Articles

Found 15 Documents
Search

KINETIKA DAN EFEKTIFITAS PENGERINGAN LAPIS TIPIS ASAM GELUGUR (GARCINIA ATROVIRIDIS ) MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE EVACUATED TUBE Dina, Sari Farah; Naufa, Marisa; Limbong, Harry Parulian; Sipahutar, Edwin H.; Tanjung, Zupri A.I.
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 30, No 2 (2019): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28959/jdpi.v30i2.5221

Abstract

Asam gelugur (Garcinia atroviridis) merupakan tumbuhan yang telah menjadi popular karena nilai eknomis dan medisnya. Oleh karenanya untuk menjaga dan meningkatkan nilai-nilai tersebut, biasanya setelah dipanen asam gelugur harus segera dikeringkan secara tepat. Studi ini mempelajari kinetika pengeringan asam gelugur menggunakan pengering surya jenis kolektor tabung vakum baik secara konveksi paksa maupun alamiah (kecepatan udara 0 m/det, 3 m/det, 3,5 m/det dan 4 m/det). Pengeringan dilakukan dari kadar air awal 90,6% hingga mencapai 10 ? 12% dengan waktu pengeringan berlangsung dari jam 09:00 sampai dengan jam 16:30. Selama pengeringan berlangsung, data penurunan berat asam gelugur, intensitas radiasi matahari dan temperatur diukur dan dicatat. Penurunan berat asam gelugur selama pengeringan dinyatakan dalam rasio kadar air (MR) yang dicocokkan pada empat model matematika yang berbeda. Koefisien determinasi (R²) dan parameter statistik lainnya, seperti pengurangan chi-square (x²), root mean square error (RMSE) dan mean bias error (MBE) digunakan untuk menentukan model yang paling cocok. Hasil percobaan menunjukkan bahwa laju pengeringan berbanding lurus dengan intensitas radiasi matahari dan kecepatan udara pada ruang pengering. Pengeringan paling cepat dihasilkan pada kondisi kecepatan udara 3,5 m/det dengan waktu pengeringan 5,5 jam yakni dari jam 11:00 sampai dengan jam 16:30. Hasil pencocokan model matematika pengeringan asam gelugur yang paling mendekati adalah model Wang & Singh sesuai persamaan MR = 1 - 0,0035.t + 0,000002.t2, dengan nilai koefisien regresi 0,9999 dan nilai RMSE dan MBE berturut-turut 0,0074, dan 0,0006.
Studi Eksperimental dan Pemodelan Matematika Proses Pengeringan Kakao Energi Surya Secara Intermittent Putra, Haznam; Napitupulu, Farrel H; Ambarita, Himsar; Dina, Sari Farah
CYLINDER Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : CYLINDER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this research, the behavior of cocoa drying using solar dryers have been studied. Experiments conducted on drying cocoa beans that have been fermented first. Cocoa plantations are taken from the area around North Sumatra - Indonesia. Solar energy is used as a source of energy that save and clean for drying. Cocoa is a mainstay in Indonesian commodities, but the quality of the current generated is relatively low. As the aims of this research is gain quality with mathematical modeling of drying by producing good quality cocoa. Preparation phase starts from cocoa fermentation process. With some testing times cocoa taken one test where the results of fermented cocoa that has been washed and dried from water content 55.83% to 7.01% (db), which lasted for 3 (three) days ie, 22 to 24 April 2013 from at 7:00 to 17:00 pm (intermittent). The study was conducted at the Solar Energy Laboratory, Faculty of Engineering Department of Mechanical Engineering of North Sumatra University Medan. It is located in Medan city with the position of 33.6 ° N - 98.4 ° W, altitude 200 meters above sea level and meridian time (GMT +7). From the experimental results obtained experimental equation mathematical model for intermittent drying of cocoa, with the value being the value of the diffusivity coefficient of 1.39 x 10^-10 to 1.85 x 10^-10 m^2/sec, besides the quality of the dried cocoa in this study better than dried cacao directly under the sun.
Potensi spent pot lining (Spl) olahan dari limbah industri peleburan Alumunium dengan proses pemanggangan (roasting) bebas oksigen Sebagai bahan bakar Dina, Sari Farah; ., Azriadi; Sitindaon, Pander
Jurnal Riset Industri Vol 3, No 1 (2009):
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1365.698 KB)

