Articles

Found 9 Documents
Search

STIGMAST-5(6)-EN-3(6)-OL DARI HERBA TUMBUHAN KROKOT (LYGODIUM MICROPHYLLUM) Kuncoro, Hadi; Farabi, Kindi; Julaeha, Euis; Rijai, Laode; Supratman, Unang
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 1, No. 1, Mei 2015
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.678 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v0i0.3152

Abstract

A steroid, stigma-5(6)-en-3?-ol or ?-sitosterol (1) had been isolated from a n-hexane extract of the Krokot plant herb (Lygodium microphyllum). The chemical structure of 1 was identified on the basis of spectroscopic evidences and by comparison with those of spectra data previously reported. The investigation of steroid, stigma-5(6)-en-3?-ol was from L. microphyllum plant was reported inthis research for first time.DOI :http://dx.doi.org/10.15408/jkv.v0i0.3152
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Kuncoro, Hadi; Suntoro, Irawan; Kandar, Supomo
9 772338317006
Publisher : Program Studi Magister Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to describe the principal roles in implementing 2013 Curriculum, with the following sub-focus: the principal roles as an educator, as a supervisor, as a manager, as a facilitator, and constraints in implementing 2013 Curriculum. This study was conducted in Public Junior High School (SMPN) 1 Gisting in Tanggamus District, using descriptive qualitative approach with phenomenological method. The data were then analyzed and presented in the form of narrative description. Analyzed was based on the results of interviews, observation and documentation of the facts and events. Results of this study are: (1) the role of the principal as an educator in implementing 2013 Curriculum, (2) the role of the principal as a supervisor in implementing 2013 Curriculum, (3) the role of the principal as a manager in implementing 2013 Curriculum, (4) the role of the principal as a facilitator in implementing 2013 Curriculum, and (5) constraints in implementing 2013 Curriculum comprised two factors: teachers and availability of supporting materials.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran utama dalam melaksanakan Kurikulum 2013, dengan mengikuti sub-fokus: peran utama sebagai pendidik, sebagai pengawas, sebagai manajer, sebagai fasilitator, dan kendala dalam melaksanakan Kurikulum 2013. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri (SMPN) 1 Gisting di Kabupaten Tanggamus, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologis. Data kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk deskripsi narasi. Analisis berdasarkan wawancara, observasi dan dokumentasi fakta dan peristiwa. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) peran kepala sekolah sebagai pendidik dalam melaksanakan Kurikulum 2013, (2) peran kepala sekolah sebagai pengawas dalam melaksanakan Kurikulum 2013, (3) peran kepala sekolah sebagai manajer dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013, (4) peran kepala sekolah sebagai fasilitator dalam melaksanakan Kurikulum 2013, dan (5) kendala dalam melaksanakan Kurikulum 2013 terdiri dari dua faktor: guru dan ketersediaan bahan pendukung.Kata kunci: implementasi, kurikulum 2013, peran kepala sekolah
JAMUR ENDOFIT, BIODIVERSITAS, POTENSI DAN PROSPEK PENGGUNAANNYA SEBAGAI SUMBER BAHAN OBAT BARU Kuncoro, Hadi; Sugijanto, Noor Erma
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 3 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.651 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i3.35

Abstract

Endhophytes microbes are microbes that live in colonies formed in plant tissues without harming its host plant. Endhophytes was first reported in 1904. Each higher plants may contain some Endhophytes microbes that produce secondary metabolites as a product of coevolution or genetic transfer occurred (genetic recombination) from its host plants to microbial Endhophytes. Endhophytes originating from areas with high biodiversity have the potential to generate chemical diversity is also high and has a future economic prospects. Key words : Endhophytes, genetic transfer, biodiversity   ABSTRAK Mikroba Endofit adalah mikroba yang hidup membentuk koloni di dalam jaringan tanaman tanpa membahayakan tanaman inangnya. Endofit dilaporkan pertama kali pada tahun 1904. Setiap tanaman tingkat tinggi dapat mengandung beberapa mikroba endofit yang menghasilkan metabolit sekunder sebagai akibat koevolusi atau terjadi transfer genetik (genetic recombination) dari tanaman inangnya ke mikroba endofit. Endofit yang berasal dari daerah dengan biodiversitas tinggi memiliki potensi menghasilkan keanekaragaman kimiawi yang juga tinggi dan mempunyai prospek ekonomi dimasa depan. Kata kunci : Endofit, transfer genetik, biodiversitas.
EFEK PEMBERIAN α-MANGOSTIN DARI GARCINIA TETRANDA PIERRE TERHADAP MORFOLOGI P.FALCIPARUM Kuncoro, Hadi
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 2 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.229 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i2.16

