Articles

Found 8 Documents
Search

SOIL ARTHROPOD DIVERSITY AND COMPOSITION INHABITED VARIOUS HABITATS IN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FOREST IN MALANG EAST JAVA INDONESIA Leksono, Amin Setyo; Putri, Ninda Merisa; Gama, Zulfaidah Penata; Yanuwiyadi, Bagyo; Zairina, Anisa
Journal of Tropical Life Science Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on soil arthropod abundance, diversity and composition have been done on November 2016 to March 2017 using pitfall traps. The objective of this study is to analyze variations of the soil arthropod abundance, diversity and composition among different habitats in a university forest.  The study was carried out in Universitas Brawijaya Forest (UBF) Malang, East Java (7°49'S, 112°34'E, 1,200 m in altitude), consisted of four locations: an agroforestry (AF), a gallery forest (GF), the pine stands (PS) and a settlement yard (SY). At each site, a total of 10 traps (5 by 2 rows) were placed systematically at 4-m intervals. Glass cups (10 cm in diameter and 7 cm deep) were buried in the ground during 24 hours. There were 2286 individuals of arthropod collected from all sampling locations. Overall the samples collected consist of 41 families of arthropods. The abundance (mean ± SE) of soil arthropod was highest in PS and the lowest in SY. Statistically, variations in abundance among locations were significant (F = 7.39, p < 0.01). The taxa richness of arthropod was highest in GF and the lowest in SY. Statistically, variations in taxa richness among locations were significant (F = 4.26, p < 0.05).  The diversity was the highest in the GF (1.9 ± 0.1) lowest in the SY (0.74 ± 0.1). Statistically, variations in diversity among study sites were significant (F = 26.73, p < 0.001). In general, scavenger dominated the composition of soil arthropods. The highest proportion of scavenger abundance present in SY was 84.9%, while the lowest in the GF was 29.3%. The highest litter transformer composition in GF was 33.9%, and the lowest in SY was 8%. The highest decomposer in PS was 26.9% and the lowest in AF was 12.9%. The highest predator in AF was 20.7% and the lowest in SY was 1%. Compositions of soil arthropod were affected by environmental factors such as soil temperature and light intensity.
EKOEFISIENSI DAN FAKTOR PENDUKUNG DALAM IMPLEMENTASINYA PADA PROSES PRODUKSI INDUSTRI KAYU LAPIS DI KALIMANTAN SELATAN Subari, Darni; Udiansyah, Udiansyah; Yanuwiyadi, Bagyo; Setiawan, Budi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3881.312 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan faktor-faktor pendukung, seperti persepsi masyarakat sekitar industri dan analisis keuangan. Penelitian ini dilakukan dalam 3 (tiga) industri kayu lapis diKalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri kayu lapis secara umum telah menerapkan ekoefisiensi pada proses produksi, kualitas rata-rata cukup tinggi pada 3,82. Pelaksanaan ekoefisiensi juga didorong oleh undang-undang dan peraturan (lingkungan, sumber daya air, energi dan prosedur operasioanal standar kerja) yang harus dipatuhi dan mengikat untuk melaksanakan. Masyarakat sekitar industri kayu lapis memberikan dukungan positif bagi industri kayu lapis menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri kayu lapis dalam produksi ramah lingkungan masih memberikan manfaat bagi rata-rata biaya manfaat rasio 1,48.
EKOEFISIENSI DAN FAKTOR PENDUKUNG DALAM IMPLEMENTASINYA PADA PROSES PRODUKSI INDUSTRI KAYU LAPIS DI KALIMANTAN SELATAN Subari, Darni; Udiansyah, Udiansyah; Yanuwiyadi, Bagyo; Setiawan, Budi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3881.312 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.171-182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan faktor-faktor pendukung, sepertipersepsi masyarakat sekitar industri dan analisis keuangan. Penelitian ini dilakukan dalam 3 (tiga)industri kayu lapis diKalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri kayu lapis secaraumum telah menerapkan ekoefisiensi pada proses produksi, kualitas rata-rata cukup tinggi pada 3,82.Pelaksanaan ekoefisiensi juga didorong oleh undang-undang dan peraturan (lingkungan, sumber dayaair, energi dan prosedur operasioanal standar kerja) yang harus dipatuhi dan mengikat untukmelaksanakan. Masyarakat sekitar industri kayu lapis memberikan dukungan positif bagi industri kayulapis menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat di sekitarkawasan industri. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri kayu lapis dalam produksi ramahlingkungan masih memberikan manfaat bagi rata-rata biaya manfaat rasio 1,48.
Diversitas, Pemetaan, dan Persepsi Masyarakat terhadap Herpetofauna Diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu, Kabupaten Banyuwangi Firdaus, Anggun Sausan; Rahmawati, Alifah Nur; Wardani, Erintha Eka; Putri, Mulyadiane Meishinta; Yanuwiyadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.532 KB)

