Saeful Yusuf
Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir, BATAN Kawasan Puspiptek, Serpong 15314, Tangerang Selatan

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS UNSUR TOKSIK DAN MAKRO-MIKRO NUTRIEN DALAM BAHAN MAKANAN DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON Mulyaningsih, Rina; Istanto, Istanto; Yusuf, Saeful; Suprapti, Siti
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 13 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.457 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2010.13.1.46

Abstract

ANALISIS UNSUR TOKSIK DAN MAKRO-MIKRO NUTRIEN DALAM BAHAN MAKANAN DENGAN METODEANALISIS AKTIVASI NEUTRON. Telah dilakukan penentuan kadar unsur toksik dan makro-mikro nutrien dalambahan makanan dengan menggunakan metode analisis aktivasi neutron (AAN). Jenis cuplikan bahan makanan yangditeliti meliputi sayuran, kacang-kacangan, bumbu dan rempah, tepung, daging dan ikan. Cuplikan dikumpulkan daripasar Serpong. Hasil analisis menunjukkan bahwa cuplikan bahan makanan mengandung makro nutrien dengankadar > 1000 mg/kg, seperti : K, Ca, Mg, Na dan Cl, mikronutrien dengan kadar antara 10 hingga < 1000 mg/kg: Fe,Mn, Zn, Se, Br, Rb, dan La, dan unsur toksik Co, Sb, Hg, As dan Cr dengan kadar kurang dari 5 mg/kg. KonsentrasiAs dalam ikan, beras dan Hg dalam cabai merah dan ikan telah melebihi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.Konsentrasi Zn dalam beberapa cuplikan, telah melebihi nilai baku mutu. Batasan nilai ini perlu dipertimbangkan,mengingat rata-rata asupan harian Zn masih di bawah nilai yang direkomendasikan yaitu 15 mg/hari. Kekuranganunsur ini dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme tubuh. Kadar Al dalam bahan makanan cukup tinggiantara 10 ? 500 mg/kg, logam Al termasuk logam ringan yang bersifat toksik, sehingga keberadaannya perlumendapat perhatian. Evaluasi unsur-unsur dibandingkan terhadap nilai kecukupan kebutuhan harian RDA(Recommended Daily Acceptable). Dalam studi ini dijelaskan juga efek apabila kekurangan atau kelebihan asupanunsur tersebut bagi kesehatan.Kata kunci : makro-mikro nutrien, unsur toksik, bahan makanan, aktivasi neutron
DETERMINATION OF MINERALS CONTENT IN LEAVES OF MORINGA OLEIFERA BY NEUTRON ACTIVATION ANALYSIS Mulyaningsih, Theresia Rina; Yusuf, Saeful
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 21 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.527 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2018.21.1.3683

Abstract

DETERMINATION  OF  MINERALS  CONTENT  IN  LEAVES  OF  MORINGA  OLEIFERA  BY  NEUTRON ACTIVATION ANALYSIS. Moringa oleifera ( Mo) or kelor is a high-value plant,  distributed in many tropical and subtropical countries. This plant can be used as a vegetable,  cosmetic oil, and medicinal plant. The leaves of Mo is rich in essential minerals needed by the body?s health. Moringa oleifera widely cultivated in various places  in  Indonesia,  easily  obtained  and  inexpensive  so  precious  can  be  used  to  overcome  malnutrition. Research on the macro-micro mineral content in Moringa leaves here is still limited. Mineral composition in leaves include  Mo  leaves varies depending on location grow. The purpose of this research is to determine the mineral content in the  leaves of  the Mo  taken from Indonesia. For the preliminary study samples was taken from Central Java to be compared with the results of studies conducted in several other countries. Leaf samples were collected randomly from sampling area. Mineral content in the samples is determined using  Neutron  Activation  Analysis (NAA). Irradiation was carried out at rabbit system of Multipurpose Reactor G.A Siwabessy on neutron flux ~1013 n.cm-2.dt-1. The results obtained  indicate that Mo is rich in  essential minerals, mainly  Ca, Mg, K, Zn, Fe and Cl. Content in dried leaves include: calcium (3.45 % ), magnesium (0.66 %), potassium (3.35 %), chloride (0,25%), iron (147.20 mg/kg), sodium ( 152.52 mg/kg ), zinc (35.71 mg/kg), and manganese (102.10 mg/kg). Mo also contains other minerals such as chromium (4.76 mg/kg), bromine (4.82 mg/kg), cobalt (0.16 mg/kg), and aluminium (150.40 mg/kg) in addition to other element. Compared with the results of existing studies, it shows that mineral composition in Mo leaves varies depending on the location where the plant is grown.
QUANTIFICATION OF ALUMINUM CONTENTS IN COOKED FOODSTUFFS FROM THREE REGIONS IN JAVA USING NEUTRON ACTIVATION ANALYSIS As'ari, Ahmad Hasan; Yusuf, Saeful; Alfian, Alfian
JURNAL TEKNOLOGI REAKTOR NUKLIR TRI DASA MEGA Vol 22, No 1 (2020): February 2020
Publisher : Pusat Teknologi Dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2278.928 KB) | DOI: 10.17146/tdm.2020.22.1.5817

