, Rahman, ,
Departemen Budidaya Perairan Institut Pertanian Bogor

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

KINERJA PROBIOTIK BACILLUS SP. PADA PENDEDERAN BENIH IKAN LELE CLARIAS SP. YANG DIINFEKSI AEROMONAS HYDROPHILA Sukenda, ,; Rafsyanzani, Muhammad Mufthi; Rahman, ,; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3230.037 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.162-170

Abstract

ABSTRACT This experiment was conducted to assess performance of Bacillus sp. probiotic on catfish juvenile Clarias sp. infected by Aeromonas hydrophila. The probiotic content in the diets were 0% (K+ and K-), 1%, and 2% in duplicates. This experiment used randomized design with four treatments and two replications. Juveniles with average body weight of 3.22±0.15 g/fish were reared in the 1.5×2.8×0.5 m3 pond with density of 800 fish/pond. Fish were reared for 30 days and fed three times a day at rate 8% of  total body weight. At day 31, catfish were challenged by A. hydrophila 0.1 mL (106 cfu/mL). Post infection observation was carried out ten days with density 10 fish/aquaria. The result showed that fish fed diet containing 2% probiotic gave the best probiotic performance with survival rate of catfish 83.33% after challenged, spesific growth rate 5.40%, and 0,75 of feed conversion ratio. The results of the blood profile showed significantly better results in the treatment of probiotics compared to the positive control after challenge test A. hydrophila. Probiotic Bacillus sp. has given as much as 2% on feed provides better performance on catfish juvenile. Keywords: probiotic, Bacillus sp., A. hydrophila, catfish juvenille, growth  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja probiotik Bacillus sp. dalam pakan pada pendederan benih ikan lele Clarias sp. yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu kandungan probiotik dalam pakan perlakuan yaitu 0% (K+ dan K-), 1%,  dan 2%, masing-masing dengan dua ulangan. Ikan lele yang digunakan memiliki bobot rata-rata 3,22±0,15 g/ekor, dipelihara dalam kolam terpal berukuran 1,5×2,8×0,5 m3 dengan kepadatan 800 ekor/kolam. Ikan dipelihara selama 30 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari sebanyak 8% dari bobot tubuh ikan. Hari ke-31 benih lele diinjeksi bakteri A. hydrophila dosis 0,1 mL/ekor dengan kepadatan bakteri 106 cfu/mL. Pemeliharaan setelah diinfeksi dilakukan selama sepuluh hari dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diberi probiotik 2% memperlihatkan kinerja probiotik terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup ikan lele sebesar 83,33% setelah diinfeksi dengan A. hydrophila; laju pertumbuhan harian sebesar 5,40%; dan konversi pakan 0,75. Hasil gambaran darah menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik pada perlakuan pemberian probiotik dibandingkan kontrol positif pascauji tantang A. hydrophila. Probiotik Bacillus sp. yang diberikan sebanyak 2% pada pakan memberikan kinerja lebih baik pada pendederan benih ikan lele. Kata kunci: probiotik, Bacillus sp., A. hydrophila, benih lele, pertumbuhan 
EFFECTIVITY OF MUSA PARADISIACA EXTRACT TO CONTROL SAPROLEGNIA SP. INFECTION ON GIANT GOURAMI LARVAE Nuryati, Sri; Aulia, Nadia; Rahman, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.19 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.151-158

