Articles

Found 3 Documents
Search

Penggunaan Energi Di Atas Kebutuhan Hidup Pokok Pada Ayam Broiler Selama Umur 2 - 6 Minggu Di Daerah Tropis Yuniza, Ahadiyah
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.11.3.188-194.2006

Abstract

An experiment was conducted to study the effect of excess energy intake above the level of energy requirement for maintenance (ERM) on the abdominal fat deposition. Five diets were formulated with different energy levels of above ERM i.e.: (A) ERM, (B) ERM + 30 kcal, (C) ERM + 60 kcal, (D) ERM + 90 kcal, and (E) ERM + 120 kcal. The diets were then offered for 4 weeks to 32 broiler chickens of two weeks old. Parameters measured included: body weight gain, abdominal fat, body fat and protein content. Results indicated that restriction of energy intake could not significantly reduce the abdominal fat deposition of broiler. During the growing period, the excess energy intake was not used for muscle growth maximally, but also used to deposit abdominal fat.
IPTEK BAGI MASYARAKAT PADA KELOMPOK TANI TERNAK DI SUNGAI PERMAI, LAMBUNG BUKIK Evitayani, Evitayani; Marlida, Yetti; Yuniza, Ahadiyah; Hellyward, James; , Suyitman, , Suyitman; Harnentis, Harnentis
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 3a (2018): September 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/hilirisasi.1.3.81-91.2018

Abstract

Propinsi Sumatera Barat memiliki pertanian relatif luas dengan bahan pakan seperti jerami padi, Rumput Gajah dan kelompok legume yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ternak sapi potong. Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², dan lebih dari 60% dari luas tersebut, sekitar ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung, sementara selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Sedangkan keadaan topografi kota ini bervariasi, 49,48% luas wilayah daratan Kota Padang berada pada wilayah kemiringan lebih dari 40% dan 23,57% berada pada wilayah kemiringan landai. Wilayah timur ini terdiri dari beberapa kecamatan yaitu mulai utara ke selatan berturut- turut dari Kecamatan Koto tangah, Pauh, Kuranji, dan Lubuk kilangan. Daerah Pauh seperti desa Lambung Bukik yang termasuk ke dalam program forum Pertides (perguruan tinggi untuk desa) yang bekerjasama yang diawali MOU Rektor tahun 201 dengan Kemendes PDTT) untuk mempersiapkan dan melaksanakan program membantu desa membangun. Sebagian pendapatan mereka diperoleh dari beternak dan bercocok tanam. Secara umum, baik usaha pertanian maupun peternakan masih dilaksanakan secara tradisional, sehingga tidak mengherankan apabila hasil yang diperoleh pun relatif rendah. Ternak sapi hanya dikandangkan atau ditambatkan pada malam hari, sedangkan siang harinya dilepas untuk mencari makanan  dipadang rumput atau dilahan tidur sekitar desa. Baru sedikit  upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan mengandangkan dan memberikan makanan secara cukup dan teratur. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar, juga karena kurangnya pakan baik hijauan maupun mahalnya harga konsentrat. Dengan meningkatnya populasi ternak tentu membutuhkan hijauan yang lebih banyak dan mencukupi sepanjang tahun. Namun, penyediaan hijauan tersebut mengalami hambatan yang cukup serius. Salah satunya, adanya musim kemarau yang menyebabkan menurunnya produksi hijauan. Oleh karena itu usaha pengembangan ternak sapi potong akan lebih menguntungkan apabila dapat mencari alternatif pengganti hijauan konvensional dengan penggunaan silo sebagai tempat fermentasi pakan. Pemanfaatan hasil ikutan pertanian (seperti jerami padi) dan tanaman pangan lainnya sebagai pakan ternak diharapkan dapat menjawab permasalahan di atas. Hal ini dimungkinkan karena pemeliharaan ternak sapi pada umumnya terintegrasi dengan usaha tani lainnya khususnya tanaman pangan (sawah) sehingga hasil ikutan pertanian akan tersedia sepanjang tahun. Oleh sebab itu, perlulah semacam sentuhan teknologi pakan dengan pemanfaatan agroindustri by product seperti jerami yang terbukti available setiap saat. Pelaksanaan pengaplikasian teknologi amoniasi jerami padi dilapangan dengan pemberian langsung amoniasi yang sudah dismpan dan diber kotoran ayam. Partisipasi dan motivasi kelompok petani peternak dalam mengikuti serangkaian kegiatan pengabdian sangat tinggi. Karena selama ini belum pernah dilakukan pembinaan yang berkaitan dengan aspek teknis serta manajemen dalam pemeliharaan sapi potong. Peternak sudah tahu bagaimana manajemen dalam penggemukan sapi potong seperti pemberian konsentrat seperti bungkil kelapa, bungkil kedele, tepung ikan, ampas tahu dan dedak serta pemberian mineral premix.
Physiological Characteristics of Sumatera’s Organic Chicken that was Raised in Cool and Hot Climate Regions elfawati, Elfawati; Abbas, M. Hafil; rusfidra, Rusfidra; Yuniza, Ahadiyah
International Journal of Agricultural Sciences Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/ijasc.3.1.17-22.2019

Abstract

This study was aimed to analyze the physiological characteristics including respiratory rate, rectal temperature, and heterophil-lymphocyte (H:L) ratio of Sumatra?s organic chicken (SOC) that was raised in cool and hot climate regions. One-hundred-and-eighty-seven male and female SOC aged about 6 months were taken from cool and hot climate regions in Sumatera Island. Regions with cool climate were represented by highlands in West Sumatera including the subdistrict of Tilatang Kamang, Canduang, and East Padang Panjang. Regions with hot climate were represented by lowlands in Riau Province including the subdistrict of Bunga Raya, Lirik, and East Kampar. Samples of SOC were collected from farmers where the distance of sampling was about 500 m. Measurements were taken on respiratory rate, rectal temperature, and heterophil-lymphocyte ratio. Data was analyzed by t-test. The result showed that the respiratory rates of SOC in hot climate regions were higher than the ones in cool climate regions, the rectal temperatures of SOC in hot climate regions were lower than the ones in cool climate regions and there was no difference between the Heterophil:Lymphocyte ratio of SOC in hot climate and in cool climate regions.