Abstract

ABSTRACT   Morphological changes assay to P. falciparum from the effects of α-mangostin from G. tetranda using TEM methods has been done. This test aims to determine the effect of mangostin on P. falciparum by observing morphological ultrastructure of P. falciparum using transmission electron microscope (TEM). α-Mangostin known to cause morphological changes in ultrastructure of P.falciparum after contact with α- mangostin on the 12 and 24 hour.   Key words: α- Mangostin, G. tetranda, P. falciparum, Transmission Electron microscope (TEM)     ABSTRAK   Telah dilakukan pengujian terhadap perubahan morfologi P. falciparum akibat efek pemberian α-mangostin dari G. tetranda menggunakan metode TEM. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian mangostin kepada P. falciparum dengan melakukan pengamatan ultrastruktur dari morfologi P. falciparum menggunakan Mikroskop Elektron transmisi (TEM). Diketahui α-Mangostin menyebabkan perubahan morfologi pada ultrastruktur dari P.falciparum setelah pemberian α-mangostin pada jam ke 12 dan 24.   Kata Kunci: α-Mangostin, G. tetranda, P. falciparum, Mikroskop Elektron Transmisi.
MEKANISME AKSI α-MANGOSTIN DARI GARCINIA TETRANDA PIERRE TERHADAP P.FALCIPARUM SECARA IN VITRO Kuncoro, Hadi; Widyawaruyanti, Aty; Ersam, Taslim
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 1 (2010): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.193 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i1.6

Abstract

ABSTRACT   Development stage of parasite resistance assay and the Globin accumulation using SDS-PAGE Method has been done to parasite P. falciparum by giving α-mangostin from G. tetranda. α-Mangostin cause delays in the development stage of the parasite P. falciparum from stage schizont to stage trofozoit and cause parasite death after 48 hour. Swelling of the parasite of abnormal parasite food vacuole occurred after administration of α-Mangostin show from the results of SDS-PAGE.   Key word : α- Mangostin, G. tetranda, P. falciparum,  globin accumulation   ABSTRAK   Telah dilakukan pengujian hambatan perkembangan stadium parasit dan akumulasi globin menggunakan metode SDS- PAGE terhadap P. falciparum dengan pemberian α-Mangostin dari G. tetranda. Diketahui α-Mangostin menyebabkan penundaan perkembangan parasit P. falciparum dari stadium trofozoit menjadi stadium skizon dan menyebabkan parasit mati setelah jam ke 48. Pembengkakan vakuola makanan parasit yang abnormal terjadi setelah pemberian α- Mangostin terlihat dari hasil SDS-PAGE.   Kata Kunci : α-Mangostin, G. tetranda, P. falciparum, , akumulasi globin
IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SUNGKAI (Peronema canescens JACK.) TERHADAP BEBERAPA BAKTERI PATOGEN Ibrahim, Arsyik; Kuncoro, Hadi
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 2 No 1 (2012): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.843 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i1.43

