Articles

Found 10 Documents
Search

PENGARUH KEPEMIMPINAN TERHADAP EFEKTIVITAS ORGANISASI Febrian, Wenny Desty; Adriana, Adriana; Asrida, Wan
JRAK (Jurnal Riset Akuntansi dan Komputerisasi Akuntansi) Vol 8 No 1 (2017): JRAK : Jurnal Riset Akuntansi & Komputerisasi Akuntansi
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam 45

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.859 KB)

Abstract

This study examines the effect of leadership on organizational effectiveness. Quantitaviemethod was used to collect data, by the questionnaires, and distributed to employees at PTAdira Dinamika Multi Finance Tbk, Pekanbaru. The results of this study showed that sigvalue of 0.001, fewer than probability value of 0.05. Moreover,leadership has t value of -3.396 with t table of -1.985. In conclusion, leadership significantly explained organizational effectiveness.
KORELASI TEKANAN PENCETAKAN TERHADAP KARAKTERISTIK BRIKET DENGAN VARIASI LUBANG Hidayat, Muhammad; Iqbalsyah, M; Carissa, Syarifah Nurul; Fona, Zahra; Adriana, Adriana
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 17, No 2 (2019): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v17i2.1484

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tekanan pencetakan terhadap karakteristik briket dengan variasi lubang Perlakuan Jumlah lubang: 0, 1, 2, dan 3 lubang dan waktu Pengepresan: 30, 45, 60, dan 75 detik. Dari perlakuan tersebut diketahui bahwa waktu optimum untuk pengepresan briket adalah 5 menit.hal ini terjadi apabila semakin lama waktu pengerpresan maka briket akan hancur dan tidak terbentuk. Nilai kalor tertinggi didapatkan pada perbandingan tekanan sebesar 30 detik dengan bahan baku tempurung kelapa dengan penggunaan perekat kanji sebanyak 8%. Nilai kalor yang didapatkan sebesar 6858 kal/gr. Jadi nilai kalor yang didapat telah memenuhi standar minimum nilai kalor yang ditentukan SNI.
PERCEPATAN KEMAMPUAN BERAKAR DAN PERKEMBANGAN AKAR STEK PUCUK Shorea platyclados MELALUI APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH IBA Hardiwinoto, Suryo; Riyanti, Rixa; Widiyatno, Widiyatno; Adriana, Adriana; Winarni, Widaryanti Wahyu; Nurjanto, Handojo Hadi; Priyo, Eko
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 2 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2016.10.2.63-70

Abstract

Shorea platyclados is one of fast-growing Dipterocarp species for enrichment planting in Logged-Over Area (LOA) of tropical rain forests. One of the constrain to supply the seedling for support enrichment planting is the irregular flowering of S. platyclados. Moreover, the vegetative propagation is an alternative method to provide the sustainable seedling for enrichment planting in the LOA. This experiment was carried out to assess the effects of IBA concentrations on rooting ability, the primary and secondary root lengths, and the accumulated number of primary and secondary roots on shoot cutting of S. platyclados. The research was conducted in Completly Randomized Design (CRD) with 5 replications. The treatment was five concentrations of IBA, i.e. 0 ppm, 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, and 100 ppm. The data were analyzed using one-way analysis of variance (one way ANOVA) to determine the effect of IBA concentration variation amongst the treatments. The Duncan Multiple Range Test (DMRT) was used for multiple comparisons among the means of treatment at tα=5%, Results showed IBA concentrations significantly affected the rotting ability, the primary and secondary root length of shoot cutting (P < 0.05). On the other hand, the number of primary and secondary roots was not significantly different among treatment (P > 0.05). For rooting ability, 100 ppm of IBA concentration was the highest of all treatments. Meanwhile, 75 ppm of IBA concentration was the best treatment for development of root, i.e. the number of primary roots, the length primary and secondary roots.
PENGARUH SIFAT FISIKA MEDIA TERHADAP KEMAMPUAN BERAKAR DAN PEMBENTUKAN AKAR STEK PUCUK Shorea playlados DI PT. SARI BUMI KALIMANTAN TENGAH Hardiwinoto, Suryo; Adriana, Adriana; Nurjanto, Handojo Hadi; Widiyatno, Widiyatno; Dhina, Fransisca; Priyo, Eko
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2010.4.1.37-47

