p-Index From 2015 - 2020
6.739
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Katalogis JURNAL SISTEM INFORMASI BISNIS Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran SUPREMASI JURNAL Akuntansi dan Keuangan Prosiding Semnastek Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan/Journal of Fishery and Innovation (JSIPi) JEP (Jurnal Ekonomi Pembangunan) UHO Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Turbo : Jurnal Program Studi Teknik Mesin Jurnal Bidang Pendidikan Dasar Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology JCES (Journal of Character Education Society) SINTECH (Science and Information Technology) Journal IRJE (Indonesian Research Journal in Education) Indonesian Aquaculture Journal Jurnal Riset Akuakultur Media Akuakultur Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia JPF : JURNAL PENDIDIKAN FISIKA Jurnal SAINTEKOM Patria Artha Technological Journal JMM UNRAM - MASTER OF MANAGEMENT JOURNAL Jurnal Ilmiah Dikdaya JURNAL DUNIA KESMAS LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat JASa (Jurnal Akuntansi, Audit dan Sistem Informasi Akuntansi) Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Jurnal Kebidanan : Jurnal Medical Science Ilmu Kesehatan Akademi Kebidanan Budi Mulia Palembang Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Jurnal Mekanova Abdimas Universal Jurnal Civic Hukum JPPS (Jurnal Penelitian Pendidikan Sains) Jurnal Ilmiah Islamic Resources Jurnal Ilmiah Profesi pendidikan ILTEK : Jurnal Teknologi Jurnal Sains Komputer dan Teknologi Informasi
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Riset Akuakultur

PERFORMA BIBIT RUMPUT LAUT GRACILARIA VERRUCOSA HASIL KULTUR JARINGAN DENGAN BUDIDAYA METODE SEBAR (BROADCAST) DI TAMBAK KABUPATEN SINJAI Rosmiati, Rosmiati; Harlina, Harlina; Suryati, Emma; Daud, Rohama; Herlinah, Herlinah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.145-152

Abstract

Rumput laut Gracilaria verrucosa asal Kabupaten Sinjai memiliki kualitas paling rendah di antara semua sentra produksi Gracilaria sp. di Sulawesi Selatan. Hal ini salah satunya dikarenakan oleh bibit yang buruk. Penyediaan benih rumput laut yang berkualitas dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bibit hasil kultur jaringan. Perbanyakan bibit Gracilaria verucosa dapat dilakukan dengan menggunakan metode tali panjang long line maupun metode sebar (broadcast) di tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respons pertumbuhan, kandungan agar, dan kekuatan gel (gel strength) dari bibit G. verucosa hasil kultur jaringan di tambak Kabupaten Sinjai. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan dua perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan A (bibit kultur jaringan) dan B (bibit lokal) dengan berat awal masing-masing 10 kg. Pemeliharaan bibit dengan metode sebar dilakukan selama 30 hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian (DGR), kandungan agar dan gel strength bibit kultur jaringan dan bibit lokal menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Secara kuantitas hasil produksi bibit hasil kultur jaringan memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi daripada bibit lokal dengan berat akhir bibit 44,3 ± 4,16 kg hasil kultur jaringan dan 33,0 ± 4,35 kg lokal dengan DGR 4,97% bobot/hari (kultur jaringan) dan 3,90% bobot/hari (lokal). Secara kualitas bibit hasil kultur jaringan lebih baik dari bibit lokal, ditunjukkan dengan persentase kandungan agar bibit hasil kultur jaringan lebih tinggi daripada bibit lokal dengan rendemen agar 22,19 ± 2,45% (kultur jaringan) dan 16,50 ± 0,96% (lokal), sementara gel strength sebesar 204,20 ± 0,45 g/cm2 (hasil kultur jaringan) dan 128,10 ± 1,55 g/cm2 (bibit lokal).Seaweed Gracilaria verrucosa from Sinjai Regency has the lowest quality among all Gracilaria sp. Production centers in South Sulawesi due to the low quality of the seed. The seed quality can be improved using seed selection, followed by tissue-culture methods. Long-line and broadcast methods in brackishwater ponds are the efficient seaweed culture techniques to multiply the number of Gracilaria verrucosa seeds. This research was aimed to determine growth performance, gel content, and gel strength of seeds produced from tissue-culture and local seaweed farming. The experiment consisted of two treatments: treatment A (cells culture seed) and B (local seed) with the initial weight of 10 kg, each has three replicates. Both seeds were stocked and reared in the ponds using the broadcast method for 30 days. The results of DGR, gel content and gel strength showed a significant difference between tissue-cultured and local seeds (P<0.05). The tissue-cultured seed had better growth than the local seed with 4.97% mass/day for tissue-cultured seed and 3.90 mass/day for local seed. The tissue-culture seed also had better quality in agar content and gel strength. The agar content of tissue-cultured was 22.19 ± 2.45% and the local was 16.50 ± 0.96%. The gel strength of tissue-culture was 204.20 ± 0.45 g/cm2, and the local was 128.10 ± 1.55 g/cm2.
KULTUR JARINGAN RUMPUT LAUT (Gracillaria sp.) DARI SUMBER TALLUS YANG BERBEDA LOKASI Suryati, Emma; Rosmiati, Rosmiati; Parenrengi, Andi; Tenriulo, Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.028 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.143-147

