which operated by most of fishermen in Lempasing is mini purse seine. Mini purse seine fishing activities in the Lampung Bay Area and Lempasing CFP is not in accordance with the conditions of the surrounding waters area. The research was conducted in the Lampung Bay Area and Lempasing CFP, Lampung. This study aims to: 1) determine the status of fisheries resources utilization, 2) to describe the dominant fish caught by mini purse seine.  Analysis methods were used in this study namely: 1) Fishing Power Index (FPI), Catch Per Unit Effort (CPUE), and Maximum Sustainable Yield (MSY) to determine the status of fisheries resource utilization. The dominant small pelagic fishes caught were scad fish Selaroides sp., mackerel fish Rastrelliger sp., longnose trevally fish Carangoides chrysophrys. The result showed that Fox model was the best fits models with estimated maximum sustainable yield of 15.5 ton and fishing effort of 992 trip/year for mini purse seine. The longnose trevally fish in lampung bay area in do not exceeded the optimal catch fish condition can be used to sustainably. In these condition is necessary to wisely manage and setting the catches to not exceed the allowable catch of the small pelagic fish, so the stock of small pelagic fish in the Lampung Bay Area can be used sustainably.
TOGO PERFOMANCE IN RIVER AND PONDS AT CEMARA LABAT VILLAGE, CENTRAL KALIMANTAN Berlianti, Febrina; Yusfiandayani, Roza; Sondita, M. Fedi A.; Murdiyanto, Bambang
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 2 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.616 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v8i2.15840

Abstract

Togo is a passive gear and classified as a trap and guiding barrier. Togo fishery in Cemara Labat village covers fishing activities in river and ponds. Penaeus indicus fishing in ponds are considered more profitable because catches obtained were greater thanboth in term of abundance and biomass. This study aims to identify fishing unit, compare the productivity and analyze differences in the number and size of catches of togo in river and ponds. The research used case study, survey and interview techniques to collect data on the performance of the fishing gear, productivity, the number and size of catches were analyzed using technical analysis, productivity trip and unpaired comparisson t-test. Results showed fishing unit of togo in river consists of fishing gear and boat, while the components on the fishing unit of togo in ponds consisting of fishing gear, ponds and hut. The t -test showed that it differed in abundance and biomass of shrimp on the different togo (p<0.05). The average size in river was 7879 cm with average catch was 10.60 kg while catches per trip was 31.47 kg trip-1 less than togo in ponds which reached 53.45 kg trip-1 with an average number and size where each 31.47 kg and 10.07 cm.
MODIFICATION AND REENGINEERING OF ELECTRONIC FISH AGGREGATING DEVICE AS A FISHING TOOLS BASED ON LED ILLUMINANCE Baswantara, Arif; Jaya, Indra; Yusfiandayani, Roza
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.981 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v9i1.17933

Abstract

Fish Aggregating Devices (FADs) is generally made from foliage like a leaf of coconut, palm and nut, but with the development of marine and fishing technology, the FADs could be made electronic ally. Electronic FADs had been developed by using light and sound as an attractor, and  was able to aggregate fish but the catch harvest was still relatively low compared with lift net lamp. In this paper we describe the recent development of electronic FADs. The new electronic FADs has 120 watts total power of LEDs as attractor, 12V 12Ah battery as the energy resources, and HDPE as the body of FADs. The lighting of the new is either blue ? red light color (RE1) or red-white light color (RE2). The two kinds of lighting are tested and compared and its light distribution underwater case measured in term of the value of luminous flux. The results showed that new FADs work well in the water with light penetration of RE1 was better than RE2.  Keywords: FADs, instrument, fishing, light
RESPONS RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS) TERHADAP WARNA CAHAYA YANG BERBEDA PADA UJI LABORATORIUM Hasly, Intan Roihatul Jannah; Yusfiandayani, Roza; Mawardi, Wazir
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.215-224

