Articles

ANALISA GEOSPASIAL PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA SEMARANG Yuwono, Bambang Darmo; Abidin, Hasanuddin Z.; Hilmi, Muhammad
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan muka tanah merupakan permasalahan yang umum terjadi di kota - kota besar termasuk di Kota Semarang. Kondisi geologi serta aktifitas manusia ditengarai menjadi faktor penyebab penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah memiliki karakteristik yang bervariasi secara spasial maupun temporal diakibatkan oleh faktor penyebab yang berbeda.Karakteristik dari penurunan tanah perlu diketahui untuk keperluan perencanaan dan penataan kota maupun tindakan dalam melakukan antisipasi dan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Untuk mendapatkan karakteristik penurunan muka tanah dilakukan penggabungan hasil pengukuran penurunan muka tanah dari berbagai metoda yaitu sipat datar, GPS, pengukuran langsung dan InSAR. Analisa geospasial didasarkan pada hubungan spasial antara karakteristik penurunan muka tanah terhadap faktor - faktor penyebab penurunan muka tanah maupun terhadap kondisi tutupan lahannya.Penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang memiliki laju yang bervariasi antara 0 - 13 cm/tahun dengan kecenderungan meningkat ke arah utara timur (timur laut) Kota Semarang. Daerah yang memiliki laju penurunan muka tanah tinggi antara 9 - 13 cm/tahun antara lain adalah PRPP (Pekan Raya Promosi dan Pembangunan), Tanjungmas, Terboyo dan Kaligawe. Penelitian ini mengakaji tentang faktor yang berpengaruh terhadap penurunan muka tanah menggunakan analisis geospasial terkait dengan faktor – faktor antara lain perubahan muka air tanah, pembebanan dan konsolidasi. Hasil penelitian menunjukkan di lokasi Semarang bagian Utara memiliki perubahan muka air tanah yang cukup tinggi antara 1.2 – 1.4 m per tahun , dengan nilai indeks kompresilibitas berkisar antara 0.6 – 0.9 dimana skala pembebanan berkisar 3 – 4.Kata kunci: : GPS, InSAR, muka air tanah, skala pembebanan, indeks kompresibilias,
Verifikasi TDT Orde 2 BPN dengan Stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan Trinayana, Rizna; Yuwono, Bambang Darmo; Sabri, L. M.
Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.711 KB)

Abstract

GNSS CORS merupakan dasar dari penelitian verifikasi TDT Orde 2 BPN Grobogan dengan stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan. Pengamatan dilakukan pada enam titik TDT orde 2 BPN menggunakan dua stasiun CORS berbeda yaitu stasiun CORS BPN Grobogan dan stasiun CORS BAKO. Koordinat yang dihasilkan akan dibandingkan dengan koordinat TDT orde 2 BPN. Pengolahan koordinat menggunakan software ilmiah GAMIT 10.4 (GPS Analysis Package Developed at Massachusetts Institute of Technology). Masing-masing kooordinat hasil pengikatan ke stasiun CORS dan BAKO akan dilakukan transformasi koordinat Affine dan Helmert.Berdasar standar deviasi yang diperoleh dari transformasi koordinat, koordinat hasil olahan dengan titik ikat CORS BPN menggunakan sistem transformasi helmert lebih bagus daripada koordinat hasil olahan dengan titik ikat CORS BAKO yaitu sebesar 0,00004204827821 m.Keywords : GNSS CORS, GAMIT, TDT orde 2, Transformasi Koordinat.
ANALISIS KETELITIAN PENGAMATAN GPS MENGGUNAKAN SINGLE FREKUENSI DAN DUAL FREKUENSI UNTUK KERANGKA KONTROL HORIZONTAL Arjiansah, Reisnu Iman; Yuwono, Bambang Darmo; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.917 KB)

