Articles

Found 18 Documents
Search

The utilization of seagrass and macroalgae substrate for settlement of sandfish Holothuria scabra larvae Indriana, Lisa Fajar; Marjuky, ,; Hilyana, Sitti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2802.77 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.68-72

Abstract

ABSTRACT Sandfish (Holothuria scabra) is one of endangered species, which has high economical value but has not been commonly cultivated. One factor that affects the success of sandfish culture is survival of larvae during attachment phase . In this phase the larvae of H. scabra need a substrate as a place to live. This study investigated the effect of seagrass and macroalgae as the settlement substrates on the survival of H. scabra larvae. The experiment trial was conducted in UPT LPBIL LIPI Mataram using completely randomized design with five replications for each substrate treatment. The settlement substrates used were Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), and Eucheuma cottoni (P4). Surface area was 14x19 cm2 in each treatment. At the beginning of experiment trial, one thousand larvae were distributed into plastic tank containing 10 L seawater for each tank. After 13 days experimental period, the survival of H. scabra larvae showed significantly different among substrates treatment. The highest survival was achieved by E. acoroides (15.53±2.23%), and followed by Ulva sp. (5.07±0.74%), E. cottoni (2.57±0.25%), and G. gigas (1.96±0.17%). Keywords: settlement, Holothuria scabra, substrate, seagrass, macroalgae  ABSTRAK Teripang pasir (Holothuria scabra) adalah salah satu spesies berekonomi tinggi yang terancam punah, tetapi belum banyak dibudidayakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya teripang pasir adalah sintasan pada fase penempelan. Pada fase tersebut larva H. scabra memerlukan substrat sebagai tempat hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis substrat lamun dan makroalga yang berbeda terhadap sintasan (STS) larva teripang pasir pada fase penempelan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya UPT LPBIL LIPI Mataram menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Perlakuan jenis substrat, yaitu: Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), dan Eucheuma cottonii (P4). Substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 14x19 cm2. Wadah pemeliharaan berupa wadah plastik dengan volume air laut 10 L, kepadatan awal 1.000 individu/wadah. Perhitungan akhir STS dilakukan pada hari ke-13 masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis substrat yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap STS larva teripang pasir. Substrat E. acoroides memberikan sintasan tertinggi sebesar 15,53±2,23%. STS perlakuan substrat Ulva sp. sebesar 5,07±0,74%, perlakuan E. cottonii sebesar 2,57±0,25%, dan perlakuan G. gigas sebesar 1,96±0,17%. Kata kunci: penempelan, Holothuria scabra, substrat, lamun, makroalga
SURVIVAL AND GROWT RATE OF SEED SEA CUCUMBER (HOLOTHURIA ATRA) RESULTED BY ASEXUAL REPRODUCTION IN DIFFERENT WEIGHT Robiansyah, Yani; Nurliah, Nurliah; Hilyana, Sitti
Jurnal Perikanan Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.056 KB) | DOI: 10.29303/jp.v8i2.89

Abstract

Fission is an asexual reproductive system of the sea cucumbers (Holothuria atra) by dividing body parts that can form new individuals. This system can be used as an alternative to enchance the sea cucumber individuals. The purpose of this study was to determine the effect of differences in sea cucumber body weight on sea cucumber survival and growth rates based on the results of fission. This study used a complete randomized design and control treatment (150-350 grams / without fission), P1 (150 grams), P2 (250 grams), and P3 (350 grams). Each treatment was repeated six times to obtain 24 experimental units. The analysis test data used ANOVA with a level of 5% to find out the best treatment. Based on the results of the study, it showed the differences in the body weight of the sea cucumbers which influence the survival rate. However, it did not give growth to sea cucumber seeds as a result of fission. There was the highest of survival that obtained from the control treatment (100%) and P2 (72.22%). Then, for the morphological and physiological observations of the sea cucumbers gave different results every week.
PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI PSIDIUM GUAJAVA UNTUK MENINGKATKAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN KERAPU BEBEK CROMILEPTES ALTIVELIS TERHADAP SERANGAN BAKTERI VIBRIO PARAHAEMOLYTICUS Hurryah, Misqul; Hilyana, Sitti; Mukhlis, Alis
Jurnal Perikanan Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.668 KB)

