Amat Zuhri
STAIN Pekalongan

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

ETIKA KEWARGANEGARAAN DALAM SERAT WULANGREH Zuhri, Amat
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 10, No 1: 2015
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.251 KB) | DOI: 10.14710/sabda.10.1.1-17

Abstract

Wulangreh is literature that contains piwulang written by Pakubuwana IV which it talks about the necessities to live and follow ethical kekratonan that has institutionalized. Although parts of this Wulangreh varies, but one thing that is clear is about the worship of the state, and more specifically the service to the king. Even likely be mentioned that the entire network of ethics and manners that diwejangkan stringing provisions or imperatives to devotion to the country and the king.Among the ethics that must be upheld by the citizens of the king is a necessity for absolute ruler without criticizing everything, and moral policy by not reveal ugliness. Ethics as it is based on the belief that the ruler is as representative of the Lord of all policies will always be true, so if it does not carry, let alone criticize, someone will meet disaster.Serat Wulangreh adalah karya sastra yang berisi piwulang yang ditulis oleh Paku Buwana IV yang isinya berbicara tentang keharusan-keharusan menghayati dan mengikuti etik kekratonan yang telah terlembagakan. Meskipun bagian-bagian dari Serat Wulangreh ini bervariasi, namun satu hal yang jelas adalah soal kebaktian kepada negara, dan lebih khusus lagi kebaktian kepada raja. Bahkan mungkin sekali dapat disebutkan bahwa seluruh jaringan etik dan tatakrama yang diwejangkan itu merangkai ketentuan-ketentuan atau keharusan-keharusan kepada pengabdian terhadap negara dan sang raja.Di antara etika yang yang harus dijunjung tinggi oleh warga negara terhadap raja adalah keharusan untuk mentaati penguasa secara mutlak tanpa mengkritik segala kebijakan serta moralnya dengan cara tidak membeberkan kejelekannya. Etika seperti itu didasarkan pada keyakinan bahwa penguasa adalah sebagai wakil Tuhan tentu segala kebijakannya akan selalu benar, sehingga apabila tidak melaksanakan, apalagi sampai mengkritiknya, seseorang akan menemui petaka
ETIKA KEWARGANEGARAAN DALAM SERAT WULANGREH Zuhri, Amat
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 10, No 2: 2015
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.164 KB) | DOI: 10.14710/sabda.10.2.%p

Abstract

Wulangreh is a literary work that contains piwulang (teaching) written by Pakubuwana IV about the necessities to obey institutionalized kraton (kingdom) ethics. Although parts of this Wulangreh vary, one thing that is clear is about the worship of the state, and more specifically the service to the king. The ethics and manners taught are devoted to the country and the king. Among the set of ethics that must be upheld by the citizens is the necessity for devotion to an absolute ruler without criticism. Ethics as it is based on the belief that the ruler is as representative of the Lord of all policies will always the truth.
MBAH MUNAWAR, TASAWUF DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN Zuhri, Amat
Jurnal Penelitian Vol 7 No 2: Nopember 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.473 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v7i2.110

Abstract

As ’khalifa fi al-ardi’, mankind has responsibility to organize and settle many issues and resolve many problems laid down on the earth. To fulfill these duties, they are equiped with sense of mind and intelligence. Nowadays, through science and technology, rush and massive exploitation of resources are being uncontrolled day by day. So, this behavior creates some global crisis in many areas, including ecological disasters. This behavior, assumed, proceeded from the thoughts of mechanics-materialistic paradigms. On the contrary, tasawuf leads mankind to new enlighted paradigm and perspective in viewing world: not centre on material orientation; but spiritual one. A good example of tasawuf attitude was set by Mbah Munawar living in Karanggondang of Pekalongan. Eventhough, he has never learned tasawuf, his behavior -what he do- is reflecting tasawuf thoughts: zuhud, fanâ, baqâ, ittihâd, hulul, nur muhammad, insân kâmil and wahda/t/ al-wujud. In fact, despite of surrounding with the wealthy of natural capital, he doesn’t want to explore it exessively, but wisely and friendly
Ilmu Kalam dalam Sorotan Filsafat Ilmu Zuhri, Amat; Ula, Miftahul
RELIGIA Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.6 KB) | DOI: 10.28918/religia.v18i2.626

Abstract

Melihat ilmu kalam dari sisi epistemologi, secara umum akan ditemukan tiga persoalan pokok, yaitu tentang sumber-sumber ilmu kalam itu, bagaimana pengetahuan itu dapat diketahui dan apa ukuran suatu pengetahuan itu disebut benar atau valid. Berkaitan dengan pertanyaan ketiga, sejarah telah mencatat bahwa di antara para penganut aliran-aliran kalam yang ada selalu mengklaim bahwa aliran yang dianutnya adalah yang benar sementara aliran yang lain adalah salah. Maka dalam penelitian ini penulis akan mencoba melihat kembali aliran-aliran kalam yang ada dengan menggunakan pendekatan tiga teori kebenaran, yaitu korespondensi, koherensi dan pragmatism. Tujuannya adalah untuk melihat ilmu kalam tidak hanya dari sisi epistemologi tapi juga dari sisi aksiologi sehingga sekarang ini tidak perlu lagi memperdebatkan mana yang lebih benar di antara aliran-aliran kalam yang ada, tetapi melihat mana yang lebih cocok untuk dipegang sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.
KECENDERUNGAN TEOLOGI MATURIDIYAH SAMARKAND Zuhri, Amat
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.479 KB) | DOI: 10.28918/religia.v13i1.177

