Articles

Found 29 Documents
Search

PERKAWINAN ORANG TIONGHOA DAN ORANG MANDAR (STUDI SEJARAH EMPAT KELUARGA DI WONOMULYO 1990-2012) Yuliana, Yuliana; Madjid, Muh. Saleh; Ahmadin, Ahmadin
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 3 Juli - September 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i3.8460

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan antara orang Tionghoa dan orang Mandar  di Kecamatan Wonomulyo dikarenakan adanya keinginan orang Tionghoa untuk membuka suatu usaha sehingga orang Tionghoa melakukan perkawinan terhadap orang Mandar dengan cara mengkolaborasikan antara sistem adat istiadat terhadap perkawinan dan menjalin  hubungan yang baik antara orang Tionghoa dan orang Mandar dalam hubungan Sosial, karena budaya dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang Tionghoa sudah sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Mandar. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perkawinan orang Tionghoa dan orang Mandar mengalami sedikit perubahan dalam menjalankan adat istiadat, namun perubahan tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka menjalankan suatu usaha karna mereka juga mendapat respon yang baik oleh masyarakat setempat, sehingga orang Tionghoa dan orang Mandar dapat memajukan usaha yang mereka jalankan dengan saat ini. Kata Kunci: Perkawinan orang Tionghoa dan orang Mandar
HUBUNGAN PATRON KLIEN PADA MASYARAKAT TANI MARAYOKA DI JENEPONTO 1970-2018 Ramidha M, Ramidha; Ahmadin, Ahmadin; Jumadi, Jumadi
Jurnal Pattingalloang Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan masyarakat tani sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien kemudian terjadi pengupahan hingga pergeseran atau peningkatan ekonomi seorang patron ataupun klien, dampak dari hubungan patron-klien bagi kehidupan masyarakat tani pada bidang sosial-budaya dan ekonomi di Marayoka (1970-2018). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien di Desa Marayoka, pertanian masih bersifat subsisten, dimana masyarakat hanya bekerja seadanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan mereka masih sangat tunduk dan patuh kepada patron tanpa mendapatkan upah (sukarela), adanya sistem pengupahan masyarakat sudah mulai mencari kehidupan sendiri, kehidupan masyarakat tani di Desa Marayoka mulai mengalami peningkatan terutama dari segi ekonominya. Selain itu juga memberi dampak terhadap sistem mata pencaharian masyarakat setempat. Komoditi utama yang diusahakan jagung kuning, dan tanaman palawijaya, Namun belakangan ini usaha menjadi menurun. Bahkan sebagaian petani ada yang mengeluh karena kebun jagung dan padi produksinya menurun dan pendapatan rendah. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan masyarakat marayoka masih terjaling erat kerjasama misalkan pengerjaan lahan milik yang secara bergilirang tanpa terimah upah kemudian membangun hubungan patron-client dengan buruh tani melalui penggunaan buruh langganan dan buruh tetap agar tidak terjadi kecurangan. Kata Kunci: Patron, Upah, Marayoka Abstract This study aims to determine the life of the farmer community before the wage system exists between patrons and clients and the occurrence of wages to shift or increase the economy of a patron or client, the impact of the patron-client relationship for the life of the farming community in the socio-cultural and economic fields in Marayoka (1970 -2018). The results of this study indicate that before the wage system exists between patrons and clients in Marayoka Village, agriculture is still subsistence, where people only work poorly to fulfill their daily lives and they are still very submissive and obedient to patrons without getting paid (voluntary), the community wage system has begun to look for its own life, the life of the farming community in Marayoka Village has begun to increase, especially in terms of its economy. It also has an impact on the local people's livelihood systems. From this study, it can be concluded that before the marayoka community wage system was still closely intertwined with the cooperation, for example, the work of land owned by the recipient without wages then built a patron-client relationship with farm laborers through the use of subscribed and permanent laborers to avoid fraud. Keywords: Patron, Wage, Marayoka 
KOMUNITAS PETANI KOPI UJUNG BULU JENEPONTO 1986-2018 riskawati, riskawati; Ahmadin, Ahmadin; Bustan, Bustan