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu berada di kawasan hutan Petak 8, Forest Resort Songgon, Hutan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Rowo Bayu berada pada ketinggian 630 meter diatas permukaan laut dan memiliki 3 sumber air dan rowo, sehingga menjadikan wilayah tersebut memiliki kelembaban udara yang tinggi.Kondisi tersebut memungkinkan untuk beberapa jenis hewan dapat hidup, terutama kelompok herpetofauna. Sampai saat ini, belum banyak penelitian tentang herpetofauna di kawasan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap konservasi herpetofauna, mendeskripsikan diversitas, memetakan persebaran dan deskripsi habitat, serta menentukan karakteristik herpetofauna diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara semi terstruktur, morfometri,Visual Encounter Survey (VES), dan fences trap.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 titik lokasi penting ditemukannya berudu yaitu Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Sumber Dewi Gangga, dan Sumber Kaputren,  serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat Microhyla. Spesies yang didapatkan dari fences trap adalah Huia masonii(Boulenger, 1884). Famili yang didapatkan darimetode VES yaitu 3 famili dari kelas anura yaitu Microhylidae, Ranidae, dan Dicroglossidaedan 4 famili dari kelas reptil yaituScincidae, Agamidae, Colubridae, dan Natricidae. Kawasan Wana Wisata Rowo Bayu didominasi oleh berudu dari genus Microhyla. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan ciri karakteristik Eutropismultifasciata adalah Snout Vent Length (SVL), ciri karakteristik Hylarana rufipes adalah Hind Limb Length (HLL), tetapi ciri karakteristik Microhyla achatina tidak diketahui karena ukuran tubuh sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden mendukung upaya konservasi dengan cara tidak merusak atau mengganggu habitat herpetofauna.
Strategi Pembinaan Sekolah Adiwiyata di Kota Batu Juliari, Ratna Dwi Utami; Amin, Mohamad; Yanuwiyadi, Bagyo
WACANA, Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 18, No 4 (2015)
Publisher : Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (992.881 KB) | DOI: 10.21776/ub.wacana.2015.018.04.4

Abstract

Program adiwiyata bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sekolah dalam mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, menanamkan pendidikan dan cinta lingkungan. Kota Batu telah mengikuti program adiwiyata sejak tahun 2008 dan telah mendapatkan penghargaan adiwiyata bagi 15 sekolah dari 147 sekolah yang ada di Kota Batu. Berdasarkan kondisi tersebut, dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Bagaimana ketercapaian indikator penilaian adiwiyata dalam pengelolaan sekolah adiwiyata di Kota Batu (2) Apa saja yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat?, (3) Bagaimana merumuskan strategi pembinaan sekolah adiwiyata di Kota Batu? Penelitian ini bertujuan menjawab permasalahan tersebut dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis IFAS-EFAS. Kesimpulan analisis sebagai berikut : (1) aspek partisipatif adalah aspek yang paling lemah pada sekolah adiwiyata nasional, provinsi dan kota. (2) penilaian faktor internal dan eksternal, menunjukkan bahwa sekolah adiwiyata mandiri dan nasional memiliki kekuatan dan peluang yang paling tinggi dibandingkan adiwiyata provinsi dan kota. Posisi adiwiyata mandiri dan nasional pada kuadran I (1,35 ; 0,8), adiwiyata provinsi dan kota pada kuadran II (1,35 ; -0,15) dan (0,2 ; -0,95). (3) strategi prioritas adiwiyata mandiri: strategi keberlanjutan, adiwiyata nasional: strategi pengembangan, adiwiyata provinsi: strategi pertumbuhan dan adiwiyata kota: strategi perencanaan.
Identifying and assessing Spice and herbs resources for tourism attractions: A case study from Banyuwangi, East Java Hakim, Luchman; Soemarno, Soemarno; Yanuwiyadi, Bagyo
Research Journal of Life Science Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.526 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2016.003.03.3