Abstract

Salah satu produk perikanan air laut yang mempunyai pernintaan pasar yang luas adalah ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Untuk menunjang produksi kerapu bebek di Indonesia maka tersedianya benih sangat penting, namun banyak kendala yang harus dihadapi dalam pemeliharaan benih kerapu bebek. Salah satu masalah utama yang dihadapi dalam budidaya ikan kerapu bebek di Indonesia adalah tingginya tingkat kematian terutarna pada benih yang dapat mencapai 100%,yang disebabkan infeksi bakteri Vibrio sp. yang merupakan patogen utama penyebab vibriosis. Vibrio parahaemolyticus menjadi salah satu bakteri patogen Vibrioyang paling luas diakui sebagai spesies yang menyebabkan berbagai wabah penyakit di lingkungan laut. Salah satu upaya untuk rnenanggulangi penyakit vibriosis adalah penggunaan bahan alami seperti bagian dari tumbuhan jambu biji (Psidium guajava) yakni daun jambu biji. Daun jambu biji memiliki sifat sebagai antibakteri. Konsentrasi  ekstrak daun jambu biji yang tepat menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun jambu biji yang optimal sebagai anti bakteri pada benih ikan kerapu bebek dengan tingkat kelangsungan hidup tertinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Budidaya Laut Sekotong, Lombok Barat pada Bulan April 2014 dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun jambu biji yakni 0% (PI), 10%(P2), 15%(P3), 20% (P4), dan 25%(P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata ter hadap tingkat kelangsungan hidup benih ikan kerapu bebek. Pemberian ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 15% memberikan hasil tingkat kelangsungan hidup tertinggi dibandingkan empat perlakuan lainnya yakni 100%.
KELANGSUNGAN HIDUP LARVA LKAN BAWAL BINTANG TRACHINOTUS BLOCHII, DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI VITAMIN C YANG BERBEDA DALAM PAKAN Kurniati, Widya; Hilyana, Sitti; Nurliah, Nurliah
Jurnal Perikanan Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.599 KB)

Abstract

Ikan bawal bintang Trachinotus blochii merupakan ikan air laut introduksi yang memiliki nilai ekonomis  dan  permintaan  pasar  yang  tinggi.  Salah satu  kendala yang  dihadapi dalam  kegiatan  budidaya  adalah rendahnya kelangsungan hidup larva. Vitamin C merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan larva dan diketahui dapat  meningkatkan  ketahanan  ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi vitamin C yang berbeda dalam pakan terhadap kelangsungan hidup, abnonnalitas, pertumbuhan dan jumlah  konsumsi pakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014  di Balai Budidaya Laut Sekotong,  Kabupaten  Lombok  Barat,  Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan metode  eksperimental  menggunakan Rancangan Acak  Lengkap  (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Penambahan vitamin C yang digunakan yaitu 0 mg/100 g pakan (PI), 40 mg/100 g pakan (P2), 80 mg/100 g pakan (P3), 120 mg/100 g pakan (P4) dan 140 mg/100 g pakan (P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup, menekan persentase abnormalitas dan mempengaruhi pertumbuhan larva bawal bintang 019-035, tetapi tidak mempengaruhi jumlah  konsumsi pakan larva bawal bintang 019-035.
TINGKAT PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREIZI MENGGUNAKAN SISTEM VERTIKULTUR DI DESA SEREWE KECAMATAN JEROWARU KABUPATEN LOMBOK TIMUR Sahidi, Muhammad; Hilyana, Sitti; Buhari, Nurliah
Jurnal Perikanan Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.344 KB)

Abstract

  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  pertumbuhan  rumput  laut jenis  K. alvarezzi   yang  ditanam  dengan metode  vertikultur di Desa  Serewe Kabupaten Lombok Timur dan  menguji  kelayakan  metode budidaya vertikultur baik seeara ekologi maupun ekonomi. Raneangan Aeak Lengkap (RAL) yang di­ gunakan pada penelitian ini terdiri dari lima perlakuan kedalaman yaitu 30 em (PI),  60 em (P2), 90 em (P3), 120 em (P4) dan  150 em (P5).   Hasil   penelitian menunjukkan bahwa budidaya rumput  laut K. alvarezzi menggunakan  sistem  vertikultur  layak  dilakukan  dengan  laju pertumbuhan  spesifik  rumput  laut  yang  di­ ipelihara selarna 45 hari pada kedalaman 30 em, 60 em, 90 em,  120 em dan  150 em masing-masing ada­ lah 4.07%, 3.49%, 3.99%, 3.90% dan 4.72%.Hasil analisis usaha dengan menggunakan 5 tingkatan pada sistern  vertikultur  layak  dilakukan  secara  ekonomi  dengan  hasil  5  kali  lipat  daripada  sistem  konvensional.
PEMBERIAN KALSIUM KARBONAT (CAC03) PADA MEDIA BUDIDAYA UNTUK PERTUMBUHAN LARVA KERANG MUTIARA PINCTADA MAXIMA STADIA VELIGER-PEDIVELIGER Asrori, Ahmad Zuli; Hilyana, Sitti; Kotta, Raismin
Jurnal Perikanan Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.703 KB)