Jurnal Pattingalloang Vol. 6, No. 1, April 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i1.10559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Petani Kopi di Desa Ujung Bulu 1986-2018 dengan memaparkan latar belakang petani kopi di Desa Ujung Bulu, dinamika pertanian kopi di Desa Ujung Bulu tahun 1986-2018, serta kehidupan sosial dan ekonomi Petani kopi di Desa Ujung Bulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum tahun 1986 sudah ada tanaman kopi yang tumbuh di Desa Ujung Bulu, masyarakat yang ada disana menyebutnya dengan Kopi Arabika Bantaeng. kopi yang kini dibudidayakan oleh masyarakat setempat adalah Kopi Arabika Gowa yang dibawa Oleh Bapak Lompo pada tahun 1986. Pembudidayaan kopi Arabika Gowa dimulai pada tahun 1989 dan pada tahun 1990an mulai banyak masyarakat setempat yang beralih profesi menjadi petani kopi. beralihnya masyarakat di Desa Ujung Bulu menjadi petani kopi disebabkan karena harga jual kopi lebih tinggi dibandingkan tanaman yang mereka tanam sebelumnya. Proses produksi dan pemasaran kopi arabika di Desa Ujung Bulu membutuhkan waktu yang lama dan proses yang tidak mudah. Produksi kopi di Desa Ujung Bulu tidak menetap atau mengalami peningkatan dan penurunan hasil produksi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah mulai masuknya bibir bawang merah di desa ini pada tahun 2015.Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pembudidayaan kopi Arabika di Desa Ujung Bulu memberikan dampak baik dalam bidang sosial maupun dalam bidang ekonomi terutama dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat yang ada di Desa Ujung Bulu.Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan kajian pustaka dengan menggunakan metode penelitian sejarah dengan menempuh beberapa tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Wawancara dilakukan dengan aparat Desa Ujung Bulu dan beberapa Petani kopi di Desa Ujung Bulu.This study aims to describe the Coffee Farmers in Ujung Bulu Village 1986-2018 by describing the background of coffee farmers in Ujung Bulu Village, the dynamics of coffee farming in Ujung Bulu Village in 1986-2018, and the social and economic life of coffee farmers in Ujung Bulu Village. The results showed that before 1986 there were coffee plants growing in Ujung Bulu Village, the people there called it Bantaeng Arabica Coffee. coffee which is now cultivated by the local community is Gowa Arabica Coffee which was brought by Mr. Lompo in 1986. The cultivation of Gowa Arabica coffee began in 1989 and in the 1990s many local people began to switch professions to become coffee farmers. the conversion of people in Ujung Bulu Village into coffee farmers was due to the higher selling price of coffee compared to the crops they had planted before. The process of producing and marketing Arabica coffee in Ujung Bulu Village takes a long time and is not an easy process. Coffee production in Ujung Bulu Village does not settle or has increased and decreased production yields. This is caused by several factors, one of which is the entry of onion lips in this village in 2015. Based on the results of the study, it can be concluded that the cultivation of Arabica coffee in Ujung Bulu Village has an impact both in the social and economic fields, especially in the welfare community life in Ujung Bulu Village. This research was conducted through interviews and literature review using historical research methods by taking several stages, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Interviews were conducted with Ujung Bulu Village officials and several coffee farmers in Ujung Bulu Village.
PENINGKATAN PEMAHAMAN PERAN DAN NILAI-NILAI PERJUANGAN TOKOH NASIONAL BUNG KARNO DAN HATTA SEBAGAI PROKLAMATOR BAGI GURU SEJARAH SMA SE-KABUPATEN POLEWALI MANDAR Amirullah, Amirullah; Madjid, Saleh; Ahmadin, Ahmadin
Humanis Vol. 19, No. 1, Februari 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luaran yang dihasilkan melalui program kemitraan masyarakat (PKM) ini adalah guru-guru mata pelajaran Sejarah SMA di Kabupaten Polewali Mandar dapat meningkatan penguasaan kompetensi dasar tentang Peningkatan Pemahaman Peran Dan Nilai-Nilai Perjuangan Tokoh Nasional Bung Karno Dan Hatta Sebagai Proklamator Bagi Guru Sejarah Sma Se-Kabupaten Polewali Mandar.Salah satu prinsip pengembangan profesi guru adalah kemandirian, dimana setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu meningkatkan kompetensinya secara berkesinambungan, sehingga memiliki kemandirian profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.Kompetensi inti pada PKM ini untuk ditingkatkan adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional guru , antara lain  kemampuan menguasai bidang ilmu, sumber bahan ajaran, baik dari segi substansi dan metodologi bidang ilmu (diciplinary content knowledge), dan pengemasan bidang ilmu menjadi bahan ajar dalam kurikulum (pedagigical content knowledge).
KAWASAN PELABUHAN GARONGKONG DI KABUPATEN BARRU (2005-2014) Wulandari, Astria; Malihu, La; Ahmadin, Ahmadin
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 2 April - Juni 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i2.8425

