Articles

Found 7 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH PENYULINGAN SERAI WANGI SEBAGAI PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hypogea L.) Mayura, Eliza; Idris, Herwita
Jurnal Ilmu dan Teknologi Terapan Pertanian Vol 3 No 1 (2019): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Payakumbuh State Polytechnic of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jaast.v3i1.65

Abstract

Kacang tanah merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang mempunyai nilai gizi tinggi. Akan tetapi produksi kacang tanah di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Untuk meningkatkan produktivitas kacang tanah perlu dilakukan penambahan nutrisi pada tanaman namun dengan mahalnya harga pupuk perlu dicari alternatif lain. Untuk itu dilakukan penelitian pemanfaatan abu limbah penyulingan serai wangi menjadi pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas kacang tanah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Balittro Laing Solok sejak September sampai Desember 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yaitu pemberian abu limbah penyulingan serai wangi dengan dosis : 1) 200 g 2) 250 g 3) 300 g dan 4) 0 g pada 8 tanaman per plot diulang 6 kali. Benih kacang tanah ditanam dalam kantong berukuran 45 x 60 cm yang berisi media tanah dan pupuk kandang dengan volume 1 kg/kantong. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, bobot basah, bobot kering serta bobot kering/100 biji. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap dua minggu dimulai tiga minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman kacang tanah mempunyai perbedaan yang signifikan dari setiap dosis abu limbah penyulingan yang digunakan. Dengan hasil yang terbaik pada dosis abu limbah serai wangi 300 g/kantong terlihat pada tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat basah, berat kering dan berat per 100 biji berturut-turut 46,82 cm, 4,76 buah, 37,72 buah, 80,31 g, 35,40 g dan 62,36.
TANAMAN KECUBUNG (Datura metel L.) SEBAGAI BAHAN BAKU INSEKTISIDA BOTANIS UNTUK MENGENDALIKAN HAMA Aspidomorpha milliaris F. IDRIS, HERWITA
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKecubung (Datura metel L.) adalah salah satu tanaman obattradisional yang berpotensi sebagai sumber insektisida botanis, namunsampai saat ini belum banyak diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui efektivitas tanaman kecubung sebagai bahan insektisidabotanis, terhadap serangga Aspidomorpha milliaris F (Coleoptera:Crysomelidae). Penelitian dilakukan di KP. Laing Solok mulai bulan Aprilsampai Oktober 2012, dengan menggunakan rancangan acak lengkap (9perlakuan dan 3 ulangan). Perlakuan yang diuji adalah ekstrak daunkecubung pada konsentrasi 250, 500, 750, 1000, 1500, 2000, 2500, dan3500 ppm, serta 0 ppm sebagai kontrol. Perlakuan diaplikasikan secarakontak maupun non kontak. Serangga uji yang dipakai pada setiapperlakuan adalah 20 ekor larva instar III, IV, V, VI, dan 10 ekor imago.Parameter pengamatan meliputi persentase kematian, penurunan volumemakan larva dan imago, fekunditas, serta periode prereproduktif imago.Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kecubung yang diaplikasikansecara kontak lebih toksik dibandingkan dengan non kontak. Ekstrak daunkecubung kosentrasi 3500 ppm bersifat toksik, menolak makan, danmengurangi fekunditas A. milliaris. Tingkat kematian larva A. milliarisinstar III, IV, V, dan VI berkisar 28,46-39,51%, sedangkan penurunanvolume makan sebesar 10,44-15,76%. Fekunditas A. milliaris menurun21,77%. Oleh karena itu, ekstrak daun kecubung dapat dikembangkansebagai insektisida botanis.Kata kunci: kecubung, insektisida botanis, Aspidomorpha milliaris F.ABSTRACTAmethyst (Datura metel L) is one of a potential plants used as rawmaterial of botanical insecticides, but until now it had not been prived.The purpose of the research is to determine the potential of the amethystas a botanical insecticide to Aspidomorpha milliaris F. (Coleoptera:Crysomelidae). The research carried out in Laing Solok ExperimentalGarden from April to October 2012, in a completely randomized design (9treatments and 3 replications). The treatments were amethyst leaf aqueousextract at concentrations of 250, 500, 750, 1000, 1500, 2000, 2500, 3500ppm, and 0 ppm as a control. The treatments were applied contact andnon-contact. Test insects used in each treatment was 20 larvae instar III,IV, V, VI and 10 imagos. Observation parameters include the mortalitypercentage and eating volume decrease of larvae and imago, fecundity,and imago prereproductive period. The results showed that the leaf extractamethyst which were applied contactly was more toxic than the non-contact. The amethyst leaf extracts at 3500 ppm concentration are toxic. Italso could refuse to eat and reduce fecundity of A. milliari. The mortalityrate for larval instar III, IV, V, and VI ranged 28.46-39.51%, while adecrease of eat volume ranged 10.44-15.76%. The fecundity of A.milliaris decreased 21.77%. Therefore, the leaf amethyst extract can bedeveloped as a botanical insecticide.Keywords: amethyst, botanical insecticides, Aspidomorpha milliaris, F
POTENSI EKSTRAK GAMBIR, SIRIH-SIRIHAN DAN SAMBILOTO UNTUK MENGENDALIKAN Aphis schneideri PADA TANAMAN Klausena Idris, Herwita; Nurmansyah, NFN
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 2 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n2.2016.171-178

