Anggraeni Janar Wulan, Anggraeni Janar
Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

Morbili pada Anak Laki-Laki Usia 31 Bulan dengan Riwayat Imunisasi Campak pada Usia 10 Bulan Farahdina, Selvia; Wulan, Anggraeni Janar
Jurnal Medula Vol 7, No 1 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.843 KB)

Abstract

Campak merupakan penyakit endemik di banyak negara terutama di negara berkembang. Di Indonesia, campak masihmenempati urutan ke-5 dari 10 penyakit utama pada bayi dan anak balita (1-4 tahun). Hal ini sangat disayangkan mengingatcampak adalah salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Studi ini merupakan studi deskriptif denganrancangan laporan kasus. Studi dilakukan pada seorang anak laki-laki berusia 31 bulan yang dirawat di Rumah Sakit UmumAbdul Moeloek (RSUAM) pada tanggal 7 Januari hingga 10 Januari 2016. Data yang ada diperoleh melalui alloanamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa pasien. Dilakukan follow up untuk mengetahui perkembangan penyakit pasien. Hasil alloanamnesis didapatkan, keluhan demam terus-menerus, terutama pada malam hari, disertai menggigil tetapi tidak kejang. Pasien juga batuk berdahak, pilek, dan sariawan sejak 3 hari yang lalu. Mata merah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Bintik-bintik merah pada tubuh awalnya muncul di belakang telinga dan menyebar ke wajah, dada, dan perut. Riwayat imunisasi campak pada usia 10 bulan. Diagnosis dari pasien ini adalah morbili. Tatalaksana yang diberikan pada pasien ini meliputi edukasi kepada orang tua pasien mengenai penyakit yang diderita pasien dan komplikasi penyakit serta pemberian medikamentosa berupa infus D5 ¼ NS 500 cc/12 jam, Paracetamol sirup 4x1 cth, ranitidin 3x¼ tablet, Oxomemazine sirup 3x1 cth, Apialys sirup 2x1 cth, Cefadroxil sirup 2x5 ml. Pedoman pemberian imunisasi campak pada balita diberikan satu kali pada usia 9 bulan mengingat antibodi campak balita yang berasal dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan.Kata Kunci: campak, imunisasi, laporan kasus
Phlegmon Dasar Mulut Odontogenik: Laporan Kasus Aditya, Muhammad; Wulan, Anggraeni Janar
Juke Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Juke Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.45 KB)

Abstract

Infeksi gigi merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat. Infeksi gigi kebanyakan ringan, namun pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi komplikasi serius dan fatal. Salah satu komplikasi tersebut adalah phlegmon/angina Ludwig’s. Pasien laki-laki, 21 tahun, datang dengan keluhan bengkak pada leher sepanjang bawah rangan kanan dan kiri hingga ke leher depan, disertai nyeri, demam, nyeri saat mengunyah. Keluhan tidak disertai dengan gangguan napas, trismus, nyeri tenggorokan, maupun nyeri dada. Pasien memiliki masalah gigi berlubang pada gigi molar 2 rahang bawah kiri. Dari pemeriksaan fisik didapatkan caries dentis pada molar 2 kiri rahang bawah, dasar mulut tampak menonjol di bawah lidah, tidak ditemukan abses tonsil, tidak didapatkan trismus, dan faring tenang. Pada leher didapatkan edem hiperemis sepanjang submandibula kanan dan kiri hingga leher depan setinggi kartilago tiroid, teraba hangat, kenyal, dan terdapat nyeri tekan. Dari hasil laboratorium didapatkan leukosistosis dan pemeriskaan rontgen toraks dalam batas normal. pasien didiagnosis dengan phlegmon dasar mulut dan segera dilakukan bedah insisi debridement dengan pemasangan drainase serta diberikan antibiotik intra vena dengan sefalosporin generasi ketiga dan metronidazole. Selama perawatan pasien membaik dan direncanakan untuk konsultasi ke dokter gigi untuk masalah gigi pasien. Simpulan, phlegmon dasar mulut/angina Ludwig dapat berkomplikasi fatal dan dapat menyebabkan kematian, sehingga diagnosis dan tatalaksana segera dapat menyelamatkan pasien. Penyebab terbanyak berasal dari infeksi gigi (odontogenik). [JuKe Unila 2015; 5(9):76-80]
Perbedaan Kemampuan Memori Kerja pada Tikus Pasca Paparan Gelombang Elektromagnetik dari Handphone Selama 14 Hari Wulan, Anggraeni Janar; Iyos, Rekha Nova; Aditya, Muhammad
Juke Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Juke Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.212 KB)

