Articles

Found 15 Documents
Search

Pendekatan tatalaksana refluks gastroesofagus (RGE) pada anak Yusuf, Sulaiman
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2826.408 KB)

Abstract

Abstrak.   Refluks  Gastroesofagus  (ROE)  merupakan suatu  keadaan  fisiologis    yang  sering  ditemukan  pada anak.,  namun  dapat berkembang  menjadi  patologis   sehingga menirnbulkan bagi  anak.  Esofagitis  merupakan gambaran patologis/komplikasi    yang sering  ditemukan  akibat pajanan asam lambung pada dinding   esophagus secara berlebihan.   Refluks Oastroesofagus  yang tidak  ditatalaksana   dengan  baik  dapat menurunkan  kualitas hidup anak dan rnenyebabkan  komplikasi   yang  berat, seperti gagal  tumbuh,  striktur  esofagus,  atau esofagus Barrets. Tatalaksana   ROE  pada  anak perlu   dipaharni secara tepat agar  penanganan  dapat dilakukan  sedini mungkin   untuk  mencegah  terjadinya  komplikasi   dikemudian   hari,   Pada  RGE  yang  dicurigai   telah  terjadi komplikasi   (esofagitis),   maka pemeriksaan  endoskopi merupakan pilihan pertama.  Pemantauan pH esophagus dengan  rnenggunakan  pH-metri  merupakan   prosedur  diagnostik  baku emas  saat  ini untuk  diagnosa  RGE. Golongan   prokinetik   merupakan obat yang rnernberikan   hasil efektifpada  anak dengan RGE.  (JKS 2008; 2:113-121) Kata kunci:  Gastro oespophaqeal refluks, oesophaqltls, pH-metry endoscopy. Abstract. Refluks Gastroesofagus  (ROE) is a physiological   frequently  found in children, but can develop into patologic.   Esofagitis   is  patologic   symtomp/  complications   that are frequently  found due to exposure of the acid side wall of the esophagus redundant.  Refluks Gastroesofagus which  didn't   treat well can decrease the quality  of  life  of children   and  cause  serious   complications,   such as  failure  to grow,  striktur csofagus,  or esofagus Barrets.  Treatment  ROE on children   need to understand precisely  so that the handling  can be done as early as possible  to prevent  the occurrence  of complications   dikemudian   days.  On the ROE suspected complications   have  occurred  (esofagitis),   the  endoscope   examination  is  the  first  choice.  Esophagus  pH monitoring  using  a  pH-metri  diagnostic   procedures  are  currently  the  gold  standard  for  diagnosis  RGE. Prokinetik Group is a drug ~t provides  effective results  in children with RGE.  (JKS 2008,· 2: IJJ-121) Kata kunci:   Refluks Gastroesofagus, esofagitis, pH-metri,  endoskopi.
Hepatitis virus B akut pada anak Yusuf, Sulaiman
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1890.303 KB)