Abstract

Dalam rangka perbaikan mutu benih Gracillaria sp., telah dilakukan beberapa upaya antara teknik kultur jaringan atau propagasi rumput laut secara in vitro yang bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan eksplan rumput laut yang berkualitas tinggi secara vegetatif. Media tumbuh yang digunakan dalam perbanyakan rumput laut Gracillaria sp. adalah media yang diperkaya dengan PES 1/20. Sumber benih yang digunakan berasal dari Jepara, Sinjai, Takalar, Barru, dan Palopo. Jumlah tunas dan panjang tunas yang paling baik di laboratorium antara lain yang berasal dari Jepara dan Sinjai. Hasil aklimatisasi di tambak memperlihatkan bahwa sumber benih yang berasal dari Jepara menghasilkan jumlah tunas yang paling baik sedangkan panjang tunas yang paling baik berasal dari Belopa. Sedangkan pada aklimatisasi di KJA memperlihatkan jumlah tunas yang paling baik berasal dari Palopo dan pertumbuhan panjang tunas yang paling baik adalah dari Takalar. Secara keseluruhan hasil aklimatisasi di lapangan memperlihatkan pertumbuhan benih rumput laut hasil kultur in vitro di laboratorium lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan rumput laut yang berasal dari alam tanpa melalui kultur in vitro.Several efforts to improve the quality of Gracillaria sp. seed were conducted i.e; trough in vitro tissue culture technique on propagation of seaweed to find out technique of multiplication of the vegetative high quality seaweed seed. The culture medium used for multiplication of seaweed seed is medium enriched with PES 1/20.  Seed source used were collected from Jepara, Sinjai, Takalar, Barru, and Palopo. The best amount and length of bud on the in vitro culture at laboratory are seed collected from Jepara and Sinjai. The result of acclimatization in pond showed that seeds collected from Jepara resulted the best amount bud, meanwhile seed collected from Belopa displayed the best length bud. On the other hand, the acclimatization in floating net cage exhibited that seed collected from Palopo showed the best amount bud and seed collected from Takalar showed the best growth of length bud. In general, the acclimatization result in field exhibited the growth of seaweed seed of in vitro culture at laboratory is better than that of nature without in vitro culture.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AAPTAMINOID DARI AAPTOS AAPTOS DAN POTENSI PEMANFAATANNYA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI VIBRIO HARVEYI Rosmiati, Rosmiati; Nurhoidayah, Nurhidayah; Suryati, Emma; Parenrengi, Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.%p

