Ahmad Zaenudin
Jurusan Teknik geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Koreksi Gaya Berat Akibat Curah Hujan Pada Pengukuran Gaya Berat Mikro Antar-Waktu Lapangan Panas Bumi Kamojang 2006-2007 Zaenudin, Ahmad
BERKALA FISIKA Vol 13, No 2 (2010): Berkala Fisika, Edisi Khusus
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.087 KB)

Abstract

Shallow groundwater level changes cause seasonal gravity anomaly. Changes in groundwater level is directly related to rainfall, when heavy rainfall, groundwater level rises rapidly and then declined gradually. Gravity anomaly due to the season is important to take into account noise. Changes in groundwater level due to rainfall is calculated using empirical equations, and the Gravity response calculated using the approach of an infinite Bouguer slab correction by entering the porosity factor. The rainy season in the Kamojang geothermal field occur between November to June and dry season between July to October. The highest rainfall in 24 hours occurred on December 8 by 75 mm. From the empirical calculations showed that changes in groundwater level due to rainfall period November 2006-June 2006 amounted to -1.502 m and July 2007-June 2006 amounted to +0.396 m. Based on the approach slab Bouguer corrected gravity anomaly not to cause inter-time respectively -18.89 and +5.98 mikrogal mikrogal for porosity of 30%. Changes in groundwater level is negative (a reduction of groundwater) caused gravity anomaly time inter-negative, and vice versa. Correction of the gravity anomaly due to inter-time rainfall should not be ignored because of the gravity anomaly at the time inter-geothermal field is usually small.   Key words: rainfall, groundwater level, inter-period gravity anomaly
DELINEASI SUB-CEKUNGAN SORONG BERDASARKAN ANOMALI GAYA BERAT Zaenudin, Ahmad; Dani, Ilham; Amalia, Niar
JURNAL GEOCELEBES Vol 4, No 1: April 2020
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/geocelebes.v4i1.7976

Abstract

Delineasi Sub-Cekungan Sorong ini diinterpretasi melalui pola anomali gayaberat, pola patahan, bukaan (rifting), tinggian dari anomali residual, dengan analisis Second Vertical Derivative (SVD), pemodelan 2D dan structural noses. Metode pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah melakukan koreksi gaya berat hingga didapatkan Anomali Bouguer Lengkap, melakukan analisis spektrum untuk mendapatkan estimasi kedalaman regional dan residual serta lebar jendela penapisan, melakukan pemisahan anomali regional dan residual dengan metode moving average, melakukan analisis SVD, melakukan interpretasi kualitatif dan kuantitatif. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa pola Anomali Bouguer Lengkap daerah penelitian pada bagian Selatan didominasi oleh anomali rendah dengan nilai 58 hingga 76 mGal. Sedangkan anomali tinggi mendominasi bagian Utara dengan nilai 88 hingga 106 mGal. Kedalaman residual sekitar 2,7 km di bawah permukaan sedangkan kedalaman regional sekitar 10 km di bawah permukaan. Anomali residual daerah penelitian memiliki nilai anomali -9 hingga 10 mGal. Anomali regional daerah penelitian memiliki nilai anomali 60 hingga 100 mGal. Berdasarkan interpretasi kualitatif dan kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat satu sub-cekungan pada daerah penelitian yang terletak pada Arar nose. Arah migrasi hidrokarbon berasal dari arah Barat ke Timur mengikuti struktur patahan. Berdasarkan penelitian ini, diasumsikan bahwa sesar utama Sorong tidak hanya berupa jenis sesar geser namun juga merupakan jenis sesar normal.