Abstract

Telah dilakukan percobaan pengolahan spent  potlinig (SPL) skala laboratorium mengunakan proses pemanggangan (roasting) bebas oksigen skala laboratorium.pengolahan bertujuan untuk menurunkan kandungan sianida dan flourida sehingga mecapai tingkat yang aman bagi lingkungan,sehinga  SPL  hasil pengolahan yang mengandung unsur utama karbon dapat dimanfaatkan kembali untuk bebagai kepentingan diantaranya sebagai bahan bakar.    Proses  pemanggangan dilakukan pada kondisi ukuran SPL  4-5  cm (pada berbagai sisi), temperatur 200-600 0c dan waktu 10-20 menit.tehjadap sampel  SPL dilakukan analisa sifat kimia (kadar karbon, CN, f, Na, S dan Abu) sehubungan dengan pengunaan akhir SPL  hasil pengolahan sempel dengan penurunan kandungan sianida dan flourida yang optimum di uji nilai kalornya.Kondisi terabiak dalam penelitian ini dicapai pada temperatur 600 0C dan waktu 20 menit yakni SPL hasil pengolahan dengan penurunan kandungan sianida dari 910 ppm menjadi 20 ppm;  penurunan flourida dari 13.4 ppm menjadi 6.4 ppm nilai kalor yang diperoleh adalah 5400 kkal/kg kondisi ini telah aman bagi lingkungan dan SPL hasil pengolahan dapat di manfaatkan sebagai bahan bakar padat.
PENGHEMATAN ENERGI DI INDUSTRI KERTAS MELALUI PERBAIKAN KONDISI PROSES DAN/ATAU MODIFIKASI UNIT DRYING Dina, Sari Farah; Napitupulu, Farel H; Ambarita, Himsar
Jurnal Riset Industri Vol 4, No 2 (2010): Konservasi Energi
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.664 KB)

Abstract

Drying unit mesin kertas sebagai konsumen energi terbesar di mesin kertas merupakan unit proses yang menggunakan steam untuk menguapkan air kertas. Secara menyeluruh, biaya energi di industri pulp dan kertas merupakan biaya tertinggi kedua setelah biaya bahan baku. Karenanya berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan biaya energi sejalan dengan meningkatnya harga dan terbatasnya persediaan bahan bakar. Langkah awal untuk mendapatkan gambaran performans suatu drying unit adalah dengan menentukan konsumsi energi spesifik (KES). KES yang diperoleh dinyatakan sebagai KES dan dilakukan benchmarking terhadap pabrik lain di luar negeri yang diperoleh dari literature. Atas dasar evaluasi KES dilakukan kajian penghematan energi melalui upaya optimalisasi kadar air lembaran kertas sebelum dan sesudah drying unit, sistem penanganan udara dan/atau modifikasi unit drying dengan cara mengaplikasikan sistem termokompresi. Hasil evaluasi pada 5 (lima) pabrik kertas di Indonesia menunjukkan bahwa KES dipengaruhi oleh kecepatan mesin, kadar air kertas masuk drying unit, kadar akhir produk, sistem penanganan udara, laju kebocoran udara pada sistem hood. KES dalam ton steam per ton air teruapkan dari pabrik yang memproduksi kertas grematur rendah (pabrik A dan B) mendekati nilai standar (1,30), tetapi pabrik yang memproduksi kertas grematur tinggi (C, D dan E) berada jauh di atas standar. Kecuali pabrik yang memproduksi chipboard (pabrik E), semua pabrik memiliki KES dalam ton steam per ton produk berada dalam rentang standar (1,8-2,2). Penurunan kadar air kertas masuk sebesar 3% seperti yang dilakukan pabrik B telah mampu menurunkan konsumsi steam sekitar 12%. Penaikan kadar air produk dari 4% menjadi 5% dapat menurunkan konsumsi steam sebesar 1%. Pada sistem closed-hood (pabrik B), laju kebocoran udara masih berada diatas kondisi standar (48% vs maksimum 30%). Kajian teoritis tentang aplikasi sistem termokompresi pada salah satu group dryer pabrik C dapat menghemat steam sekitar 5%.Kata kunci: penghematan energi, pabrik kertas, unit drying, konsumsi energi spesifik (KES).
STUDI EKSPERIMENTAL DAN PEMODELAN MATEMATIKA PROSES PENGERINGAN KAKAO DENGAN ENERGI SURYA SECARA INTERMITTEN Putra, Haznam; Napitupulu, Farrel H; Ambarita, Himsar; Dina, Sari Farah
Jurnal Litbang Industri Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v4i1.644.49-57