Abstract

Pestisida yang berasal dari tanaman relatif aman terhadap organisme bukan sasaran dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pestisida berbahan aktif kimia sintetik. Gambir, sirih-sirihan dan sambiloto merupakan tanaman potensial sebagai sumber pestisida nabati. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa fenolik, minyak atsiri dan metabolit lainnya yang belum dieksplorasi pemanfaatannya. Penelitian bertujuan untuk mengobservasi potensi ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto dalam menanggulangi serangga hama Aphis schneideri yang sering menyerang tanaman klausena. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, empat ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri dari ekstrak gambir, sambiloto, dan sirih-sirihan, masing-masing dengan tingkat konsentrasi yang berbeda (8, 12, dan 16 ml l-l) serta kontrol (tanpa perlakuan). Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Laing, Solok dari Februari sampai Agustus 2015.  Parameter yang diamati adalah persentase kematian (mortalitas) nimfa dan imago. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto bersifat insektisidal terhadap serangga hama A. schneideri. Ekstrak gambir pada konsentrasi 16 ml l-l mampu mengendalikan nimfa dan imago A. schneideri 100% pada 6 jam setelah aplikasi, sedangkan ekstrak sambiloto pada tingkat konsentrasi yang sama dengan gambir memerlukan waktu 36 jam setelah aplikasi untuk mencapai mortalitas 100%. Ekstrak sirih-sirihan memiliki efikasi terendah dibanding gambir dan sambiloto dengan tingkat mortalitas hanya mencapai 63,83% (nimfa) dan 65,44% (imago) pada 36 jam setelah aplikasi. Ekstrak gambir paling potensial sebagai pestisida nabati untuk mengedalikan A. schneideri dibandingkan dengan ekstrak sirih-sirihan dan sambiloto. Perlu pengujian lapangan untuk mengetahui keefektifan ekstrak gambir dalam mengendalikan serangan hama A. schneideri pada tanaman klausena.
PENGARUH CARA INOKULASI Synchytrium pogostemonis TERHADAP GEJALA BUDOK DAN PERTUMBUHAN NILAM Idris, Herwita; Nasrun, Nasrun
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 2 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n2.2009.%p

Abstract

Penyakit budok disebabkan oleh patogen Synchytrium pogostemonis, merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya nilam (Pogostemon cablin). Sampai saat ini aspek biologi dari penyakit ini belum banyak diketahui. Sehubungan dengan masalah ter-sebut, penelitian pengaruh cara inokulasi S. pogostemonis terhadap gejala budok dan pertumbuhan nilam dilakukan di rumah kaca KP. Laing Solok Sumatera Barat sejak Pebruari sampai Oktober 2007. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dalam pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tempat inokulasi (batang dan daun) dan faktor kedua adalah umur inokulum S. pogostemonis (1; 24; 48; dan 72 jam). Parameter pengamatan adalah masa inkubasi gejala penyakit, intensitas penyakit, penyum-batan pembuluh kayu, dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi S. pogostemonis pada batang dan daun nilam mempunyai pengaruh yang sama terhadap masa inkubasi gejala penyakit, inten-sitas penyakit, jumlah penyumbatan pembuluh kayu, dan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya faktor umur inkulum S. pogostemonis inokulum paling tua (72 jam) mempunyai masa inkubasi gejala penyakit lebih lama (yaitu 6 minggu setelah inokulasi) dan intensitas penyakit lebih rendah (yaitu 2,25-2,35%) dibandingkan inokulum paling muda (1 jam) yang mempunyai masa inkubasi gejala penyakit yaitu 2 minggu setelah inokulasi dan intensitas penyakit yaitu 90,24-98,25%. Selan-jutnya inokulum paling tua mempunyai penyumbatan pembuluh kayu lebih rendah (2,16-3,87%) dibandingkan inokulum paling muda (52,60-59,00%). Sebaliknya inokulum paling muda mempunyai pertumbuhan tanaman lebih rendah (tinggi tanaman 0,38-0,70 cm; jumlah cabang 0,20 cabang; dan pertam-bahan tunas 1,40-1,80 tunas) dibandingkan inokulum paling tua dengan tinggi tanaman 1,02-1,34 cm; cabang 1,00-1,20 cabang; dan pertambahan tunas 6,00-6,80 tunas. 
Studi Tentang Sifat - Sifat Morfologi Beberapa Tipe Gambir di Sumatera Barat Denian, Ahmad; Idris, Herwita; Suryani, Erma
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 2 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v7n2.1992.21-25

