Articles

Found 11 Documents
Search

Manajemen Kendaraan Ground Handling di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda Hestuningrum, Hendra Annisa Putri Lintang; Ahyudanari, Ervina
WARTA ARDHIA Vol 44, No 2 (2018)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1940.343 KB) | DOI: 10.25104/wa.v44i2.333.99-106

Abstract

Ground handling melayani bagasi, penumpang, dan pelayanan pesawat saat didarat seperti pembersihan, bahan bakar, chatering, menarik pesawat hingga apron dan lain lain. Pelayanan pesawat tersebut dinamakan ground support equipment (GSE). GSE ini memiliki banyak persyaratan mengenai waktu dan kecepatan saat kendaraan tersebut berada di apron. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ketersediaan ground support equipment cukup untuk kondisi eksisting. Dalam mencapai tujuan dari penelitian, dilakukan pengumpulan data sekunder yaitu waktu blok on dan blok off, penggunaan gate dan waktu estimasi pelayanan kandaraan ground handling setiap tipe pesawat. Dari data tersebut diperkirakan waktu yang diperlukan untuk melayani masing – masing tipe pesawat. Waktu ini merupakan waktu yang diperlukan untuk beroperasi dari masing – masing kendaraan ground handling. Data peak hour digunakan untuk mengukur kinerja dari kendaraan ground handling. Hasil dari waktu pelayanan kendaraan ground handling ini digunakan untuk memperhitungkan kebutuhan jumlah kendaraan ground handling untuk kondisi saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan kebutuhan kendaraan ground handling di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda. Kendaraan Catering 5 kendaraan, ground power unit 10 kendaraan, fuel truck 6 kendaraan, lavatory service 5 kendaraan, baggage carts loading/unloading 5 kendaran, belt loader 9 kendaraan, dan passangers boarding stairs 2 kendaraan.
Analisis Pengaruh Pergeseran Runway Holding Position terhadap Runway Occupancy Time dan Runway Capacity (Studi Kasus: Bandar Udara Internasional Juanda) setyarini, cahyaning; Ahyudanari, Ervina
WARTA ARDHIA Vol 43, No 2 (2017)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.609 KB) | DOI: 10.25104/wa.v43i2.311.105-116

Abstract

The number of passengers, cargo and aircraft movements at Juanda International Airport has increased over the past 5 years with the average of passenger growth 7.7% per year, 2.3% of cargo and 6.3% per year for aircraft movements. With this increase the airport operator is required to increase the capacity of the airport from both side of landside and air side. Capacity is an important parameter of an airports performance. Juanda International Airport has single runway with a capacity of 33 aircraft/hour (Airnav Indonesia, 2015). The defect of taxiway surface prompted the airport management to displace the runway holding position on the taxiway N1 to the taxiway NP2 with the distance of 275 m from threshold runway 10. This study aims to determine the effect of that displacement to runway occupancy time and runway capacity by using DORATASK Method. The result of study shows that the displacement of runway holding position has effected runway occupancy time. Mean Runway Occupancy Time (MROT) is obtained 105,35 second for runway 10 and 96,65 second for runway 28. From the calcuation obtained that Declared Runway Capacity (DCR) is 30 movement/hour, that is decreasing 3 movement/hour after the displacement. Bandara Internasional Juanda telah mengalami peningkatan jumlah  penumpang,  barang  dan  pergerakan  pesawat selama 5 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan untuk penumpang 7,7% per tahun, kargo 2,3% per tahun dan pergerakan pesawat 6,3% per tahun. Dengan adanya peningkatan ini pihak pengelola bandara dituntut untuk mengoptimalkan kapasitas bandara baik dari sisi darat maupun sisi udara. Bandara Juanda memiliki satu runway dengan kapasitas 33 pesawat/jam (Airnav Indonesia, 2015). Kondisi permukaan taxiway N1 yang mengalami kerusakan mendorong pihak pengelola bandara untuk mereposisi runway holding position di taxiway N1 ke taxiway NP2 sejauh 275 m dari threshold runway 10. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pergeseran tersebut terhadap runway occupancy time dan runway capacity dengan menggunakan Metode DORATASK. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pergeseran runway holding position mempengaruhi nilai runway occupancy time. Mean Runway Occupancy Time (MROT) runway 10 didapat 105,35 detik dan 96,65 detik untuk runway 28. Berdasarkan perhitungan diperoleh Declared Runway Capacity (DCR) adalah 30 pergerakan/jam, yang menunjukkan penurunan runway capacity sebesar 3 pergerakan/jam akibat adanya pergeseran runway holding position.
Pengaruh Pola Jaringan Penerbangan di Kalimantan Selatan Terhadap Waktu dan Biaya Perjalanan Ulmi, Eriza Islakul; Ahyudanari, Ervina
WARTA ARDHIA Vol 44, No 1 (2018)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2072.802 KB) | DOI: 10.25104/wa.v44i1.322.65-80