Abstract

Aluminum is widely available in nature and the third most abundant element on earth. Improper intake of aluminum can increase toxicity and correlate with Alzheimer's disease. One source of aluminum comes from food. In this study, aluminum content in foodstuffs was analyzed using neutron activation analysis. Various foodstuffs were purchased from markets in three regions in Java, namely Bangkalan (East Java), Magelang (Central Java), and Cianjur (West Java) and cooked at a temperature above 80°C until the ready-to-eat condition. The cooked samples were freeze-dried and irradiated in the G.A. Siwabessy research reactor with neutron flux of 5x1013 neutrons.m2.s-1. Post-irradiation samples were analyzed using gamma spectrometry. The results show that the aluminum contents in each foodstuff from one region have a strong correlation with other regions (Pearson correlation coefficient r>0.9, P<0.001), indicating that the distribution of aluminum content does not differ from one region to another. The staple food category has a relatively low aluminum content with an average value of 24 mg/kg and a maximum value of 35 mg/kg. The dish category has higher aluminum content with an average value of 51 mg/kg and a maximum value of 77 mg/kg. The vegetable category has the highest content with an average value of 156 mg/kg and a maximum value of 710 mg/kg owned by caisim. Caisim is interesting for further research because of its ability to store large amounts of several elements. In general, the intake of aluminum sourced from these foods is still below the allowed value.Keywords: Neutron activation analysis, Food safety and security, Alzheimer, Aluminum distribution, Pearson correlation
SINTESIS DAN PENGUKURAN KONDUKTIVITAS LISTRIK KONDUKTOR SUPERIONIK GELAS (AGI)X(AG2O-B2O3)1-X Yusuf, Saeful
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 3: JUNI 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2549.9 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2007.8.3.4766

Abstract

SINTESIS DAN PENGUKURAN KONDUKTIVITAS LISTRIK KONDUKTOR SUPERIONIK GELAS (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x. Telah disintesis konduktor superionik berbasis gelas (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x dengan x bervariasi yaitu 0,3, 0,4, 0,5, 0,6, 0,7 dan 0,8 menggunakan teknik quenching dengan pendingin nitrogen cair. Sifat termal (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x yang terbentuk diamati dengan menggunakan Differential Thermal Analysis (DTA), sedangkan fasa kristal dan amorf diamati dengan teknik difraksi sinar-x (XRD). Konduktivitas ionik dari (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x diamati dengan cara mengukur hambatan listrik menggunakan metode-ac yang menerapkan prinsip jembatan wheatstone pada suhu yang bervariasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa suhu transisi gelas, suhu kristalisasi dan suhu lebur (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x menurun dengan bertambahnya kandungan AgI. Hasil pengukuran sifat termal dan XRD tidak menunjukkan adanya transisi fasa ? AgI menjadi fasa ? AgI pada bahan (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x. Konduktivitas ioniknya ? 10-4 S/cm pada suhu kamar atau sekitar seribu kali lebih tinggi dibandingkan AgI murni. Konduktivitas juga bertambah dengan naiknya suhu. Bahan (AgI)0,5Ag2O-B2O3)0,5 memiliki konduktivitas paling tinggi dibandingkan konduktivitas (AgI)x(Ag2O-B2O3)1-x pada komposisi lain.
APLIKASI TEKNIK AAN DI REAKTOR RSG-GAS PADA PENENTUAN UNSUR ESENSIAL DAN TOKSIK DI DALAM IKAN DAN PAKAN IKAN Yusuf, Saeful
JURNAL TEKNOLOGI REAKTOR NUKLIR TRI DASA MEGA Vol 16, No 1 (2014): Pebruari 2014
Publisher : Pusat Teknologi Dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.165 KB)