PEMODELAN 2D DAN 3D GEOLISTRIK TOMOGRAFI UNTUK INTERPRETASI BIDANG GELINCIR DAN ARAH ALIRAN AIR PADA STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN REL KERETA API DI BATURAJA, SUMATERA SELATAN Zaenudin, Ahmad; Dani, Ilham
Wahana Fisika Vol 4, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i2.20327

Abstract

Monitoring kondisi bawah permukaan rel kereta api merupakan bagian penting dalam operasional perkeretaapian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeliniasi lapisan bawah permukaan rel kereta api yang sering terjadi pergeseran dan longsoran dengan metode geolistrik dipole-dipole secara tomografi. Pemodelan 2D dan 3D geolistrik diterapkan untuk menginterpretasi bidang gelincir dan arah aliran air.  Model 2D dapat mengidentifikasi 3 lapisan utama, yaitu lapisan perkerasan tanah di bagian atas, lapisan dengan resistivitas rendah (4-60 Ohm.meter) dan lapisan badrock (100-500 Ohm.meter). Lapisan dengan reistivitas rendah diduga mengandung air sebagai penyebab tanah longsor, dimana bidang batas lapisan ini dialasi oleh bedrock yang berada pada kedalaman antara 5-17 meter yang diduga sebagai bidang gelincir. Model 3D dapat mendeliniasi arah aliran air di bawah permukaan rel kereta api, yaitu berarah Timur Laut – Barat Daya melintasi bagian bawah rel kereta api.
NOMOR ANTRIAN BERBASIS ATMEGA16A Zaenudin, Ahmad; Darpono, Rony; Albab, Ulil
Power Elektronik : Jurnal Orang Elektro Vol 7, No 1 (2018): POWER ELEKTRONIK
Publisher : Politeknik Harapan Bersama Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/polektro.v7i1.1178

Abstract

Dalam Aktivitas Manusia Yang Modern Saat Ini, Khususnya Dalam Kegiatan Yang Berhubungan Dengan Rutinitas Pekerjaan, Membutuhkan Sarana Dan Prasarana Yang Efisien Dan Efektif Dalam Melakukan Pelayanan. Salah Satunya Fenomena Kegiatan Antrian Yang Berdesakan Dan Membosankan, Yang Masih Sering Dijumpai Di Berbagai Tempat Pelayanan, Seperti Di Bank, Rumah Sakit, Atau Klinik, Loket Pembelian Karcis Dan Sebagainya.Dari Permasalahan Diatas, Dapat Memunculkan Sebuah Ide Untuk Pembuatan Sebuah Alat Dalam Tugas Akhir Ini. Alat Ini Menggunakan Teknologi Mikrokontroler Yang Difungsikan Sebagai Alat Pengatur Otomatis Peralatan Yang Bekerja Sesuai Spesifikasi Masukan. Mikrokontroler Yang Digunakan Adalah Atmega16a. Alat Antrian Ini Terdiri Atas 3 Bagian Yaitu, Masukan, Proses Dan Keluaran. Rangkaian Masukan Berupa Saklar Atau Tombol, Rangkaian Proses Terdiri Dari Mikrokontroler, Sedangkan Rangkaian Keluaran Adalah Penampil Tujuh Segmen Dan Bel. Alat Antrian Ini Akan Melayani Nasabah Secara Otomatis Sesuai Nomor Antrian Yang Telah Disiapkan Sebelumnya, Sehingga Nasabah Tidak Perlu Mengantri Berdesakan. Ketika Terjadi Nasabah Yang Absen, Maka Akan Diulang Satu Kali Untuk Pengulangan, Jika Absen Maka Akan Dilanjutkan Ke Nomor Selanjutnya. Demikian Pula Jika Nasabah Sudah Terlayani Maka Akan Dilakukan Proses Riset Atau Pengulangan Nomor Antri Mulai Dari Awal. Dari Hasil Pengujian Rangkaian Pada Sistem Minimum Diperoleh Nomor Antrian Menggunakan Mikrokontroler Atmega16a Dapat Berfungsi Dengan Baik.