Abstract

The Effect Of Flight Network Pattern in South Kalimantan on Travel Time And Travel Cost: According to the data of the Statistics Central Agency of South Kalimantan, air transport passengers departing from the airports in South Kalimantan during December 2016 were 163,715 passengers. On the other hand, the number of passengers traveling from Trisakti Banjarmasin Port in December 2016 were 1,833 passengers. These data indicate that air transport is preferable as a mode of transportation in South Kalimantan. The change of airport class according to the Minister of Transportation Regulation No. 69 Year 2013 makes possible changes in travel patterns that is an addition to a new route of TanjungKotabaru which has a distance of 82.2 km with a travel time of 11 minutes and the estimated tariff for this route of Rp. 863.900. Menurut data Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan, jumlahpenumpang angkutan udara yang berangkat melalui bandara di Kalimantan Selatan selama bulan Desember 2016 sebanyak 163.715 orang. Sedangkan jumlah penumpang angkutan laut yang berangkat melalui pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada bulan Desember 2016 sebanyak 1.833 orang. Dari data tersebut dapat diindikasi bahwa penduduk Kalimantan Selatan lebih banyak menggunakan pesawat sebagai moda transportasi. Perubahan kelas bandara menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 69 Tahun 2013 menyebabkan terjadinya perubahan pola perjalanan yaitu penambahan rute baru TanjungKotabaru yang memiliki jarak 82,2 km dengan waktu tempuh 11 menit dan perkiraan tarif untuk rute ini sebesar Rp. 863.900.
ANALISIS DAMPAK DELAY YANG TERJADI PADA RUNWAY, APRON DAN RUANG UDARA TERHADAP OPERASIONAL PESAWAT (STUDI KASUS: BANDARA INTERNASIONAL JUANDA) Fatchiyah, Laila; Ahyudanari, Ervina
Journal of Civil Engineering Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.257 KB) | DOI: 10.12962/j20861206.v32i2.4549

Abstract

The Air transport demand still increasing continuously both of number passengers, cargo and aircraft movements will have a direct impact on the capacity of the airport. Juanda International Airport has one runway that serves about 35-40 aircraft per hour. The number of aircraft movements cause the problem of delay and wasting fuel. Delay can reduced the productivity airport services and airlines. This goal of this paper is to analyze the airport capacity, delay and effect of delay on the aircrafts fuel consumption. Calculations using simulation software arena with arrivals and departure modelling. The results showed that in the calculation of the existing runway capacity as much as 44 scheduled aircraft movements during peak hours there are only 33 aircraft for 1 hour with an average delay of 29 minutes. Simulations using the software arena, delay for arrival varied between 0.6 minutes to 4.2 minutes and delay for departure varied between 0.8 minutes to 19 minutes. Aircraft fuel consumption A320 for the queue 1 to 4 of aircraft varied between 67.56 lb to 270.26 lb. While fuel consumption B737-500 for the queue 1 to 4 of aircraft varied between 131.31 lb to 525.26 lb
Manajemen Kendaraan Ground Handling di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda Hestuningrum, Hendra Annisa Putri Lintang; Ahyudanari, Ervina
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.049 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v16i2.3921