Abstract

Penggunaan handphone sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Hal ini  merupakan sebuah ancaman serius untuk kesehatan manusia. Paparan gelombang Elektromagnetik (EM) dapat menyebabkan gangguan pada otak manusia baik pada struktur, fungsi maupun aspek biokimiawinya. Stres akibat paparan gelombang EM dapat mengganggu fungsi memori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan nilai memori kerja pada tikus putih  (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Pada penelitian ini digunakan 18 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley, berusia 2-3 minggu dibagi ke dalam 3 kelompok,  yaitu kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan 1 (P1) dipaparkan dengan gelombang EM dari handphone 1 jam/hari (P1), dan P2 dipaparkan dengan durasi 3 jam/hari selama 14 hari. Pengujian memori kerja menggunakan radial arm maze. Hasil rerata memori kerja pada masing-masing kelompok adalah sebagai berikut K: 2%, P1: 1,33%, P2: 2,33%. Dari hasil analisa One Way ANOVA didapatkan nilai p=0,55 (p>0,05). Simpulan, paparan gelombang EM handphone selama 14 hari tidak mempengaruhi kemampuan memori kerja tikus putih  (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. [JuKe Unila 2015; 5(9):13-17]
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Manggis Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Yang Diberi Paparan Gelombang Elektromagnetik Handphone Periode Kronik Dewi, Inaz Kemala; Wulan, Anggraeni Janar; Ayu, Putu Ristyaning
Jurnal Medula Vol 7, No 4 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.581 KB)

Abstract

Jumlah pengguna handphone di dunia terus meningkat dan bersamaan dengan hal tersebut, prevalensi diabetes mellitus juga terus meningkat. Paparan gelombang elektromagnetik dari handphone dalam periode kronik dapat mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah. Pemberian ekstrak kulit manggis diketahui dapat menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol kulit manggis terhadap kadar glukosa darahpada tikus putih. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok K1 tanpa perlakuan, kelompok K2 diberi paparan gelombang elektromagnetik handphone selama 3 jam dan larutan NaCl, kelompok P1, P2 dan P3 diberi paparan gelombang elektromagnetik handphone selama 3 jam dan ekstrak kulit manggis secara berturut-turut 50, 100 dan 200 mg/kgBB selama 28 hari.Hasil rerata kadar glukosa darah (mg/dL) yaitu K1: 140,9; K2: 143,9; P1: 157,4; P2:157,8 dan P3: 131,6. Analisis dengan One Way Anova menunjukkan hasil yang bermakna (p=0,037).Terdapat pengaruhpemberian ekstrak etanol kulit manggis pada kadar glukosa darah pada tikus yang diberi paparan gelombang elektromagnetik handphone periode kronik selama 28 hari pada dosis 200 mg/kgBB.Kata kunci: gelombang elektromagnetik, glukosa, handphone, manggis
Pengaruh Pemberian Minyak Jelantah Terhadap Perbedaan Rerata Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley Ananto, Arif Sigit; Wulan, Anggraeni Janar; Oktafany, Oktafany
Jurnal Medula Vol 7, No 5 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.18 KB)