Abstract

Kerang mutiara Pinetada maxima merupakan kerang penghasil mutiara "South Sea Pearl"  salah satu komoditas hasil laut Indonesia yang bemilai ekonomis dan sangat digemari di pasaran dunia. Banyaknya per­ mintaan mutiara jenis Pinetada maxima dan semakin berkembangnya budidaya mutiara saat ini menjadi pemicu meningkatnya permintaan spat dan kerang siap operasi. Kendala utama pada produksi kerang mutiara saat ini adalah pertumbuhan yang lambat dan sintasan rendah dalam pemeliharaan larva dan spat. Faktor biofisik-kim­ ia lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan kerang mutiara antara lain suhu perairan, salinitas, makanan dan unsur kimia dalam air laut. Unsur kimia air laut berupa mineral kalsium (Ca) merupakan makro mineral terdapat dalam tubuh yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar. Salah satu upaya yang dapat dilaku­ kan untuk mengatasi tersebut adalah dengan penambahan kapur (CaCO)  dengan konsentrasi yang sesuai di dalam media budidaya saat stadia veliger-pediveliger. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui pengaruh pem­ berian kalsium karbonat (CaCO) terhadap tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva kerang mutiara (Pinetada maxima). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3-22 September 2014 di PT Autore Pearl Culture, Malaka, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemeliharaan dilaku­ kan pada toples plastik volume 10 L dengan kepadatan 1.000 individu/l (8.000 indi/wadah). Kalsium karbonat (CaC03) yang digunakan  dari cangkang kerang (Pinctada maxima). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap(RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. A kontrol (tanpa pemberian CaCO), B (CaC03 25mg/l), C (CaC0350 mg/l) dan D(CaC0375mg/l). Hasil men­ unjukkan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi pada perlakuan B (CaC03  25 mg/l)  189 urn ± 7,39 dan  ter­ endah pada perlakuan A (kontrol tanpa pemberian CaC03)  98,5 um ± 8,02. Nilai kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan B (CaC03 25 mg/l) 48,75 ± 33,7 dan terendah pada perlakuan D (CaC03  75 rng/l) 4,7% ± 2,2
PENGARUH DEBIT AIR YANG BERBEDA PADA PROSES PERGANTIAN AIR TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA LKAN BAWAL BINTANG TRACHINOTUS BLOCHII Hilyana, Sitti; Apriani, Anita Eka; Marzuki, Muhammad
Jurnal Perikanan Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.334 KB)

Abstract

  Ikan bawal bintang Trachinotus blochii merupakan ikan yang tergolong baru dibudidayakan di Indonesia. Permintaan pasar untuk ikan ini cukup tinggi, mulai dari tingkat lokal, hingga intemasional dengan harga Rp 65.000-Rp 90.000 atau sekitar USD 8/kg. Dalam peningkatan produksi budidaya bawal bintang yang perlu diperhatikan adalah selain kualitas induk juga proses pemeliharaan larva sehingga dapat menurunkan tingkat mortalitas pada fase ini. Salah satu faktor penting dalam pemeliharaan larva ikan bawal adalah pengelolaan kualitas air serta besar kecilnya aliran (debit) air yang masuk kedalam bak pemeliharaan pada proses pergantian air sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh debit air yang berbeda pada proses pergantian air terhadap tingkat kelangsungan hidup larva ikan bawal bintang T. blochii. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 di Balai Budidaya Laut Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan debit air yang digunakan yaitu 0,001 Iiter/detik (PI), 0,003liter/detik (P2), 0,005Iiter/detik (P3), 0,007Iiter/detik (P4)  dan 0,009Iiter/detik (P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan debit air pada saat pergantian air tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan bawal bintang T. blochii dan kualitas air pada media pemeliharaan larva bawal bintang T. blochii masih dalam kisaran normal yakni dengan pH 8,1- 8,3, salinitas 33-35 ppt, suhu 26,6-29,7 OC, dan DO 5,1-6,9 mg/1.
EFEKTIVITAS TEMEPHOS TERHADAP PREVALENSI DAN INTENSITAS RATA-RATA EKTOPARASIT PADA IKAN MASKOKL (CARRASIUS AURATUS) Putra, One Kris Perdana; Hilyana, Sitti; Setyowati, Dewi Nuraeni
Jurnal Perikanan Vol 3 No 2 (2013): Jurnal Perikanan Unram
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.689 KB)