Abstract

Pada makalah ini diuraikan tentang aplikasi teknik AAN (Analisis Aktivasi Neutron) dalam penentuan konsentrasi unsur-unsur esensial dan cemaran yang terkandung di dalam beberapa spesies ikan dan pakan ikan. Unsur-unsur esensial yang terkandung dalam pakan ikan buatan juga dianalisis untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ikan. Penentuan unsur menggunakan teknik AAN dengan metode perbandingan dan metode k0-AAN. Sampel diiradiasi di reaktor RSG-GAS yang memiliki fluks neutron thermal 5 x 1013 n.cm-2.s-1 pada daya 15 MW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 unsur di dalam 11 spesies ikan air laut dan air tawar telah ditentukan yaitu As, Br, Cr, Co, Cs, Fe, Hg, K, Na, Rb, Se and Zn. Konsentrasi cemaran As didalam ikan laut sudah melampaui batas maksimum 1 mg/kg, sedangkan konsentrasi cemaran Hg masih dibawah batas maksimum 0,5 mg/kg, baik untuk ikan laut maupun ikan air tawar. Unsur K dan Na merupakan unsur makroesensial sedangkan unsur Cr, Co, Fe, Se and Zn adalah termasuk unsur mikroesensial. Secara umum ditunjukkan bahwa kandungan mineral didalam ikan laut lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan ikan air tawar. Br, Cs dan Rb merupakan unsur-unsur non esensial yang teridentifikasi dalam semua ikan yang dianalisis. Penelitian terhadap pakan ikan air tawar menunjukkan bahwa semua unsur yang teridentifikasi juga terdapat di dalam ikan laut dan ikan air tawar. Hal ini menunjukkan bahwa pakan ikan berkontribusi terhadap konsentrasi unsur di dalam ikan air tawar.Kata kunci : Analisis aktivasi neutron, unsur esensial, unsur cemaran, ikan, pakan ikan This paper reported on the application of NAA (Neutron Activation Analysis) Technique in the determination of the concentration of the essential and toxic elements in some species of fish and fish feed. Determination of elements using instrumental NAA technique with comparison and k0-INAA methods. Samples were irradiated in the RSG-GAS which has a thermal neutron flux  5.0E +13 ncm-2s-1. The results showed that as many as 12 elements in 11 species of fish in the sea water and fresh water has been determined that As, Br, Cr, Co, Cs, Fe, Hg, K, Na, Rb, Se and Zn. For toxic elements, As concentrations in marine fish has exceeded the maximum limit of 1 mg / kg, Hg concentrations were still below the maximum limit of 0.5 mg / kg, both for marine fish and fresh water fish. K and Na elements is the macro esensial element while Cr, Co, Fe, Se and Zn elements are micro esensial elements. The concentration of minerals in marine fish higher concentration than fresh water fish. Br, Cs, and Rb are non-essential elements were identified in all analyze fish. The results also showed that all of the elements identified in the fish feed contained in fish. This suggests that fish feed contributes to the concentration of elements in freshwater fish. Keywords : Neutron activation analysis, essential element, toxic element, fish, fish feed
SINTESIS NANOKATALIS TIO2 ANATASE DALAM LARUTAN ELEKTROLIT DENGAN METODA SOL GEL Wardiyati, Siti; Fisli, Adel; Yusuf, Saeful
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 15, No 3: APRIL 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.138 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.15.3.4352