Abstract

Tingkah laku ikan merupakan salah satu pendekatan dasar dalam mengembangkan teknologi penangkapan ikan. Pengetahuan tentang respons tingkah laku menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai akibat dari perlakuan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons rajungan terhadap berbagai warna cahaya dilihat dari proporsi rajungan mendekati cahaya, waktu kedatangan rajungan menuju area lampu dan lama rajungan bertahan di area lampu. Respons rajungan diketahui dari pembagian area yang telah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu starting area, searching area dan finding area. Analisis statistik deskriptif komparatif digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan respons berdasarkan waktu dan jumlah rajungan menuju cahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rajungan memberikan respon untuk menghampiri lampu baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap cahaya. Warna biru, putih dan hijau memberikan respons cepat bagi rajungan untuk datang ke lampu, sementara rajungan bertahan lama dalam cahaya merah, oranye dan ungu. Hasil penelitian ini dapat diterapkan sebagai pertimbangan untuk pengembangan teknologi alat penangkapan rajungan seperti bubu dan jaring insang dasar. Fish behavior is one of the basic approaches in developing fishing technology. Knowledge of responses is a related part of knowing behavior because of the treatment given. This study aims to analyze the response of the blue swimming crab to various colors of light in terms of the proportion of blue swimming crabs that approach light, the time of arrival of the blue swimming crab to the lamp area and the length to survive of blue swimming crab in the area of   the lamp. Crab responses is known from the division of the area that has been divided into three parts, namely the starting area, searching area and finding area. Comparative descriptive statistical analysis is to identify the difference in response based on the time and number of crabs to light. The test results show that the response both directly and indirectly to light. Blue, white and green light color provide the fastest response for crabs to come to the lights, while crabs last long in red, orange light color. The results of this study can be applied as a consideration for the technological development of crab fishing equipment such as traps and bottom gillnet.
CONSTRUCTION AND PRODUCTIVITY OF PORTABLE FISH AGGREGATING DEVICE IN PALABUHANRATU WATERS, WEST JAVA Yusfiandayani, Roza; Jaya, Indra; Baskoro, Mulyono S
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3930.426 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.5.117-127

Abstract

Rumpon yang biasa digunakan oleh nelayan dan pengusaha di seluruh Indonesia adalah rumpon yang dipasang menetap di suatu perairan, sehingga tidak dapat dipindah-pindah ke perairan lain. Sejauh ini di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian tentang efektivitas dan efisiensi rumpon yang dapat dibawa kemana-mana dan mudah dipindahkan (portable) untuk menangkap ikan tuna dan cakalang. Penelitian ini dibagi dalam 2 tahap : pembuatan desain instrumen rumpon portable, uji coba rumpon portable dan Electric Fish Attractor (EFA) di perairan Palabuhanratu dengan menggunakan pancing gajrut dan tonda. Tujuan dari penelitian ini adalah: merancang dan membuat prototipe desain dan konstruksi rumpon portable yang dapat mengumpulkan ikan, uji coba electric fish attractor dengan frekuensi suara yang berbeda, serta membandingkan efektivitas hasil tangkapan dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda dan pancing gajrut. Hasil penelitian ini adalah prototipe rumpon portable memiliki ukuran panjang dan lebar sebesar 1 meter, bahan yang digunakan kayu manglid, atraktor yang digunakan tali rafia, tali atraktor dan tali pemberat adalah tali PE berdiameter 4 mm serta pemberat timah, EFA dengan frekuensi 10-1000 Hz mendapatkan ikan kuwe (Caranx fasciatus) dan ikan layur hitam (Trichiurus sp.), sedangkan EFA dengan frekuensi 1000-20.000 Hz mendapatkan ikan tuna sirip kuning, Thunnus albacares sebanyak 2 ekor dengan ukuran panjang 30 cm dengan berat 40 kg, Hasil tangkapan dengan pancing gajrut memiliki komposisi hasil tangkapan ikan Trichiurus sp. 63%, Nemiptarus sp. 10%, Caesio cuning 7%, Euthynnus spp. and semar 4%, Lutjanus spp. and Thunnus albacares 2% sedangkan dengan pancing tonda komposisinya ikan kembung, ekor kuning, selar kuning dan selar hijau masing-masing 1%.
STATUS TEKNOLOGI PENANGKAPAN TOGO DI SUNGAI DAN TAMBAK DALAM PERSPEKTIF PERIKANAN BERTANGGUNG JAWAB DI DESA CEMARA LABAT Berlianti, Febrina; Yusfiandayani, Roza; Sondita, M Fedi; Murdiyanto, Bambang
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3615.559 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.85-98

Abstract

Kegiatan perikanan togo di Desa Cemara Labat terdiri dari penangkapan di sungai dan tambak. Penilaian status teknologi penangkapan ikan merupakan salah upaya untuk mendukung pengelolaan perikanan togo yang lebih baik. Penilaian tentang tingkat tanggung jawab dua jenis togo dilakukan dengan menerapkan multi criteria analysis yang menggunakan 13 kriteria unit penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan menentukan status teknologi penangkapan togo dan menentukan strategi perbaikan perikanan tangkap di Desa Cemara Labat. Berdasarkan status teknologi penangkapan ikan, kedua jenis togo tergolong baik dengan memiliki skor yang sama yaitu 33 dengan masing-masing satu indikator bernilai buruk (skor 1) dan empat indikator bernilai cukup baik (skor 2). Kedua togo tergolong buruk (skor 1) pada indikator menjamin survival dari ikan dan biota perairan yang dikembalikan di sungai (X10) dan cukup baik (skor 2) pada indikator kompetensi nelayan (X1). Indikator yang berstatus cukup baik (skor 2) lainnya pada unit penangkapan togo yang dioperasikan di sungai yaitu keselamatan di sungai (X2), kepatuhan terhadap peraturan (X3) dan konsumsi bahan bakar kapal (X4), sedangkan untuk togo yang dioperasikan di tambak yaitu indikator proporsi hasil tangkapan yang dimanfaatkan(X9), potensi terjadi kerusakan lingkungan perairan dan habitat (X12) dan kejadian atau potensi konflik (X13). Strategi perbaikan perikanan tangkap antara lain melalui penekanan pada karakteristik dan perilaku sosial ekonomi nelayan melalui sosialisasi dan pengembangan silvofishery pada perikanan tangkap togo di tambak.
KERAGAAN TEKNIS DAN ASPEK BIOLOGI PENANGKAPAN MADIDIHANG MENGGUNAKAN RUMPON DI PERAIRAN KAUR, BENGKULU Muqsit, Ali; Yusfiandayani, Roza; Baskoro, Mulyono S
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12739.377 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.55-66

