Meirina Triharini
Program Studi Magister Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10, Bandung 40132

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendekatan One Village One Product (OVOP) untuk Mengembangkan Potensi Kerajinan Daerah. Studi Kasus: Kerajinan Gerabah di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta Triharini, Meirina; Larasati, Dwinita; Susanto, R.
Journal of Visual Art and Design Vol 6, No 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.103 KB) | DOI: 10.5614/itbj.vad.2014.6.1.4

Abstract

One Village One Product (OVOP) is a regional development approach that aims to promote the economy of a region. The concept of OVOP was origined from Oita, Japan, and adopted by various countries in the world. Indonesia through the Ministry of Industry since 2008 implementing OVOP program that aims to promote the potential of small and medium craft industry in the ten regions in Indonesia, including Purwakartawith its potential on decorative pottery and ceramic crafts. This study aims to evaluate the implementation of OVOP in Indonesia that has been ongoing since 2008 and make a recommendation for the development of potential handicrafts with OVOP approach by taking a case study in Plered, Purwakarta. In addition to the importance of consistency of government and public participation and oversight in implementing the program, the development of craft product design plays a very significant role. It is required for designers to have very strong roles to develop designs that can understand the market needs while maintaining the traditional values of craft and resolve the problems faced by the industry.
Kamasan: Goldsmith Tradisional Sunda Sjahroeddin, Busratul Mukmin; Sachari, Agus; Triharini, Meirina; DRSAS, Muhammad Ihsan
JURNAL RUPA Vol 3 No 2 (2018): Jurnal Rupa
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v3i2.1498

Abstract

Setiap budaya memiliki produk kerajinan sendiri yang dibuat oleh pengrajin khusus. Meski begitu, masyarakat luas di Indonesia saat ini tidak memperhatikan pengrajin tradisional sebagaimana mestinya. Banyak pengrajin tradisional telah diasingkan bahkan binasa dari komunitas mereka. Salah satu pengrajin tradisional yang telah ada dan dikenal di masyarakat orang Sunda adalah kamasan. Kamasan adalah nama tukang emas tradisional Sunda yang akan membuat perhiasan atau menanamkan logam mulia ke produk lain. Hari ini kehadiran kamasan hampir seperti mitos, bahkan pada masyarakat Sunda. Pertumbuhan yang cepat dan permintaan kuantitas yang lebih tinggi dari orang-orang Sunda yang tidak dapat dipenuhi oleh kamasan membuat mereka terbuang dari arus utama bisnis logam mulia dan perhiasan. Selain itu, inflasi ekonomi yang melanda global menyebabkan banyak kamasan mengubah profesi mereka. Dalam upaya menemukan kamasan yang masih ada di sekitar Bandung, pendekatan etnografis dilakukan di salah satu desa kamasan di Bandung selatan. Dari komunitas-komunitas itu akhirnya hanya ditemukan satu kamasan yang masih berlatih tukang emas sampai hari ini. Kamasan itu terus-menerus mempraktikkan tukang emas yang dikenal dalam budaya tradisional Sunda. Absennya pengrajin tradisional dari komunitasnya berdampak pada hilangnya berbagai pengetahuan budaya. Kondisi itu akan membuat komunitas terasing dari akar budaya dan kesadaran mereka sendiri.