Abstract

SINTESIS NANOKATALIS TiO2 ANATASE DALAM LARUTAN ELEKTROLIT DENGAN METODA SOL GEL. Telah dilakukan sintesis nanokatalis TiO2 anatase dengan metode sol gel. Sintesis TiO2 dilakukan dengan cara mereaksikan prekursor titanium klorida (TiCl4) dengan ammonium hidroksida (NH4OH) pada suhu 70 oC. Dalam upaya mempersingkat proses pembuatan nanopartikel TiO2 anatase maka pada penelitian ini ditambahkan larutan elektrolit (NH4)2SO4 yang berguna untuk meningkatkan proses adsorpsi dan desorpsi ion pada perubahan bentuk gel ke partikel. Analisis fasa dilakukan dengan menggunakan X-Ray Difractometer (XRD), penentuan ukuran partikel menggunakan Transmission Electron Microscope (TEM) dan Particle SizeAnalyzer (PSA). Nilai energy gap ditentukan dengan spektrofotometer UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscope (UV-Vis DRS). Hasil karakterisasi menunjukkan diperolehnya TiO2 kristalin dengan fasa anatase, ukuran partikel ±10 nm dan nilai energy gap 3,26 eV. Hasil uji degradasi pada methylene blue menunjukkan bahwa TiO2 hasil sintesis bersifat foto katalitik.
PREPARATION OFNB BASED THIN FILM USING PULSED LASER DEPOSITIONAND ITS ELECTRICAL PROPERTY Mustofa, Salim; Yusuf, Saeful
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 4: JULI 2013
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.377 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2013.14.4.4388

Abstract

PREPARATION OFNb BASED THIN FILM USING PULSED LASER DEPOSITIONAND ITS ELECTRICAL PROPERTY. The research for largering capacity of dielectric multi layer type capacitor using Pulsed Laser Deposition (PLD) method was carried out. In this study, we focus on the inexpensive material Nb as a substitute for expensive material Ta, which is currently used for ferroelectric material. The Nb-based (Nb2O5) and TiO2 particle were deposited on Si/SiO2 substrate at temperature of 600 oC under the oxygen pressure of 5Pa, and Pt was used as the last layer. Doping of TiO2 to the Nb2O5was carried out by alternately replacing each target and finally the deposited film with a thickness of 200 nm was achieved. The capacity value of pure Nb2O5 thin film was higher than pure TiO2 , but TiO2 was more stable against the changes of temperature. The capacitor that has a ratio of 30% Nb2O5 showed the highest capacity value. Single layer of Nb2O5 thin film has the largest rate of change in capacitance, and the capacitor that already doped by TiO2 has a more less changes in capacitance against the changes of temperature. In order to crystallize, the capacitor was then annealed in the air for 12 hours at the temperature of 700o . Same as before annealing, a mixed thin film thas has a ratio 30% of Nb2O5 still showed the highest capacity value, even there is a small changes against the against the changes of temperature. Other mixed thin film with different ratio of TiO2 have more stable temperature characteristics, but the capacity value was very small. From above results, it can be considered that the thin film of 30% of Nb2O5 and 70% of TiO2 is the best potential with highest capacity value and small changes against the changes of temperature.
Identifikasi Fasa Dan Sifat Magnetik Nanopartikel Besi Oksida Teriradiasi Yusuf, Saeful; Sarwanto, Yosef; Z.L., Wildan
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 36 No. 1 April 2014
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1522.794 KB)