Abstract

Seedling production of S. platyclados through vegetative propagation offers various advantages particularly mass production of good quality seedling in a certain time can be attained. Shoot cutting is affected by various factors including the physical properties of several media on rooting ability and early root development of S. platyclados shoot cuttings. Completely Randomized Design (CRD) was used with 6 replications. Three medium used were Dipterocarp wood sawdust, wood sawdust + rice husk (2/1), and rice husk charcoal. Result showed that wood sawdust bulk density was highest (0.36 kg/l) in compare to that of wood sawdust + rice husk (0.29 kg/l) and rice husk charcoal (0.17 kg/l). The bulk density has positively correlated (r = 0.97) with Water Holding Capacity (WHC) and negatively correlated with porosity (r = -0.99). Rooting ability of the shoot cutting in sawdust + rice husk (2/1) was highest (63%) in compare to that in wood sawdust (43%) and positively correlated with porosity (r=0.59). Early root development in the media did not show significant difference; however, the media of wood sawdust and wood sawdust + rice husk (2/1) tended to have a better early root development compare to rice husk charcoal.
PEMBUATAN KOMPOSIT DARI SERAT SABUT KELAPA DAN POLIPROPILENA Adriana, Adriana
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v9i2.145

Abstract

Serat sabut kelapa merupakan limbah dari buah kelapa yang pemanfaatannya sangat terbatas. Polipropilena adalah limbah plastik yang sulit di dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Kedua bahan ini dapat dimanfaatkan untuk pembuatan komposit yang diharapkan dapat bernilai ekonomis. Polipropilena digunakan sebagai matriks, sedangkan serat sabut kelapa dengan variasi panjang serat 3 cm, 5 cm dan 7 cm digunakan sebagai filler.  Proses  pembuatan  komposit  dengan  cara  kempa  panas  dilakukan  dengan variasi komposisi (polipropilena:serat) pada 90% : 10%, 80% : 20 %, 70% : 30% dan 60% : 40%. Plastik dilelehkan pada suhu titik leleh (170oC) ditambahkan serat sabut kelapa sebagai penguat dengan bahan pengikat anhidrida maleat dan pemicu benzoil peroksida, akan dihasilkan komposit dengan kekuatan tarik maksimum pada komposisi  90%  :  10%  pada  panjang  serat  5  cm  yaitu  3339,08  kgf/cm2   dan perpanjangan maksimum diperoleh pada komposisi 80% : 20% pada panjang  serat 7 cm yaitu 20%.Kata kunci: serat sabut kelapa, plastik polipropilena, komposit, uji tarik.
Upaya Peningkatan Produktivitas Kinerja Lingkungan dengan Pendekatan Green Productivity pada Pabrik Kelapa Sawit PT. Mopoli Raya Muhammad, Muhammad; Anwar, Anwar; Adriana, Adriana
Industrial Engineering Journal Vol 3, No 2 (2014): Malikussaleh Industrial Engineering Journal
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mopoli Raya adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan inti sawit (Kernel) dengan produk sampingannya berupa cangkang dan fiber yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar penggerak turbin untuk menghasilkan tenaga listrik dan uap yang digunakan oleh pabrik. Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah limbah pabrik kelapa sawit yaitu tandan kosong sawit dan limbah cair yang dibuang ke lahan perkebunan sebagai mulsa yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi dampak limbah terhadap lingkungan sekaligus dapat meningkatkan produktivitas perusahaan karena produktivitas merupakan salah satu faktor yang penting dalam mempengaruhi proses kemajuan dan kemunduran suatu perusahaan, artinya meningkatkan produktivitas berarti meningkatkan kesejahteraan dan mutu perusahaan. Perusakan lingkungan diidentifikasi dari dampak yang ditimbulkan oleh pembuangan limbah sebagai mulsa di wilayah perkebunan yang menimbulkan hama tanaman dan bau menyengat yang mengganggu kelestarian hidup masyarakat sekitar pabrik. Oleh karena itu dibangkitkan alternatif yaitu pengolahan limbah menjadi kompos. Pemilihan alternatif solusi dilakukan dengan perhitungan Green Productivity Index (GPI) dan benefit cost ratio. Dari hasil perhitungan dan analisa, diperoleh penggantian pemakaian pupuk buatan menjadi solusinya dengan GPI material sebesar 1.00, GPI Tenaga kerja sebesar 1.04, GPI Energi sebesar 1.00, GPI perawatan dan instalasi sebesar 0,81, dan GPI Waste sebesar 0. Indeks benefit cost ratio sebesar 3,176 dan mampu meningkatkan produktivitas total sebesar 3,64 dari 29,30 nilai produktivitas total rata-rata tahun 2012.
PEMBUATAN PELET IKAN HYBRID BERBASIS AMPAS TAHU, DEDAK PADI DAN KEONG MAS DENGAN PENAMBAHAN AROMA TERASI Azima, M.Fouzan; Fona, Zahra; Adriana, Adriana
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 15, No 2 (2017): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v15i2.1479