Abstract

Al-Maturidi – a prominent figure of Maturidiyah of Samarkand branch – is Abu Hanifah’s follower who uses ratio much in religious view including in theological thought. In fact, Maturidiyah of Samarkand’s thought is closer to Mu’tazilah’s one because they use ratio in the same way, but Maturidiyah of Samarkand is still grouped into Ahl al- Sunnah wa al-Jama’ah group, which is a derivation of Asy’ariyah view, even though Asy’ariyah does not use ratio much in theological thought.
TASAWUF DALAM SOROTAN EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI Zuhri, Amat
RELIGIA Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.215 KB) | DOI: 10.28918/religia.v19i1.658

Abstract

Aspek ajaran Islam seringkali dibagi secara dikotomis menjadi aspek syari’at dan hakikat. Aspek syari’at adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah berkenaan dengan aqidah, ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan aspek kehidupan lainnya yang bersifat lahiriyah dalam bentuk legal-formal atau identik dengan fikih. Karena bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah maka ilmu syari’at digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi bayani. Sedangkan hakikat adalah aspek ajaran dalam Islam yang lebih menekankan pada penghayatan batin sehingga digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi irfani. Yang termasuk dalam hakikat ini adalah Tasawuf. Pembagian secara dikotomis seperti ini secara tidak langsung menimbulkan pemahaman bahwa tasawuf bukanlah bagian dari syari’at. Maka tidak jarang ada pihak-pihak yang menganggap bahwa tasawuf adalah salah satu bentuk penyimpangan dalam Islam atau setidaknya tidak memperhatikan aspek syari’at. Selain dianggap mernyimpang, tasawuf juga sering dianggap sebagai ajaran yang tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Benarkah tasawuf itu tidak memperhatikan aspek syari’at dan tidak memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan? Dalam tulisan ini penulis akan mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut dengan menggunakan metode analisis Critical Discouse Analysis (CDA). Secara aplikatif, pembahasannya dimulai dengan mendeskripsikan sejarah dan faktor penyebab munculnya aliran-aliran tasawuf dalam Islam serta pokok-pokok ajaran tasawuf. Adapun pendekatan yang digunakan adalah filsafat ilmu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ajaran tasawuf juga menekankan aspek syari’ah  sehingga tidak melulu hanya menggunakan epistemologi irfani. Selain itu nilai-nilai tasawuf juga memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan.
TASAWUF EKOLOGI (Tasawuf Sebagai Solusi dalam Menanggulangi Krisis Lingkungan) Zuhri, Amat
RELIGIA Vol 12 No 2: Oktober 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.712 KB) | DOI: 10.28918/religia.v12i2.188

Abstract

Human beings’ greed in exploiting nature excessively happens because of two things. First, human beings focus on their function as leader more. Second, they lose their awareness that they should be responsible for their in the presence of God. This attitude surely will cause nature damage that it, finally, brings about ecological damage. Therefore, nature damage can be coped with Islamic spiritual values that are promoted by tasawuf. Some of them are zuhud, wara’, faqir, fana-baqa, wahdat al-wujud and insan kamil. By internalizing those teachings, someone will be able to control himself in utilizing nature and increase his awareness to maintain nature with love.
Discourse on Mangkunegara IV Javanese Islamic Spiritual Leadership Zuhri, Amat
Jurnal Penelitian Volume 15 Nomor 2 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.909 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v15i2.1646

Abstract

This study aims to analyze the concepts and patterns of spiritual leadership according to Serat Wedhatama, especially the ethical, ascetic and mystical potential of Mangkunegara IV Javanese Islamic spiritual leadership. In the context of civilizations and the treasure of Javanese Islamic literatures, just to have the properties as a warrior is not enough for a leader; one must also have the properties as a clergyman, or having Spiritual Leadership within oneself. Spiritual Leadership has become one of the materials to teach (piwulang) a prince, a future king or a ruler. The basis of this study is Serat Wedhatama by Mangkunegara IV which contains sublime teaching (piwulang luhur) which must be a guide for a leader. This study is a qualitative research. The data is obtained from Serat Wedhatama. Data were analyzed by descriptive method, with a scientific perspective of Sufism and hermeneutics. This study found that Serat Wedhatama teaches that a leader must adhere to the ethical, ascetic and mystical dimensions. The ethical dimension includes the behavior of a leader towards the community. Meanwhile, the ascetic dimension includes the inner attitude of a leader in order to purify his soul. And the ascetic dimension includes the form of the relationship between a leader and God.
PERSEPSI MAHASISWI TERHADAP JILBAB GAUL *, Sopiah; Khobir, Abdul; Zuhri, Amat; Mufidah, Ely
Jurnal Penelitian Vol 5 No 2: Nopember 2008
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.268 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v5i2.241

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi jilbab gaul di kalangan mahasiswi STAIN Pekalongan. Jilbab gaul dimaksudkan sebagai busana muslimah yang gaul, yang cenderung seksi sehingga di satu sisi menutup tubuh pemakainya, di sisi lain menampilkan keseksian. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan paradigma naturalistik. Sifat penelitian ini deskriptif analisis kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswi STAIN Pekalongan terhadap jilbab gaul sangat positif, syar?i secara kognitif namun secara afektif bervariasi. Faktor yang melatarbelakangi pemakaian jilbab gaul berupa faktor personal dan faktor situasional.