Abstract

Pengembangan suatu perikanan tangkap di suatu daerah terdiri dari berbagai aspek, salah satunya dilihat dari aspek biologi. Adanya aspek biologi memiliki arti penting sebagai upaya untuk pengembangan perikanan suatu daerah. Dalam penelitian ini aspek biologi berguna untuk mengetahui komposisi isi lambung ikan tuna sirip kuning  yang didaratkan di Pasar Lama. Sebanyak 30 ekor sampel lambung ikan tuna sirip kuning yang diambil pada bulan September 2015 ? Januari 2016 dari pengepul tuna di pasar lama untuk selanjutnya dilakukan pengukuran panjang total, berat tubuh, analisis hubungan panjang berat, serta analisis isi lambung dengan metode frekuensi kejadian, metode volumetrik, dan index prepoderance. Data yang telah dihitung antara hubungan panjang total ikan dengan berat tubuh semua ikan tuna sirip kuning bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 4,227. Hasil yang didapatkan dari dari semua perhitungan indeks preponderance organisme cumi-cumi sebesar 81,77%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan, cumi-cumi merupakan makanan utama bagi ikan tuna sirip kuning di wilayah Pasar Lama Kaur dan berdasarkan hubungan panjang berat didapatkan hasil bersifat allometrik positif dimana pertumbuhan bobot ikan tuna sirip kuning lebih cepat dibanding pertumbuhan panjang.
Co-Authors -, Jaliadi . Heriyanto . Mustaruddin Ahmad, Supriono Alan F Koropitan Ali Muqsit, Ali Am Azbas Taurusman Amelia, Desi Rezki Apriliani, Izza Mahdiana Apriliani, Izza Mahdiana Ari Purbayanto Arif Baswantara, Arif Asadatun Abdullah Bambang Murdiyanto Bambang Riyanto Baruadi, Alfi Sahri R. Benny Jeujanan, Benny Berlianti, Febrina Budy Wiryawan Caesario, Rachmad Daniel Monintja Diniah, Diniah Domu Simbolon Edy Miswar, Edy Eko Sri Wiyono Endratno Endratno Erna Almohdar Esther Afania Ataupah Fitriyana, Mas Fariz Fitriyana, Mas Fariz Ganang Dwi Prasetyo Gondo Puspito Hasly, Intan Roihatul jannah Hizbullah, Hanifah Husein Indra Jaya Irwan Limbong John Haluan Kholilullah, Ibrahim M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita Ma'mun, Asep Mahiswara, Mahiswara Mala Nurilmala Matutina, Vicentius Marco Mohamad Rafi Mohammad Imron Muhammad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Ihsan Muhammad Sulaiman Mulyono Baskoro, Mulyono Mulyono S Baskoro Mulyono S. Baskoro Mulyono Sumitro Baskoro, Mulyono Sumitro Mustaruddin Mustaruddin Nabiu, Nur Lina M Nur Lina Maratana Nabiu Nurdin, Erfind Nurdin, Erfind Nurjanah Prayitno, Muhamad RE Rama Agus Mulyadi Riyanto, Mochammad Ronny Irawan Wahju Sala, Ridwan Sari, Wahida Kartika Satriawan, Septian Eka Selvika, Zerli Shadiqin, Imam Shidiq, Fahmi Sobari, M.P. Sondita, M Fedi Sondita, Muhamad Fedi Alfandi Sondita, Muhamad Fedi Alfiadi Sudrajat, Danu Sugeng Hari Wisudo Sulaeman Martasuganda Sururi, Misbah Syari, Indra Ambalika Tanjaya, Erwin Tanjov, Yulia Estmirar Taurusman, Am Azbaz Tawaqal, Muhammad Irsyad Tri Wiji Nurani Wahyuningrum, P. Ika Wazir Mawardi Yuningsih, Sutia Zulkarnain ZULKARNAIN ZULKARNAIN