p-Index From 2015 - 2020
8.928
P-Index
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : e-Farmaka

AKTIVITAS ANTINOSISEPTIF FRAKSI N-HEKSAN DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.) RUTE ORAL PADA MENCIT JANTAN SWISS Tiaravista, Amanda Gita; Robiyanto, Robiyanto; Luliana, Sri
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.692 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.18839

Abstract

Daun Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) diketahui memiliki aktivitas antinosiseptif. Alkaloid mitraginin bertindak melalui reseptor opioid pada reseptor µ-opioid dan δ-opioid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antinosiseptif fraksi n-heksan daun kratom serta dosis yang dapat memberikan efek antinosiseptif pada mencit jantan Swiss. Metode yang digunakan adalah metode hot plate test. Mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (CMC Na 0,5%), Kontrol positif (Morfin 5,46 mg/kgBB), dosis I (70 mg/kgBB), dosis II (140 mg/kgBB), dan dosis III (280 mg/kgBB). Pengamatan dilakukan tiap 15 menit selama 2 jam degan mencatat waktu latensi yang dilihat dari respon mencit berupa menarik kaki belakang dan melompat. Data rata-rata waktu latensi dianalisis menggunakan One Way ANOVA, menunjukkan bahwa fraksi n-heksan pada dosis III memiliki hasil (p<0,05) dan pada dosis II memiliki hasil (p>0,05) terhadap kontrol positif. Hasil rata-rata AUC pada dosis II sebanding dengan kontrol positif. Hasil persen daya antinosiseptif paling besar dimiliki oleh dosis III yaitu 90%, diikuti oleh dosis II dan dosis I masing-masing sebesar 86% dan 82%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu fraksi n-heksan daun kratom memiliki aktivitas antinosiseptif pada ketiga dosis. Dosis II memilki aktivitas yang sebanding dengan kontrol posisitf serta semakin meningkatnya dosis maka aktivitas antinosiseptifnya juga akan semakin besar.
UJI AKTIVITAS ANTHELMINTIK EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP CACING Ascaridia galli DAN Raillietina tetragona Secara In Vitro triyanita, uray rima; Robiyanto, Robiyanto; Sari, Rafika
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.27 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.16090

Abstract

Infeksi yang paling umum tersebar didunia salah satunya yaitu infeksi cacing. Prevalensi infeksi cacing di Indonesia berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DepKes RI) masih tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 24,1%. Ekstrak etanol daun alamanda mengandung metabolit sekunder yang diduga mempunyai aktivitas anthelmintik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anthelmintik, pengaruh peningkatan konsentrasi, nilai LC50 dan nilai LT50 ekstrak etanol daun alamanda terhadap cacing Ascaridia galli dan Raillietina tetragona. Uji anthelmintik terbagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu 3 kelompok ekstrak etanol daun alamanda (konsentrasi 5 mg/ml, 25 mg/ml dan 50 mg/ml), kelompok kontrol normal (NaCl 0,9%) dan kelompok kontrol positif (mebendazol 5 mg/ml). Waktu dan jumlah kematian cacing dicatat dan dianalisis secara statistik menggunakan program komputer SPSS. Hasil penelitian menunjukkan waktu kematian masing-masing cacing pada tiap kelompok perlakuan berbeda bermakna dengan kontrol normal. Peningkatan konsentrasi ekstrak meningkatkan efek anthelmintik yang dihasilkan. Nilai LC50 ekstrak etanol daun alamanda (Allamanda cathartica L.) pada Ascaridia galli dan Raillietina tetragona yaitu 2,658 mg/ml dan 2,975 mg/ml sedangkan nilai LT50 yaitu 19,8 jam dan 5,1 jam. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas anthelmintik.Kata Kunci: anthelmintik, Allamanda cathartica, Ascaridia galli, Raillietina tetragona.   One of the most common infection spread in the world is worm infection. The prevalence of worm infections in Indonesia based on the data form Ministry of Health of the Republic of Indonesia (DepKes Ri) is still quite high which is 24.1 %. The ethanolic extract of alamanda leaves contains secondary metabolites that are suspected of having anthelmintic activity. This study aims to determine the anthelmintic activity, the effect of increased concentration, LC50 and LT50 values of ethanolic extract of  alamanda leaves to Ascaridia galli and Raillietina tetragona worms. The anthelmintic test was divided into 5 treatment groups, i.e 3 groups treated with ethanolic extract of alamanda leaves (concentration of 5 mg/ml, 25 mg/ml and 50 mg/ml), normal control group (NaCl 0,9%) and positive control group (mebendazol 5 mg/ml). The time and amount of worm’s mortality were recorded and statistically analyzed using the SPSS computer program. The results showed that the mortality period of each worm in every treatment groups was significantly different with the normal control group. Increased concentration of the extract will increase the anthelmintic  effect. The LC50 values of ethanolic extract of alamanda leaves (Allamanda cathartica L.) in Ascaridia galli and Raillietina tetragona was 2,658 mg/ml and 2,975 mg/ml respectively, while LT50 values was 19,8 hours and 5,1 hours respectively. This results shows that the extract has anthelmintic activity.Keywords: anthelmintic, Allamanda cathartica L., Ascaridia galli, Raillietina tetragona   UJI AKTIVITAS ANTHELMINTIK EKSTRAK ETANOL DAUN ALAMANDA (Allamanda cathartica L.) TERHADAP CACING Ascaridia galli DAN Raillietina tetragona Secara In Vitro