Abstract

ABSTRAKKerangka kontrol Horizontal merupakan sebuah tugu/patok yang digunakan sebagai titik referensi atau acuan dalam bentuk koordinat ( X,Y )yang berguna pengukuran dan pemetaan di lapangan. Untuk memperoleh koordinat titik kontrol tersebut salah satunya dengan menggunakan metode Survei GPS yaitu dengan menangkap informasi yang dikirimkan oleh satelit diluar angkasa ke receiver pengamatan di Bumi. Receiver GPS mempunyai beberapa jenis salah satunya ditinjau dari sinyal yang ditangkap yaitu receiverSingle Frekuensi&Dual Frekuensi. Kedua jenis receiver tersebut mempunyai perbedaan dalam menangkap gelombang pembawa L1 dan L2. Perbedaan tersebut tentunya mempengaruhi kualitas data dan hasil pengamatan.Terkait dengan masalah tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengukuran pada titik kontrol dengan menggunakan GPS Single Frekuensi dengan lama pengamatan + 8 Jam dan GPS Dual Frekuensi dengan lama pengamatan + 4 Jam. Pada proses pengolahan dilakukan dengan variasi baseline titik ikat yang masing-masing akan diikatkan pada stasiun CORS (Continuosly Operating Reference Stations) UDIP, CSEM, CMGL, dan BAKO yang diolah menggunakan softwareTopcon Tools dan GAMIT/GLOBK.Nilai perbedaan koordinat antara hasil pengukuran GPS Single Frekuensi dan Dual Frekuensi dengan variasi panjang baseline dengan jarak + 3 Km mempunyai rentang nilai 0,003 m – 0,030 m; jarak baseline+ 9 Km pada rentang nilai 0,008 m – 0,070 m; jarak baseline+55 Km pada rentang nilai 0,030 m – 0,400 m dan jarak baseline+399 Km pada rentang nilai 0,100 m – 0,700 m. Ketelitian hasil pengamatan GPS Single Frekuensi dan Dual Frekuensi pada jarak baseline  titik ikat  <10 Km seperti CORS UDIP dan CSEM mempunyai ketelitian yang relatif sama. Namun pada jarak baseline titik ikat > 50 Km masih belum cukup memenuhi ketelitian yang didapatkan.Kata Kunci : Baseline, CORS , Dual Frekuensi, GPS, Single Frekuensi, StatikABSTRACTHorizontal Control is a point that used as reference in the form of coordinate that useful for measuring and mapping in the field. GPS Survey is one of the methods to obtain the coordinate control point. It can seize the information that sent by the space satellite to the observing receiver in the Earth. There are several types of GPS receiver, one of them is based on the signal that can be acquired, that is Single Frequency and Dual Frequency Receiver. How to acquire the L1 and L2 carrier wave is different from single and dual frequency receiver. The difference can affect the data quality and the result of observation.  Based on that problem, so this study measured in the control point using Single Frequency GPS during ± 8 hours observation and Dual Frequency GPS during ± 4 hours observation. In GPS data processing, various bundle point baseline will be tied to CORS (Continously Operating Reference Stations) UDIP, CSEM, CGML, and BAKO which will be processed using Topcon Tools and GAMIT/GLOBK Software. The value of the difference between the measurement results of GPS coordinates Single and Dual Frequency with baseline length variations tied to the CORS UDIP point has a value range of 0.003 m – 0.030 m ; CORS CSEM in the value range of 0.008 m - 0.070 m ; CORS CMGL the value range 0.030 m – 0.400 m and CORS BAKO the value range 0.100 m – 0.700 m . Accuracy Single Frequency GPS observations and Dual Frequency at baseline distance fastening point < 10 Km such as CORS UDIP and CSEM has the same relative precision. But at a distance of  baseline > 50 Km has different result..Keyword :  Baseline, CORS , Dual Frequency, GPS, Single Frequency, Static*) Penulis, Penanggung Jawab