Abstract

Untuk meningkatkan hasil produksi ikan air tawar, dilakukan penelitian untuk menciptakan pelet ikan yang memiliki kandungan gizi sesuai dengan standar SNI. Penelitian dilakukan dengan metode pencampuran komposisi tepung keong mas, limbah ampas tahu, dedak padi serta terasi sebagai Fragrance (penguat aroma) dengan pengujian lanjut terhadap nilai kadar air, kadar abu, daya apung, serta analisa protein. Bahan dicampur dengan 5 perbandingan yang berbeda yaitu, 1:1:1, 1:2:1, 2:1:2, 2:1:1, dan 1:1:2 dengan penambahan air 50 ml/100 g bahan. Adonan dibentuk menjadi pelet dengan ukuran 2 mm dan dikeringkan. Berdasarkan hasil pengujian kadar abu, kadar air, lemak dan protein menggunakan analisa proksimat dan metode Lowry diperoleh hasil terbaik sesuai standar SNI terdapat pada komposisi 1:2:1 yaitu dengan kandungan Protein sebanyak 748.2650 ppm, kadar air 7,31% kadar abu 5,65% dan kadar lemak 9,21% dengan daya apung selama 58 menit.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI NaOH DAN BERAT NATRIUM MONOKLOROASETAT PADA PEMBUATAN (Carboxymethyl Cellulose) CMC DARI SERAT DAUN NENAS (Pineapple-leaf fibres) Maulina, Zia; Adriana, Adriana; Rihayat, Teuku
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 17, No 2 (2019): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v17i2.1486

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh variasi konsentrasi NaOH dan berat Natrium Monokloroasetat pada pembuatan CMC (Carboxymethyl Cellulose) dari serat daun nenas (Pineapple-leaf fibres)? dengan proses preparasi bahan baku, isolasi selulosa dan sintesis CMC. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan variasi? konsentrasi NaOH dan rasio natrium monokloroasetat : selulosa untuk memperoleh nilai rendemen, pH, kadar air,densitas, viskositas dan derajat substitusi yang tertinggi. Variasi konsentrasi NaOH yang digunakan adalah 15%, 30%, dan 45% dengan rasio natrium monokloroasetat : selulosa adalah 4:5, 5:5, 6:5, 7:5 dan? 8:5. Dari hasil penelitian diperoleh rasio natrium monokloroasetat : selulosa terbaik yaitu 7 gram : 5 gram dengan konsentrasi NaOH 45% didapatkan nilai rendemen 94%, nilai pH 7, nilai kadar air 13,26%, densitas 1.48 gr/ml, dan nilai DS tertinggi yaitu 0,82, dan berdasarkan hasil analisa FTIR CMC dicirikan dengan adanya puncak serapan pada bilangan gelombang 3263.56 cm-1? ? 3275.13 cm-1 menandakan adanya gugus hidroksil (?OH). Pada puncak serapan dengan bilangan gelombang 1581.63 cm-1 menunjukkan adanya gugus karbonil (C-O). Pada puncak serapan dengan bilangan gelombang 1408.04 cm-1 ?menunjukkan adanya ikatan (-CH2) yang berpengaruh terhadap pembentukan CMC. Pada serapan? panjang gelombang 1049.28 cm-1 ? 1099.43 cm-1 menunjukkan adanya eter yang terbentuk yaitu gugus (-O-), selama 4 jam waktu reaksi.
OPTIMASI PRODUKSI BIODIESEL DARI MINYAK JELANTAH DENGAN KATALIS CANGKANG TIRAM (CRASSOSTREA GIGAS) Rizqi, Siraj Alfa; Adriana, Adriana; Ananda, Reka; Farisha, Sativa
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 15, No 2 (2017): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v15i2.1282