Abstract

Abstrak.   Hepatitis  B  merupakan  proses inflamasi   sel  hati yang disebabkan  oleh   virus hepatitis    B yang dapat mengakibatkan  kerusakan  hati.   I lepatitis   virus  B terut.ama ditularkan   melalui  darah  atau  cairan   tubuh (jalur parenteral)   yang terdiri dari transmisi  vertikal  (perinatal)   dan horizontal. Gejala  dan tanda hepatitis ini  adalah mual,  muntah, nyeri perut, demam, kuning (ikterus),   urin seperti  teh (merah  tua), perubahan  wama  tinja  dan hepatomegali   atau  splenomegali.    Terapi   suportif  dan simptomatis    tanpa  rnembutuhkan  terapi  antivirus,   dan imunisasi aktif sangat penting sebagai pencegahan. Di laporkan  sebuah kasus hepatitis   virus B akut pada anaklaki-laki   5 tahun dimana diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis  dan perneriksaan penunjangyaitu  ditemukan  adanya  peningkatan  nilai  enzim  aminotransferase,  nilai  HBsAg  dan   lg  M anti  HBc yang positif  dan nilai lg  M anti HAV negatif   Pada hasil  ultrasonograf   abdomen  menunjukkan  hasil   yang sesuai dengan hepatitis. Setelah  mendapat pengobatan  suportif  dan sirnptomatis,   klinis   pasien   mengalami   perbaikan. (JKS 2008;  3: US-150) Kata kunci: hepatitis virus B, HBsAg, lgM antiHBc, terapi suportif dan simptomatis. Abstract.  Hepatitis  B is an inflammation process on  liver cells caused by the hepatitis 8 virus that lead to liver damage.  Hepatitis  B virus  is  transmitted  primarily  through  blood  or  body  fluids  (parenteral   routes),  which consists  of  vertical  transmission  (perinatal)  and  horizontal.  Signs  and  symptoms   of  hepatitis   are  nausea, vomiting,  stomach  pain,  fever,  yellow  (icterus),  urin  such  as  tea  (cherry  red),  color   changes  on  feces and hepatomegali   or   splenomegali.   Suportif   therapy   and  sirnptomatis    without   antiviral    therapy,   and  active immunization are very important as prevention. It's reported a case of acute hepatitis B virus in the boys 5 years old, that diagnosed   based on anamnesis,  clinical  symptoms and laboratoeium  finding of increasing  in the value of aminotransferase  enzyme,  the value of F ig  HBsAg -and anti HBc positive  and the value  of F ig  anti HAV negative . In the abdomen ultrasonografi  results show that the results in accordance  with hepatitis. After being suportifand  simptomatis treatment, patients  experienced  clinical improvement.  (JKS 2008; 3: US-150) Keyword :  viral hepatitis  B, HBsAg, lgM, supportif and symptomatic therapy
Recurrent Abdominal Pain in Children Yusuf, Sulaiman; Hegar, Badriul
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy VOLUME 7, ISSUE 2, August 2006
Publisher : The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recurrent abdominal pain is one of the most common symptoms found in children. Description of abdominal pain is important in determining the etiologic cause. Organic pain must be ruled out first before suspecting psychogenic cause of pain. However, Children and infant are likely having difficulties in describing abdominal pain. Referred pain may lead to misdiagnosis. Alarm symptoms of abdominal pain are important indices and must be recognized. Careful and complete anamnesis and physical examination play critical role in management approach of recurrent abdominal pain in children and determine whether medical therapy only or combination with surgical intervention is considered necessary. Keywords: recurrent abdominal pain, children, alarm symptom
HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU SAPI DENGAN KEJADIAN MENGI PADA ANAK DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) ISLAM TERPADU AL-AZHAR Safri, Mulya; Kulsum, Kulsum; Yusuf, Sulaiman; Andayani, Novita; Ismy, Jufitriany; Hayati, Mala
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i1.11211

Abstract

Abstrak: Mengi adalah gejala asma yang paling umum pada anak.Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya mengi adalah pemberian susu sapi pada anak.Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian susu sapi dengan kejadian mengi pada anak di PAUD Islam Terpadu AL-AZHAR. Jenis studi ini adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional. Responden studi ini adalah 60 orang tua dari anak dengan rentang usia 6 bulan – 5 tahun. Hasil studi didapatkan dengan menggunakan kuisioner yang telah valid dan reliabel yaitu kuisioner ISAAC dan kuisioner pemberian susu sapi. Hasil analisis data dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan p value 0,045 (α 0,05) sehingga terdapat adanya hubungan pemberian susu sapi dengan kejadian mengi pada anak. Kesimpulan dari studi ini adalah anak yang diberi susu sapi dapat meningkatkan risiko mengi dibandingkan anak yang tidak diberi susu sapi.Kata kunci: susu sapi, mengi, anak 6 bulan-5 tahun.Abstract:Wheezingis the main symptom of asthma in children. One of the factors predisposing this symptom is cow's milk consumption.The objective of this study is to identify the association between cow's milk consumption and wheezing incidence in children at PAUD Islam Terpadu AL-AZHAR.This is an analytic observational study with cross-sectional design. The sample of this study include 60 parents of children aged from 6 months to 5 years old. The result is obtained using valid and reliable questionnaires, ISAAC and cow's milk consumption questionnaire. Analyzed using Chi Square test, the result revealed p value of 0.045 (α 0,05), indicating an association between cow's milk consumption and wheezing incidence in children. The conclusion of this study is that children consuming cow's milk have higher risk for experiencing wheezing.Keywords: cow's milk, wheezing, 6-month to 5-year-old children
Cakupan Imunisasi Dasar Anak Usia 1-5 tahun dan Beberapa Faktor yang berhubungan di Poliklinik Anak Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh Thaib, TM; Darussalam, Dora; Yusuf, Sulaiman; Andid, Rusdi
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.283-7