Abstract

ABSTRACT Larval stage of giant gourami is a critical period due to fungal infection, such as Saprolegnia sp. infection. There are some plants which have antiseptic compound like banana Musa paradisiaca. This research was aimed to examine the effectiveness of the banana stem extract M. paradisiaca to control Saprolegnia sp. infection on giant gurami larvae through immersion. Eight-day old gorami larvae (at the initial of 0.5±0.03 cm) was reared in an aquarium sized 25×25×25 cm3 at the density of 8 fry/L. Culture media were added banana stem extract at the dose of 0; 0.08; 0.12; and 0.16 g/L during 21 days of rearing period. Challenge test was performed for 14 days by giving Saprolegnia sp. spores at the density of 104 cells/mL and banana stem extract. The treatment dose of 0.16 g/L has showen survival 100% than positive control  after the challenge test. Keywords: giant gourami, Musa paradisiaca, Saprolegnia sp., fry  ABSTRAK Fase larva ikan gurami merupakan masa kritis terhadap infeksi cendawan, seperti jenis Saprolegnia sp. Beberapa tanaman memiliki daya antiseptik seperti tanaman pisang ambon Musa paradisiaca. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak batang pisang ambon M. paradisiaca dalam mengurangi infeksi Saprolegnia sp. pada larva ikan gurami melalui media pemeliharaan. Larva gurami umur delapan hari (panjang larva 0,5+0,03 cm) dipelihara pada akuarium berukuran 25×25×25 cm3 dengan padat tebar 8 ekor/L. Media pemeliharaan diberi ekstrak batang pisang ambon dosis 0; 0,08; 0,12; dan 0,16 g/L selama 21 hari. Uji tantang dilakukan selama 14 hari dengan pemberian spora Saprolegnia sp. kepadatan 104 sel/mL dan ekstrak batang pisang ambon. Perlakuan dosis 0,16 g/L memberikan kelangsungan hidup sebesar 100% yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol positif setelah uji tantang. Kata kunci: giant gourami, Musa paradisiaca, Saprolegnia sp., larva
EFIKASI DAUN SEMBUKAN PAEDERIA FOETIDA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI AEROMONAS HYDROPHILA PADA IKAN NILA Wahjuningrum, Dinamella; Hasanah, Mulyati; Rahman, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3546.784 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.108-119

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the optimum dosage of skunkvine leaves Paederia foetida to prevent infection caused by bacteria Aeromonas hydrophila in tilapia Oreochromis niloticus. This study consisted of five treatments. They were negative control, positive control, and  prevention treatment with the dosages of 0.8%, 1% and that 1.2% that consisted that of three replications in each treatment. Addition of skunkvine leaves on feed performed by coating method. Feed was given at satiation with a frequency of three times a day. The results of this study showed that there were significant effect (P<0.05) between the positive control (37.03%) and preventive treatment dosages of 0.8% (88.89%), 1% (74.08%), and 1.2% (74.08%). The optimum dosage for prevention of A. hydrophila infection in tilapia was 0.8%. Keywords: Aeromonas hydrophila, Paederia foetida, tilapia  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis daun sembukan Paederia foetida yang tepat dalam mencegah infeksi akibat Aeromonas hydrophila pada ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan yaitu kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan 0,8%, perlakuan 1%, dan perlakuan 1,2% dengan masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Metode penambahan sembukan pada pakan dilakukan dengan metode coating. Pakan diberikan secara at satiation dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali sehari. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 20 hari dan pada hari ke-11 dilakukan uji tantang dengan menggunakan bakteri A. hydrophila. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat kelangsungan hidup sebelum uji tantang tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan setelah uji tantang diperoleh hasil yang berbeda nyata (P<0,05) antara kontrol positif (37,03%) dengan perlakuan 0,8% (88,89%), perlakuan 1% (74,08%), dan perlakuan 1,2% (74,08%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian daun sembukan melalui pakan efektif untuk pencegahan infeksi A. hydrophila pada ikan nila dengan dosis terbaik yaitu 0,8%. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, Paederia foetida, ikan nila 
INFEKTIVITAS PARASIT ICHTYOPHTHIRIUS MULTIFILIIS YANG DISIMPAN PADA SUHU RENDAH Rahman, ,; Sukenda, ,; Nuryati, Sri; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3250.442 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.93-98