Abstract

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah dipanaskan berulang kali. Pemanasan minyak goreng akan menyebabkan pembentukan senyawa radikal bebas. Radikal bebas dapat menyebabkan terjadinya reaksi stres oksidatif pada berbagai sel dalam tubuh. Usus halus merupakan salah satu organ yang mudah mengalami stres oksidatif akibat radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak jelantah terhadap perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus. Metode penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1 (K) tikus tidak diberikan perlakuan, sedangkan pada kelompok 2 (P1), kelompok 3 (P2), kelompok 4 (P3) dan kelompok 5 (P4) masing-masing diberikan minyak jelantah yang telah digoreng sebanyak 1x, 4x, 8x dan 12x penggorengan dengan dosis 1,5 ml/hari secara oral selama 28 hari. Gambaran kerusakan pada usus halus terdiri dari infiltrasi PMN dan kerusakan epitel. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney. Berdasarkan uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05), sedangkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan antara 2 kelompok percobaan didapatkan nilai p<0,05 (K-P2 0,008; K-P3 0,009; K-P40,009; P1-P2 0,017; P1-P3 0,009; P1-P4 0,009; P2-P3 0,026; P2-P4 0,08; P3-P4 0,009) yang artinya terdapat perbedaan rerata kerusakan yang bermakna antara 2 kelompok percobaan, kecuali antara kelompok K dengan kelompok P1 dengan nilai p=0,197 (p>0,05). Pemberian minyak jelantah mempunyai pengaruh secara bermakna terhadap perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus.Kata kunci: Minyak jelantah, radikal bebas, stres oksidatif, usus halus
Carpal Tunnel Syndrome pada Kehamilan Simbolon, Purnama; Rodiani, Rodiani; Wulan, Anggraeni Janar; Ariwibowo, Catur; Prabowo, Arif Yudho
Jurnal Medula Vol 7, No 5 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.624 KB)

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan penyebab paling umum nyeri pada tangan dan pergelangan tangan selama kehamilan, yang paling sering didiagnosa pada trimester tiga. Prevalensi CTS pada populasi dewasa berkisar antara 0,7% sampai 9,2% pada wanita dan 0,4% sampai 2,1% pada pria. Insidensi CTS 2-3 kali lebih tinggi pada wanita hamil daripada yang tidak hamil. CTS adalah suatu neuropati akibat kompresi pada nervus medianus didalam terowongan karpal pada pergelangan tangan yang mengakibatkan gejala seperti parestesia, nyeri, mati rasa, kesemutan dan gejala lain pada sepanjang distribusi nervus medianus. Etiologi CTS saat kehamilan, belum diketahui secara pasti. Fluktuasi hormon saat hamil berperan dalam terjadinya CTS. Fluktuasi hormon menyebabkan retensi cairan sehingga terjadi kompresi pada nervus medianus. Faktor-faktor lain yang berperan antara lain preeklampsia, diabetes melitus, hipertensi gestasional, hipersensitivitas saraf, posisi tidur, peningkatan jaringan adiposa, perubahan ukuran uterus, dan hormon relaxin. Diagnosis CTS ditegakkan melalui anamnesis berupa adanya gejala kompresi dari nervus medianus seperti nyeri dan parestesia di sepanjang distribusi nervus medianus, kelemahan otot tenar dan gejala lebih sering terjadi malam hari. Selain anamnesis, perlu dilakukan pemeriksaan fisik berupa tes tinel dan tes phalen dan pemeriksaan penunjang yaitu electro diagnostic studies (EDS). Tatalaksana CTS kehamilan melibatkan modifikasi aktivitas dan pemasangan bidai pada posisi netral sepanjang malam. CTS memiliki prognosis yang baik dan gejala akan menghilang setelah melahirkan. Dapat disimpulkan bahwa CTS pada kehamilan penyebabnya multifaktor dan sebagian besar disebabkan karena fluktuasi hormon. Kata kunci: carpal tunnel syndrome, kehamilan, neuropati
Tatalaksana Terkini Bronkopneumonia pada Anak di Rumah Sakit Abdul Moeloek Dicky K. N, Alexander; Wulan, Anggraeni Janar
Jurnal Medula Vol 7, No 2 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.548 KB)