PEMODELAN GEOID INDONESIA DENGAN DATA SATELIT GOCE Daraputri, Maylani; Prasetyo, Yudo; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.455 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada koordinat geografis 6o LU – 11o LS dan 95 o BT – 141o BT. Dengan banyaknya laut yang dimiliki Indonesia, penentuan MSL (Mean Sea Level) sebagai bidang yang berimpit dengan geoid menjadi pekerjaan yang sulit.Penentuan model geoid dapat diturunkan dari data satelit, data gravimetri dan data DEM.  Perkembangan teknologi satelit gaya berat berperan sangat besar dalam menentukan medan gaya berat bumi. Salah satu satelit gaya berat bumi adalah satelit GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) yang diluncurkan oleh ESA (European Space Agency) pada Maret 2009.  Pemodelan geoid pada penelitian ini hanya menggunakan data satelit GOCE yang digunakan sebagai gelombang panjang geoid. Data yang digunakan adalah data level-2 satelit GOCE. Model geoid GOCE yang digunakan ada empat jenis yaitu model DIR R2, DIR R3, TIM R2, dan TIM R3 yang dirilis pada tahun 2010 dan 2011. Sebagai model pembanding digunakan model EGM 96 dan EIGEN 5C. Validasi model geoid dilakukan terhadap model geoid lokal pulau Jawa.Hasil penelitian menunjukan bahwa model DIR R2 memiliki selisih standar deviasi terkecil terhadap model pembanding EGM 96 yaitu sebesar 0.583 meter maupun dengan model EIGEN 5C yaitu sebesar 0.186 meter. Geoid dengan grid kecil dan derajat orde rendah memiliki standar deviasi rendah.Hasil dari perbandingan antar model geoid GOCE menunjukan bahwa model TIM R2 dan TIM R3 memiliki standar deviasi terkecil yaitu sebesar 0.014 meter, hasil validasi dengan model geoid lokal pulau Jawa memiliki nilai standar deviasi sebesar 0.328 meter. Dengan model geoid regional Indonesia dari data satelit GOCE, penentuan geoid lokal untuk masing-masing daerah dapat lebih mudah.Kata kunci           : EIGEN 5C,  EGM 96, Geoid, GOCE.  ABSTRACT Indonesia is an archipelago country which is geographically located in 6o N – 11o S and  95 o – 141o E. Indonesia have a much of sea, determination of mean sea level as a surface closed to geoid was difficult.Determination of geoid model could be derived from satellite data, surface gravity, and digital elevation model. Development of satellite gravity has a significant impact in determining gravity field of the earth. One of  the most commonly satellite gravity is GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) satellite, was launched in march 2009 by ESA (European Space Agency).Geoid modelling in this research used GOCE satellite data as long wavelength geoid. The data which was used is GOCE level 2 data. GOCE geoid models which were used are  DIR R2 , R3 DIR , TIM R2 and TIM R3 with the acquisition data in 2010 and 1011. The results of GOCE geoid models are subtracted with EGM 96 and EIGEN 5C models. Validation of geoid model was refer to Java local geoid model.The results showed that the model DIR R2 has the lowest differences of standard deviation due to EGM96 model is about 0.583 meter as well as EIGEN 5C is about 0.186 meter. Geoid model which has small grid and low degree and order had low standard deviation. The Results of the comparison between the GOCE geoid model showed that the model TIM R2 and TIM R3 has the lowest standard deviation is about 0.014 meter. The result of validation due to Java local geoid model is about 0.328 meter. With the regional geoid of Indonesia using GOCE satellite data, determination of geoid height in each local area is easier.Keywords : EIGEN 5C,  EGM 96, Geoid, GOCE.  *) Penulis Penanggung Jawab  
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DAN ANDROID UNTUK PEMILIHAN JALUR ALTERNATIF MENUJU TEMPAT PARIWISATA (Studi Kasus: Kota Wisata Cibubur Dan Jungleland, Kabupaten Bogor) Utomo, Tatag Abiyoso; Yuwono, Bambang Darmo; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.213 KB)

