Articles

Found 28 Documents
Search

IMOBILITAS UNSUR TANAH JARANG (UTJ) SELAMA MINERALISASI CU PADA GRANITOID SULIT AIR, PROVINSI SUMATRA BARAT Irzon, Ronaldo; Syafri, Ildrem; Setiawan, Iwan; Hutabarat, Johanes; Sendjaja, Purnama; Haryanto, Agus Didit
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1019

Abstract

Transfer massa terkait perubahan komposisi geokimia batuan induk akibat alterasi hidrotermal, metasomatisme, maupun pelapukan menjadi topik untuk mempelajari proses geologi terkait. Perubahan massa tersebut dapat dijelaskan dan divisualisasikan melalui metode Isocon. Mineralisasi tembaga teridentifikasi pada salah satu bagian dari Granitoid Sulit Air di Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan transfer massa akibat mineralisasi Cu pada Granitoid Sulit Air dengan diagram Isocon. XRF dan ICP-MS di Laboratorium Pusat Survey Geologi, Kementerian ESDM (2015) digunakan sebagai perangkat pengukuran kadar oksida utama, unsur jejak, dan unsur tanah jarang. Berdasarkan korelasi antara kandidatnya, Al2O3 dianggap sebagai oksida immobile. K2O, Rb, Sr, dan Ba terkayakan sedangkan oksida utama lain maupun unsur jejak diketahui terkurangkan akibat mineralisasi Cu. UTJ  terdeteksi immobile akibat mineralisasi Cu dengan karakter yang relatif sama antara batuan segar dan teralterasi. Meski demikian, sebagian Ce teroksidasi akibat proses mineralisasi sehingga menurunkan anomali positif Ce. Penurunan nilai anomali negatif Eu pada sampel teralterasi dapat mengakibatkan plagioklas semakin terkurangkan. Karakter tipe-I Granitoid Sulit Air diperjelas melalui nilai perbandingan A/CNK, perbandingan N2O terhadap K2O, perbandingan Rb/Sr, dan perbandingan Rb/Ba. Afinitas granitoid busur kepulauan menunjukkan bahwa pembentukan Granitoid Sulit Air terkait dengan vulkanisme di bagian barat Sumatra.Mass transfer related changes in the geochemical composition of the host rock due to hydrothermal alteration, metamorphism, and weathering is an interesting topic for studying related geological processes. The transfer can be explained and visualized through the Isocon method. Copper mineralization was identified in an area of Sulit Air Suite at X Koto Diatas District, Solok Regency. This paper aims to explain mass transfer due to Cu mineralization on Sulit Air Suite with Isocon diagrams. XRF and ICP-MS of the Center for Geological Survey Laboratory were applied to measure the major oxides, trace elements, and rare earth elements contents of the samples. Based on the correlation between candidates, Al2O3 is considered as the immobile species. K2O, Rb, Sr, and Ba appear to be enriched while other major oxides and rare elements are reduced due to Cu mineralization. REEs are immobile due to Cu mineralization with relatively the same character between fresh and altered rocks. However, some Ce was probably oxidized due to the mineralization process thus reducing the positive anomaly Ce. Moreover, the more negative Eu anomaly means that plagioclase might have been replaced by K-feldspar due to this alteration. The I-type characters of Sulit Air Suite are clarified by  A/CNK value, N2O to K2O comparison, Rb/Sr ratio, and Rb/Ba ratio. The affinity to the volcanic arc granitoid implies that the Sulit Air Suite is related to volcanism in the western part of Sumatra.  
Bahan Standar Internal dengan Matriks Stream Sediments dari Sungai Berair Payau dan Tawar di Daerah Pangandaran dan Sekitarnya Irzon, Ronaldo; Kurnia, Kurnia
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 16, No 2 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.954 KB)