Abstract

Makalah ini membahas perihal ground handling, yakni penanganan pesawat pada saat berada di darat, dari pesawat itu blok on hingga blok off. Lebih lanjut, ground handling ini melayani bagasi, penumpang, dan pelayanan pesawat saat di darat. Metode perhitungan didasarkan pada data waktu pelayanan maksimum, rata-rata waktu perpindahan pada kondisi eksisting, dan total waktu sisa setiap jenis kendaraan pada tahun 2015. Setelah dilakukan perhitungan maka diketahui perkiraan jumlah setiap jenis kendaraan ground handling di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda di tahun 2020, dan tahun 2025. Hasil yang diperoleh meliputi: passangers boarding stairs 5 kendaraan pada tahun 2020 dan 9 pada tahun 2025; belt loader 20 kendaraan pada tahun 2020 dan 44 pada tahun 2025; baggage carts untuk unloading 5 kendaraan pada tahun 2020 dan 7 pada tahun 2025; baggage carts untuk loading 5 kendaraan pada tahun 2020 dan 20 pada tahun 2025; kendaraan catering  9 kendaraan pada tahun 2020 dan 24 pada tahun 2025; kendaraan lavatory service and fuel truck 10 kendaraan pada tahun 2020 dan 29 ada tahun 2025; dan untuk ground power units 21 kendaraan pada tahun 2020 dan 37pada tahun 2025.
Analisis Pengaruh Asal Perjalanan Penumpang Bandara Terhadap Akses Menuju Bandara (Studi Kasus: Semarang, Yogyakarta dan Surabaya) Hafizah, Nafilah el; Ahyudanari, Ervina; Karmini, Karmini
WARTA ARDHIA Vol 44, No 1 (2018)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1567.91 KB) | DOI: 10.25104/wa.v44i1.317.1-16

Abstract

Analysis of Airport Passangers Trip Origin Towards The Access To The Airport (Case Study: Semarang, Yogyakarta and Surabaya): The economic development of a city will be accompanied by an increase in the number of population, which means it will generate more mobility as well as the need of transportation. Changes in travel time due to congestion will also affect travel cost. From the relationship between the growth of the number of vehicles in a city and the accessibility to the airport, it is necessary to research the significance of that relationship. Three airports namely Ahmad Yani Airport, Adisucipto Airport and Juanda Airport with the correspondent cities they served used as the case study. The data of travel time and travel distance of the respondents processed using the relation analysis. The problem solving method exercised the distribution of modal choice, the difference of travel time to theairport and to forecast the number of passengers if mass transport is utilized. The result of the study indicates that the growth of air transport demand correlate positively with the population growth. Respondents indicates mass rail transport is required if the possibility of loss of flight can occur in cities with varying fluctuations in travel time. Berkembangnya ekonomi kota akan diiringi dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatkan tingkat bermobilitas yang menyebabkan kebutuhan transportasi bertambah. Perubahan waktu perjalanan juga akan mempengaruhi biaya perjalanan yang diakibatkan kemacetan. Dari hubungan antara pertumbuhan jumlah kendaraan disuatu kota dan aksesibilitas menuju bandara, maka perlu dilakukan penelitian signifikansi hubungan tersebut. Sebagai studi kasus digunakan data 3 bandara yaitu Bandara Ahmad Yani, Bandara Adisucipto dan Bandara Juanda. Data waktu tempuh dan jarak perjalanan responden diolah dalam analisis hubungan waktu tempuh dan jarak perjalanan. Metode penyelesaian permasalahan yang ada adalah mengidentifikasi distribusi penggunaan moda, menghitung perbedaan waktu tempuh perjalanan menuju bandara dan dilakukan peramalan jumlah penumpang apabila diadakan transportasi massal. Hasil Penelitian menunjukkan adanya kesesuaian bahwa pertumbuhan demand transportasi udara seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Responden menunjukkan transportasi massal rel dibutuhkan jika kemungkinan terjadinya kehilangan penerbangan dapat terjadi pada kota dengan fluktuasi perubahan waktu tempuh yang sangat bervariasi.
Analisis Perbandingan Kadar Aspal Optimum (KAO) untuk Perbedaan Gradasi (BBA, FAA dan BM) Efendy, Anwar; Ahyudanari, Ervina
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.887 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v17i1.4706