Abstract

ABSTRAK Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi sejumlah Negara.Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar. Salah satu problematika yang harus dipecahkan adalah masalah infrastruktur Information and Communication Technology (ICT) dan strategi promosi wisata yang masih konvensional.Penelitian ini dilakukan pada jalur alternatif  yang telah dipilih pada saat penentuan jalur alternatif yang akan dilakukan survei lapangan. Data yang didapat dari survei lapangan terdiri dari gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan kepadatan jalan. Selain data-data hasil survei, data yang didapat dari penelitian ini adalah jalur padat. Data jalur padat didapat dari informasi sehari-hari. Pada penelitian ini data yang terpakai adalah gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan data jalur padat. Metodologi penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilihat pada pengambilan gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan kepadatan jalan. Sedangkan metode kuantitatif dapat dilihat pada pengambilan data jalur padat.Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG untuk pemilihanjalur alternatif menuju tempat pariwisata berbasis web yang terkoneksi android di Kabupaten Bogor menggunakan google map API sebagai  penyedia peta  gratis  yang diintegrasikan  ke  dalam website dan aplikasi android. Kata Kunci: Pariwisata, Webgis, Android, Jalur Alternatif  ABSTRACT  Tourism sector as the economic activity has become a mainstay of potential and priorities for the development for a number of countries, especially Indonesia as a developing country that has the large potential area with high tourist attraction. One of the problems that must to be solved is the problem of infrastructure of Information and Communication Technology (ICT) and tourism promotion strategy that is still conventional.  This research is observed on alternative road which has been decided when pre survey. Observed data which have been got from field observed consist of coordinate of marking, photo picture, tracking road, and intentcity of road. Besides of observed data’s, that is data of traffic road. Data of traffic road are got from daily news. Used data in this research consist of photo picture, tracking road, coordinate of marking, and traffic road. Method of observation in this research those are qualitative and quantitative. Qualitative method can be seen when taking photo picture, marking coordinate, tracking road, and road intensity. Then quantitative method can be seen when taking traffic road data.The final result of this research is a GIS using web and android based for alternative road toward tourism place in Bogor using Google map API as the free provider map that is integrated into website and android.  Keywords: Tourism, Webgis, Android, Alternative Road
PEMBUATAN PROGRAM EKSTRAKSI DAN PENENTUAN POSISI SATELIT DARI FILE NAVIGATION RINEX VERSI 2.10 Rahmat, Vauzul; Yuwono, Bambang Darmo; Sasmito, Bandi
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.786 KB)