Abstract

Bahan standar merupakan persyaratan mutlak untuk memvalidasi sebuah pengukuran. Dibutuhkan biaya besar dalam pengajuan bahan standar berskala certified reference material, oleh karena itu pembuatan materi acuan standar intern dapat menjadi jalan keluar. Sebagai sarana pengujian di lingkungan Pusat Survei Geologi, Laboratorium Geologi harus dapat menyelaraskan fungsinya dengan kebutuhan riset ilmu kebumian di Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya tiga bahan standar dengan matriks stream sediment telah dihasilkan. Walaupun sama-sama dari matriks stream sediment, penelitian ini berbeda pada jenis air dimana contoh diambil. Dua dari contoh diambil dari lingkungan air payau, sedangkan satu lainnya dari lingkungan air tawar di sekitar Pangandaran, Jawa Barat. Perangkat Atomic Absorbance Spectrometry dan X-Ray Flourescence dimanfaatkan untuk mengukur kandungan elemen maupun oksida pada contoh bakal standar yang telah melalui proses hingga menjadi banyak split. Perhitungan statistika diaplikasikan untuk mengetahui tingkat homogenitas contoh maupun menetapkan nilai acuan. Uji variansi satu arah berakurasi 95% menyimpulkan bahwa dua contoh dapat dikategorikan homogen dan satu lainnya homogen sempurna. Atas dasar besaran koefisien variansi <5%, lima elemen hasil analisis AAS dan delapan oksida utama hasil analisis XRF dapat dijadikan nilai acuan.Kata kunci - air payau, air tawar, bahan standar internal, stream sediment.
KANDUNGAN RARE EARTH ELEMENTS DALAM TAILING TAMBANG TIMAH DI PULAU SINGKEP Irzon, Ronaldo; Sendjadja, Purnama; Kurnia, Kurnia; Imtihanah, Imtihanah; Soebandrio, Joko
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 15, No 3 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6680.917 KB)

Abstract

Wilayah yang berada pada jalur timah seperti Pulau Bangka, Pulau Belitung, dan Pulau Singkep sangat berpotensi mengandung REE. Kehidupan ekonomi Pulau Singkep dan sekitarnya pernah tergairahkan dengan adanya kegiatan pertambangan timah di sana. Akibat restrukturisasi PT Timah dan beberapa faktor lain, kegiatan pertambangan timah di Pulau Singkep ditutup dan meninggalkan banyak lokasi bahan sisa (tailing) maupun 'kolong' sebagai sisa kegiatan eksploitasi. Potensi yang belum terperhatikan mengenai sisa bahan sisa (tailing) tersebut adalah kandungan REE-ya. Ternyata, kadar REE pada konsentrat bahan sisa (tailing) sangat berlimpah (hingga 5800 ppm) dan pada bahan sisa (tailing) itu sendiri pun cukup tinggi (123-368 ppm). Studi serupa dapat diterapkan pada wilayah lain dengan keterdapatan bahan sisa (tailing) dan jenis tambang berbeda.Kata kunci: tailing, konsentrat, REE, tambang timah, Pulau Singkep
PERBANDINGAN CALORIFIC VALUE BERAGAM BAHAN BAKAR MINYAK YANG DIPASARKAN DI INDONESIA MENGGUNAKAN BOMB CALORIMETER Irzon, Ronaldo
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 22, No 4 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.714 KB)

Abstract

Calorific value is amount of released energy when a known volume of gas is completely combusted. Now, the market of fuels in Indonesia is not only owned by Pertamina, but there have been many gas stations conducted by foreign companies since 2005. One of the most famous ways to rank the fuels' performance is based on research octane number (RON). A different kind of fuels' calorific value with various octane number sold in many gas stations would be important information for fuel customers. The use of the bomb calorimeter to analyze the calorific value has been published in diverse applications. Although bomb calorimeter is viable to measure the heat content of the liquid, we can not easily find a writing of using the equipment on this kind of sample. The method used here has been successful to measure the calorific values of three liquid samples using bomb calorimeter. This study quantifies calorific value of eight gasoline and five diesel samples of 83 measurements. Statistics measurements of at least six times repetition indicate: the method have very good stability (%RSD = 0.09 – 0.63%), there are differences in colorific value on samples with same octane number produced by different company, increase in octane number also raises the samples' calorific value, and the ratio of fuel's price to their heat content is still lame.Keywords : bomb calorimeter, calorific value, fuel, octane number
OPTIMASI TEKNIK FIRE ASSAY DAN KONDISI KUPELASI UNTUK MEMPEROLEH KOMPOSISI FLUKS TERBAIK PADA ANALISIS KADAR EMAS Irzon, Ronaldo; Kurnia, Kurnia
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 15, No 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.746 KB)