Karakterisasi Zona Sliding Di Perbukitan Ranggawulung Subang Dengan Metoda Geolistrik Tahanan Jenis Susanto, Kusnahadi; Zaenudin, Ahmad
BERKALA FISIKA Vol 13, No 2 (2010): Berkala Fisika, Edisi Khusus
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.225 KB)

Abstract

Subang Ranggawulung Hills is a road connecting Bandung- Subang which is landslide-prone. Landslides have occurred in the area and now the potential for ground movement is still visible which is characterized by crack and wave roads and buildings sideway. This study characterizes the sliding zone and the direction of movement of ground geoelectric resistivity method. Geoelectrical resistivity method to detect the existence of a sliding zone of the layer surface lapsed causes that caused Landslides. Of geoelectric resistivity cross-section indicates that the contact area between the layers with a certain slope at a depth of about 3-10 m below ground surface. Fields marked with a contact layer of low resistivity value of about 5-10 m which is consistent on all tracks. By observing these results can be seen that the hills Ranggawulung potential for the occurrence of landslides, although slow moving. Key words: landslides, low resistivity
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI MENGGUNAKAN METODE MODIFIED JOINT HYPOCENTER DETERMINATION (MJHD) UNTUK ANALISIS ZONA SUBDUKSI SUMATERA BAGIAN SELATAN Sari, Deswita; Zaenudin, Ahmad; Haerudin, Nandi; Khairina, Fadiah
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Daerah Sumatera bagian Selatan merupakan daerah yang rawan terhadap bencana gempabumi karena adanya aktifitas tumbukan lempeng tektonik yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Untuk memahami kondisi tektonik yang tepat seperti pola zona subduksi diperlukan analisis hiposenter di daerah tersebut. Sehingga dilakukanlah relokasi hiposenter untuk menentukan ulang hiposenter gempabumi menjadi lebih akurat. Untuk menghasilkan hiposenter yang lebih akurat ini dilakukanlah relokasi hiposenter dengan menggunakan metode Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD). Relokasi dengan metode Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD) menggunakan kecepatan gelombang IASP91 yang mengasumsikan bahwa struktur dalam bumi bersifat heterogen. Pada penelitian ini data yang digunakan berupa data arrival time gelombang P dan S pada rentang waktu Januari 2010 s.d Desember 2016 dengan koordinat -3.5º s.d -9º LS – 99º s.d 106.5º BT. Hasil dari relokasi menggunakan MJHD menunjukkan adanya perubahan hiposenter gempabumi yang ditunjukkan dengan nilai RMS (Root Mean Square) berkisar 0.2 s.d 0.5. Terdapat 3 sudut penunjaman di daerah Sumatera bagian Selatan. Sudut penunjaman yang terbentuk di Bengkulu sekitar 26.78º, sudut penunjaman Lampung sekitar 30.225º dan sudut penunjaman Selat Sunda sekitar 52.53º. Masing-masing kedalaman penunjaman daerah Bengkulu yaitu sekitar 250 km, Lampung dan Selat Sunda sekitar 400 km.  ABSTRACT The part of south Sumatera is very vulnerable region in case of earthquake disaster caused by convergent boundary of two tectonic plates Indo-Australian Plates and Eurasian Plates. Precise hypocenter analysis is needed to understand about  the accurate tectonic setting such as subduction zone in the area. Hypocenter relocation is used to recalculate earthquake hypocenter to become more accurate. To produce a more accurate hyposenter this hyposenter relocation is done by using the method of Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD). Relocation using the Modified Joint Hypocenter Determination (MJHD) method uses IASP91 wave velocity which assumes that the inner structures are heterogeneous. In this study, used data P-wave and S-wave  arrival time in the period January 2010 s.d December 2016 with coordinates -3.5º s.d -9º LS - 99º s.d 106.5º BT. The results of the relocation using MJHD showed a change of earthquake hypocenter shown by RMS (Root Mean Square) value ranging from 0.2 s.d 0.5. There are three subduction of the part in south sumatra. The subduction zone formed in Bengkulu is about 26.78º, the subduction zone of Lampung is around 30.225º and the subduction of the Sunda Strait is about 52.53º. Subduction zone of Bengkulu at depth of 250 km, Lampung and Sunda Strait at depth 400 km. Keywords— Hypocenter relocation, MJHD, Subduction Zone