Abstract

AbstrakDalam penentuan posisi dengan menggunakan GPS langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu menghitung posisi satelit selama pengamatan. Ketelitian suatu titik dalam sebuah survei GPS sangat dipengaruhi oleh ketelitian dari posisi satelit yang terekam pada saat pengamatan, semakin banyak satelit yang direkam maka semakin teliti posisi yang di dapat. Dalam survei menggunakan GPS, receiver GPS akan menerima informasi-informasi terkait satelit yang di amati itu sendiri. Informasi tersebut diberikan dalam berbentuk navigation message, isi dari navigation message itu biasanya terkait komponen orbit satelit (elemen kepler), dan komponen koreksi jam satelit. Untuk mendapatkan data navigation message dalam format baku kita dapat melakukan konversi data hasil pengukuran GPS ke dalam format RINEX versi 2.10. Dari format tersebut kita memperoleh data referensi waktu saat epoch dan koreksi waktu (Epoch, a0, a1, a2, dan Toe), data pertubasi satelit (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, dan CIS), dan data elemen kepler (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), kemudian dibuat program penentuan posisi satelit GPS menggunakan bahasa visual basic. Hasilnya berupa program ekstraksi dan perhitungan posisi satelit, kemudian hasil perhitungan posisi satelit menggunakan program FMP 1.0 dibandingkan dengan precise ephemerides yang disediakan oleh IGS, hasil perbandingan menunjukkan program ini efektif digunakan untuk pengamatan dengan interval waktu 4 jam terhadap toc. Kata Kunci : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic Abstract In positioning using the GPS the first step that we must do is calculating the satellite position during the observation. The precision of a point in a GPS survey is affected by the precision of the satellite position that recorded in the observation, the higher number of the satellite that is being recorded the more precise of the position can be. In surveying using GPS, GPS receiver will receive informations related to the satellite that is being observed.  These information is given in navigation message, and the content of the message usually related to the satellite orbit’s component (Kepler’s element) and time correction satellite’s component. To obtain the navigation message data in a standard format we can convert the measuring result of the GPS to the RINEX ver. 2.10 format. From the format we can get time reference data when epoch (Epoch, a0, a1, a2, and Toe), pertubation parameters satellite (Idot, Delta_N (∆n), Ωdot (Ω), CRS, CRC, CUS, CUC, CIC, and CIS), and keplerian parameters (Eccentricity (e), i0, Ω0, M0, ω, Sqrt_a (√a)), then from the data we made it into GPS satellite positioning program using visual basic language. The result is an extraction program and satellite position’s calculation, then the calculation’s result of satellite position using FMP 1.0 is being compared with the precise ephemerides provided by IGS, the result of the comparison shows that this program is effective to be used in observation with interval of 4 hours to toc Keywords : RINEX, GPS, Broadcast Ephemerides, Visual Basic
PEMBUATAN PETA JALUR PENDAKIAN GUNUNG LAWU Prasetyo, Rian Yudhi; Suprayogi, Andri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.848 KB)

Abstract

Kegiatan mendaki gunung merupakan kegiatan dengan tingkat bahaya relatif tinggi. Para pendaki akan berjalan di hutan menghabiskan waktu yang cukup lama dengan kadar oksigen yang semakin tipis dan suhu yang sangat dingin bahkan bisa mencapai di bawah 0º Celcius. Para pendaki dapat tersesat, hilang dan meninggal di gunung karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang jalur pendakian yang mereka lalui. Pada jaman dahulu kegiatan pendakian gunung tidak sebanyak sekarang. Kegiatan pendakian hanya dilakukan kelompok atau komunitas tertentu saja seperti mahasiswa pecinta alam atau komunitas pecinta alam lainnya. Komunitas pecinta alam pada dasarnya sudah dibekali pengetahuan tentang pendakian, seperti perencanaan pendakian, bahaya dan cara mengatasi bahaya tersebut dalam pendakian sehingga bisa melakukan pendakian dengan lancar dan selamat. Tetapi saat ini kegiatan luar ruangan, terutama mendaki gunung merupakan kegiatan yang digemari banyak orang. Jumlah pendaki gunung semakin lama semakin bertambah, baik yang mempunyai pengetahuan tentang pendakian atau orang yang hanya ikut-ikutan dimana dia tidak memiliki pengetahuan dasar tentang mendaki gunung. Bahkan tidak jarang dijumpai pendaki yang mengabaikan standart keselamatan dalam pendakian. Berdasarkan hal tersebut, sehingga peneliti melakukan penelitian dengan pembuatan peta jalur pendakian gunung Lawu bertujuan untuk memberikan data spasial dan nonspasial yang berupa peta dan buku panduan mendaki gunung Lawu agar pendaki dapat mengetahui karakteristik masing-masing jalur pendakian dan membuat perencanaan pendakian yang baik sehingga meminimalisir bertambahnya korban jiwa di gunung. Pengumpulan data dilakukan dengan survei langsung ke 3 jalur pendakian baik data spasial maupun data nonspasial. Pengolahan data tersebut meliputi transformasi data kedalam format yang telah ditentukan dan penyesuaian data terhadap parameter – parameter yang digunakan serta proses penyajian data ke dalam bentuk peta fisik dan menganalisis tingkat kesulitan ke 3 jalur pendakian dari parameter yang didapat. Data hasil penelitian berupa data jarak, kelerengan, beda tinggi, waktu tempuh, dan ketersediaan sarana di jalur pendakian.
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN METODE REGISTRASI ANTARA METODE KOMBINASI DAN METODE TRAVERSE DENGAN MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER DALAM PEMODELAN OBJEK 3 DIMENSI Son Simbolon, Alfred Boni; Yuwono, Bambang Darmo; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.6 KB)