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian Sejarah dengan menggunakan beberapa tahapan kerja, yaitu heuristik (pengumpulan sumber), kritik eksterenal dan kritik interenal, interpretasi dan penyajian serta historiografi (penulisan) yang merupakan pengungkapan kisah sejarah secara tertulis.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang didirikannya Pelabuhan Grongkong karena kurangnya daya tampung yang dimiliki Pelabuhan Awerange, yang juga sebagai pelabuhan rakyat di Kabupaten Barru. Selain itu kedalaman laut yang dimiliki Garongkong sangat strategis untuk disandari kapal-kapal besar. Perkembangan Pelabuhan Garongkong  dibangun pada tahun 2005 dengan penimbunan areal darat dan tanggul, pada tahun 2006 pemancangan tiang trestle, pada tahun 2007 pemancangan tiang platform tahap I, pada tahun 2008 konstruksi pelencengan, pada tahun 2009 penyelesaian catwalk. Perkembangan fungsional yaitu pada tahun 2010 yaitu pembangunan fasilitas darat.Dampak keberadaan Pelabuhan Garongkong yaitu semakin lancarnya aktifitas pelayaran dan bongkar muat barang  dan adanya lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat disekitar Pelabuhan Garongkog. Akhir penelitian, ditarik kesimpulan bahwa keberadaan Pelabuhan Garongkong  sangat penting untuk kelancaran proses bongkar muat barang dan penumpang. Pelabuhan Garongkong juga membawa dampak positif bagi masyarakat Garongkong serta masyarakat sekecamatan Barru yakni meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.Kata Kunci : Kawasan Pelabuhan Garongkong, Kabupaten Barru
EFFECT OF COOLING WATER FRACTION OF SALT IN LOW CARBON STEEL PROPERTIES Ahmadin, Ahmadin; pratiwi, Diah kusuma
Journal of Mechanical Science and Engineering Vol 2, No 1 (2015): Journal of Mechanical Science and Engineering
Publisher : Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.303 KB)

Abstract

Low carbon steel plate is widely used in the field of construction that require high hardness and ductility . One method used to increase the hardness of the low carbon steel plate that is by quenching water plus salt . The results showed that the quenching is based on a study of 10% salt water has a hardness of 168 VHN with Ï?u = 33.62 , ε = 12 % and the lowest is 15 % salt water quenching VHN 101 Ï?u = 30.30 and ε = 7.30% composition of the study above was 10 % salt solution in the cooling water will cause a decrease in mechanical properties .
Warisan Budaya Orang Selayar (Menggugat Eksistensi Atas Nama Identitas) Ahmadin, Ahmadin
Jurnal Jaffray Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v4i1.130

Abstract

Masyarakat dan kebudayaannya, merupakan dua sisi dari satu kenyataan sosial kehidupanmanusia yang tidak dapat dipisahkan secara dikotomis. Demikian pula tradisi sebagai salah satuwujud kebudayaan, merupakan penciri suatu masyarakat atau komunitas sehingga hal-hal yangberhubungan dengan satu kebiasaan selalu dihubungkan dengan etnis tertentu. Meskipundemikian, pengaruh modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan dengan ragam suguhansebagai tuntutan zaman, secara gradual memperkeruh otentitas budaya lokal hingga mengikisnyasecara perlahan. Karena itu, jika tidak ada upaya ke arah pengenalan atas warisan budayasendiri, maka dapat dipastikan generasi masa depan akan kehilangaan identitas dan kebanggaankulturalnya. Pada saat yang sama, sistem sosial sebagai bagian integral dari kebudayaan akankehilangan roh atau berkembang tanpa pijakan yang jelas.
Peristiwa Teppo di Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap Tahun 2013 Gustiawan, Eri; Patahuddin, Patahuddin; Ahmadin, Ahmadin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 2 April - Juni 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.41 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i2.8465