Abstract

Makalah ini membahas tentang perubahan fasa nanopartikel magnetik oksida besi setelah mengalami iradiasi dalam reaktor nuklir. Perubahan fasa dianalisis dalam kaitannya dengan perubahan sifat magnetik yang terjadi. Nanopartikel yang digunakan merupakan hasil proses ko-presipitasi baik dalam bentuk oksida besi murni (OB) maupun yang permukaannya telah dimodifikasi dengan asam nitrat, asam sitrat maupun asam oleat dan membentuk sistem ferrofluid (FF). Nanopartikel awal ini telah dianalisis memiliki fasa gabungan magnetit/maghemit (Fe3O4/γ-Fe2O3). Proses iradiasi dilakukan di Reaktor Serba Guna GAS-BATAN pada fasilitas sistem rabbit dengan fluks neutron sekitar ± 1x1013ncm-2detik-1, selama 5 menit, 10 menit dan 30 menit. Nanopartikel besi oksida hasil iradiasi dikarakterisasi dengan Difraktometer Sinar-X untuk mendapatkan data tentang perubahan fasa dari nanopartikel. Sifat magnetik dianalisis dari kurva histeresis hasil pengukuran dengan Vibrating Sample Magnetometer. Secara umum hasil analisis menunjukkan bahwa iradiasi mengakibatkan terjadinya perubahan sebagian fasa besi oksida dari fasa magnetit/maghemit menjadi fasa hematit dengan hasil akhir penurunan sifat magnetik nanopartikel. Nano partikel besi oksida yang dilapisi penstabil asam nitrat atau asam sitrat memiliki ketahanan iradiasi yang lebih baik dibandingkan besi oksida yang dilapisi asam oleat. 
Analisis Struktur Kristal Lifepo4 Olivine Sebagai Bahan Katoda Batere Li-Ion Gunawan, Indra; Handayani, Ari; Yusuf, Saeful
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1794.844 KB)

Abstract

Sintesis LiFePO4 dilakukan dengan pencampuran LiCl, FeCl2.4H2O dan H3PO4 ekuimolar ke dalam air. Homogenasi larutan dilakukan dengan pengaduk magnetic pada suhu 60o C. Prekursor LiFePO4 diperoleh setelah pemanasan 200o C dengan furnace selama 2 jam. Sintering prekursor LiFePO4 dilakukan pada suhu 700o C dengan furnace selama 4 jam dengan aliran N2 untuk membentuk fasa kristalit LiFePO4. Kemurnian fasa dan struktur kristal dianalisis dengan menggunakan XRD. Analisis struktur kristal dari pola difraksi sinar-X dilakukan dengan perangkat lunak FULLPROF. Pengamatan morfologinya dilakukan dengan menggunakan SEM dengan kombinasi energy dispersive spectroscopy (EDS) dan pengukuran gugus fungsional dengan FT-IR. Hasil analisis struktur kristal menunjukkan bahwa senyawa LiFePO4 memiliki struktur Kristal orthorhombic, space group 62, simbol Pnma (Hermann-Mauguin) dengan parameter kisi a= 6.0019999, b= 10.330000, c= 4.6999998. 
Sintesis dan Karakterisasi Nano Zero Valent Iron (NZVI) dengan Metode Presipitasi Wardiyati, Siti; Fisli, Adel; Yusuf, Saeful
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 1 April 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2448.857 KB)

Abstract

Teknologi NZVI (Nano Zero Valent Iron) menjadi pilihan yang tepat untuk rehabilitasi lingkungan dan remediasi situs yang terkontaminasi, karena dengan NZVI logam berat seperti Pb, As, Cr, Cd, Cu, dan senyawa organik dapat dengan mudah dipisahkan dari dalam air. Selain itu, bahan baku untuk pembuatan NZVI berupa zat besi relatif murah,tidak beracun, dan ramah lingkungan. Untuk mempelajari teknologi NZVI telah dilakukan sintesis dan karakterisasi NZVI dengan metode presipitasi menggunakan prekusor FeSO4.7H2O dan reduktor natrium borohidrat (NaBH4). Tujuan percobaan ini adalah membuat NZVI yang stabil, mempunyai ukuran kecil (dibawah 100 nm), dan tidak menggumpal. Untuk mencapai tujuan tersebut, pada proses sintesis NZVI ditambahkan surfaktan CTAB sebagai pelapis NZVI yang dihasilkan. Penambahan surfaktan yang tepat akan memberikan hasil optimal. Pada percobaan ini hasil optimal dicapai pada penambahan CTAB 1,4 g per 4,1703 g Fe2SO4.7H2O dan ukuran partikel NZVI yang dihasilkan berkisar 8 nm.