Abstract

ABSTRAK Pemodelan adalah suatu kegiatan untuk membentuk suatu objek dengan skala yang lebih kecil yang direpresentasikan dalam bentuk tiga dimensi. Perkembangan teknologi di bidang survei khususnya bidang pemodelan saat ini sudah berkembang dengan sangat pesat. Kehadiran Terrestrial Laser Scanner (TLS) memberikan solusi dalam pemodelan suatu objek. TLS biasanya digunakan untuk memodelkan suatu objek dengan bentuk yang rumit dan memerlukan ketelitian yang tinggi. Untuk membuat model tiga dimensi, perlu dilakukan penggabungan data dari beberapa hasil penyiaman, yang biasa disebut dengan registrasi.Dalam penelitian ini, pemodelan salah satu ikon Kota Semarang yaitu Tugu Muda dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanner. Proses akuisisi data dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi dan metode traverse untuk registrasi yang kemudian dilakukan perbandingan terhadap hasil ketelitian metode-metode tersebut. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan GPS Geodetik untuk mengetahui koordinat yang dijadikan sebagai referensi dalam pembuatan jaring poligon dalam metode traverse. Penulis menggunakan TLS Topcon GLS-2000 sebagai alat untuk melakukan pemindaian objek. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Scan Master untuk registrasi metode Traverse, Maptek I-Site Studio untuk metode kombinasi, dan Autodesk Remake untuk pemodelan. Model scan hasil registrasi kemudian dibandingkan jaraknya terhadap objek aslinya dengan menggunakan Total Station.Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa model 3 dimensi Tugu Muda dalam bentuk point cloud yang kemudian dimodelkan menjadi objek yang solid. Besar RMS registrasi dari masing-masing metode adalah 0,037 m untuk metode kombinasi dan 0,076 untuk metode traverse. Sedangkan besar RMS dari hasil perbandingan jarak dengan Total Station adalah sebesar ±0,0051827 m untuk metode kombinasi dan sebesar ±0,0052574 m untuk metode traverse.
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH MENGGUNAKAN GNSS RTK-RADIO DAN RTK-NTRIP PADA STASIUN CORS UNDIP Marbawi, Mualif; Yuwono, Bambang Darmo; Sudarsono, Bambang
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.436 KB)