ANALISIS SEBARAN HIPOSENTER GEMPA MIKRO DAN POISSON’S RATIO, STUDI KASUS: HYDROSHEARING PADA LAPANGAN ENHANCED GEOTHERMAL SYSTEM NEWBERRY, OREGON Setiawan, Aji; Rustadi, Rustadi; Zaenudin, Ahmad
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTeknologi Enhanced Geothermal System (EGS) yang diterapkan pada lapangan panas bumi bertipe hot dry rock di Newberry dilakukan dengan menginjeksikan sejumlah air dingin bertekanan tinggi sehingga dihasilkannya reservoar buatan atau yang disebut hydroshearing. Pengamatan dilakukan dengan merekam event gempa mikro menggunakan 15 seismometer yang dipasang selama proses EGS, yaitu sejak Oktober 2012 hingga Desember 2014. Penelitian bertujuan untuk memetakan hiposenter gempa mikro yang terjadi akibat proses fracturing, menghasilkan nilai sebaran poisson’s ratio untuk mengkarakterisasi fluida lapisan berpori dan menghasilkan model artificial reservoir produk EGS.  Digunakan metode Single Event Determination (SED) dan Clustering untuk mendapatkan origin time dan lokasi hiposenter dari input berupa waveform hasil perekaman. Hasil yang didapat menunjukkan metode Clustering memberikan nilai RMS dan error lokasi yang jauh lebih kecil serta pola distribusi event yang lebih baik. Hasil penelitian menujukkan event tersebar menjadi 2 cluster utama yang dipengaruhi oleh fase injeksi. Adapun poisson’s ratio dihitung menggunakan hasil diagram Wadati berupa nilai Vp/Vs. Parameter fisis poisson’s ratio yang mengarakterisasi keberadaan dan tipe fluida serta indeks kebasahan menghasilkan 3 zona utama yang terdiri dari zona jenuh air yang berada pada kedalaman relatif dangkal dan teridentifikasi karena adanya kebocoran casing sumur, kemudian zona uap dan zona dominasi air yang berada pada area target (kedalaman ≥ 1970 meter). Berdasarkan analisis diketahui zona dominasi air berada pada kedalaman 2006,5 – 3300 meter dengan nilai poisson’s ratio berkisar 0,3 sampai 0,44 yang diestimasi memiliki volume 1,59 km3 dengan pola rekahan yang berarah Tenggara, Selatan dan Barat-Daya dari sumur injeksi.    ABSTRACTEnhanced Geothermal System (EGS) technology applied to the hot dry rock geothermal fields in Newberry is done by injecting a high pressured of cold water to produce an artificial reservoir, called hydroshearing. The observations were conducted by recording microearthquake events using 15 seismometers installed during the EGS process, from October 2012 to December 2014. The study purposed to identified microearthquake hypocenter caused by fracturing process, determining poisson's ratio distribution values for fluid characterization in porous layer and defining artificial reservoir model of EGS products. Single Event Determination (SED) and Clustering methods are used to obtain the origin time and hypocenter location from recorded waveform as input. The result shows Clustering method gives RMS value and error location much smaller and also better for event distrubution pattern. The results showed the events diveded into 2 main clusters that were affected by the injection phases. The poisson's ratio is calculated using Vp/Vs value from Wadati diagram. The physical parameters of poisson's ratio characterizing the fluid existance, fluid type and wettability index resulted in 3 major zones consisting of water saturation zone at relatively shallow depth and identified due to leakage of well casing, then vapor zone and water dominance zone located on the target area (depth ≥ 1970 meters) . Based on the analysis, it is known that the dominant zone of water at depth of 2006.5 - 3300 meters with poisson's ratio value ranging from 0.3 to 0.44 which is estimated to have a volume of 1.59 km3 with fractures direction in Southeast, South and Southwest from injection wells. Keywords: EGS, hydroshearing, microearthquake, SED, Clustering, hypocenter, poisson's ratio, artificial reservoir.