Abstract

Bronkopneumonia merupakan radang paru-paru pada bagian lobularis, ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur serta benda asing.Bronkopneumonia ditandai dengan gejala demam tinggi, gelisah, dispnoe, napas cepat dan dangkal (adanya ronki basah), muntah, diare, batuk kering dan produktif. Prevalensi bronkopneumonia di negara berkembang yaitu 30-45% per 1000 anak di bawah usia 5 tahun, 16-22% per 1000 anak padausia 5-9 tahun, dan 7-16% per 1000 anak pada usia di atas 9 tahun. By. Ny. Y, 1 bulan 6 hari, datang ke Rumah Sakit Abdul Moeloek dengan keluhan batuk berdahak sejak 2 minggu yang lalu, dahak tidak bisa dikeluarkan, demam dan sesak napas yang semakin berat juga dirasakan oleh pasien. Pasien juga tampak membiru setiap kali pasien batuk. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi 120 x/menit, frekuensi napas 60 x/menit, suhu 38 oC, SpO2 90% (dengan oksigensasi), tampak sianosisdi bibir, tangan dan kaki. Didapatkan napas cuping hidung serta retraksi subcostal dan substernal pada dinding thoraks dengan bunyi ronkhi basah halus nyaring dan wheezing di lapang paru, tidak ditemukan bunyi jantung tambahan. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan leukosit 12.300/ul dan hasil rontgen thoraks didapatkan kesan bronkopneumoniakanan tanpa kardiomegali. Terapi yang diberikan berupa infus D5 ¼ NS 8 gtt/mnt (mikro), Injeksi Ampiciln 150 mg/8 jam, nebu ventolin 1 respul/8 jam, Diet: ASI (Air Susu Ibu) peras 8x10-20cc via NGT, dan Injeksi Gentamisin 20 mg/24jam.Kata kunci: bayi, bronkopneumonia, laporan kasus
Identifikasi Bakteri Coliform pada Salmon Mentah dalam Sajian Sushi di Restoran Jepang di Bandar Lampung Taufik, Tassya Fatimah; Soleha, Tri Umiana; Wulan, Anggraeni Janar; Ramadhian, M. Ricky
Jurnal Medula Vol 7, No 5 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.378 KB)

Abstract

Sushi merupakan makanan jepang yang terbuat dari nasi yang dimasak yang dikombinasikan dengan bahan lain, contohnya ikan salmon. Namun, seiring berkembangnya waktu, sushi banyak dikonsumsi di Indonesia, termasuk di Bandar Lampung. Banyak kasus penyakit bawaan makanan terjadi karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi dan salah satu penyebab terseringnya adalah makanan yang mentah. Salah satu bakteri paling umum yang menyebabkan infeksi melalui makanan adalah Coliform. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat bakteri Coliform pada salmon mentah dalam sajian sushi di Restoran Jepang Kota Bandar Lampung. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah salmon dalam sajian sushi yang dijual di Restoran Jepang Kota Bandar Lampung. Sampel kemudian dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk dilakukan uji laboratorium. Hasil dari uji laboratorium dianalisa secara deskriptif. Uji laboratorium yang dilakukan adalah pembiakan bakteri dari salmon sushi pada agar MacConkey, lalu dilakukan pewarnaan gram, kemudian dilakukan uji biokimia. Dari total 5 sampel salmon menunjukkan bahwa 5 sampel mengandung bakteri Coliform, yaitu bakteri Enterobacter sp., bakteri Citrobacter sp., bakteri Klebsiella sp., bakteri Escherichia Coli, dan bakteri Enterobacter sp. Terdapat bakteri Coliform pada sampel salmon yang diteliti, yaitu 60% atau 3 sampel sushi memenuhi syarat untuk dikonsumsi dan 40% atau 2 sampel sushi tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi.Kata Kunci: Coliform, Salmon, Sushi.
THE EFFECT OF ETHANOLIC EXTRACT OF CENTELLA ASIATICA (L) URBAN ADMINISTRATION TOWARDS THE THICKNESS OF PYRAMIDAL LAYER IN THE CA1 REGION OF HIPPOCAMPUS OF SPRAGUE DAWLEY RATS AFTER CHRONIC RESTRAIN STRESS Wulan, Anggraeni Janar; Wasita, Brian; Wiyono, Nanang
JUKE Unila Vol 4, No 8 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.527 KB)