Abstract

Pencarian terhadap emas tidak ada habisnya, bahkan sejak 4000 SM bahan ini sudah digolongkan sebagai logam mulia. Karena keberadaan emas di alam berada dalam keadaan heterogen dengan konsentrasi rendah, maka dibutuhkan teknik prakonsentrasi agar analisis kandungannya menjadi lebih tepat. Fire assay merupakan pilihan prakonsentrasi yang telah dikenal pada era Mesir maupun Romawi kuno. Teknik ini memang membutuhkan energi besar dan bahan campuran yang banyak walau ketepatan nilai analisisnya terbukti sangat baik. Optimasi metoda lead fire assay yang dipadukan dengan perangkat AAS pada pemeriksaan kadar emas terhadap contoh jenis pasir hitam telah dilakukan. Penelitian ini mendapatkan komposisi fluks terbaik menilik kepada jenis contoh tersebut untuk menghasilkan lead button tertinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa reaksi fusi campuran fluks tercapai pada temperatur 1000 °C dengan pemanasan selama 60 menit. Optimasi energi dalam penjagaan kondisi furnace pada tahap kupelasi juga telah didapat dengan tingkat recovery mencapai 89,5%.Kata kunci: emas, pasir hitam, fire assay, fluks, kupelasi
KONDISI TEMPERATUR, WAKTU, DAN ph REAKSI UNTUK MENGOPTIMASI PROSEDUR STANDAR ANALISA PLATINUM DENGAN EKSTRAKSI ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY Irzon, Ronaldo; Kurnia, Kurnia
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 14, No 4 (2013): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.591 KB)

Abstract

Atomic Absorption Spectrometry (AAS) merupakan salah satu perangkat yang familiar dalam pengujian kadar kimia karena memilik kapabilitas tinggi dengan konsumsi waktu, biaya, dan tenaga yang tidak besar untuk mendapat presisi uji yang cukup baik. Penelitian mengenai optimasi perangkat ini telah banyak dilakukan. Pusat Survei Geologi turut melakukan studi terhadap perangkat ini untuk pengujian logam mulia, salah satunya adalah Platinum (Pt) terhadap contoh geologi. Percobaan ekstraksi Pt menggunakan kelat Amonium Pirolidin Carbamat dan pelarut Metil Isobutil Keton sesuai skema literatur memberikan recovery 14 - 20% yang berarti proses belum baik secara kuantitatif. Tulisan ini mengurai standar prosedur yang sudah ada dan meneliti pengaruh variabel termperatur, waktu, dan pH ekstraksi Pt pada beberapa konsentrasi standar sebelum diperiksakan kandungannya menggunakan AAS. Hasil percobaan menasbihkan bahwa temperatur ekstraksi terbaik adalah pada keadaan kamar, dengan lama reaksi 60 menit antara ion Pt dan APDC. Disimpulkan bahwa kondisi pH 2,0 merupakan tingkat keasaman terbaik. Proses ekstraksi hasil penelitian ini cocok pada Pt dalam matrik yang tidak banyak mengandung logam lainnya seperti dalam air atau pada katalis. Pengukuran dalam matrik berkondisi sebaliknya, seperti pada Saprolit masih memerlukan penelitian lebih lanjut terkait selektifitas APDC terhadap logam berat lain. Prosedur standar ini dapat dikembangkan agar lebih tangguh untuk diterapkan pada laboratorium manapun dan diajukan sebagai standar pengujian Pt di IndonesiaKata Kunci: Platinum, AAS, standar, ekstraksi, kondisi reaksi.
Geochemistry of Ophiolite Complex in North Konawe, Southeast Sulawesi Irzon, Ronaldo; Abdullah, Baharuddin
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.731 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.2868