Abstract

The aims of the study was to analyze the potentiality of spices and herbs in agrofotestry garden in Banyuwangi, Indonesia, for further rural tourism development. Fields study was set up at villages in Banyuwangi. Floristic survey, ethnobitanical studies and focus group discussion were performed to evaluate the value of spices and herbs in agroforestry gardens an its potentiality to develop as tourism product. This study found that at least 60 species of spice and herbs with its special value, in which these species has opportunities to developed as tourism attraction in agroforestry garden. There are something to see, something to buy and something to do has been described by group discussion participant. It is raging from farm tourism product, culinary tourism product and heath-wellness tourism product.
DIVERSITAS, PEMETAAN, DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HERPETOFAUNA DIURNAL DI WANA WISATA ROWO BAYU, KABUPATEN BANYUWANGI Firdaus, Anggun Sausan; Rahmawati, Alifah Nur; Wardani, Erintha Eka; Putri, Mulyadiane Meishinta; Yanuwiyadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu berada di kawasan hutan Petak 8, Forest Resort Songgon, Hutan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Rowo Bayu berada pada ketinggian 630 meter diatas permukaan laut dan memiliki 3 sumber air dan rowo, sehingga menjadikan wilayah tersebut memiliki kelembaban udara yang tinggi.Kondisi tersebut memungkinkan untuk beberapa jenis hewan dapat hidup, terutama kelompok herpetofauna. Sampai saat ini, belum banyak penelitian tentang herpetofauna di kawasan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap konservasi herpetofauna, mendeskripsikan diversitas, memetakan persebaran dan deskripsi habitat, serta menentukan karakteristik herpetofauna diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara semi terstruktur, morfometri,Visual Encounter Survey (VES), dan fences trap.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 titik lokasi penting ditemukannya berudu yaitu Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Sumber Dewi Gangga, dan Sumber Kaputren,  serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat Microhyla. Spesies yang didapatkan dari fences trap adalah Huia masonii(Boulenger, 1884). Famili yang didapatkan darimetode VES yaitu 3 famili dari kelas anura yaitu Microhylidae, Ranidae, dan Dicroglossidaedan 4 famili dari kelas reptil yaituScincidae, Agamidae, Colubridae, dan Natricidae. Kawasan Wana Wisata Rowo Bayu didominasi oleh berudu dari genus Microhyla. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan ciri karakteristik Eutropismultifasciata adalah Snout Vent Length (SVL), ciri karakteristik Hylarana rufipes adalah Hind Limb Length (HLL), tetapi ciri karakteristik Microhyla achatina tidak diketahui karena ukuran tubuh sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden mendukung upaya konservasi dengan cara tidak merusak atau mengganggu habitat herpetofauna.
EKOEFISIENSI DAN FAKTOR PENDUKUNG DALAM IMPLEMENTASINYA PADA PROSES PRODUKSI INDUSTRI KAYU LAPIS DI KALIMANTAN SELATAN Subari, Darni; Udiansyah, Udiansyah; Yanuwiyadi, Bagyo; Setiawan, Budi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.171-182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan faktor-faktor pendukung, sepertipersepsi masyarakat sekitar industri dan analisis keuangan. Penelitian ini dilakukan dalam 3 (tiga)industri kayu lapis diKalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri kayu lapis secaraumum telah menerapkan ekoefisiensi pada proses produksi, kualitas rata-rata cukup tinggi pada 3,82.Pelaksanaan ekoefisiensi juga didorong oleh undang-undang dan peraturan (lingkungan, sumber dayaair, energi dan prosedur operasioanal standar kerja) yang harus dipatuhi dan mengikat untukmelaksanakan. Masyarakat sekitar industri kayu lapis memberikan dukungan positif bagi industri kayulapis menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat di sekitarkawasan industri. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri kayu lapis dalam produksi ramahlingkungan masih memberikan manfaat bagi rata-rata biaya manfaat rasio 1,48.