Abstract

Gradasi agregat adalah salah satu bagian penting dalam campuran beraspal. Sifat-sifat campuran seperti stabilitas, kekakuan, kemudahan kerja, permeabilitas, keawetan, ketahanan terhadap kelelahan, tahanan gelincir, dan ketahanan terhadap air sangat dipengaruhi oleh gradasi agregat. Ada 3 jenis gradasi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu gradasi BBA merupakan gradasi terbuka sedangkan gradasi FAA dan gradasi BM merupakan gradasi rapat. Gradasi BBA dan FAA merupakan gradasi yang digunakan untuk perkerasan bandara sementara BM adalah gradasi yang digunakan untuk pembangunan jalan. Pada tahun 2018, permintaan aspal di Indonesia mencapai 1,8 miliar ton, tetapi yang dapat dipenuhi oleh produsen aspal lokal hanya mencapai 344 juta ton. PT. Pertamina (Persero) hanya mampu memenuhi 30% dari kebutuhan aspal dalam negeri. Sisanya 70% aspal diimpor dari Singapura karena pasokan aspal rendah dari produsen dalam negeri. Tujuan dalam penelitian ini untuk menentukan perbandingan dari kebutuhan kadar aspal optimum antara gradasi BBA (Beton Bitumineux pour chausées Aéronautiques), gradasi FAA (Federal Aviation Administration) dan gradasi BM (Bina Marga 2010 revisi 3). Dari ke 3 jenis gradasi tersebut, gradasi FAA yang memiliki Kadar Aspal Optimum terendah yaitu,  5,13%, kemudian gradasi BM 5,65% dan yang tertinggi gradasi BBA 6,1%.
Evaluasi Keselamatan Operasional Penerbangan dan Potensi Penambahan Rute di Bandara Sam Ratulangi Manado Hutomo, Halim Prasetyo; Ahyudanari, Ervina
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.784 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2%.a%

Abstract

Bandara sam Ratulangi berlokasi di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Evaluasi yang dilakukan terhadap ini adalah evaluasi panjang dan lebar runway, evaluasi kawasan keselamatan operasi penerbangan terhadap topografi, dan evaluasi pola pergerakan pesawat terhadap topografi. Selain itu dilakukan juga evaluasi kapasitas dan berat masing-masing pesawat terbang yang beroperasi berkaitan dengan penentuan jarak tempuh optimum pesawat yang digunakan untuk penentuan potensi rute tambahan. Terdapat 4 kesimpulan dalam Studi ini. Pertama, Untuk pesawat kritis Boeing 737 – 900, runway yang tersedia di Bandara Sam Ratulangi Manadomasih memenuhi dimana TORA pesawat Boeing 737 – 900 adalah 2580 m dan lebar runway dibutuhkan sesuai kriteria pesawat adalah 45 m. Sedangkan panjang runway yang tersedia adalah 2650 m dengan lebar 45m. Kedua, untuk evaluasi KKOP terhadap topografi, pada potongan memanjang topografi bandara masih memenuhi batasan KKOP. Sedangkan pada potongan melintangnya, terdapat topografi dimana ketinggiannya melebihi batas KKOP. Ketiga, pola pergerakan pesawat Boeing 737 – 900 tidak mengalami gangguan saat melakukan lift off. Sehingga untuk pola pergerakan pesawat selanjutnya tidak terjadi gangguan keselamatan operasi penerbangan akibat topografi. Sampai saat ini, Pesawat Boeing 737 – 900 beroperasi dengan jarak tempuh paling jauh 1790 nautical miles yaitu dari Bandara Sam Ratulangi Manado menuju Bandara Shanghai Pudong Tiongkok dengan konsumsi bahan bakar sebesar 18475.60 liter. Dari hasil jarak tempuh optimum yang bisa ditempuh pesawat diperoleh untuk jarak tempuh optimum pesawat Boeing 737 – 900 adalah 3544 km atau 1920 nautical miles dengan konsumsi bahan bakar sebesar 18720 liter.
Disain Fasilitas Sisi Udara dan Operasional Bandar Udara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga Permana, Muhammad Yuanto; Ahyudanari, Ervina
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.687 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2%.a%