Abstract

ABSTRACTSoutheast Sulawesi is crosscutted by Lasolo Fault into two geological provinces: Tinondo and Hialu. Tinondo Geological Province is occupied largely by Ophiolite Complex in the northern part of Southeast Arm of Sulawesi. No study was conducted in relation to the geochemistry composition of Ophiolite Complex in North Konawe Regency. The aim of this study is to describe the ultramafic rock of the Ophiolite Complex in North Konawe Regency using field, geochemical, and petrographical analysis. Megascopically, the selected nine samples are described as greyish to blackish and fine to medium grains ultramafic rocks, which consist of pyroxene and olivine. Microscope, X-Ray Fluorescence (XRF), and Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) devices were used to obtain both petrography and geochemistry data. Major oxides data confirm that the selected samples are classified into ultramafic rocks as SiO2, MgO, and Fe2O3T are the most abundant oxides. The studied samples presumably came from arc tholeiitic environment tectonic setting. Ultramafic rocks often contain promising economic metals whereas the average numbers of Ni, Mn, Cr, and Co of this study are 2,675; 1,074; 2,386; and 117 ppm respectively. The rocks are generally enriched in high field strength elements whilst rare earth elements value are low, ranging from 2.11 to 7.10 ppm. Microscopically, samples can be classified into three groups: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Geochemical data describes more about the discriminant analysis of the groups. ABSTRAKWilayah Sulawesi Tenggara dipotong oleh Sesar Lasolo yang membagi daerah ini menjadi dua lajur: Tinondo dan Hialu. Lajur Tinondo diisi sebagian besar oleh Komplek Ophiolit, yang berada di bagian utara dari Lengan Tenggara Sulawesi. Belum ada studi yang terfokus kepada kandungan geokimia Komplek Ophiolit tersebut di wilayah Kabupaten Konawe Utara.Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakter batuan ultramafik dari Komplek Ophiolit di Kabupaten Konawe Utara melalui kegiatan lapangan, analisis geokimia, dan analisis petrografi. Secara megaskopis, sembilan contoh batuan terpilih teridentifikasi sebagai batuan ultramafik berwarna kelabu hingga hitam, berukuran butir sedang hingga halus, dan mengandung piroksen maupun olivine. Perangkat mikroskop, X-Ray Fluorescence (XRF), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) dimanfaatkan untuk memperoleh data geokimia maupun mikroskopis. Data oksida utama mengklasifikasikan contoh terpilih ke dalam batuan utramafik dengan SiO2, MgO, dan Fe2O3T sebagai oksida dengan kelimpahan tertinggi. Contoh terpilih mungkin terbentuk pada lingkungan busur tektonik tholeitik. Batuan ultramafik sering mengandung logam ekonomis dengan kadar rata-rata Ni, Mn, Cr, dan Co pada studi ini adalah: 2.675, 1.074, 2.386, dan 117 ppm secara berurutan. Batuan telah mengalami pengayaan unsur high field strength elements meskipun dengan kadar unsur tanah jarang yang rendah, berkisar dari 2,11 hingga 7,10 ppm. Secara petrografi, batuan terpilih dapat dibagi menjadi tiga kelompok: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Data geokimia menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan dari kelompok-kelompok tersebut.
Thorium and Total REE Correlation in Stream Sediment Samples from Lingga Regency Irzon, Ronaldo
EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.629 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.1.3558