Abstract

ABSTRAKPengukuran dan pemetaan bidang tanah merupakan sebagian dari kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia salah satunya bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah yang dinyata kan dalam bentuk sertipikat. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan biasanya dengan menggunakan  alat  theodolite, total station dan pita ukur. Terkait dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan navigasi, kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dapat dilakukan dengan menggunakan survei GNSS metode RTK (Real Time Kinematic) baik RTK-Radio maupun RTK-NTRIP.Pada penelitian ini dilakukan adalah pengukuran bidang tanah dengan beberapa kriteria luasan bidang menggunakan GNSS metode RTK-Radio dan RTK-NTRIP beserta pengaruh panjang baselinenya. Lokasi penelitian ini berada di daerah Mulawarman dengan panjang baseline 1,5 km dan di daerah Marina dengan panjang baseline 11 km dari stasiun CORS UNDIP. Kemudian hasil pengukuran di hitung nilai kesalahan linear, kesalahan jarak, kesalahan elevasi, perbedaan luas, dan uji obstruksi, sedangkan uji jangkauan hanya untuk RTK-Radio. Untuk validasi hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan hasil pengukuran electronic total station.Hasil pengukuran bidang tanah menggunakan GNSS metode RTK-Radio dengan panjang baseline < 400 m dan dengan luasan bidang < 520 m2 diperoleh akurasi luas dengan standar deviasi ±1,986 m2 sedangkan untuk RTK-NTRIP dengan panjang baseline 1,5 – 11 km diperoleh akurasi luas dengan standar deviasi berkisar antara ±2,622 hingga ±4,075 m2, untuk uji jangkauan dengan RTK-Radio diperoleh jangkauan maksimal sejauh 420 m, untuk uji obstruksi kategori obstruksi ringan dan sedang diperoleh solusi pengukuran fix sedangkan untuk obstruksi sedang sampai berat seperti bangunan dan gedung tinggi  didapat solusi pengukuran float and autonomous. Dan dari uji ketelitian peta memenuhi standar produksi pembuatan peta dengan skala 1 : 500.Kata Kunci : Bidang Tanah, GNSS, RTK-Radio, RTK-NTRIPABSTRACTSurvey and mapping of land use is a part of land registry activities in Indonesia, one of which aims to guarantee legal certainty and the protection of the rights of a holder to land parcels that are expressed in the form of the certificate. Normaly theodolite, total station are the tools used. Related on to the development and advancement of information technology and the current survey of the activities of navigation and mapping areas of land can be done by using the method of GNSS RTK (Real Time Kinematic) surveying to kinds of RTK-Radio or RTK-NTRIP.In this research is the measurement of several land parcels with an area of the field criteria using RTK GNSS RTK-Radio and RTK-NTRIP method along with the influence of the baseline length. The location of this research is in the area Mulawarman with baseline length of 1.5 km and in the Marina area with length baseline 11 km from UNDIP CORS station. Then the measurement results calculated value linear error, fault distance, elevation error, vast differences, and obstruction test, meanwhile the test range only for RTK-Radio. To validate the measurement results are compared with the results of measurements by electronic total station.The results of the measurements of land using GNSS RTK-Radio method with a long baseline < 400 m and with a total area of field < 520 m2 wide accuracy obtained with a standard deviation around ± 1,986 m2 meanwhile for RTK-NTRIP with long baseline 1.5 – 11 km wide accuracy obtained with standard deviation ranges between ± 2,622 to ± 4,075 m2, to test the range of the RTK-Radio obtained the maximum range as far as 420 m, for the obstruction test with mild obstruction and medium obstruction category obtained a fix measurement solutions meanwhile for moderate to severe obstruction such as buildings and tall buildings acquired measurement solutions float and even autonomous. And the accuracy test meets the standard map production with a scale of 1: 500.Keywords : Land Use, GNSS, RTK-Radio, RTK-NTRIP*)  Penulis, Penanggungjawab 