Abstract

PT. Angkasa Pura II akan membangun Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga dengan kelas bandara III C, menggunakan lahan yang dimiliki oleh TNI AU di Wirasaba, Kab. Purbalingga. Adanya pembangunan bandara ini perlu dilengkapi dengan studi detil disain fasilitas sisi udara yang meliputi runway, taxiway, dan apron. Pada disain fasilitas sisi udara pada Bandara Jenderal Besar Soedirman ini dilakukan pengumpulan data penumpang dari proyeksi pengguna moda transportasi kereta eksekutif pada Stasiun Purwokerto. Dari hasil analisis yang dilakukan, didapatkan jumlah penumpang per-hari. Pesawat rencana untuk disain ini adalah pesawat ATR 72-600, dengan kapasitas 68 orang penumpang. Setelah itu dilakukan perhitungan kapasitas runway didapatkan bahwa dibutuhkan single runway untuk melayani pergerakan pesawat pada Bandara Jenderal Besar Soedirman. Disain fasilitas sisi udara ini juga memperhitungkan kawasan keselamatan operasional penerbangannya, agar dapat dilakukan disain pengembangan terhadap bandara ini. Mengingat bandara yang sudah ada sebelumnya yaitu Bandara Tunggul Wulung Cilacap tidak memungkinkan dilakukannya pengembangan karena terdapat cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap yang menjulang, sehingga Bandara Jenderal Besar Soedirman ini yang nantinya akan terus dikembangkan
PERKIRAAN PENUMPUKAN RUBBER DEPOSIT BERDASARKAN VARIASI DAN FREKUENSI PESAWAT DI BANDARA INTERNASIONAL JUANDA Arianto, Akhmad Dharma; Ahyudanari, Ervina
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.178 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v17i2.4198

Abstract

Pesawat yang beroperasi di Bandar Udara International Juanda bervariasi. Hal ini mempengaruhi lokasi rubber deposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah pergerakan pesawat terhadap akumulasi rubber deposit yang dikaitkan dengan frekuensi pembersihan rubber deposit. Tujuan penelitian ini perlu dicapai mengingat pembersihan tumpukan karet akan menimbulkan efek samping dari penggerusan lapisan permukaan. Histori pembersihan tumpukan karet roda tersebut digunakan untuk membandingkan apakah frekuensi pembersihan sudah sesuai dengan perkiraan tebal penumpukan karet dari hasil perhitungan. Validasi perhitungan adalah dengan mengunakan data skid resistance (Mu?meter) yang dilakukan dilapangan. Dari kedalaman tekstur permukaan runway, diukur tingkat kesesuaian antara pergerakan pesawat dengan tebal penumpukan karet. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam 1 bulan sudah mencapai ketebalan yang dapat mempengaruhi operasional penerbangan. Lokasi penebalan ini yaitu pada sekitar ± 3 meter dari garis tengah runway dengan tebal penumpukan 2,7 mm dari runway 10. Dengan panjang penumpukan 1,6 km dan lebar penumpukan 31 cm.