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang terjadinya peristiwa Teppo dan proses terjadinya serta dampak yang ditimbulkan dari peristwa Teppo di Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap.Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis melalui tahapaan-tahapan meliputi Heuristik yaitu mengumpulkan sumber atau data sebanyak mungkin, kritik sumber yaitu untuk menentukan otentitas dan rehabilitas sumber-sumber yang telah dikumpulkan untuk mngetahui asli atau tidaknya sumber tersebut, Interpretasi yaitu menentukan kedudukan fakta sejarah secara profesional, serta Historiografi atau penyajian yang merupakan pengungkapan secara tertulis.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya Peristiwa Teppo yakni konflik yang terjadi antara kelompok masyarakat Teppo dan kelompok masyarakat Amparita yang dilatarbelakangi oleh adanya faktor sosial, faktor agama, dan factor kenakalan remaja. Peristiwa tersebut hanya berlansung selama satu hari pada tanggal 23 Mei 2013, dimulai dari aksi penikaman yang dilakukan oleh salah satu masyarakat Amparita hingga berlanjut pada malam hari. Adapun dampak yang ditimbulkan antara lain, dalam bidang sosial, dalam bidang ekonomi dan bidang pendidikan. Dalam bidang sosial, munculnya rasa takut dan perasaan benci antara kedua kelompok masyarakat. Dalam bidang ekonomi, terhentinya proses berjualan di Pasar Amparita serta ladang milik masyarakat tidak kelola untuk sementara waktu karena perasaan takut dan was-was. Dalam bidang pendidikan, proses belajar mengajar menjadi terganggu sehingga banyak siswa maupun guru yang memilih tidak masuk sekolah atau mengajar.Kata Kunci : Masyarakat Teppo , Proses Terjadinya Peristiwa Teppo dan Kecamatan Tellu Limpoe Kab Sidrap           AbstractThis is study aims to determine the background of Teppo events and the process of occurrence and impact of Teppo's event in Tellu Limpoe Sub-district of Sidrap Regency. This research is descriptive analysis by using the historical method through stages include Heuristik that collects the source or data as much as possible, source criticism is to determine the authenticity and rehabilitation of sources that have been collected to mngetahui original or not the source, Interpretation is determining the position of fact history professionally, and Historiography or presentation which is a written expression.The results of this study indicate that the occurrence of the Teppo event is the conflict between Teppo community group and Amparita society group which is motivated by social factors, religious factors and juvenile delinquency factor. The incident only lasted for one day on May 23, 2013, starting from the stabbing action conducted by one of the Amparita community to continue at night. As for the impact, among others, in the social field, in the field of economy and education. In the social field, the emergence of fear and hatred between the two groups of people. In the economic field, the cessation of the selling process at Amparita Market and the community owned fields did not manage for a while due to fear and anxiety. In the field of education, the learning process becomes disrupted so that many students and teachers who choose not to go to school or teaching. Keyword : Society Teppo , Teppo Event and District of Tellu Limpoe Sidrap Regency
Jejak Aroma Kopi Arabika di Massenrempulu 1970-2016 Muslimin, Ismail; Ahmadin, Ahmadin; Patahuddin, Patahuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - Maret 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.214 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.8520

Abstract

Penelitian ini membahas tentang latar belakang keberadaan pertanian kopi arabika, perkembangan pertanian kopi hingga dampak pertanian Kopi Arabika di Desa Benteng Alla Utara Kecamatan Baroko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan pertanian Kopi Arabika di Desa Benteng Alla Utara berawal pada tahun1750 setelah Belanda berhasil menjajah Desa Benteng Alla Utara. Perkembangan perkebunan kopi mulai digencarkan kembali ketika kedatangan Ir. Sugiyo yang berasal dari Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ir. Sugiyo adalah pegawai pertanian dari Jawa. Ir. Sugiyo memperkenalkan jenis Kopi Arabika yang memiliki kualitas yang baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Pertanian Kopi Arabika memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat di Desa Benteng Alla Utara yaitu penyediaan lapangan pekerjaan seperti adanya buruh musim dan buruh harian, adanya kepemilikan properti bagi petani Kopi Arabika, dan memberikan dampak bagi pendapatan daerah. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif.  Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan kajian pustaka dengan menggunakan metode sejarah melalui beberapa tahapan: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.Kata Kunci : Petani, Kopi Arabika, Desa Benteng Alla Utara                                                                
Petani Jeruk di Bumi Tanadoang 1979-2017 Ramadhan, Muh. Nur Fajri; Ahmadin, Ahmadin; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.351 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6709

Abstract

This paper attempt to provide an explanation of the description of orange farming in Batangmata Sapo. After having succes in rice self-sufficiency the government is giving more attention in the development of horticultural commodities. As well as South  Sulawesi region that increasing the economic growth and also develops a wide variety of business, one of them in the field of horticulture. Through the type of orange plant developed in the Luwu and Selayar areas. In 1979’s the coconut farmers was much higher more than of other cultivators. In the 1980’s people in this area are turning to cultivate oranges because that is considered more promising a better result than planting coconut. The Batangmata Sapo area that development the oranges agriculture for  the first time was in a village called Tamallua. Being farmed oranges is not always pan out, the disease and the season become a obstacle to farmers right now. This study is interesting to be studied because Batangmata Sapo is a center of orange production in Selayar Islands District because there are no one of researcher that looked at specifically. This research is a qualitative research with descriptive analysis approach, which consist of several stages namely: (1) Heuristic, by interviewing some orange  farmers such: Makmur, Taris, Muh. Daeng, Harundini. The archives collection at the Agriculture Department and Food Security of the Selayar Islands Regency, regarding orange production data in each year and also used a books that related to agriculture andorange crops such as Rahmat Rukmana's book entitled Tangerine farming (2) Criticism or the process of verifying the authenticity of historical sources. (3) Interpretation or interpretation of historical sources, and (4) Historiography, is the stage of historical writing.