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh persentase katalis cangkang tiram untuk memproduksi biodiesel dari minyak jelantah yang dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi yang dibantu dengan mengaktifkan katalis cangkang tiram. mengaktifkan katalis. Minyak Jelantah diperoleh dari penjual kentang goreng yang berlokasi di simpang empat Asean, Aceh Utara. Reaksi pembuatan biodiesel dilakukan menggunakan seperangkat alat reaktor yang dipanaskan didalam penangas air pada suhu antara 60-65?C dengan kecepatan pengaduk 300 rpm. Penelitian menggunakan perbedaan persentase katalis( 1%, 5%, 8%, 15%, 20% dan 25%). Reaksi transesterifikasi dilakukan dengan 100 ml minyak jelantah pada perbandingan molar minya jelantah terhadap metanol 1 : 9. Parameter yang dianalisis meliputi SEM, XRD, GC-MS, viskositas dan massa Jenis. Hasil penelitian menunjukkan, viskositas, dan massa jenis biodiesel. Biodiesel yang dihasilkan memiliki massa jenis 0,88?0,92 g/mL, dan bilangan asam 0.6877- 0.9452 mg-KOH/kg? . Persentase katalis ?berpengaruh nyata pada produksi ?biodiesel
PERTUMBUHAN STEK CABANG BAMBU PETUNG (DENDROCALAMUS ASPER) PADA MEDIA TANAH, ARANG SEKAM DAN MEDIA KOMBINASINYA. Adriana, Adriana; Winarni, Widaryanti W.; Prehaten, Daryono; Nawangsih, Ganis
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.069 KB) | DOI: 10.22146/jik.8572

Abstract

Bambu petung banyak digunakan untuk bahan konstruksi bangunan karena sifatnya yang keras dan kuat. Pembiakan secara vegetatif menggunakan rimpang (rhizome), namun memiliki kelemahan, yaitu kesulitan dalam pembongkaran rumpun bambu. Oleh karena itu digunakan stek cabang,lebih praktis, bahan stekter sedia lebih banyak, mudah diperoleh, murah, tidak merusak rumpun asal, waktu pengambilan lebih cepat, dan pembentukan rumpun lebih mudah. Media pengakaran yang umum digunakan adalah top soil, namun pengadaan top soil dalam jumlah besar sulit, sehingga perlu dicari alternatif lain yaitu dengan mencampur media top soil dengan media lain. Media yang digunakan yaitu media tanah, arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam (2:1). Stek cabang bambu petung dengan umur pohon induk ± 2 tahun, diameter 2-3 cm dan panjang 2 ruas. Panjang tunas pada perlakuan media tanah, arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam menunjukkan berbeda di antara perlakuan. Jumlah tunas terbanyak terdapat pada perlakuan media arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam (3 tunas). Media campuran tanah+arang sekam menunjukkan panjang tunas terpanjang (37,11 cm), dan panjang akar terpanjang (17,5 cm). Media tanah dan arang sekam menunjukkan % berakar terbesar (86,67 %).Kata kunci: stek cabang, bambu petung, media tanah, arang sekam, pembiakan vegetatif. Growth of branches of petung bamboo (Dendrocalamus asper) grafting in soil media, husk charcoal, and their combinationAbstractRecently, the utilization of bamboo is more extensive, but the attention towards its regeneration is not sufficient. The use of stem or branch cuttings are more practical and having more benefits and promising because the cutting materials are more available, easier to gain, cheaper, undamaging the source clump, faster in the taking time, and easier in the clump formation. The common rooting media used is top soil (the fertile part of upper layer soil). Recently, it is quite hard to provide top soil in a large number. Thus, it is important to find an alternative source in order to decrease the use of top soil that is by mixing the top soil media with other materials. The media used were soil media, husk charcoal, and the mixture of soil and husk charcoal (2:1). The branch cuttings used were branches of petung bamboo taken from 2 years old amboo, with 2-3 cm in diameter, and 2 nodus in length. The treatment was done by giving some variations in the soil media, the husk charcoal,and the mixture of soil and huskcharcoal. The mixture of soil and huskcharcoal media gave a significant influencet o the length of sprout variable,but it did not give significant influence to the number of sprout, the length of root, and the percentage of rooting.