STUDI SUB-CEKUNGAN JAWA TIMUR BAGIAN UTARA UNTUK MENGETAHUI POLA SUB-CEKUNGAN BERPOTENSI MINYAK DAN GAS BUMI MENGGUNAKAN DATA GAYABERAT Azhary, Muhammad; Zaenudin, Ahmad; Karyanto, Karyanto; Setiadi, Imam
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang studi sub-cekungan Jawa Timur bagiun Utara untuk mengetahui pola sub-cekungan berpotensi minyak dan gas bumi menggunakan data gayaberat, juga ditentukan batas lapisan sedimen dangan batuan dasar, pola tinggian serta struktur bawah permukaan untuk tahap awal menemukan potensi-potensi minyak dan gas yang baru. Pengolahan data gayaberat dengan menggunakan analisis spektrum. Analisis spektrum dilakukan untuk mengestimasilebar jendela serta estimasi kedalaman anomali regional dan anomali residual. Second horizontal derivative dilakuan untuk mengestimasi keberadaan patahan sebagai jalus migrasi minyak dan gas bumi Tahap selanjutnya dilakukan pemodelan 2,5D dan 3D. Second derivative dilakuan untuk mengestimasi keberadaan patahan sebagai jalus migrasi minyak dan gas bumi. Dari hasil penelitian, didapat nilai Anomali Bouguer memiliki nilai densitas dari -35 mGal sampai 42 mGal. Pada analisis spektrum didapat kedalaman rata-rata zona regional sebesar 16,13 km dan kedalaman rata-rata residual sebesar 4,47 km dengan lebar jendela 17x17. Dari hasil pemodelan 2,5 D dan 3D didapatkan bahwa daerah Jawa Timur bagian Utara masih memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang melimpah, dikarenakan dilihat dari hasil gayaberat yang didapatkan, sub-cekungan pada pada daerah ini masih berpotensi sebagai tempat pembentukan dan pematangan minyak dan gas bumi, pada daerah ini juga memiliki tinggian yang bisa perpotensi sebagai perangkap dan zona reservoar serta terdapat beberapa patahan yang berguna untuk jalur minyak dan gas bumi ini bermigrasi kearah tinggian tinggian anomali pada daerah penelitian yang berguna untuk jalur minyak dan gas bumi ini bermigrasi.  ABSTRACT A research on sub-basin studies of northern part in East Java has been done to know the sub-basin pattern potentially of oil and gas using gravity data, also determined the limits of sedimentary layers with bedrock, basement high and subsurface structures for the initial stage of finding new oil and gas potential. Gravity processing data using spectrum analysis. Spectrum analysis was used to estimate the width of the window as well as the depth estimation of regional anomalies and residual anomalies. Second horizontal derivative was used to estimate the existence of fracture as the path of oil and gas migration The next step are 2.5D and 3D modeling. Second derivative was used to estimate the existence of the fault as the path of oil and gas migration. From the results of the research, the Bouguer Anomaly value has a density value of -35 mGal to 42 mGal. In the spectrum analysis, the average depth of regional zone is 16.13 km and the residual average depth is 4.47 km with the width of the window is 17x17. The results from the 2.5 D and 3D modeling, was found that the northern part of East Java still has abundant of oil and gas reserves, due to the result of gravity obtained, the sub-basin on this area still has potential as a place for oil and gas formation and maturation, in this area also has a height that can potentially as a trap and reservoar zone and there are some fault that is useful for the oil and gas pathway is migrated towards the height of anomalies in the research area. Keywords— gravity, spectrum analysis, sub-basin, oil and gas.
Studi Identifikasi Struktur Geologi Bawah Permukaan Untuk Mengetahui Sistem Sesar Berdasarkan Analisis First Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), Dan 2,5D Forward Modeling Di Daerah Manokwari Papua Barat Yulistina, Shiska; Zaenudin, Ahmad; Haerudin, Nandi
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Secara garis besar Manokwari memiliki struktur geologi yaitu berupa daerah lipatan yang terdapat di kawasan dataran tinggi pegunungan. Di antara lipatan tersebut terdapat sesar naik dan sesar turun. Di kawasan pantai atau laut banyak dijumpai batuan terumbu karang dan koral. Penelitian gayaberat telah dilakukan di daerah Manokwari Papua Barat dengan tujuan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan berdasarkan analisis FHD (First Horizontal Derrivative), SVD (Second Vertical Derrivative) dan pemodelan 2,5D Forward Modeling pada peta anomali residual daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki nilai Anomali Bouguer antara 4 mGal sampai 96 mGal dengan anomali rendah pada bagian kiri daerah penelitian yang memanjang dengan arah relatif baratlaut-tenggara, anomali bernilai sedang berada pada bagian tengah daerah penelitian yang tersebar di daerah barat-timur, sementara untuk anomali tinggi tersebar pada bagian utara daerah penelitian. Hasil pemodelan bawah permukaan 2,5D serta analisis SVD dan FHD menunjukkan adanya sesar naik (Thrust Fault) pada penampang C-C’, pada penampang B-B’ terdapat adanya intrusi batuan Diorit Lembai dengan nilai densitas sebesar 2,75 gr/cc, sedangkan untuk penampang A-A’ yang memotong sesar Sorong tidak ditemukan adanya sesar maupun intrusi batuan berdasarkan data observasi gayaberat daerah penelitian tersebut.   