ANALISIS AKURASI KETELITIAN VERTIKAL MENGGUNAKAN FOTO UDARA HASIL PEMOTRETAN PESAWAT TANPA AWAK UNTUK PEMBENTUKAN DIGITAL TERRAIN MODEL (DTM) RACHMA, YULIA SAVIRA; Prasetyo, Yudo; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.229 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin modern, membuat kebutuhan akan data geospasial dituntut untuk dapat memberikan suatu informasi mengenai posisi dan ruang dari keadaan real world, untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkanlah suatu cara atau teknik pemetaan yang cepat dan efisien namun tidak mengabaikan aspek ketelitiannya. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi fotogrametri kamera non metrik yang biasanya merupakan hasil pemotretan UAV. Salah satu data primer yang dihasilkan dari foto udara tersebut berupa data kontur yang dapat dibentuk dari Digital Terrain Model (DTM). Diperlukan metode pembentukan DTM yang cepat dan efisien untuk mempercepat memenuhi kebutuhan peta dasar. Metode yang digunakan untuk filterisasi DSM menjadi DTM dapat dilakukan dengan cara klasifikasi point clouds. Klasifikasi dilakukan secara semi otomatis dengan menggunakan algortima macro dan untuk klasifikasi manual menggunakan bantuan ortofoto dan identifikasi tampak samping (cross section), selanjutnya DTM yang diperoleh dari foto udara hasil pemotretan UAV dibandingkan terhadap DTM yang diperoleh dari pengukuran Total Station. Data foto udara diperoleh dari pemotretan UAV pada tanggal 3 Juni 2017 di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan. Hasil georeferencing didapatkan pergeseran nilai error terbesar adalah 1,05 cm yaitu pada GCP 2 dan nilai error terkecil adalah 5 mm yaitu pada GCP 6. Perbandingan ICP model dengan lapangan menunjukkan nilai selisih terbesar yaitu pada ICP 8 sebesar 0,9 cm dan pada ICP 2 sebesar 0,2 mm. Hasil DTM ekstraksi foto udara memiliki RMSE sebesar 0,778 meter serta dihasilkan nilai LE90 sebesar 1,284, sehingga berdasarkan Perka BIG No 15 tahun 2014 ketelitian DTM yang diperoleh masuk kedalam ketelitian skala 1:5000 pada kelas 2. Hal ini menunjukkan bahwa DTM hasil ekstraksi pengolahan foto udara dapat digunakan untuk keperluan pemetaan di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan dengan skala 1:5000 atau yang lebih kecil.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Afani, Iqbal Yukha Nur Afif, Mohammad Aldika Kurniawan Alfin Nandaru Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri, Amirul Amri Perdana Ginting Andika Rizal Bahlefi Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi, Anggoro Pratomo APSANDI, ORY ANDRIAN Apsandi, Ory Andrian Arief Laila Nugraha Arifin, Aisyah Arinda Yusi Madena Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bhekti Hapsari Bobby Daneswara Indra Kusuma, Bobby Daneswara BRILLIANTO, EVAN Darlina, Seprila Putri Desvandri Gunawan, Desvandri Dzaki Adzhan, Dzaki Edy Saputera Purba Ega Gumilar Hafiz Elceria Susanti Eva Suci Lestari Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia, Fathan Fauzi Iskandar, Fauzi Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya, Fuad Hari Galih Rakapuri, Galih Gangga, Wahyu Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani’ah Hani’ah Haris Yusron, Haris Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Hermawan, Andre Hukama, Cahya Wisuda Husen Ibnu Said Indra Laksana Inessia Umi Putri Kasfari, Roy Khairuddin Khairuddin Kurniawan, Indira Nori Kusmaryudi, Alan Kusumaningrat, Merpati Dewo L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi, Lanjar Cahyo Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus, Leur P. Maranatha Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan, Lutfi Eka Lutgar Sudiyanto Sitohang Mahmudi Mahmudi Maylani Daraputri, Maylani Moehammad - Awaluddin Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi, Moh Kun Fariqul Mualif Marbawi, Mualif Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani, Muhammad Ilman Murti, Wikan Isthika Nina Ratnaningrum Nugroho, Diqja Yudho Nurnaning Aisyah Pradipta, Rachaditya Prasetya, Alfian Budi Prasetyo, Rian Yudhi Prawira, Raka Angga Purba, Renaud Saputra PURWANTI, WIWIT RACHMA, YULIA SAVIRA Ramadhan, Mohamad Rizki Ramadhanis, Zainab Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah, Reisnu Iman Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah, Rizki Rizki Putra Agrarian Rizna Trinayana Rizqie Anarullah, Rizqie Sabri, L M Sanches Budhi Waluyo, Sanches Budhi Satrio Wicaksono Saul Ambarita, Saul Sawitri - Subiyanto Sawitri Subiyanto Son Simbolon, Alfred Boni Suni, Handaru Aryo Susilo Susilo Theodorus Satriyo Singgih, Theodorus Satriyo Tyas Arni Putri Utomo, Tatag Abiyoso Vauzul Rahmat Wibowo, Dian Rizqi Ari Widi Hapsari Wirawan, Adzindani Reza Yolanda Adya Puspita, Yolanda Adya Yudo Prasetyo Yuwono, Ahadea Kautzarea