Abstract

Background: Stress has been shown can change the structure of the brain, especially in the cornu ammonic (CA) I region of hippocampus. Centella asiatica or pegagan as herbal neuroprotector was investigated. The study aimed to determine the effect of ethanolic extract of C. asiatica to the thickness of pyramidal layer in the CA1 region in rats subjected to chronic restrain stress (CRS). Method: This experimental study used post test only group design. Thirty five rats were divided into 6 groups: non stress group (control) and stress only group pulvis gum arabicum (PGA), positive control group (treated with fluoxetin 10mg/kgBW), and 3 treatment groups are treated with C. asiatica 150, 300, and 600mg/kgBW respectively. All groups except non stress group were subjected to CRS, for 6 hours per day for 21 days. Fluoxetin, PGA, and C. Asiatica were applied 30 minutes before CRS done. Rats were sacrificed at the end of 24th day and were perfused transcardially. Processed brain tissue stained with toluidine blue, and measured with Image Raster program. Result: The thickness of pyramidal layer in the CA1 region are increasing significantly in treatment groups which treated with 150 and 300 kg/BW of C. asiatica, but not significant which treated with 600mg/kgBW ethanolic extract of C. asiatica. Conclusion: Ethanolic extract of C. asiatica can improve thickness of pyramidal layer in the CA1 region of hippocampus of Sprague Dawley rats after chronic restrain stress. [JuKe Unila 2014; 4(8):202-207]
Laki‐laki 24 Tahun dengan Ulkus Kornea dan Prolaps Iris Oculi Dextra MS, Ririn Rahayu; Wulan, Anggraeni Janar
Jurnal Medula Vol 5, No 2 (2016): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.964 KB)

Abstract

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanyatrauma oleh benda asing atau penyakit yang menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Laki‐laki 24 tahun dengan keluhan penglihatan mata kanan kabur disertai mata merah dan nyeri sejak 3 minggu yang lalu. Pasien mengatakan sebelumnya mata kanan terpapar dengan gabah padi. Keluhan disertai dengan penglihatan mata kanan silau, terasa ada yang mengganjal, keluar air mata terus menerus, selain itu kelopak mata juga terasa nyeri bila ditekan dan saat membuka mata. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit ringan, kesadaran komposmentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 76 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit, suhu tubuh 36,20C. Pada Status oftalmologis didapatkan visus occulus dextra 1/∞, palpebra superior edema, konjungƟva bulbi terdapat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, edema dan folikel. Kornea edema, terdapat lesi di sentral dengan ukuran 3x2 mm, batas tidak tegas dengan komplikasi berupa cumhipopion, perforasi kornea dan prolaps iris. Kamera okuli anterior dangkal. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah moxifloxacin 0,5% eye drops/12 jam oculi dextra,cefotaxim 500 mg/12 jam, atropin sulfat 0,5% eye drops 2/12 jam oculi dextra, ketokonazol 500 mg/12 jam, asam mefenamat 500 mg/8jam, dan pembedahan berupa eviserasi oculi dextra.Kata kunci: komplikasi, trauma, ulkus kornea