ABSTRACT In general, Manokwari has a geological structure that is in the form of a folding area found in the highlands of the mountains. Among the creases, there is a fault up and the fault down. In coastal or marine areas found many reefs and corals. The study of gravity was conducted in the Manokwari area of West Papua with the aim to know the subsurface geological structures based on FHD (First Horizontal Derivative), SVD (Second Vertical Derivative) and 2.5D Forward Modeling on the residual anomaly maps of the study area. The results showed that the research area has Bouguer Anomaly value ranged from 4 mGal to 96 mGal with the low anomaly at the left side of the research area lengthwise relatively in north-west to south-east direction, the middle-value anomaly spreads in the west-east area of research area, high anomaly scattered in the northern part of the research area. The results of the 2.5D subsurface modeling and the SVD and FHD analysis indicated the presence of a Thrust Fault on the C-C’ cross-section, on the B-B’ cross-section there is a Diorite Lembai intrusion with the density value is 2.75 gr/cc, whereas the A-A' cross-section which intersects with Sorong fault were not found any fault or rock intrusion based on observed gravity data of the research area. Keywords: Gravity, Bouguer Anomaly, Modeling 2.5D, SVD, FHD, Manokwari Area
KARAKTERISTIK TANAH DI DAERAH CEKUNGAN BANDUNG BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG GESER (Vs30) DENGAN METODE MASW (MULTICHANNEL ANALYSIS OF SURFACE WAVE) Valeria, Restilla; Rustadi, Rustadi; Zaenudin, Ahmad
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK                                                               Telah dilakukan penlitian metode Multichannel Annalysis of Surface Wave (Vs) di daerah Cekungan Bandung telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas tanah berdasakan analisa nilai Vs dalam pemetaan daerah dengan potensi mengalami kerusakan akibat dari bencana gempabumi. Nilai Vs diperoleh dari MASW dengan cara memanfaatkan dispersi gelombang permukaan Rayleigh  dari  21 lokasi titik pengukuran dengan menggunakan 24 geopon (spasi antar geopon 2 meter). Hasil pengukuran Vs dari MASW dibandingkan dengan pengkelasan jenis tanah dari klasifikasi tanah menurut NEHRP tahun 1998 dan statigrafi berdasarkan tipe tanah Eurocode tahun 2005. Hasil Penelitian berdasarkan nilai Vs menunjukan bahwa tanah dilokasi penelitian daerah Cekungan Bandung dibagi menjadi dua kelas situs: Kelas E yaitu tanah lunak dengan nilai Vs antara 50 m/det hingga 183 m/det, dan Kelas yaitu tanah kaku dengan nilai Vs antara 183 m/det hingga 366 m/det. Bardasarkan sebaran nilai Vs, tanah di Cekungan Bandung didominasi oleh Kelas E, hal ini menjadikan daerah tersebut sangat rentan terhadap goncangan gempabumi. ABSTRACT A Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) method has been carried out in Bandung Basin area. The purpose of this research is to know the class of soil based on Vs value analysis in mapping area with the potential of damaged due to earthquake disaster. The Vs value is obtained from MASW by utilizing Rayleigh surface wave dispersion from 21 locations of measurement points using 24 geopons (spaced between geopons is 2 meter). The Vs measurement result from MASW were compared with the soil type classification of soil classification according to NEHRP in 1998 and Stratigraphy based on Eurocode soil type 2005. The research results based on the value Vs showed that the land in the research area in Bandung Basin is divided into two classes of sites: Class E is soft soil with a Vs value between 50 m/s up to 183 m/s, and Class D is a rigid ground with a Vs value between 183 m/s up to 366 m/s. Based on the distribution of Vs values, the soil in the Bandung Basin is dominated by Class E, making it particularly vulnerable to earthquake shocks. Keywords : Shear Wave Velocity, ASW, Bandung Basin