Abstract

A research which identification of secondary metabolites and antibacterial activity test from methanol exstract of leaf Sungkai (Peronema canencens Jack) to several pathogens bacterial, which aims to identification of secondary methabolites and determine the antibacterial activity from crude methanol extract of leaf Sungkai (P. canencens Jack). against Streptococcus mutans, Salmonella thyposa, Bacillus subtilis and Staphylococcus aureus bacteria. Material test obtained by maceration with methanol, then tested for activity. Minimum Inhibition Concentration (MIC) value extract was determined by liquid dilution and the followed by scratches on solid media method.  Minimum Kill Concentration (KBM) value extracts was determined by agar diffusion method with using paper disks.The results secondary metabolite identify form extracts of leaves P. canencens obtainable derived alkaloid, terpenoids - steroids, flavonoids, and tannin compounds. Methanol extract have the antibacterial activity. Minimum Inhibition Concentration (MIC) value of extract is concentration of 20% for bacteria S. mutans, S.thiposa and S.aureus, while for the B. subtilis is konsentration of 15%. Minimum Kill Concentration (KBM) values exstract at a concentration of 5% effective at killing S. mutans and S. thyposa bacteria, while the concentration of 1% effective to bacteria B.subtilis and S.aureus. Key words: P. canencens Jack,  antibacteria activity, S. mutans, S. thiposa, B. subtillis, S. aureus   ABSTRAK   Telah dilakukan penelitian identifikasi metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun Sungkai (P.canencens Jack) terhadap beberapa bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder dan mengetahui aktifitas antibakteri dan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM) ekstrak kasar metanol daun Sungkai (P.canencens Jack.) terhadap bakteri  Streptococcus mutans, Salmonella thyposa, Bacillus subtilis dan  Staphylococcus aureus. Bahan uji diperoleh dengan maserasi daun sungkai dengan metanol, selanjutnya diuji aktivitasnya. Nilai Kadar Hambat Minumum (KHM) ekstrak ditentukan dengan metode dilusi cair dan dilanjutkan dengan metode goresan pada media padat. Nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM) ekstrak ditentukan dengan metode difusi agar padat menggunakan paper disk. Hasil penelitian identifikasi metabolit sekunder ekstrak P. canencens diperoleh golongan senyawa alkaloid, terpenoid - steroid, flavanoid, dan tanin. Ekstrak metanol daun P. canencens Jack. memiliki aktifitas sebagai antibakteri. Nilai KHM ekstrak P. canencens untuk bakteri S..mutans, S.thiposa dan S.aureus adalah konsentrasi 20%, sedangkan untuk bakteri B. subtilis adalah 15%. Nilai KBM ekstrak metanol P. canencens pada konsentrasi 5% efektif membunuh bakteri S.. mutans dan S. thyposa,  sedangkan konsentrasi 1 % efektif membunuh bakteri B.subtilis dan S.aureus. Kata kunci : P. canencens Jack,  Aktivitas  antibakteri, S. mutans, S. thyposa, B. subtillis, S. aureus
AKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK DAUN TUMBUHAN MARA TUNGGAL (Clausena excavata BURM.F) DAN DAUN ZODIA (Euodia ridleyi HOCHR) TERHADAP LARVA NYAMUK Culex SP. Kuncoro, Hadi
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 2 No 2 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.315 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i2.53

Abstract

Has done research on larvacide activity Mara Tunggal leaves (Clausena excavata BURM.F) and Zodia leaves (Euodia ridleyi HOCHR) against larvae of the mosquito Culex sp. The study was conducted to see the massive concentration of Mara Tunggal leaves extracts and leaves Zodia can killed mosquito larvae Culex sp. The method used is a test using larvae of the mosquito Culex sp. By using various concentrations of extracts. From the results of research it is known that Mara Tunggal Leaf Extract and Leaf Zodia have activity against larvae of the mosquito Culex sp larvacide. With LC50 values  for the methanol extract of Mara Tunggal leaves 313.33 ppm and methanol extract Zodia leaves is 5321,083 ppm. Key Words : Clausena excavata BURM.F., Euodia ridleyi HOCHR., larvacide.   ABSTRAK Telah dilakukan penelitian aktivitas larvasida terhadap daun Mara Tunggal (Clausena excavata BURM.F) dan Daun Zodia (Euodia ridleyi HOCHR) terhadap Larva nyamuk Culex sp. Penelitian dilakukan untuk melihat besaran konsentrasi ekstrak dari daun Mara Tunggal dan Daun Zodia yang dapat membunuh larva nyamuk Culex sp. Metode yang digunakan adalah pengujian dengan menggunakan Larva nyamuk Culex sp. Dengan menggunakan berbagai konsentrasi Ekstrak. Dari hasil Penelitian diketahui bahwa Ekstrak Daun Mara Tunggal dan Daun Zodia memiliki aktivitas sebagai Larvasida terhadap Larva Nyamuk Culex sp.  Dengan nilai LC50 untuk Ekstrak metanol daun Mara Tunggal 313,33 ppm dan Ekstrak metanol daun Zodia adalah 5321.083 ppm. Kata Kunci : Clausena excavata BURM.F., Euodia ridleyi HOCHR., Larvasida
EFEK HEMOSTATIS EKSTRAK METANOL DAUN SISIK NAGA (Drymoglossum Piloselloides Presl.) PADA TIKUS JANTAN (Rattus norvegicus L.) Rahayu, Ika; Kuncoro, Hadi; Ibrahim, Arsyik
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 2 No 3 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.953 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i3.61