Abstract

Latar belakang. Program pengembangan imunisasi sudah berjalan sejak tahun 1974 untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), yaitu satu kali imunisasi BCG, empat kali imunisasi polio, tiga kali imunisasi DPT, tiga kali imunisasi hepatitis B, dan satu kali imunisasi campak sebelum berumur 12 bulan. Sasaran yang hendak dicapai Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010-2014 adalah meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan menjadi 90%. Saat ini berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, cakupan imunisasi dasar lengkap secara nasional baru mencapai 53,8%, sedangkan Propinsi Aceh baru mencapai 37,0%.Tujuan. Mengetahui cakupan imunisasi dasar anak balita usia 1-5 tahun, alasan imunisasi yang tidak lengkap, serta mengetahui hubungan antara pendidikan orangtua dan pendapatan keluarga dengan kelengkapan imunisasi. Metode. Penelitian potong lintang menggunakan kuesioner dengan subjek orangtua anak usia 1-5 tahun yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSIA Banda Aceh selama kurun waktu 8 minggu (12 Desember 2011 sampai 27 Januari 2012). Cakupan bayi dengan imunisasi dasar lengkap adalah persentase bayi umur <12 bulan yang telah mendapat imunisasi dasar lengkap. Hubungan antara 2 kelompok variabel dianalisis dengan uji Chi-squaredan Kolmogorov-Smirnov.Hasil.Seratus tiga anak diikutsertakan dalam penelitian. Cakupan imunisasi dasar pada anak usia 1-5 tahun 86 (83,5%) lengkap, 16 (15,5%) tidak lengkap, dan 1 (1%) tidak pernah diimunisasi. Alasan tidak pernah diimunisasi atau tidak melengkapi imunisasi adalah ibu cemas akan efek samping 12 (70,6%), 4 (23,5%) sering sakit, dan 1 (5,9%) orangtua beralasan imunisasi haram. Terdapat hubungan yang bermakna antara sebaran pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar (p<0,05). Kesimpulan.Cakupan imunisasi dasar pada subjek penelitian 83,5%. Terdapat hubungan yang bermakna antara sebaran pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar (p<0,05).
Insidens Diare pada Anak dengan Pneumonia, Studi Retrospektif Nurjannah, Nurjannah; Sovira, Nora; Raihan, Raihan; Yusuf, Sulaiman; Anwar, Sidqi
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.888 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.169-73

Abstract

Latar belakang. Pneumonia dan diare merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada anak. Kedua penyakit dapat terjadi terpisah atau bersamaan. Insidens dari kedua penyakit bersamaan akan menentukan tata laksana kasus tersebut selanjutnya.Tujuan.Mengetahui insidens diare pada anak yang dirawat dengan pneumonia di bangsal anak.Metode.Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data dari rekam medis pasien mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2009, yang dirawat di RSUD Dr.Zainoel Abidin Aceh. Hasil.Terdapat 347 anak yang diikutkan dalam penelitian dan 54,2% anak menderita diare, 29,4% menderita pneumonia dan 4,3% menderita diare dengan pneumonia. Selama periode penelitian didapatkan 2035 anak dirawat di bangsal anak RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh; 347 anak di antaranya dilakukan analisis. Dari 347 anak, 54,2% menderita diare, 29,4% pneumonia, dan 4,3% diare ditambah pneumonia. Terbanyak (80%) umur kurang dari 1 tahun, 60% dengan gizi kurang, disertai suhu 380C, muntah (46,7%), dan disertai anemia, terdapat pada anak dengan diare dan pneumonia.Kesimpulan.Pada anak yang dirawat inap dalam dua tahun terakhir didapatkan angka infeksi diare lebih tinggi daripada pneumonia. Insidens diare beserta pneumonia 4,3%.
Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak Yusuf, Sulaiman
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.616 KB) | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.265-70

Abstract

Latar belakang. Data tentang profil pasien diare pada anak di Rumah Sakit - Rumah Sakit pusat rujukan belum lengkap termasuk di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Tujuan. Mengetahui profil pasien diare di ruang rawat inap anak RSUDZA Banda Aceh.Metode. Studi retrospektif dilakukan pada pasien diare di ruang rawat inap anak RSUDZA Banda Aceh, tanggal 1 Juli 2009 s/d 30 Juni 2010. Pencatatan dilakukan tentang umur, jenis kelamin, jenis diare, derajat dehidrasi, status gizi, penyakit penyerta, dan lama rawatan kemudian disajikan secara deskriptif.Hasil.Jumlah pasien rawat terlama periode penelitian 1279 anak, sedangkan pasien diare 104 anak (8,1%). Proporsi diare berdasarkan umur yaitu 1 bulan - <2 tahun 73,1%, 2 - <5 tahun 18,3%, dan 5 - 16 tahun 8,6%. Jenis diare yaitu, diare akut 80,8%, diare melanjut 12,5% dan diare persisten 6,7%. Derajat dehidrasi yaitu, tanpa dehidrasi 26%, dehidrasi ringan-sedang 62,5%, dan dehidrasi berat 11,5%. Status gizi yaitu, obesitas 5,8%, gizi lebih 2,9%, normal 44,2%, gizi kurang 38,5%, dan gizi buruk 8,6%. Pasien diare disertai penyakit penyerta 55,8% yaitu gizi kurang 68,9%, gizi buruk 15,5%, bronkopneumonia 6,9%, tonsilofaringitis akut 3,5%, kejang demam kompleks 3,5%, dan varisela 1,7%. Lama rawatan 90,4% kurang dari 5 hari. Kesimpulan. Kelompok umur terbanyak pasien diare < 2 tahun, diare persisten 6,7%, diare dengan dehidrasi berat 11,5%, dan lama rawat ≥5 hari 9,6%, serta penyakit penyerta terbanyak adalah gizi kurang dan buruk, serta bronkopneumonia.
Gambaran Derajat Dehidrasi dan Gangguan Fungsi Ginjal pada Diare Akut Yusuf, Sulaiman; Haris, Syafruddin; Kadim, Muzal
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.899 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.221-5