Abstract

Rare Earth Elements (REE) are found in variety of minerals, which are mobilized by weathering from adjacent watersheds into streambeds and affect the chemical content. A study of stream sediments is useful to trace the source of metals, as they are representative of the composition of the drainage basin. This study describes trace and rare earth elements geochemistry composition of selected nine stream sediment samples from two major Islands in Lingga Regency, namely Singkep and Lingga. Moreover, the associations of rare earth elements abundance to other elements in selected samples are used on tracing the most possible mineral as REE source. Nine selected stream sediments were identified megascopically and measured for the trace and rare earth elements composition by inductively coupled plasma – mass spectrometry (ICP-MS). The selected samples from Lingga yielded very strong average Zr, Mn, Ba, and Rb compositions of 246 ppm, 172 ppm, 126 ppm, and 84 ppm, respectively. On the other hand, Zr, Mn, Cr, and Rb are the top four abundant trace elements from Singkep with consecutive median value of 486 ppm, 305 ppm, 145 ppm, and 85 ppm. Feltilizer for agricultural area at Lingga most posibly contain As and Rb upon these elements abundances and association. Tin mine activity was found to influence the streambeds composition with low Rb-Cs composition but high Zr-REE abundance. Very strong Th to ∑REE association suggests that thorium-bearing mineral, especially monazite-La, is the main REE source of the selected samples. All of the studied samples exhibit Eu negative anomaly to imply the absence of either detrital apatite or chemical weathering of apatite. Moreover, REE of Lingga stream sediments is averagely more fractionated than Singkep.  Unsur Tanah Jarang (UTJ) terkandung dalam berbagai jenis mineral yang dapat termobilisasi akibat pelapukan dari daerah aliran sungai terdekat, terendapkan, dan mempengaruhi kandungan kimianya. Studi mengenai sedimen sungai dapat dimanfaatkan untuk menelusuri sumber logam, sebagaimana sedimen tersebut merupakan bahan penyusun dasar sungai. Penelitian ini menerangkan kandungan geokimia unsur jejak dan tanah jarang dari sembilan contoh sedimen sungai terpilih dari dua pulau besar di Kabupaten Lingga, yaitu: Singkep dan Lingga. Selanjutnya, asosiasi kelimpahan unsur tanah jarang terhadap unsur lain dipergunakan untuk menelusuri mineral yang paling mungkin sebagai sumber UTJ. Sembilan contoh sedimen sungai terpilih telah dideskripsi secara megaskopis dan diukur kandungan unsur jejak dan tanah jarangnya menggunakan inductively coupled plasma – mass spectrometry (ICP-MS). Contoh terpilih dari Pulau Lingga tersusun atas sejumlah tinggi Zr, Mn, Ba, dan Rb, yaitu 246 ppm, 172 ppm, 126 ppm, and 84 ppm secara berurutan. Sementara itu, Zr, Mn, Cr, dan Rb merupakan unsur paling melimpah pada contoh dari Pulau Singkep dengan rataan kelimpahan masing-masing 486 ppm, 305 ppm, 145 ppm, and 85 ppm. Pupuk pertanian di Lingga kemungkinan besar mengandung As dan Rbberdasarkan kelimpahan dan asosiasi mineral tersebut. Aktivitas penambangan timah ditengarai mempengaruhi komposisi endapan sungai dengan komposisi Rb-Cs yang rendah tetapi Zr-REE melimpah. Korelasi kuat Th dan ∑UTJ menunjukkan bahwa mineral mengandung thorium, khususnya monasit-La, merupakan sumber utama UTJ pada contoh terpilih. Seluruh contoh menampakkan anomali negatif Eu yang menandakan ketiadaan apatit detrital maupun pelapukan kimia apatit. Lebih jauh, UTJ pada sedimen sungai Lingga secara rata-rata lebih terfraksinasi dari pada Singkep.
LIMBAH PENCUCIAN BAUKSIT SEBAGAI SUMBER UNSUR TANAH JARANG POTENSIAL; STUDI KASUS PULAU SELAYAR, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Irzon, Ronaldo
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 1 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.608 KB)