Abstract

In this research, the behaviors of cocoa drying using solar dryers have been studied. Cocoa was taken from plantation area around North Sumatra - Indonesia. Solar energy is used as a source of energy that save and clean for drying. Cocoa is a mainstay in Indonesian commodities, but quality of the current generated is relatively low. The aims of this research to gain the quality with mathematical modelling of drying by producing a good quality of cocoa. Preparation phase started from cocoa fermentation process. With some testing times, it was taken one test where the results of fermented cocoa that had been washed and dried from water content 55.83% to 7.01%, which lasted for three days, 22 to 24 April 2013 from at 7:00 to 17:00 pm (intermittent). The study was conducted at the Solar Energy Laboratory, Faculty of Engineering Department of Mechanical Engineering of North Sumatra University Medan. It is located in Medan city with the position of 3.36 ° N - 98.4 ° E, altitude 200 meters above sea level and meridian time (GMT +7). From the experimental results obtained an experimental equation mathematical model for intermittent drying of cocoa, with the value of diffusivity coefficient was between 1.39 x10-10 to 1.85 x10-10 m2/sec, besides the quality of the dried cocoa in this study was better in colour and not moldy than dried cacao directly under the sun. ABSTRAK Pada penelitian ini, perilaku pengeringan menggunakan pengering kakao tenaga surya telah dilakukan. Kakao diambil dari perkebunan di sekitar daerah Sumatera Utara ? Indonesia. Energi surya digunakan sebagai sumber energi pengeringan yang hemat dan bersih. Kakao merupakan komoditi andalan di Indonesia hanya saja mutu yang saat ini dihasilkan masih terbilang rendah. Penelitian ini bertujuan mendapatkan persamaan pengeringan dengan pemodelan matematika untuk menghasilkan mutu kakao yang baik. Tahap preparasi dimulai dari proses fermentasi kakao. Dengan beberapa kali pengujian kakao, diambil hasil salah satu pengujian dimana hasil fermentasi kakao yang telah dicuci kemudian dikeringkan dari kadar air 55,83% menjadi 7,01% yang berlangsung selama tiga hari yakni 22?24 April 2013 dari pukul 07.00 ? 17.00 WIB (Intermitten).  Penelitian dilakukan di Laboratorium Solar Energi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Medan yang berada di kota Medan dengan posisi 3.36 °LU ? 98.4 °BT, ketinggian di atas permukaan laut 200 meter dan waktu meridian (7 + GMT). Dari hasil percobaan percobaan didapat persamaan model matematika untuk pengeringan kakao secara intermitten, dengan nilai koefisien difusifitas berada pada nilai 1,39 x10-10 ? 1,85 x10-10 m2/detik, selain itu kualitas kakao yang dikeringkan lebih baik dari segi warna dan tidak berjamur dibandingkan dengan kakao yang dikeringkan secara langsung dibawah sinar matahari.
Studi Eksperimental dan Pemodelan Matematika Proses Pengeringan Kakao Dengan Energi Surya Secara Intermitten Putra, Haznam; Napitupulu, Farrel H; Ambarita, Himsar; Dina, Sari Farah
Jurnal Litbang Industri Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2114.676 KB) | DOI: 10.24960/jli.v4i1.644.49-57