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate infectivity of Ichtyophthirius multifiliis which caused white spot disease maintained at low temperature without its host. Briefly, the trophont stage of parasites were subjected at control (28 °C) and lower temperature (9 °C) for 14 consecutive days of observation. The rate of survival, and excystment of descendants were examined descriptively at the last day of observation. Here, the infectivity of parasite then performed by means infecting the model fish Poecilia sphenops (black moly) with escaping theronts. The results revealed that the survival rate and excystment  rate of parasite were decreased as maintaining period increased. The final rate of survival, and excystment of parasite were 35% and 33,3% respectively. Additionally, the descendants came out with high abnormality which recognized by weak mobility and lower infectivity (50%) compared to the control (80%). Then, it is concluded that, maintaining I. multifiliis at low temperature without its host for 14 consecutive days will decreased the infectivity. Keywords: white spot, obligat parasite, excystment, infectivity  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi infektivitas parasit Ichtyophthirius multifiliis penyebab penyakit bintik putih (white spot) yang dipelihara tanpa inang pada suhu rendah. Parasit dengan stadia trophont dipelihara pada suhu ruang (28 °C) dan suhu rendah (9 °C) selama 14 hari. Selama masa pemeliharaan tersebut tingkat kelulusan hidup, dan tingkat eksismen parasit diukur dan dibandingkan secara deskriptif. Hari terakhir pemeliharaan dilakukan uji tantang pada ikan black moly Poecilia sphenops untuk menilai infektivitas parasit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kelulusan hidup dan eksismen parasit semakin menurun dengan bertambahnya masa pemeliharaan. Akhir pengamatan  kelangsungan hidup, dan nilai eksismen tersebut berturut-turut adalah 35% dan 33%. Parasit yang disimpan pada suhu rendah selama 14 hari memperlihatkan infektivitas yang lebih rendah (50%) dibandingkan dengan perlakuan kontrol (80%). Kesimpulannya, penyimpanan parasit I. multifiliis pada suhu rendah selama 14 hari dapat menurunkan infektivitas parasit pada inang. Kata kunci: bintik putih, parasit obligat, eksismen, infektivitas
EFFICACY OF WHOLE CELL VACCINE AEROMONAS HYDROPHILA ON CATFISH BROODSTOCK AND IT’S OFFSPRING RESISTANCE AGAINT MOTILE AEROMONAD SEPTICEMIA (MAS) Sukenda, ,; Pratiwi, Kiki Amalia; Rahman, ,; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3146.796 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.92-100

Abstract

ABSTRACT  Transfer of maternal immunity by mean of passive immunization is a way to provide protection and durability of antibodies on the offspring. The purpose of this research was to analize effication of Aeromonas hydrophila vaccine on the catfish broodstock to maternal transfer of immunity, and offspring resistance. The average body weight of broodstock used in this study were 650±50 g were kept in pool tarps sized 2×1×0.5 m3. This study used a randomized complete design with two treatments and three replications. Female broodstock were vaccinated using intraperitonial injections at a dose 0.4 mL/kg and control fish were injected with phospate buffered saline (PBS). The observed parameters include hematology of broodstock, mortality, the relative survival rate, and antibody titers. Antibody titer measurements on broodstock, eggs, and offspring. Vaccination on broodstock catfish delivers a significant antibody level (P<0.05) on offspring compared to control catfish with relative survival rate of offspring at 5, 10, and 15 days after hatching were 67.76%, 82.66%, and 71.66% respectively. Keywords: catfish, Aeromonas hydrophila, vaccination, antibody transfer  ABSTRAK  Transfer kekebalan dari induk kepada benih melalui imunisasi pasif merupakan salah satu cara untuk memberikan proteksi pada benih. Tujuan penelitian ini untuk menguji efikasi vaksin sel utuh Aeromonas hydrophila pada induk ikan nila dalam mentransfer kekebalan spesifik ke benih dan menguji ketahanan benih hasil pemijahan induk yang divaksin. Induk lele yang digunakan pada penelitian ini memiliki bobot rata-rata 650±50 g dipelihara di kolam terpal berukuran 2×1×0,5 m3. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Induk betina lele divaksinasi secara intraperitonial dengan dosis 0,4 mL/kg ikan dan induk lele kontrol disuntik dengan phospate buffer saline (PBS). Parameter yang diamati meliputi hematologi induk, mortalitas, tingkat kelangsungan hidup relatif benih, dan titer antibodi. Vaksinasi induk lele memberikan hasil level antibodi yang signifikan (P<0,05) pada induk, telur, dan benih lele dibandingkan perlakuan kontrol dengan tingkat kelangsungan hidup relatif benih umur 5, 10, dan 15 hari pacatetas masing-masing sebesar 67,76; 82,66%; dan 71,66%. Kata kunci: ikan lele, Aeromonas hydrophila, vaksinasi, transfer antibodi