Abstract

Sponge Aaptos aaptos diketahui mengandung senyawa turunan aaptaminoid yang dapat digunakan sebagai sumber antibakterial alami tanpa efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa bioaktif dari ekstrak butanol Aaptos aaptos yang efektif menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi dan mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif dalam pencegahan infeksi V. harveyi. Ekstraksi metabolit sekunder menggunakan metode maserasi, sementara isolasi dan identifikasi senyawa aaptaminoid dengan metode kolom kromatografi dan spektroskopi. Uji aktivitas antibakterial menggunakan metode difusi agar dengan paper disc. Evaluasi kemampuan senyawa aktif dalam pencegahan vibriosis menggunakan metode eksperimental dengan empat perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan hewan uji Litopenaeus vannamei sebanyak 10 ekor/akuarium. Dosis senyawa aktif yang digunakan yaitu; A) 0 µg/g berat badan (bb); B) 0,67 µg/g bb; C) 25 µg/g bb; dan D) 50 µg/g bb. Penyuntikan 100 µL senyawa aktif pada masing-masing dosis tersebut dilakukan pada awal penelitian dan setelah 14 hari pemeliharaan, udang diuji tantang dengan V. harveyi pada kepadatan 107 CFU/mL Pemeliharaan udang dilanjutkan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan morfologi udang berupa telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda memerah sebagai tanda-tanda udang terinfeksi mulai diamati pada 23 jam pasca penginfeksian. Udang pada perlakuan C dan D mulai pulih dari infeksi pada hari keempat yang ditandai oleh telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda yang normal. Selain itu, perlakuan D juga menunjukkan nilai sintasan udang tertinggi (50%), sementara perlakuan C memberikan sintasan sebesar 25%. Sebaliknya pada perlakuan B dan A (kontrol) udang sudah mengalami kematian 100% sebelum 24 jam pasca penginfeksian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa aaptaminoid pada dosis e? 25 µg/g bb dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif untuk pencegahan vibriosis.Aaptos aaptos contains aaptaminoid widely known as a natural antibacterial without any side effect. This recent research aimed to extract bioactive compounds from butanol extract of Aaptos aaptos and determined its efficacy to inhibit the growth and prevent the infection of Vibrio harveyi. The extraction of secondary metabolites used maceration method, while isolation and identification of aaptaminoid used column chromatography and spectroscopy methods. The antibacterial test against V. harveyi used agar diffusion method using paper disc. The evaluation of the active compound during the vibrio challenge test used an experimental method with four treatments. Each treatment used whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei of 10 ind./aquarium. Dosages of the active compound used were A) 0 µg/g bb, B) 0.67 µg/g bb, C) 25 µg/g bb, and D) 50 µg/g bb. The injection of 100 µL of each bioactive compound was carried out at the initial experiment and on day 14 after challenged with V. harveyi at the density of 107 CFU/mL. The shrimps was reared for an additional seven days. The findings showed that the infection on shrimps started on 23 hours post-injection of V. harveyi indicated by the reddish color of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The shrimps in treatment C and D were able to recover from the infection started on the day-4 post-infection exhibited by the back to the normal condition of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The highest survival rate post-infection was obtained by shrimp in treatment D (50%) followed by treatment C (25 %). In turn, shrimps on treatment A and B had 100% mortality within 24 hours post-infection. This research concludes that aaptaminoid can be developed as an antibacterial agent for vibriosis prevention with an optimal dosage of e? 25 µg/g bb.
Co-Authors Aditya Rahman Aedy, Hasan Ahmad Harjono ahmad yani Ahmad, Aziz Ambo Wonua Nusantara, Ambo Wonua Andi Parenrengi Andi Tenriulo Aryanti Wardiyah, Aryanti Bahari, Syahrul Bayong Tjasyono Bistari, Bistari Budi Jatmiko Budi Susanto Caturini, Yuli Daud, Rohama Donny Teguh Santosa Junias Eddy Haryanto Ekawarna Ekawarna, Ekawarna Emma Suryati Erwin Erwin GHAFAR, ABDOEL Harlina Harlina herlinah herlinah, herlinah Hermanto Hermanto Herry Goenawan Soedarsa Hikmawati Hikmawati Hutabarat, Zuhri Saputra Ibnu Widiyanto Ibrahim, Tayeb Ismail, Noraznawati Kamal, Kamal La Sara Laka, Agustinus Lestari, Ainun Ayu Lili Rusdiana, Lili Liliasari Liliasari Madlazim Madlazim Mahi, Faizah Masykur, Masykur Mohamad, Farida Mohamad, Habsah Mohammad, Habsah Muhammad Yunus Muhammad, Tengku Sifzizul Tengku Muhdar Muhdar, Muhdar Muliani Muliani, Muliani Munawar Munawar Musa, Najiah Muslimin, Muhammad Basir Mustafid Mustafid Mustari Mustari Norhayati Norhayati, Norhayati Nur Alamsyah, Nur Nuralamsyah, Nuralamsyah Nurhidayah Nurhidayah Nurhoidayah, Nurhidayah Petrus Rani Pong-Masak Ramalis, T R Raudah Raudah Rohmad Widodo, Rohmad Samuel Lante, Samuel Saputri, Ekawati Satriawan, M Satriawan, Muhammad silvia sayu Sugianoor, Dhehen Sukirman Sukirman Sulaeman Sulaeman Sulistyowati Sulistyowati Supriadi Supriadi Syarifuddin, Rizal Tabroni, Tabroni Taufik Ramlan Ramalis Tedy Tulak, Grace Thatok Asmony, Thatok Thoha Firdaus, Thoha Tjaronge, Muhammad Tjasyono, B Tompo, Arifuddin Trisakti Handayani Ulum Janah, Ulum Wahyu Susanti, Risqi wahyuni wahyuni Yusnaini Yusnaini