Abstract

In this research, the behaviors of cocoa drying using solar dryers have been studied. Cocoa was taken from plantation area around North Sumatra - Indonesia. Solar energy is used as a source of energy that save and clean for drying. Cocoa is a mainstay in Indonesian commodities, but quality of the current generated is relatively low. The aims of this research to gain the quality with mathematical modelling of drying by producing a good quality of cocoa. Preparation phase started from cocoa fermentation process. With some testing times, it was taken one test where the results of fermented cocoa that had been washed and dried from water content 55.83% to 7.01%, which lasted for three days, 22 to 24 April 2013 from at 7:00 to 17:00 pm (intermittent). The study was conducted at the Solar Energy Laboratory, Faculty of Engineering Department of Mechanical Engineering of North Sumatra University Medan. It is located in Medan city with the position of 3.36 ° N - 98.4 ° E, altitude 200 meters above sea level and meridian time (GMT +7). From the experimental results obtained an experimental equation mathematical model for intermittent drying of cocoa, with the value of diffusivity coefficient was between 1.39 x10-10 to 1.85 x10-10 m2/sec, besides the quality of the dried cocoa in this study was better in colour and not moldy than dried cacao directly under the sun. ABSTRAK Pada penelitian ini, perilaku pengeringan menggunakan pengering kakao tenaga surya telah dilakukan. Kakao diambil dari perkebunan di sekitar daerah Sumatera Utara – Indonesia. Energi surya digunakan sebagai sumber energi pengeringan yang hemat dan bersih. Kakao merupakan komoditi andalan di Indonesia hanya saja mutu yang saat ini dihasilkan masih terbilang rendah. Penelitian ini bertujuan mendapatkan persamaan pengeringan dengan pemodelan matematika untuk menghasilkan mutu kakao yang baik. Tahap preparasi dimulai dari proses fermentasi kakao. Dengan beberapa kali pengujian kakao, diambil hasil salah satu pengujian dimana hasil fermentasi kakao yang telah dicuci kemudian dikeringkan dari kadar air 55,83% menjadi 7,01% yang berlangsung selama tiga hari yakni 22–24 April 2013 dari pukul 07.00 – 17.00 WIB (Intermitten).  Penelitian dilakukan di Laboratorium Solar Energi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Medan yang berada di kota Medan dengan posisi 3.36 °LU – 98.4 °BT, ketinggian di atas permukaan laut 200 meter dan waktu meridian (7 + GMT). Dari hasil percobaan percobaan didapat persamaan model matematika untuk pengeringan kakao secara intermitten, dengan nilai koefisien difusifitas berada pada nilai 1,39 x10-10 – 1,85 x10-10 m2/detik, selain itu kualitas kakao yang dikeringkan lebih baik dari segi warna dan tidak berjamur dibandingkan dengan kakao yang dikeringkan secara langsung dibawah sinar matahari.
RANCANG BANGUN DAN UJICOBA PENGERING SURYA TIPE KOLEKTOR TABUNG VAKUM (EVACUATED TUBE COLLECTOR) Dina, Sari Farah; Rambe, Siti Masriani; Azwardi, Azwardi; Sipahutar, Edwin Harianto
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 29, No 1 (2018): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1274.233 KB) | DOI: 10.28959/jdpi.v29i1.3919

Abstract

Research of design of solar dryer with evacuated tube collector for drying coffee bean has been done. This research is done through the stage of formulation, design, circuit and testing tools using coffee as material to be dried.Test results of a solar dryer designed then is being used for drying coffee bean (moisture content  from 52.80% to 12.30%), with forced convection system which the air speed are varied of 2-6 m/sec. During the drying process, the average weather conditions are in the range 143-855 Watt / m2, ambient temperature of 28-36 °C. The air temperature in the collector are 85-192 °C and the temperature in the drying chamber are 35-78 °C. The results showed that air drying velocity is directly proportional to the drying rate and collector efficiency but inversely to drying time and specific energy consumption (SEC).
PENGGUNAAN SURFAKTAN PADA PROSES BIODEINKING KETAS BEKAS PERKANTORAN UNTUK KERTAS CETAK Dina, Sari Farah; Elyani, Nina
JURNAL SELULOSA Vol 44, No 01 (2009): BERITA SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5791.124 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v44i01.144