Abstract

Gambir(Uncaria gambir Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia yang mepunyai keragaman genetic yang sempit. Di Sumatra Barat hamya dtemukan 3 tipe gambiryang secara morfologi  dapat dibedakan yaitu tipe Udang,Cubadak dan Riau. Dari hasil pengamatan dilapangan terlihat adanya perbedaan sifat-sifat morfologis masing-masing tipe dari beberapa daerah sentra produksi. Sifat-sifat yang berbeda nyata meliputi:panjang daun,lebar daun, panjang tangkai daun, warna pucuk, warna daun , warna cabang dan warna ranting.
KESANGGUPAN KECUBUNG (Datura metel) DALAM MENGHAMBAT MAKAN DAN MORTALITAS Plutella xylostella. L Idris, Herwita
Menara Ilmu Vol 13, No 4 (2019): Vol. XIII No. 4 April 2019
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/mi.v13i4.1307

Abstract

Cabbage (Brasssica oleracea) is a vegetable product that is very much needed by the community. However, in its exploitation always encountered obstacle because of pest attack. P. xylostella L (Lepidoptera: Plutellidae) is a major pest in cabbage farming. Control efforts are commonly done with synthetic insecticides, but this is considered less wise because usually the buildup of pesticide residues is very high, so less good for health. This study aims to determine the ability of amethyst plants (Datura metel) to inhibit the eating and mortality of Plutella xylostella. L on cabbage plants. The experiment was conducted at Laing Solok Experimental Laboratory (Balittro) from July to November 2017. The study used a complete randomized design (RAL) with 4 treatments and 6 replications, each treatment was amethys 4000, 5000, 7500 ppm and without extract (0 ppm) as control. Each treatment was applied to the larvae stadia used by instar II, III and IV, imago from P. xylostella insects. L. From the results obtained that the amethyst extract was able to increase mortality and inhibit the feeding of major insect pests on cabbage plants such as P. xylostella, So for the control of this pest can be done with the use of botanical insecticides, given the whole production of these plants are generally food-oriented. The amethyst extract has good insecticidal properties so it can influence the biological aspects of P. xylostella insects, Keywords: cabbage, Datura metel, P. xylostella, feeding inhibitor, mortality
KESANGGUPAN KECUBUNG (Datura metel) DALAM MENGHAMBAT MAKAN DAN MORTALITAS Plutella xylostella. L Idris, Herwita
Menara Ilmu Vol 13, No 4 (2019): Vol. XIII No. 4 April 2019
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/mi.v13i4.1307

Abstract

Cabbage (Brasssica oleracea) is a vegetable product that is very much needed by the community. However, in its exploitation always encountered obstacle because of pest attack. P. xylostella L (Lepidoptera: Plutellidae) is a major pest in cabbage farming. Control efforts are commonly done with synthetic insecticides, but this is considered less wise because usually the buildup of pesticide residues is very high, so less good for health. This study aims to determine the ability of amethyst plants (Datura metel) to inhibit the eating and mortality of Plutella xylostella. L on cabbage plants. The experiment was conducted at Laing Solok Experimental Laboratory (Balittro) from July to November 2017. The study used a complete randomized design (RAL) with 4 treatments and 6 replications, each treatment was amethys 4000, 5000, 7500 ppm and without extract (0 ppm) as control. Each treatment was applied to the larvae stadia used by instar II, III and IV, imago from P. xylostella insects. L. From the results obtained that the amethyst extract was able to increase mortality and inhibit the feeding of major insect pests on cabbage plants such as P. xylostella, So for the control of this pest can be done with the use of botanical insecticides, given the whole production of these plants are generally food-oriented. The amethyst extract has good insecticidal properties so it can influence the biological aspects of P. xylostella insects, Keywords: cabbage, Datura metel, P. xylostella, feeding inhibitor, mortality