Abstract

The research is The Hemostatic Effect of Sisik Naga Leaves (Drymoglossum Piloselloides  Presl.) Metanol Extract of Rat (Rattus norvegicus L.) has been done. This reseach’s purposes to determine the hemostatic effect, optimum dose and optimum measured time of Sisik Naga Leaves extract with bleeding time as its parameter used tail bleeding. Dose of Sisik Naga extract are 12.5 mg/kgBW, 25 mg/kgBW, and 50 mg/kgBW and NaCMC has been used as negative control, they were given twice a day in one day treatment. Tail bleeding by cutting the rat’s tail has been done on 12th, 24th, and 36th hour after the treatment. The result data was analyzed with two way Analysis of Varian (Anava) and followed BNJD test. The test results showed that bleeding time of negative control NaCMC is 143.15 seconds and bleeding time of Sisik Naga leaves extract with dose 12.5 mg/kgBW on 12th hours 82.62 second, 24th hours 60.27 second, 36th hours 76.36 second, dose 25 mg/kgBW on 12th hours 65.76 second, 24th hours 39.33 second, 36th hours 90.02 second, and dose 50 mg/kgBW on 12th hours 53.97 second, 24th hours 23.82 second, 36th hours 72.85. The best dose which optimum effect of hemostatic is 50 mg/kgBW with measured time on 24 hours after orally extract. Keyword : hemostatic, Drymoglossum Piloselloides  Presl., bleeding time   Abstrak Telah dilakukan penelitian efek hemostatis ekstrak metanol daun Sisik Naga (Drymoglossum Piloselloides  Presl.) pada tikus jantan (Rattus norvegicus L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hemostatis, dosis dan waktu pengukuran optimum ekstrak Sisik Naga dengan mengukur waktu perdarahan pada tikus menggunakan metode tail bleeding. Dosis uji ekstrak daun Sisik Naga yang digunakan adalah 12,5 mg/kgBB, 25 mg/kgBB dan 50 mg/kgBB dengan kontrol negatif NaCMC yang diberikan per oral dua kali sehari selama satu hari. Pengukuran waktu perdarahan adalah 12 jam, 24 jam dan 36 jam setelah pemberian ekstrak. Data dianalisis dengan Anava dua arah yang dilanjutkan dengan uji lanjutan BNJD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu perdarahan kontrol negatif NaCMC adalah 143,15 detik dan rata-rata waktu perdarahan ekstrak daun Sisik Naga pada dosis 12,5 mg/kgBB pada 12 jam 82,62 detik, 24 jam 60,27 detik, 36 jam 76,36 detik, dosis 25 mg/kgBB pada 12 jam 65,76 detik, 24 jam 39,33 detik, 36 jam 90,02 detik, dan dosis 50 mg/kgBB 12 jam 53,97 detik, 24 jam 23,82 detik, 36 jam 72,85 detik. Dosis yang paling efektif sebagai hemostatis adalah pada dosis 50 mg/kgBB dengan waktu pengukuran yang paling efektif yaitu 24 jam setelah pemberian ekstrak. Kata kunci : Hemostatis, Drymoglossum Piloselloides  Presl., waktu perdarahan
FLAVONOLS FROM THE LEAVES LYGODIUM MICROPHYLLUM (LYGODIACEAE) Kuncoro, Hadi; Farabi, Kindi; Julaeha, Euis; Rijai, Laode; Shiono, Yoshihito; Supratman, Unang
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 11. No. 1 Januari 2017
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2017.v11.i01.p02

Abstract

Flavonol compounds, quercetin (1) and quercetin-3-O-?-D-glucopyranoside (2) have been isolated from the ethyl acetate extract of Lygodium microphyllum leaves. The chemical structures of flavonol compounds were identified based on spectroscopic data and by comparison of spectral data obtained previously. The discovery of flavonol compounds in Lygodium microphyllum was shown in this study for the first time.