Abstract

The experiment of surfactant usage in biodeinking process for sorted white ledge (SWL) has been done. Biodeinking processes were carried out in waterbath shaker up to 20 SR and 26 SR freeness at consistency of 25% temperature of 50 ± 5oC, pH 6,5 – 7,0, for 2 hours and 3 hours reaction time. Cellulase addition was varied at 0-0,6% at a constant surfactant of 1,0%. The flotation stage was carried out for 20 minutes at a consistency of 0,8% temperature of 50 ± 5oC and the dosage of collector was 0,08%. The stock was then washed until neutral pH and creened in sommerville screen (150emsh) to remove a small ink particles that was still retained on the treated stock fiber. Handsheets of 60 g/m² made from biodeinking pulp were then tested for dirt count, brightness, tensile index and tear index. The test result showed that the use of SWL- biodeinking pulp up to 30% met the requitment of apacity and water absorption (Cobb). The handsheets caliper still did not meet the satndard yet. The handsheets brightness were lower than standard since the brightness of LBKP used was also low. Although the pH of handsheets were neutral/slighty alkaline (7,0 -7,2), it still did not meet the requirement, i.e. 7.5-8.5.Keywords: waste paper, sorted white ledge(SWL), biodeinking, combined enzyme-surfactant deinking, printing paper propertiesINTISARITelah dilakukan Percobaan penggunaan surfaktan pada proses biodeinking untuk mengolah sorted white ledger (SWL) dengan dua target freeness yakni: 20 dan 26 SR. Reaksi enzim dilakukan di dalam waterbath-shaker pada konsistensi 25% suhu konstant 50 ± 5oC, pH 6,5 - 7,0,dengan waktu reaksi divariasikan: 2 jam dan 3 jam waktu reaksi. Selain selulase bervariasi di 0-0,6% pada surfaktan konstan 1,0%. Tahap flotasi dilakukan selama 20 menit pada konsistensi 0,8% dan suhu 50 ± 5oC. Pada tahap ini ditambah kolektor sebanyak 0,08% terhadap berat kering serat. Stok hasil flotasi disaring menggunakan penyaring Sommervillen (150 menit) untuk menghilangkan sisa partikel tinta kecil yang masih tertinggal dalam serat. Pulp hasil biodeinking dibuat lembaran tangan (60g/m²) dan dievaluasi sifat optik, noda, dan fisik/ekkuatannya. Hasil pengujian lembaran menunjukkan bahwa penambahan pulp SWL hasil biodeinking mkasimum 30% masih dapat memenuhi persyaratan kualitas kertas cetak ditinjau dari opasitas dan daya serap air (Cobb). Tebal lembaran masih belum memenuhi persyaratan.derajat putih LBKP yang rendah yang menjadi penyebabnya. Meskipun pH lembaran sudah ada pada posisi netral / sedikit alkali (7,0 -7,2), itu masih tidak memenuhi persyaratan, yaitu 7,5-8,5.Kata kunci: kertas bekas, Sorted White Ledger (SWL), biodeinking, deinking kombinasi enzim-surfaktan, sifat kertas cetak
BIOREFINING SEBAGAI SALAH SATU TEKNOLOGI ALTERNATIF PADA PROSES PENGGILINGAN SERAT Dina, Sari Farah; Elyani, Nina; Rozikin, Hoiror; Kusumawati, Lis
JURNAL SELULOSA Vol 42, No 01 (2007): BERITA SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.927 KB)

Abstract

The experiments of refining for long fibers bleached pulp using commercial cellulase enzyme (biorefining) has been done. Biorefining was carried out at consistency 1.5 %, pH 7.5, temperature 50 ± 5 °C, and freeness target 350 ml CSF. Cellulase addition varied at 0 – 0.6 % to fibers dry weight. The results showed that cellulase improves formation, brightness, and tensile index. But opacity, porosity, and  tearing index decrease. Time for refining decrease with increasing of cellulase addition.  At 0.4 cellulase addition the optimum improvements of sheet quality and energy saving observed.
PENGGUNAAN ROSIN KATIONIK – PAC UNTUK PENDARIHAN PADA pH NETRAL Elyani, Nina; Dina, Sari Farah
JURNAL SELULOSA Vol 41, No 01 (2006): BERITA SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.114 KB)

Abstract

An experiment of neutral sizing with cationic rosin and poly aluminium chloride (PAC) as a fixing agent has been done using a mixture of 5 % NBKP, 65 % LBKP and 30 % trim waste. Clay of 10 % and cationic polyacrilamide of 0,1% based on OD fiber were added. Cationic rosin and PAC were varied in the range of 1-2%. The result showed thad neutral sizing with cationic rosin – PAC ratio of 1 : 1 was effective resulting a handsheet with Cabb60  size, tensile index, tearing index and folding endurance of 18,56 g/m2, 38.56 Nm/g, 6,77 Nm2/kg and 100 times respectively. Intisari         Penelitian penggunaan rosin kationik pada proses pendarihan pH netral dengan PAC (poly aluminium chloride) sebagai bahan pengendap telah dilakukan. Pada penelitian ini bahan baku  yang digunakan adalah campuran dari NBKP 5%, LBKP 65% dan sisiran kertas 30% kemudian ditambahkan kaolin 10%, rosin kationik (1-2%) : PAC (1-2%) serta poliakrilamida kationik 0,1% terhadap berat kering serat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pendarihan pada pH  netral dengan penambahan rosin kationik 1% dan PAC 1% menghasilkan efek pendarihan yang baik yaitu dengan hasil uji Cobb60  sebesar    18,56 g/m2, indek tarik : 38,83 Nm/g, indeks sobek : 6,77 Nm2/kg, dan ketahanan lipat 100 kali.