Abstract

Bauksit dihasilkan dari proses pelapukan batuan kaya mineral alkali, telah mulai dieksploitasi di Pulau Selayar, wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau yang menjadi lokasi penelitian ini. Sumber daya aluminium di daerah ini tergolong ke dalam kelompok laterit-bauksit, karena terbentuk akibat proses pelapukan dan belum pernah ditemukan keterdapatan karst. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar dan karakter unsur tanah jarang pada beberapa jenis conto dari lokasi tambang bauksit di Sembuang, Pulau Selayar. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui jenis mineral dan jenis bijih bauksit. Perangkat analisis pada studi ini adalah ICP-MS, XRF, dan XRD dari Laoratorium Geologi – Pusat Survei Geologi yang secara berturut-turut dimanfaatkan untuk mengetahui kelimpahan unsur tanah jarang, kadar oksida utama, dan jenis mineral lempung pada contoh. Gibsit terdeteksi sebagai mineral alumina utama dan menjadi petunjuk bahwa proses bauksitisasi berlangsung pada kondisi tropis. Walaupun batuan yang berada di stockpile dapat dikategorikan sebagai bauksit, namun belum memiliki kadar alumina ekonomis. Meski terindikasi lebih tinggi dari pada lima conto lainnya, kadar UTJ pada bauksit hasil pencucian berada dalam tingkat menengah. Namun, karakteristik konsentrasi Cerium (Ce) yang tinggi, sebagai bahan buangan di atas permukaan, dengan tekstur yang lunak, dan luas bidang permukaan yang besar dapat dijadikan pijakan bahwa sisa pencucian layak diproses dalam pemurnian unsur Cerium menjadi material ekonomis. Berdasarkan data anomali positif unsur Ce, hampir seluruh conto telah mengalami proses oksidasi. Komposisi plagioklas terhadap mineral lain pada conto bauksit di stockpile, sangat mungkin telah menurun kibat proses pencucian dan penyaringan berdasarkan pada anomali negatif unsur Europium (Eu), sedangkan conto lain justru menunjukkan anomali positif.
PENGAYAAN LOGAM BERAT Mn, Co, DAN Cr PADA LATERIT NIKEL DI KABUPATEN KONAWE UTARA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Irzon, Ronaldo
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3779.3 KB)

Abstract

Proses pelapukan lebih mudah terjadi pada wilayah beriklim tropis seperti di Indonesia dan meredistribusi kandungan kimia batuan induk. Hasil proses pelapukan batuan ultramafik banyak teridentifikasi di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Proses pengayaan logam-logam berat pada horizon pelapukan di wilayah Konawe Utara merupakan tujuan penelitian ini. Perangkat XRF dan ICP-MS milik Laboratorium Geologi – Pusat Survei Geologi dimanfaatkan dalam pengukuran kadar oksida utama, unsur jarang, dan unsur tanah jarang pada setiap horizon pelapukan dari tiga profil: Andowia, Wawolimbue, dan Marombo. Horizon saprolit di Marombo dianggap layak untuk dijadikan pengganti horizon saprolit di Wawolimbue, karena berasal dari lokasi yang tidak jauh dan sebagai hasil dari pelapukan batuan ultramafik. Dapat disimpulkan bahwa logam berat: Mn, Co dan Cr terkayakan pada horizon laterit relatif terhadap dua horizon pelapukan lainnya, sedangkan Ni tertahan pada transitional bedrock. Pada sisi lain, Mg, Si, dan Ca cenderung mengalami pengurangan bertahap berbanding lurus dengan proses pelapukan. Profil Wawolimbue dan Marombo sangat mungkin berasal dari batuan induk yang sama dan dipertegas oleh diagram laba-laba unsur tanah jarang. Perbedaan pola diagram unsur tanah jarang berikut derajat anomali Eu menegaskan kesimpulan bahwa profil Andowia berasal dari batuan induk berbeda terhadap profil Wawolimbue-Marombo. Unsur tanah jarang paling terkayakan pada horizon laterit dengan anomali Ce negatif terkait terbentuknya fraksi lempungan dan oksidasi spontan Ce3+ menjadi Ce4+ saat pelapukan.