Abstract

Pcnyakit parasitik menjadi salah saru kendala dalam budidaya ikan Maskoki Carassiu auratus. Penyakit parasiti dapat menyebabkan   kematian massal populasi ikan Maskoki dan berkurangnya keindahan ikan Maskoki yang berakibat pada rendahnya nilai jual atau kapasitas produksi. Temephos merupakan senyawa organofosfat yang diduga mampu membunuh ektoparasit namun belum diketahui  penggunaannya pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas temephos terhadap prevalensi dan intensitas rata-rata ektoparasit pada ikan maskoki serta untuk mengetahui konsentrasi dan lama waktu perendaman yang efektif dalam membunuh ektoparasit pada ikan maskoki. Penelitian dilaksanakan pada  bulan  Maret tahun 2013 di Laboratorium Basah Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu penelitian pcndahuluan untuk mengetahui jcnis  ektoparasit yang menginfeksi ikan Maskoki dan penelitian lanjutan yang dilakukan dengan metode eksperimental (RAL Faktorial) untuk menguji pengaruh temepbos  terhadap prevalensi  dan intensitas rata-rata ektoparasit pada ikan Maskoki. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa temephos dengan  konsentrasi 80 ppm dan lama perendaman 30 menit efektif mernbunuh  oktoparasit jenis Dactylogyrus  sp, dan Gyrodactylus  sp. pada insang,  Argulus  sp., Trichodina sp., dan Gyrodactylus sp pada permukaan tubuh (prevalensi 1,65 % dan  intensitas rata-rata 0.71 individu/ekor) serta tidak mcmatikan ikan Maskoki yang diujikan (SR 100 %).
PENGARUH SEKS RASIO TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PEMIJAHAN PADA KAWIN SILANG Haliotis asinina DENGAN Haliotis squamata Sudarmawan, Rio Ary; Hilyana, Sitti; Cokrowati, Nunik
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i1.833

Abstract

Haliotis asininna dan Haliotis squamata merupakan jenis abalon yang banyak dijumpai dan dikembangkan di Indonesia. Kendala yang sering dihadapi yaitu  menentukan jumlah induk yang berujung pada rendahnya produksi benih. Upaya peningkatan kualitas benih terus dilakukan salah satunya dengan kawin silang dengan perbandingan jumlah induk yang sesuai. Tujuan penelitian adalah mengetahui jumlah induk betina abalon yang dibutuhkan untuk menghasilkan larva yang optimal, serta mengetahui perbedaan tingkat keberhasilan persilangan dua jenis induk. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap  dua faktor. Faktor pertama, jumlah induk betina (1:2, 1:3 dan 1:4). Faktor kedua, persilangan dengan dua aras yaitu H. asinina jantan dengan H. squamata betina dan H. asinina betina dengan H. squamta jantan. Hasil penelitian menunjukkan rasio jumlah induk tidak berpengaruh nyata terhadap keberhasilan pemijahan. Namun faktor persilangan memberikan pengaruh  nyata (p 0,05) terhadap jumlah telur, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan. Persilangan dengan induk betina H. squamata menghasilkan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingakan dengan induk betina H. asinina. Kata kunci: H. asinina, H. squamata, jumlah induk, kawin silang
KEGIATAN PENANAMAN MANGROVE SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM PESISIR DI DUSUN CEMARA, KABUPATEN LOMBOK BARAT Damayanti, Ayu Adhita; Rahman, Ibadur; nurliah, nurliah; hilyana, sitti
Abdi Insani Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v6i2.246

Abstract

Hubungan timbal balik yang terjadi antara hutan mangrove dan kegiatan budidaya ikan selayaknya mengharuskan para pembudidaya ikan untuk tetap menjaga sinergi keduanya tidak terganggu. Namun demikian, tidak semua pembudidaya ikan mengetahui akan hal ini, sering kali pembukaan lahan budidaya dilakukan dengan mengurangi kepadatan vegetasi mangrove secara drastis, tanpa diikuti oleh proses penanaman kembali. Hal ini juga terjadi pada salah satu daerah hutan mangrove di Nusa Tenggara Barat, yaitu di Dusun Cemare Kabupaten Lombok Barat. Lahan budidaya dibuka tanpa adanya usaha untuk menjaga agar vegetasi mangrove tetap dalam  proporsi yang seimbang.  Mempertimbangkan begitu besarnya peran mangrove secara ekologi menyebabkan harus segera dilakukan kegiatan penanaman kembali pada habitat mangrove yang telah rusak. Kegiatan ini akan dilaksanakan dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan kelompok pengelola setempat. Hasil pengabdian adalah telah tertanamnya bibit pohon mangrove di area terdampak, serta terjalinnya kerjasama dengan kelompok pengelola sumberdaya setempat untuk pemantauan pohon  mangrove yang telah ditanam.