Abstract

Latar belakang. Diare akut merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan pada bayi dan anak. Gejala utamanya dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh sehingga menyebabkan penurunan volume ekstraselular yang menyebabkan berkurangnya perfusi jaringan memicu gangguan fungsi organ-organ tubuh salah satunya penurunan fungsi ginjal.Tujuan. Mengetahui gambaran derajat dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal pada diare akut.Metode. Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectionalyang ditujukan untuk membuat deskripsi atau gambaran derajat dehidrasi dari diare akut dan gangguan fungsi ginjal pada pasien rawat inap anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Penelitian dilakukan pada Agustus sampai dengan bulan Desember 2010 dengan pengumpulan data, klasifikasi, dilanjutkan dengan analisis data.Hasil.Didapatkan 21 pasien diare akut yang memenuhi kriteria penelitian. Jumlah pasien berusia < 2 tahun 17, umur 2-15 tahun 4 anak. Jenis kelamin laki-laki 12 dan perempuan 4. Berdasarkan derajat dehidrasi didapatkan pasien diare akut tanpa dehidrasi 8, dehidrasi ringan sedang 11, dan dehidrasi berat 2. Laju filtrasi glomerulus (LFG) berdasarkan kriteria RIFLE ditemukan pasien diare akut dengan risk 6, dan injury1.Terdapat 2 masuk kriteria riskdari 8 pasien diare akut tanpa dehidrasi, 3 masuk kriteria riskdari 11 pasien diare akut dehidrasi ringan sedang, dan 1 masuk kriteria injurydari 2 pasien diare akut dengan dehidrasi berat.Kesimpulan. Semakin berat derajat dehidrasi maka semakin tinggi risiko terjadi gangguan fungsi ginjal.
Pediatric Erosive Gastritis: A Case Report Yusuf, Sulaiman; Mulya, Intan Chaharunia
Budapest International Research in Exact Sciences (BirEx) Journal Vol 2, No 3 (2020): Budapest International Research in Exact Sciences, July
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birex.v2i3.1064

Abstract

Dyspepsia is a common gastrointestinal disorder which needs diagnostic examination test using endoscopy. Pediatric erosive gastritis, the case presented, is one of the diagnosis confirmed after endoscopy examination test which is mostly associated with Helicobacter pylori infection.  A 10-year-old boy was presented to emergency department complaining cyclic vomiting, heartburn and constipation. Further inquiry revealed that similar progressive condition was also complained one year ago prompting endoscopy examination test to find out the underlying etiology. Erosive gastritis and Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) were confirmed after examination. Investigation of Helicobacter pylori infection with fecal examination test was impossible due to constipation. Erosive gastritis is a gastric mucous inflammation commonly caused by Helicobacter pylori infection. The clinical manifestation of gastritis tends to be asymptomatic until a pathological component is found. Any pathology suspicion of the gastric lining may require further endoscopy examination test. The therapy of paediatric erosive gastritis includes Proton Pump Inhibitor (PPI), sucralfate  sucralfate as also lifestyle modification could improve children’s condition. In conclusion, paediatric erosive gastritis is an organic disorder of gastric lining treated by Proton Pump Inhibitor (PPI), sucralfate and symptomatic agents for associated symptoms.  Helicobacter pylori is often associated with erosive gastritis so that further examination is needed.
Recurrent Abdominal Pain in Children Yusuf, Sulaiman; Hegar, Badriul
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy VOLUME 7, ISSUE 2, August 2006
Publisher : The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.24871/72200642-45

Abstract

Recurrent abdominal pain is one of the most common symptoms found in children. Description of abdominal pain is important in determining the etiologic cause. Organic pain must be ruled out first before suspecting psychogenic cause of pain. However, Children and infant are likely having difficulties in describing abdominal pain. Referred pain may lead to misdiagnosis. Alarm symptoms of abdominal pain are important indices and must be recognized. Careful and complete anamnesis and physical examination play critical role in management approach of recurrent abdominal pain in children and determine whether medical therapy only or combination with surgical intervention is considered necessary. Keywords: recurrent abdominal pain, children, alarm symptom